Jump to ratings and reviews
Rate this book

Jurai: Kisah Anak-Anak Emak di Setapak Impian

Rate this book
Mungkin benar, kehilangan adalah hal yang paling menyakitkan. Terlebih bila kehilangan seseorang yang paling dikasihi. Begitulah yang terjadi padaku. Ebak meninggal saat aku masih kelas 5 SD.

Aku, anak laki-laki satu-satunya dari empat bersaudara, dipaksa untuk dewasa sebelum waktunya. Tampil ke muka untuk memikul segala tanggung jawab menggantikan Ebak. Bagaimanapun laki-laki harus memimpin limas di dusun kami, Tanah Abang–Muara Enim.

Ternyata luka belum puas menyapa. Rahasia kematian Ebak terkuak. Tak hanya itu, rahasia terbesar Ebak yang dia bawa sampai ke liang kubur pun terbongkar. Seorang perempuan muncul di petang basah bersama dua orang anaknya. Emak terkapar. Seseorang yang selama ini dia hormati dan kasihi telah menikamnya dari belakang.

Mungkin dendam yang bersemayam di hati Emak. Dendam pada kebodohannya. Buta baca-tulis telah membuatnya tersakiti. Kepedihan inilah yang membuat Emak kepayahan membanting tulang demi menghidupi mimpi-mimpi kami –termasuk anak-anak gadisnya– untuk sekolah setinggi mungkin, agar luka ini tak terulang lagi. Walau semua itu harus dibayar mahal, tapi dari sanalah kisah anak-anak Emak dimulai....

306 pages, Paperback

First published March 7, 2013

6 people are currently reading
45 people want to read

About the author

Guntur Alam

33 books196 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
11 (30%)
4 stars
17 (47%)
3 stars
4 (11%)
2 stars
3 (8%)
1 star
1 (2%)
Displaying 1 - 12 of 12 reviews
Profile Image for Rula.
58 reviews2 followers
January 20, 2014
Sejujurnya, gue baca buku Jurai ini agak lama karena ribet sama kerjaan. Tapi, buku ini keren. Diawal, gue kira Jurai ini akan seperti cerita Keluarga Cemara, film keluarga yang ngetop di tahun 90-an. Iya, pertama kali liat cover buku ini, juga baca sinopsisnya mengingatkan gue sama film Keluarga Cemara, dimana ada Emak, Abah, Euis, Ara dll (yg gue inget cuma itu) hehe. Okeh. Stop tentang Keluarga Cemara.

Jurai, Berkisah tentang seorang anak lanang bernama Catuk yang tinggal di dusun Tanah Abang bersama Emak, Ebak, Ayuk Heni, Ayuk Ivo, dan Ayuk Wiwik. Diusianya yang masih kecil, Catuk harus kehilangan Ebaknya karena kecelakaan di tempat kerjanya. Sebagai satu-satunya anak lelaki di keluarga itu, seharusnya Catuklah yang menjadi kepala keluarga menggantikan Ebaknya. Tapi, karena ia masih kecil, akhirnya Emak yang menjadi tulang punggung keluarga. Mencari uang untuk kelangsungan hidup anak-anaknya, juga untuk biaya sekolah. Tak hanya itu, Catuk, Emak dan juga Ayuk-Ayuknya harus menghadapi konflik yang datang silih berganti. Hingga harus mengambil keputusan yang penting.

Kurang lebih begitu yang gue tangkep dari cerita Jurai ini.

Setiap membaca halaman per halaman, pindah bab, gue seakan terhanyut dalam cerita. Terutama saat konflik yang muncul setelah Ebak meninggal. Itu.. bikin gue speechless. Ebak yang ternyata mempunyai istri lain, dan dua anak, yang datang menemui Emak. Ebak yang alasannya menikah lagi karena ingin mempunyai anak lanang. Ebak yang membodohi Emak untuk memberikan cap jempolnya di kertas yang Emak bahkan tidak tahu apa isi kertas itu. Emak yang buta huruf. Adat yang mengharuskan memiliki anak lanang.

Gak cuma itu, saat Catuk berusaha mencari uang bersama teman-temannya untuk membeli sepatu baru agar bisa ikut Porseni. Catuk yang bertemu Dewi di Porseni. Cinta Monyet.

Ah, seru kali kalo ini novel dibuatkan filmnya. Mungkin adegan Catuk dihujani bunga tanjung saat bertemu Dewi bisa seperti saat Ikal bertemu dengan *duh siapa itu namanya yg di Film Laskar Pelangi?* itu deh.. hihih..

Sudah ah. Intinya Novel Jurai karya Guntur Alam ini keren. Semuanya dapet. Semuanya berasa. *Apa karena gue sempet ngalamin beberapa konfliknya ya?, Eh*

i give you 4 star, om!

Profile Image for Teguh.
Author 10 books333 followers
June 12, 2013
Aku berharap novel keren ini dilanjutkan ke dwilogi atau tetralogi... Bahasanya sangat indah dan cair. Dan beberapa bagian bikin mewek nangis. Aku berharap bisa mengalahkan Laskar Pelangi
Profile Image for Thomas Utomo.
Author 7 books5 followers
October 20, 2013
Guntur Alam, alumni Bengkel Cerpen Nida (BCN) yang selama ini gencar menyiarkan cerpen di pelbagai media, pada awal Maret 2013 meluncurkan novel terbarunya bertajuk Jurai yang menurut bahasa Sumatra Selatan berarti garis nasib. Dengan tagline Kisah Anak-Anak Emak di Setapak Impian, novel berilustrasi sampul gaya Botchan ini menggelarkan sebuah cerita keluarga berlatar belakang Dusun Tanah Abang di Sumatra Selatan. Lewat sudut pandang orang pertama atau gaya ‘akuan’ pengarang menampilkan tokoh utama Catuk, seorang bujang kecil, bungsu dari empat bersaudara.
Secara sinoptik novel ini menuturkan bahwa pada suatu siang di musim kemarau, tokoh aku atau Catuk dipaksa menerima kenyataan ebak atau bapaknya mati dengan tiba-tiba. Padahal pagi harinya, Ebak dalam keadaan baik-baik saja, sehat wal afiat, tanpa kurang sesuatu apa. Seperti biasa, pagi itu Ebak berangkat ke kebun Toge Nagap; majikannya untuk menyadap getah karet. Namun siangnya Ebak justru pulang ke limas atau rumah tanpa nyawa. Konon Ebak meninggal karena diamuk babi hutan. Tapi belakangan, penyebab kematian Ebak terbongkar. Ebak mati karena ditabrak-dilindas sepeda motor yang dikemudikan anak Toge Nagap yang rupa-rupanya pada hari itu baru belajar mengendarainya. Untuk mengelabui mata keluarga Ebak, Toge Nagap meminta Marwan; pegawainya yang saat itu ada di tempat kejadian berdusta perihal penyebab kematian Ebak. Sementara itu, Toge Nagap yang tahu bahwa Emak; istri Ebak sekaligus ibu Catuk buta huruf, justru membuatkan surat pernyataan yang berisi: Emak tidak akan menuntut apa pun dari peristiwa itu. Dengan kebodohannya akan baca-tulis, Emak justru membubuhkan cap jempol di surat itu (halaman 109-110).
Kemalangan yang menimpa keluarga Catuk tidak berhenti sampai di situ. Di suatu petang yang basah, limas Catuk kedatangan tiga orang asing yang mengaku berasal dari Palembang: seorang wanita beserta dua anak; lelaki-perempuan. Setelah berbasa-basi sekadarnya, mengakulah wanita itu bahwa dia adalah istri kedua Ebak. Kontan pengakuan itu seperti gelegar petir di siang bolong bagi pendengaran Catuk sekeluarga. Lebih-lebih saat wanita itu menuturkan pernikahannya dengan Ebak dilangsungkan atas restu Emak lewat surat buatan Ebak yang diberi cap jempol Emak. Sekali lagi, ketidakmampuan Emak untuk membaca-menulis dimanfaatkan orang demi memuluskan kehendaknya! (halaman 125-127).
Didorong semangat, amarah, mungkin juga kehendak melampiaskan dendam, tiba-tiba membuat Emak bertekad menyekolahkan keempat anaknya; tiga gadis satu bujang, setinggi mungkin semata agar tidak mudah ditipu seperti dirinya. “Kalian tak boleh buta huruf. Kalian tak boleh bodoh. Sekolah yang tinggi, biar tak ditipu.” (halaman 152).
Emak rela membanting tulang memeras keringat demi mewujudkan tekadnya itu: menyadap getah karet, berjualan kemplang, berjualan sayur secara keliling, sampai kemudian nekat merantau ke Muara Enim sebagai buruh cuci sekaligus menjajakan makanan di kantin sekolah—tentu saja dengan pertimbangan untung rugi secara masak. Keputusan yang paling akhir, tak pelak menimbulkan kemarahan orangtua Emak dan Ebak. Menurut mereka, Emak salah langkah: buat apa jauh-jauh bekerja di rantau semata untuk menyekolahkan tiga gadis—selain satu bujang tentunya? Toh pada akhirnya setelah menikah gadis-gadis hanya akan mengurus rumah, balik lagi ke dapur!
“Apa kata orang sedusun nantinya? Janda Arianton bin Mustofa meninggalkan limas ke kota demi mengangkat anak gadisnya. Kau ada bujang. Tugas kau untuk mengangkatnya sambil merawat limas. Kelak, bila ia sudah besar dan cukup umur, anak bujang yang mengangkat kehormatanmu. Bukan anak gadis!” (halaman 276).
Tetapi tekad Emak sudah bulat, walaupun dirinya dibayangi ancaman dikeluarkan dari silsilah keluarga, juga dicibir dan digunjingkan banyak orang sebagai “perempuan pemakan tulang laki.” (halaman 282).
Secara keseluruhan, novel yang diselesaikan penulisannya selama lebih dari dua tahun ini, amat layak baca. Dalam novel ber-ending menganga ini, kentara jelas bahwa pengarang mendaulat Catuk sebagai tokoh utama. Namun sesungguhnya, apabila ditilik dan dicermati secara seksama, tokoh atau penggerak utama semangat novel ini adalah Emak. Emak pulalah yang mengangkat harkat limas keluarga Arianton bin Mustofa alias ebak Catuk. Ketokohan Emak menjadi semacam gambaran betapa kegigihan dan semangat pantang menyerah kaum ibu yang rela mengorbankan diri demi kebahagiaan anak-anaknya. Menuntaskan novel ini akan menebalkan cinta, hormat, sekaligus syukur pada ibu, sosok yang memiliki pintu surga di bawah telapak kakinya.
Baca saja dan buktikan sendiri!

Ledug, 25 Mei 2013

http://www.annida-online.com/artikel-...
Profile Image for Aria Anggana.
208 reviews23 followers
November 27, 2013
Jangan buat emak kecewa!

Secara pribadi, kata ini menohok diri saya. Ibu mana di dunia ini yang ingin dikecewakan oleh anak-ananknya? Semua usaha, semua perjuangan, tentulah untuk anak-anaknya. Agar anak-anaknya tak bernasib sama seperti orang tua mereka. Benar kan? Masalahnya pada saya adalah, mungkin, sudah mengecewakan orang tua, terlebih ibu saya.

Berbeda dengan kisah dalam buku ini, di mana Catuk dan ayuk-ayuknya bersama ibu mereka berjuang melanjutkan hidup setelah ditinggal mati ebak. Tak hanya kematian lanang penerang limas mereka, masih ada lagi musibah-musibah lain yang dialami Catuk sekeluarga. Namun tak melulu megenai kisah sedih, buku ini juga menawarkan rasa yang lain, terlebih bagaimana persahabatan Catuk dan teman-temannya.

Membaca Jurai, kita akan diingatkan pada novel Laskar Pelangi yang sudah lebih dulu terbit pada tahun 2005, sebab secara garis besar ide cerita dalam Laskar Pelangi dan Jurai adalah sama; sekumpulan anak-anak dusun, sebuah pertandingan porseni, bahkan sampai bagaimana Catuk dan Ikal jatuh cinta pun sama. Terus terang saya heran sekali, apakah pria-pria di Sumatera sana selalu jatuh cinta pada sebuah jari yang memiliki kuku-kuku rapi? Kalau iya, sialah saya sebab tidak bisa menggunting kuku dengan sangat rapi.

Kembali pada kedua novel di atas, baik Jurai maupun Laskar Pelangi adalah novel biografi si Penulis sendiri. Dan keduanya tak menyebut nama mereka dalam novel, masing-masing menggunakan pseudonim. Dalam Jurai, Guntur Alam menyebut dirinya Catuk.

Lahir dari seorang penulis yang cerita pendeknya banyak dimuat di harian nasional dan majalah, Jurai dibuka dengan narasi yang apik oleh Guntur Alam hingga mengalir sampai ke bab dua puluh tujuh dengan bahasa yang puitis. Jurai adalah karya kedua penulis yang saya baca, sebelumnya saya baru membaca satu cerita pendeknya; Mata Sayu itu Becerita, mungkin bisa dibilang terburu-buru untuk dikatakan saya menggemari tulisanya, caranya bertutur dan menyajikan cerita. Nilai lebih novel ini juga karna penulis mengusung lokalitas tanah lahirnya.

Jika bicara mengenai kukurangan buku ini, dapat saya katakan, Guntur Alam pasti belajar dari kekurangan Laskar Pelangi, saya hanya merasa terganggu pada catatan kaki mengenai sajak-sajak yang digunakan penulis dalam ini. Itu sangat menganggu. Kenapa tidak disebutkan saja hal itu pada halaman ucapan terima kasih?

Pada akhirnya membaca Jurai membawa kita melihat kembali apa yang sudah seorang ibu lakukan untuk anaknya, untuk kita sendiri. Saran terakhir saya, sediakan sapu tangan atau tissue selagi membaca buku ini.





Salam!



http://4sayap.wordpress.com/2013/11/2...
Profile Image for Pretty Angelia.
Author 7 books56 followers
March 29, 2014
Persahabatan, keluarga, dan cinta diramu dalam satu plot. Juga sarat akan kearifan lokal. Saya tahu Bang Guntur Alam dari cerpen-cerpennya yang saya baca di koran Kompas. seperti biasa gaya bahasanya apik. Berharap novel ini bukan novel terakhir yang menceritakan perjuangan Emak dan anak-anaknya :)
Profile Image for Dian Putu.
232 reviews9 followers
April 5, 2013
Judul: JURAI
Penulis: Guntur Alam
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 300 halaman
Harga: Rp. 58.000


Nasib seseorang ditentukan oleh orang itu sendiri maka, kita dituntut untuk bekerja keras untuk merubah nasib kita. Namun, takdir hanya Tuhan yang tahu. Dia yang mengatur kematian, jodoh, dan rezeki.
Manusia harus menerima Takdirnya dengan lapang dada. Tapi, manusia tak boleh berpangku tangan dengan nasib. Seperti Emak, Catuk, dan Ayuk-ayuk Catuk. Yah, ini kisah mereka. Kisah anak-anak Emak di setapak impian. Dan, itulah tema yang diangkat Alam Guntur dalam novelnya yang berjudul “Jurai”.
***
Catuk, seorang anak laki-laki yang harusnya hanya dibebani dengan masalah pelajaran, dia harus dihadapkan oleh persoalan pelik bagaimana cara keluarganya hidup layak. Apalagi setelah Ebaknya meninggal dunia. Emak harus bekerja banting tulang untuk biaya hidup mereka.
Kegigihan Emak bekerja membuat Catuk iba. Dia selalu menyesali kenapa dia tidak lahir lebih dulu sebelum ketiga ayuknya lahir. Sehingga, dia bisa menjadi tulang punggung keluarga, tidak seperti saat ini, hanya menambah beban Emaknya saja.
Tak sampai disini hidup mereka diuji, berbagai kenyataan yang begitu pahit satu persatu muncul. Dari rahasia kematian Ebak yang mereka kira karena diserang babi. Namun, ternyata Ebaknya meninggal karena ditabrak motor anak Toke Ngadap.
Emaknya yang bekerja sebagai penyadap di kebun Toke Ngadap memutuskan untuk berhenti menyadap. Terjadi kegundahan besar di limas mereka, bagaimana mereka bisa makan, bagaimana mereka bisa tetap sekolah dan mencapai cita-cita mereka. Namun, Emak menenangkan kegundahan anak-anaknya. Emak berkata beliau akan tetap berusaha untuk mencukupi kebutuhan limas mereka.
Saat Emak mulai mampu tersenyum kembali, lagi-lagi pukulan yang lebih keras harus mereka terima. Ebak beristri dua, Ebak mempunyai anak lain dari madu Emak. Hancurlah hati Emak, dan hati itu semakin hancur luluh lantah saat Emak tahu alasan Ebak memadunya. Anak bujang, Ebak menginginkan anak bujang yang dulu belum mampu Emak lahirkan.
Dan karena itu juga Catuk semakin menyesali kenapa dia tak lahir lebih dulu dari pada ayuk-ayuknya. Kalau dia lahir lebih dulu, Ebak tak akan mendua, dan sekarang dia pasti sudah siap menjadi pemimpin limasnya.
Belum juga selesai masalah-masalah itu mendera. Perbedaan gender yang sejak awal begitu menggaung di novel ini semakin diperjelas di bab-bab terakhir. Bagi mereka perempuan tak harus sekolah tinggi, sekolah tamat SMP itu sudah cukup. Tapi tidak untuk anak-anak emak, dan juga Emak.
Karena impian anak-anaknya, Emak mengambil jalan paling terjal dalam hidupnya. Jalan yang membuat semua orang tersentak dan mencoba menghalanginya. Tapi, Emak bukan Emak yang dulu, dia tidak akan berhenti, dia akan terus melanjutkan langkahnya untuk mimpi anak-anaknya.
Novel ini memang bercerita tentang air mata, namun Alam Guntur mampu menyisipkan kisah lain tentang persahabatan dan cinta yang dibalut manis dan tidak seperti di nomor duakan. Tentang mereka, para sahabat Catuk yang selalu ada untuk menghiburnya. Tentang mereka yang tak pernah menyerah pada sepatu mulut buaya untuk memenangkan Porseni, dan pergi ke Muara Enim.
Juga, kisah cinta segitiga Ci Rika, Gunawan dan Kus, kisah cinta yang terhalang persahabatan. Gunawan dengan usianya yang pastilah tak terlalu memahami cinta, tapi dia begitu bijaksana mengilhaminya. Tidak egois, dan penuh perhitungan.
“Kita terlalu muda untuk menentukan pilihan sekarang, bujang. Biarkan semua matang pada waktunya. Akupun tak ingin memupus harap yang mekar di dada Kus. Ah, kau tahulah. Ia pun suka pada bibimu yang cantik itu.” (Bab 6, hal77)

Tak hanya kisah cinta segitiga itu saja. Kisah cinta Catuk dan Dewi yang menurutku cukup aneh untuk ukuran anak usia SD dan terlalu dipaksakan. Bagaimana Catuk dan Dewi menggambarkan cinta mereka diakhir perpisahan, sedikit berlebihan untuk usia itu. Mungkin jika itu dilakukan anak SMP, sudah agak layak, namun ini anak SD.
Dan, untuk endingnya, terlalu menggantung, atau memang Alam Guntur ingin membuatnya seperti itu? Membuat penasaran pembaca dan suatu saat akan membuat lanjutannya, “Jurai II”. Mungkin saja.
Dari setiap bagian di novel ini, aku sangat menyukai Kisah sahabat-sahabat Catuk, Noyok, Sarpin, Gedo, Ivan, Pangki, Kus, Ci Rika dan Gunawan. Mereka benar-benar mampu menceritakan dengan sempurna arti persahabatan yang sebenarnya.
Bahkan, aku tak percaya jika mereka memang anak-anak SD, cara berpikir mereka terlalu matang di usia mereka. Seperti saat Gunawan menyadarkan Catuk agar tidak berlarut-larut dengan masalahnya.
“Lantas apa yang kau dapat? Ebak kau akan hidup lagi? Emak kau urung dimadu? Kau tak punya saudara tiri? Begitu?” tanyanya membabi buta.” (Bab 10, hal. 137)

“Kami sayang kau. Kami tak hendak lihat kau murung terus sepanjang masa. Tapi kami tak bisa berbuat apa-apa. Kami terlalu ingusan untuk paham yang kau rasa.” (Bab 10 hal 138)

Dan, bab yang paling aku suka adalah Bab 11 “Lawakan ala Sarpin”. Di bab ini Sarpin berkisah tentang tiga saudara yang buruk rupa dan air terjun pengabul keinginan. Sarpin mampu mengambil tempat di celah yang kecil dengan kisahnya ini. Dia membuat Novel Alam Guntur ini menjadi punya sudut terang diantara ruang yang gelap.
Sejak awal, aku sudah diperingatkan oleh pemberi novel ini, Mbak Nurinovita Dhea, hehehehe…. Ini novel hasil kuis #KuisBukuDea, gratis dari twitter. Mbak Dhea bilang aku memang harus menyiapkan tissue. Tapi, tidak, air mataku benar-benar mahal, dia hanya keluar saat aku membaca bab pertamanya dan beberapa bab terakhirnya.
Juga alurnya yang pas, aku suka. Bahasanya yang sarat dengan Muara Enim tak terkesan berlebihan. Top deh sama Alam Guntur yang mampu menciptakan rasa untuk pembaca, rasa dimana pembaca juga merasakan mereka berada di Tanah Abang, Muara Enim, latar dari novel ini.
Satu lagi bocoran, berdasarkan beberapa percakapanku dengan sang penulis di twitter, dia bercerita kalau tokoh yang menjadi teman-teman Catuk adalah nyata, mereka teman-teman Alam Guntur saat SD, bahkan karakter mereka juga sama.
Hem, jadi bertanya-tanya apakah ini kisah nyata? Entahlah, sepertinya dia tak akan akan mengaku. Sama seperti saat aku tanya tentang kisah cinta segitiga Gunawan, Ci Rika dan Kus. Dia bilang, aku disuruh tanya sendiri di Facebook, tapi mereka masing-masing sudah menikah dengan pasangan masing-masing. Erg… Mana berani aku tanya kalau sudah menikah, nggak etis banget.
Ya, sudahlah biarkan ini menjadi rahasianya…
Dan…. Aku menghadiahkan nilai 4 bintang dari 5 untukmu Bang Alam Guntur. Hehehehe…. Selamat…selamat…. Dan semoga sukses sama novel selanjutnya “Solely You”.
Profile Image for Tri Yudha  Wijayanti .
99 reviews1 follower
May 13, 2022
Novel ini mengingatkan saya dengan serial anak mamak dengan konflik yang lebih berat.
Profile Image for Ran.
13 reviews
February 25, 2024
buku ini kalau diadaptasi ke film, pasti bagus deh..
Profile Image for Uthera.
12 reviews5 followers
April 21, 2014
Novel ini saya baca sekali duduk. Maksudnya selalu ada di tangan sebelum benar-benar mencapai 'tamat'. Dari covernya, saya langsung dibawa ke sinema "Keluarga Cemara", abah, emak, kakak, ade, ah! Jadi pengen nonton lagi. (Hush!)
Sedangkan ketika membaca isinya, kepala saya langsung terhubung ke beberapa novel lain (tidak perlu saya sebut ah)yang memiliki 'benang' serupa. Entah karena penulisnya sudah teracuni cerita novel lain itu, atau mungkin ia ingin mencari kesamaan di kata 'buku laris'.
Tapi, dibalik itu semua cerita dalam novel ini sangat menarik. Terutama dari segi bahasa. Indah, mudah dicerna, tidak berbelit-belit, dan yang pasti emosi pembaca cukup terjaga.
Eniwey, ini novel jadi dibuat film? Atau jangan-jangan mau dibuat tetralogi? Wah! Harus nabung lagi ini! *tarik ikat pinggang*
Profile Image for Dhani.
257 reviews17 followers
Read
March 21, 2016
Jika kau ingin merasakan kepedihan yang tak membuat tumbang, bacalah Jurai.
Jika kau ingin menyaksikan perjuangan Emak yang buta huruf tapi pingin anak anaknya bersekolah tinggi, bacalah Jurai.
Jika kau mau tahu, dikhianati oleh orang yang paling dicintai tapi tak menjadikannya terpuruk, bacalah Jurai.
Jika kau ingin melihat persahabatan yang saling menguatkan, kau akan menemukannya di Jurai.
Jika kau suka berkelana, aku mengajakmu mengunjungi Muara Enim, lewat Jurai.


Guntur Alam, bagaimana Jika sequel Jurai segera kau tulis tahun ini.
Ada puluhan atau bahkan ratusan orang menanti di luar sana.
Profile Image for Nuri Dhea S.
3 reviews11 followers
March 25, 2013
Inspiratif. Lokalitas yang kuat. Lucu 20%, menangis berderai-derai 80%. Bahasa yang puitis menghipnotis, memasukkan hikmah dalam setiap kisahnya. Endingnya memungkinkan untuk dibuat sekuel.
Profile Image for R.A.Y.
292 reviews47 followers
Want to read
January 29, 2015
Kovernya mirip banget nget nget sama Botchan-nya Natsumi Soseki yang ini Botchan by Natsume Sōseki
Displaying 1 - 12 of 12 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.