Jump to ratings and reviews
Rate this book

Nomadic Heart

Rate this book
Kau bisa meninggalkan masa lalu, berlari jauh darinya. Atau, kau bisa memasukkan masa lalumu di dalam kotak besi baja, menguncinya, membuang kotak itu ke palung laut terdalam, dan melontarkan kuncinya ke belahan dunia lain. Tetapi, bisa apa kau pada masa lalu yang mengalir di pembuluh darahmu?

***

Sebuah perjalanan tidak selalu direncanakan. Terkadang … perasaan ingin segera pergi dan berkelana itu justru muncul tiba-tiba. Traveling memang kerap menjadi sebuah pelarian. Lari dari rutinitas, kejenuhan, bahkan masa lalu. Dan dalam sebuah perjalanan, batas negara dan perbedaan bahasa tak lagi penting. Hati dan ketulusanlah yang menjadi jembatan. Ibarat hati-hati yg berkelana tanpa tujuan.

Nomadic Heart merupakan percikan kisah perjalanan di Thailand, China, Malaysia, dan tentunya Indonesia. Begitu banyak benturan budaya yang menguak kesadaran betapa kayanya dunia ini. Traveling adalah sebuah proses memberi dan menerima yang sistematis, tanpa pamrih.

188 pages, Paperback

First published January 1, 2013

3 people are currently reading
34 people want to read

About the author

Ariy

4 books3 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
5 (9%)
4 stars
25 (45%)
3 stars
21 (38%)
2 stars
4 (7%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 13 of 13 reviews
Profile Image for Haryadi Yansyah.
Author 14 books64 followers
August 1, 2013
Mimpi itu batasnya langit,” ujar Ariy. Ketika membaca kalimat itu tertoreh di salah satu halaman di buku ini, aku spontan menganggukan kepala dan bergumam tanda setuju. Memang, tiada batasan mimpi di diri manusia.


“Bagi saya, terdengar seperti itulah besarnya hak kita untuk bermimpi, bercita-cita. Saya hanya perlu mempercayainya sekuat tenaga, melakukan hal-hal baik untuk mewujudkannya,” ujar Ariy. Ya, masing-masing manusia memiliki mimpi. Semua mimpi bermuara ke dermaga yang menopang kehidupan yang baik. Dan, bagi seorang pejalan, tidak ada mimpi yang lebih sempurna selain hasrat untuk menapaki tanah-tanah baru. Keinginan untuk mengenal daerah asing demi menemukan kejutan-kejutan di sepanjang perjalanan. Hidup itu adalah seni mengambil keputusan. Keputusan berat acap kali bersandang di kehidupan manusia. Hal itu juga dirasakan Ariy takkala memulai perjalanan-perjalanannya menandai peta dunia. Pasca perjalanan panjang menembus Thailand, Ariy memutuskan untuk berhenti bekerja. “Beratus malam sudah aku lalui untuk ini. Memutuskan berhenti atau tidak dari perusahaan ini. Segala politik kotor di kantor, ingar-bingar perayaan sikap kejam orang di perusahaan ini membuatku muak.” (hal.3). Terus terang, begitu membaca bagian ini aku tercekat. Aku merasakan kemuakan yang sama. “Di perusahaan manapun, kamu akan menemukan politik kotor. Itu yang kerap aku dengar. Tetapi, bagiku hidup tak harus seperti itu, toh aku punya pilihan untuk ikut teciprat lumpur politik itu atau menghindarinya.” (Hal.3).

Nomadic Heart ini menyoroti interaksi hati. Sebagai seorang pejalan, kemungkinan untuk Ariy dapat berkomunikasi dengan orang asing sangatlah besar. Baik itu ketika ia melakukan perjalanan di luar negeri ataupun sebaliknya, kedatangan tamu yang menginap di rumahnya di Solo. Kisah pertama mengenai Monika. Perempuan Jerman yang melakukan perjalanan seorang diri setelah putus hubungan dengan kekasihnya padahal mereka sudah merencanakan perjalanan itu bersama. Bagi Monika, perjalanan tak hanya sekedar mendatangi tempat baru. Namun bisa juga dijadikan waktu yang tepat untuk ‘menenangkan diri’. “I Won’t let the stress get at me. Let see how long I can do it.” Hal.10.

Kisah menarik aku dapatkan dari perjalanan Ariy menyusuri kota-kota di Thailand. Di Chiang Mai, Ariy menginap di rumah keluarga Sakayawat Wongrattanakamon. Sakayawat yang biasa Ariy panggil dengan nama Paul. Paul adalah pemuda yang pendiam walaupun kerap menarik perhatian banyak orang dengan ketampanannya. Dengan sikap pendiamnya, kadang sukar ditebak apa isi hati pemuda ini. Walau begitu, Ariy sangat menyadari dan merasakan penuh bahwa bantuan yang ia berikan sangat tulus. Bahkan, keluarga Paul pun semuanya baik dan menyambutnya dengan hangat dan toleransi yang tinggi. Ini terlihat di satu momen ketika mereka makan bersama, mendapati Ariy yang tidak menyentuh sajian makanan dengan alasan prinsip, Nenek Sri berlaku sigap dan mulai memasak makanan yang bisa ia makan. “…kemudian Nenek memintaku untuk menunggu sebentar, dan dia memasakakkanku sayuran lainnnya yang bisa aku makan. Aku sudah ingin memeluknya saja.” Hal.40. Pada segmen cerita ini, sebagai pembaca aku juga terkejutkan dengan fakta kehidupan Paul yang sebenarnya. Kebetulan yang menyenangkan :)

guangzhou_sehir

Beberapa cerita terjadi di Guangzhou. Gambar dari sini.

Interaksi tak hanya berisi kisah manis. Di Guangzhou, Ariy menginap di kediaman Pietro. Dari kisah ini, aku sangat belajar banyak. Terutama bagaimana bersikap atas situasi ganjil dan kebimbangan antara mempertahankan sikap kejawaan (yang serba tidak enak itu) dengan kebiasaan warga asing yang tanpa basa-basi. Bagaimana tidak, diantara kebaikan Pietro yang telah menampung di rumahnya, Pietro menyediakan kotak donasi di depan pintu dan menyediakan makan malam dengan tarif ‘khusus’. Di satu sisi Ariy gamang, ia telah menumpang namun jika mengambil tawaran itu (hanya karena merasa tidak enak), sangat bertentangan dengan prinsip penghematan yang ia terapkan selama traveling. “Kamu tahu, aku traveling dengan bujet rendah.. jadi… hmm… uang 120 yuan itu bisa aku gunakan untuk makan enam kali,” sahut Ariy ragu-ragu (hal.92). Lantas bagaimana Piedro menyikapinya? Saling menghargai dan menyikapi sikap masing-masinglah yang menjadi keunggulan di cerita ini.

Namun, dari belasan cerita perjalanan hati yang ditawarkan dalam Nomadic Heart ini. Aku paling suka dengan kisah ‘Sekotak Cokelat dari Swiss’ dan ‘Doa untuk Bapak’. Ada kesamaan antara dua kisah tersebut. Yakni kunjungan traveler dari negara lain yang berinteraksi langsung dengan keluarga Ariy di rumah. Di kisah pertama, aku berkenalan dengan Sven. Pejalan tangguh dari Swiss yang menghabiskan separuh hidupnya dalam satu tahun untuk bekerja dan sisanya untuk menjelajahi dunia. Dikarenakan hal itu pula, Ariy lantas menggambarkan sosok Sven sebagai “Pemuda yang hidupnya seperti sebuah perjalanan panjang yang kerap mengabaikan koma, dan aku curiga, sepertinya juga tak mengenal titik.” Hal.53. Kepribadian Sven yang hangat sangat mudah diterima di keluarga Ariy. Bahkan, ia mengklaim dirinya sebagai ‘A son from different father and mother’ di keluarga Ariy. Kejutan Sven untuk Ibuk Ariy di akhir cerita terasa sangat manis. Manis sekali… “Aku belajar banyak dari Sven. Salah satunya adalah, mengekspresikan apa yang ada di hati. Kalau mencintai seseorang, katakana cinta…” hal.67.

Di cerita ‘Doa untuk Bapak’ pun Ariy mendapatkan pengalaman baru dengan memberikan tumpangan seorang Yahudi di rumahnya. Ariel namanya. Dari awal Ariel sudah mewanti-wanti bahwa ia sadar menjadi Yahudi, tidak selalu dapat diterima baik oleh banyak orang terutama di negara-negara muslim. Namun seperti yang Ariy bilang bahwa, “traveling membawa kita menjelajahi ruang hati tanpa batas apapun yang bisa mengekang,” Hal.165. Lagi-lagi, akhir cerita ini berakhir sangat manis dan cukup membekas dihatiku. Suka sekali!

Solo-Surakarta-Mosque-Entrance-300x225

Gerbang masjid di kota Solo. Sumber gambar disini.

Masih banyak sekali kisah di buku ini. Tidak ada yang tidak menarik. Semua memiliki keunikan tersendiri. Setiap kali menyelesaikan satu cerita, ada saja kejutan yang menanti dan rasa tak sabar untuk melumat kisah-kisah lainnya. Maka, jika ada kekurangan di buku ini, bisa kubilang bahwa bukunya kurang tebal. :) sebagai seseorang yang berpengalaman di bidang jurnalistik, Ariy sangat piawai memilih diksi. Semua terurai indah tanpa harus bermetafora.

Baiklah, di akhir ulasan ini, aku (lagi-lagi) akan mengutip makna sebuah perjalanan dari Duco –salah satu tamu Ariy di kisah ‘Tentang Duco’ mengenai anggapannya seputar traveling. “Traveling bagiku sangat personal artinya. Aku ingin selalu bertemu dengan orang baru dari perspektif berbeda dan memiliki latar belakang dan budaya berbeda pula, but they are still human and I like to find the human part in other regardless whether they are ladyboys, Moslems, Hindu or Catholics, beside they’re also people with their own life stories..” Hal.120.

Profile Image for Juwita Sari.
36 reviews3 followers
May 17, 2022
Bukunya tipis, seminggu tamat. Ceritanya ringan banget, lebih ke pengalaman-pengalaman sang penulis terhadap karakter traveler lain yang ia jamu di rumahnya di Solo yang unik-unik, pun ketika beliau ke luar negeri (tapi ga begitu fokus diceritakan di buku ini, mungkin di buku-buku lainnya). Membaca buku ini lumayan dikit-dikit flashback ke masa-masa traveling di negeri orang, ya walopun konteksnya beda. So, buat kalian yang mau killing time sama bacaan ringan, ga ada salahnya baca pengalaman Mas Ariyanto ini.
Profile Image for Rifan J.
72 reviews40 followers
October 3, 2020
Jujur belum pernah mendengar siapa penulisnya dan dapat buku ini dari bazaar daring. Ternyata bagus bukunya. Membaca buku ini karena momennya lagi rindu banget backpackingan. Mas Ariy ini nulisnya alon-alon banget, sepertinya langsung ditulis dari hati. Ada kejujuran disana. Filosofis juga. Bahasanya enak.

Pelajaran setelah membaca ini, sejatinya perjalanan membawa cerita dengan orang-orang yang kita temui, meski tidak pernah berjumpa lagi.

Habis dalam dua kali duduk. Lima bintang.
Profile Image for Dian.
8 reviews18 followers
March 26, 2013
“Travel is the only thing you buy that makes your richer”

Itulah quote pembuka buku yang semakin menegaskan mengenai pesan yang ingin disampaikan penulis dalam buku ini. Traveling akan terasa sangat menarik dan berkesan ketika perjalanan kita tidak hanya tentang kaki yang melangkah, mata yang melihat, lidah yang mencecap, telinga yang mendengar, tetapi juga tentang hati yang belajar dan berbicara. Melakukan traveling akan membuat kita mengenal dunia dengan cara yang berbeda. Pertemuan dan interaksi dengan para traveler dunia mungkin saja memunculkan benturan budaya, namun pada akhirnya hal tersebut semakin menyadarkan kita bahwa dunia ini memiliki banyak hal menarik dan indah. Pertemuan, pengalaman, serta persahabatan yang diperoleh sepanjang melakukan perjalanan pada akhirnya akan membuat hidup kita lebih “kaya” dan merekalah souvenir terindah yang bisa didapatkan ketika melakukan perjalanan. Souvenir Dunia adalah bab pembuka buku Nomadic Heart dimana penulis mengajak pembaca untuk menyelami lebih dalam tentang makna traveling.

Nomadic Heart termasuk dalam kategori travelogue dan terbagi dalam 16 bab. Merupakan kumpulan cerita yang dialami oleh penulis dari rangkaian perjalanannya sejak tahun 2008, saat penulis pertama kali masuk ke komunitas traveler dan mulai berinteraksi dengan para traveler dunia. Ada banyak hal yang tidak bisa dipahami oleh orang awam tentang para traveler ini, khususnya tentang mereka yang terus bergerak menempuh ribuan kilometer dari tempat asalnya.

“Aku percaya, dimana aku merasa nyaman, disanalah seharusnya hatiku berada”

Kisah perjalanan dalam Nomadic Heart diawali dengan 3 kisah dari penulis, Monika, dan Kevin Rawley yang melakukan perjalanan untuk sejenak menenangkan hati dan berpikir jernih menyelesaikan persoalan masing-masing. Pergulatan hati mereka memberikan gambaran bahwa traveling itu tidak hanya tentang destinasi tetapi juga tentang pencarian jati diri serta jawaban pertanyaan dalam hidup.

“Being lost is the best way to find yourself”

Ada proses hening yang bisa didapatkan ketika traveling yang mungkin akan membuat kita mengerti apa yang kita butuhkan atau apa yang tidak kita butuhkan. Hening membuat kita mengerti apa yang harus disertakan dan apa yang harus ditinggalkan dalam hidup. Hening membuat kita lebih jernih, hening membuat kita belajar bijak. Selirih apa pun suara hati, kita akan mampu mendengarnya. (halaman 11)

Perbedaan latar belakang dan budaya tidak menjadi penghalang untuk bisa berinteraksi dengan orang-orang baru saat melakukan sebuah perjalanan. Benturan budaya tidak lantas membuat pejalan melepas nilai-nilai yang dianut, tidak juga bersikap antipati terhadap perbedaan. Perbedaan budaya dan perjalanan hidup menyebabkan perbedaan dalam cara berkomunikasi dan berpikir, tetapi pertemuan mereka telah mengajarkan bahwa ketulusan dan kebaikan itu walaupun tidak tampak oleh mata tetapi akan terasa oleh hati.

Traveling mempertemukan kita bertemu orang-orang baru, mulai dari yang sekedar berpapasan, saling sapa, sampai dengan mereka yang menjadi teman seperjalanan. Pertemuan dan interaksi dengan mereka walaupun singkat tetapi bisa meninggalkan kesan mendalam dan menjadi penyemangat dalam traveling kita. Perpisahan setelah kebersamaan selama berhari-hari tentunya bukan hal yang mudah, karena tanpa sadar mereka telah menjadi bagian dari cerita perjalanan kita, seperti pertemuan penulis dengan Khum di Thailand.

Ada kejutan yang bisa didapatkan saat melakukan traveling termasuk kejutan tentang siapa yang kita temui dalam perjalanan. Situs pertemanan seperti situs web traveler dunia memungkinkan kita bisa saling sapa satu dengan yang lain tetapi tidak membuat kita mengenal lebih dalam tentang mereka sebelum akhirnya bertemu langsung, seperti kejadian yang dialami penulis ketika tanpa sadar sudah duduk satu meja dengan selebritas Thailand.

Traveling adalah perjalanan untuk menemukan. Menemukan jati diri juga mencari jawab atas pertanyaan dalam hidup. Traveling membantu kita untuk bisa menarik nafas lebih lebih ringan, melihat lebih jernih, dan berpikir lebih luas sebelum akhirnya membantu kita dalam menemukan jawaban dan menentukan pilihan. Bisa jadi pilihan yang kita ambil akan mendapat reaksi tidak menyenangkan dari orang lain. Kita tidak bisa menyalahkan orang lain yang memiliki perspektif berbeda tentang hidup yang “ideal”. Tidak semua orang bisa memahami pilihan hidup yang dipilih oleh orang lain, tetapi keputusan tetap harus diambil.

Life is about choices.
Profile Image for Dini Novita  Sari.
Author 2 books37 followers
March 3, 2013
Ketika kejengahan saya tentang koar-koar mengenai traveling dari para pelakunya di media sosial mulai meradang, buku ini menjadi pelipurnya. Ariy adalah kawan traveler yang saya kenal sejak permulaan passion saya sebagai traveler di tahun 2010, melalui perjalanan bersama kami ke Singapore. Ia adalah seorang traveler yang jujur. Jika marah, akan ia tunjukkan. Jika kecewa, pun tak disembunyikan. Dan Nomadic Heart adalah seperti buku harian yang mengungkap segala kejujurannya. Terungkap dengan cara yang sederhana...

Ini adalah antologi cerita Ariy berkaitan dengan passionnya di bidang traveling. Betapa pertemuannya dengan para pejalan lain membuatnya kaya akan pelajaran hidup. Bagi saya, cerita-ceritanya mampu membungkam serentetan koar-koar tentang apa itu traveling, bagaimana menjadi seorang traveler yang baik, atau adu hebat mengenai gaya traveling - gaya mana yang paling efektif dan layak digunakan. Bagi saya, buku ini jujur, tidak berlebihan, dan tanpa tedeng aling-aling. Meski, saya sempat mencium aroma-aroma tambahan fiksi di dalamnya, tapi tidak mengapa. Karena jika itu benar, itu adalah usaha membuat pembaca nyaman ketika meresapi setiap cerita. Tidak masalah bagi saya.

So if u need to find an honest and humble travelogue, all i can say... Nomadic Heart is good. :)

Resensi lengkap saya baca di sini:

http://dinoybooksreview.wordpress.com...
Profile Image for Ayun Qee.
Author 1 book6 followers
December 26, 2013
Sebenarnya, buku ini sudah saya baca beberapa bulan lalu. Tapi baru terpikir nulia reviewnya sekarang. Hehe... *lelet*

Oke, saya kasih empat bintang buat keren ini. Buku yang sukses membuat saya "galau" pengen traveling tapi di satu sisi ada tanggung jawab pekerjaan (malah curcol). Buku yang tak hanya mendeskripsikan keindahan tempat tapi juga memberikan pesan moral serta mampu menunjukkan kearifan lokal di suatu tempat. Ariy seolah menuliskan buku ini dengan hati dan sepenuh hati. Seperti judulnya "Nomadic Heart", Ariy selalu membawa hatinya di setiap perjalanan. Berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Membaca buku ini, saya tak hanya disegarkan dengan pengalaman2 traveling yang dilakukan penulisnya, tapi juga belajar banyak hal tentang kebijakan, menghargai orang lain, dan banyak lagi. Satu quote yang paling saya suka "Berhentilah menandai peta. Biarkan hatimu yang memandu."
Profile Image for Christina.
29 reviews2 followers
March 28, 2013
Membaca Nomadic Heart berasa membaca buku harian si penulis. Ariy berhasil mengaduk perasaan pembacanya dengan pengalaman travellingnya dengan sejumlah orang yang ditemuinya. Tidak hanya itu, Ariy juga mencoba bijak dalam menghadapi tiap tamu travellernya yang bertandang di rumah sederhananya di Solo.

Dalam Nomadic Heart pembaca akan belajar bahwa tiap peristiwa dan manusia yang dijumpai di dalamnya selalu memberikan pelajaran dalam proses hidup. Lebih lagi, Ariy ingin mengingatkan kita, bahwa hidup ini penuh dengan pilihan dan mengajak kita menentukan pilihan dan bersiap menghadapi resiko. Selamat membaca.
Profile Image for Rahmadiyanti.
Author 15 books175 followers
September 9, 2013
Tempat memang menjadi tujuan sebuah perjalanan. Kota-desa, gunung-pantai, dingin-panas... Namun, manusia-manusia lah yang membuat sebuah tempat yang kita singgahi dalam perjalanan, menjadi bermakna (apapun makna yang kita kail). Maka penulis buku ini mengungkap persentuhannya dengan manusia-manusia yang ia temui dalam perjalanan atau pun menemuinya (penulis beberapa kali menjadi host bagi traveler di rumahnya) dengan tuturan yang apa adanya. Di beberapa sisi, cukup emosional. Cukup larut saya menikmati cerita Pietro, Sven, Pop, Matthew, hingga Duco dan Ariel.

Profile Image for Maya Indah.
30 reviews9 followers
March 16, 2013
Saya suka sampulnya.. saya suka tulisannya.. Nomadic heart, menurut saya, salah satu buku yang sebaiknya dibaca untuk mereka yang sedang melakukan kontemplasi diri, untuk mereka yang ingin melihat sisi lain dari sebuah traveling.

Review lengkap, moggo melipir ke sini ya...
http://chiemayindah.wordpress.com/201...
Profile Image for Abi Ghifari.
109 reviews6 followers
December 28, 2014
Nomadic Heart berkisah tentang perjalanan Ariy menelusuri tanah-tanah asing dengan peristiwa yang beragam. Cara bertutur Ariy pada bukunya ini terkesan seperti sebuah jurnal atau buku harian perjalanan: ringan, dekat, tanpa ada yang ditutupi.
Profile Image for Leoni Ong.
11 reviews2 followers
May 27, 2016
membaca buku ini seperti membaca buku harian yg di tulis oleh seorang traveller n buku ini benar2 buku yg enak utk di baca.
Displaying 1 - 13 of 13 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.