Alif merasa berdiri di pucuk dunia. Bagaimana tidak? Dia telah mengelilingi separuh dunia, tulisannya tersebar di banyak media, dan diwisuda dengan nilai terbaik. Dia yakin perusahaan-perusahaan akan berlomba-lomba merekrutnya.
Namun Alif lulus di saat yang salah. Akhir 90-an, krisis ekonomi mencekik Indonesia dan negara bergolak di masa reformasi. Satu per satu, surat penolakan kerja sampai di pintunya. Kepercayaan dirinya goyah, bagaimana dia bisa menggapai impiannya?
Secercah harapan muncul ketika Alif diterima menjadi wartawan di sebuah majalah terkenal. Di sana, hatinya tertambat pada seorang gadis yang dulu pernah dia curigai. Ke mana arah hubungan mereka? Dari Jakarta, terbuka cakrawala baru. Alif meraih beasiswa ke Washington DC, mendapatkan pekerjaan yang baik dan memiliki teman-teman baru di Amerika. Hidupnya berkecukupan dan tujuan ingin membantu adik-adik dan Amak pun tercapai.
Life is perfect, sampai terjadi peristiwa 11 September 2001 di World Trade Center, New York, yang menggoyahkan jiwanya. Kenapa orang dekatnya harus hilang? Alif dipaksa memikirkan ulang misi hidupnya. Dari mana dia bermula dan ke mana dia akhirnya akan bermuara?
Mantra ketiga “man saara ala darbi washala” (siapa yang berjalan di jalannya akan sampai di tujuan) menuntun perjalanan pencarian misi hidup Alif. Hidup hakikatnya adalah perantauan.
Rantau 1 Muara bercerita tentang konsistensi untuk terus berkayuh menuju tujuan, tentang pencarian belahan jiwa, dan menemukan tempat bermuara. Muara segala muara.
Fuadi lahir di nagari Bayur, sebuah kampung kecil di pinggir Danau Maninjau , tidak jauh dari kampung Buya Hamka. Ibunya guru SD, ayahnya guru madrasah.
Lalu Fuadi merantau ke Jawa, mematuhi permintaan ibunya untuk masuk sekolah agama. Di Pondok Modern Gontor dia bertemu dengan kiai dan ustad yang diberkahi keikhlasan mengajarkan ilmu hidup dan ilmu akhirat.
Gontor pula yang membukakan hatinya kepada rumus sederhana tapi kuat, ”man jadda wajada”, siapa yang bersungguh sungguh akan sukses.
Juga sebuah hukum baru: ilmu dan bahasa asing adalah anak kunci jendela-jendela dunia. Bermodalkan doa dan manjadda wajada, dia mengadu untung di UMPTN. Jendela baru langsung terbuka. Dia diterima di jurusan Hubungan Internasional, UNPAD.
Semasa kuliah, Fuadi pernah mewakili Indonesia ketika mengikuti program Youth Exchange Program di Quebec, Kanada. Di ujung masa kuliah di Bandung, Fuadi mendapat kesempatan kuliah satu semester di National University of Singapore dalam program SIF Fellowship. Lulus kuliah, dia mendengar majalah favoritnya Tempo kembali terbit setelah Soeharto jatuh. Sebuah jendela baru tersibak lagi, Tempo menerimanya sebagai wartawan. Kelas jurnalistik pertamanya dijalani dalam tugas-tugas reportasenya di bawah para wartawan kawakan Indonesia.
Selanjutnya, jendela-jendela dunia lain bagai berlomba-lomba terbuka. Setahun kemudian, dia mendapat beasiswa Fulbright untuk program S-2 di School of Media and Public Affairs, George Washington University. Merantau ke Washington DC bersama Yayi, istrinya—yang juga wartawan Tempo—adalah mimpi masa kecilnya yang menjadi kenyataan. Sambil kuliah, mereka menjadi koresponden TEMPO dan wartawan VOA. Berita bersejarah seperti peristiwa 11 September dilaporkan mereka berdua langsung dari Pentagon, White House dan Capitol Hill.
Tahun 2004, jendela dunia lain terbuka lagi ketika dia mendapatkan beasiswa Chevening untuk belajar di Royal Holloway, University of London untuk bidang film dokumenter. Kini, penyuka fotografi ini menjadi Direktur Komunikasi di sebuah NGO konservasi: The Nature Conservancy.
Fuadi dan istrinya tinggal di Bintaro, Jakarta. Mereka berdua menyukai membaca dan traveling.
”Negeri 5 Menara” adalah buku pertama dari rencana trilogi. Buku-buku ini berniat merayakan sebuah pengalaman menikmati atmosfir pendidikan yang sangat inspiratif. Semoga buku ini bisa membukakan mata dan hati. Dan menebarkan inspirasi ke segala arah. Setengah royalti diniatkan untuk merintis Komunitas Menara, sebuah organisasi sosial berbasis relawan (volunteer) yang menyediakan sekolah, perpustakaan, rumah sakit, dan dapur umum secara gratis buat kalangan yang tidak mampu.
Tahukah kalian apa itu polymath? Orang cerdas yang mampu menguasai berbagai macam ilmu sekaligus. Ibnu rusyd ini menguasai ilmu filsafat aristoteles, ilmu fiqih dan tauhid,ilmu hukm, logika, psikologi,politik, teori musik, ilmu kedokteran, astronomi, geografi, matematika, fisika, mekanik, dan lainnya. Tidak heran jika namanya harum di kalangan orang terdidik eropa, sehingga aliran filsafatnya dikenal dengan aveorrisme. Di cordoba ada patung seseorang yang memegang buku. Patung itu menjadi objek foto banyak turis yang datang kesana. Itulah foto ibnu rusyd, yang didirikan di tanah kelahirannya untuk menghormati sumbangsih yang begitu banyak.
betapa hebatnya sebuah tulisan. kekal, melati batasan umur, zaman, bahkan geografis. Melalui tulisan dah huruflah manusia belajar dan menitipkan ilu kepada manusia lain.
mungkin dengan menjadi penulis dan wartawan, aku bisa merintis jalan untuk bisa awet muda dengan tulisan dan karya jurnalistik yang berguna dan abadi. bisa mengubah dunia hanya dengan kata-kata.
kisah alif yang mencari kerja dan ilmu jurnalistik yg dibagikan penulis kepada kita. sekarang ini banyak media cetak atau televisi yg jauh dari kebenaran. yg penting asap ngepul di rumah. apalagi kasus yg lagi hangat2 dgn memutar balikkan fakta. wartawan dan penulis ingat lagi deh tujuan awal buat membagi ilmu dan kebenaran kepada pembaca. lucu membaca kisah wartawan yg mentraktir narasumber dgn mahal karna ingin mempertahankan idealisme tidak mau disogok. walaupun sekedar ditraktir, tidak terima amplop, ataupun hadiah barang. wah.... selesai juga bacanya. novel motivasi yang bagus. bagaimana untuk tetap berjuang menggapai impian dan banyak mendapat sanak keluarga di perantauan. pepatah yang cocok untuk ending novelnya: setinggi-tingginya bangau tabang. pulangnyo ka kubangan juo.
Rasa heaven dapat baca novel asal bahasa (Indonesia), bukan terjemahan kepada Malaysia. Betul cakap orang “novel BI lebih best dibaca berbanding novel terjemahannya”. Its same as novel Indonesia.
Maka tamatlah trilogi Negeri 5 Menara.
Dalam trilogi ini, novel paling memberi inspirasi kepada aku ialah Negeri 5 Menara.
Novel tu aku pinjam di perpustakaan awam, terbitan PTS. Lepas tu aku menunggu novel kedua. Aku beli di kedai buku. Lepas tu aku tunggu novel ketiga, PTS Litera tak terjemah pun. Padalah novel ketiga ni dah terbit di Indonesia sejak 2013 lagi.
“Jika kau bukan anak raja dan juga bukan anak ulama besar, maka menuliskah” Imam Al-Ghazali, Hal.9
Setahun sudah Alif merengkuh sejuta pengalaman di kota Saint-Raymond, Kanada dalam rangka pertukaran pelajar. Kini ia kembali ke Bandung, kembali ke kota dimana mimpi-mimpinya menapaki benua Amerika bermula. Dengan berhasil memperlihatkan bahwa dengan kerja keras dan keyakinan Man Shabara Zhafira –siapa yang bersabar akan beruntung, Alif telah membuktikan bahwa tidak ada yang tidak mungkin diraih di dunia ini, terlebih ketika berjuang mewujudkan mimpi.
Rasa percaya diri Alif membuncah. Pasca perjalanan dari Kanada, Alif dengan mudah meraih beasiswa lainnya. Tak lama dari kepulangannya ke kos yang berdebu dan lembab, Alif berkesempatan meraih beasiswa visiting student di National University di Singapura selama satu semester. Dengan pengalamannya itu, Alif sudah satu level di atas teman-temannya yang lain. Kemampuan menulisnya juga terus meningkat. Rasanya, masa depan gemilang sudah berada di genggamannya. Tapi benarkah?
Iklim politik yang memanas di penghujung tahun 1990-an ternyata juga berdampak dalam kehidupan Alif. Belasan lamaran pekerjaan selalu berakhir dengan penolakan. Memang sulit untuk mendapatkan pekerjaan dikala banyak perusahaan gulung tikar. Di titik terendahnya, Alif bahkan sudah tidak mampu lagi membantu kehidupan Amak dan adik-adiknya di kampung. Bahkan, Alif sempat mengambil keputusan nekat. Berhutang! “Hari ini aku bukan lagi orang merdeka. Aku terjajah oleh hutang,” hal. 25.
Reformasi di tahun 1998 menggemparkan Indonesia bahkan dunia. Kekacauan dan kerusuhan terjadi. Namun, tentu saja ada hikmah di balik sebuah kejadian. Pasca tumbangnya penguasa, media massa yang sebelumnya dibredel kembali tumbuh dan berusaha bangkit menunjukkan tajinya. Alif pun beruntung bisa unjuk gigi menjadi jurnalis di media. Alif akhirnya berkarir sebagai wartawan di Derap. Media yang menjunjung tinggi kejujuran dan berusaha mengungkapkan berita dengan apa adanya.
Di sini kemampuan menulis Alif berkembang pesat. Keterpurukan keuangan juga mulai teratasi walaupun Alif masih harus berjuang keras untuk itu. Bersama sahabatnya –Pasus, Alif rela mondok di kantor dan bermalam di ruangan arsip agar dapat menyisihkan gaji lebih banyak untuk membantu kehidupan Amak di kampung. Untunglah, ia memiliki rekan kerja yang baik. Atmosfer kekeluargaan sangat dijunjung tinggi di sana. Bahkan, ketika Derap merekrut pegawai baru bernama Dinara, Alif merasakan getaran berbeda di dadanya. Bayang-bayang Raisa mulai pupus. Dinara sangat menyita hati dan pikirannya. Itukah yang dinamakan cinta?
Randai… sahabat masa kecil yang telah memenangi hati Raisa kembali hadir di hidup Alif. Semangat Randai untuk berkompetisi tak pernah surut. Dengan sengaja Randai bercerita tentang pencapaian-pencapaian yang ia raih. Alif tak ingin dicundangi, Alif tak ingin lagi tertampar ketika apa yang ia inginkan terebut lebih dulu dari sahabatnya itu. Ketika Randai bercerita bahwa ia akan mendapatkan beasiswa ke Eropa, Alif tersentak. Ia tak ingin kalah. Alif mulai gencar memburu beasiswa. Sekali lagi, Alif berharap dia bisa menaklukkan Amerika!
“Jika saja aku ditakdirkan untuk mendapatkan beasiswa ini, maka aku akan menjadi anggota klub elite ini, kelompok cerdik pandai dan pemimpin dunia. Siapa tahu aku ikut tertular seperti mereka, memenangi nobel dan pulitzer. Siapa tahu. Aku diajarkan untuk tidak meremehkan impian setinggi apapun, karena sungguh Tuhan Maha Mendengar.” Hal.170. Dan… benar saja, akhirnya Alif mendapatkan apa yang ia mau. Ia sukses melompati Randai. Jauh sebelum keberangkatannya ke Eropa, Alif terlebih dulu sampai ke negeri Paman Sam. Di sana, ia menemukan orang-orang yang segera disebutnya sebagai keluarga dan mulai merajut kehidupan baru. Namun, satu pencapaian yang belum direngkuhnya. Jika Randai sudah memiliki Raisa maka hubungan antara Alif dan Dinara masih belum jelas. Jutaan kilometer dari Indonesia… Alif gamang.
Gambar : Monumen Washington, pemandangan yang biasa dilihat Alif dari jendela apartemennya :)
Seperti halnya Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna yang memikat, Ahmad Fuadi tetap mempertahankan ciri khasnya dalam Rantau 1 Muara ini. Apa itu? Yakni keberadaan mantra-mantra penyemangat yang bisa menginspirasi pembaca. Man saara ala darbi washala, Siapa yang berjalan di jalannya akan sampai di tujuan. Mantra itulah yang jadi senjata Ahmad Fuadi di penutup trilogi Negeri 5 Menara ini.
Di dua buku terdahulu Ahmad Fuadi lebih banyak menyoroti tentang persahabatan dan mimpi. Namun, di Rantau 1 Muara ini Ahmad Fuadi banyak berbicara tentang cinta. Keresahan Alif menangani urusan hati ini sangat menarik. Di satu sisi Alif ingin menunjukkan bahwa ia sungguh berjuang demi cinta. Namun, pengalamannya terhadap Raisa dulu cukup menghambat. “Ada nyaliku. Kuat dan siap. Tapi aku tidak sudi malu. Nyali punya, malu tak mau,” hal. 166 suara hati Alif tersebut cukup menjelaskan bahwa urusan hati bukanlah sesuatu yang mudah ia taklukan. :)
Gambar : Halal gyro, tempat makan Alif kalau ke New York :)
Walaupun kisah percintaan dapat posri yang cukup besar di buku ini, pengalaman Alif hidup di Amerika Serikat juga banyak dikisahkan dan tentu saja sangat menarik untuk diikuti. Apalagi, Ahmad Fuadi sempat menuliskan tragedi 9/11 yang berpengaruh besar terhadap kehidupan Alif. Hmm… dengan berbagai elemen kisah yang diceritakan, bisa dibilang kemungkinan Rantau 1 Muara dapat disuka dan ‘dibenci’ pada saat yang bersamaan cukup besar. Haha.
Jika dibandingkan dengan Ranah 3 Warna, tampilan Rantau 1 Muara ini terlihat lebih kurus. Perubahan cukup besar nampak di kavernya. Jika sebelumnya memakai kaver yang cukup ramai dan berwarna-warni, kaver Rantau 1 Muara sangat sederhana dan tidak terlalu bermain warna. Sebagian orang mungkin lebih suka kaver yang menenangkan seperti ini. Namun, menurutku walaupun sederhana masih banyak elemen-elemen yang bisa ditambahkan di kaver ini sehingga bisa lebih menarik. Hmm, jika bicara soal selera memang jadinya subjektif, ya? :)
Terlepas dari itu semua, Rantau 1 Muara adalah bacaan ringan, inspiratif dan menyenangkan. Terlebih jika sudah membaca dua seri sebelumnya maka Rantau 1 Muara menjadi wajib untuk ditamatkan terlebih bagi yang penasaran bagaimana kehidupan Alif selanjutnya. Jangan lupa, resapi mantra-mantra yang ditawarkan buku ini. Jika begitu, maka tidak ada yang mustahil jika sudah berbicara mimpi. Terima kasih Bang Ahmad Fuadi atas karyanya yang bermanfaat ini. Seperti halnya yang ia tulis di Rantau 1 Muara bahwa, “melalui tulisan dan huruflah manusia belajar dan menitipkan ilmu kepada orang lain,” Hal.41. Maka Bang Ahmad sudah melakukan dan membuktikan itu semua.
Naskhah terakhir daripada trilogi Negeri 5 Menara. Fasa terakhir yang menceritakan perjuangan Alif menghadapi krisis monetar (krismon) selepas graduasi. Takdir membuka jalan kepadanya untuk menjadi wartawan di Derap, sebuah akhbar berprinsip yang berpihak pada kebenaran.
Naskhah ini juga menunjukkan sikap scholarship hunter Alif yang jelas. Beliau berjaya menerima biasiswa Fullbright untuk melanjutkan S2 di Amerika. Kisah perjuangan Alif untuk memenangi suri di hati juga ada diselitkan.
inti cerita ini ada 3 menurut saya: 1. temukan passion,jalani sepenuh hati, insyallah "jadi" 2. ngomporin buat nikah bagi jomblo dengan ngasih tips-tips yang baik dan "benar" (tidak menyimpang dari cara islam) 3. muara segala kehidupan kita ini adalah ridho Allah.
Man saara ala darbi washala... Siapa yang berjalan di jalannya, akan sampai di tujuan...
Muara, sebuah tempat terakhir, tempat berlabuh untuk selama-lamanya, tempat berhenti, istirahat yang abadi. Judul yang tepat untuk buku ketiga dari trilogi Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi. Rantau 1 Muara. Ya, buku ini seakan menjadi muara bagi trilogi buku ini, juga muara bagi si penulis dalam perjalanan hidupnya mengelilingi dunia dan hidup di negeri orang.
Gabungan Tiga ‘Mantra’ Masih ingat dengan mantra di dua buku sebelumnya, Man Jadda wa jada (siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil) dan Man shabara zhafira (siapa yang bersabar akan beruntung)? Kedua mantra yang dipelajari Alif di Pondok Madani ini dilengkapi dengan mantra ketiga seperti dikutip di atas: Siapa yang berjalan di jalannya, akan sampai di tujuan. Memang terkesan klise, tentu saja seseorang yang berada di jalan yang tepat pasti akan sampai tujuan, lalu apa maksud dari mantra ini? Disinilah peran kedua mantra terdahulu akan diperlukan. Tentunya, untuk istiqomah di jalan yang lurus, jalan yang tepat, diperlukan usaha yang keras serta kesabaran yang tak berbatas. Apabila kedua hal tersebut tidak ditemukan, niscaya tujuan kita tak akan tercapai, karena jalan yang dilewati sudah bukan jalannya lagi.
Inilah kisah Alif di buku pamungkas, ketiga mantra tersebut diaplikasikan langsung dalam kehidupan yang ia jalani. Menarik menyimak ‘petualangan’ Alif ketika ia harus bersabar dengan keadaan di Indonesia pada tahun 1998 yang sedang mengalami krisis. Bersabar karena tahun 1998 tersebut merupakan tahun tepat ia lulus dari UNPAD. Bersabar karena krisis yang terjadi menyebabkan lapangan pekerjaan menjadi sempit dan sangat sulit untuk mencari pekerjaan di waktu itu. Boleh jadi, kesulitan yang Alif alami ini merupakan akibat dari kesombongan yang, walaupun sedikit, sempat terbersit di dalam pikiran Alif. Bagaimana ia, seorang yang telah melanglangbuana ke tanah Amerika (Kanada tepatnya), seorang yang karya tulisnya selalu dimuat di media, merasa jumawa dan merasa telah berhasil. Disinilah jalan yang ia ambil mulai salah langkah, sehingga tujuan yang ia capai pun menjadi kabur, dan mantra ketiga pun mulai melenceng dari hidupnya.
Setelah bersabar dengan keadaan, keajaiban mantra kedua pun muncul. Keberuntungan mulai ia tapaki kembali. Karier mulai ia jalani. Satu hal yang ia yakini kembali ialah: mantra pertama tidak boleh ia lepaskan lagi, ia harus bersungguh-sungguh, dan yang paling penting, ia tidak boleh sombong. Segala hal buruk yang menimpanya perlahan-lahan mulai lenyap, ia yang tadinya sempat dikejar debt collector, bahkan sampai absen dalam memberi kiriman uang untuk Amak di kampung mulai sukses menapaki karier di salah satu media yang sedang bangkit kembali setelah keterpurukan akibat rezim Orde Baru, nama media itu ialah Derap. Disinilah Alif mulai menggeluti kerasnya dunia pers, mulai dari uang panas yang melambai-lambai dari narasumber, hingga pengalaman mengejar seorang jenderal utnuk diwawancarai. Di media ini pulalah hati Alif mulai tertambat pada seorang gadis cantik bernama Dinara. Alif, yang lulusan pesantren tentunya tidak punya pengalaman dan tidak ingin pula untuk berpacaran, maka ia hanya memendam impiannya terhadap Dinara, impian untuk memperistrinya. Ia sadar, sebagai wartawan, gaji yang ia peroleh belum cukup untuk berkeluarga maka ia pun hanya bisa pasrah dan berserah. Apalagi, ia kemudian mendapat beasiswa untuk belajar di Washington DC. Ini adalah berkat mantra pertama yang ia pegang teguh, walau ada konsekuensi untuk ini, ia dan Dinara akan semakin jauh, terpisah oleh jarak dan waktu.
Washington DC. Inilah perhentian Alif berikutnya. Kota ini bukan menjadi muara Alif, karena ia sendiri belum tahu kapan ia akan bermuara. Bagi Alif, rasa penasaran, dan mungkin rasa cintanya terhadap Dinara masih terus mekar di hatinya. Bisa dibilang, walau badan Alif berada di DC, namun hati, jiwa dan raga Alif berada di Jakarta, tepatnya ada pada diri Dinara. Disinilah kombinasi ketiga mantra tersebut berhasil secara efektif. Alif yang berada pada jalan yang menurutnya tepat dengan tak mau berpacaran, langsung to the point untuk mengajak Dinara menikah. Niatnya ini tentunya sungguh-sungguh dan berasal dari hati, maka dengan bermodal kesabaran dan bantuan dari Dinara dan ibunya, sedikit-sedikit ia mulai dapat meluluhkan hati sang calon ayah mertua. Tentunya bukan hal yang mudah untuk melamar anak gadis orang hanya melalui telepon mengingat jarak antara DC-Jakarta, namun nyatanya Alif berhasil, dan ini berkat tiga mantra yang dipegang teguh oleh Alif.
Biografi berbentuk Novel Pembaca setia buku trilogi Negeri 5 Menara ini pasti paham siapakah Alif sebenarnya. Ya, Alif ialah si penulis itu sendiri, Ahmad Fuadi. Lewat buku ini seakan Fuadi membuat biografi dirinya sendiri dengan cara yang enak dibaca melalui seseorang yang bernama Alif. Pengalaman-pengalaman menarik yang dialami Fuadi dituangkan dengan elok dan unik di dalam buku ini. Selain itu, sedikit-sedikit Fuadi berdakwah pula melalui tulisannya ini. Banyak hal dan pelajaran penting yang Fuadi sisipkan disini, tentunya selain ketiga mantra yang jelas-jelas sekarang ini banyak menjadi motivasi bagi sebagian orang, terutama pecinta karya beliau.
Fuadi, yang memang lulusan pesantren seakan hendak menyingkirkan dogma bahwa lulusan pesantren pasti menjadi kiai atau ustadz. Seorang lulusan pesantren juga seorang manusia biasa, yang bisa jatuh cinta, bahkan bisa sejenak tinggi hati apabila telah mendapatkan yang ia tuju. Bisa dibilang, hampir tidak terlihat jejak seorang lulusan pesantren di dalam tokoh Alif, inilah salah satu kelebihan dari Fuadi. Beliau mampu membuat buku ini menjadi lebih ‘umum’. Identitas Alif sebagai lulusan pesantren mungkin hanya terlihat dari mantra-mantra yang ia pegang teguh, karena secara penampakan, Alif seperti orang biasa.
Aplikasi ‘Mantra’ di kehidupan sekitar Alif Ternyata, bukan hanya Alif yang memegang teguh ketiga mantra ‘sakti’ ini. Mungkin, memang kehidupan di sekitar Alif tidak mengenal mantra ini secara langsung, tetapi prinsip-prinsip mantra ini telah diaplikasikan. Pertama, majalah Derap tempat Alif bekerja. Mantra ini secara tidak langsung dipakai oleh majalah ini. Majalah yang sempat dibredel di rezim orde baru ini secara bersabar tetap bersungguh-sungguh dan berada pada jalannya dalam memberitakan hal-hal secara terbuka dan apa adanya. Terbukti, hal ini berhasil, majalah ini menjadi majalah yang sedikit keras terhadap pemerintah, namun jujur dan terbuka. Sampai sekarang, majalah ini masih ada, bahkan telah bertransformasi menjadi tabloid. Inilah salah satu bukti pentingnya ketiga prinsip dalam mantra yang Alif yakini. Kedua, Connie Picciotto. Bersabar, mungkin inilah yang ia lakukan bersama almarhum suaminya yang telah mendahuluinya pada tahun 2009. Ia berkemah di depan White House di DC guna menentang kebijakan-kebijakan Amerika yang selalu menggunakan perang dan kekerasan sebagai solusi. Spanduk yang selalu ia bentangkan berbunyi: War is not the Answer. Ya, ia menentang dengan cara bersabar untuk tetap berkemah di depan White House sejak tahun 1981! Semoga saja kesabarannya ini akan berbuah keberhasilan dan tak akan ada lagi korban peperangan terutama akibat ulah Amerika Serikat.
Akhirnya Bermuara Satu hal yang ingin disampaikan secara tersirat maupun tersurat dari judul Rantau 1 Muara ini ialah bukan sekedar muara tempat kita awal berasal. Seperti Alif yang mempunyai kampung halaman di Indonesia, tepatnya di Minang, sebagai muaranya dan ia bingung untuk kapan kembali bermuara. Buku ini mengandung oesan lebih dari itu. Fuadi seakan ingin mengingatkan para pembaca bahwa muara kita sebenarnya lebih dari itu. Muara yang dimaksud disini ialah Tuhan yang menciptakan kita. Pesan yang ingin disampaikan yaitu sebagai apapun kita hidup, pada akhirnya kita akan berpulang dan kembali kepada-Nya. Masih berkaitan dengan ketiga mantra yang ada, bersungguh-sungguhlah dalam menjalani hidup, bersabarlah dalam menghadapi ujian, dan tetaplah pada jalan yang lurus, jalan yang akan membawa kita menuju satu tujuan, satu muara yang indah di sisi-Nya.
"Hidup itu seni menjadi. Menjadi hamba Tuhan, sekaligus menjadi penguasa alam. Kita awal mulanya makhluk rohani, yang kemudian diberi jasad fisik oleh Tuhan dengan tugas menghamba kepada Dia dan menjadi Khalifah untuk kebaikan alam semesta. Kalau kedua peran ni bisa kita jalankan, aku yakin manusia dalam puncak bahagia. Berbakti dan bermanfaat. Hamba tapi Khilafah"
Hadir lagi satu buku yang untuk menamatkan membacanya hanya butuh waktu 6 jam, 6 kali ganti posisi membaca dan 6 batang rokok (beneran ada di asbak nya). Dari awal saya memang penggemar berat Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna, maka ketika mendapatkan kabar sekuel terakhir dari trilogi ini sudah hadir, tanpa membuang waktu saya langsung cabut ke toko buku terdekat. Ternyata hasilnya luar biasa, tidak salah menunggu lama karna hasilnya sesuai dengan ekspektasi bahkan lebih. Di buku ini sang tokoh utama Alif benar-benar membuat saya 'iri' dan menyesal, kenapa saya tidak serius untuk urusan sekolah dari dulu. Justru rasa 'sadar' ini hadir begitu saya sudah menginjak dewasa bahkan uzur :(. Namun seperti pepatah kuno bilang 'penyesalan pasti datangnya terakhir, karna yang datang diawal adalah pendaftaran" :).
"Jangan gampang terbuai keamanan dan kemapanan. Hidup itu kadang perlu beradu, bergejolak, bergesekan. Dari gesekan dan kesulitanlah, sebuah pribadi akan terbentuk matang. Banyak profesi diluar sana, usahakanlah untuk memilih yang paling mendewasakan dan yang paling bermanfaat buat sesama. Lalu kalau kalian nanti sudah bekerja, jangan puas jadi pegawai selamanya, tapi punyailah pegawai." (reblogged from Tumblr)
Buku ini, salah satu target di tahun 2013. Yoy ! :)
aku suka pesan amak ke alif soal wanita , sangat dapet fillnya aku rasanya pas mbaca itu aku kayak dinasehatin ibuku sendiri tapi aku suka sekali bab yg judulnya garuda hinggap dimana ?????? dibab itu aq tersentuh banget inget ceritanya waktu alif ditinggal bapaknya dinovel ranah 3 warna yg jdul babnya andai durian ada disurga sangat inspiratif bgaimana cara kita mengatasi kehilangan ya kehilangan orang yg sangat berarti buatku atau buat kalian yg mbaca novel ini
Pada buku terakhir dari trilogi negeri 5 menara ini, diceritakan alif yang menemui berbagai aspek kenyataann kehidupan yang harus di hadapi. Mulai dari kenyataan setelah alif lulus bekerja kemudian alif yang merasakan dirinya diatas angin akan mudah mendapatkan pekerjaan dengan background prestasi yang telah dia tempa selama kuliah tetapi dia malah kesulitan mendapatkan pekerjaan. Alif dengan background ilmu yang ditekuninya hubungan internasional, akhirnya berubah haluan saat mencari kerja. Dia mulai mencari kerja di bidang jurnalis sesuai dengan keterampilan yang selama ini dia bisa, walaupun celaan dari teman sekaligus pesaingnya Randai selalu membuat alif garang. Alif tetap berlapang hati, terus bekerja dan menunjukkan kepada Randai (Seorang teman Randai sedari kecil yang selalu menjadi pesaing Alif, dan Randai adalah temannya yang selalu bisa menggapai cita-cita yang diharapkan Alif seperti Alif menginginkan sekali bisa menjadi Pilot ataupun masuk ITB. Randai yang diterima di teknik penerbangan ITB, sedangkan Alif keterima di unpad dengan jurusan hubungan internasional. Kemudian permasalahan seorang wanita, alif menyukai seorang wanita cerdas, ramah, supel dan Randai akhirnya membuat hubungan bersama Raisa. Alif merasa, dia kehilangan arah, dia tidak tahu tujuan hidupnya, dia bertanya-tanya kepada dirinya sendiri apa yang dia kejar untuk mimpinya. Alif menginginkan menjadi seorang Pilot tetapi malah terdampar kuliah di hubungan internasional. Kemudian setelah lulus kuliah, Alif malah bekerja di bidang jurnalistik dengan gaji yang sangat pas-pasan. Alif membandingkan dirinya dengan Randai, menurutnya Randai telah menjalani hidupnya dengan tahu kemana mimpi itu harus dikejar, dengan tahu apa yang Randai suka kemudian dia geluti).
Alif sedih tetapi dia tetap bersabar dan berusaha sepenuh hati menjalankan takdir yang sudah ada didepan matanya. Kemudian seiring perjalanan masa training di kantornya Alif menyukai seorang wanita bernama Dinara. Dinara adalah seorang wanita yang cerdas, pandai bergaul, pandai berbahasa inggris, bermata indah, baik budi pekerti dan agamanya. Alif sangat menyukai Dinara yang ternyata adalah sahabat dari Raisa. Tetapi Alif sering dibuat bingung oleh Dinara, Dinara yang suka membawakan sarapan untuknya, membantu Alif agar mendapatkan beasiswa ke Amerika melalui program Fullbright. Alif tambah kepincut dengan kepribadian Dinara, tetapi Alif masih tidak tahu bagaimana perasaan Dinara sampai pada akhirnya Alif menerima kesempatan dari Fullbright. Saat keberangkatan ke Amerikapun, Dinara malah menjadi angkuh terhadap Alif. Tentu alif bingung dengan perubahan sikap Dinara kepada Alif.
Tetapi setelah berkomunikasi kembali, hubungan Alif dan Dinara kembali membaik. Mereka sering berkomunikasi dengan jarak Amerika dan Indonesia. Kemudian Alif memberanikan diri untuk melamar Dinara melalui telepon dan memboyong Dinara ke Amerika Serikat. Setelah keluarga dan Dinara setuju, muncul kembali permasalahan Dinara menerima beasiswa melanjutkan kuliah ke Inggris. Dinarapun goyah dan berselisih paham dengan Alif, Dinara adalah wanita yang cerdas dan menjunjung pendidikan. Dinara sangat menginginkan kuliah di Inggris sedari dulu. Tetapi akhirnya Dinara mengalah untuk menunda kuliahnya di Inggris dan bersedia di boyong ke Amerika Serikat.
Setelah menikah, Alif dan Dinara meraskan kebahagian. Karena mereka merasa menikah denngan orang yang mereka idamkan. Tetapi, pernikahan tidaklah lengkap tanpa bumbu-bumbu pernikahan. Mulai dari Dinara yang masih harus menunggu surat dibolehkan bekerja selama berbulan-bulan, Dinara merasakan kebosanan dirumah. Saat Dinara merasakan keletihan bekerja di rumah dengan pekerjaan rumah, kemudian Alif yang tidak sengaja berbicara "Dinara khan enak dirumah, abang bekerja seharian" setelah pulang bekerja. Membuat Dinara sedih, Dinara merasa pekerjaan rumah juga membuatnya letih, belum lagi Dinara yang terbiasa mempunyai penghasilan sendiri kini harus menggantungkan hidupnya ke Alif. Dinara hanya bisa menangis dan Alifpun menjadi iba kepada Dinara.
Tetapi setelah surat bekerja sudah keluar, hubungan Dinara dan Alif kembali membaik. Digambarkan mereka sangat mendulung satu sama lain. Tetapi permasalah setelah berkeluarga selalulah ada, kali ini Dinara diterima pada Perusahaan dimana Alif tidak diterima dan tentunya dengan gaji yang lebih besar. Alif tentunya merasa iri dan merasa malu sebagai seorang pria mempunyai penghasilan yang lebih rendah daripada istrinya. Tetapi Dinara, memang seorang istri yang baik. Dinara pandai menjaga perasaan Alif akan permasalahan penghasilannya yang lebih besar dari Alif, Dinara tetap pandai membuat Alif untuk terus menyayanginya.
Setelah lulus kuliah, Alifpun akhirnya bisa bekerja di perusahaan yang sama dengan Dinara. Alif merasakan hidupnya begitu sempurna, istri yang sangat dia cintai, penghasilan yang cukup, lingkungan di Amerika yang mebuatnya begitu nyata. Tetapi disaat kejayaannya, Dinara meminta Alif untuk kembali ke Indonesia. Dinara merasa, mereka harus menjadi orang berguna di negaranya sendiri. Tetapi Alif masih belum siap meninggalkan kejayaannya di Amerika, Alif belum siap akan dengan berhadapan kembali harus memulai hidup dari nol lagi di Indonesia. Belum lagi Alif mendapatkan tawaran pekerjaan dari perusahaan Eropa dengan penghasilan yang lebih besar, dengan fasilitas yang sangat menggiurkan. Dinara tetapi tidak memaksa, Dinara mengingnkan pulang ke Indonesia dengan memberikan penjelasan-penjelasan, Dinara selalu sabar memberikan pengertian ke Alif bahwa keluarga mereka di Indonesia merindukan mereka. Dan setelah mereka sholat bersama-sama, akhirnya Alifpun mau kembali ke Indonesia.
Dan Alhadmulillah, perusahaan tempat Alif bekerja di Amerika membuka cabang di Indonesia. Alif dan Dinarapun dipercaya untuk bekerja disana. Merekapun tetao bahagia dan berkecukupan. The End =)
Actual 4-4.5⭐ Lebih bagus dari buku 2, tapi buku 1 tetap the best. Gue lupa detail2nya, but i still remember the feels, pokoknya gue sangat attached secara emosional. Ah jadi pengen reread buku 1 versi audiobook, someday will do! Bagaimanapun, sebagai penutup series, buku ini udah bisa dikategorikan chef's kiss.
Juga, romansa di buku ini manisnya pas, aduh sukaaaaaa! Karakter Alif ini betul2 inspiratif banget. Engga heran banyak keajaiban2 yg dateng dalam hidupnya. Doa yg sungguh2 + usaha yg maksimal, ada lawannya?
Ini adalah novel pamungkas dari 2 novel A. Fuadi sebelumnya; Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna. Ceritanya masih seputar Alif dan perjuangan hidupnya. Dan apakah kali ini Alif kembali berhasil dalam mencapai impiannya? Tentu saja, hanya dengan melihat sampul buku dan sinopsis yang ada pada sampul belakang buku, kita sudah bisa menebak dengan jitu bagaimana akhirnya. Namun yang ditawarkan disini adalah proses bagaimana Alif menjalani semua itu sehingga berhasil menggapai apa yang ia capai.
Untuk gaya penulisan, saya sebagai pembaca awam merasa tidak ada masalah dengan tulisan Fuadi. Saya cukup enjoy dengan gaya penceritaan penulis. Penyusunan dan pemilihan diksinya rapi. Dan karena faktor inilah saya bisa bertahan membaca 3 novel karyanya.
Soal isi, saya pun yakin pengalaman penulis yang selama ini memang mengalami sendiri cerita yang ditulisnya menjadi satu lagi keunggulan dalam menyusun cerita yang memang sebagian besar bersetting di Washington DC dan New York. Secara tidak langsung para pembaca dapat mendapat sedikit pengetahuan seputar dunia jurnalistik, beasiswa (fulbright), GWU, dan yang penting adalah mantra-mantra yang membuat hidup Alif manjur.
Untuk ide, menurut saya terlalu mainstream. Sejak N5M dan R3W terbit, sebagian pembaca sudah dapat membaca pola kehidupan Alif yang adalah underdog, kemudian jatuh bangun hingga berhasil apa yang ia impikan. Tidak ada rasa penasaran akut yang timbul dari pembaca seperti ketika N5M terbit pertama kali. Tidak heran, ada beberapa pembaca (yang saya tahu) punya pendapat buku ini kurang menarik. Bukan berarti buku ini kurang bagus. Soal gaya penulisan, tema, dan isi yang diperkuat dengan pengalaman sang penulis cukup membuat buku ini menjadi buku yang layak baca. Hanya saja beberapa pembaca jenuh dengan pola yang sama seperti kedua buku sebelumnya.
Last but not least, untuk bang Fuadi sebagai penulisnya, kami berharap agar ada karya-karya terbaru yang lebih menarik lagi dari trilogi Negeri 5 Menara. Terima kasih. :)
P.S. Alih-alih penasaran dengan karakter Alif, saya justru menyukai karakter Garuda dan sempat sedih untuk Garuda ketika kejadian WTC.
Buku ini termasuk golongan buku yang begitu dibeli langsung dibaca. Alasannya karena sudah baca dua buku sebelumnya dan ingin tau kelanjutannya. Sederhana sekali bukan...halah ngga penting banget.
Buku ini kembali melanjutkan kisah hidup Alif yang berjuang mencapai kesuksesan. Alif yang telah kuliah,lulus dan akhirnya bekerja di salah satu majalah terkemuka di Indonesia setelah sempat kesulitan mencari pekerjaan karena krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia.
Bekerja di media terkemuka tidak membuat semangat Alif mengendur untuk kembali sekolah ke jenjang berikutnya.Alif berhasil memperoleh beasiswa untuk menempuh S2 di negara yang menjadi impiannya.
Singkat kata, buku ini bercerita perjuangan Alif untuk menggapai apa yang dia inginkan dengan kerja keras, doa dan restu Amak. Yang paling mengharukan saat Alif harus kehilangan mas Garuda saat peristiwa 9/11. Dan yang paling manis tentu saja saat Dinara berucap Bismillah ketika Alif melamar melalui chatting.
Tiap baca buku ini selalu berharap alif ada reuni sama sahibul menara yang gatau gimana kabarnya di ranah 3 warna sama rantau 1 muara ini. Menurutku yang paling berkesan dari trilogi ini buku pertamanya, negeri 5 menara. Tapi semua bukunya bagus dan mengandung banyak pesan moral
Setelah lulus dan Unpad alif sangat percaya dia bisa segera mendapatkan pekerjaan dengan mudah apalagi ditopang dengan segudang pengalamannya yang pernah menjalani pertukaran mahasiswa di Kanada.
Sayangnya. Dia lulus kuliah di tahun 1998 dimana Indonesia sedang mengalami krisis moneter dan alif harus merasakan pahitnya menolakan demi penolakan atas sejumlah lamaran kerja yang dia kirimkan. Apalagi menjadi penulis lepas di media yang selama ini dia lakoni sudah tidak bisa diharapkan untuk menjadi sumber penghasilan.
Setelah mendapatkan penolakan dari sana sini. Alif diterima bekerja sebagai wartawan di media Derap. Sebuah media yang dibrendel di masa orde Baru yang kembali beroperasi setelah tumbangnyan rezim soeharto.
Alif berhasil mendapatkan beasiswa S2 di Amerika Serikat yang dia impikan selama ini. Bersama istrinya Dinara. Alif mendapatkan begitu banyak pengalaman di Amerika. Mulai bekerja sebagai penjual tiket sampai menjadi wartawan di media ternama. Dia juga menjelajah ke banyak tempat di negara itu. Dan selama dalam perantauannya timbul sebuah pertanyaan di benak alif. Apa sejatinya tujuan dari hidup ini?
Alif juga menceritakan perihal tragedi teror 11 September 2001 dimana dia harus kehilangan seorang sahabatnya. Membuat dia menyadari bahwa hidup ini hakekatnya adalah sebuah perantauan. Dan setiap nyawa yang pernah singgah di dunia ini pada akhirnya akan kembali ke tempat dia berasal yakni Tuhan.
Menulis sudah menjadi bagian hidup dari ahmad Fuadi. Karenanya, gaya bahasa, penuturan cerita, pemilihan diksi dan runtutan ceritanya tidak perlu diragukan lagi kualitasnya.
Hanya saja masih ada satu kekurangan novel ini (yang juga saya dapatkan di novel negeri lima menara dan ranah tiga warna) yakni penulis selalu memakai pola cerita yang sama. Yakni....
Alif hendak melakukan sesuatu, lalu dia mengalami kendala untuk mewujudkan hal itu. Hingga dia tiba di saat paling sulit dimana dia tinggal sejengkal lagi menuju kegagalan. Tapi disaat saat terakhir, secara ajaib dia mendapatkan jalan keluar untuk masalahnya dari arah yang tidak di sangka sangka. Dan endingnya dia berhasil mendapatkan apa yang diusahakannya. begitu seterusnya dari awal hingga akhir cerita.
Tapi meski begitu. Novel karya ahmad Fuadi selalu berbobot dengan segala pesan moral dan kisah pengalaman hidup yang kita bisa memetik pelajaran darinya.
Buku ini merupakan seri ketiga dari Trilogi Negeri 5 Menara. Dalam buku ini diceritakan Alif Fikri setelah menempuh pertukaran pelajar di Kanada, terus melanjutkan kuliah di Unpad dan berhasil menyelesaikan studinya dengan baik.
Krisis moneter tahun 1998, membuat Alif agak kesulitan ekonomi karena Koran-koran turun oplahnya dan tulisan Alif jarang dimuat. Beruntunglah dia kemudian diterima masuk di majalah ternama yakni majalah Derap. Alif belajar banyak tentang dunia kewartawanan di majalah Derap tersebut, dan disana dia bertemu rekan kerja yang akrab bernama Dinara.
Meski Alif kerasan bekerja di majalah Derap, dia tetap berusaha mencari peluang study di Amerika, hingga dia berhasil mendapatkan beasiswa Fullbright. Setelah melalui perjuangan panjang dia diterima di George Washington University (GWU). Alif kemudian pergi ke amerika dan bertemu Mas Garuda, orang perantauan Indonesia yang sudah beberapa lama tinggal di sana. Mas Garudalah yang kemudian memberikan tumpangan pondokan sampai alif mempunyai tempat kos sendiri. Mas Garuda juga yang membantu Alif bertemu dengan orang2 Indonesia di sana dan banyak membantu Alif dalam mengatasi persoalan-persoalan pribadinya.
Selama tinggal di Amerika, Alif tetap berhubungan dengan Dinara dan mereka kemudian bersepakat untuk menikah. Walaupun orangtua Dinara semula agak ragu, tapi akhirnya mereka menerima dan merestui hubungan itu. Setelah menikah, Alif kemudian memboyong Dinara ke amerika. Di sanalah pertualangan mereka berdua dimulai, dengan hidup yang sederhana sampai kemudian mereka berhasil memperoleh pekerjaan yang mapan sebagai wartawan di amerika. Mereka berdua juga meliput tragedy pemboman World Trade Center, yang juga diduga membawa korban yakni tewasnya Mas Garuda yang sampai sekarang belum ditemukan jazadnya.
Meskipun mereka hidup mapan di Amerika, kerinduan terhadap tanah air membuat mereka ingin kembali ke Indonesia. Mereka bersikukuh untuk pulang ke tanah air walaupun berbagai perusahaan disana menahan dan mengiming-imingi gaji yang sangat tinggi. Mereka ingin pulang ke tanah air untuk memberikan bakti bagi keluarga dan bagi bangsa yang dicintainya.
Buku ini sangat menarik dengan banyak pesan moral yang terkandung didalamnya. Bahasa yang mengalir, ringan membuat pesan moral tadi mudah dicerna dan tidak terkesan menggurui. Saya merekomendasikan buku ini dibaca untuk kalangan generasi muda dan remaja. Mereka harus berani berjuang keras dan bersabar untuk meraih cita-cita yang diimpikannya.
Akhirnya... berhasil menamatkan trilogi ini :) Baca novel ini disela-sela KP, nyumput supaya gak keliatan sama kepala divisi :p tapi akhirnya tamat sih dalam waktu 6 jam (dri jam 10-jam 3, kepotong sama jam makan siang)
Hm... petualangan Alif di penghujung novel kayanya masih ada sesuatu. A. Fuadi seperti tidak menceritakan akhir dari si Alif. (dimana 2 novel yang aku baca pada hari yang sama ini 2-2 nya memiliki ending yang agak terpotong, seperti akan ada sekuel lagi)
Gereget banget sama kisah Alif, mau melamar tapi nggak berani. dan malah memutuskan untuk LDR. Kadang aku berpikir untuk seperti itu. Dia nan jauh disana, dan aku menantinya. Tapi hal itu sangat menyakitkan. Dan butuh komitmen yang cukup sangat besar.
Persiapan pernikahan dalam waktu 2 bulan itu sangat sangat menyiksa. Dimana diandra harus menyiapkan segala sesuatunya sendirian.
Satu hal yang bikin penasaran adalah saat Alif pergi ke Jakarta untuk pekerjaan barunya, kemudian dia ditolak dari pekerjaan itu. Seperti ada hal yang missing dari novel itu, dan tidak dijabarkan lebih lanjut. Kemudian Alif tiba-toba kembali ke kostan lamanya. hal yang aneh.
Dan.. aku penasaran sama cerita tentang Baso, Raja, dan kawan-kawan sahibul menara. Gimana kabar mereka tidak dijelaskan lebih lanjut. Hanya sekadar 'ada' tanpa dijabarkan.
hm. overall, novel ini sebenarnya bagus, tapi banyak beberapa yang missing. hehehee. :)
Amazing! Ini baru penutup serial cerita yang 'WAH'. Di buku pertama saya kurang begitu menikmati cerita, namun makin lama semakin mantap Bang Fuadi menyajikan tulisannya.
Buku ini menyajikan hal luar biasa, yaitu tentang sebuah visi dan menjadi seorang visioner. Saya suka buku ini walaupun banyak teman saya (muslim) yang begitu antipati terhadap buku ini karena masalah 'prinsip'. Jadi, kita buang saja masalah 'prinsip' dalam hal ini karena harus harus obyektif dalam memberikan penilaian.
Dalam buku ini kita dipancing untuk menjadi Muslim yang keren, untuk tidak menjadi Muslim yang bodoh, yang tidak punya pandangan tentang kemajuan. No no no, Islam tidak begitu. Justru Islam mengaharuskan pemeluknya untuk berilmu dengan luar biasa. Dan inilah saya dapatkan dari cerita ini. Muslim juga bisa cerdas, bisa mahir bahasa Inggris, bisa menjamah dunia, dan mengenalkan pada dunia bahwa "We are Muslim!". Buku ini benar-benar luar biasa untuk memacu semangat pemuda Islam untuk jangan memble, jadilah cerdas dan luar bisa seperti Alif Fikri dan kawan-kawan lainnya.
Tak terkatakan. Speechless. Sama seperti yang lalu-lalu tetap terpesona dengan kalimat kalimat 'Achmad Fuadi' ,bahasanya mendongkrak semangat. Di buku ketiga ini, tetaplah beralurkan perjuangan dan lebih memusatkan pada pepatah arab 'Man sara ‘ala ad-darbi washala (Siapa berjalan pada jalan-NYA, dia akan sampai)'. Di buku ke-3 ini juga terdapat kisah asmara Alif Fikri yang mungkin bikin iri para jomblo hahaha...... Kisah pertemuannya dengan Dinara Larasati. Dan kehidupan mereka di Amerika.
Bakalan puas deh... kalau menuntaskan membaca buku ini. Trilogi ini mengubah orientasi hidup, yang semula hanya bermimpi setinggi kecambah menjadi setinggi langit yang disertai dengan sikap-sikap agar mimpi itu bisa terealisasi.
ini salah satu kutipan yang saya suka: " Mungkin tujuan yang ingin aku tuju itu adalah ilmu, dan jalan yang aku lalui adalah belajar. Belajar dari buaian hingga liang lahat. Itu doktrin yang aku dapat kan dari pondok madani dulu" ~Achmad Fuadi~
An amazing literary work by an amazing author. Pengarang mem-fiksi-kan kata-kata Arab 'man jadda wajada wa man zara'a hasoda' dengan baik. Di bangku sekolah menengah rendah (PMR), saya hanya memandang kata-kata tersebut secara sebelah mata tetapi setelah membaca karya beliau, sungguh besar impaknya sekiranya saya betul-betul menjadikan kata-kata tersebut sebagai 'life anthem'.
Beberapa kata-kata dari novel ini berkaitan penulisan dan tujuan hidup:
...Imam Al-Ghazali, "Jika kamu bukan anak raja dan juga bukan anak ulama besar, maka menulislah." Aku bukan anak orang kaya, bukan anak orang berkuasa, dan bukan pula anak orang terpandang, maka menulis sajalah yang harus aku lakukan (p. 9)
...satu (mantra) yang diajarkan di Pondok Madani: Man saara ala darbi washala, siapa yang berjalan di jalannya, akan sampai tujuan (p. 29)
Buku ketiga dari trilogi negeri 5 menara. Satu-satunya buku yang berbahasa Indonesia, buku-buku yang terdahulu sudah "diterjemahkan" kepada bahasa Malaysia.
Ngetop! Tidak ada masalah untuk memahami ayat-ayat indonesia. Malah lebis seronok.
Mengikuti kisah Alif membesar dari sekolah, universiti kemudian melanjutkan pelajaran ke US sangat menginspirasi. Kecekalan Alif dalam mengharungi susah senang untuk mencapai kejayaan hari ini. Kata-kata mantera keramat walaupun kelihatan mudah, tetapi sangat memotivasikan.
Banyak yang mahu diulas tentang buku ini, tetapi abaikan sahaja kerana tidak berkepentingan. Keseluruhan, penceritaan Alif dan Dinara sangat indah.
Lagi-lagi, buku ini ditulis dengan niat. Nggak asal-asalan, dan nggak terburu-buru. Tidak ada kalimat janggal disini. Jadi berasa worthed banget belinya. Nggak sia-sia nunggu hampir 2 tahun untuk buku terakhir ini. Namun sayang, endingnya seperti terpaksa. Agak kurang smooth gimanaa...gitu. Mungkin dari ketiga buku, ending Rantau 1 Muara agak kurang nonjok. Anyway..terlepas dari itu, emang patut diacungi dua jempol nih penulis dan editornya. Kalimat per kalimatnya itu lho...nggak ada yang membosankan. Saluut. Ditunggu edisi bahasa Inggrisnya untuk Ranah 3 Warna dan Rantau 1 Muara :)
bagus buku ini. saya jadi semakin termotivasi untuk mencari pekerjaan dan berburu beasiswa :) apalagi buku ini saya baca ketika baru saja selesai skripsi. Semoga bacaan ini juga dapat menginspirasi para pemuda indonesia lainnya untuk melanjutkan masa depan dan berkontribusi bagi masa depan bangsa :)
Keren, inspiring dan udah dari seri awalnya trilogi ini mengajarkan bahwa usaha, doa dan kegigihan serta kesabaran akan membuahkan hasil pada waktunya. Dibalut dalam cerita yang selalu membuat penasaran jadi gak bosen bacanya.
The last chapter of great journey is totally awesome. It touched myself and made me want to plan my future. Between love and dreams. What a wonderful life, when you can reach your dreams in the strange land with someone who you love the most?