wow wow woww, sejujurnya aku bingung sama akhirnya ko tiba tiba udahpunyaanak dan nikahh aja, tapii aku suka banget sama perjuangannnnyaaa, sukakkk bangettt. aku jadi lebih bersyukur sama yg aku punya sekarangg^^
Novel yang cukup keren. Bercerita tentang kehidupan seorang perempuan yang tumbuh dalam kemiskinan akan tetapi memiliki semangat juang hidup yang tinggi. Bercerita tentang impian, keluarga, cinta, dan perjuangan.
Pesan yang paling berkesan dari novel ini adalah kadang apa yang kita impikan dan rencanakan tidak akan berjalan sesuai dengan harapakan kita. Bukan karena kita tidak pantas mendapat apa yang kita impikan tapi karena Tuhan memiliki rencana yang jauh jauh lebih baik. Seperti Monna, dia ingin sekali menjadi mahasiswa di Universitas Indonesia tapi Tuhan berencana lain, dia gagal mendapatkan almamaternya tapi beberapa tahun kemudian dia datang ke Universitas Indonesia, bukan sebagai orang yang memakai almamater tetapi sebagai orang yang berdiri didepan orang-orang yang memakai almamater kuning tersebut.
Novel ini juga memberi pesan bahwa harta tidak menjamin suatu keluarga menjadi harmonis. Meskipun Monna hidup dalam kemiskinan tapi dia dapat merasakan kehangatan keluarganya, berbeda dengan keluarga teman atau saudara-saudaranya, meskipun mereka kaya tapi bertengkaran suami-istri sering terjadi.
Pernah ada suatu masa ketika gue menggemari novel inspiratif. Masa ketika otak gue masih bisa diajak berpikir serius, hahaha. Ketika gue membaca bukunya Andrea Hirata, The Secret, A Long Way Gone, dan novel inspiratif lainnya. Masa ketika gue menyadari di balik nasib gue yang medioker, I’m lucky. Beberapa tahun berselang, gue mulai melupakan buku-buku seperti itu dan kembali ke preferensi gue semula—romance, chiklit, fantasy, and something like that. Masa ketika gue membaca buku bukan hanya untuk memberi asupan gizi bagi otak, tapi juga menyenangkan hati. Dan gue penggemar buku-buku ringan yang seringkali membuat gue dipandang sebelah mata ini. Namun sekarang gue kembali membaca buku inspiratif ini. The only reason is this is my friend’s book. Dona Sikoembang, penulisnya adalah teman SMA gue—anehnya waktu SMA kita nggak akrab. Mungkin sesekali saling bertegur sapa tapi nggak pernah konkow-kongkow bareng. Beberapa bulan lalu Dona menghubungi gue via inbox Facebook tentang naskahnya yang akhirnya diterbitkan oleh Bentang Pustaka. Yeai, happy for you girl. Yang lebih bikin happy, buku Dona terbit barengan dengan buku gue, Mendekap Rasa *promo colongan*. Running For Hope. I loooove that cover. Warna lembut dengan gambar lemari penuh buku, benar-benar menggambarkan isi buku. Running For Hope menceritakan tentang Amonna Permata, si pecinta pendidikan yang begitu mendambakan bisa kuliah di UI tapi karena keterbatasan ekonomi, Monna harus merelakan mimpinya. Dia bekerja apa saja demi membantu perekonomian keluarga. Di awal-awal kita disuguhkan dengan Monna yang masih berkeras mewujudkan impiannya sampai akhirnya dia tiba di satu titik bernama titik realitas. Titik yang tidak akan membawanya ke UI dan memutuskan untuk menjalani hidupnya day by day. Monna pun berpindah-pindah kerjaan hingga akhirnya dia settle dan bisa memperbaiki perekonomian keluarga. Menyadari dirinya yang dikalahkan oleh realitas, Monna memaksa dan mendukung adiknya Upi untuk terus maju hingga akhirnya Upi kuliah di IPB. Monna juga membiayai beberapa anak kurang mampu di kampungnya untuk terus bersekolah. Mengikuti perjalanan kisah Monna memang membuat miris. But, sorry, Don. Monna dan keluarganya terlalu hitam putih. Sesekali keegoisan Monna keluar dan membuat dia kuat tapi ini hanya ada di awal-awal. Gue sempat berpikir sikap ini akan terus ada sampai akhir karena tentunya akan semakin menguatkan karakter Monna. Keluarga Monna juga terlalu putih, pasrahan, dengan beberapa tokoh yang ditemui Monna dan membuatnya semakin melihat realita juga dituliskan sangat ‘hitam’. Seperti halnya novel perjalanan, ada banyak tokoh datang dan pergi selintas lalu dan memberi satu titik di hidup si tokoh utama. Cara Dona menulis begitu lembut. Mungkin karena gue orang Minang jadi bisa langsung merasakan kedekatan dengan isi cerita. Terlebih dari bahasa-bahasanya. Gue sempat bertanya-tanya, desa kecil mana sih yang dipakai sama Dona? Secara dia menyebutkan Bukittinggi, tentunya gue pasti tahu dong. Delapan belas tahun bo gue tinggal di sana, masa iya nggak tahu. Nyatanya gue nggak tahu. Dengan deskripsi sedemikian rupa, gue gagal menebaknya. Dan sebagai orang asli sana gue malu nggak mengenal kampung gue sendiri. Baru ketika menjelang akhir Dona menyebut namanya gue berteriak ‘got it’ hahaha. Dona memiliki gaya menulis dengan deskripsi mendayu-dayu dan diksinya menarik banget. Ada banyak kata yang gue catat, jaga-jaga bisa aja next time gue tiru hehehe. Gue jadi bertanya-tanya. Dona mengutip ucapan guru Fisika tentang Teori Relativitas. Siapakah guru yang dimaksud? Secara gue bersekolah di SMA yang sama, tentu dong gue kenal gurunya? Tapi secara selama SMA gue nggak tertarik sama Fisika jadi nggak ingat apa-apa kecuali mobil VW Kodok lucu dan eksentrik punya guru Fisika gue kelas 3 hahaha. Selain itu, Monna digambarkan bekerja sebagai penyiar. Man, radio is my life, now and then. Waktu SMA, gue ketemu banyak teman di radio. Jadi, radio apakah yang dimaksud sama Dona di novel ini? *moga-moga cuma radio rekaan ya karena dua radio yang gue kenal bersih sih sih hahaha* Mengenai karakter Monna. Ada dua hal yang gue nggak sreg. Sejak awal gue digiring kalau Monna ini suka baca. Oke, mungkin itu cuma kesukaan aja. But in the end ternyata Monna jadi penulis. Kenapa nggak diselipin gitu ya Monna ini emang suka nulis sejak awal? Karena tiba-tiba dia ditelepon salah satu teman SMA lalu dia teringat hobi menulisnya dulu. Menurut gue ya, ketika berada di low point, seseorang cenderung akan melakukan hobinya. Apalagi hobi yang bisa digunakan untuk menyambung hidup. Okay, it’s my opinion cuma gue merasa di akhir kegiatan menulis yang membuka gerbang Monna ke kesuksesan terlalu tiba-tiba. I need a hint di awal-awal. Kedua, endingnya cepat banget. Setelah sejak awal diajak menelusuri kehidupan Monna yang berliku dan mengalir lembut tiba-tiba di akhir langsung di ajak selesai gitu aja. Terlalu cepat sehingga ada banyak pertanyaan. Memang sih ada dijelasin, tapi dikit banget. Gue berharap semoga ada penjelasan dari Monna yang jadi penggiat pendidikan di kampungnya jadi seorang motivator handal. Itu nggak memuaskan karena cuma menempati porsi sehalaman. Satu lagi, hubungan Monna dan Timur. Sampai bab akhir, mereka masih mengawang-awang. Lalu di akhir ternyata udah menikah dan punya anak—memang sih ceritanya beberapa tahun kemudian. Tapi, ini cepat banget. I need to know about the process. Ketika Dona bilang akan ada sekuel, gue berpikir, semoga pertanyaan gue yang nggak puas karena Dona terlalu cepat mengakhiri ceritanya bisa dijawab. So, apakah beneran akan ada sekuel? Mari kita tanya Dona J but sebagai karya debut, overall it’s okay. Karena Dona gue kembali membaca novel inspiratif semacam ini.
Inspiratif sekali. Ini bahas tentang kemiskinan yang dialami anak perempuan tapi dia tuh semangat banget buat ngerubah kehidupannya, jujur ini agak sedih karena penulisnya menuliskan buku ini dengan sangat halus jadi kena banget.
Untuk bahasanya agak berat dan kalau sedang dalam fase kurang oke atau putus asa menurutku kurang pas takutnya nanti ketrigger. Tapi, buku ini beneran menimbulkan banyak sisi positif dan memberi pelajaran tentang kehidupan.
Di awal aku kurang suka sama Monna (tokoh utama) soalnya dia tuh implusif gitu tapi seiring ceritanya kayak jadi tau gitu kenapa Monna begitu, tapi tuh karena aku merasa agak terlalu cepat ceritanya jadi masih ada pertanyaan yang belum terjawab dan endingnya cepet banget. Tapi ya overall oke sih.
Cerita yang menarik sekaligus mengharukan mengenai dinamika kehidupan Monna yang membenci kehidupannya yang serba kekurangan dan mencoba untuk memperbaiki nasib sial itu.
Pada awal cerita, saya agak kurang suka sama Monna karena sifatnya yang terlalu impulsif dan gampang terbawa emosi. Jadi suka kesal sendiri. Namun, lambat laun jadi mulai suka karena character development-nya yang bagus.
Alur ceritanya maju-mundur, tetapi tidak akan dibuat bingung karena penulisannya yang mudah dicerna dan sangat mengalir sehingga bisa habis dalam sekali duduk.
Namun, yang saya kurang sukai di buku ini adalah bagian romansa antara Monna dan Timur yang saya kira terlalu banyak dan berlebihan.
Running For Hope adalah buku pertama yang saya baca setelah saya menemukan kegemaran baru, yaitu membaca.
Isi ceritanya cukup berat dan mungkin agak triggering untuk sebagian orang yang pernah atau sedang berada pada fase putus asa. Namun dengan membaca ini justru mengajarkan kita untuk melihat masalah dari sudut pandang yang positif. Mengajarkan kita untuk terus percaya bahwa sesudah kesulitan pasti ada kemudahan.
Banyak sekali pelajaran kehidupan dan quotes positif yang dapat kita ambil untuk terus berjalan mencari cahaya di tengah kegelapan. Ceritanya sangat menyentuh dan membuat saya menangis sesenggukan. Sangat bagus dan mudah dipahami.
The book tells us about a girl who wants to follow her dream to be a student in one of the best campus in Indonesia. But not only that, she also wants to cut out her family from poverty. She believes that her dream will going to escalates her family into a better life. The story is not only about how she pursue her dream, but there are others interesting yet-not-that-so, because I am not that like with the plot where she is too exaggerating her love story. Besides, this book not telling us that detail about 'hope' itself.
Bukunya cukup bagus, menceritakan perjalanan tokoh utama dengan segala keterbatasannya secara materi. Tokoh utamanya juga digambarkan sangat gigih dan bersikeras tanpa menghilangkan bagaimana realita yg akan dihadapinya. Lalu di beberapa part jujur agak membuat saya pribadi kurang nyaman karena hal-hal yg membuat jijik terlalu nyata dan kadang membuat saya agak mual. Jadi siap2 aja buat orang2 yg gampang risih 😂, gak banyak sih. Cuma bikin terngiang-ngiang saja.
Tapi overall lumayan lah. Cukup seru.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku pertama yang aku baca di tahun ini dan menjadi awal mula aku suka membaca. Cerita dari bukunya masih teringat jelas dan membekas. Menceritakan bagaimana anak perempuan yang hidup pas-pasan tidak mudah menyerah dengan mimpinya. Dibumbui dengan perjuangan orang tua yang akan melakukan apapun demi sang anak membuat buku ini sangat related dengan kehidupan sehari-hari terutama untuk kami yang berasal dari kampung. Serta, kisah asmara yang dialami oleh sang tokoh menjadi pelengkap bahagianya kehidupan setelah badai menikam.
Kisahnya inspiratif, sebuah cerita yang menonjolkan kesulitan-kesulitan di awal namun berbuah manis di akhirannya. Tokohnya tipikal orang yang harus terus berusaha dan tak gampang menyerah bila ingin mengubah nasib.
Nasib Amonna Permata yang ingin kuliah di perguruan tinggi namun harus kandas akibat kondisi keluarganya. Tidak istimewa karena percintaannya kurang manis, tapi ceritanya bisa memotivasi bahwa ternyata ada pintu-pintu lain yang terbuka untuk dimasuki.
Aku suka gimana cara penulis menggambarkan keadaan masyarakat menengah kebawah. Detailnya, dari suasana, sampai pikiran-pikiran karakter yang hidup dan realistis. Tapi—aku kurang suka bagaimana karakter utama yang selalu bertemu sama karakter jahat di hidup dia. Sedihnya, itu selalu digambarkan dengan orang yang selalu punya banyak uang atau kuasa lebih tinggi.
Beberapa review menyebut buku ini inspiratif (jujur gw kemaren nyomot buku ini murni karena cover XD ). Mungkin memang iya. Orang yg pantang menyerah dalam meraih impian dan cita-citanya memang selalu menginspirasi. From zero to hero. Menurut gw, buku ini juga semi biografi dari sang penulis, dengan diberi beberapa bumbu (roman misalnya) sehingga konfliknya nggak cuma satu. Karakter Monna yg dibangun di sini sangat manusiawi. Ambisinya, sakit hatinya, membalas sakit hati pengemis dan anaknya yg beringus hijau pada Tante Ika, frustasi dalam mencari pekerjaan, sakit hati ditipu, jatuh cinta, patah hati, jenuh dan akhirnya bangkit lagi, proses-proses berkembang semacam itu yg jempolan dari buku ini. Gw rasa semua orang mengalaminya, meski gak sama persis dengan tokoh utama.
Gw pernah baca di koran (udah lama banget dan lupa kolom siapa) bahwa pada dasarnya ada dua macam cara meraih impian: 1. Mendekatkan kenyataan dengan impian 2. Mendekatkan impian dengan kenyataan. Untuk yg pertama, misalnya ada orang yg pingin banget bikin jadi penulis top. Dia akan terus menerus menulis, ngirim naskah, mungkin ditolak, bisa juga diterima, naskah terbit, gak cocok sama selera pasar, bukunya diobral murah abis dan banyak cobaan lain yg kudu dihadapi. Orang ini nggak langsung muthung dan nyerah, sedih mungkin, meratap bisa jadi. Tapi habis itu dia akan kembali menulis, no matter what hingga suatu saat karyanya ternyata menarik perhatian produser dan malah jadi film. Trus dia jadi punya nama dan diperhitungkan di jajaran penulis papan atas.
Kalo untuk cara yg kedua, adalah apa yg dilakukan oleh Monna di buku ini. Dia punya impian pingin kuliah di UI tapi nggak ada biaya dan beasiswa juga ditolak. Akhirnya dia kerja dan nabung agar adiknya, Upi, bisa kuliah dan ternyata ketrima di UI, sesuai harapan Monna. Dia malah bisa menyekolahkan anak-anak di sekitar rumahnya dan membantu banyak anak meraih pendidikan mereka setinggi mungkin. Monna mendekatkan impiannya menjadi "orang besar" dengan menyesuaikan kenyataan. Bukan duduk di belakang meja ala kantoran seperti impiannya, tapi dia malah jadi motivator hebat bagi banyak orang.
Buku ini memiliki satu pesan moral. Nggak ada orang yg gagal mengejar impiannya. Saat dalam proses pengejaran, dia bisa dikatakan berhasil. Chase your dreams or die trying..
Judul: Running for hope Penulis: Dina Sikoembang Penerbit: Bentang Dimensi: viii + 236 hlm, 20.5 cm, cetakan pertama februari 2013 ISBN: 978 602 7888 15 9
Mona merasa kesal akan hidupnya. Seakan-akan kemiskinan adalah penyakit turunan atau warisan, yang begitu sulit untuk dipisahkan dari hidupnya. Meski keadaan keluarga tak mendukung, ia tetap berupaya untuk bisa kuliah. Gengsi pun kerap menjadi konflik batinnya di tengah beragam situasi yang harus membuatnya memutuskan pilihan yang tak mudah. Hingga ia berpikir haruskah ia berserah atau menyerah?
Perjalanan berliku memang tak mengantarkan dirinya dengan mulus untuk menggapai mimpinya. Tapi skenario Tuhan tetaplah yang terbaik. Sebab pada akhirnya ia menemukan apa yang benar-benar ia cari dan butuhkan. Meski tak sesuai apa yang ia inginkan. Begitu pula dengan kisah asmaranya dengan Timur yang terpisah jarak--Mona di Padang, Timur di Jakarta.
Novel ini bertujuan baik, ingin memberi inspirasi dan keyakinan untuk mengejar mimpi. Sayangnya, penyampaian gaya berceritanya menurut saya masih terlalu kaku, mentah dan terkesan menggurui. Bahkan cenderung datar. Sering saya harapkan ada klimaks konflik yang akan mewarnai cerita ini, namun penulis suka sekali mementahkannya kembali menjadi antiklimaks. Dan itu menyebalkan sekali buat saya. Jatuhnya jadi garing dan membuat tak menarik. Malah karena sudah tertebak dan merasa tidak terlalu penting, saya hanya scanning di beberapa halaman. Cukup saya sayangkan ide baik yang kurang digarap dengan baik, ternyata malah jadi membosankan.
Beragam testimoni tokoh yang cukup terkenal di cover belakang buku menurut saya pun tak sesuai. Kesan terharu, menyentuh, hingga menginspirasi tak saya dapatkan. Rasanya malah jadi ironi. Terkesan dipaksakan untuk membuat sedih. Sedih secara fakta, tidak dengan hati. Miris.
Kisah seorang pengejar harapan dengan berbagai tantangan yang membuatnya kuat dan tabah dalam menjalani hidup. meski dilanda kemiskinan dari keluarga, Namun ia tak pernah patah semangat untuk bersikeras membubuhkan gelar sarjana hukum di belakang namanya. Hingga pada akhirnya harapan itupun lenyap ketika cita tak sesuai asa, tetapi meskipun demikian ia tetap percaya bahwa "Tuhan selalu mempunyai berjuta cara untuk umatnya mengerti akan segala hal yang terjadi". Dan pada suatu hari semua mimpi itu terjawab dan semua harapan telah menjadi kenyataan, meski gelar itu tak sempat ia capai, namun ia mampu memberikan gelar sarjana itu kepada adik dan senyum kepada anak miskin yang pernah senasib dengannya. Bahagia sekali saya bisa melihat perwujudan catatan dari kehidupan kisah ini yang membuat saya merasakan begitu banyak kepedihan, tapi sungguh sangat menginspirasi untuk berjuaang! dan tata bahasa dari diksi buku ini yang membuat pencitraan kita besinergi. Adapun kata-kata yang terlalu hiperbola dan penyelesaian pada epilog yang penjabaran terlalu panjang yang tidak efesien, Namun keselebihan dari buku ini sangat bagus untuk motivasi dan inspirasi.
Rasa2 nya sy pernah membaca di buku The Secret by Rhonda Byrne kalau sebuah buku sampai ke tangan kita itu akibat hukum tarik menarik.
Nah, saya penasaran, coz ini buku, sejauh yang bisa saya tangkap, ceritanya tentang berserah (berserah loh ya bukan menyerah :) ) terhadap impian. Apakah itu tandanya saya juga harus berserah?
Wowow, I dunno. Jujur habis baca buku ini saya jadi bingung bagaimana caranya membedakan kalau sebuah peristiwa itu hanyalah sebuah ujian yg harus kita lalui atau sebuah pertanda dari Tuhan kalau itu bukanlah jalan yang terbaik untuk kita?
IMO, buku ini saya rasa kurang cocok dibaca untuk orang2 yang sedang berjuang "berdarah-darah" untuk meraih impian *lebay*
Buku ini lebih cocok untuk kita2 yang ingin belajar menerima apa yang diskenariokan Tuhan untuk kita. Untuk tetap yakin kalau skenario-Nya lah yang terbaik.
Buku ini merupakan salah satu buku Yang menceritakan tentang realita kehidupan masyarakat menengah kebawah. Kehidupan yang sulit bahkan untuk makan tidur dan sekolah, mengangkat kisah yang memilukan hati bagi para pembacanya. Menceritakan tentang perjuangan para wanita dan keluarga yang mengahadapi realita kehidupan dan pandangan masyarakat sosial. Saya sangat salut dengan penulis buku ini, mbak Dona yang mampu menyelesaikan buku ini hanya dalam waktu 30 hari.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Ini bukan novel percintaan bergenre remaja yang sering aku baca. tapi novel ini jujur benar2 bikin kita lebih bisa menghargai hidup, juga percaya bahwa kita bisa mengejar mimpi kita, dan jangan pernah berhenti berharap