Ivano terduduk. Kepalanya tertunduk di depan pintu gereja. Sudah tak terhitung berapa orang turis di katedral Palermo yang berjubel-jubel harus menabrak tubuhnya yang menghalangi sebagian badan jalan masuk gereja. Tapi Ivano bergeming. Dia masih terus menatap pilar putih di depan katedral kota para mafioso Eropa itu. Semua yang dikatakan Raghi benar adanya.
Ivano menangis membaca tulisan berwibawa itu. Kali ini sirna sudah kebenciannya atas Sisilia dan Raja Roger. Tiba-tiba ia menyesali semua prasangka buruk tentang nestapa negerinya. Terbaca jelas tulisan yang terukir di pilar katedral Palermo: Bismilillahirrahmaanirrahiim, alhamdullilahirabbilaalamiin.
Hanum Salsabiela Rais, adalah putri Amien Rais, lahir dan menempuh pendidikan dasar Muhammadiyah di Yogyakarta hingga mendapat gelar Dokter Gigi dari FKG UGM. Mengawali karir menjadi jurnalis dan presenter di TRANS TV.
Hanum memulai petualangannya di Eropa selama tinggal di Austria bersama suaminya Rangga Almahendra dan beke rja untuk proyek video podcast Executive Academy di WU Vienna selama 2 tahun. Ia juga tercatat sebagai koresponden detik.com bagi kawasan Eropa dan sekitarnya.
Tahun 2010, Hanum menerbitkan buku pertamanya, Menapak Jejak Amien Rais: Persembahan Seorang Putri untuk Ayah Tercinta. Sebuah novel biografi tentang kepemimpinan, keluarga dan mutiara hidup.
Hampir sebulan yang lalu akun twitter Gramedia mengunggah foto sampul buku terbaru Hanum Salsabiela Rais dan mengumumkan bahwa akan terbit beberapa hari lagi. Kebiasaan saya saat mengincar buku adalah menyimpan foto sampulnya di handphone begitu pula dengan buku ini. Sudah bisa dipastikan saya tidak akan berpikir dua kali untuk membeli seperti kejadian dengan buku sebelumnya yang terus-menerus tertunda. Oke!... Buku “99 Cahaya di Langit Eropa” sebenarnya tidak saya dapatkan dengan merogoh isi dompet sendiri melainkan hadiah sebagai pemenang #ResensiPilihan dari akun @Gramedia tahun lalu. Saya harus berterimakasih karena mendapatkan banyak hal dari buku ini. Dari buku ini pula saya mulai jatuh cinta dengan karya mba’ Hanum dan berniat untuk mengoleksinya.
“Berjalan di Atas Cahaya” dari sampulnya kita sudah bisa tahu bahwa kisah dalam buku ini masih akan berlatar Eropa. Tidak jauh berbeda dengan buku terdahulu, sampul buku ini juga masih terdapat gambar beberapa bangunan terkenal dari negara-negara di benua biru meski tidak sejelas buku sebelumnya. Yang menjadi pembeda kali ini ada gambar wanita berjilbab berjalan di atas warna kuning-orange yang saya anologikan sebagai cahaya seperti saat menggambar matahari lazimnya kita menggunakan dua warna ini. Kenapa wanita berjilbab? Mungkin karena penulisnya adalah wanita muslim yang melakukan perjalanan ke Eropa dan penggunaan jilbab/hijab merupakan isu yang “seksi” di sana.
Membaca cerita pertama dalam buku ini, bahkan dari prolog, kita sudah bisa memperkirakan bahwa cerita-cerita yang disajikan kali ini tidak akan berfokus pada peninggalan Islam di Eropa dan cerita penulis terutama ketika mengunjungi tempat-tempat yang menunjukkan bahwa Islam pernah ada di sana. Buku ini lebih personal, lebih melibatkan banyak tokoh, banyak cerita yang membuat kita tahu perjuangan umat muslim, terutama wanita apalagi yang berhijab, sebagai minoritas di tengah masyarakat Eropa dan bagaimana sebaliknya mereka dipandang. Cerita-cerita yang membuat saya ingin semakin mendekatkan diri dengan Tuhan. Tidak terlalu mengherankan mengapa cerita dalam buku ini lebih beragam karena sebenarnya mba’ Hanum kali ini tidak bercerita sendiri. Ada dua orang lainnya yang ikut menuturkan kisah mereka. Tutie Amaliah, seorang ibu dua putri yang ikut suaminya bekerja di Austria dan dia juga menyelesaikan gelar MBA-nya di sana. Wardatul Ula, mahasiswa yang sedang kuliah S1 di Turki.
Buku yang terdiri atas 19 cerita ini dimulai dengan kisah mba’ Hanum yang tahun lalu melakukan liputan Ramadhan bersama salah satu tv swasta ke Eropa. Ada dua masalah besar yang dihadapi waktu itu, anggaran yang hanya USD3.000 untuk biaya liputan dan akomodasi 3 orang selama 18 hari dan bagaimana liputan mereka sesuai target dan tujuan program. Melihat anggarannya saja untuk ukuran Eropa tidak akan cukup tapi toh akhirnya jadi juga. Di bagian ini penulis menceritakan bagaimana hal itu bisa terjadi dan melalui foto-foto yang disertakan kita seakan berkenalan dengan orang-orang yang membantu dan terlibat dalam suksesnya liputan tersebut.
Beberapa cerita berikutnya merupakan hasil liputan saat mereka bertemu para talent. Dengan gaya bercerita mba’ Hanum, saya bisa merasakan ikut serta dalam perjalanan yang dilakukannya. Semua cerita dan talent yang ditemui bagi saya sangat menarik serta memberikan hal-hal yang berbeda. Salah satu talent-nya adalah wanita berhijab dari Indonesia yang bersuamikan warga Swiss. Mereka tinggal di Ipsach, Biel, Swiss dan dia bekerja di salah perusahaan jam tangan terkenal dunia.
Selain menyajikan cerita semasa liputannya, dalam buku ini ada juga beberapa cerita semasa mba’ Hanum masih tinggal di Austria dan tentu saja beberapa cerita dari 2 penulis kontributor. Tidak kalah menarik, saya tidak tahu bagaimana mengistilahkannya tapi secara pribadi saat membaca buku terdahulu apa yang saya rasakan tersentil melalui sejarah dan bagunan-bagunan yang dikunjungi. Kini, saya merasa lebih pada hubungan manusia dengan manusia. Ya, tentu keduanya melibatkan Tuhan di dalamnya. Membaca buku ini mau tak mau juga membuat saya membanding-bandingkan Indonesia dengan negara-negara yang menjadi latar kisah ini. Ada hal yang patut disyukuri dan ada hal yang membuat miris.
Tak ada sesuatu yang luput dari kekurangan begitu pula dengan buku ini. Sebenarnya mungkin tingkat kepuasan saya saja yang tak terbatas hingga menganggap ceritanya kurang banyak dan foto-foto yang disertakan, meski saya penggemar B&W style, alangkah lebih bagus bila berwarna. Terlepas dari semua hal yang saya anggap kurang yang terpenting adalah bagaimana kita mengambil manfaat dari buku ini.
“Dan Allah menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan, dan Dia mengampuni kamu, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS. Al Hadid: 28)
“Inilah ayat Al-Qur’an yang menuntut kita mencari ilmu dengan panca indra yang kita miliki. Sebuah tuntutan melakukan perjalanan ilmu dari siapa pun yang kita temui dan apa pun yang kita jumpai. Karena setiap apa yang kita lihat, dengar, dan rasa, adalah dari-Nya.” (halaman ix)
“Aku ingin menjadi orang yang pertama kali mengatakan tak ada gajah terbang di langit. Aku akan katakan, hanya orang-orang tak berpendirian, tak mau berpikir, dan takut menyatakan kebenaranlah yang melihat gajah terbang.” (halaman 74)
Menjadi agen muslim di negara sekuler memang tidak mudah dan banyak tantangannya. Bukan lagi rahasia jika umat Islam selalu dicap teroris, Islam agama yang kejam, Islam membatasi hak kaum wanita and the bla and the bla... Apalagi kalo udah masuk pemeriksaan di bandara, penumpang yang diketahui beragama Islam bisa lama sekali diperiksa oleh petugas imigrasi, penuh curiga. Ya, ini pengalaman mbak Tutie Amaliyah sewaktu liburan ke Rusia. Nasib imigran juga tidak kalah memilukan. Sulit sekali mencari pekerjaan yang layak bagi mereka yang muslim karena perusahaan tidak mau menerima (keislaman) mereka. Ini ironi sebenarnya. Negara sekuler yang notabenenya tidak mengurusi masalah agama warganya, tapi khusus untuk urusan ini terasa sekali diskriminasinya.
Tapi pada akhirnya tidak sedikit orang yang bisa menerima kehadiran Islam. Malah ada di antara mereka yang memeluk agama Islam setelah sebelumnya mencaci-maki agama ini.
Ini perjalanan spiritual, dimana perjalanan itu tidak dinilai karena gengsi, perjalanan itu bukan masalah menekan bugdet sampai titik termurah, atau belanja menenteng kantong2 bermerk terkenal. Bukan, bukan itu. Cerita mbak Hanum dan kawan-kawan menyadarkan kita bahwa yang namanya plesir bukan hanya sekedar jalan-jalan belaka tanpa arti. Lebih dari itu, kita dituntut menjadi agen muslim yang menyuarakan kebenaran Islam di mata dunia.
Buku kedua tulisan Hanum Salsabiela Rais ini, masih berkonsepkan travel. Cuma kali ini ianya tidaklah seperti buku yang pertama. Dan tidak juga menceritakan hal travel itu dengan lebih lanjut. Kali ini Hanum lebih memfokuskan dengan individu-individu yang ditemuinya, yang berpetualang di sekitar Eropah demi kelangsungan hidup. Pengajaran hidup lebih mendominasi penceritaannya kali ini.
Berkonsepkan antologi, Hanum menjemput rakan-rakannya (mungkin) untuk turut menyumbangkan pengalaman hidup di bumi empat musim, Austria. Cerita-cerita dalam buku ini banyak memberikan ikhtibar, jadi tidak lelah membacanya.
Melanjutkan kesuksesan 99 Cahaya di Langit Eropa, Hanum mengeluarkan kembali sebuah buku bertema sama, perjalanan dan perkembangan agama Islam di Eropa. Namun kali ini ia tidak sendirian menulis, Tutie Amaliah dan Wardatul Ula turut menceritakan apa yang mereka alami sebagai seorang muslimah yang tinggal di Eropa.
To the point, pertama, buku kali ini tidak semengagetkan buku sebelumnya, mungkin karena buku sebelumnya telah berhasil membentuk mindset baru saya tentang Eropa dan Islam. Sehingga cerita-cerita kearifan Islam dan penganutnya dalam Buku Berjalan di Atas Cahaya ini tidak lagi menjadi hal baru di kepala saya. It's not as jawdropping as before. Tapi tetap saya masi mengeluarkan kata "oooh" dan "wow" selama membaca buku ini.
Kedua, buku ini sedikit banyak akan membahas betapa getirnya perjuangan menjadi muslim di sebuah negara minoritas, yang saya takutkan adalah pola pikir yang secara tidak langsung akan terbentuk bahwa umat agama selain Islam tidak toleran. Ternyata tidak, karena ada beberapa tulisan yang menyebutkan pelajaran toleransi dari umat agama lain terhadap agama Islam. Lihat permainan logika dalam cerita Fenomena Gajah Terbang atau keramahan dan penghormatan Heidi dan Reinhard dalam cerita Danke, Mama Heidi. Saya mengapresiasi kehati-hatian proses penanaman pola pikir Hanum terhadap pembaca dalam buku ini.
Ketiga, entah karena pengaruh cover bukunya yang menggambarkan seorang perempuan dan ditambah penulisnya yang kesemuanya perempuan, saya sebagai seorang laki-laki jadi agak segan untuk menenteng dan membaca ini di ruang publik. Terkesan seperti laki-laki yang membaca buku genre perempuan atau buku yang khusus dibuat untuk pasar perempuan. Mungkin untuk cetakan selanjutnya covernya bisa diubah lebih netral. Entah bagaimana netral itu didefinisikan.
Sama seperti buku hanum sebelumnya "99 cahaya di langit eropa", buku ini masih menceritakan kisah perjalanan hanum dkk, di eropa sambil menyibak kehidupan islam sbg minoritas di benua biru "eropa" itu... Baca buku ini bikin kita seharusnya tambah bersyukur krn terlahir dan hidup sbg kaum mayoritas di negara kita sendiri. Apart from that, ceritanya mirip2 lah sama buku sebelumnya. Cuma satu bagian yang paling saya suka banget dari buku ini yakni di bagian epilog dari buku ini yang memaparkan pengalaman hanum saat berhaji untuk pertama kalinya (sendiri tanpa didampingi sang suami), saya terharu dan merinding saat mebaca pengalaman hanum melakukan tawaf wada di baitullah...subhanallah saya jg ingin kembali kesana...aamiin :)
Karena sebelumnya saya sudah terlanjur terpesona oleh 99 Cahaya di Langit Eropa, maka saya pun berpikir bahwa Berjalan di Atas Cahaya akan memberikan pesona yang lain.
Buku ini masih bercerita tentang kisah kehidupan Muslim sebagai minoritas di Eropa. Namun, kali ini Mbak Hanum tidak menulis sendirian. Ada penulis kontributor Mbak Tutie Amaliah dan Wardatul Ula. Bukunya kali ini pun lebih banyak bersifat personal, yaitu tentang pertemuan para penulisnya (terutama Mbak Hanum) dengan orang-orang yang mereka temui selama mereka di Eropa, tidak lagi membahas tentang sisi lain bangunan-bangunan bersejarah Eropa seperti di 99 Cahaya di Langit Eropa.
Pesan Mbak Hanum di buku ini masih sama, yaitu jadilah agen Muslim yang baik. Buku ini diawali dengan kisah perjalanan Mbak Hanum ketika harus membuat liputan mengenai kehidupan Muslim di Eropa untuk sebuah stasiun televisi swasta. Budget yang disediakan untuk tim Mbak Hanum sangat terbatas. Dengan keajaiban silatrahim, tim Mbak Hanum memperoleh kemudahan jalan untuk membuat liputan luar biasa walau dengan budget yang minim. Thus, Mbak Hanum berpesan tentang pentingsnya silaturahim -- tentu saja menyambung silaturahim tidaklah ditujukan untuk mengharapkan keberuntungan, tetapi keberuntungan dapat mendatangi kita salah satunya melalui jalan silaturahim.
Mbak Tutie menceritakan tentang keberuntungan yang menimpa dirinya bahkan sejak akan menaiki pesawat menuju Wina, tempat suaminya bekerja. Selain sebagai ibu rumah tangga, Mbak Tutie pun memanfaatkan kesempatan berada di Austria untuk kuliah master di sana. Kisah Mbak Tutie tentu tidak kalah menarik dengan kisah Mbak Hanum.
Wardatul Ula memang hanya menulis sebanyak dua chapter di buku ini. Namun, keberaniannya untuk meninggalkan kampung halamannya di Aceh, untuk kemudian mendalami teologi di Turki pada usia 19 tahun patut diacungi jempol. Wardatul Ula menceritakan tentang pengalaman berhijab teman-teman sesama mahasiswa internasional seasramanya di Turki untuk mendalami bahasa Turki dan agama sebelum mereka dilepas ke universitas tujuan masing-masing.
Seperti di buku 99 Cahaya di Langit Eropa, Mbak Hanum menutup buku ini dengan kisah perjalanan hajinya pada November 2010. Hanya saja, Mbak Hanum memberikan fakta tambahan di buku ini bahwa pada tahun 2012 Mbak Hanum akhirnya dapat menunaikan haji bersama suaminya, Mas Rangga.
Ada satu hal yang menggelitik saya berkaitan dengan cover depan buku ini. Tak ada masalah dengan gambar bangunan-bangunan terkenal Eropa itu tentunya. Namun, gambar seorang perempuan berkerudung yang sedang berjalan itu mungkin agak kurang pas, terutama bagi pembaca laki-laki yang gemar membaca di tempat umum -- masyarakat yang tidak tahu isi buku ini bisa jadi akan berpikiran. "ngapain juga laki-laki baca buku perempuan gitu?" Hehe.. itu menurut pendapat saya saja sih. Karena saya perempuan, saya tidak bermasalah dengan cover depan buku ini :D
Bersyukur jadi mayoritas, itu yang pasti. Karena kalau secara global, bisa dikatakan Islam itu minoritas dan dengan para ekstrimis yang mencoreng nama Islam sendiri, di berbagai belahan negara sana sudah gak bisa toleransi terhadap Islam itu sendiri.
Kisah favorit saya kisahnya Mbak Tutie Amaliah yang 'Karena Saya Tak Gaul'. Dimana ia mendengarkan temen kuliahnya mencerca keIslaman dia sampai dia menangis. Dan endingnya dia berhasil mendapatkan gelar sarjana masternya dan did her valedictorian speech, being great Muslim agent. Dan kisah banyak Muslim yang terus maju di tengah terjangan Islamophobia yang masih santer di Eropa sana. Ngelupain act-victim, but just moving forward no matter what.
Yaaa beginilah. Terlena berada di negara yang ga mempermasalahkan ke Islaman gw karena negara mayoritas Muslim terbesar di dunia. Tapi ya dengan keterlanaan ini, jadinya mulai ga respek dengan yang beda-beda. And some people keep struggle untuk memenangkan dunia, m[LANJUT BESOK EIKE NGANTUK]
Penceritaan dalam buku ini berlatarbelakangkan Austria dan Switzerland.
Kisah masyarakat Muslim di negara yang telah sekian lama mengesampingkan agama dalam kehidupan. Mereka berjuang menjadi agen Muslim yang baik dalam pada masa yang sama, berhadapan dengan cabaran diskriminasi.
Kagum saya membaca kisah bagaimana mereka berusaha sedaya upaya mengamalkan agama Islam di sana. Media massa pula sentiasa mencari peluang memburukkan imej Islam. Ternyata, imej buruk itu berterusan menjadi stigma kepada masyakarat Eropah, selagi mereka tidak berusaha berkenalan dengan Muslim dan Islam secara benar.
Kisah-kisahnya menginsafkan, buat saya terasa bersyukur dilahirkan sebagai Muslim dan berpeluang belajar agama sejak kecil. Ternyata hidayah itu mahal. Masyarakat Eropah kembali mencari cara untuk hidup bertuhan. Fitrah diri seorang manusia, tidak akan tenang selagi tidak menemui kebenaran.
Buku ini mengingatkan saya ketika jalan jalan ke Eropa dgn kakak saya, dan saya sholat di depan Musee de Louvre, shalat didepan Rathaus di Vienna, sholat did epan patung kuda depannya adalah balkonnya hitler saat mengumpulkan 1 juta massa orang Wina dan mengobarkan semangat Nazi. Orang2 bule pada melihat sy dengan tatapan weird karena saya dianggap jengkang jengking ga ada maksudnya dan mereka memandang dgn tertawa. Ya gerakan sholat memang membuat orang pada penasaran, justru stelah itu membuat mereka bertanya, heyy boy, what are you doing, here... dan saya jawab, saya sedang meminta Tuhan saya agar saya sleamat dunia akhirat. Dan mereka ngikut!!! hehe, saya senang dgn cerita Anna Altmann, cerita The game theory, dan beberapa cerita sepele tp dalemmm maksudnya! great kaka
Saya setuju dengan endorsement dari Asma Nadia atas buku ini.
“Tidak mudah menghadirkan buku berbeda di tengah maraknya buku-buku bertema traveling. Dalam buku ini Hanum Rais, Tutie Amaliah, dan Wardatul Ula memberikan alternatif dengan pendekatan berbeda, komunikatif dan akrab, serta membekali pembacanya."
'Membekali pembacanya', itulah kesan paling kuat yang saya tangkap dari kisah-kisah yang terangkum dalam buku ini. Ditulis oleh tiga orang. Porsi terbanyak, tentu saja Hanum Rais. Sebagai jurnalis, terlihat sekali kepiawaian Hanum Rais dalam meracik kisahnya. Terasa hidup. Meski non-fiksi, tapi gaya penulisannya fiksi. Tak ubahnya baca cerita pendek. Asyik!
Cuma, dua cerita yang ditulis oleh Wardatul Ula, menurut saya kurang kuat dibandingkan dua penulis lainnya. Terasa biasa. Sudut pandangnya tidak setajam Hanum dan Tuti. Tapi, membaca kisahnya dan usia penulisnya yang masih muda, saya kira ia punya potensi dan tinggal mengasah sudut pandang cerita.
Di tiap kisah yang dituturkan, paragraf terakhir terutama, seakan dipaksakan hadir. Untuk menguatkan pesan bahwa 'seorang muslim memang harus menjadi agen'. Bagi saya, tak usah ditekankan lagi. Kiranya pembaca bisa kok menangkap pesannya.
Do not tell, show them. Ini lagi pesan paling kuat yang disematkan oleh tiga penulisnya. Tak perlu berujar dan berceramah lewat kisah tentang nilai-nilai Islam, tapi tunjukkan. Menjadi agen muslim yang baik selama hidup di tanah orang, selama traveling, itulah yang hendak disampaikan pada pembaca. Dan, upaya itu pun berhasil menghunjam di benak saya.
Terima kasih telah menghadirkan bacaan traveling yang berbeda, Mbak Hanum, Mbak Tuti, dan Wardatul Ula.
Saya tunggu serial 'Berjalan di Atas Cahaya' berikutnya :)
Dibandingkan dengan buku pertamanya (99 Cahaya di Langit Eropa) yang mengajak pembaca untuk berpetualang menelusuri jejak-jejak sejarah peninggalan kekuasan Islam di Eropa, Berjalan di Atas Cahaya mengambil kekhasannya sendiri dengan lebih menyuguhkan sisi experience alias pengalaman menjadi seorang agen muslim yang baik di negara dimana Islam menjadi agama minoritas. Buku yang tidak sepenuhnya ditulis oleh Hanum Salsabiela Rais ini, juga merupakan kontribusi dua penulis lainnya yakni Tutie Amaliah dan Wardatul Ula. Saya terenyuh membaca Ke Aceh Saya Akan Kembali (Wardatul Ula) dan dibuat merinding saat membaca Epilog yang ditulis oleh mbak Hanum sendiri. Paling tidak untuk pembaca yang jeli akan menemukan perbedaan mengenai gaya penulisan oleh masing-masing penulis yang berkolaborasi dalam buku ini. Gaya penulisan mbak Hanum yang runtut, dinamis, namun padat informasi membuat mudah untuk diikuti. Wardatul Ula, yang menurut saya pribadi, menulis dengan lebih sederhana, jujur, namun amat berkesan. Sementara itu juga ada Tutie Amaliah yang informatif. Overall, buku ini recommended bagi kalian yang memang sudah jatuh cinta dari buku pertama, 99 Cahaya di Langit Eropa. Buku yang sama yang membuat saya makin jatuh cinta dengan Islam. :)
Komentar ketika selesai baca buku ini adalah, bahwa saya sangat besyukur tinggal di negara mayoritas muslim seperti Indonesia. Berbeda dengan bukunya yang pertama yang mengisahkan tentang sejarah dan peninggalan Islam di Eropa, di buku ini lebih menekankan tentang bagaimana perjuangan para muslimah di tanah minoritas di Eropa.
Cerita yang paling saya suka itu "Fenomena Gajah Terbang". Ya,pokoknya two thumbs up buat buku ini. Yeah, sebuah novel tentang "travelling" yang beda banget.
Inspiring book, Never think that the one whom we met in our life is not important to us because he/she would be a bridge to face the world, he/she is the angle that Allah send us, whoever they are (black or white, moslem or non-moslem, man or woman).
"Saya terbayang kata Imam Al-Ghazali yang menjadi pembopong hidup saya. Hijrahlah, dan jangan takut dengan apa yang kautinggalkan, karena kau akan mendapatkan penggantinya, bahkan lebih."
what an amazing book! it opens your mind, your soul and your deepest heart. this book is about life, about appreciate other, love each other, to all human race. highly recommended!
Saat mengetahui Hanum Salsabiela menelurkan karya baru setelah 99 Cahaya di Langit Eropa, saya termasuk yang excited untuk membaca buku terbarunya. Pengalaman membaca 99 Cahaya di Langit Eropa yang sarat dengan pengetahuan tentang sejarah Islam di ranah Eropa, memberikan pengharapan yang besar bahwa Berjalan di Atas Cahaya juga akan memberikan kejutan-kejutan senada. Ternyata, ekspektasi saya tidak sepenuhnya benar.
Kali ini Hanum bersama Tutie Amaliah dan Wardatul Ula lebih banyak bercerita tentang kehidupan dan interaksi muslim/mualaf di Eropa. Meski temanya terdengar lebih ‘biasa’ dibandingkan buku sebelumnya, ternyata dari kumpulan cerita tersebut memberikan gambaran yang menarik tentang pandangan hidup para muslim/mualaf yang terkadang tidak mudah. Tak mudah mendapatkan pekerjaan ketika stempel muslim terpampang jelas dalam diri kita melalui jilbab. Pandangan masyarakat Eropa yang kerapkali sinis pada Islam, menyebabkan penolakan atau perlakuan yang tidak menyenangkan, seperti yang terekam dalam kisah Pahlawanku Si Cadar Hitam; Antara Saya, Kamu, dan Secangkir Capuccino; Tanya Namanya, Dengar Ceritanya; atau Karena Saya Tak Gaul.
Meski ada diskriminasi, ada juga muslimah yang berhasil menunjukkan eksistensinya pada khalayak Eropa. Sosok Bunda Ikoy [Bunda Ikoy, Si Pembuat Jam] dan Nur Dann [Nge-Rapp Adalah Cara Saya Berdakwah] membuktikan bahwa mereka dapat ‘masuk’ dan bertahan di dunia sekuler tanpa kehilangan keislamannya. Walaupun banyak berbicara tentang sisi kemanusiaannya, beberapa tulisan tetap memberikan nuansa traveling dan keunikan dari suatu kota/negara. Kisah ‘Tapak Kemuliaan di Sisilia’ menjadi satu-satunya cerita yang mengingatkan kembali tentang adanya jejak kebudayaan Islam di Eropa.
Lagi2 nebeng baca punya adik ipar gue.. Skeptis banget awalnya, apalagi kalo teringat kekecewaan besar 2 (dua) tahun lalu pada buku pendahulunya, "..99 Cahaya di Langit Eropa: Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa.." (review di: http://bit.ly/rn6f8S ). Tapi ternyata buku ini jauh lebih baik dalam beberapa hal, yaitu:
- lebih lancar dibaca: mengalir, si penulis terlihat jelas lebih pede daripada saat ybs menulis buku sebelumnya
- lebih menarik dibaca hingga habis: runtutan dan strukturnya menarik, lebih merangsang untuk dibaca hingga selesai.
Atau mungkin juga karena pada buku kali ini penulis ybs memutuskan untuk "keluar dari cangkangnya" dan menyentuh langsung kehidupan sosial setempat, termasuk individu yang jauh lebih beragam latar belakangnya.
Sayang masih ada sesuatu yang terasa kurang lengkap, yang terutama sekali terasa pada cerita terakhir sebelum yang paling akhir; sesuatu tentang Sisilia. Kenapa ya? Mungkin karena pengantar yang kurang, sedangkan penulis nya adalah orang lain (bukan salah satu dari ketiga wanita penulis buku ini).
Jadi total 4 (empat) bintang saja, walau tentu masih direkomendasikan. Terutama karena kualitas terjemahan & editing yang mumpuni.
hello goodreads, nyaris setahun gue gak jamah ni website krn kesibukan sekolah. Alhamdulillah, sekarang lagi ada sedikit waktu buat baca. Dan, gak nyesel milih buku ini buat pembuka setelah hiatus lama dari dunia perbukuan.
Suplemen iman banget di kala bulan puasa gini. Ceritanya ringan dan mudah dicerna, tapi "dalem" maknanya. Buat pembukaan emang enaknya buku yang ringan ringan dulu nih, kalo terlalu berat mood baca bisa menguap lagi entah kemana. Gue suka (hampir)semua cerita disini, kecuali mungkin yang bagian Wardatul Ula, rasanya terlalu biasa dan kurang greget. Gimana interaksi sebagai agen muslim yang baik di Eropa sana ditampilin dengan baik. Banyak hikmah yang bisa dipetik dari sini.
Favorit gue di epilog. Subhanallah banget Mbak Hanum bisa ngerasain pengalaman spiritual gitu. Gue selalu percaya, saat berkunjung ke rumah-Nya, tiap orang bakal ngalamin keajaibannya masing masing disana. Dan baca epilognya bikin gue merinding. Subhanallah bgt deh.
Akhir kata, 4 bintang buat bacaan pembuka setelah lama hiatus dari dunia perbukuan :)
Nggak tanggung-tanggung, saya kasih 5 bintang. Saya suka banget gaya bercerita Mbak Hanum di sini, tujuh langit lebih baik dan mengalir dari di 99 Cahaya di Langit Eropa. Diksinya asyik, bikin saya percaya Mbak Hanum ini memang berjodoh dengan pen misterius di akhir buku. Dan yang lebih baik lagi, tulisannya di-Justified, yay! 99 Cahaya di Langit Eropa itu dibiarkan nge-Left gitu aja, jadi terkesan berantakan. Tapi di sini rapi, dan enak dipandang. Kavernya juga manis, background-nya top abis. Pokoknya saya suka. Apalagi cerita-cerita yang dibahas, wuih, bikin makin pengin menjamah Eropa sebagai seorang agen muslim yang baik.
Buku ini memang bukan buku tips, tapi isinya bisa dijadikan panduan how to dan what to do bagi mereka orang Indonesia yang menjadi muslim minoritas di Benua Biru sana. Sebagaimana saya. Buku ini akan saya bawa saat saya ke Amerika besok—insyaAllah!
Buku ini kurang lebih isinya bertema hampir sama dengan 99 Cahaya di langit Eropa. Menceritakan kisah-kisah perjalanan para muslimah di luar negeri. Menjadi kaum minoritas di tengah benua yang mayoritas penduduknya non muslim tentu memiliki pengalaman pahit dan manis. Ada yang terkadang memandang Islam sebagai agama teroris, ada yang bilang agama yang jahat dan lainnya. Sehingga terkadang isu-isu ini justru melemahkan iman Muslim itu sendiri. Namun, di buku ini Hanum dkk. ingin menunjukkan bahwa di luar sana, masih banyak orang yang menghargai agama, masih ada persahabatan tulus yang tak memandang agama, masih ada yang lebih peduli pada agamamu di banding dirimu sendiri. Dua kisah di buku ini yang amat berkesan adalah kisah The Dior Kiss dan Karena Saya Tak Gaul. Full Review
this is best traveller books ever had. Bener deh, gw pertama kali baca awalnya ga minat. Tapi setelah baca dalamnya, wah good book! Disini kita bisa lihat sisi Islam di tanah Eropa, bagaimana gambaran real disana, kerja keras dan perjuangan Islam di Eropa serta keindahan kota yang menawan. Hal yang paling gw inget dari buku ini adalah cerita tentang Gajah Terbang di Atas Langit. Bener, kita jangan ikut2an kalau belum tau dan mengenalinya dengan cara men-judge sesuatu. semoga Mba Hanum bisa meluncurkan buku selanjutnya yang bisa mengispirasi lagi :)
Buku kedua yang ditulis oleh Hanum Salsabila Rais, seorang putri dari politikus Amien Rais, setelah buku 99 Cahaya Di Langit Eropa. Dia menggarap buku ini tidak sendirian, tetapi juga menggaet koleganya, termasuk suaminya sendiri, Rangga Almahendra. Kesempatan mereka untuk mengelilingi eropa ternyata juga bisa membuat mereka 'amazed' dengan kehidupan umat muslim minoritas di sana. it's Worth reading! :)
Very recommended book! Selama baca buku ini saya ga berhenti bergumam 'Wow', 'Subhanallah', atau 'Masya Allah'.
Sungguh luar biasa perjuangan para mualaf 'bule' yang diceritakan dalam buku ini. Pasti tidak gampang menemukan hidayah untuk memeluk Islam. Terlebih pandangan masyarakat Eropa terhadap Islam yang masih 'primitif'. Bersyukur sekali kita yang terlahir dan hidup di lingkungan muslim :)
Semoga suatu saat mendapat kesempatan untuk bertemu dengan muslim di benua Eropa sana. Amiiiiin
Saya berharap Mba Hanum akan selalu menulis tentang perjalanannya juga orang - orang di sekitarnya. Sungguh menginspirasi, menggugah hati juga menimbulkan rasa rindu yang tak terhingga pada Tanah Suci. Membaca buku ini juga membuat saya sangat bersyukur juga merasakan cinta untuk semua saudara - saudari muslim di seluruh dunia.
"... Tak jarang, kehidupan sekuler masa muda mereka berujung pada pencarian Tuhan Pencipta pada hari-hari akhir mereka" (Hal.24) .
👟 Berjalan Di Atas Cahaya merupakan sebuah buku nonfiksi yang merangkum perjalanan muslimah yang di daratan Eropa. Lewat tulisan yang digarap oleh tiga orang muslimah,buku ini tidak hanya membuat saya seolah ikut bertualang menyusuri keindahan di daratan sana tetapi juga membuat kekaguman akan islam semakin besar ❤
👟 Sekilas,buku ini mungkin dapat mengingatkan pembaca yang pernah membaca karya kak Hanum yang berjudul 99 Cahaya di Langit Eropa,namun buku ini memberikan ruang lebih untuk memaparkan banyak keajaiban Islam,beberapa orang muslim yang berdampingan dengan masyarakat setempat dengan keyakinan berbeda, dan karena ini buku nonfiksi,saya jadi bisa melihat sedikit usaha kak Hanum dalam menyajikan informasi dalam buku ini walaupun gaya penulisan kak Hanum kadang terasa masih seperti gaya tulisan fiksi.
❤ Beberapa kali harus menahan air mata membayangkan suka duka hidup sebagai muslim di daratan Eropa yang terkadang masih merasakan stigma berkaitan dengan keyakinan. Namun di lain sisi,saya juga dapat melihat bagaimana dengan cara yang lembut,mereka yang memeluk Islam dapat hidup berdampingan dengan penduduk di tanah Eropa.
Sebuah buku nonfiksi yang saya ingin rekomendasikan tuk kalian baca 😊🙏
Sebagai susulan kepada 99 Cahaya di Langit Eropah, buku ini membawa cerita dari tiga penulis berbeza. Temanya masih sama, tentang Islam di Eropah dan pengalaman yang mereka lalui dalam berhadapan cabaran itu. Banyak anekdot mereka yang mengesankan, boleh menjadi panduan kepada sesiapa yang akan ke Eropah bagi memberikan gambaran awal pandangan masyarakat Barat terhadap orang Islam. Ternyata mereka, walau dilihat maju dan terkedepan, insan-insan di dalamnya kosong dari sisi ruhani, menjadikan perjalanan Hanum, Amaliah dan Wardatul Ula ibarat duta kecil terhadap agama yang sering dipandang salah - Islam. Banyak yang tersentuh dengan Islam yang mereka lihat di hadapan mata berbanding Islam yang mereka dengar dan baca di media massa.