Jump to ratings and reviews
Rate this book
Rate this book
Pembaca tersayang,

Banyak jalan menuju Roma. Banyak cerita berujung cinta. Robin Wijaya, penulis novel Before Us dan Menunggu mempersembahkan cerita cinta dari Kota Tujuh Bukit.

Leonardo Halim, pelukis muda berbakat Indonesia, menyaksikan perempuan itu hadir. Sosok yang datang bersama cahaya dari balik sela-sela kaca gereja Saint Agnes. Hangatnya menorehkan warna, seperti senja yang merekah merah di langit Kota Roma. Namun, bagaimana jika ia juga membawa luka?

Leo hanya ingin menjadi cahaya, mengantar perempuan itu menembus gelap masa lalu. Mungkinkah ia percaya? Sementara sore itu, di luar ruang yang dipenuhi easel, palet, dan kanvas, seseorang hadir untuk rindu yang telah menunggu.

Setiap tempat punya cerita. Roma seperti sebuah lukisan yang bicara tanpa kata-kata.

Enjoy the journey,

EDITOR

384 pages, Paperback

First published February 1, 2013

32 people are currently reading
807 people want to read

About the author

Robin Wijaya

16 books64 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
182 (23%)
4 stars
208 (26%)
3 stars
278 (35%)
2 stars
88 (11%)
1 star
24 (3%)
Displaying 1 - 30 of 113 reviews
Profile Image for Benedikta Sekar.
18 reviews
June 29, 2013
Judul : Roma: Con Amore

Penulis : Robin Wijaya

Penerbit : Gagas Media

Terbit : 2013

Tebal : 374 halaman

Rate :4/5


"Ada perbedaan tipis di antara benci dan cinta. Dan yang menyekat keduanya hanyalah perasaan tak mau memaafkan." - Robin Wijaya, Roma:Con Amore, Halaman 336

Roma:Amore adalah salah satu buku terbaik yang aku punya. Buku ini mengisahkan tentang seorang pelukis bernama Leonardo Halim yang memiliki cita-cita besar mengadakan pameran tunggal bersekala internasional. Ia memiliki sebuah lukisan yang sangat personal berjudul 'The Lady', lukisan itu adalah lukisan seorang wanita dengan latar Gereja Santa Agnes, Roma.

Saat ia tengah mengadakan pameran bersama beberapa seniman lain di Roma,takdir mempertemukannya dengan Felice Patricia; seorang wanita yang bekerja di KBRI. Pertemuan pertama mereka dalam keadaan yang kurang menyenangkan karena ada masalah dengan pengiriman lukisan yang dibeli oleh bos Felice. Namun, meskipun begitu pertemuan itu sangatlah membekas bagi kedua insan tersebut.

Pertemuan kedua mereka terjadi beberapa bulan kemudian di Bali saat Felice ingin menghadiri pesta pernikahan kakaknya, Anna. Felice yang tanpa sengaja mengetahui bahwa Leo mengikuti acara pameran di sana berinisiatif datang dengan tujuan membunuh waktu agar ia tak perlu bertemu dengam Mamanya.

Kisah kedua insan ini pun berlanjut kembali di Roma saat Leo mendapat kesempatan ikut dalam tur pemran bersekala dunia. Kisah mereka menjadi menarik ketika masing-masing dari mereka sebenarnya sudah memiliki kekasih; Felice memiliki kekasih seorang Italian, bernama Franco, dan Leo memiliki kekasih yang memiliki profesi di bidang seni kaca, Marla.

Apa yang terjadi pada perasaan cinta yang bertumbuh di hati kedua insan ini? Hohoho, temukan akhir kisah mereka di buku keren ini.

Buku ini benar-benar seperti buku pemandu tur bagi kalian yang ingin ke Roma. Kak Robin Wijaya menggambarkan kota Roma benar-benar senyata mungkin. Aku gak tahu apa beliau pernah ke Roma atau hanya berbekal dengan riset di Google. Tapi yang jelas, nilai plus dari buku ini adalah penggambaran latar yang sangat nyata. Seolah-olah Roma-lah yang menjadi momok utama cerita ini. Well, judulnya aja Roma, pastilah Roma yang menjadi bintang utama dari cerita ini. Bugh! Udah deh, urusan latar dalam buku ini JUARA! Sejauh ini, buku Roma: Con Amore ini adalah satu-satunya buku yang berlatar luar negeri yang mampu memberiku gambaran kuat tentang latarnya (aku belum baca seri 'Setiap Tempat Punya Cerita' yang lain sih).

Plot cerita ini pun bagus, meski si Penulis adalah seorang pria. Kak Robin tak segan-segan mengangkat cerita tentang Romance dan berhasil mengesekusinya dengan sangat epic! Sesekali aku menemukan diriku tersenyum di awal buku, namun saat klimaks dari buku ini mulai muncul aku jadi manusia robot! Tegang bok! Pengen cepat-cepat antiklimaks. Dan menurutku, ending-nya pun sangat tidak mengecewakan. Just love it.

Tapi, seperti biasa, pasti ada minusnya kan ya?

Lagi-lagi ini masalah penerbit. Errmh, banyak banget typo dan kata-kata yang seharusnya diberi italic dibiarkan begitu saja. Satu dialog menggantung di halaman 276:

"Kenapa kamu membawa aku ke sini, Felice?" tanya Leo, memecah keheningan.

"Aku hanya ingin berbagi dengan. Tentang sebuah tempat paling berharga. Yang aku cintai dulu dan kini," jawab Felice, tenang.


Pas lagi adegan-adegan romantis nih, langsung rusak gegara typo seupil ini --" bikin rada bad mood bacanya.

Selain itu, aku rada sedikit terganggu dengan penggunaan bahasa Italia yang lumayan atau terlalu sering. Well, mungkin tujuannya untuk menghidupkan suasana Italia di buku ini. Tapi, penggunaan bahasa Italia pada hal-hal remeh seperti membedakan jalan dan jalan kecil itu rada ganggu juga. Since, istilah itu masih bisa diganti dengan bahasa Indonesia. Kurasa gak masalah kan ya? Hahaha.

Dialog dalam buku ini memang rada kaku, bukan dalam artian terlalu formal/baku atau apa pun itu. Tapi kesannya buku banget. Tapi bagian ini emang gak begitu mengganggu kok, toh aku sangat menikmati narasi dan dialognya yang sangat epic!

Kesimpulannya, bintang 4 ya! Minus satu bintang karena typo, penggunaan bahasa Italia yang sedikit berlebihan dan dialog yang rada kaku. Buku ini sangat cocok untuk kalian yang ingin bacaan ringan bertema Romance di sore hari yang tenang. Buku ini mampu membawa kalian ke Roma!

Ciao!
Profile Image for Nur Fauziah.
109 reviews
April 22, 2013
Akhirnya selesai juga membaca buku ini setelah ketunda ke rumah temen dan barteran buku. Ayo kita review:

Waktu aku buka goodreads dan menemukan buku ini akan terbit (kalo nggak salah waktu itu belum ada kavernya) aku langsung penasaran pengen baca. Entah kenapa, sepertinya aku mulai mengidolakan Robin Wijaya sebagai penulis yg akan aku nantikan karya-karyanya. Akhir bulan, aku dan temen kantor langsung nulis list dan patungan buat belanja buku. Dan akhirnya dapetin novel Roma ini.

Novel Robin Wijaya kali ini settingnya di beberapa tempat. Ada di Roma, Jakarta, Denpasar sampai Napoli dan Venezia. Kisahnya tentang sebuah lukisan bernama The Lady. Lukisan yg aslinya adalah milik kakeknya Leonardo yang berjudul Perempuan Senja itu dilukis ulang oleh Leo dan diberi judul baru. Lukisan itu nantinya bakal jadi pertemuan takdir antara dia dengan Felice Patricia. Kenapa jadi takdir? Nggak mau spoiler ah. Kisahnya lebih panjang dan rumit dari sekedar pertemuan. Menjelang tiga perempat cerita, kita baru tahu kenapa Felice selalu termenung saat melihat lukisan The Lady dan kenapa dia pergi dari kehidupannya di Indonesia. Sementara Leo sendiri selalu percaya kalau cerita kakeknya tentang cinta sejati yg akan dipertemukan nanti bakalan benar-benar terjadi.

Oh ya, tokoh di novel ini cukup banyak tapi menariknya adalah setiap tokoh punya sebab akibat dengan tokoh lainnya. Dan di ending, cerita mereka diselesaikan sehingga aku nggak merasa 'lho si ini nasibnya gimana?'. Dan, ini kalo nggak salah tebak ya. Sepertinya Robin mau membuat kita menebak-nebak apakah dia akan membuat serial baru dari Roma ini. Karena ada dua pasang tokoh yg dibuat seolah-olah mereka akan bertemu lagi suatu hari nanti (ngarepnya sih ada, terus settingnya ganti kota gitu biar seru).

Dari 2 novel sebelumnya yang udah aku baca. Novel ini auranya agak berbeda. Nggak sedih mewek-mewek. Tapi manis dan romantis. Seringnya sih adegannya bikin aku ngebayangin gitu. Kayak waktu Leo sama Felice sepedahan di Denpasar, so sweet. Atau di bab 23 yg asli bikin aku pengen keliling-keliling Roma. Oh ya, ada satu puisi bahasa Italia yang ditulis Franco yang kece banget. Jadi pengin deh ditulisin puisi sama si pemain sepak bola itu.
Profile Image for Dwi Kartika.
11 reviews
April 18, 2013
Buku ke-empat dari seri Setiap Tempat Punya Cerita yang saya baca. Dan buku pertama dari seri ini yang ditulis oleh cowok.

Baiklah, ini masalah personal taste. Saya sangat jarang membaca novel yang penulisnya cowok, apalagi novel cinta. Dan sepertinya agak jarang penulis cowok yang bermain di genre ini. Tapi karena sudah terlanjur janji mau ngoleksi serial ini, jadi saya tetap beli novel Roma. Dan, seperti jumlah bintang yg saya kasih, sebanyak itu rasa puas saya atas novel yang satu ini.

Mari kita bahas novelnya.
Kelebihan:
Membaca novel ini sepertinya menghadirkan suasana yg tenang dan nyaman. Saya merasa novel ini hangat dengan gaya bahasa penulis yang manis dan santun.
Tidak ada perasaan tergesa-gesa karena alur cerita memang dibuat seperti itu. Dari bab satu ke bab lainnya, cerita berkembang dengan baik serta kemunculan tokoh-tokoh baru,(ah, ada banyak cameo disini) tapi jangan pusing, setiap cameo mempunyai peran masing2 yang mendukung jalannya cerita. Beberapa muncul di awal lalu hilang di tengah dan muncul kembali di akhir sebagai penguat cerita. Sama sekali tidak memusingkan karena kita hanya perlu mengenal mereka dan penulis meyakinkan pembaca kalau mereka memang ada disana sebagai bagian dari kisah ini.
Cerita dikupas dari satu bagian ke bagian lainnya hingga di akhir menjadi satu kesatuan utuh (di akhir akan terungkap kecerobohan si tokoh utama terjadi karena sebuah sebab yang jutsru adanya di awal cerita).
Chemistry antar tokoh juga terjalin dengan baik. Leo dengan Marla yang selalu memiliki obrolan cerdas dan membangun, kelihatan serasi tapi sebetulnya hanya dua orang yang saling mengagumi. Felice dengan Franco si raja gombal. Dan, adegan-adegan sederhana seperti ketika Felice membantu Leo mencuci tangannya di bengkel kerja, atau ketika mereka keliling kota Roma seharian. Saya jadi mupeng.

Kekurangan:
Dibandingkan dengan Barcelona Te Amo yang ilustrasinya keren banget, Roma masih kurang menurut saya. Coba kalau sketsa-sketsa lukisan Leo ditampilkan lebih banyak, packaging novel ini bisa jadi lebih bagus.
Dan, apakah novel ini akan dibuat sekuelnya? Karena sepertinya penulis membuat satu adegan dimana James Calvert memberikan satu buku yang seolah-olah mengundang Marla untuk datang ke Seattle. Saya jadi penasaraaaannnnn...........
Profile Image for Dini Novita  Sari.
Author 2 books37 followers
December 1, 2014
Too slow, konflik yang dipaparkan kurang greget. Dan aku paling nggak suka kalau ada cerita seseorang menyelingkuhi kekasihnya, padahal hubungan dengan kekasihnya tidak ada masalah, dan chemistry dengan si orang baru juga nggak kuat diceritakan. Yang membuat agak bagus adalah usaha penulis untuk menulis dengan indah, patut diacungi jempol. Alur penulisannya tenang, diksi-diksi yang apik, tetapi... sayangnya harus dinodai dengan typo dan kata/akhiran yang kurang di sana-sini. Kenapa begituu? :(

Novel ini adalah salah satu seri Setiap Tempat Punya Cerita. Nuansa Roma yang diceritakan di awal lebih kepada detail sejarah atau seluk-beluk tentang kota, bukan deskripsi tempat yang menarik. Dan sungguh sayang penulis harus salah menulis tentang julukan suporter bola, Milanista ditulis sebagai suporter Inter Milan, padahal yang betul AC Milan. Hikss. Namun justru pas setting di Bali, deskripsi suasana tempatnya lebih berasa. Dan ya pas akhir-akhir saja sih suasana tempat di Roma-nya berasa. Ya, lumayan kecewa deh intinya membaca novel ini, meski nggak bisa dibilang "parah" juga. :))
Profile Image for Erika Reieru.
124 reviews15 followers
November 28, 2022
3,5 untuk novel STPC Roma kali ini :)

Ini adalah karya penulis yang pertama yang pernah saya baca. Mas Robin Wijaya mengeksekusi ceritanya cukup bagus menurut saya dalam novel Roma ini. Berkisah tentang seorang pelukis yang sangat ambisius dengan pelukis ternama asal ItaliMicael Angelo. Dalam novel ini penulis menggunakan POV orang ketiga, tidak hanya Roma, namun penulis pun menyuguhkan kota Bali dalam cerita ini.

Saya sangat suka dengan karakter Leo yang memiliki sifat cool namun ramah itu. Saya dapat membayangkan saat Leo mengerjakan lukisannya dengan gayanya yang cool. Kekasih Leo pun selalu memperhatikan Leo. Tapi saya tak habis pikir, kenapa Leo malah berpaling kepada Felice? Apa yang dapat dilihat Leo dari Felice? Memang siih cinta itu tidak harus rasional. Tapi ‘sesuatu’ yang seharusnya dapat dimiliki Felice untuk dapat membuat Leo berpaling dari kekasihnya itu tidak ada. Saya tidak dapat menemukan ‘sesuatu’ yang spesial dari diri Felice.

Sangat disayangkan juga, aku merasa bahwa kota Roma yang sebagai latar itu hanya seperti tempelan. Penulis belum dapat membuat sayasebagai pembacatercengang-cengang dengan latarnya. Belum dapat membekas dalam ingatan pembaca, belum hingga mengajak pembaca masuk dan mengikuti alur cerita tersebut, yang seharusnya sangat romantis itu. Namun karena isi ceritanya tokoh pria utama itu beromantis-romantisan dengan wanita lainbukan dengan kekasihnya, maka saya jadi tidak respect dengan kedua tokoh tersebutLeo dan Felice.

Feel nya pun jadi tidak ‘ngena’ sama sekali bagi saya. Hambar, datar, flat saja begitu. Hehehe Penulis memaparkan jalan-jalan mengelilingi kota Roma hanya dalam satu scan di salah satu bab. Ketika Leo meminta Felice menjadi guide nya untuk mencari inspirasi lukisanna. Kesannya penulis terburu-buru sekali dalam menjelajahi kota Roma tersebut. Sehingga pembaca dan bahkan tokoh tersebut pun tidak merasakan dan menikmati indahnya kota Roma. Sayang banget kan yaa.. :(
Profile Image for Aldi Yo.
58 reviews
May 2, 2013
Oke, gw suka banget sama Before Us. Dan waktu baca Menunggu gw makin suka tulisannya krn plotnya rapih dan mulus. Tapi jujur utk Roma gw ga terlalu suka. KENAPAAA??????????

1. Tiba2 aja gw ngerasa tulisan Robin jadi populer disini.
2. Gw gak terlalu suka cerita yg latarnya di luar negri. Heuheuheu, walopun ada Jakarta sama Denpasarnya sih dikit2

Tapi kenapa gw tetep kasih 5 bintang? KENAPAAAA??????
Demi Tuhan bukan krn gw rajin stalking twitternya bang robinBIEwijaya. DEMI TU...... HAAAAANNNN.....

Alasan gw adalah
1. Gw menilai seorang penulis berkembang atau gak lewat kualitas tulisan yg dihasilkan. Dan penulis yg baik harusnya ya mau berkembang trus dong? biar tulisannya makin bagus & enak dibaca.
Dari 2 novel yg udh gw baca, gw ngerasa usaha bang Robin utk nyelesaiin Roma ini kerasa bgt. Dan, ini cara nulis dia yg paling the best menurut gw.
Plotnya jauh lbh rapih dr Before Us atau Menunggu. Tokohnya berkembang & matang. Amaze bgt ngelola byknya tokoh figuran & membagi porsi secara tepat. kalo latar, gw no komen. gw jarang baca buku ttg kota diluar negeri
2. Gw pernah nanya knp bang Robin ga nulis genre lain. Soalnya, cowok kan jrg bgt yg nulis romance. Dia bilang mau eksplor genre ini sampe bisa mateng. Dan kalo dibandingin sama 2 novel sblmnya, ini yg paling romance. Bumbu2 cintanya dpt dan cara ngelola perasaan tokohnya jg oke.
3. Gw suka pengetahuan2 yg gw dpt. mulai dr ttg lukisannya, teknik2 lukis, seniman dunia, judul2 lukisan sampe ttg kota Roma nya sendiri. Risetnya, bagus!!!

Udah segitu aja komentar gw. Dan semoga ttp byk penulis2 yg walopun bukan seleb tweet ttp sama ngototnya kyk selebtweet utk bisa bikin buku.
Profile Image for Icha.
34 reviews10 followers
March 17, 2025
buku ini definisi dari "2 karakter dalam cerita romance jatuh cinta hanya karena plot mengharuskan mereka jatuh cinta".

menurutku buku ini juga salah satu jenis romance yang terburuk: cerita di mana

karakter Marla terasa nggak penting banget. fungsinya dia di buku ini cuma jadi plot device. fungsinya Marla cuma buat jadi

jujur, bahkan tanpa konflik perselingkuhan pun, aku nggak merasakan apapun dari hubungan Felice dan Leo. seperti yang kubilang, mereka berdua jatuh cinta cuma karena plot ceritanya bilang kalo mereka berdua jatuh cinta. udah, gitu doang. dari awal mereka ketemu, lalu hubungan mereka berkembang (kayak, mereka entah gimana ketemu lagi dan lagi, lalu hang out berduaan), hubungan mereka tuh rasanya biasa aja. nggak bikin aku mikir, "wow mereka cocok banget. seandainya mereka berdua masih single, jadi bisa jadian deh." Menurutku bahkan hubungan

karakter Franco jelas membuatku kecewa karena aku sebenernya suka karakternya sebelum penulis memutuskan untuk merusak karakternya hanya demi

tl;dr kalo nggak suka cerita romance yang dimulai dari atau disebabkan oleh perselingkuhan, mending jangan baca buku ini lah. akhir yang seharusnya terjadi di buku ini adalah Felice
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book265 followers
February 13, 2014
Dari Athena, saya melanjutkan serial STPC menuju ke Roma. Ada Robin Wijaya dengan kisah cinta yang tersedia di sana. Perjalanan yang sempat tertunda ini saya harap bisa membawa kisah yang menarik, sebagaimana banyaknya seni yang indah lahir di kota itu.

Roma menceritakan kisah tentang Leo, seorang pelukis muda asal Indonesia yang berhasil mewujudkan impiannya menggelar karyanya dalam suatu pameran lukisan di negeri Italia itu. Sayangnya ada suatu insiden dimana lukisannya yang dibeli oleh seorang diplomat KBRI hilang entah di mana. Diduga hilangnya lukisan itu akibat kesalahan kurir. Setelah diusut, ternyata asisten diplomat itu yang salah memberikan alamat. Felice, meski mengakui kesalahannya, tetap saja bersikap tidak ramah kepada Leo. Tapi ada sesuatu pada gadis Indonesia itu yang tetap melekat di kepala Leo. Setibanya di Indonesia, Leo tidak bisa melupakan Felice. Dia pun menuangkannya dalam sebentuk sketsa dan kemudian menjadi lukisan. Marla, kekasih Leo yang setia mendampinginya, menyadari ada yang berbeda dari sketsa perempuan ini. Tapi Marla menyimpannya di dalam hati.

Felice sendiri punya kisah lain. Dia memilih kerja di Roma demi menghindari mamanya di Indonesia. Felice tidak setuju dengan lelaki pilihan mamanya, yang hadir setelah papanya meninggal dunia. Alasannya karena pria itu masih mempunyai istri. Bagi Felice, mamanya salah telah menjadi orang ketiga dalam hubungan Benny (pria kekasih mamanya) dengan keluarganya. Tapi mamanya berkeras bahwa Benny akan menceraikan istrinya, dan Felice harus menerima Benny sebagai anggota keluarga. Meski kakaknya, Anna, bisa menerima Benny, Felice tetap teguh pada pendiriannya. Lagipula, di Roma dia memiliki Franco, pria Italia pemain sepakbola, yang menyayanginya. Namun, suatu hari Felice harus pulang menghadapi mamanya demi menghadiri pernikahan Anna.

Di Bali, lokasi yang dipilih Anna untuk melangsungkan pernikahannya, tanpa diduga Felice kembali bertemu dengan Leo. Alih-alih menghindari mamanya, Felice menghabiskan waktu bersama dengan Leo. Kebersamaan mereka sempat terputus ketika Felice harus kembali ke Roma, tetapi akhirnya mereka bertemu lagi saat Leo akan melangsungkan pameran lukisan keliling Eropa. Masa-masa berdua dengan Leo membawa kesan sendiri. Tanpa disadarinya, Felice dan Leo terikat dalam rasa cinta.

Ini novel kedua karya Robin Wijaya yang saya baca, dan lagi-lagi saya tidak bisa menyukainya. Sejak halaman awal, saya cukup terganggu dengan seringnya penggunaan kata ganti “perempuan itu” atau “lelaki itu” pada beberapa scene. Padahal bisa saja langsung disebutkan siapa nama orang yang dimaksud, tanpa perlu memperpanjang kalimat hingga terkesan puitis. Hal kedua yang membuat saya kurang puas karena Roma bukan satu-satunya kota yang melatarbelakangi kisah ini. Bali memiliki porsi yang hampir sama dengan Roma dalam membangun kisahnya. Hal ini agak berbeda dengan STPC lainnya yang sudah saya baca sebelumnya.

Saya juga tidak menyukai karakter Felice. Dia bisa menghakimi mamanya yang menjadi orang ketiga ketika memilih bersama dengan Benny. Lantas bagaimana dengan dirinya yang menjadi orang ketiga diantara Leo dan Marla? Di saat yang sama dia masih berstatus pacarnya Franco (meski akhirnya Franco ketahuan juga berselingkuh). Untung saja Marla memilih melepas Leo, sehingga nasibnya Felice berbeda dengan mamanya. Dan oh… saya merasa perlu menyebutkan jika Marla “diselamatkan” oleh penulis dengan menambahkan adegan singkat antara James (kawan Leo) yang mencoba mendekati Marla.

Akhirnya, saya hanya bisa memberikan bintang 2 untuk kisah Roma ini. Tidak seindah yang saya harapkan. Semoga perjalanan berikutnya di London bisa menjadi pelipurnya.
Profile Image for Naza N.
359 reviews10 followers
October 15, 2021
Dari awal bacanya, udah ada feeling nggak bakal suka sama Felice. Dan fakta bahwa dia dapet screentime lebih banyak dari Marla, aku udah punya perasaan nggak bakal suka dengan apa yang terjadi selanjutnya.

Tapi aku maso, jadi kubaca aja sampai habis.

Dan, sesuai dugaan.

Oke, aku akan memulai dengan apa yang aku sukai dari buku ini:

1. Penulisannya. Meski kalimatnya panjang (nggak sepanjang Marcel Proust sih), tapi tetap enak dibaca dan mengalir lancar. Meski diksinya tergolong sederhana, tapi penulis mampu mengolahnya menjadi kalimat-kalimat yang cukup indah dan puitis.

2. The Quotes. They're simply stunning.

3. Pendeskripsian latar tempat. Rasanya kayak lagi jalan-jalan di Roma langsung. Meski ada beberapa bagian yang nggak dijabarkan dengan terlalu detail, tapi masih cukup membuat pembaca terbawa suasana.

4. Ilmu tentang lukisan. Penulis mampu menyisipkan informasi tentang lukisan, teknik melukis, dan para pelukis tanpa membuat buku ini terasa seperti buku pelajaran.

Lalu, hal yang nggak aku sukai dan sayangnya sangat krusial di sini, yaitu tokoh-tokohnya.

Felice. Dari awal aja aku sama sekali nggak merasakan simpati sama dia. Maaf kalau kasar, tapi kesan pertamaku ke dia adalah "Wow, what an asshole". Nggak paham Leo tertarik sama dia karena apa. Dan setelah cerita bergulir pun, aku makin nggak suka sama dia. Egois dan sok paling menderita sedunia. Dan akhirnya, sepanjang buku, setiap Felice lagi disorot, aku cuma bisa "hadeuh, dia lagi".

Leo. Ini dia si cassava, eh, maksudnya Casanova. Di sini, dia digambarkan sebagai seorang pelukis ambisius dengan sifat dan wajah yang menarik sehingga bisa menggaet hati dua wanita sekaligus. Yang satu sudah berstatus pacar, yang satunya lagi gaje. Pertemuan pertama di Roma yang diawali dengan sifat menyebalkan mbak Felice rupanya justru membuat dia tertarik. Lalu, ketemu lagi di Denpasar, dan akhirnya romansa pun berlanjut dari situ.

Leo ini nggak tegas apa maunya, juga nggak tegas dengan hatinya sendiri. Sudah punya Marla tapi masih aja ngintilin Felice. Dan di bagian terakhir, waktu Marla sengaja datang ke Roma buat nemuin dia, dia malah fokus sama Felice dan perasaan Felice yang notabene bukan siapa-siapanya. Dia pun nggak langsung jujur sama Marla mengenai hatinya yang sudah berpindah dan terkesan menghindari Marla.

Dalam hati, daku memaki.

Akhirnya, aku jadi kesal sendiri sama Marla. Rasanya dia mirip sekali dengan tokoh protagonis di ftv Indosiar yang tetap baik hati dan lemah lembut meski dijahatin berulang kali. Menjadi elegan dan kuat itu wajib, tapi sesekali barbar juga bukan masalah. Minimal, tinjulah Leo sekali di pipi. He deserves that.

Plus, romansa antara Leo-Felice. Aku merasa ini kayak perselingkuhan yang diromantisasi. Dua-duanya sama-sama nggak jujur terhadap keadaan diri sendiri yang sudah punya pasangan masing-masing .

Jadi maaaaaf beribu maaaaf aku harus memberikan 2 bintang pada novel bagus ini. Serius, indahnya Roma yang ada di dalam novel ini lebih pantas mendapatkan jalan cerita dan tokoh-tokoh yang lebih baik.
Profile Image for Yessi Santi.
11 reviews
May 5, 2013
Roma ditulis dengan cara yang berbeda. Tidak seperti Menunggu yang sejak halaman pertama mengundang penasaran dan harapan, Roma cenderung tenang dan membiarkan pembaca menikmati potongan2 cerita hingga akhirnya bertemu di satu titik dan terungkap keterkaitan antara bagian yang satu dengan bagian yang lain.

Isi novelnya dibagi dalam 7 bagian; Roma, Jakarta, Napoli, Denpasar, Roma, Roma (lagi) dan berakhir di Venezia. Setiap bagian yg ditulis di kota yg berbeda2 seolah menunjukkan kalau setiap tempat memang punya cerita. Sampai masuk ke bagian 3 saya belum menemukan titik temu apapun diantara tiap penggalan ceritanya, sehingga ada 2 hal yg muncul di kepala saya, 1. saya kira cerita ini akan jadi tidak menarik. 2. saya curiga kalau penulis sengaja menyimpan ending setiap bagian dan akan menyimpulkannya di akhir. Dan ternyata akhir cerita Leo di Jakarta dengan akhir cerita Felice di Napoli saling bertemu di kota Denpasar. Di bagian 4 (Denpasar) penulis mulai menunjukkan kearah mana cerita akan dibawa. Perlahan, saya juga dikenalkan dengan sifat asli Felice dan latar belakang keluarganya. Saya yg awalnya sebal, mulai simpati dgn cewek angkuh tersebut. Sampai akhirnya saya berharap kalau Leo akan memberikan sebagian perasaannya pada Felice.

Tokoh favorit saya adalah Marla. Sikapnya dewasa dan selalu tenang. Entah bagaimana rasanya jika saya jadi Marla dan menemukan sketsa perempuan yang digambar pacar saya justru adalah orang lain, bukan diri saya. Kecewa dan sakit hati pasti terjadi. Tapi Marla dengan ketidak posesifannya membiarkan Leo menentukan pilihan. Untungnya, penulis masih cukup bijaksana dengan mempertemukan Marla dengan sosok James Calvert. Meski tidak diceritakan banyak, tapi sosok James cukup mengundang rasa penasaran saya. Seperti apa orangnya? baik kah dia? apa mungkin dia jatuh cinta pada Marla?

Gaya menulisnya kurang lebih seperti novel Menunggu. Bahasanya halus, sederhana tapi ngena. Potongan puisi di ending cerita membuat saya jatuh cinta. Waktu untuk membaca Roma memang lebih lama dibanding Menunggu. Selain karena tebal, Roma bukan tipe bacaan sekali lahap. Ditunda dulu pun tak apa2, dilanjutkan lagi sambil minum teh panas sore-sore rasanya cocok. Dan saya akan menunggu novel selanjutnya dari penulis.

Pagi telah menjadi awal. Aku hanya ingin mencoba. Menjadi cinta yang paling berarti bagimu.
Profile Image for Awal Hidayat.
195 reviews35 followers
June 8, 2014
"Kita tidak bisa menggunakan satu alasan hanya untuk mengorbankan kepentingan orang lain, Felice. Satu keburukan tidak pernah pantas untuk mengalahkan sepuluh kebaikan. Kamu mesti pikirkan itu." - Tenny.

"Suatu hari. Suatu waktu. Ketika kita dipertemukan kembali, tanyakan kepada hati; apakah kita akan mengulang cerita lalu atau mengisinya dengan yang baru?"

"Setiap orang punya ruang dan tempat tersendiri. Mereka yang pergi dan datang, tak akan pernah bisa saling menggantikan."

"Di antara remang cahaya senja, kutemukan bayanganmu. Pertandakah kau memenuhi janjimu untuk bersamaku malam ini?"

"Setiap orang tidak berubah tanpa motif. Sikap adalah manifestasi dari perasaan."

"Felice, kamu tahu kenapa kita membenci seseorang? Sering kali karena kita menaruh cinta yang begitu besar dan lupa akan risiko dikecewakan. Padahal, cinta menerima segalanya. Cinta adalah tentang kekurangan dan kelebihan.
Coba buat kasus yang berbeda. Seandainya orang yang melakukan kebohongan itu bukan Leo, melainkan orang lain. Kamu tidak akan semarah dan sebenci ini padanya.
Banyak orang yang bilang ada perbedaan yang tipis antara benci dan cinta. Dan yang menyekat keduanya hanyalah perasaan tak mau memaafkan."

"Kau mengucapkan, aku mencintaimu. Sudah tepatkah kalimatmu? Jangan buru-buru mengungkapkan, apalagi menyudahi. Biarkan aku mengeja kata-katamu seperti senja menenggelamkan matahari perlahan-lahan. Karena pada akhirnya. . . aku akan menjawab dengan kata yang sama."
Profile Image for Ruth Munthe.
203 reviews159 followers
June 25, 2013
Roma: Con Amore
By Robin Wijaya

Penulis cowok sebenarnya nggak masalah ya buatku. Soalnya aku suka sama tulisan Nicholas Sparks. Dan novel yg tebal merupakan salah satu kriteriaku untuk membaca sebuah buku. Karena dg. ketebalan aku mengharapkan kepuasan dari ceritanya.

But here, i've got nothing. For the sake of God, i've tried to like this novel because it's a #STPC serial. But i can't lie.

Poin utama yg aku nggak suka adalah aku nggak ngerasa tokoh-tokoh yg ada didalam novel ini spesial dan pantas untuk diceritakan. Dan bahkan aku nggak suka sama Tokoh Leo dan Felice sbg. pemeran utama disini. And dont ask me why, just read it.

Poin lainnya? Eugh! Peuhlisss, dont make me say it. Lempeng banget. Ah udah deh!

1 bintang karena novelnya tebal.
1 bintang lagi karena ini serial #STPC.
Profile Image for Kitty Wibisono.
211 reviews5 followers
January 20, 2018
Buku ini membawa kita pada kehidupan seorang pelukis Indonesia yang tinggal di kota Roma, Leonardo Halim dan pertemuan tak terduganya dengan seorang pegawai KBRI bernama Felice Patricia. Keduanya bertemu di sebuah galeri lukisan di kota Roma. Pertemuan tak terduga itu kembali terulang di Bali ketika Felice terpaksa kembali ke tanah air untuk menghadiri pernikahan kakaknya dan Leo pun sedang mengadakan pameran lukisan di sana.


Jika dalam pertemuan pertama Leo dan Felice lebih banyak hal-hal yang tidak mengenakkan, pertemuan kedua di Bali justru berkebalikan. Leo dan Felice banyak menghabiskan waktu bersama-sama. Bahkan Felice berkesempatan melihat kesibukan Leo melukis. Sayangnya kedekatan yang mulai terjalin itu terputus, karena mereka kembali berpisah tanpa sempat saling berpamitan.


Seolah sudah ditakdirkan, beberapa bulan kemudian Leo dan Felice kembali dipertemukan di Roma. Kali ini mereka sadar akan perasaan masing-masing yang mulai tumbuh. Di saat hubungan mereka mulai terjalin lebih, mereka justru teringat akan status masing-masing yang sebelumnya tidak pernah mereka bahas: keduanya sudah punya pacar! Leo berpacaran dengan Marla, sedangkan Felice sendiri memiliki kekasih seorang pesepak bola.


Sebenarnya agak miris juga sih melihatnya. Bagaimana tidak? Felice jelas-jelas menentang hubungan mamanya dengan seorang pria yang sudah berkeluarga. Ia tak sudi sang mama menjadi orang ketiga yang merusak rumah tangga orang. Tapi lihatlah! Dia sendiri pun justru menjadi orang ketiga dalam hubungan Leo dan Marla! ~.~"


Terlepas dari isu perselingkuhan, novel ini cukup menyenangkan karena membawa kita menjelajahi keindahan kota Roma. Quote manis pun bertebaran di mana-mana, lengkap dengan beberapa ilustrasi pemanis kisah.
Profile Image for Wini Agnia.
53 reviews
August 4, 2025
Cerita tentang kisah Felice bertemu Leo seorang pelukis di Roma, merek dipertemukan karena adanya kesalahan pengiriman lukisan hingga akhirnya mereka bertemu kembali di Denpasar. Saat itu Felice memiliki masalah dengan Mama nya kemudia Leo hadir menemani kesedihannya. Mereka bertemu kembali di Roma, dan hubungan mereka semakin dekat. Kemudian ada konflik (tapi nanti aku jelasin sambil ngasih opini) dan endingnya mereka bersama.

Kesalahan fatal dari novel ini adalah, menceritakan kisah cinta perselingkuhan. please don't romanticize perselingkuhan walaupun secuil pun. Disini dijelaslakan kalau Felice memiliki pacar tapi memiliki kesibukan sehingga tidak ada waktu untuk Felice, walaupun di ending pacar Felice ini ternyata juga berselingkuh, tapi sebelum mereka putus, Felice banyak menghabiskan waktu dengan Leo. Felice pun sadar ada sebuah perasaan yang ia rasakan bersama Leo, bahkan mengakui ada rasa nyaman itu yang tidak ia rasakan saat bersama pacarnya. Itu udah aneh ya, kemudian ternyata Leo pun juga sudah punya pacar, dan pacarnya mengikhlaskan Leo dengan Felice dengan sabar? (cuy aku kalo jadi marla (pacar Leo) ngelabrak dan maki2 dulu baru mutusin) 😭 sama seperti yang dilakukan Felice kepada pacarnya itu. Dan lebih anehnya lagi, Felice playing fictim banget, dia marah besar kalau ternyata Leo udah punya pacar? eh felice lu sadar ga sih lu juga selingkuh?? kocak lu berdua.

ceritanya emang kocak, walaupun penulisan robin wijaya cukup bagus, ia menceritakan tidak bertele-tele, menjeskan setting lokasi dengan detail, tapi kalo ceritanya normalize perselingkuhan huft sorry banget gasuka.

baru kali ini baca novel kisah cinta pov orang selingkuh deh keknya😩
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Khuliqat Aqna.
70 reviews23 followers
June 15, 2013
"Setiap orang punya ruang dan tempat tersendiri. Mereka yang pergi dan datang tak akan pernah bisa saling menggantikan"
— Robin Wijaya

Novel berjudul Roma yang ditulis oleh Robin Wijaya ini tentu berlatarkan di Kota Tujuh Bukit tersebut. Mereka bertemu untuk pertama kalinya di Roma. Saat itu, Leonardo Halim -pelukis muda berbakat asal Indonesia- mengadakan pameran di sebuah galeri dan berhasil menjual salah satu lukisannya kepada seorang diplomat di KBRI. Felice Patricia, pegawai KBRI, ditugaskan untuk menelusuri lukisan yang terlambat dikirimkan. Ternyata, ia memang telah salah memberikan alamat tujuan pengiriman. Bukan alamat KBRI, melainkan pengurus Perhimpunan Pelajar Indonesia di Roma. Kendati tingkah Felice menyebalkan, diam-diam perempuan itu telah menyusup ke dalam memori Leonardo.

Mereka bertemu kembali ketika Leo ikut pameran seni di Denpasar, Bali. Saat yang sama, Felice berada di Denpasar untuk menghadiri pernikahan kakak satu-satunya, Anna. Ia datang demi kakaknya meskipun sebenarnya enggan karena mesti bertemu dengan ibunya. Ibunya menjadi salah satu alasan bagi Felice untuk bekerja di KBRI Roma. Setelah ayah Felice meninggal karena kecelakaan, ibunya membangun serangkaian hubungan asmara dan berakhir dengan seorang lelaki yang sedang terikat pernikahan. Felice marah kepada ibunya dan menunjukkan sikap permusuhan yang tidak ditutup-tutupinya.

Pertemuan di Bali menciptakan kebersamaan selama dua hari. Tapi, perpisahan pun terjadi, dan Felice kembali ke Roma tanpa sempat pamit. Leo memang sedang sibuk dengan rencana mengadakan pameran seni di beberapa negara Eropa.

Akankah mereka bertemu kembali? Sudah bisa dipastikan. Setelah Leo kembali ke Roma untuk terlibat pameran bersama dengan seniman Eropa, ia mencari Felice. Maka, sekali lagi, mereka menghabiskan waktu bersama, menjelajah Roma dan wilayah kantongnya, Vatikan. Bersama mereka kita akan pergi ke tempat-tempat kunjungan wisata seperti Colosseum, komplek Capitolini dengan lapangan luas Piazza del Campidoglio, dan Trevi Fountain. Kita juga akan menyaksikan Roma yang tanpa pencakar langit dari ketinggian Spanish Steps. Dan dari sana, kita akan berkunjung ke Saint Peter's Basilica untuk menemukan perfeksionisme Michaelangelo, seniman yang dikagumi Leo, di lelangit Sistine Chapel. Seiring dengan itu, kita pun tahu, cinta telah menyusup ke dalam relung-relung hati sejoli itu.

Roma karya Robin Wijaya adalah novel kedua dari seri Setiap Tempat Punya Cerita -proyek kolaborasi GagasMedia dan Bukune- yang diterbitkan GagasMedia. Sebelumnya, GagasMedia telah menerbitkan Paris karya Prisca Primasari. Sebagaimana Paris, Roma pun mengusung tema generik yang sampai saat ini belum lapuk digerus waktu: romansa.

Tanpa konflik, romansa tidak akan memberikan sengatan yang signifikan. Maka, pengarang memunculkan konflik yang lahir dari ketidakterbukaan. Leo sedang menjalin hubungan cinta dengan Marla, gadis pembuat hiasan kaca patri. Felice pun terikat dengan Franco, lelaki Italia yang tengah mengejar karier sebagai footballer. Maka, ketika Marla menyusul Leo ke Roma, kemarahan Felice pun tersulut. Ia merasa, Leo tidak bersikap jujur kepadanya. Sungguh menggelikan jika mengingat dirinya sendiri pun tidak jujur kepada Leo mengenai hubungannya dengan Franco.

Perselingkuhan dan kerelaan melepaskan dijadikan Robin sebagai solusi dari problematika asmara Leo dan Felice. Tidak ada yang mengejutkan, karena penyelesaian kisah dalam novel ini hanya merupakan repetisi dari penyelesaian berbagai konflik dalam novel romansa yang pernah diterbitkan.

Marla menjadi karakter yang mendatangkan simpati lantaran berani mengambil keputusan secara realistis.

Tak ada yang lebih membuatmu bahagia selain mengetahui cinta datang dan diberikan kepada orang yang tepat. Namun, jika kenyataan berkata sebaliknya, mungkin kamu hanya perlu bersiap untuk melepas dan merelakannya (hlm. 332).

Ada kejutan yang disiapkan Robin bagi Marla. Tapi karena tidak disiapkan dengan baik sejak awal, tidak memberikan dampak yang menggigit.

Jujur saja, pengkarakterisasian Felice terasa mengganggu. Ia diperkenalkan kepada pembaca pertama kali sebagai karakter yang kurang simpatik. Lalu, seiring perguliran plot, karakternya tetap tidak bisa memunculkan simpati, apalagi ketika ia bersikap sok suci merespons ketidakterbukaan Leo. Ia pun menjadi autokatalisator bagi runtuhnya hubungan cintanya dengan Franco. Seperti pengakuan Franco, Felice tidak pernah bersikap perhatian kepadanya. Saya mendapat kesan, Franco hanya merupakan piala kemenangannya, bisa mendapatkan kekasih seorang lelaki Italia. Sampai novel berakhir, Felice tidak pernah menyadari ketimpangan perilakunya. Dan Robin sebagai pengarang, seakan-akan menafikannya.

Leo adalah karakter yang menyenangkan sampai Felice bersikap memusuhinya. Ia mewarisi bakat melukis dari mendiang kakeknya, dan memiliki ketertarikan yang mencolok dalam memindahkan wujud perempuan ke atas kanvas. Setiap kali mengadakan pameran, ia akan menyertakan The Lady, lukisan perempuan yang sedang berdiri bergeming dengan latar gereja Saint Agnes di Piazza Navona. Ia tidak pernah berniat menjual lukisan itu karena ternyata memiliki nilai sejarah yang penting terkait pilihan kariernya. Sayangnya, selain kakek yang disinggung beberapa kali, Leo benar-benar hadir sebatang kara. Tidak ada penjelasan mengenai keluarga dekatnya, siapa orangtuanya, dan apakah ia mempunyai saudara kandung atau tidak.

Robin tampaknya berhasil mengadakan riset untuk menghidupkan Roma dan segala hal yang berkaitan dengan kota itu. Tidak hanya menyebut tempat-tempat tertentu di sana, ia juga mengimbuhkan hal-hal seperti masakan Italia dan bahasanya dalam percakapan para karakter. Hal ini mau tak mau meningkatkan kepercayaan pembaca terhadap tulisannya. Selain itu, meskipun tidak terlalu gamblang, Robin bisa memberi gambaran mengenai dunia melukis dengan cukup baik. Ilustrasi karya Ayu Laksmi melengkapi apa yang mau disampaikan Robin.

So, about the book.

Covernya oke. Meskipun itu udah gak aneh lagi mengingat cover novel-novel gagasmedia ga pernah ada yang mengecewakanku (sejauh ini). Whoa, gagasmedia emang punya kru yang keren :) Warna covernya adem walaupun sebenarnya sih agak sendu-sendu gimana gitu ya.

Novel ini penuh dengan quote-quote sederhana yang menyentuh. Yah, Robin emang seorang pemulung quote dan di akun twitter mau pun facebooknya pun selalu banjir sama quote-quote cantik. Jadi, ga heran kok kalo novel ini dipenuhi quote-quote menyentuh :D

3 Stars !
Profile Image for Venus Amru.
42 reviews
July 19, 2022
[READ IN JUNE 2022]
ROMA : CON AMORE
“Orang bilang, setiap seniman menyelipkan perasaan dan cerita tentang dirinya dalam setiap karya yang dibuatnya."

Leonardo Halim, seniman muda Indonesia yang mempunyai karya-karya masterpiece seperti Da Vinci, Rembrandt, Renoir, dan kawan-kawan. Juga bermimpi untuk bisa menggelar pameran seni nya di Luar Negeri. Pameran-pameran seni ia lalui, cerita dimulai dengan perisitiwa lukisan ‘Tedak Sinten’ karyanya yang mejadi titik awal ia bertemu, seorang perempuan berkebangsaan Indonesia, Felice.

Felice, bekerja di Kedutaan Besar Indonesia di Roma sebagai asisten atasannya, ia diminta untuk perg ikembali ke galeri Giovanni, karena kesalahan pengiriman lukisan yang baru saja atasanya beli dari galeri tersebut yaitu ‘Tedak Sinten’. Namun siapa sangka? Kesalahan tersebut rupanya menjadi benang merah antara ia dan juga pelukis dari lukisan itu.
Buku ini punya cerita yang menarikk bangeett, dimulai dari penggambaran kota Roma, yang menjadi latar kisah cerita di buku ini. Penggambaran kota Roma dan juga tempat-tempat indah digambarkan dengan sangaat indah!

Selain itu, menurutku jalan cerita di buku ini gak kalah menarik, buku ini membahas tentang ‘art’, keluarga dan rumah, juga tentang cinta. Kisah cinta yang ruwet sekaligus bikin banyak-banyak emosi, sedih, dan senang…. banyak banget kata-kata tentang ‘cinta’ yang bikin ngerasa “Oh ya… benar juga” atau “KOOK RELATEE??!!!” AHAHAHAHAAH, pokoknya haus deh baca series STPC yang Roma iniii!!!
Profile Image for Kell Natalia.
710 reviews
June 20, 2020
Actually 2.5 stars

It was rather boring and unsatisfying at first. However it got better in the end, it was like a puzzle pieces finally fitted together. But there was lots of downsides from this book.
1. They talked a lot about football and I seriously hate it, I almost fell asleep several times 😴
2. the main couple cheated on each other’s lovers without even feeling guilty (this book seriously had emotional problems).
3. The conflict also felt flat and dull , I didn’t feel like it was such a big deal, only the character was overreacting.
4. most of of the events are not even in Rome but in other city in Italy or in Indonesia (I don’t want to know anything else about Indonesia 🙄🙄). Even halfway through the book, there was nothing special about Rome. I think there was more about Bali than Rome 🙄
5. When it came to the part about touring Rome, it was so short and quick, even less than when the author prattled in and on and on about football and art 🙄 I mean seriously, I bought this to know more about the CITY of Rome, not Bali, and definitely not about Italian’s football team🙄(too many unimportant gibberish).
Overall this book was a 50/50, well because it only gets better toward the end.
Profile Image for Sonia.
16 reviews
June 4, 2023
Warning! Spoiler!

Aku merasa aku nggak terlalu bersimpati sama kisah di buku ini. Ini kan ceritanya slight cheating (or indeed a cheating). Dibandingkan merasa simpati sama kisah pasangan utamanya yaitu Felice dan Leo. I can say Leo is such a jerk. Aku lebih simpati sama kisah Leo dan Marla. How can Leo cheating on Marla, she knows Leo so well, she helps him since day one, yet Leo never let her to fill his heart, udah gitu Marla masih mau-maunya lagi berteman dekat dengan Leo dan bahkan Felice. If I were her I would rather to stay away from someone who cheating oh me and never respect my existence.

Entah mungkin karena ini cerita yg diterbitkan tahun 2009-an which is sudah lawas, makanya nggak relate sama perubahan jaman sekarang, soalnya dari segi premis cerita sih biasa aja dan monoton.

Bagusnya cerita ini itu bagaimana penulis dapat meracik kalimat dengan sangat baik dan indah, serta deskripsi Roma yang begitu detail. Namun, karena aku udah terlanjur mengangkat alis sejak Felice pertama muncul sebagai orang yang menyebalkan, membuatku akhirnya nggak terlalu put my heart on this book, apalagi aku pikir porsi narasinya sepertinya lebih banyak dibandingkan dialognya yang sayangnya membuatku cepat bosen. Bacanya pun sering aku skip-skip.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Hapudin.
287 reviews7 followers
November 9, 2024
Ulasan lengkap di sini: https://www.bukuhapudin.com/2024/08/r...

Pertanyaan ini dijawab oleh penulis dengan menghadirkan dua tokoh utama bernama Leo dan Felice, yang keduanya saling suka tapi sayangnya mereka sudah punya pasangan masing-masing. Pasti membingungkan. Namun lebih bikin saya kesal karena Leo dan Felice sempat-sempatnya membuat momen berduaan selama di Bali, yang kemudian dilanjutkan di kota Roma.

Jalan berdua, ngobrol soal sejarah bangunan ikonik, saling bertukar cerita, tidak membuat yang mereka lakukan jadi super romantis meskipun latarnya sekelas kota Roma yang punya vibes romantis. Saya menganggapnya mereka sedang selingkuh.
Profile Image for nasya.
821 reviews
November 26, 2023
Ceritanya lumayan page turner, banyak ngebahas tentang kesenian, terutama lukisan, walau beberapa ada yang bikin aku sedikit bingung tentang dunia perkuliahan itu. Walau sebetulnya kurang sreg dengan pertemuan Leo dan Felice, karena mereka masih sama pasangannya masing-masing... Terus yang paling menarik buatku mah konfliknya Felice sama keluarganya sih...
Profile Image for Nabila.
9 reviews1 follower
November 27, 2021
Bukunya nggak salah, ekspektasiku aja yang ketinggian.
Buat aku karakternya kurang simpatetik dan konfliknya underwhelming. Like, I thought there’s something more to happen.
Tapi nggak apa apa, yg penting sudah lunas baca buku yang sejak remaja ada di wishlist-ku ini.
12 reviews
January 3, 2024
buku pertama yang ku beli pake uang jajan sendiri, biasanya kalo mau baca novel tuh minjem dulu ke temen atau ke perpus, ironisnya buku ini sekarang ada sama mantanku wkwk mau minta bukunya ga enak wkwk
Profile Image for Nia.
486 reviews24 followers
July 6, 2017
Suka dengan puisi/quote pembuka di setiap bab nya.
Profile Image for Val.
21 reviews3 followers
September 19, 2017
belum selesai bacanya, aku suka konflik awalnya dan menurut aku leo cocok sm felice, kayak ada chemistry yg kuat dan beda dri mereka, cocok bgt dibanding sm marla
Profile Image for Sulis Peri Hutan.
1,056 reviews297 followers
August 21, 2014
Leonardo Halim adalah seniman asal Indonesia yang sudah mempunyai nama di Roma, lukisannya terkenal realis, sering mengkombinasikan dengan pamandangan dan bentuk-bentuk alam, sudut-sudut kota serta memotret manusia dengan sisi humanisnya. Salah satu masterpiece lukisannya berjudul The Lady, sebuah lukisan perempuan yang berdiri dalam diam dengan latar gereja Saint Agnes di Piazza Navano.

Sebuah insiden terjadi ketika ada pembeli yang komplain karena pesanan lukisannya tidak sampai juga, atasannya membeli salah satu masterpiece lukisan Leo yang lain, yang mempunyai nama Tedak Siten. Pihak Leo mengatakan kalau alamat yang dikirim sesuai dengan kartu nama yang diberikan perempuan tersebut tetapi dia ngotot kalau kartu nama yang diberikan adalah KBRI bukannya Perhimpunan Pelajar di Indonesia, kesalahpahaman itulah yang membawa Leo bertemu dengan Felice Patricia. Leo tidak menyangka akan bertemu dengan perempuan Indonesia yang mengesalkan di Roma, namun, bayangan perempuan itu begitu melekat padanya dan mungkin akan diingat selalu.

"Pertemuan pertama selalu membekas. Aku bermain-main dengan tanda tanya. Bertemu denganmu lagikah kelak?"

Beberapa bulan kemudian mereka bertemu kembali. Leo kembali ke Indonesia untuk mengadakan pameran lukisan di Bali sedangkan Felice kembali ke Indonesia untuk menghadiri pernikahan kakaknya, Anna. Pertemuan tak sengaja itu terjadi ketika Felice melarikan diri dari mamanya -yang membuat dia meninggalkan Indonesia, dia pergi sendirian menyusuri kota dan membawanya ke pameran lukisan dan tahu kalau ada nama Leonardo Halim di sana, karena penasaran dia pun melihat-lihat. Di pertemuan kedua hubungan mereka mulai terjalin lebih baik, banyak menghabiskan waktu bersama-sama dan Felice melihat kesibukan Leo melukis, sayangnya kedekatan yang mulai terjalin itu terputus, hanya topi baseball berlogo NY peninggalan Leo yang terbawa Felice karena mereka berpisah tanpa sempat saling berpamitan.

Beberapa bulan kemudian mereka bertemu kembali di Roma, mereka sadar akan perasaan masing-masing yang mulai tumbuh, Leo meminta Felice untuk menemaninya berkeliling Roma dengan alasan berhubungan dengan lukisannya, memintanya sebagai pemandu, bersama mereka menjelajahi kota Roma dan sekitarnya. Di saat hubungan mereka mulai terjalin lebih, mereka teringat akan status yang tidak pernah mereka bahas sebelumnya, Leo yang sudah berpacaran dengan Marla dan Felice dengan Franco yang sibuk dengan sepak bolanya.

"Mereka yang mengerjakan sesuatu dari hati, karyanya akan memiliki jiwa."

Banyak yang bilang kalau tulisan Robin Wijaya sering tak terduga, saya tidak bisa bilang banyak karena baru baca novella di buku Menunggu dan cerpennya di buku Dongeng Patah Hati, saya tidak terlalu suka dengan ceritanya di Menunggu tapi sangat suka dengan cerpennya yang mengambil tema cinta terlarang di buku Dongeng Patah Hati, berharap penulis membuat versi panjangnya, dan novel Before Us pun mengambil tema yang cukup jarang dilirik, LGBT. Dari pengalaman membaca beberapa bukunya, tulisan Robin terkesan manis dan banyak quote yang bisa ditandai di bukunya, melihat penulis pun suka mengumpulkan berbagai quote.

Untuk novel ini, saya tidak begitu merasakan romantisnya, ceritanya memang manis tapi tidak ada bagian yang berkesan banget. Entahlah, rasanya ada yang kurang. Mungkin karena di awal penulis menyorot kehidupan Leo dan Felice secara terpisah, menceritakan bagian Leo sendiri kemudian baru bagian Felice, di awal pun mereka cuma bertemu sebentar, baru setelah di Bali interaksi mereka cukup banyak jadi udah teralihkan dengan kehidupan mereka masing-masing, sebenarnya bagian mereka berkeliling Roma cukup romatis tapi terlalu tergesa-gesa jadi berasa lewat saja.

Buku ini bercerita tentang selingkuh, walau nggak ditonjolkan banget karena sepertinya penulis lebih fokus ke hubungan Leo dan Felice, cukup mengabaikan pacar mereka masing-masing yang digambarkan tidak serius mencintai, kecuali Marla. Banyak quote yang di suguhkan penulis, di tiap bab kita bisa menikmatinya. Lewat buku ini kita tidak hanya disuguhi cerita tentang kisah cinta dua orang yang mulai tumbuh dari kejadian tidak mengenakkan tetapi kita juga dibawa berkeliling Roma, Vatikan, Bali, mengenal pelukis terkenal di dunia dan sedikit tentang sepak bola.

Buat yang mengoleksi Setiap Tempat Punya Cerita dan menyukai kota Roma, buku ini bisa menjadi pilihan.

3 sayap untuk Michelangelo.

review lengkap: http://kubikelromance.blogspot.com/20...
Profile Image for Nisa.
327 reviews18 followers
May 31, 2013
"Tidak, Leo. You just think that you're in love. But in fact, it's not!"
"I don't think, I'm in love. But I know, I'm in love! With you, Felice..."

Jelaslah ya kalo laki-laki itu ga semuanya mementingkan logika. fufufufu.

Roma: Con Amore karya kak Robin Wijaya adalah novel STPC kedua yang aku baca setelah Paris: Aline. Sebenarnya aku kepengen langsung baca novel ini dulu sebelum Paris. Tapi pas ngeliat harga novelnya yang oh-my-God-so-expensive akhirnya aku harus memasukkan novel ini ke waiting list bersama Bangkok: The Journal.

But, hei rezeki emang bisa datang kapan aja. Novel ini kebeli juga akhirnya :D

So, about the book.

Covernya oke. Meskipun itu udah ga aneh lagi mengingat cover novel-novel gagasmedia ga pernah ada yang mengecewakanku (sejauh ini). Whoa, gagasmedia emang punya kru yang keren banget :) Warna covernya adem walaupun sebenarnya sih agak sendu-sendu gimana gitu ya. Tapi, sesuai kok sama isi novelnya hihi :P

Novel ini penuh dengan quote-quote sederhana yang menyentuh. Yah, kak Robin emang seorang pemulung quote (ada di profil halaman paling belakang) dan di akun twitter mau pun facebooknya pun selalu banjir sama quote-quote cantik. Jadi, ga heran kok kalo novel ini dipenuhi quote-quote menyentuh :D

Dari halaman pertama sampe Felice pulang ke Indonesia itu sebenarnya agak boring buatku. Rada males aja gitu karena belum masuk ke inti cerita. Terlalu banyak tell sih emang, tapi menurutku itu fine-fine aja. Pasti akan jadi sangat panjang kalo setiap bagian harus di show :) but, I enjoy it.

Pangeran di dalam novel ini bernama Leonardo Halim. Maestro dari Indonesia yang mengidolakan Michelangelo. Dan, Felice diberi kehormatan menjadi 'permaisuri' di sini. Oh, tentu saja pangeran dan permaisuri ini punya jalan cinta yang unik. Perjalanan yang menurutku, ehm, sedikit menyebalkan.

Kenapa?



Aniwey, plotnya berjalan lancar. Mengalir seperti air. Penokohannya juga bagus, tidak terlalu kuat tapi ga terlalu lemah juga. Chemistry antara Leonardo dan Felice lebih terasa daripada Sena dan Aline di novel Paris. Tapi bukan berarti novel Paris jelek lho. Hanya lebih terasa pada Leonardo dan Felice :D Penjelasan mengenai latar kejadian juga alhamdulilah yah ga ngebingungin huehehe sekalian 'mengajak' aku keliling Roma juga :)

Ngemeng-ngemeng nih kenapa sih dialog antar tokohnya kok baku kak Robin? Kenapa ga dibikin euh lebih biasa kayak orang-orang Indonesia ngobrol? Kalo misalkan panggilannya 'saya-kamu' sih ga masalah. Tapi yah...

Intinya, aku suka novel ini. Terlepas dari dialog yang baku, aku menikmati Roma pada novel ini. Oh ya, aku juga berterima kasih kak Robin sudah menciptakan seorang wanita tangguh seperti Marla :) suatu hari aku harus seperti dia. Yang punya hati lapang, pikiran dewasa, dan tau kapan dia harus mundur dari kehidupan orang lain :')

Merelakan orang yang dicintai untuk orang lain itu sakit lho. Tapi yah, inget-inget aja deh kalo orang yang tertulis di hatimu belum tentu tertulis di buku nikahmu (ayey!)

Tambahan aja nih. Aku lebih suka sama proyek STPC gagas daripada Gagas duet sebelum ini. Ga berarti gagas duet jelek juga, cuma kan kalo dua penulis yang punya gaya penulisan berbeda di dalam satu buku itu rasanya..., ga sreg aja gitu. Apalagi STPC ini di setiap novel ada post card nya :D tambah keren aja nih gagas haha

Yah, jadi begitulah review dariku mengenai Roma: Con Amore. Novel ini lebih bagus daripada novel kak Robin yang Before Us. Lebih bagus. Artinya, Before Us udah bagus kan?

Betewe, ada dua quote yang aku suka dari novel ini.

Pertama,

Ada sesuatu yang mengganggu hatiku ketika kita bertemu. Aku melihat bayangan dia, tersimpan di balik tatapanmu


So deep. I know.

Kedua,

Rindu yang Tuhan ciptakan, adalah jarak terdekat di antara perpisahan


Ooooooh. So sweet :*

So, waktunya 'terbang' ke Bangkok :D catch ya later!


♥Best Regards♥

P.S!
Waktu menulis ini, aku belum tau apa itu artinya Con Amore. Jadi, aku buka deh google translate dan mengetik Con Amore di sana. Ternyata artinya itu....







Profile Image for iszamani.
4 reviews
November 29, 2013
Pengarang : Robin Wijaya
Halaman : x + 374
Tebal : 13 x 19 cm
Kategori : Romance
Penerbit : GagasMedia
Seri : #STPC

Roma, banyak jalan menuju Roma. Nah, dalam novel Robin kali ini adalah Seri Setiap Tempat Punya Cerita. Lokai-lokasi yang dituju diberbagai negara. Silahkan melengkapi #STPC terus pinjemin ke saya ya hehehe.
Lanjut, nah kisah ini tentang Leonardo Halim yang merupakan seorang pelukis. Mendengar namanya tentu kalian akan berpikiran bahwa yang memberi nama tersebut (kakeknya) menginginkan Leo seperti Leonardo da Vinci, ternyata dugaan kalian salah. Leo tidak mengidolakan sang maestro tersebut, namun seseorang yang lain, Michelangelo.
Dimulailah kisah Leo yang mengikuti pameran di Italia, ada satu lukisan yang tidak akan dijualnya. Ketika Leo dan kekasihnya Marla di pantry yang memberitahukan bahwa ada seseorang yang ingin membeli lukisan Leo. Leo khawatir jika lukisan "The Lady-nya" yang dimaksud ternyata salah.
Tedak sinten, itulah lukisan yang dibeli oleh seorang pejabat di KBRI Italia sebagai ungkapan rasa rindunya pada tanah air. Sayangnya dari lukisan itu menimbulkan masalah, Felice sebagai karyawan menghubungi galeri tempatnya membeli tedak sinten, Tedak Sinten hilang. Tidak sampai di alamat yang dimaksud. Felice marah-marah di galeri, seorang yang bertugas untuk transaksi jual beli pun keukeuh bahwa ia telah mengirimkan ke alamat yang benar. Sayangnya, Felicelah yang salah dalam hal ini, perempuan itu memberikan kartu nama yang salah.

Usai pameran, Leo kembali ke Indonesia, di cerita selanjutnya tentang kisah hubungan Leo dan Marla. Waktu itu berkat Dewa sahabatnya yang di Bali, Leo mengenal Marla, perempuan perhatian, lembut, dan terlihat sabar itu menjadi kekasih Leo.

Saat ada pameran di Bali, Leo pergi menjadi salah satu peserta pameran, Marla tidak bis aikut karena ada urusan yang harus diselesikannya.
Disaat yang sama, Felice mau tak mau harus pulang ke Indonesia untuk menghadiri pernikahan kakaknya Anna. Hatinya tidak bahagia karena sang Mama yang masih memiliki hubungan dengan Benny. Papa Felice sudah meninggal.
Banyak kejadian yang mempertemukan Felice dan Leo, saat pernikahan kakaknya, Felice sempat kabur dari acara karena tidak tahan melihat laki-laki yang bernama Benny. Hari itu Felice memakai gaun pergi ke tempat pameran, bertemu dengan Leo dan mereka pun jalan-jalan berdua. Felice memakai topi softball yang diberikan Leo.

Felice pulang ke Roma, di Italia dia memiliki kekasih namanya Franco seorang pesepak bola. Franco seorang yang pandai memaikan kata-kata untuk memuji atau merayu kekasihnya.

Kemudian, Leo kembali ke Roma untuk membuat pameran lagi, dia menghubungi Felice. Rona bahagia tidak dapat dipungkiri dalam diri Felice. Seiring berjalannya waktu Felice merasakan ada rasa lain yang tumbuh dalam dirinya, kenyamanan. Di saat yang sama, Franco berubah susah dihubungi, mungkin karena pertandingan dan jadwal latihan, pikir Felice. Namun, ternyata Franco berselingkuh membuat Felice sakit hati. Dan sakit hatinya bertambah, saat di ruang gambar Leon, ketika hanya mereka berdua tiba-tiba Leo melakukan hal yang begitu romantis, daat yang bersamaan datanglah Marla, kekasih Leo.

Felice tidak mau memaafkan Leo, merasa dihianati. Tenny, sahabatnya membujuk Felice untuk menemui leo yang selalu datang untuk meminta maaf. Sayangnya, Felice enggan menemui laki-laki itu. Hingga saat pameran Leo, Marla menghapirinya dan berkata, "The Lady bukan untukku. Ada perempuan lain yang menghuni hati Leo. Dan hanya untuk dia The Lady dibuat."
"Aku pernah melihat sketsa itu dulu di Jakarta. Leo melukisnya disebuah kanvas. Ada keceriaan, ada cinta yang begitu besar. Dan mestinya, lukisan itu telah menjadi pesan untuk menggambarkan perasaan Leo yang sesungguhnya." (bagian ini sedih banget, men! Marla's team)

Kelebihan :
Penggambaran tempat begitu detail sehingga kita bisa merasakan berada di sana walau dalam angan-angan. Ada kutipan yang bikin melting tiap bab. Gambar-gambar unik dengan desain cover yuhu, bikin gregetan pas sampul hihi. Dari pnceritaan menarik, kisah yang rumit. Marla begitu tegar. Leo yang goyah. Felice yang...entahlah. Ini urusan si penulis biar pembaca yang menilai.

Kekurangan :
Secara subjektif, saya baru memahami cerita sekitar halaman 100an, mungkin saya yang kurang "ngeh" dengan alur dan cerita yang disampaikan, setelah itu baru paham-paham tentang maksud ceritanya. Tentang perasaan dalam lukisan.
Profile Image for Joue Abraham Trixie.
18 reviews
October 9, 2013
Novel karya Robin Wijaya dengan tebal buku 372 halaman mengandung sebuah cerita yang wajib untuk dibaca bagi pecinta novel. Cover yang sangat mendukung. Desain novel yang seperti surat membuat ada rasa rindu. Petualangan yang menghasilkan cinta. Ceritanya yang begitu romantis. Begitu manis dari beberapa novel Robin Wijaya sebelumnya.

Novel ini sendiri berkisah tentang cinta yang sukar bersatu. Sulit bersama. Mengingat keduanya sudah memiliki kekasih. Dengan berlatar belakang kota Roma, takdir mempertemukan mereka. Di awal cerita pembaca akan mengira bahwa Felice tidak akan pernah bersatu dengan Leo. Bahkan untuk mencintai pun sepertinya tidak mungkin. Sikap Felice yang begitu dingin terhadap Leo. Marla yang begitu mencintai Leo. Apalagi Felice sudah memiliki kekasih seorang pemain bola, Franco. Franco yang tampan, tubuh yang kekar, sikapnya yang sangat menghargai wanita membuat setiap wanita beruntung mendapatkannya. Hanya wanita bodoh yang mau melepaskan pria idaman itu. Sangat tidak mungkin ada kata cinta di antara Felice dan Leo. Sangat tidak mungkin. Namun Robin Wijaya mampu membuat mereka bersatu. Mampu membuat ada kata cinta diantara mereka. Mampu menggambarkan betapa remuk hati Felice tanpa Leo. Mampu menggambarkan betapa Leo mencintai Felice dibanding Marla.

Tokoh utama dari novel ini adalah Leo. Seorang pelukis yang bercita – cita mengadakan pameran tunggal miliknya sendiri. Sosok Leo digambarkan memiliki semangat yang pantang menyerah. Tekun. Merangkak dari bawah demi sebuah kesuksesan. Ia berhasil ikut memamerkan karyanya di Roma. Leo rela tidak makan demi menyelesaikan lukisannya. Rela tidak keluar dari bengkel kerjanya seharian hanya untuk sebuah lukisan. Memang hanya lukisan. Tapi berbeda bagi Leo. Baginya, lukisan sangat berarti ketimbang isi perutnya. Bahkan Leo tidur di bengkel kerjanya dengan tangan memegang kuas yang sudah mengering. Felice sendiri adalah seorang karyawan yang bekerja di KBRI, kedutaan Indonesia di Roma. Digambarkan memiliki sikap tak mau kalah. Tergambar jelas saat kejadian tertukarnya lukisan karya Leo dengan judul Tedak Siten. Felice juga orang yang sangat tegar dalam menghadapi masalah. Bertubi – tubi masalah menghampiri dia. Dia tetap terlihat tegar dan selalu kuat. Masih banyak juga tokoh lainnya seperti Tenny yang selalu setia mendampingi Felice menghadapi itu semua, Franco yang memukau, Andre yang selalu perang dengan Franco, Anna yang selalu mengasihi Felice meski terbentang jarak yang jauh, Marla yang juga tegar ketika mengetahui ada perempuan lain di hati Leo, dan masih banyak tokoh lainnya.

Masalah yang ada juga bukan hanya kisah percintaan antara Felice dengan Leo. Masalah keluarga Felice yang sangat emosional tetap menjadi musuh bagi Felice. Pengkhianatan Franco pada Felice juga membuat Felice remuk. Marla datang tiba – tiba dan memeluk Leo menjadi serangan terakhir bagi Felice. Tapi Felice tetap bangkit.

Gaya bahasa yang digunakan juga cukup baik. Ada beberapa kata yang digunakan dalam Bahasa Italia. Meski begitu pembaca dapat membaca arti dari kalimat berbahasa Italia yang disampaikan melalui kalimat terbawah. Membuat pembaca masuk ke dalam cerita dengan latar Roma. Berbeda dengan Before Us, sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang ketiga sebagai pengamat. Novel ini menggunakan alur maju. Yang membuat pembaca selalu bertanya akankah Leo dan Felice bersatu meski banyak sekali penghalang di antara mereka.

Novel ini juga mengandung banyak sekali kutipan – kutipan tentang cinta. Seperti yang biasa ditemukan pada novel – novel Robin Wijaya terdahulu yang menjadi ciri khas Robin senidiri. Pesan yang disampaikan juga banyak. Perjuangan yang sangat berat bagi Leo untuk mengadakan pameran tunggalnya sendiri. Usaha kerasnya membuahkan hasil. Tegarnya sikap Marla saat merelakan Leo bagi Felice. Itu semua adalah pesan tersirat dari penulis untuk pembaca.

Hal yang menarik dari novel ini adalah penulis mampu mengubah ketegangan antara Felice dengan Leo menjadi rasa cinta. Cinta yang begitu mendalam. Begitu tak mau kehilangan satu sama lain. Membuat mereka berdua menjadi sangat romantis. Benar – bena romantis.

4-5 Bintang untuk Roma :)
Profile Image for Yuli Pritania.
Author 24 books286 followers
April 9, 2015
Ini novel pertama Mas Robin (sok kenal) yang saya baca, juga novel pertama dari seri "Tiap Tempat Punya Cerita". Waktu itu sempat tertarik dnegan Before Us, tapi abis dapet spoiler kalo novel itu mengandung unsur gay, jadi biarkanlah saya mengurungkan niat untuk membacanya. Katakan saya kolot, tapi saya anti membaca cerita yang mengangkat tema itu.
Roma... hmmm... udah nggak bisa diitung ada berapa puluh bahkan ratusan novel yang mengambil setting di kota terkenal ini. Tapi Mas Robin bisa mengolah setiap setting dengan sangat baik, nggak peduli yg bagian Roma ataupun Indonesia. Narasi tentang penggambaran settingnya bisa membuat pembaca membayangkan dan bahkan seolah-olah berada disana. Ini salah satu syarat menjadi author yang baik menurut saya. Orang nggak perlu kesana dulu untuk tahu bagaimana suasananya.
Karena saya pecinta narasi daripada dialog, novel ini adalah sesuatu yang sangat memuaskan. Narasinya 'hangat', sampai ke pembaca dengan pemilihan kata2 yang nggak basi. Setelah membaca novel ini, salah satu kata yang akan terlintas pastilah 'manis'.
Penggambaran karakter cukup kuat, tapi saya ngerasa ada sesuatu yang aneh dengan sifat Felice di awal cerita dengan sifatnya di penggambaran2 berikutnya. Felice pada awalnya adalah gadis yang angkuh, sombong, jutek, nggak mau kalah, dan nggak mau nerima kritikan dan nerima fakta kalo dia itu salah. Maunya menang sendiri. Tapi di deskripsi adegan lainnya, dimulai dari Bali, kok seolah semua sifat itu tergerus hilang begitu saja? Nyaris tidak bersisa. Apa karena seorang gadis pemeran utama tidak boleh terlihat buruk di mata pembaca? Karena saya dari awal menebak-nebak bagaimana bisa pada akhirnya si Leo jatuh hati ama gadis dgn sifat ky gt? Tapi ternyata selanjutnya nggak ada yang terlalu salah dengan sifat si gadis. Hal ini sedikit menganggu buat saya.
Mengenai Franco, dari awal bhkn saya sudah menebak pria macam apa dia. Terlalu romantis dan gombal, dan Felice jenis gadis yang termakan semua rayuannya. Yang saya tidak habis pikir, setelah dikhianati Franco, Felice yang memang sudah memiliki hati pada Leo sama sekali tidak merasa patah hati. Lalu di hari yg sama, Marla datang dan merusak segalanya. Tapi kenapa Felice harus mengamuk dan menuduh Leo tidak terus terang padanya? Bukannya posisi mereka itu seri? Felice juga udah punya pacar loh, dan putusnya juga di hari yg sama dengan saat dia mengetahui keberadaan Marla. Jadi punya hak apa dia menuduh Leo tidak jujur sedangkan dia jg seperti itu? Ah, tp kembali, pengarang yg punya cerita.
Saya suka tipe2 pihak ketiga seperti Marla, salah satu alasan yang membuat saya menyukai buku ini. Tidak ada adegan dimana kedua wanita memperebutkan tokoh utama. Tidak ada adegan Marla mencaci maki Felice lalu melakukan segala tindak kejahatan yg dia bisa untuk mempertahankan Leo. Formula ini cukup umum dijadikan konflik dalam cerita romance. Bersyukur Mas Robin tidak memakai rumus serupa.
Saya suka sekali pada adegan akhir dimana Marla mendapatkan surat dari James, tersenyum saat membaca isinya yg sederhana tapi manis. Hanya saja akan lebih baik jika pengarang dari awal memperlihatkan atau setidaknya memberikan satu penggambaran singkat tentang ketertarikan James terhadap Marla. Karena kesannya, kl di akhir tiba2 begitu, kok rada aneh dan maksa. Seenggaknya narasi singkat bahwa James melihat Marla sbg gadis yang menarik. Atau saya yang melewatkannya begitu saja? Entahlah.
Tapi tetap, ini novel yang bagus. Kayaknya novel Indonesia yang akhir2 ini saya puji berasal dari karya seorang pria. Haha.
Profile Image for Diyah Hasanah.
69 reviews5 followers
December 9, 2015
"Leo tidak akan menjual lukisan itu."


Aku tidak tahu harus mulai dari mana. ROMA benar-benar berkesan untukku. Pertama karena tulisannya yang mengalir yang membuatku sampai lupa waktu. Kedua karena meskipun aku tidak begitu menyukai konsep di ROMA, aku juga tidak bisa dibilang membencinya. ROMA bercerita tentang seniman bernama Leonardo Halim dan Felice. Pertemuan mereka berawal ketika Felice salah memberikan alamat pengiriman lukisan Leo ke Gallery. Tingkah Felice yang memang unik mengusik perasaan Leo kala itu, tapi tak ada yang menyadari sampai semuanya terlihat seperti kebohongan belaka.

"Kita menggantung kata perpisahan. Diam-diam menaruh harapan dan keinginan untuk dipertemukan lagi kelak."


Ada orang yang percaya dengan kebetulan, ada orang yang percaya dengan takdir, dan ada orang yang percaya dengan sebab dan akibat, kalau aku percaya itu direncanakan, oleh penulisnya. Pertemuan Leo dan Felice tidak berhenti sampai di situ, mereka dipertemukan lagi di Bali ketika Felice pulang untuk menghadiri pernikahan kakaknya. Sementara Leo sedang berpartisipasi di pameran bersama teman-temannya. Pertemuan Leo dan Felice di Roma mungkin bukan pertemuan yang baik, tapi kecanggungan diantara mereka teruraikan begitu mereka meninggalkan Roma.

"Adakah lagi jarak yang membatasi kita, ketika kau membagi cerita dan membiarkanku tahu segala tentangmu?"


Mereka mengobrol kemudian berteman kemudian jatuh cinta. Tapi hal yang aku khawatirkan sejak awal membaca novel ini tidaklah hilang, hanya disimpan untuk akhirnya dilemparkan kemudian.

Konsep jatuh cinta di ROMA bukan salah satu dari tema favoritku, aku justru lebih ke arah membencinya. Karena setiap aku mendukung pemeran utama aku selalu merasa bersalah dengan karakter yang lainnya. Dan aku tidak mau merasa bersalah atas sesuatu seperti itu, rasanya aneh. Aku ngga jelas ya? Abis aku ngga bisa cerita lebih banyak, takut malah jadi spoiler.

Terus yang bikin aneh lagi itu percakapannya, mereka terlalu kaku! Bukan, bukan kaku. Percakapannya seolah menjunjung tinggi cara berbahasa yang baik dan benar, tidak terkesan seperti ketika orang Indonesia berbicara, rasanya jadi kayak buku terjemahan bukan buku lokal.

Aku juga sebenarnya ngga suka peran Leo di konflik klimaksnya, dia seolah diam dan membiarkan orang lain yang menyelesaikan. Juga dia seolah tidak peduli terhadap ... yah pokoknya ada lah, padalah dia yang bikin masalah itu ada, padahal dia yang nyakitin. ckck. Dan Felice juga, aku berani bertaruh kalau aja karakter lain ngga mengalah pasti dia tetep ngga akan mundur. Dia agak egois sih menurutku.Terus si Franco dan Andrea itu bikin kaget, sayang banget kalau harus ditutup seperti itu, Italian menjunjung tinggi keluarga padahal katanya.

Tapi aku suka preface di bawah setiap judul Bab, kadang yang aku tunggu itu. Banyak kata-kata berkesan juga, karakter pendampingnya bijak-bijak ya di ROMA, padahal karakter utamanya aja ngga terlalu. Seperti kata Tenny "Cinta adalah kekurangan dan kelebihan."

Jadi sebenarnya yang bikin aku suka sama buku ini ya, tulisannya, syahdu gitu bawaannya. Hha. Aku jadi kepingin baca tulisannya Robin Wijaya yang lain.

"I don't think I'm in love. But I know, I'm in love! With you,"
Displaying 1 - 30 of 113 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.