Tadinya, musim panas selalu muram. Lalu, dia datang dengan senyumnya yang indah. ketika waktu mendamba detik-detik yang hangat dari matanya. Entah bagaimana, hati Katya begitu dingin ketika menepis uluran tangan dari laki-laki itu.
Kesepian pun menghantamnya. Sepanjang La Rambla, angin menepi. Sayap-sayapnya membawa Katya menari di antara pilar-pilar Gothic Quarter yang sunyi. Membangkitkan rindu kepadanya, seperti ombak kepada pantai yang menunggu.
Maka, di sinilah Katya berada kini. Menyambut genggaman tangannya. Di Place de Catalunya, tempat merpati bercengkerama. Ketika matahari menyinari Barcelona. Dia bagai musim panas yang begitu indah.
Born in Bandung, and loves the city so much. Leave his career as a journalist, to be immersed in the world of fiction writing. Happy if she was in the middle of a pile of books and upset if she could not write in a day.
Her first novel, Selamanya Cinta, published in February 2012, was nominated as Best Newcomer Novel on Tulis Nusantara 2012 competition which held by Indonesian Ministry of Tourism and Creative Economy.
When she wasn't writing, she spends her spare time for traveling and photography.
4 bintang untuk bikin saya jatuh cinta dan makin semangat nulis, satu bintang jatuh (?) untuk beberapa kesalahan teknis yang agak mengganggu.
Karena lagi agak buru-buru, saya mau nulisin apa yang sekarang ada di otak saya aja. Gak pingin detail-detail banget, intinya aja.
Jujur, motivasi saya beli novel ini adalah karena tema yang sedikit banyak mirip dengan cerita yang sedang saya tulis. Plus, setting-nya Barcelona, kota yang termasuk langka dijadikan latar cerita novel. Plus kuadrat, saya lagi cinta-cintanya sama Eropa. Jadi semua tentang Eropa dapat dengan mudahnya menarik hati saya. Jadi saya gak peduli mau penulisnya masih baru atau udah pro, mau review orang lain gak lebih dari bintang 3 ato bintang 5 (?), saya tetep cinta sama novel ini, novel kesayangan baru. Selamat, Mbak Enno *plokplokplok*
Okesip, yuk lanjut.
Karena saya cinta novel ini, saya omongin yang baik-baik dulu. Pertama, saya bersyukur gak ada tokoh yang terlalu fashionable, jadinya gak ada deskripsi tentang penampilan yang detailnya keterlaluan. Tahu sendiri lah, dunia fesyen itu penuh istilah yang belom ada versi Indo-nya dan kudu dicetak miring sana miring sini. Saya kurang suka dengan yang seperti itu, apalagi yang detailnya emang bener-bener dari kepala sampe kaki. Ugh, miriiiing semua. Katanya maksudnya, bukan tokoh atau yang baca, apalagi penulisnya :P Jadi saya bersyukur sekali. Padahal, Sandra dan Lucia berpotensi sekali jadi cewek yang amat-sangat-fashionable.
Kedua, tokoh-tokohnya memiliki karakter yang kuat. Khusus Sandra, Mbak Enno berhasil menguraikan karakter cewek antagonis yang haus perhatian dengan tidak sinetronistis—tahu kan istilah ini? Istilah saya untuk menyebut sesuatu yang berkesan kesinetron-sinetronan. Katya juga sama, protagonis tipikal cewek lemah dan rapuh dan mudah tertindas dan mudah diakali yang jika di sinetron pasti nada suaranya lembut, pelan, jalannya dunuk-dunuk *ini bahasa Jawa, saya bingung versi bahasa Indonesia-nya*. Tapi untungnya Mbak Enno gak terpengaruh sinetron, iya kan Mbak? Halah, sok tahu amat saya ini, hahaha. Jadi, Katya dan Sandra yang berpotensi menjadi Bawang Merah Bawang Putih (tanpa ibu tiri tapinya) tetap selamat dan berhasil menjadi diri mereka sendiri tanpa campur tangan sinetron :) *aih, gajelas bener omongan saya ini, tapi ngerti intinya kan?*
Ketiga, plotnya cukup rapi. Keempat, ilustrasinya kece badai yuhuuuu~~ Awalnya saya membayangkan ilustrasi-ilustrasi di awal bab sebagai corat-coretnya si Katya. Tapi di tengah jalan, saya merasa gak nyambung lagi dengan pemikiran itu. Jadilah saya kembali ke realita(?), bahwa ilustrasi itu adalah hasil karya ilustratornya hahaha
Kelima, gak terlalu banyak kata dicetak miring. Hm, saya suka banget kenyataan ini.
Yak, kita lanjut ke bagian kekurangan ya. Yang paling saya sayangkan adalah adanya scene atau apalah namanya yang dobel. Pingin ditukerin aja tapi kata Mbak Enno sih sayang ongkir, toh ceritanya masih nyambung. Jadi yah... dimaafkan aja lah ya, moga gak kejadian di buku lain.
Dan yang paling mengganggu nomor dua adalah kurangnya peran Manuel. Kurang adegan romantis di antara Manuel dan Katya,. Seharusnya romantis-romantisnya mereka ditambah porsinya. Sejauh ini, yang saya ingat cuma pas mereka dansa. Pas makan di restoran...? Kurang romantis! Katya terlalu kaku, harusnya Manuel bisa menaklukkan sifat kaku itu.
Menurut saya, cerita terlalu fokus pada konflik Katya-Evan-Sandra, bikin Katya-Manuel gak begitu tersorot, kecuali urusan pameran mereka. Begitukah yang penulis inginkan? Tapi sebagai pembaca, saya kan pinginnya fokusnya ke Manuel, bukan Evan :( *tendang Evan* (?)
Ending kurang greget, terkesan agak memaksa malah. Saya agak berjengit (?) pas si Katya mau balik ke Indo, ngurusin kekacauan Sandra-Evan. Kesannya kayak... "Hei, Manuel mau lo kemanain???" Trus di akhir, . Padahal sebelumnya, saya kurang mendapat kesan bahwa si Katya punya perasaan khusus sama Manuel. Kurang penekanan dan penegasan aja di bagian itu. Sayang banget.
Okesip. Lepas dari semua kekurangan itu, saya cinta novel ini! Fantastico, Signa Enno! Mi piace moltissimo! :D *bukan Spanish, lagi dikit-dikit belajar Italiano hehe xD*
Seri kedua buku Setiap Tempat Punya Cerita gagasmedia dan bukune. Bukunya sendiri udah beli dari beberapa hari yang lalu, cuma saya sengaja nungguin beli Roma dari Gagasmedia biar bacanya bisa barengan.
Baiklah, saat saya membuka buku ini dan mulai membaca saya terkagum-kagum dengan ilustrasi yg sungguh sangat menarik. Halaman depan pun diisi dengan prolog yang mengundang tanda tanya. Masuk ke bab-bab berikutnya saya baru mengetahui kalau Katya adalah seorang pelukis. Saya langsung teringat dengan sinopsis Roma yg ada disampul belakangnya, disebutkan kalau Leonardo Halim adalah pelukis muda kenamaan Indonesia. Hah? Kok bisa sama? Jangan-jangan, cerita Barcelona dan Roma ini saling berkaitan, apalagi kotanya sama-sama di eropa. Kalau benar-benar begitu, saya amat sangat kagum dengan kedua penulis dari penerbit yang berbeda ini. Tapi ternyata tidak. Barclona Te Amo dan Roma Con Amore adalah 2 novel berbeda yang berdiri sendiri-sendiri (nggak kecewa sih, cuma sempet curiga aja kalo penulisnya janjian). Tapi setelah membaca dua-duanya, saya menemukan perbedaannya kok. Dan jalan ceritanya sama sekali berbeda. Jadi soal profesinya, hanya kebetulan saja.
Kelebihan: Ceritanya tak terlalu rumit. Cukup menguras emosi terutama cara penulis membangun karakter tokoh-tokohnya yang menurut saya sangat teratur. Setting pun ditulis dengan sangat meyakinkan. Dan tentunya, saya sangat terpikat dengan eksotisnya kota Barcelona yang selama ini cuma terkenal lewat klub sepakbolanya aja.
Kekurangan: Jika dibandingkan dengan buku sebelumnya yang juga terbit dari Bukune (Last Minute in Manhattan), cerita Baercelona Te Amo ini terasa agak sedikit terburu-buru. Konflik mestinya bisa lebih padat dan dalam, meskipun sudah enak untuk diikuti. Yah sebagai pembaca, agak kurang puas sedikiiiittttt aja karena pengennya ceritanya dipanjangin lagi. But overall, saya suka cerita ini.
Semoga Kireina Enno akan mengeluarkan buku baru yang tidak kalah menarik dari novel ini.
Novel dengan alur yang rapi dan apik. Sebetulnya saya membeli buku ini lebih karena terkesan pada novel debut Mb' Kireina yang sangat manis. Saya tidak begitu suka dengan setting kota Barcelona apalagi jika ceritanya akan memaksa saya untuk mengimajinasikan seorang 'pria Spanyol' yang mengagumkan. Rasanya aneh, entah kenapa. Atau mungkin saya yang aneh?
Sebetulnya tidak ada yang salah dengan buku ini. Hanya saja tokoh-tokohnya membuat saya kesulitan menyukai mereka. Yah, Manuel Estefan memang memiliki karakter yang menarik, tapi tetap saja saya 'butuh' menyukai tokoh utama wanita untuk menikmati sebuah novel. Katya -tokoh utama dalam novel ini- terkesan berhati malaikat, saya terlalu sering menemukan karakter seperti ini di sinetron2 dan saya tak pernah menyukainya. Dan ada beberapa hal yang membuat saya membutuhkan waktu lumayan lama untuk menghabiskan novel ini.
Tapi saya tetap menyukai gaya bercerita penulis. Bagaimanapun saya akan menantikan karya2 Kireina Enno selanjutnya. Semoga bukan lagi tentang pria Barcelona.
3.5 Stars. Untuk untaian kalimat indah di kartu yang terjebak di sela buku, untuk cover yang indah dan untuk Karakter Manuel Estefan yang misterius ^^
beautiful and unpredictable story. awal membaca novel ini aku sempat bingung, loh kok dibuka sama adegan kayak gini sih. Masa sih? terus lama-lama baca, loh ketemu sama cowok kayak gini? Pasti deh endingnya sama cowok ini. Terus lama-lama baca lagi pemikiranku memang sempat goyah, dan selalu membatin 'Wah, jangan-jangan balik sama si masa lalu nih.' Hingga bab-bab akhir saya masih sempat gamang tentang endingnya, masa sih Katya nggak sama itu cowok? Kok itu cowok malah deket sama cewek lain. Tapi ya, endingnya memang si Katya sama itu cowok sih. Cerita indah di sebuah kota Indah tempat Picasso pernah lahir dan besar, Barcelona :D
Barcelona. Aku tidak mengenal kota ini. Kalau membaca buku ini aja cukup bisa menggambarkannya, aku rasa Kota ini penuh dengan seni ya??? atau memang penulis saja yang mengambil bagian seni nya tertara jelas? Setiap gambar, detail cerita dengan sangat baik Penulis gambarkan. saya suka. JAdi bisa berimajinasi seperti apa BArcelona sesungguhnya. Alur cerita tokoh nya juga ringan. Bercerita tentang 2 orang sepupu yang sama2 saling mencintai lelaki yang sama. Hanya saja Katya lebih mengalah. Kalau aku jadi dya, mana mau aku menglah untuk sepupu ku, Sandra. Tapi ada konflkik yang kurang menarik disini. Saat Lukisan hilang, baik punya Manuel dan Katya. Buat aku, benar2 bisa di tebak siapa yang mengambil dan berusaha keras mengacaukannya. Penggambaran sosok Katya yang sangat ingin membuat Sandra bahagia, hanya karena Orangtua Sandra yang selama ini merawat dan membesarkan Katya, membuat aku bener2 jengkel. Sebaik apa pun dalam dunia berbalas budi, tidak harus selebay itu sebenernya untuk berbalas budi. Sandra sendiri mungkin tokoh yang di gambarkan merupakan anak manja? yang pasti akan ada yang melindungi nya, apa pun yang dya lakukan. Salah atau benar. Ending nya menarik. Walau tidak di Jelaskan bagaimana akhirnya dan berapa lama Katya mengurus permasalahan Sandra di Indonesia, lalu tiba2 sudah di Barcelona lagi -____- Tokoh Manuel ini merupakan tokoh yang cukup menarik perhatian buat aku sendiri. Untuk yang suka membaca setiap tempat punya cerita - GagasMedia&Bukune dan ingin cerita yang renyah, aku rasa buku ini wajib kalian beli. :p Salam :)
Pertama, saya suka settingnya, Barcelona. Pasti. Karena alasan awal saya membeli novel ini karena Barcelonanya. Kebetulan, saya adalah penggemar berat club sepak bola raksasa asal Kota Barcelona, FC Barcelona sehingga saya sangat menyukai segala hal yang berbau barcelona. Ditambah lagi, saya juga pecinta novel. Jadi, saya langsung jejeritan dan ngebet pingin belin novel ini waktu tahu ada novel Indonesia yang menjadikan Barcelona sebagai latar ceritanya. Apalagi, memang jarang sekali novel Indonesia yang mengambil background di kota kelahiranya Xavi Hernandez ini, mungkin Barcelona Te Amo adalah satu-satunya. Meskipun, toh, saya sudah telah banget, mengingat novel ini sudah terbit sejak 2013 namun saya baru menemukannya tahun 2016 dan baru berkesempatan membacanya tahun 2017 setelah ubek-ubek banyak toko buku.
Kedua, saya suka dengan ilustrasi dan quote yang ada di setiap awal bab. Suka banget. Ilustrasinya indah, terasa hidup sekaligus menggambarkan betapa cantiknya Kota Barcelona. Quotenya pun menyentuh, begitu mewakili perasaan masing-masing tokoh dalam setiap babnya.
Ketiga, saya suka dengan separuh akhir dan ending dari novel ini. Benar-benar penyelesaian yang di luar ekspektasi saya, Meskipun saya rasa semua pembaca akan tahu dengan siapa Katya melabuhkan cintanya di akhir cerita tapi yang menjadi poin penting adalah bagaimana penulis menyelesaikan cerita ini dengan cara yang tidak saya bayangkan sebelumnya. Termasuk bagaimana penulis membuat dua karakter utama dalam novel ini semakin dekat dan tanpa sadar saling mencintai satu sama lain. Ahh, Mbak Kireina juga sangat romantis ketika melukiskan Estefan dan Katya yang saling mengucapkan te amo di tengah hamparan merpati di alun-alun Barcelona yang dilengkapi taman dan air mancur yang indah. So romantic.
Keempat, saya juga harus jujur. Separuh awal novel terasa cukup membosankan. Ntah kenapa, saya tidak bisa ,masuk ke dalam cerita dan merasakan gejolak emosi yang dirasakan setiap tokoh di sini. Mungkin karena alur cerita yang menurut saya berjalan cukup lambat. Mungkin juga karena saya tidak menyukai karakter Evan yang plin-plan dan Sandra yang manja di mana dua karakter ini banyak muncul di awal-awal novel, wkwkwk – alasan nggak jelas ini. Sehingga saya cukup kesulitan menikmati setiap alur yang dirangkai penulis di setengah awal novel ini. Namun, jangan khawatir, ini hanya pendapat pribadi saya, bisa saja berbeda dengan pendapat pembaca yang lain.
Kelima, jika anda berniat membaca Barcelona Te Amo, maka anda harus menata hati agar tidak tergiur ingin secepatnya jalan-jalan ke Barcelona. Hahaha. Karena Mbak Kireina di sini pandai sekali mengekspos tempat-tempat yang luar biasa indah di Barcelona. Mulai dari Barri Gothic, La Rambla, Font Magica, Placa de Catalunya, Gereja La Sagrada Familia, hingga museum sang maestro Kubisme, Pablo Picasso. Dan sayangnya, Mbak Kireina sama sekali tidak menyentuh Camp Nou. Hiks :( . Padahal 2010 –latar waktu novel ini tahun 2010— itu masa keemasan FC Barcelona dan Camp Nou juga bisa dibilang maskotnya Barcelona. Tapi nggak papa, lupakan, nggak penting juga curhatan saya ini, wkwkwk. Serius deh, one day saya harus pergi ke Barcelona , apalagi kalau ke Barcelona nya ditemani suami. Around Barcelona with love. Hahaha.
Dari Barcelona Te Amo, saya belajar banyak tentang sabar dan ikhlas, dua kata ini adalah kunci utama dalam menyelesaikan setiap masalah. Saya yakin, Tuhan pun tidak akan pernah mengkhianati mereka yang selalu penuh kesabaran dan keikhlasan atas segala cobaan yang Dia berikan kepada umat-Nya.
Barcelona Te Amo karya Kireina Enno diterbitkan sebagai bagian dari proyek kolaborasi Bukune dan GagasMedia, Setiap Tempat Punya Cerita. Novel ini mengambil latar utama Barcelona, sebuah kota modern sekaligus klasik dan indah di Spanyol. Keindahan kota yang pernah menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Panas 1992 :)
Katya Sadewi pergi ke Barcelona untuk mengambil kuliah di Fakultas Seni Universitat de Barcelona. Di sana, ia bermaksud mengasah kemampuan melukisnya. Tapi sebenarnya, ada hal lain yang memantapkannya meninggalkan Indonesia. Di Jakarta, Katya terlibat cinta segitiga dengan Alexandra Hadiningrat dan Evander Mulya. Sandra adalah putri Prana Hadiningrat yang membesarkan Katya setelah kematian kedua orangtuanya, sedangkan Evan adalah sahabat akrab Katya dan Sandra. Evan sendiri tidak bisa memastikan siapa yang akan menjadi kekasihnya, karena ia mencintai kedua gadis itu. Katya yang sudah terbiasa mengalah untuk Sandra, memutuskan menerima tawaran Prana yang menginginkannya kuliah di almamaternya, Universitat de Barcelona. Sementara Sandra dan Evan tetap berada di Jakarta dan akhirnya menjadi sepasang kekasih.
Selain kuliah, Katya menghabiskan waktu bekerja di Galeri d'Espana, galeri seni milik pasangan Isidro dan Maria Alvarez yang terletak di Barri Gothic, tepat di jantung Barcelona. Di galeri seni inilah, Manuel Estefan, seorang kurator seni ternama, melihat lukisan sekuntum dandelion, salah satu lukisan Katya. Manuel sedang mencari karya baru untuk disertakan dalam pameran besar yang akan diadakannya di Centre de Cultura Contemporania de Barcelona. Menemukan kedalaman penjiwaan yang terpancar dari lukisan dandelion, Manuel berniat mengajak Katya untuk bergabung dalam pamerannya.
Tawaran Manuel tidak serta-merta disambut dengan baik oleh Katya. "Saya melukis bukan untuk mencari ketenaran. Saya melukis untuk menuangkan perasaan," kata Katya (hlm. 71). Tapi setelah terlibat perbincangan dengan Lucia Marino, teman kuliahnya, ia pun bersedia terlibat dalam pameran besar itu. Manuel memintanya membuat satu lukisan lagi guna melengkapi yang sudah ada, sebuah lukisan yang diciptakan dengan penjiwaan setara dengan lukisan Dandelion. Katya memutuskan menggurat kanvas, mendedahkan kisah perpisahan Subadra dan Arjuna di depan gerbang Istana Dwaraka. Bagi Katya, Subadra, perempuan dari lakon Mahabharata, adalah simbol kesetiaan perempuan.
Lukisannya belum rampung ketika keinginan untuk melukisnya tersendat. Hal ini dipicu oleh kemunculan Sandra secara mendadak di Barcelona dan tinggal bersamanya. Setelah hubungan asmaranya dengan Evan kandas, Sandra memutuskan mengambil cuti kuliah, meninggalkan Jakarta dan mengunjungi Katya di Barcelona. Tapi ternyata, bukan cuma Sandra yang tiba di Barcelona. Begitu memutuskan Sandra karena merasa tidak sanggup lagi menjaganya, Evan menjalankan tugas kantor ke Kopenhagen, Denmark. Dari sana, ia pergi ke Barcelona untuk menjumpai Katya dan mendapati Sandra berada di apartemen Katya.
Kedatangan kedua orang itu menciptakan gangguan yang signifikan dalam kehidupan Katya. Sandra yang terpesona dengan Manuel, beralasan sedang membuat tugas kuliah -padahal sedang cuti kuliah- mencoba memikat Manuel dengan memaksa laki-laki itu menemaninya jalan-jalan di Barcelona. Evan berdalih sedang menulis buku tentang arsitektur karya Antoni Gaudi di Barcelona singgah di apartemen Katya, mencoba membuat gadis itu menerima cintanya, cinta yang lebih besar ketimbang cintanya pada Sandra.
Diam-diam, Katya merasa ada gejolak yang berbeda dalam hatinya. Ia tidak menemukan perasaan yang sama seperti semasa berada di Jakarta terhadap Evan. Malah, terbit kecemburuan manakala Sandra berupaya memborong waktu Manuel bagi dirinya sendiri. Mungkinkah ia mencintai kurator yang berwajah dingin itu?
Barcelona Te Amo adalah novel kedua Kireina Enno yang telah diterbitkan. Sebelumnya, ia telah meluncurkan novel romantis berjudul Selamanya Cinta (2012). Sebagaimana diuraikan sebelumnya, tema yang diangkat, masih tidak beranjak dari tema novel-novel Setiap Tempat Punya Cerita yang telah terbit, Paris (Prisca Primasari) dan Last Minute in Manhattan (Yoana Dianika). Cinta, sekali lagi, masih dominan. Mirip dengan Last Minute in Manhattan, karakter utama Barcelona Te Amo juga digerakkan oleh patah hati. Karena temanya sudah generik dan tidak sulit untuk menebak konklusinya, menjadi tantangan besar bagi Enno untuk menghasilkan novel yang tetap bisa memikat pembaca sampai tamat.
Saya kira, Enno cukup berhasil. Ia mampu menggulirkan adegan demi adegan secara tepat dan tidak berlebihan sampai adegan pamungkas yang melegakan. Ia didukung kemampuan merangkai kalimat yang tidak berbelit-belit dan cukup sedap dibaca. Alhasil, meski kisah yang diusungnya sama sekali tidak provokatif, masih tetap bisa ditamatkan dengan pembacaan yang lancar.
Dalam hal karakterisasi, Enno tidak meragukan. Sosok-sosok yang diciptakannya, dengan gampang bisa diimajinasikan dalam benak kita.
Katya, gadis sederhana yang lebih mementingkan orang lain ketimbang dirinya sendiri. Saking rendah hatinya, ia tidak bisa melihat kelebihan-kelebihan dirinya. Bukan cuma dalam hal melukis, melainkan juga dalam berinteraksi dengan orang lain. Kecuali Sandra, semua tokoh yang bersinggungan dengan kehidupannya, memiliki pandangan positif terhadapnya.
Sandra, gadis yang manja, egois, dan senang memanfaatkan orang lain untuk kepentingan dirinya sendiri. Setiap membuat masalah, ada Katya dan Evan yang akan mencarikan solusi baginya. Tapi, setelah Katya pergi dan Evan tidak sanggup lagi berhubungan dengannya, ia kehilangan proteksi. Berkebalikan dengan Katya, kendati berpenampilan cantik, interaksinya dengan orang lain kerap tidak mendapatkan penilaian positif. Bahkan, ayahnya sendiri, lebih menyenangi Katya dibandingkan anak kandungnya, dan menjadikan Katya sebagai standar bagi Sandra. Tidak heran, sekalipun Katya tidak pernah berbuat kesalahan kepadanya, Sandra selalu memandang Katya sebagai seteru.
Evan adalah karakter paling labil dalam novel ini. Sejak awal ia tidak bisa mengambil keputusan, yang mungkin disebabkan latar belakang keluarganya yang disfungsional. Katya yang merasa perlu membuatnya mengambil keputusan dengan meninggalkan Indonesia. Tapi, sepeninggal Katya, ia menemukan kaca pembesar yang memperlihatkan kekurangan-kekurangan Sandra, dan memutuskan kalau Katya-lah yang terbaik.
Manuel, karakter yang memiliki kecenderungan introvert, terutama terhadap para gadis, sehingga sering menciptakan salah pengertian. Setelah hubungannya dengan Milene berakhir sebelum memanjat pelaminan, ia sukar mempercayai cinta dan lawan jenisnya. Tapi setelah mengenal Katya dan misteri kesedihan yang menyemburat dari lukisan-lukisannya, lambat laun Manuel mengalami perubahan. Perubahannya ditandai dengan menipisnya sikap dingin dan gaya berpakaian yang menjadi lebih kasual.
Karena cerita berseting utama Barcelona, sudah semestinya tempat-tempat di kota yang berkembang berdasarkan inspirasi Gaudi itu bermunculan dalam novel ini. Maka, bersama para tokoh, kita akan menyusuri La Rambla, pedestrian panjang dengan kafe, kios, dan seniman jalanannya. Mencermati guratan tangan Picasso di Museum Picasso. Mengagumi keindahan katedral Sagrada Familia dengan tiga fasad yang mengisahkan kehidupan Yesus Kristus. Menari di pelataran Museu Nacional di sela-sela banjir cahaya Font Màgica de Montjuïc. Menonton merpati-merpati bercengkerama sambil mematuki remah-remah di Plaça de Catalunya. Menyaksikan festival penduduk Catalan yang diramaikan dengan acara membangun castell atau human tower di Plaça Sant Jaume. Menikmati kuliner di Els Quatre Fats sembari membayangkan Picasso remaja yang berkunjung. Tapi tetap saja, masih banyak tempat-tempat indah di Barcelona yang menghilang dari dalam novel ini dan membuat rasa puas sedikit berkurang. Jika penulis pernah bermukim di Barcelona, akan lebih memungkinkan baginya untuk menghasilkan kisah berlatar Barcelona yang lebih memukau, tanpa menjadikan novelnya sebagai buku panduan melancong.
Terlepas dari itu, Barcelona Te Amo tetap merupakan novel yang pantas dibaca. Secara umum, sebagai novel romantis, memang tidak mengecewakan.
Please don’t read if your ears are sensitive to cursing language
Yet another stupid main female character THAT I FREAKIN HATE. Here’s the one million dollar question that I’ve been asking since forever: WHY THE HECK AUTHORS LIKE TO MAKE STUPID, INNOCENT, POWERLESS, SELFLESS, USELESS, ANNOYING,DISGUSTING MAIN FEMALE CHARACTER 🙄🙄🙄🙄🙄🙄🙄 I LOVE a strong independent who will never accept being bullied while THIS STUPID EXCUSE OF A WOMAN (Katya) was the exact opposite.i feel like there’s not enough cursing and negative adjectives to describe her
Her cousin (Sandra) was even more disgusting. She was a spoiled brat, cheap slut (she literally throw her body away to every hot guy she saw, begging them to groped her), selfish, backstabbing, liar, and probably all the other negative qualities. And this stupid bitch katya always acted like her fuckin servant, defend her and agree with whatever she wanted, convincing her even more that the world revolved around her. Katya even got FUCKING MAD when guys rejected her. Seriously, I hope there’s no people like this two idiots alive on this Earth, or it’ll be an even more pathetic place.
I seriously wanted to DNF this book halfway through it but I’m so curious about how it’ll end because the prolog was so intriguing. Turned out the ending was still disappointing 🙄🙄🙄
This book won the award of the most EYE ROLL 🙄🙄🙄 kind of remind me why I never read books by Indonesian authors anymore. Maybe because we have such different view and traditions even though we’re from the same country, but GEE I seriously hate it.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Cerita tentang Katya yang terjebak dengan kisah cinta sepupunya Sandra dengan Evan (yang sempat ia sukai). demi mereka Katya pergi ke Barcelona untuk kuliah. Di Barcelona Katya bertemu Manuel yang akan menggelar pameran dan ingin mengajak Katya untuk ikut pamerannya. Konflik terjadi ketika Sandra mendadak datang ke Barcelona dan menyukai Manuel padahal baru putus dari Evan. Tingkah Sandra yang merepotkan hingga membuat Katya harus menyelesaikan hubungan Sandra dan Evan. Namun akhirnya Manuel dan Katya saling suka.
Aku sangat tidak suka dengan masing-masing karakter Katya dan Sandra. Sandra yang suka mencari masalah, merasa dunia adalah miliknya dan playing victim. Katya yang terlalu people pleaser, terlalu peduli. cape banget jujur baca ceritanya, walaupun disuguhkan dengan baik, menjelaskan setting tempat di Barcelona, namun ceritanya cukup menguras energi bagiku
This entire review has been hidden because of spoilers.
Nggak terlalu puas dengan gaya penulisannya yang bagiku terlalu menye-menye. Karakter-karakter di dalamnya pun seperti tokoh sinetron dan tidak terlalu realistis. Sejauh ini, karakter terbaik dari semua karakter hanyalah Manuel Estefan si kurator seni.
Katya, si tokoh utama yang terlalu naif. Sepupunya, Sandra punya sifat manja dan seenaknya yang begitu menyebalkan. Kemudian Evan, teman masa kecil keduanya yang nggak gentleman banget menurutku. Konflik di antara mereka mainstream, dan penyelesaiannya pun kurang memuaskan.
Overall, aku memberi 2.3 bintang untuk buku ini, yang kemudian kubulatkan ke bawah.
Buku ini menguras emosi. itu yang aku rasakan sekitar 2 tahun yang lalu (kurang lebih). Tulisan kak Keira disini mengalir dan aku menikmati, terutama penjelasan tentang Barcelona yang ngebuat aku sendiri harus baca pelan-pelan sambil membayangkan, dan paling gak nyangka tentang fakta sesungguhnya (kalau yang baca pasti ngerti maksudku). Konflik di Novel ini simpel cuman menguras emosi. dan bikin aku patah hati. 5/5 untuk novel ini
novel romance pertama kali yang aku baca, waktu itu masih umur 10 tahun kelas 4 sd. tidak sengaja karna kakak sepupuku yg Sma pinjem dari temennya. dan aku suka baca ga sengaja deh baca ini. jujur waktu itu masih kecil kann bisa2ne aku baca buku kek gini.. tapi ya tetep aku tamatin walaupun lama bgt ya soale msih pertama kali baca novel romance kek gini. setelah baca ini aku jadi pengen ke barcelona spanyol haha, liat tradisi mereka. jadi ingin baca ulang huhu tapi sudah jarang liat novelnya.
Menurut aku ini buku seri setiap tempat punya cerita terbaik dari seri2 yang sebelumnya aku baca... bacanya udah lama banget dari smp tapi masih membekas sih... mungkin karena penulis sangat baik dalam menyampaikan alurnya juga setting ceritanya detail banget... berasa beneran diajak ke barcelona. Jelas. To the point. :)
Baca ini bawaannya pengen marah banget. 2 karakter perempuan yang saya benci. Gatau pokonya saya marah bangetttt!!! Saya kasih rating 3,50 karena suka dengan tema, pendeskripsian tempat dan bahasanya.
“Tujuan hidup adalah sebuah ketetapan yang mendasari semua rencana dan kerja kita, dan yang menjadi penjaga arah perjalanan.” –Mario Teguh–
Ini adalah sebuah kutipan yang membuatku mengangguk. Namun, bagaimana jika tujuan hidup adalah untuk kebahagiaan orang lain yang diam-diam membencinya dan selalu ingin menghancurkannya? Apakah itu sesuatu yang benar? Ya, itu benar, bagi Katya. Katya yang selalu menjadi guardian angle si pembuat onar, Sandra.
Namun, apa yang didapat Katya dari tujuan hidupnya itu? Yang jelas bukan kebahagiaan, dia semakin terpuruk dengan tujuan hidupnya. Bahkan, dia terpaksa melepas cinta pertamanya dan pergi jauh ke Barcelona.
Yah, itulah hidup Katya. Terlalu kelam karena mengalah, dan tertutup. Tapi, kehadiran Manuel Estefan merubah sedikit-demi sedikit warna hidupnya. Walaupun, Katya menganggap Manuel manusia penganggu yang semakin memporak-porandakan hidupnya. Tidak! Ternyata dia salah. Manuel ‘lah yang mendorong Katya untuk merubah tujuan hidupnya, yaitu hidup untuk menjadikan bakatnya sebagai pondasi hidupnya.
Manuel cukup berhasil membawa Katya melangkah keluar dari dunianya. Namun, kemunculan Sandra dan Evan, cinta pertamanya membuat Katya kembali goyah.
Sandra kembali menjadi batu sandungannya, dan Evan kembali merobohkan benteng cintanya. Katya limbung, dia kembali masuk dalam dunianya yang dulu, bahkan semakin ke dalam dan semakin hitam. Keadaan itulah yang memaksa Katya kembali melupakan tujuan hidupnya yang baru, yang susah payang Manuel bangun untuknya.
Sebuah novel dari rangkaian Program Setiap Tempat Punya Cerita yang diadakan GagasMedia dan Bukune berhasil membuat dunia novel semakin semarak. Cerita-cerita cinta yang dikemas dengan setting eksotis di setiap tempat ternyata begitu menarik pembaca di Indonesia, termasuk aku yang mulai mengoleksi buku-buku STPC.
Novel STPC memang mengedepankan settingnya. Seperti novel ini, Bacelona Te Amo yang membuatku terpukau dengan keindahan Barcelona yang diceritakan Penulis. Sangat nyata, detail, dan membuat aku seperti melihat apapun yang diceritakannya.
Aku rasa penulis sangat matang dalam mengadakan risetnya, bukan hanya riset setting, material-material yang disipkannya pun terasa dibangun matang. Contohnya pada pengetahuan seni, lukisan, tempat-tempat bersejarahnya, bahkan dengan membaca novel ini aku paham tentang apa pekerjaan sebenarnya seorang Kurator.
Katya kehilangan kedua orang tuanya sejak ia masih SD. Ia kemudian diasuh oleh pamannya, Prana Hadiningrat. Katya disekolahkan di sekolah yang sama dengan Sandra, sepupunya yang juga adalah anak tunggal Prana. Sifat mereka sangat bertolak belakang. Katya dikenal sebagai anak yang pandai dan berbakat. Sandra sangat sembrono dalam berbagai hal. Sandra kerap membuat masalah. Katya dan Evan lah yang selalu melindungi Sandra. Evan adalah sahabat mereka sejak SD. Mereka kenal karena saat liburan sama- sama mengunjungi nenek mereka di kota Malang. Hingga ketiganya beranjak dewasa, masalah yang ditimbulkan Sandra semakin menjadi- jadi. Salah satunya ialah mengutil di mal. Biasanya Evan yang akan membayar barang- barang yang sudah dicuri oleh Sandra. Katya selalu menyimpan rapat kebiasaan buruk sepupunya itu, tidak ingin pamannya bersedih dan kecewa. Ternyata persahabatan mereka memunculkan percik cinta. Katya dan Sandra sama- sama menyukai Evan. Katya yang selalu mengalah kepada Sandra juga melakukan hal yang sama kali ini. Ia rela memendam perasaannya demi kebahagiaan Sandra. Maka, setelah lulus SMA, ia menerima tawaran pamannya untuk kuliah di Barcelona, mendalami kemampuan seni lukisnya. Katya menjadi sosok yang tertutup dan pendiam setibanya di Barcelona. Kesehariannya ialah bekerja di galeri milik Maria dan Isidro, pasangan suami istri teman Prana. Pasangan itu sangat baik terhadapnya. Katya juga memiliki seorang sahabat bernama Lucia yang sangat mengerti dirinya. Perlahan ia mulai menata hatinya dan berusaha untuk melupakan Evan. Ia masih berkomunikasi dengan Evan dan Sandra – sesekali – untuk mengetahui kabar mereka. Suatu hari, saat Katya sedang di luar bersama Lucia, galeri Maria kedatangan tamu. Tamu itu meminta untuk bertemu Katya secara langsung karena telah melihat lukisan dandelion milik Katya. Katya yang mendapat telepon dari Maria bergegas kembali ke galeri. Saat Maria memperkenalkan tamu itu sebagai Manuel Estefan, Katya masih tidak menyadari bahwa Manuel adalah kurator terkenal di Eropa yang sering dibicarakan. Katya baru sadar setelah Manuel pulang.
STPC kedua yang gue baca setelah Last Minute in Manhattan keluaran Bukune. Ya bisa dibilang agak kecewa.
Katya dan Sandra adalah saudara sepupu. Katya yang yatim piatu ini diurus oleh ayahnya Sandra. Mereka mempunyai sahabat bernama Evan. Katya lebih ke penurut dan baik gitulah, dan Sandra selalu aja bikin onar dan bikin orang sekeliling nya pusing karena ada aja yang nih bocah lakuin. Sampe akhirnya Sandra nembak Evan, Cuma ditolak sama Evan karena dia lebih suka Katya. Jelas aja Sandra marah besar. Akhirnya Katya ngalah dan kuliah ke Barcelona ninggalin mereka berdua. Yaa maunya si Katya ini dengan gk adanya dia di indo, bisa bikin Sandra dan Evan pacaran.
Singkat cerita, Katya yang memang jago ngelukis ini bikin salah satu kurator, Manuel, yang cukup terkenal di Eropa jatuh cinta sama lukisan Katya. Dia ingin mengikut sertakan lukisan Katya di pameran yang akan dibuatnya..
Yang gk disangka2 si Sandra ini nyusul ke Barcelona. Gk taunya dia diputusin Evan. Yaiyalah siapa juga yang mau punya cewek bikin ulah terus dan sama sekali gk pernah ngerasa bersalah atas ulahnya walau udah rugiin banyak orang? Sebel gue juga..
Udahlah intinya mah si Sandra ini bikin ulah juga sih di Barcelona. Dan ya gitu dan gitulah ya *males nyeritain karena emang bikin bingung* Terus apa Katya sama Evan? Gk, endingnya mah Katya sama Manuel.
Oke jujur yaa gue agak sebel sih sama tokoh Katya dan Sandra ini. Katya yang lemah lembut dan bisa dibilang sebagai pengasuh Sandra ini terlalu banyak ngalah dan malah selalu bikin masalah yang gk ada tapi dibikin ribet gitu. Dan Sandra dengan sikapnya yang emang nyebelin abis yang bikin siapa pun pasti sebel sama dia bikin guee rasanya mau udahin cepet2 aja nih cerita.
Agak aneh juga sih Katya bisa sama Manuel. Kenapa? Karena gue ngerasa dari awal dia ketemu tuh chemistry nya sama sekali gk ada ya, gk gitu kuat gitu lho. Tapi yaudalah untuk keseluruhan cerita emang gue agak gk suka sih ya, tapi yang bikin gue kagum tuh cara penulisnya deskripsiin apa yang ada di sela-sela Barcelona dan gaya nulisnya cukup lincah dan lancar. Jadi akan gue kasih berapa bintang untuk cerita ini? Cukup 2,5 aja ya dibuletin jadi 3 ^^
Actually, 2.5 bintang untuk novel ini. Tapi saya kasih tambahan 0.5 buat ilustrasinya yang begitu indah. Saya ga bisa ga jatuh hati sama ilustrasi semua seri STPC Bukune. :*
Gimana, ya...
Yah, kurang-lebih ceritanya lumayan sih. Lumayan asyik juga buat diikuti karena pilihan kata dan diksinya. Alurnya juga pas. Dan deskripsi Barcelona-nya juga detail, jadi bisa membayangkan dengan gampang. :)
Novel pertama Kireina Enno yang saya baca. Hmm.... gaya penulisannya saya suka, halus, luwes, dan natural.
Tapi jujur saya tidak terlalu suka dengan karakter2 tokohnya. Si Katya yang terlampau baik, erlampau suka ikut campur urusan orang, dan naif tingkat dewa. Well, kalau saya jadi Sandra, saya pasti juga akan terganggu dengan Katya kalau dia terus2an berlaku seperti seorang ibu. Terkadang malah saya berpikir Katya terlalu melebih2kan perannya yang sepertinya tanpa-aku-Sandra-tidak-bisa-apa-apa.
Evan. Well, i have no idea with this guy. Plin Plan? Cek. Pengecut? Cek. Bagaimana bisa dengan entengnya dia bilang menyukai 2 wanita sekaligus?
Sandra. Ah, terlalu banyak ajektiva negatif untuknya.
Saya masih lebih suka karakter Manuel dan Lucia yang menurut saya logis dan tidak berlebihan.
Ceritanya sendiri sebenarnya bagus, mengalir. Prolognya keren. Tapi saya kurang dapet chemistry Manuel dan Katya.
Dan entah mengapa, saya rasa urgensi Katya hingga harus pergi ke Barcelona kurang 'wow', seharusnya ada peristiwa yang benar-benar besar, yang akhirnya membuat Katya mau tak mau pergi ke Barcelona.
Saya juga tidak terlalu suka dengan orang yang mengorbankan perasaannya supaya sang sepupu bisa bersama laki-laki yang dicintai sepupunya walau dia sendiri mencintai laki-laki itu. Terlalu naif. Apa dengan begitu kita lantas bisa dilabeli sebagai pahlawan karena sudah berkorban untuk orang lain? Well, i don't think so.
Hmm... overall, saya suka dengan novel ini walau tidak menjadi favorit saya
Sebenernya 4.5 bintang, cuma diitung 4 bintang aja deh. Baru pertama kali baca serial STPC yang diterbitin Bukune dan menurutku buku ini meninggalkan kesan yang cukup baik buatku. Aku juga suka sama tokoh-tokohnya (walaupun kurasa karakternya pada kurang greget). Katya, si pemeran utama yang mellow-mellow, sendu-sendu gimana gitu (untungnya enggak selemot tokoh protagonis di sinetron), Manuel, yah yang awalnya rada-rada sombong gimana gitu, cuma dia langsung berubah jadi prince charming gitu (di tengah-tengah cerita, aku agak gimanaaa gitu sama dia). Sandra, yah tipikal orang yang suka iri-an dan suka menjelek-jelekan orang.
Yang aku suka, aku enggak bisa menebak akhirnya Katya jadi sama siapa. Ketika kupikir dia jadi sama Evan, ada Manuel. Dan ketika kupikir Manuel mulai menyukai Sandra, ternyata salah. Dan dengan prolog yang agak aneh itu, cukup membuat aku penasaran. Dan baru di halaman 70-an aku 'ngeh' kalo cewek yang ada di prolog itu ternyata ..... *no spoiler*. Selanjutnya, aku kebingungan nentuin cowok yang berperan di prolog tersebut. Baru deh di halaman 200-an, aku dapet 'titik terang' tentang cowok itu.
Secara keseluruhan cerita dan penjelasan latar Barcelona-nya aku rasa cukup lengkap dan enggak bertele-tele (aku tau Barcelona cuma dari klub bolanya doang sih, jadi pas baca ini rada-rada kagum norak gitu).
Terlalap dan terlarut selama 3 jam dan... TRULY MADLY DEEPLY ENJOY THIS BOOK!
Ekspektasi saya beli buku ini yang notabene karena penasaran sama gaya penulisan Kak Enno terjawab sudah! Kak Enno berhasil bercerita dengan baik. Menceritakan setting Barcelona dalam proporsi yang pas dan mengalir(Risetnya berapa bulan, kak?). Daan... saya sempet kebawa perasaan baca beberapa adegan Katya-Manuel yang malu-malu tapi mau, huihihihi.
TAPI, saya masih menemukan ketidak-sreg-an di sini. Meskipun suka, plot dan karakter dalam novel ini begitu...drama(atau novel romance emang gitu semua, ya?) Pada dialog antar tokoh yang sudah ditata dengan baik dan meminimalkan basa-basi, saya masih merasa kurang greget buat pendalaman karakternya. Kurang digali lebih dalam pada beberapa tokoh terutama Sandra. Karakter Katya juga terlalu angelic. Tapi untungnya detik-detik akhir menjelaskan semuanya meski terkesan terburu-buru. Ohya, pada beberapa bagian saya juga agak bingung membedakan mana pemikiran karakter dan mana pemikiran penulis asli. For sure, bagian ini nggak bisa dilewatkan begitu aja dengan menuliskan jalan berfikir tokoh menggunakan pemikiran author.
But, it doesn't matter. Sama sekali nggak ada typo dan 3 jam saya lalui membaca dengan sukacita. 3.5 stars of 5 stars!
Huhuy, novel kedua Kireina Enno yang saya baca setelah Selamanya Cinta dan tulisan ketiga Mbak Enno setelah Selamanya Cinta juga cerpennya di buku Cerita Hati ^^
Dari pertama baca Selamanya Cinta, saya sudah suka dengan cara menulis Mbak Enno yang sederhana, mudah dicerna namun mengalir dan mampu membangun emosi dengan sangat baik.
Dan lagi-lagi, Mbak Enno berhasil melakukannya lagi di novel ini! Kisah persabatan dan cinta ini menjadi lebih menarik dipadukan dengan pengetahuan mengenai seni lukis dan keindahan kota Barcelona. Mupeng deh pengin ke sana *_*
Namun, dengan sangat berat hati, saya harus bilang kalau endingnya kurang memuaskan. Terlalu simpel untuk sebuah konflik yang kompleks macam kisah di Barcelona. Saya berharapnya kalau Sandra tidak berterusterang saat mengambil lukisan Katya dan lukisan di museum itu, ya diapain dulu kek, biar Estefan atau Katya ngamuk-ngamuk dulu wkakak XD
Dan saya rasa porsi kebersamaan Katya dan Estefan kurang banyak, ayolah buatkan lagi *nagih* mereka itu cocok dan romantis sekali apalagi waktu scene di air mancur itu duh.. ngiri. Orang dingin macam Estefan bisa juga bersikap romantis bikin melted. Tapi, demi Tuhan saya nggak bisa ngebayangin muka pria-pria Barcelona itu macam apa. Apakah sama kayak pria-pria Eropa pada umumnya? Huhu..
4 stars for this novel kalau saja endingnya tidak terlalu dipaksakan. ^^v
Satu kata, suka. Suka dengan penggambaran tempatnya, terutama yang berkaitan dengan museum seni berasa berada di sana secara langsung walaupun ga semuanya :D Membuat saya mengetahui pelukis-pelukis yang terkenal dan ingin mengenal serta berkunjung langsung ke sana. Dan juga penggambaran Katya dengan lukisan-lukisannya, yang ternyata walau mungkin sengaja atau ngga di seri STCP ini, dari tiga buku yang saya baca sama-sama berkaitan dengan seni. Kakkoi -Keren. Walaupun pas prolog sempat bingung juga, dengan ceritanya tapi setelah baca bab demi bab, saya mulai mengerti. Hanya saja, setelah selesai baca masih ada hal-hal yang mengganjal bagi saya, seperti Sandra misalnya, secepat itukah? Perubahan seperti apa? karena saya pikir hanya dijelaskan dari sisi Katya saja. Dan Katya, saya masih ngga ngerti jalan pikirannya yang dengan keras kepala menolak Evan dan memutuskan dia lebih baik dengan sepupunya saja. Kenapa? Hanya satu kata itu yang terlintas di pikiran saya. Mungkin hanya Mbak Kireina saja yang tahu. Overall, novel ini rame dan enak dibaca ditambah dengan gambar-gambar yang menghiasi buku ini di setiap bab.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Yang patut diacungi jempol dari novel kedua Kireina Enno ini adalah latar tempatnya yang detil. Dan setelah membaca novel ini, pastikan Barcelona ada di daftar tempat yang harus dikunjungi, karena penulisnya berhasil menjabarkan sisi keindahannya. Penggemar seni tentunya tidak akan melewatkan tempat seindah Barcelona.
Yang membuat greget lainnya adalah karakter tokoh yang bertolak belakang dan reaksi setelah membaca kegiatan para tokoh dengan karakter yang demikian terbaliknya. Sebagai pembaca, aku sempat dibuat kesal dengan karakter Katya yang terlalu naif (memang naif, sebenarnya) setelah diinjak-injak oleh sepupunya sendiri, Sandra, yang notabene-nya adalah peran antagonis.
Kekurangannya, karakter Evan yang dianggap seperti angin lalu, padahal karakternya cukup mendominasi di awal cerita. Konflik yang membawa Evan ini kurasakan kurang mendalam dan nanggung. Begitu juga dengan kisah cinta Katya saat di Barcelona. Kurang mendalam dan dibawakan adem ayem saja. Bagi penyuka cerita cinta yang meledak-ledak, ini dirasakan agak kurang memuaskan.
review kedua gue, gak penting, gue tau itu, oke. nah gue udah baca ini dan juga udah baca roma, jujur roma itu ngebosenin banget dan bikin gue nguap lebar, alesan gue beli roma karena penulisnya cowok(soalnya abis baca bangkok juga, dan bangkok penulisnya cowok dan novelnya seru abis). nah sebenernya gue baca ini dulu baru roma sorry yang tadi ga penting, jadi pas gue baca ini gue ngerasa aneh aja gitu, awalnya sih gue bilang sama temen gue(gue minjem sama seatmate gue) kalo gue bisa nebak endingnya, dan gue yakin ini bakal ngebosenin banget mana ada tokoh pelukisnya(gue benci tokoh pelukis) tapi kata temen gue, gue harus baca dulu sampe abis baru boleh komentar, dan gue baca deh novel ini sampe abis dan tamat. komentar gue, PARAH BANGET INI NOVEL! BISA BIKIN LO NYESEL SEUMUR HIDUP KALO GAK BACA! untung temen gue maksa suruh baca sampe abis, dan gue ngulang baca novel ini sampe kalo gak salah 4 kali eh atau 3 ya? pokoknya keren banget!(walau masih kerenan bangkoknya momoe rizal) belom ngalahin rekor bangkoknya momoe rizal sih, soalnya gue baca bangkoknya momoe rizal itu sampe 11 kali hehehe... love and peace! :)
argh sukaaaaaaaaaa sama novel iniiiiiii maniiiis banget endingnya. ugh. Senor Estefan sedikit mengingatkanku pada seseorang HAHAHA #sudahlah
saya langsung kasih lima bintang. kenapa? saya udah terlalu terpukau sama ceritanya dan semuanya berjalan sesuai ekspektasi saya. Sandra kena batunya, walau si Evan entah ke mana lol. masih kesel sama Sandra yang main bakar aja lukisan Dandelion.
dan Katya yang berakhir bersama Senor Estefan aww.
overall, suka banget. apalagi sama deskripsinya duh hahaha. bisa kebawa hanyut sama ceritanya. saya baru lega pas nyampe di Epilog. sebelumnya masih tegang wkwk. nd sukaaaa sama sifat sok nan nyebelinnya si Manuel Estefan.
subjektif saya, sih, novelnya kurang panjang ihiks rasanya pengen diceritain aja semuanya kan, malah saya ngarep banget si Senor Estefan marah-marahin si Sandra gara-gara lukisan itu lol. lagian Senor satu ini kok jenius banget ya wkwk bisa aja dia baca orang udah kayak cenayang aja(?).
nd sifatnya yang langsung berubah 180 derajat pas udah bicara seni itu yang lucu banget wkwkwk. gimana gitchu(?)
"Ketika kita mencintai seseorang, tapi orang itu memilih orang lain, itu menyakitkan."
Barcelona Te Amo seri STPC yang akhirnya kesampaian juga bisa di baca \m/ mau baca novel ini penuh perjuangan menghabiskan 1 jam keliling gramed cari ini novel yang ternyata terselip di antara novel2 lain karna stocknya yang sisa 2 jadi syukur masih kebagian novel ini hihi. Dan syukurnya sebelum baca novel ini aku nggak mampir ke GR dulu jadi benar2 bisa menikmati cerita ini dari awal sampai akhir. Wah mbak Kireina, serius waktu baca novel ini bawaannya pengen bunuh Sandra yang AMAT SANGAT MENYEBALKAN!!!! RATU MENYEBALKAN!!! Baca novel ini seriusan emosi di aduk2 kenapa Katya selama ini begitu pasrah? kalo aku punya sepupu kayak Sandra mungkin sudah melambai-lambai ke kamera karna nggak tahan sama tingkah lakunya -____- Untuk ceritanya aku suka, dan endingnya aku suka, Manuel bisa juga bersikap manis hihi. GOOD STORY MBAK :)
"Cinta bukan sesuatu yang egois yang hanya melihat ke depan, dan tak mau menoleh ke belakang."