Tesaurus Indonesia menyajikan sebanyak mungkin kata dan kelompok kata serta sinonim atau padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa apa pun, tidak ada kesamaan makna yang mutlak. Karena itu, sinonim di dalam Tesaurus Indonesia disajikan dengan mempertimbangkan perbedaan-perbedaan yang ada berdasarkan dialek regional (contoh: menurut dan manut), dialek sosial (contoh: kebatinan, mistik, dan tasawuf), dialek temporal (contoh: abdi dan pelayan), nuansa makna (contoh: dongkol, geram, dan marah), serta ragam bahasa (contoh: mampus dan meninggal). Semua perbedaan itu menjelaskan bahwa makna kata senantiasa ditentukan atau terikat oleh konteksnya dalam kalimat. Tesaurus Indonesia membantu pemakainya mendapatkan ungkapan yang tepat untuk sesuatu konsep dan nuansa makna yang paling cocok untuk konteks tertentu. Kosa kata yang kaya akan memungkinkan pemakai menghindari kalimat boyak - atau klise - lewat penciptaan variasi kalimat.
Dalam kegiatan menerjemahkan, mencari kata yang tepat tentu menjadi kesibukan sehari-hari. Sayangnya, referensi dalam Bahasa Indonesia masih sedikit. Sementara di rumah ada empat atau lima tesaurus Bahasa Inggris, untuk bahasa Indonesia hanya ada Kamus Sinonim Bahasa Indonesia (KSBI) karya Harimurti Kridalaksana yang terbit pada 1974, yang sayangnya masih jauh dari lengkap (sinonim untuk “banyak” hanyalah “tidak sedikit”). Jadi saya membuat tesaurus sendiri saja, mengumpulkan kata sedikit demi sedikit.
Namun, hari ini suami saya membelikan buku Tesaurus Bahasa Indonesia (TBI) karya Eko Endarmoko yang baru diterbitkan Gramedia pada Rabu lalu. Asyiiik… Dengan ketebalan 713 halaman, tentunya TBI jauh lebih lengkap daripada KSBI yang hanya 210 halaman. Halaman pertama saja sudah memperlihatkan keunggulannya. Sementara KSBI memuat 29 lema (dari “a” sampai “adab”) dengan masing-masing hanya menyajikan beberapa sinonim, TBI memuat 8 lema saja (dari “aba-aba” sampai “abai”) karena masing-masing lema menawarkan belasan bahkan puluhan sinonim yang bisa dipilih.
Tapi sayangnya, sebagian ketebalan TBI berasal bukan hanya karena jumlah sinonim, tetapi juga karena pengulangan. Misalnya, kata “bodoh” menyajikan 20-an sinonim, termasuk bebal, bego, dan lompong. Nah, 20-an kata yang sama ini diulang-ulang di setiap lema “bebal”, “bego”, “lompong”, dan yang lain-lainnya. Jadi minimal pengulangan 20 kali. Ini baru dari satu kelompok makna. Hal yang sama terjadi pada hampir semua kelompok makna yang lain. Untuk menghindari pengulangan, kenapa tidak misalnya dibuat tesaurus yang berdasarkan pada klasifikasi Roget? Daftar kata dalam sebuah kelompok makna hanya ditampilkan satu kali, lalu disediakan indeks agar pengguna tesaurus dapat melihat sebuah kata tercantum dalam kelompok makna mana saja.
Lalu, saya sedikit kecewa saat membuka lema “banyak”, dan hanya menemukan "berjebah, jamak, melacak, melimpah, penuh; padat, ramai". Jelas ini lebih baik daripada hanya “tidak sedikit.” Tapi kok tidak ada seabrek, bejibun, atau membeludak? Di lema “suka”, tak ada kata gandrung atau keranjingan, di lema ”miskin" tak ada kata bokek atau fakir. Rupanya dalam hal kelengkapan, tesaurus ini masih harus ditingkatkan lagi.
Saya juga menyayangkan saat membaca halaman xviii, yang menyebutkan bahwa hiponim tidak disertakan pada tesaurus ini, selain perkecualian pada beberapa kata. Padahal, kumpulan hiponim ini salah satu yang terpenting dalam mencari kata yang tepat dalam menerjemahkan. Misalkan saja, baru-baru ini saya menemukan kata “dhow”, yang artinya kapal Arab perahu yang bertiang layar satu atau lebih. Dalam tesaurus ini, anehnya, kata “kapal” hanya bersinonim dengan “bahtera”. Di lema “bahtera”, barulah ada 11 sinonim yang lain. Padahal, KBBI mencantumkan sekurang-kurangnya 50 jenis perahu (yang sejauh ini sudah saya kumpulkan), termasuk “berik” dan “bintak”, yang artinya perahu layar bertiang dua (atau lebih).
Satu hal lagi yang menurutku kurang dalam tesaurus ini adalah rujuk silang. Misalnya saja, dalam lema “mati” tak ada kata wafat, mangkat, berpulang, tewas, dan beberapa kata lain yang bermakna sama. Barulah di lema “wafat”, kata-kata ini tercantum, tapi tidak ada kata-kata yang lebih kasar, seperti koit, kojor, modar. Saat saya melihat lema “mangkat”, ada rujukan ke kata tinggal (meninggal). Rupanya lema “meninggal” yang paling lengkap di antara yang lain. Lema “tawa” juga begitu, hanya ada sinonim “gelak”, dan di lema “gelak” ini baru ada berbagai bentuk tawa seperti terbahak-bahak, terkekeh-kekeh, terpingkal-pingkal, dan sebagainya. Sayang sekali pengguna harus memutar-mutar dulu untuk sampai ke lema lengkap ini.
Meskipun ada beberapa kelemahan ini (yang terpaksa membuatku mendiskon satu bintang untuk buku ini), TBI tetap merupakan buku yang bermanfaat dan penting, tapi saya berharap buku ini akan terus disempurnakan. Sementara menunggu edisi selanjutnya, sepertinya saya tetap harus melanjutkan membuat tesaurus sendiri.
Ketika sering menulis dalam Bahasa Inggris, dengan mudah saya bisa memakai thesaurus pada dashboard-nya MacBook. Atau tinggal meraih dua kamus Thesaurus koleksi kami di lemari buku. Namun, kala harus juga banyak menulis dalam Bahasa Indonesia, saya seringkali 'mati gaya' kalau harus mencari padanan kata, atau mendapatkan istilah yang tepat. Jadi jelaslah bahwa saya senang sekali akhirnya Bahasa Indonesia punya thesaurus-nya sendiri!
Sampul tebalnya lumayan membuat buku ini berat dibawa-bawa, memang, tapi setidaknya akan bertahan lebih lama ketimbang sampul tipis. Terutama bila buku ini sering dipergunakan, dibuka-buka berulang-kali. Cerukan untuk setiap bab huruf di sisi 'luar' buku (yang mirip seperti cerukan tiap-tiap pasal pada alkitab) sangat membantu pencarian kata. Kamus ini lumayan ramah pada penggunanya :) Sangat direkomendasikan bagi para pecinta dan pengguna aktif Bahasa Indonesia!
Ini buku impian saya sejak pertama buku ini terbit. Sempet ditawarin ama seseorang buat dikirimin dari Yogya, tapi saya menolak, kan gak enak hati kalo dibeliin soalnya harganya mahal bokkk! Suka banget ngebolak-balik kamus Tesaurus ini buat nambah kosakata baru...
Salah satu senjata utama seorang penulis. Kalau lagi bosen pakai kata yang itu-itu aja, cukup buka tesaurus ini buat nyari kata yang sepadan. Sebenarnya gw malah sering buka tesaurus ketimbang KBBI kalo lagi nulis cerita :P
lagi perhatian pada buku-buku referensial kayak ini. sorry baru punya, harus nabung dulu. selama ini mengandalkan 'minjem' perpustakaan... hihi... KBBI ajah belum punya... payah gua!
Akhirnya, tesaurus untuk bahasa Indonesia! Yay!!! Nggak kebayang deh kerja kerasnya untuk membuat buku referensi seperti ini. Keren. Terima kasih ya pak Eko Endarmoko. Semoga akan terus direvisi secara berkala.
Sebagai editor, sangat penting dan krusial untuk punya pegangan hidup menjelajahi dunia fiksi. Salah satu panduan penting adalah tesaurus. Cari padanan kata untuk memperkaya kosakata. Ini sebenarnya cuma sebagian kecil dari belantara bahasa Indonesia.