Di daerah Pelabuhan Ratu, Sukabumi, seorang anak laki-laki yang menginjak remaja tumbuh dan menjalani kehidupannya dengan baik di tengah masyarakat. Namanya hanya terdiri atas 4 huruf: Udin. Namun, tingkah polahnya tak sesederhana namanya. Ia cerdas, banyak akal, baik hati, dan senang menolong. Dengan sifat-sifatnya itu, ia layak dijuluki si jenis sosial.
Udin bersama Jeki si raja gombal, Ucup yang gemar makan dan berbakat melawak, dan Inong yang mendapatkan nama panggilannya karena berdahi lebar, adalah empat bersahabat yang sangat dekat. Berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda, tidak lantas membuat mereka saling cemburu dan bersilang pendapat.
Suatu hari, seorang siswi pindahan masuk dan bergabung ke dalam kelas mereka. Suri namanya, asalnya dari Jakarta. Ia cerdas dan blak-blakan serta unik dan tidak terduga. Meski berbeda dari anak seusianya yang normal, ia tidak ingin dianggap berbeda. Tidak disangka, bertemu dengan Udin cs pelan-pelan mengubah hari-harinya, kehidupannya, serta dirinya sendiri.
*****
Jujur saja, ekspektasi saya untuk buku ini tidak terlalu besar. Pada bagian awal, saya mengira tokoh Udin ini terlalu muluk untuk ukuran anak seusianya. Belum ada rasa simpati yang tumbuh untuknya. Namun, seiring bertambahnya jumlah halaman yang saya baca, perkiraan saya salah. Udin berhasil membuat saya terkagum-kagum dengan kejeniusan sosialnya, sesuatu yang belum saya miliki saat ini. Ia menggabungkan kecerdasan akal dengan empati, sehingga meskipun terlihat naif dari luar, kenyataannya, Udin mampu memberikan solusi yang mungkin tidak terpikirkan oleh saya selaku pembaca (juga makhluk sosial). Ah, ingin sekali saya mengenal seseorang seperti Udin di dunia nyata. Semua seakan mudah saat ia ada. Yah, mungkin itulah yang terjadi bila Udin dan orang-orang sepertinya tak lagi langka.
Karakter lainnya juga menarik. Realistis dan tidak neko-neko. Karena itu, meskipun latar tempatnya berbeda dengan daerah asal saya, saya bisa merasakan kedekatan dengan mereka. Hubungan antara Udin dan emaknya, sahabat-sahabatnya, Bang Apang, guru-gurunya, serta semua orang terasa begitu hangat. Tidak ada yang palsu dan mencari muka, semuanya jujur apa adanya. Sepintas lalu, mereka seolah sedang memberikan contoh kepada saya mengenai bagaimana seharusnya berhubungan dengan masyarakat.
Setiap ceritanya, meskipun sederhana, tetapi begitu riil dan menggugah. Mungkin idenya tidak baru, tetapi Bang Onyol selaku penulis mampu mengemasnya dengan baik. Beberapa bagian begitu puitis dan melankolis, bagian-bagian lainnya penuh dengan argumentasi cerdas dan fakta ilmiah. Pergiliran dan perpaduan dua karakteristik yang seolah bertolak belakang itu agaknya faktor yang membuat novel ini tidak membuat jemu, meskipun jumlah halamannya cukup banyak.
Soal kekurangan buku ini, ada dua kesalahan penulisan yang saya temukan pada halaman 189 dan 321. Hmm, tidak terlalu fatal, sih. Kemudian, interupsi dari narator di beberapa bagian yang membuat imajinasi saya buyar. Awalnya cukup mengganggu, tetapi belakangan tidak terlalu saya hiraukan. Yang sedikit menyita pemikiran saya adalah kata 'pesakitan' yang digunakan di dalam novel ini. Sejauh yang saya ketahui, 'pesakitan' lazim digunakan untuk menyebut terdakwa atau orang hukuman (KBBI daring), bukan 'seseorang yang menderita penyakit'.
Terlepas dari beberapa poin kekurangan tersebut, novel ini saya rekomendasikan untuk dibaca. Tak perlu khawatir akan bahasa yang berat dan pesan moral yang menggurui. Udin dan kawan-kawannya akan berbagi cerita kepada Anda melalui kisah kehidupan mereka yang sederhana tetapi sarat makna.
Selamat membaca!