A fictionalized memoir of family life in former colonial Dutch East Indies, Faded Portraits is the story of the once powerful DePaulys, and especially of Aunt Sophie, the matriarch, whose efforts to preserve the family heritage- the "purity" of the Dutch bloodline and culture- prove inevitably tragic. The forms to which aunt Sophie clings, and which she seeks to impose on her family, represent an arrogant blindness to the personal needs of others and to the cruelties of the colonial system, and underscore the struggles of displaced people who must accept the eclipse of their way of life. The book is reminiscent of the literature of the American South- of the novels of William Faulkner, Flannery O'Connor, John Crowne Ransom, Robert Penn Warren. That too was "colonial" literature, wistfully determined to record an era that was passing.
Satu memoir fiksi dengan setting Hindia Belanda, Faded Portraits dibuka dengan kematian Tante Sophie di 1940 di Batavia. Kemudian, seolah membangun memori, kita melihat cerita hidupnya, suami dan keluarganya sehubungan dengan cerita penuturnya. Meskipun terdapat kesan autobiografis dalam novel ini, rekonstruksi cerita di sini tidak tampak menekankan pribadi Ed, sang penutur (atau alter ego penulis). Lebih terasa adanya kekentalan observasi mengenai atmosfer dan studi karakter sekitarnya, terutama Tante Sophie, dalam “kegagalannya” hasrat dan mimpinya.
Novel ini bercerita tentang kehidupan keluarga Indo (hasil perkawinan orang Belanda "totok" dengan orang pribumi Indonesia). Orang Indo digambarkan punya karakter; memandang rendah orang pribumi dan ingin mengejar kenaikan status sosial dengan menikah dengan Belanda"totok" atau dengan mendapatkan pendidikan Eropa. Mereka cenderung ingin mengejar kenaikan status karena saat tersebut, warga bule adalah warga negara kelas 1 dan warga pribumi adalah warga negara klas 3. Warga negara klas 2 biasanya diduduki oleh keturunan Cina atau Arab.
Novel ini banyak bercerita tentang suasana lingkungan alam perkampungan secara detail, namun tidak banyak bercerita sisi kehidupan sosial. sehingga novel ini tidak banyak menggali sisi kultural keluarga Indo. Sisi lain yang agak menyulitkan adalah bahasa yang digunakan dalam buku ini "agak kurang mengalir". Mungkin hal ini disebabkan buku ini merupakan terjemahan, dan penerjemah agak ragu untuk melakukan penyesuaian gramatikal karena kuatir merubah isi.
'Potret Pudar dalam Album Keluarga Hindia' ini karya semi-otobiografi yang difiksikan oleh pengarangnya, Nieuwenhuys (atau Breton de Nijs). Ia mengisahkan kehidupan (dan akhir hayat) Tante Sophie, salah satu anggota keluarga sang narator, matriark keluarga de Pauly.
i learned that the mestizo/indo culture in jakarta goes back 300 years at least you know like characters in this book would talk like this ah you kenapa kassian dont do that the way jakartans do now except replace english with dutch kassian deh lu
kisah mengenai sebuah keluarga Indo di penghujung era jaya Belanda di Indonesia...Rumah besar di Salemba beserta semua intrik didalamnya..membuat kita mengenal lebih dekat bagaimana kultur kaum Indo....