"Rei ...!” Luna berteriak sekuat tenaganya. Sementara kakinya terus melangkah, berusaha mengejar bayang Rei yang tertinggal di matanya. Luna sama sekali tak melihat sebuah batu yang cukup besar yang berada di depannya. Satu kakinya menginjak batu tersebut tanpa sengaja, membuatnya terjatuh. Saat itu yang ada dalam pikiran Luna adalah ia sudah terlambat untuk membuat Rei kembali padanya. Ia sudah kehilangan Leon, dan ia tak ingin kehilangan Rei. Beban kesedihan ini terlalu pekat. Luna sudah tak sanggup lagi menanggung penderitaan hatinya. Ia kepayahan hingga sulit untuk membuat semuanya bisa dinalar dengan logika. Dia itu pembunuh Leon! Dia itu laki-laki yang membuatnya takut akan teror yang tak ada habisnya! Mungkinkah mereka bersatu?
Well, i have a high expectation to this book, actually. But don't know.. it didn't give me what i thought before.
Ada beberapa part, terutama bagian Luna baru tiba di Paris dan bertemu dengan dua teman satu apartmennya. Disitu aku merasa deja vu, karena ada satu buah novel yang juga aku baca, terbitan 2010 (atau 2011? aku lupa) yang setting juga kejadiannya, mirip banget sama yang terjadi sama Luna, juga karakter teman-teman barunya.
Aku suka konflik ceritanya. cuma, aku rasa beberapa bagian menjelang akhir itu alurnya terlalu cepat, agak terburu-buru dan berbanding terbalik dengan alur di awal yang santai. Yah, aku sedikit nggak bisa menikmati endingnya, sebenernya.
Tapi selain hal-hal diatas, aku patut memberikan apresiasi tentang penggambaran Paris yang mendetail dalam cerita ini. Juga ide mengenai tunangan Jason yang punya kepribadian seperti itu.
Seharusnya Luna berada di Paris bersama kembarannya, Leon. Namun keinginan itu tidak pernah terwujud. Leon meninggal sebelum mereka berangkat ke Paris karena kehabisan darah akibat kepalanya dipukuli dengan botol kaca.
Sepeninggal Leon, semua berubah. Papa, Mama, dan Luna larut dalam kesedihan mereka masing- masing. Barulah ketika Luna histeris pada suatu hari, semua tersadar bahwa hidup ini terus berlanjut. Harapan Leon untuk pergi ke Paris itulah yang akhirnya membuat Luna untuk tetap tegar dan menerima beasiswa yang mereka dapatkan. Maka berangkatlah Luna ke Paris.
Paris sangat indah. Teman satu apartemen Luna, Lizzy dan Ang Shan juga sangat baik terhadapnya. Tidak hanya itu, ia juga bertemu pemuda romantis yang selalu membuat hati Luna berbunga- bunga. Jason mengisi hari- hari Luna, membuat Luna jatuh hati padanya. Namun Lizzy seolah- olah tidak suka. Luna mengira Lizzy hanya cemburu.
Greget ama tokoh utama ceweknya! Greget ama tanda bacanya yang kadang-kadang masih salah tempat! But mostly, this book is awesome. Andai ngga banyak typonya, i'll give this book 5 stars or maybe 4 1/2 stars.