Gatholoco adalah lambang Lelaki Sejati, ia yang mampu memahami proses penciptaan manusia melalui lingga dan yoni, yang menjadi penyebab turunnya ruh ke bumi. Lelaki Sejati adalah ia yang sanggup mengendalikan segala anasir di dalam dirinya. Buku ini menceritakan kembara Gatholoco menaklukkan lima wanita yang merepresentasikan unsur-unsur halus di dalam diri manusia: Rêtna Dewi Lupitwati (yoni/kundalini), Mlênuk Gêmbuk (memori), Dudul Mêndut (kesadaran), Rara Bawuk (emosi), dan Dewi Bleweh (pikiran). Seolah berbicara kepada diri sendiri, Gatholoco kemudian membabar rahasia ilmu sejati dan ketuhanan dengan bahasa yang memukau dan sarat makna.
Berangkat dari kisah Gatholoco yang legendaris, Damar Shashangka berikhtiar untuk menyuguhkan kembali Filsafat Lingga Yoni, ajaran kuno yang nyaris sirna dari bumi Pertiwi. Dengan jernih ia mengulasnya melalui bahasa tiga tradisi spiritual yang berkembang di Nusantara: Tasawuf Islam, Siwa Buddha, dan Kejawen.
Di bagian akhir, penulis menyarikan ajaran Aji Asmaragama dari beragam kitab kuno. Aji Asmaragama adalah pengetahuan olah asmara yang membahas cara mencapai kepuasan jasmani dan ruhani dalam sanggama, beberapa aji untuk memikat hati wanita dan memberikan kenikmatan kepadanya bahkan tanpa bersentuhan, sejumlah sarana dan ramuan untuk meningkatkan kualitas hubungan badan, serta metode spiritual untuk memperoleh keturunan sesuai yang diharapkan.
Damar Shashangka lahir di Malang pada tanggal 8 April 1980. Kelahirannya di keluarga Kêjawen membuatnya sangat tertarik kepada mistisisme dan spiritualitas semenjak kecil. Saat masih berumur belasan tahun, ia memperoleh sebuah visi bahwa suatu saat dirinya bakal menulis banyak buku tentang sejarah dan ajaran-ajaran kuno Nusantara. Ia penulis novel sejarah yang sangat produktif. Ia mulai dikenal di belantika sastra sejarah Indonesia setelah menulis novel berseri debutnya, Sabda Palon, tentang masa akhir Kerajaan Majapahit dan berkuasanya Islam di Nusantara, yang menangguk banyak pujian dan menjadi referensi berharga tentang sejarah Nusantara berikut ajaran-ajaran kunonya.
Selain menulis novel, Damar Shashangka juga aktif menerjemah dan mengulas naskah-naskah klasik Jawa seperti Induk Ilmu Kejawen (Wirid Hidayat Jati), Darmagandhul, dan Gatholoco. Anak muda yang fasih berbicara dan menulis tentang spiritualitas Islam, Kêjawen, dan Śiwa Buddha ini bisa dihubungi secara personal melalui email: damarshashangka@gmail.com, facebook: Damar Shashangka, twitter: @DamarShashangka, blog: damar-shashangka.blogspot.com.
Sastra jawa dengan berbagai SERAT menyimpan Rahasia hidup manusia, tak luput dari pandangan penulis buku ini, yang mengungkap secara gamblang, secara keseluruhan dimana rahasia ilmu sejati di beberkan dengan lugas, serta yang satu ini asmaragama(yang berarti tentang asmara).
Simbol Lelaki sejati dengan Filsafat Lingga dan Yoni, yang di kalangan umum nyaris hilang dari bumi pertiwi. Rahasia ajaran tentang asmara serta bagaimana ajian asmaragama yang dahsyat olah asmara, dan beberapa aji untuk memikat hati wanita serta memberikan kenikmatan kepadanya tanpa harus bersentuhan, serta sarana dan ramuan untuk meningkatkan kualitas hubungan badan dan metode spiritual untuk memperoleh keturunan sesuai yang diharapkan.
Penulis piawai dalam mengemas serta lugas menguraikan tahap demi tahap isi dari novel ini, apa dan bagaimana.
Teka-teki Gatholoco mengenai : wayang, dalang, blencong, dan kelir. Dari keempat itu manakah yang lebih tua ? perdebatan dimenangkan oleh Gatholoco. Ia menerangkan juga tentang hakikat : wayang, dalang, kelir, blencong dan gamelan. Ketiga guru mengaji itu akhirnya meninggalkan Gatholoco dan menuju Cepekan.
Di Cepekan terdapat tiga orang guru mengaji, yaitu : Kasan Mustahal, Kasan Besari, dan Ki Duljalal. Mereka ini didatangi oleh ketiga ketiga orang guru mengaji yang kalah berdebat dengan Gatholoco. Mereka menceritakan tentang kekalahan dalam perdebatan. Gatholoco dicari dan diajaknya ke Pondok Cepekan untuk diajak berdebat tentang ilmu sejati. Perdebatan antara Gatholoco dengan ketiga orang guru mengaji di Pondok Cepekan berlanjut. Akhirnya dimenangkan oleh Gatholoco, karena mereka kalah (ketiga guru mengaji), maka diusirlah Gatholoco dari pondok tersebut. Pada mulanya Gatholoco tidak mau pergi kalau tidak diberi uang. Akhirnya, ia meninggalkan pondok tersebut untuk melanjutkan pengembaraannya.
Dalam Pupuh 3 dijabarkan Dalang, wayang, kelir dan Blencong dijadikan teka-teki mana yang paling tua diantara dalang, wayang, kelir dan blencong(pelita) manakah yang paling tua ?? Yang paling tua adalah yang nanggap wayang, sebab dia yang mengatur, kapan waktunya, serta apa ceritanya.
Kisah ini sarat dengan nasihat tentang asal muasal hidup, bagaimana manusia mengenal sang Pencipta serta pemahaman masalah proses kehidupan spiritual dari awal manusia hingga akhir.
Pemaparan kisah di awali membahas manusia dan kehidupan, serta bagaimana menuangkan asamaragama. lambang cinta kasih antara wanita dan pria.
Dalam buku Wirid hidayat Jati, dijelaskan bagaimana hidup manusia, dari mana asal dan akan kembali, apa itu sukma(ruh) raga, dan siapa Itu GUSTI.
Buku ini istimewa dalam hal pengungkapan rahasia budaya jawa dengan segala kelebihannya, sesuai dengan judul buku wirid hidayat jati, buku pengarngnya keluarga Keraton Surakarta, yang mana buku tersebut dalam kurun waktu tertentu hanya boleh dibaca dan diajarkan dalam lingkungan kraton. Hingga suatu saat buku itu diterbitkan dan dapat dibaca oleh kalangan umum.
Sedikit mengenai buku ini menurut pemahaman saya, ada beberapa kata yang di transliterasi dari bahasa jawa ke bahasa Indonesia yang agaku kurang tepat sebab kadang bahasa Jawa tidak bisa diserap oleh bahasa Indonesia, karena artinya akan berubah.
Kekasih Puja jiwaku
Sekelumit kata menghantarkan tidur malammu, dan seuntaian kasih sayang menjadi lambaran tidur malammu beserta mimpi-mimpimu. Ku ingin setiap helaan nafasmu serta denyut nadimu, ada kasih yang selalu menyelimutimu, ada cinta yang selalu memancar untukmu.
Doaku untuk mu kepada Gusti, semoga engkau selalu disehatkan, diberi kekuatan serta diberkan limpahan rizky, serta sehat jasmani dan ruhani, serta selalu diberi ketenangan dalam menjalani hidup.
Kekasih Tak banyak yang aku pinta, sebab aku tak layak meminta, karena aku hanya memberi.
sebuah kenyamanan, serta engkau berlabuh di pantai harapanmu
A good book. It presents the original javanese text of Gatholoco and its literal Indonesian translation along with the interpretation with respect to Islamic sufism tenet and old javanese wisdom. The last part which presents the manners of sexual intercourse based on several javanese texts, including ten sexual intercourse positions and spell and potion "to support" the act of gaining pleasure is a rare knowledge today and, yeah, it is amazing.