Meski masih anak baru di SMA Merah Putih, Lupus (Miqdad Addausy) langsung jadi pahlawan. Dia menolong teman barunya, Boim (Alfie Alfandy), yang hampir jadi sasaran tinju anak-anak SMA lain. Dia juga membantu Gusur (Jeremy Cristiant) yang kelaparan karena nggak boleh ngutang lagi di warung. Tapi yang lebih keren, Lupus jadi pahlawan di hati Poppi (Acha Septriasa) yang habis diduain Daniel (Kevin Julio), sang ketua OSIS. Memang ada-ada saja deh tingkah Lupus yang selalu aneh bin ajaib untuk diceritakan.
Kisah Lupus di buku ini emang seperti di-reboot. Kayak Batman Begins gitu. Buku ini menceritakan bagian yang nggak pernah diceritain pada buku Lupus sebelumnya. Yaitu, tentang bagaimana Lupus pertama kali masuk SMA Merah Putih, dan ketemu temen-temen ajaibnya seperti Boim, Gusur, dan Anto, serta asal muasal Lupus jatuh cinta sama Poppi.
Ini memang seperti pre-sequel buku pertama Lupus klasik: Tangkaplah Daku, Kau Kujitak. Jadi kalian memang wajib baca sebelum menikmati buku Lupus lainnya yang segera diterbitkan ulang.
Baca deh, pasti bakal ikut cengar-cengir, apalagi kalo sambil makan rujak cingur, hehehe...
JAGO NGOCOL SE-INDONESIA Lahir di Jakarta, tanggal 25 Agustus, bintangnya Virgo, bo! Hilman yang turunan Jasun alias Jawa-Sunda ini punya papa tentara berpangkat kolonel. Mulai ngarang sejak ABG, dengan membuat serial Lupus di majalah HAI yang berhasil mengangat namanya. Ia juga pernah juara ngarang di majalah yang sama. Pernah kuliah di UNAS jurusan Sastra Inggris.
Hilman Hariwijaya dengan Lupus-nya merupakan fenomena dalam dunia penerbitan Indonesia. Lupus#1: Tangkaplah Daku Kau Kujitak, terbit Desember 1986, cetakan pertamanya sebanyak 5.000 eksemplar habis dalam waktu kurang dari satu minggu. Hilman menulis puluhan judul yang meliputi seri Lupus, Lupus ABG, Lupus Kecil, Lupus Milenia, Olga, Lulu, Keluarga Hantu, Vanya, Vladd, Dua Pelangi dan beberapa judul lepas. Beberapa karyanya ditulis bersama Boim,Gusur dan satu bernama Zara Zettira. Tiras total penjualan bukunya mencapai jutaan eksemplar!Jumlah yang luar biasa untuk ukuran Indonesia,mengingat tiras \"normal\" buku lain rata-rata 3.000-5.000 eksemplar,dan itu pun tidak habis terjual dalam waktu satu tahun.
Kisah Lupus menggambarkan gaya hidup remaja. Sarat dengan humor orisinal, terutama unik dalam gaya bahasa dan pilihan kata yang seenaknya. Tapi justru dengan gaya bahasa seperti itulah yang pernah dianggap merusak bahasa Indonesia-Lupus menjadi produk yang khas,disukai dan diakrabi para remaja.
Seri Lupus sudah difilmkan, baik di layar lebar maupun dalam bentuk sinetron. Sedangkan seri Lulu, Olga, Vanya dan Vladd serta beberapa cerita lepas lainnya telah disinetronkan.
Judul: Bangun Lagi Dong Lupus Pengarang: Hilman Hariwijaya Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama Halaman: 336 halaman Terbitan: Maret 2013
Kisah Lupus di buku ini emang seperti di-reboot. Kayak Batman Begins gitu. Buku ini menceritakan bagian yang nggak pernah diceritain pada buku Lupus sebelumnya. Yaitu, tentang bagaimana Lupus pertama kali masuk SMA Merah Putih, dan ketemu temen-temen ajaibnya seperti Boim, Gusur, dan Anto, serta asal muasal Lupus jatuh cinta sama Poppi.
Ini memang seperti pre-sequel buku pertama Lupus klasik: Tangkaplah Daku, Kau Kujitak. Jadi kalian memang wajib baca sebelum menikmati buku Lupus lainnya yang segera diterbitkan ulang.
Review
Lupus kembali bangun! Setelah sekian lama tertidur (baca: gak dicetak ulang), akhirnya ada versi "pre-sequel" (prequel?)-nya.
Saya pribadi suka dengan Lupus. Ceritanya lucu dan selalu sukses bikin ngakak. Atau kadang ceritanya juga manis dengan slice-of-life yang bisa bikin senum-senyum sendiri. Lalu bagaimana dengan novel adaptasi filmnya ini?
Agak mengecewakan menurutku. Kenapa? Pertama: saya merasa cara penceritaannya agak aneh. Ya, masih terasa Lupusesque-nya, tapi agak maksa di beberapa tempat. Terus adegan-adegannya juga tipikal adegan macam di acara "Sketsa" di TV.
Ceritanya? Ya angpau, tepok jidat. Kalau ada penghargaan untuk tokoh utama wanita terplin-plan, saya rasa Poppi bisa masuk ke dalam nominasinya (untuk pemenang, nanti dulu. Masih ada Mbak Bella Swan soalnya). Duh, beneran. Saya ngedumel sepanjang jalan kenangan ngebaca Poppi yang plin-plan antara Daniel atau Lupus. Untuk plotnya, hng, teenlit banget. Jelas bukan poin terkuat novel ini.
Soal tokoh-tokoh masih bolehlah. Lupus dan ce-esnya masih mirip dengan di buku-buku lama. Cuma saya berharap ada lebih banyak tek-tok antara Mami, Lulu dengan Lupus. Bagiannya mereka yang, buat saya, terasa lucu dan alami. Keluhan saya cuma satu: Fifi Alone mana? Itu loh, temannya Lupus yang suka sok ngartis dan ngeksis itu? Apa dia pindahan yah? Sehingga belum ada di buku ini? Saya baca Lupus lompat-lompat sih, jadi lupa deh. Ataukah Fifi digantikan oleh Karin di sini? Soalnya Om Pinokio aja ada loh jadi cameo di sini. Masa Fifi gak nongol?
Tapi, iya sih. Ada beberapa karakter macam Iko-Iko, Pepno, Happy, dkk yang gak nongol di sini. Mungkin karena ini aslinya adaptasi film, makanya mereka gak dimasukin. Ntar kalau kebanyakan orang kan biaya produksinya jadi mahal.
Yah, secara keseluruhan saya rasa masih bolehlah. Ceritanya sih standar. Lucu? Hng, ada bagian yang emang lucu (kayak tek-toknya Mami, Lulu, Lupus), ada yang garing (seperti waktu Lupus ngegombalin Poppi di awal cerita).
Well, Seengaknya saya punya tanda tangannya Hilman di buku ini. Kutunggu terbit ulang buku-buku Lupus. Apakah akan ditulis ulang juga seperti buku-bukunya Mira W.?
Siapa yang tak kenal Lupus? Yang generasi 80-90an kebangetan deh kalo nggak kenal sama cowok berjambul yang hobi ngunyah permen karet dan main tebak-tebakan ini. Dari dulu kabar untuk me-reboot Lupus versi layar lebar memang sudah berhembus, malah saking niatnya sampe diadain audisi untuk mencari pemeran karakter-karakter sentralnya. Nah, buku ini berdasarkan skenario film itu. Cerita dimulai ketika Lupus, Lulu dan Mami pindah ke Jakarta. Mami memutuskan pindah ke Jakarta untuk melupakan kenangan tentang Papi yang sudah meninggal :( Di Jakarta Lupus sekolah di SMA Merah Putih. Hari pertama sekolah, Lupus secara tidak sengaja berkenalan dengan Poppi yang bertengkar dengan pacarnya, Daniel dan diturunkan di jalan. Poppi selama ini cemburu karena mendengar gosip kalau Daniel selingkuh dengan sahabatnya, Karin. Di hari pertama juga Lupus menolong siswa SMA Merah Putih yang dikejar oleh gerombolan dari SMA lain, Boim. Pokoknya ada lagi yang lain deh kisah ke"heroik"an si Lupus. Belum lagi kisah cintanya dengan Poppi. Silahkan baca selengkapnya di Bangun Lagi Dong Lupus.
Sebagai penggemar Lupus sejak dulu, saya merasa cukup kecewa dengan buku ini, karena banyak elemen-elemen yang dikurangi dari seri-seri lamanya, seperti, tebak-tebakan Lupus yang tak terlalu banyak porsinya (padahal dulu saya paling suka dengan tebak-tebakan lucu maupun garing milik Lupus), dan melihat berdasarkan trailer, cover buku dan teaser-teaser foto yang terdapat di buku ini, jambul Lupus tidak secetar membahana badai seperti jambul khatulistiwanya Syahrini panjang menyerupai sangkar burung seperti seri lamanya. Oke, mungkin salah saya yang tidak bisa move on dari seri-seri lamanya, tapi menurut saya seharusnya elemen-elemen seperti itu harus diperhatikan agar tak mengecewakan penggemar Lupus. Endingnya juga walaupun punya twist, tapi terlalu maksa. Tapi.... dibalik kekurangannya, buku ini tetap berhasil membuat saya nyengir, dan lebih bagus dari Finding Srimulat kemarin, jadi yah bintang 3 saya rasa cukup.
Mendengar nama Lupus, pasti mengingatkan saya akan sosok pria kurus dengan tas selempang, suka mengunyah permen karet, gokil-jahil-ngocol, dan juga berjambul. Buku favorit saya sejak SD. Tebak-tebakan di dalam buku Lupus selalu saya jadikan bahan 'artikel' untuk ditempel di Mading Sekolah. Sempat 'tidur' cukup lama, namun akhirnya tahun ini Lupus kembali 'bangun'. Jujur, saya sempat heboh sendiri juga.
Well, bisa dibilang banyak perbedaan antara Lupus lama dan Lupus baru (dari cover bukunya aja udah beda). Lupus baru ternyata dipaksa untuk mengikuti zaman, harus muncul sebagai remaja era sekarang, doi udah pake Blackberry, twitteran, dan make gombalan "Bapak kamu.....".
Ceritanya dimulai ketika Lupus dan keluarga mininya baru pindah dari Bogor ke Jakarta setelah Papi meninggal. Lupus pun bersekolah di SMA Merah Putih dengan menyandang status anak baru. Seperti biasa, anak baru selalu diganggu oleh 'preman' sekolah, yaitu Daniel, yang juga pacarnya Poppy. Diceritakan juga bagaimana awalnya Lupus berkenalan dengan sahabat-sahabatnya, Boim, Gusur, dan Anto, bagaimana akhirnya Lupus jatuh cinta pada Poppy.
Saya masih merasa ada yang aneh/hilang dalam buku ini. Cerita antara Mami, Lulu, dan Lupus porsinya kurang, termasuk dengan tebak-tebakannya. Karakter Lupus yang di pertengahan cerita kurang peka terhadap Poppy... Masa ngga sadar kalau Poppy-nya juga udah suka? Geregetan rasanya. Tokohnya kurang! Tidak ada Fifi Alone, Gito, dkk. Ending yang juga bisa dibilang 'maksa' dan ketebak. (mungkin karena mau dibikin film... atau memang buku ini adaptasi dari filmnya?)
Buat yang kangen dengan sosok Lupus, buku ini masih bisa bikin senyum-senyum sendiri kok. Dan... Semoga Lupus ngga tertidur lagi setelah buku (dan filmnya) tahun ini. :)
Baca buku ini jadi inget waktu SMA dulu, seperti mengenang memori aja. Lupus sudah terkenal sejak tahun 90-an dan sekarang di 'reboot' ulang. Tetapi Lupus sekarang ngocolnya masih gokil yang dulu, tapi inipun juga keren dan bagus, bisa ngobatin rindu baca-baca buku yang pernah booming di tahun 90-an. Ditunggu seri selanjutnya...
Beli buku ini karena sebenernya kangen baca serial Lupus lagi. Dulu sempat koleksi, tapi akhirnya banyak yang hilang karena dipinjem dan tak kembali. Saya beli tahun 2013 buku ini, hanya beberapa minggu setelah buku ini dirilis. Pengennya segera baca tapi tertimbun lama. Malah kayaknya udah sempet nonton juga filmnya tapi abis itu lupa.
Saya sungguh kangen becandaan Lupus zaman dulu. Pas baca buku ini, becandaannya tetap ada, tetap kayak dulu sih cara Hilman nulisnya, tapi entah kenapa jadi gak berasa selucu dulu, malah mungkin jadi rada garing aja sekarang. Mungkin udah gak sesuai sama becandaan sekarang kali ya dan Lupus di sini agak lebih serius ceritanya, gak cerita ringan-ringan lagi kayak dulu. Karakternya pun dibuat sama kayak dulu, ada Boim, Gusur dan Poppi, walau masih kebayang mereka kayak gimana dulunya, tetap aja sekarang udah beda versinya.
Saya sebenarnya berharap kalo Lupus ini tetap dicetak kayak ukuran zaman dulu, lebih kecil dan gak terlalu tebal. Salah satu seri yang enak banget dinikmati karena bisa diselesaikan dengan tak begitu lama bacanya, apalagi ceritanya ringan. Masuk ke buku ini tampaknya Hilman mau mengubah cerita ringan Lupus menjadi lebih ke cerita ala novel, apa mungkin karena buku ini juga diangkat ke layar lebar jadi dibuat kayak skenario yang biasa dibuat Hilman sekarang ini (Hilman lebih banyak nulis cerita sinetron tv setahu saya).
Mau gak mau, memang balik lagi ke "Setiap orang ada masanya dan tiap masa ada orangnya." termasuk Lupus, yang memang bukan tokoh yang hidup lagi saat ini.
Beda dari seri Lupus lainnya, cerita di chapter-chapter buku ini berkelanjutan, mungkin karena dibuat berdasarkan filmnya ya? Buku ini ceritanya tentang asal mula Lupus pindah ke SMA Merah Putih dan ketemu Poppi, aku suka sih karena memang penasaran gimana awal mula cerita lupus ini setelah baca buku-buku sebumnya. Seperti seri lainnya, buku ini ringan dan enjoyable karena karakter-karakternya yang unik. Tapi, aku merasa buku ini memakai istilah-istilah 'gaul' pada tahun itu secara berlebihan dan unnecessary. Dari ceritanya sih menurut aku udah oke ya, sayangnya aku kurang sreg sama penulisannya yang seperti itu.
Cukup menghibur, sambil mengingat-ingat Lupus versi lama! :) Di tengah-tengah gempuran cerita remaja yang terlalu dramatis, kehadiran tokoh-tokoh Lupus dan sifat kocak mereka terasa adem bagai angin sepoi-sepoi.
Bagaimana ya. Aku dulu suka sekali dengan Lupus, serial Lupus kecil dan Lulu pun aku suka banget. Hanya Lupus Abege yang menurutku meh dan tidak menarik untuk dibaca.
Jadi membacanya, aku mengharapkan semacam nostalgia.
Itu aku dapatkan pada beberapa bagian. Namun ada beberapa yang membuatku sungguh tidak bisa menikmati buku ini.
1. Editing yang tidak mulus. Misal, di bagian awal dikisahkan Lupus dulu sekolah di Bogor. Tapi kenapa di pertengahan dikisahkan dia sekolah di Bandung? Lalu cewek yang ditaksir Boim awalnya bernama Saskia, lalu beberapa halaman kemudian, namanya berubah! Lalu awalnya Poppi dibilang Daniel nggak ngetweet, eh tahu2 di bagian tengah dibilang, Poppi jarang ngetweet. (Berarti minimal punya akun?)
2. Interaksi antara Poppi dan Lupus nggak greget. OK, ini bukan novel romance. Tapi tetaplah ya. Masalahnya terkesan cemen. Salah komunikasi dan ngambek2 nggak jelas. Poppi juga aneh, saat resmi dengan Lupus kok, masih menemui mantannya dengan diam2.
3. Aku nggak mendapatkan feel Lupus seperti yang sebelumnya. Dia wartawan, seolah disinggung sepintas lalu. Lupus digambarkan terlalu baik di sini, entah kenapa kesempurnaannya membuatku terganggu. Lalu emosinya kok seolah nggak jelas. Kalau suka sama Poppi kok terkesan mencla-mencle. Daniel sebagai rival juga digambarkan terlalu kekanakan. Nggak seru. Aku akan lebih suka kalau Daniel digambarkan lebih garang dan mungkin lebih jahat. Karakter2 dalam buku ini kok rasanya kurang menyentuh, kurang nyata. Yang agak menyenangkan mungkin bagian Boim dan Gusur, bisa jadi potensi satu novel sendiri, terasa lebih riil.
4. Sudah kubahas kan, Lupus terlalu baik. Bahkan saat memenangi lomba, jatah duitnya dia berikan ke Gusur dan Boim. Padahal ibunya juga lagi berjuang dengan kateringnya. Kalau Lupus anak baik dan berbakti, harusnya dia ambil jatah uang lombanya meski sedikit, dan berikan untuk Mami. Lalu saat dia berikan jatahnya pergi ke Amerika untuk Anto di saat-saat terakhir... duh, visa, tiket, segala macam piye? Apa sebegitu mudahnya dialihkan? Setahuku visa ke Amrik itu termasuk ribet dan agak lama prosesnya.
5. Maksudnya Lupus berusaha mengikuti tren, tapi atuhlah beberapa terasa zadul. Lebih baik di-update atau nggak usah terlalu ditekankan, soal planking yang lagi happening (kayaknya itu ngetrennya 2011 deh, 2012 saja seingatku lebih tren foto2 levitasi), dan berbagai hal lainnya yang seakan ingin memberikan kesan kekinian, akan tetapi bisa jadi bumerang.
6. Lalu bagian Anto, yang gila gadget sehingga membuatnya menjadi "autis". Dude, that is one politically incorrect statement to make. :( Tanpa kalimat ini, aku akan memberikan nilai dua atau malah tiga bintang untuk novel ini. Tapi bagian autis ini membuatku sungguh ilfil.
Apa aku akan baca Lupus lagi, kalau dituliskan versi barunya oleh Hilman? Jawabannya adalah, ya. Aku masih berharap di buku2 berikut editing lebih mulus, nggak ada kalimat seperti yang kutuliskan di poin 6, dan masalah serta konflik dalam bukunya lebih greget.
This entire review has been hidden because of spoilers.
"Basi. Bisanya copy paste maaf-maaf. Ngapain bilang sori, tapi belakangan diulang lagi! Sejak dulu kamu nggak pernah berubah, selalu begitu! Minta maaf, terus diulang lagi atau diulang trus minta maaf. Dasar cowok isi ulang! Bosen tau! capek... Kesabaran orang juga ada batasnya,nggak ada yang unlimited kayak paket internet atau bonus kata maaf setiap kali ngelakuin kesalahan....", ujar Poppi ketus
Membaca serial Lupus versi modern ini, membuat dahi saya berkerut-kerut -Bukan nya ketawa ngakak seperti versi2 jadul sebelumnya. Entah mengapa feel nya hilang. Saya rasa, penulisnya "gelagapan" saat menulisnya. Ingin menyesuaikan dengan gaya kekinian, tapi hasilnya malah aneh menurut saya.
Jalan Cerita: 》Jalan ceritanya membingungkan -Hei, apa benar ini penulisnya Hilman? kenapa jalan ceritanya tidak terplot dengan rapi?- saya seolah membaca cerita kacangan dari penulis2 sekelas wattpad, yang ditulis ala kadarnya dan terburu-buru. 》Diawal cerita, diceritakan Lupus baru pindahan dari Bogor ke Jakarta, lha ditengah cerita kenapa kok diceritakan pindahan dari Bandung?? mana yang benar? 》Jalan ceritanya lompat-lompat, dari satu cerita ke cerita lain seolah dipaksakan. 》Cerita antara Lupus-Poppi-Daniel, terkesan lebay sinetron banget. tapi saya suka dengan cerita Boim dan Gusur :)
Karakter: 》Lupus: Lupus nya nggak asyik ah, kurang lucuu. Agak jaim gitu, klo cerita Lupus versi jadul kan Lupus nya ngocol abis. 》Poppi: ini cewek manja banget, plin plan, ketua kelas tapi nggak tegas. 》Daniel: ini cowok katanya ketua OSIS, tapi serasa ketua genk motor. nggak berwibawa, manja, kolokan, nggak pinter pula (gemes! pengen toyor)
Kesimpulan: kecewa deh sama bangun lagi dong Lupus, mending Lupus nggak usah dibangunin lagi aja. Biar Lupus jadi novel classic :))
Hanya ada dua alasan mengapa saya menyalakan tiga sinar bintang untuk buku ini. Yang pertama, karena Mas Hilman Hariwijaya. Kok saya seperti tidak tege memberi neither 2 stars nor a stars untuk penulis favorit saya. Yang kedua, karena saya membaca Lupus semenjak kelas 3 SD (saya kan hanyalah anak angkatan '95). Terlepas dari dua hal itu, jika bukan karena dua alasan tadi, mungkin saya hanya menghidupkan dua bintang dari kiri sebagai penilaian saya.
Kok rasanya aneh ya? Tidak seperti membaca Lupus edisi lain bin jadul? Terasa awkward. Memang sih, masih bisa kita temui banyolan-banyolan khas mas Hilman, tetapi tetap saja tidak sekuat Lupus edisi Kecil, ABG, dll.