Atas nama kemurnian ras dewa, Batara Brama berniat melenyapkan bayi buah hubungan putrinya, Dewi Dresanala, dan Arjuna, yang notabene seorang ras manusia. Bola api raksasa pun melesat cepat keluar dari telapak tangan Batara Brama dan menerjang bayi hingga di sekujur tubuhnya diselimuti nyala api, membuatnya mencelat dan melesat ke negeri Samudra di ujung timur, lalu tubuh mungilnya melesak ke dasar samudra. Bayi yang ternyata tidak ditakdirkan mati itu (namun sekarat) dirawat oleh Batara Baruna, penguasa negeri Dasar Samudra, lalu diberilah si kecil tersebut sebuah nama yang kelak bakal membuat alam kayangan tergetar dan takut: dialah Wisanggeni! Saat usianya makin dewasa, pertanyaan tentang asal-usul dirinya terus menggelayuti benak Wisanggeni. Merasa keberadaannya telah dimungkiri oleh leluhurnya sendiri, bangsa dewa, Wisanggeni pun menantang kekuasaan dan wibawa bangsa dewa. Lantas, berhasilkah ia mendapatkan pengakuan dari leluhurnya, bangsa dewa? Dan, bagaimana kehidupannya kelak saat ia tidak ditakdirkan terlibat dalam perang akbar Bharatayuda untuk membantu kubu ayahandanya? Simak novel yang demikian menyentuh dan kaya akan pesan moral ini!
“…Jagat cilik adalah semua hal yang ada pada dirimu atas apa yang kamu alami di jagat gedhe, Ngger. Hanya sedikit orang yang bisa mengenali jagat ciliknya, dan hampir tak ada orang yang mampu melihat dan memahami jagat ciliknya,” ucap Sang Hyang Wenang kepada Wisanggeni.
Membaca, membuatnya tergerak untuk juga menuangkan ide, pikiran dan gagasannya dalam bentuk tulisan. Sejak tahun 1997 dia banyak menulis artikel yang lebih banyak bertema pemberdayaan diri terutama dalam lingkup diri dan keluarga. Sejak tahun 2006, Pitoyo mulai menulis buku yang mengangkat kembali falsafah dan nilai kearifan budaya Jawa yang tersalut dalam kisah-kisah Dunia Wayang.... profil selengkapnya
Yipppiiiii... Akhirnya selesai baca buku ini. beli hari sabtu kemarin di togamas.. sempet dilema milih antara Kitab Epos Mahabaratha atau buku ini. tapi akhirnya ambil ini. soalnya aku mikir kalau beli Mahabaratha harus sekalian sama Ramayana.. dan aku juga lebih pengen kenal sama sosok anak Arjuna ini, Wisanggeni..
Aku mau mulai komentar dari cara bercerita Pak Pitoyo. Keren. rasanya kayak lagi liat langsung anak-anak Pandawa lagi bertarung. bahasanya juga mudah dipahami. dan buku ini bikin aku berpendapat. Hey, ternyata cerita wayang nggak kalah sama cerita ala fantasi... kita ambil contoh, the last airbender, dll.. Pokoknya keren. Adegan Antasena dan Wisanggeni lari-larian. trus adegan Wisanggeni mengobrak-abrik istana Daksinageni.. wuuuh..
tapi, aku awalnya berekspekatsi lebih mengenal Wisanggeni setelah baca buku ini. tapi nyatanya, porsi antasena dan antareja sama banyaknya dengan Wisanggeni. Hasilnya bikin aku ngefan sama Antasena*tanggung jawab*
banyak banget pelajaran yang bisa kita ambil dari lakon wayang. contoh, adanya perang bharatayuda itu sendiri untuk memberi kita contoh. kalau perang untuk merebut kekuasaan, wilayah atau alasan lainnya. tidak pernah baik.
apa pun yang tidak sepaham dengan nya, apa pun yang terlihat di mata ia bukan lah kebenaran dan keadilan maka ia tak segan membakar apa pun yang menghalangi nya bahkan Kahyangan dan para dewa pun tak sanggup menandingi kehebatan nya, ialah Bambang Wisanggeni anak dari Arjuna dengan seorang dewi Drasanela yang notaben nya adalah anak dewa yang hampir di bunuh oleh para dewa namun Sang Hyang berkehendak lain.
Bukunya cukup bagus dan mudah dipahami. hanya saja, ceritanya tidak hanya berfokus kepada Wisanggeni yang menjadi judul bukunya. Tetapi, bagi orang yang tidak terlalu mengenal wayang, buku ini bisa membantu untuk mengetahui karakter - karakter putra Pandawa yang tidak ada dalam cerita aslinya. Tapi, ceritanya cukup bagus..
Pada awalnya, saya pikir penulis akan lebih banyak menyebutkan Wisanggeni sebab sesuai dengan judulnya. Tapi ternyata, masih ada karakter lain yang juga ditampilkan dan tidak hanya selewat.
Ceritanya cukup bagus dan gaya bercerita yang digunakan penulis mudah untuk dipahami. Banyak juga pelajaran yang dapat diambil dari lakon-lakon wayang yang disebutkan di cerita ini.
kita harus belajar memahami diri sendiri, sebelum memahami diri belajarlah mengenali diri sendiri sebelum mengenali diri sendiri belajarlah untuk bisa menahan diri.