Jump to ratings and reviews
Rate this book

Negeri Para Bedebah #2

Negeri Di Ujung Tanduk

Rate this book
Di Negeri di Ujung Tanduk kehidupan semakin rusak, bukan karena orang jahat semakin banyak, tapi semakin banyak orang yang memilih tidak peduli lagi.

Di Negeri di Ujung Tanduk, para penipu menjadi pemimpin, para pengkhianat menjadi pujaan, bukan karena tidak ada lagi yang memiliki teladan, tapi mereka memutuskan menutup mata dan memilih hidup bahagia sendirian.

Tapi di Negeri di Ujung Tanduk setidaknya, kawan, seorang petarung sejati akan memilih jalan suci, meski habis seluruh darah di badan, menguap segenap air mata, dia akan berdiri paling akhir, demi membela kehormatan.

360 pages, Paperback

First published April 1, 2013

416 people are currently reading
5860 people want to read

About the author

Tere Liye

70 books13.6k followers
Author from Indonesia.

"Jangan mau jadi kritikus buku, tapi TIDAK pernah menulis buku."

"1000 komentar yang kita buat di dunia maya, tidak akan membuat kita naik pangkat menjadi penulis buku. Mulailah menulis buku, jangan habiskan waktu jadi komentator, mulailah jadi pelaku."

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
3,547 (49%)
4 stars
2,574 (36%)
3 stars
808 (11%)
2 stars
130 (1%)
1 star
56 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 753 reviews
Profile Image for Fizah.
30 reviews9 followers
August 30, 2013
Sekuel dari Novel Negeri Para Bedebah tapi dengan kasus yang berbeda, hanya saja disini klimaks Thomas untuk berdamai dengan masa lalu.

Awalnya agak ragu memberli buku ini, karena setelah melihat review dari beberapa teman di Goodreads yang negatif. Tapi, karena niat awal adalah membaca semua buku Tere Liye, walhasil kemaren akhirnya disempetin membelinya juga bersama dengan Sang Penandai.

Setelah baca, menurut saya ini lebih bagus dibanding Negeri Para Bedebah, buku ini klimaksnya. Banyak momen momen yang membuat tenggorokan tercekat. Dan tentu saja ini klimaksnya, dimana akhirnya Thommy memaafkan secara tulus Om Liem, Om Liem yang akhirnya tobat, semua cerita kakek Thommy itu dibuktikan dengan kemunculan Lee, kehangatan keluarga dan tentu saja runtuhnya musuh bebuyutan Thommy.

Well, lagi lagi semua orang mempunya pendapat berbeda beda..

Disini banyak yang 'lucu' dalam arti, banyak kaitan dengan dunia nyata di Indonesia. Seperti calon presiden yang didukung Thommy yang dulunya Gubernur dan berinisial JD. Siapal lagi kalau bukan Jokowi Dodo.. ^^

Kasus pembangunan gedung olahraga, yang menurut saya sesuai dengan Kasus Wisma Atlet di Indonesia.

Dengan buku ini saya berharap Indonesia akan bersih jadinya dengan hilangnya mafia hukum.. ^^

Berikut beberapa quote yang ada dalam Negeri di Ujung Tanduk..

Di negeri di ujung tanduk, kehidupan semakin rusak, bukan karena orang jahat semakin banyak, tapi semakin banyak orang yang memilih tidak peduli lagi

Di negeri di ujung tanduk, para penipu menjadi pemimpin, para pengkhianat menjadi pujaan, bukan karena tidak ada lagi yang memiliki teladan, tapi mereka memutuskan menutup mata dan memilih hidup bahagia sendirian

Tapi di negeri di ujung tanduk, setidaknya, Kawan, seorang petarung sejati akan memilih jalan suci, meski habis darah seluruh badan, menguap segenap air mata, dia akan berdiri paling akhir, demi membela kehormatan

Kau tahu, Thomas, masalah terbesar bangsa kita adalah: penegakkan hukum. Hanya itu sesederhana itu. Jika hukum benar-benar ditegakkan di muka bumi negeri ini, banyak masalah bisa selesai dengan sendirinya

Siapa yang sebenarnya memiliki sebuah partai politik? Karena lihatlah, bukankah ada banyak partai politik di negeri ini yang tidak ubahnya seperti kerajaan. Pucuk pimpinannya adalah ratu, mewarisi kedudukan itu dari orangtuanya, dan orangtuanya mewariskan posisi itu ke anak-anaknya? Lantas orang-orang di sekitarnya adalah keluarga dekat, kerabat, sanak famili, yang bisa merangsek ke posisi penting tanpa harus susah payah meniti karir politik. Apa kata ratu, semua anggota harus dengar. Apa kata ratu, semua anggota harus tunduk. Omong kosong semua kongres, musyawarah, rapat, dan sebagainya. Omong kosong. Titah ratu adalah segalanya, di atas seluruh anggota partai. Ini membingungkan. Apakah partai itu sebuah kerajaan? Bukan lembaga paling demokratis di alam demokrasi?

Sama halnya dengan kehidupan, seluruh kejadian menyakitkan yang kita alami, semakin dalam dan menyedihkan rasanya, jika kita bisa bertahan, tidak hancur, kita akan tumbuh menjadi seseorang yang berkarakter laksana intan. Keras. Kokoh. Seperti jalan hidupmu. Orangtuamu dibakar, masa kanak-kanak dan remajamu penuh kesedihan, dibebani kenangan abu orangtua. Tapi lihatlah, kau menjadi seseorang yang begitu gagah, amat membanggakan.

Apakah ada di dunia ini seorang politikus dengan hati mulia dan niat lurus? Apakah masih ada seorang Gandhi? Seorang Nelson Mandela? Yang berteriak tentang moralitas di depan banyak orang, lantas semua orang berdiri rapat dibelakangnya, rela mati mendukung semua prinsip itu terwujud? Apakah masih ada?

“…bahwa bagi kami, politik tidak lebih adalah permainan terbesar dalam bisnis omong kosong, industri artifisial penuh kosmetik yang pernah ada di dunia.”

Quote yang benar benar menyentil adalah yang satu ini. Menunjukkan bahwa orang orang yang masih peduli dengan orang lain semakin sedikit.

Jarak antara akhir yang baik dan akhir yang buruk dari semua cerita hari ini hanya dipisahkan oleh sesuatu yang kecil saja, yaitu kepedulian. Begitu juga hidup ini, Thomas. Kepedulian kita hari ini akam memberikan perbedaan berarti pada masa depan. Kecil saja, sepertinya sepele, tapi bisa besar dampaknya pada masa mendatang. Apalagi jika kepedulian itu besar, seperti yang dilakukan Opa-mu terhadapku, lebih besar lagi bedanya pada masa mendatang.

Yang sempat membuat tenggorokan tercekat adalah puisi yang satu ini.

Nasihat Papa tentang Om Thomas

Kata papa, bahkan bila terbakar hangus seluruh keluarga kita
Jangan pernah berhenti peduli
Walaupun terfitnah kejam keluarga kita
Hingga rasanya sakit menembus hati,
Jangan pernah berhenti berbuat baik

Anak-anakku,
Jadilah orang-orang yang berdiri gagah di depan,
Membela kebenaran dan keadilan.
Jadilah orang yang berdiri perkasa di depan,
Membantu orang-orang yang lemah dan dilemahkan.
Atau jika tidak, berdirilah di belakang orang-orang yang melakukannya,
Dukung mereka sekuat tenaga

Maka, seluruh kesedihan akan diangkat dari hati,
Seluruh beban akan terasa ringan.
Karena akan tiba masanya orang-orang terbaik datang,
Yang bahu membahu menolong dalam kebaikan.
Akan tiba masanya orang-orang dengan kehormatan hadir,
Yang memilih jalan suci penuh kemuliaan.

Percayalah,
Dan jangan pernah berhenti percaya,
Meski tak ada lagi di depan, di belakang, kiri-kananmu yang tetap percaya

***
Profile Image for Dzul F. Mumtazah.
3 reviews2 followers
April 12, 2013
Sebagai orang yang gampang terpengaruh, kadang penilaian gw berubah setelah membaca satu-dua komentar dan review orang lain. Tapi tidak untuk kali ini, meskipun orang bilang NDUT (Negeri Di Ujung Tanduk) tidak se-oke NPB (Negeri Para Bedebah), gw tidak pernah menyesal membaca novel ini dan novel Tere-Liye yang lain. Karena NDUT memberikan gw pemahaman baru, dan juga memantapkan pemahaman gw terhadap hal baik lainnya. Gw tak bosan dengan ceramahnya tentang kebajikan, gw tak keberatan dengan kisah tokohnya yang bikin gw percaya kalau kita bisa bangkit dari nestapanya hidup yang kadang begitu bedebah. Klise? Naif? Tentu aja nggak klise dan naif sama sekali. Sudah sedikit sekali orang yang percaya kebaikan, jadi gw tak akan membuat angkanya makin merosot.

I got the action, thriller, keharuan, muak, drama (meski dikit), dan juga pesan moral dari NDUT. Meskipun Thomas tampak terlalu serba bisa, dan alurnya kadang suka ketebak dikit, juga gw setuju tentang pertanyaan-pertanyaan kenapa Julia tiba-tiba menghilang diganti Maryam yang perannya mirip, gw tetap bisa ambil ah pesannya. Karena, apa lagi sih yang gw cari dari sebuah buku selain kisah yang yang bisa membuat gw memiliki pemahaman yang baik tentang hal-hal yang baik? Percaya lagi kalau menjadi orang baik yang selalu peduli itu hebat. Gw sempat lupa itu, jadi Gw terbantu, sangat terbantu, dan Gw juga suka puisinya Putri.
Profile Image for Dan T.D..
12 reviews
April 9, 2013
(As seen on my joint blog, Mencari Binatang Jalang Abad 21)

Judul : Negeri Di Ujung Tanduk
Pengarang : Tere Liye
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2013
Genre : Thriller
Tebal : 359 hlm.

Sebelum memulai review ini (dan sebelum saya menjelaskan kenapa, oh kenapa, saya membaca sebuah sekuel tanpa baca prekuelnya terlebih dahulu) hati saya tergelitik sekali oleh ucapan sang pengarang berikut ini :

"Jangan mau jadi kritikus buku, tapi tidak pernah menulis buku."

Saya baru saja mengetahui fakta yang amat menarik dari kalimat ini : rupanya almarhum Roger Ebert seorang sutradara terkenal, dan Steven Spielberg cuma salah satu dari banyak pseudonim yang ia pakai. Hm, sungguh kalimat yang informatif. Oke, mari kita berhenti bersarkasme ria dan menyikapi pernyataan ini secara serius. Kenyataannya, membuat sesuatu dan menganalisis sesuatu adalah dua keahlian yang berbeda. Ada alasan yang jelas tentang kenapa pemain-pemain sepakbola terbaik dunia, Maradona dan Pele, tidak sukses menjadi pelatih (Pele bahkan tidak menjadi pelatih; dia lebih banyak berkutat membuat prediksi2 yang selalu salah) sedangkan Arrigo Sacchi dan Jose Mourinho tidak pernah jadi pemain profesional tapi keduanya merevolusi sepakbola.

Sacchi sendiri tentu banyak diremehkan saat pertama kali memimpin AC Milan karena tidak pernah menjadi pemain. Jawabannya?

"Untuk menjadi joki seseorang tidak perlu menjadi kuda terlebih dahulu."

Tepatnya : untuk menjadi joki seseorang harus tahu seperti apa kuda luar dalam, bukan menjadi kuda. Untuk mengkritik sesuatu seseorang harus tahu apa yang ia kritik, bukan menjadi sesuatu tersebut. Nah, begitu pula dalam seni dan sastra. Tidak perlu jadi Van Gogh untuk bisa mengapresiasi seni lukis, tidak perlu jadi Mozart untuk bisa mengapresiasi musik, dan jelas tidak perlu jadi Pramoedya untuk bisa mengapresiasi sastra. Apresiasi dan kritik tidak bisa dijadikan kata yang positif atau negatif; orang yang mengkritik dan mengapresiasi dengan baik adalah orang yang menikmati sastra, begitu pun sebaliknya. Maka kesimpulannya adalah, untuk menjadi hakim tipikor seseorang tidak perlu menjadi koruptor terlebih dahulu!

Sekarang kita maju ke topik yang seharusnya dibicarakan di sini sejak tadi. Alasan kenapa saya berani baca buku ini tanpa membaca prekuelnya terlebih dahulu adalah karena :

1. Buku ini tidak terlalu terikat dengan prekuelnya, Negeri Para Bedebah. Semua ikatan yang ada dijelaskan dengan cukup baik. Sepertinya ini lebih seperti serial dibanding -logi.
2. Saya sudah terkena badai spoiler dari prekuelnya, jadi sedikit banyak mengerti kejadian-kejadiannya.

Saya mengharapkan buku yang sangat bagus, melihat reputasi sang pengarang, judul dan sampul depan yang cukup provokatif, serta prekuelnya yang kabarnya mencomot isu kekinian. Sungguh saya benar-benar berharap buku ini menjadi buku yang revolusioner, atau kalaupun tidak sehebat itu setidak-tidaknya bacaan menarik untuk menghabiskan waktu senggang.

Harapan itu hanya tinggal harapan.

Memang membuat sebuah fiksi thriller dengan memasukkan bumbu isu terkini suatu negara merupakan formula yang bisa menarik rasa ingin tahu dalam diri orang-orang, terutama orang awam yang biasanya tidak banyak membaca fiksi. Apalagi kalau ditambah kontroversi dan sedikit label "inspiratif" atau "motivasional". Itu kan alasan kenapa fiksi Dan Brown, betapapun semua teorinya cuma hoax sampah, bisa meraih sukses besar? Itu juga kan alasan kenapa fiksi Tom Clancy bisa laku keras di Amerika meskipun sebagian (hanya sebagian; memang ada yang tidak buruk) dari yang ia tuliskan adalah "Amerika baik. Bukan pendukung Amerika = tidak baik"?

Sungguh saya bisa mengerti kenapa prekuelnya bisa masuk 10 besar nominasi Khatulistiwa Literary Award, karena kabarnya unsur ekonomi dan skema-skema yang dikeluarkan protagonisnya bisa akurat sekaligus menghibur di saat yang bersamaan. Antara fiksi dan isu kekiniannya juga kabarnya dijahit dengan baik. Jelas ekspektasi saya naik sampai ke atap pada sekuelnya.

Tapi saya dibuat tidak mengerti kenapa Negeri Di Ujung Tanduk bisa seperti ini. Konsepnya memang punya potensi menjadi sesuatu yang revolusioner, walaupun kering tanpa orisinalitas di luar kaitannya dengan isu kekinian yang berusaha dibawakan. Sayangnya bukannya mendapat cerita yang benar-benar "membuka mata", yang disuguhi di sini malah ceramah-ceramah tentang politik -dan bukan ceramah yang baik. Ini cuma menjelaskan hal-hal umum tentang politik pragmatis, hal-hal yang bisa didapatkan dengan membaca buku seperti Il Principe atau Muqaddimah ditambah sedikit pengamatan. Kalau begitu kenapa karakter-karakter yang diceramahi, karakter-karakter dari beragam bangsa, dari Eropa ke Amerika Latin ke Afrika, bisa tercengang-cengang mendengar pelajaran pemula seperti ini?

Dan kenapa ceramah, bukan demonstrasi yang bisa mencontohkan politik pragmatis seperti apa? Tidak, tidak, memang ada demonstrasi, tapi rasanya sangat mudah. Terlalu mudah. Saya sampai mengantuk karena setiap tantangan yang dihadapi si protagonis bisa diselesaikan cepat, rapi, dan gampang. Bahkan sebagian solusi untuk tantangan-tantangan ini mengarah kepada deus ex machina. Ibaratnya meriam, pihak protagonis sejak awal punya terlalu banyak peluru. Bukan berarti 'protagonis-hebat-sejak-awal' itu salah dan tidak bisa digunakan dalam fiksi, bukan. Masalahnya adalah, apa yang ingin pengarang sampaikan, yakni bahwa protagonis terjepit terus-menerus dan bahwa musuhnya jauh lebih hebat darinya, bertolak belakang dengan kenyataan di cerita.

Banyak orang yang suka suatu karya fiksi karena karya itu "setuju dengan pendapat mereka". Ini bukan pendekatan yang baik, karena bisa membuat bias ideologi. Meskipun saya tidak bisa dibilang tidak setuju dengan pandangan pengarang tentang kaum LGBT, tapi tetap saja saya tidak menganggap bagian cerita ini yang menyinggung LGBT bagus. Aneh sekali jika, dalam konferensi berisi orang-orang beragam bangsa dengan pandangan berbeda-beda, ketika protagonisnya membuat lelucon tentang homoseksualitas dan menyindir kebijakan sebuah negara tentang kaum LGBT, semua orang di ruangan tertawa. Saran bagi setiap penulis yang membaca ini, jangan sampai karakter-karakter dalam cerita, sekecil apapun mereka, dibelokkan sifatnya demi membenarkan ideologi pengarang. Jangan sampai.

Unsur kekiniannya sendiri? Rupanya tidak ada fakta baru juga di dalamnya. Tandus. Isinya lagi-lagi hal standar yang bisa didapatkan bahkan dengan menonton berita penuh bias di stasiun TV swasta. Bukan inside look atau perspektif berbeda. Rasanya seperti ditempel. Tapi ini tidak terlalu terasa dipaksakan dibanding bagian-bagian "inspiratif" atau "motivasional"nya. Sudah tidak berhubungan dengan ceritanya, terasa seperti ceramah pula. Terlalu didaktik. Menggurui.

Para pelaku cerita ini tidak begitu parah, tidak begitu klise. Ada satu yang menarik perhatian saya dengan dialog-dialog cerdik dan sifat agak sarkastis. Ada lagi yang bersifat santai tapi punya gaya bicara khas. "Bintang tamu" seperti Najwa Shihab dan (mungkin) Tina Talisa juga sebuah kejutan. Sisanya? Tidak terlalu menarik. Keunggulan si protagonis, yakni kejeniusannya, tidak membuat cerita ini lebih menarik. Itu sudah saya jabarkan di atas. Antagonis utamanya sangat terasa seperti penjahat dalam cerita-cerita Disney (atau lebih tepatnya James Bond), dari motivasinya hingga pidatonya.

Begitu pula dengan gaya penulisannya, yang sebenarnya tidak buruk, tapi sering berbelok pada penggambaran latar atau topik tidak penting. Diksinya cukup-cukup saja, tidak begitu spesial tapi mudah dicerna. Ada memang bagian yang lagi-lagi aneh, seperti kenapa baik karakter dari Indonesia seperti Thomas dan Theo hingga karakter orang Makau seperti Lee terkena gejala virus k3jU strain k4w4n. Baru gejala. Sudah cukup untuk mengganggu tapinya.

Keseluruhannya, buku ini tidak bisa memuaskan saya. Dan perlu dicatat, saya membacanya sebelum melihat kalimat sang pengarang di paling atas. Argumen saya mengenai kalimat itu tidak ada hubungannya sama sekali dan tidak memberi bias terhadap penilaian saya pada buku ini.
Profile Image for Lady_rain.
14 reviews1 follower
April 18, 2013
Keren... baru baca beberapa hari yang lalu...
Kalian pernah baca buku karya Dan Brown... eeemh... baca buku ini kira-kira ya kaya' gitu...
petualangan yang cuma di ceritakan dalam jangka waktu beberapa hari...
sebenernya buku ini sekuel dari Negeri Para Bedebah... tapi aku belum sepet buat review buku itu...
mumpung ada kesempatan, aku review buku ini aja dulu, yg masih hangat dalam ingatan...

buku ini berkisah tentang petarung sejati... dalam hal ini seorang pria bernama Thomas, seorang konsultan bisnis yang handal... tetapi dalam buku ini, dia sudah melakukan pemekaran pada perusahaannya dengan merambah ke dunia politik...

cerita ini dimulai dengan latar belakang hongkong dan macau... kita tidak perlu menunggu lama untuk melihat tinju-an dalam buku ini... tau-tau di suatu pagi yang terlihat biasa-biasa saja... tokoh utama kita ini sudah di todong dengan senjata dan ditangkap... beberapa waktu kemudian meloloskan diri... menggerakan media... mengamankan orang-orang kesayangannya... tau-tau ditangkap lagi... di penjara... esoknya di lepas lagi... terbang ke bali... beberapa jam kemudian kembali ke jakarta...
begitu terus... dia ditemani oleh seorang wartawan muda bernama Maryam... yang kebetulan sedang berada di tempat yg salah, di waktu yang salah...

bagiku.. apa yang di paparkan dalam buku ini selalu menarik... sayang rasanya melewatkan waktu semenit saja meniggalkan buku ini... bagi kalian yang suka berpetualang... buku ini akan membawa kita seolah-olah bergerak dengan cepat... karena membuang waktu sebentar saja... adalah suatu yang sia-sia...

kepada bang Darwis... aku selalu menunggu tulisan Anda... yang sudah lama aku tunggu adalah buku terakhir dari serial anak-anak mamak, Amelia... apa bila masih ada lanjutan dari sekuel tentang Negeri ini... aku juga dengan senang hati akan membacanya... semoga Anda dapat menghasilkan karya yang dapat menginspirasi generasi muda dewasa ini...

sekian...
Profile Image for Desy.
5 reviews11 followers
April 13, 2013
Jeda saya membaca ini hanya satu hari setelah selesai dengan Negeri Para Bedebah. Plot, penokohan, karakter, gaya menulis, semuanya masih sangat menempel di otak.

Di sepertiga buku pertama, tentu saja rasanya seperti dikibuli. Plot template dari prekuelnya. Konferensi, wawancara dengan wartawan muda wanita (halo. apa yang terjadi dengan Julia? apa Thom itu semacam James Bond yang harus ganti wanita pendamping di setiap seri?), ditelpon malam-malam untuk diganggu. Semuanya masih sama. Pada akhirnya pun tidak ada yang berkembang di buku ini. Thom masih karakter yang sama, suka mocking, minim self-insight, dan tetap bisa menyelesaikan masalahnya dengan mudah. Gaya menulis Tere Liye pun masih sama, tua. Dengan karakter yang cuma bisa mengumpat dalam dua kata: sial dan bedebah.

Yang membuat saya masih bertahan membaca sampai akhir cuma dua hal: 1. si Thom yang masih sinis dan ganteng; dan 2. adegan tembak-tembakan Kalashnikov masih ada. Masing-masing pegang satu bintang.

Sampai pada akhirnya saya mengambil satu kesimpulan: Negeri Di Ujung Tanduk adalah sekuel yang tidak perlu.
Profile Image for Ananda Sivi.
46 reviews
March 2, 2014
ini mungkin menjadi buku tercepat atau salah satu buku tercepat yang kubaca.. ada alasan tertentu pastinya, mengejar deadline mengikuti bedah buku yang dihadiri oleh penulisnya langsung membuatku seperti diburu waktu, ditambah dengan gentingnya cerita yang luar biasa memaksa mata ini tak sedikitpun berpaling darinya.
sekali lagi kukatakan, ini seperti membaca kisah 'hongkong heroes', sedikit mirip di latar dan actionnya, namun, berbeda pada nilainya.. masih soal menjunjung kebaikan, tapi kedalaman makna itulah yang menunjukkan perbedaannya.. Negeri di Ujung Tanduk membuatku mengenang masa-masa mendalami kisah keluarga Pukat, karena bagaimanapun juga, makna yang diangkat oleh om Tere tak pernah berubah, dan tentunya tak membuatku begitu saja bosan, janji-janji kehidupan yang lebih baik, kepedulian, pengorbanan, kerja keras, kesederhanaan, dan jalan suci penuh kemuliaan..
Dan sepertinya om Tere memang kurang menekankan romancenya, haha.. kisah Thomas dengan Maryam hanya sesekali menampakkan aura romansanya.. meski masih tak pernah tertebak apa yang sebenarnya dirasakan Thomas.. well, aku rasa, memang bukan itu yang ingin disampaikan oleh om Tere.. bukan itu bagian pentingnya..
Mungkin saja, kalau aku sempat membaca kisah Negeri Para Bedebah sedikit banyak aku akan menangkap alur ceritanya, namun, setelah kurampungkan, nyatanya, tanpa membaca buku pertama sekuelnya, aku masih bisa berselancar menikmati aura ketegangan dalam buku ini.
Sungguh, aku menyukai buku yang berkisah dengan latar waktu singkat, beberapa hari yang dilukiskan dalam ratusan halaman novel.. keren. Ide brilian. Aku sempat menghindari karya om Tere semenjak kemunculan karyanya yang mulai mengambil ranah-ranah lain, selain anak-anak dan keluarga, seperti romansa Berjuta Rasanya dan Sepotong Hati yang Baru, atau mungkin masih ada yang lain sejenisnya. Asal tahu saja, aku membaca karya om Tere memang benar-benar murni karena aku sungguh mencintai nilai yang ia junjung dengan gaya bahasa lugas yang ia sampaikan.. maka dengan kemunculan genre lain bukunya seperti yang sudah kusebutkan ditambah sekuel ini aku mulai menarik diri, dan berpikir dua kali soal mengoleksi bukunya.. Namun, agaknya aku harus mengacungkan dua jempol tanganku untuk om Tere selepas aku merampungkan kisah Thomas, ini keren! buku action dengan balutan makna yang dalam yang 'tere liye' bangeet.
Sayangnya, setelah beberapa review yang kubaca soal buku ini, aku mulai setuju dengan salah satunya, soal tokoh Thomas yang 'serba bisa', ya.. ia nampak menguasai apapun dan tampak begitu sempurna, 'heroik' banget. Ya mungkin memang ia 'seri'nya. haha. Thomas, dengan segala kekerenannya, ia hanya tokoh fiktif, maka segala yang tak mungkin dalam dunia nyata, menjadi mungkin dalam cerita, termasuk sisi-sisi keheroikannya.
Tapi, dalam hal ini aku mengabaikannya, karena aku tetap memberikan novel ini lima bintang, selamaaat! karena telah berhasil membuatku tegang dan bukan main enggan sekali untuk tak melahapnya segera.
Aku malah sedari awal sudah membayangkan novel ini juga diangkat ke layar lebar, pasti akan menjadi salah satu film action Indonesia yang amazing! Enggak sabar ada produser yang sepemikiran denganku.. :D
Oh ya, darinsekian banyak bab yang kubaca, salah satu bab yang membuatku terkesan adalah bab Moralitas dan Demokrasi, kalimat-kalimat dialog di dalamnya sedikit banyak memberikan pemahaman tertentu. Ah, om Tere memang terlalu pintar dalam hal ini.
By the way, aku selalu suka mengutip beberapa kalimat dari novel yang kubaca.. beberapa di antaranya kutulis di bawah ini..

"Kau tahu, Thomas, jarak akhir yang baik dan akhir yang buruk dari semua cerita hari ini hanya dipisahkan oleh sesuatu yang kecil saja, yaitu kepedulian..
Kepedulian kita hari ini akan memberikan perbedaan berarti pada masa depan. Kecil saja, sepertinya sepele, tapi bisa besar dampaknya pada masa mendatang.
Selalulah menjadi anak muda yang peduli, memilih jalan suci penuh kemuliaan. Kau akan menjalani kehidupan ini penuh kehormatan. Kehormatan seorang petarung.."
(hal. 358-359)
Profile Image for Stefanie Sugia.
731 reviews178 followers
April 12, 2013
"Kita harus menyadari hal ini. Kita sebenarnya sedang berperang melawan kezaliman yang dilakukan kita sendiri dan orang-orang di sekitar kita yang mengambil keuntungan karena memiliki pengetahuan, kekuasaan, atau sumber daya. Kita memilih tidak peduli, lebih sibuk dengan urusan masing-masing, nasib negeri ini persis seperti sekeranjang telur di ujung tanduk, hanya soal waktu akan pecah berantakan. Ini negeri di ujung tanduk, Thomas."

Thomas, yang adalah seorang konsultan keungan profesional, kini memperluas bidang kerjanya. Unit baru dalam perusahaan konsultannya berfungsi sebagai konsultan strategi bagi politikus untuk memenangi pemilihan. Saat ini, Thomas sedang membantu seorang politikus berinisial JD yang menjadi kandidat terbaik pemilihan presiden. Thomas amat mendukung politikus ini karena impiannya untuk menegakkan hukum - yang adalah kunci dari semua permasalahan negara. Akan tetapi saat mereka sudah begitu dekat dengan kemenangan yang pasti, serangan balik yang mematikan datang menghancurkan. Dan sasaran utamanya adalah Thomas....

Baca review selengkapnya di:
http://www.thebookielooker.com/2013/0...

Profile Image for Neolavender123.
144 reviews
August 26, 2013
Begitu selesai membaca, saya bisa langsung menyimpulkan kalau Negeri di Ujung Tanduk (atau NdUT), IMHO, lebih bagus daripada Negeri Para Bedebah.

Serupa dengan Negeri Para Bedebah, Negeri di Ujung Tanduk juga mengandung genre crime/action yang jarang ditemukan dalam industri novel populer Indonesia. Dengan tokoh utama yang sama dan beberapa karakter sampingan yang juga sama, novel ini masih menceritakan petualangan dan aksi Thomas dalam waktu yang amat singkat, latar berbeda-beda, dan intelejensi yang baik.

Namun kenapa saya bilang NdUT lebih bagus dari prekuelnya?

Pertama, perbedaan yang mencolok adalah topik yang diangkat dalam cerita ini. Kalau sebelumnya NPB bercerita tentang ekonomi dan tetek bengeknya, kini Tere-Liye menuliskan Thomas yang sedang berkutik dengan cabang konsultasi barunya, yakni politik. Dan bukan sembarang politik, topik yang diangkat ini memunculkan tokoh dan kejadian nyata yang sedang marak di tengah tanah air (mungkin serupa dengan NPB yang mengangkat kejadian nyata juga). Karena relevansi tersebut, novel ini dapat ditangkap dengan mudah oleh para pembaca terutama bagi yang sedang mengamati gejolak politik Indonesia saat ini.

kedua, meskipun dengan tokoh utama yang sama, muncul beberapa karakter baru pula. Sosok wartawati di buku pertama digantikan dengan Maryam. Interaksi Thomas dengan wartawati ini pun lebih baik dari buku pertama karena kali ini Maryam terlihat memberi sedikit efek pada sosok netral Thomas.

Selain itu, ada juga Lee Sang Monster, karakter yang menurut saya hampir setara dengan sosok Rudi juga Thomas. Sama-sama muda, kaya, dan pintar. Lee pun terlihat sebagai sosok yang amat kuat dan berkharisma. Ternyata menyimpan peranan yang sangat penting saat cerita berlanjut dan merupakan karakter favorit saya yang keempat setelah Rudi, Thomas, dan Opa.



Ketiga, alur di buku kedua ini berjalan tidak secepat yang pertama. Tapi bagi saya justru itu poin plus nya. Hal ini berhubungan dengan menurunnya kadar aksi yang telah muncul berkali-kali dengan kesenjangan waktu yang minim di buku pertama. Kalau buku pertama terkesan diburu-buru, maka buku kedua ini muncul dengan alur yang lebih rapih. Dengan kadar aksi yang berkurang, Negeri di Ujung Tanduk jadi lebih banyak berpikir dan kejutan pada plotnya lebih terasa. Mungkin tak semua orang menyukai perubahan ini, namun bagi saya ini justru sesuatu yang saya anggap lebih baik dari buku pertama.

Keempat, sebagai sekuel, Negeri di Ujung Tanduk bisa dibilang sukses dalam merampungkan cerita Thomas yang menggantung pada buku pertama. Meskipun saya rasa klimaksnya bisa lebih ditajamkan dan dijabarkan lagi, saya rasa endingnya sudah cukup memuaskan.

Sudah sebulan sejak saya menyelesaikan cerita ini. Dan dari kabar burung yang saya dengar, katanya Negeri Para Bedebah akan segera di film kan. Entah buku pertamanya saja, atau sudah termasuk dengan NdUT, saya tidak tahu. Tentu saja saya sangat ingin mendapat verifikasi dari kabar ini dan kalau memang benar, saya pasti takkan melewatkan menonton film ini di layar lebar nanti. Film tentang aksi, perekonomian, serta politik ini akan memberikan angin segar bagi perindustrian film Indonesia.

3,5 bintang yang dibulatkan menjadi 4 untuk kejeniusan Tere-Liye yang dituangkan dalam cerita ini ;)
Profile Image for Yazlina Saduri.
1,548 reviews41 followers
August 2, 2025
Baca sekali lagi kerana nak serap energy asal kisah Thomas yang kemudian bergabung dengan Si Babi Hutan.

=====
Saya baca sekali lagi buku ini sebelum menjual kepada yang mahu membelinya esok. Memang menarik sekali dan watak Thomas sangat mengesankan. Cuma ada yang saya perasan tidak terjawab; di mana Theo? Selepas pertarungan Thomas dengan Lee the Minster di Macau, dia langsung hilang. Mungkin tidak sempat berjumpa selepas begitu banyak keributan melanda hidup Thomas dalam masa hanya beberapa hari. Kedua, saya fikir lebih best kalau penulis dapat menceritakan sedikit feedback si bedebah Shinpei selepas dia ditangkap. Si bajingan jenderal bintang tiga itu, ahh pasti gendut orangnya, jahat ya ampun.


Below is my review from the first time reading it 19th Nov 2017.

Hands down; the book, the story plot, the characters, the messages, the opening, the ending, phenomenal. One of the best books I've read and definitely in the list for one of the books I'd keep in my home library, repeat reading, recommend for my kids to read. The issues are common, injustice, bribery, white collar criminals, money and power usually win whatever war, conspiracy, raw betrayal, friendship built on trust and respect ... still, how conflicts are perfectly developed around those is brilliant. No lose ends. I understand everything in the end. I am probably not much into Indonesian politics and basis for polemics, but I can appreciate Thomas' ideals and actions. The thrilling chase drama of Thomas with the goons of the bad police, is epic to me. I like Rudi very much, Monster Lee and Maggie too. Kris is also an interesting character. Kris and Thomas not being able to find a single shred on Shinpei on the net draws my intrigue. The author's insertion of humour is also very refreshing, Opa seems to be a cool 65 year old grandpa. Him wanting to take the fishing boats during his supposed-to-be-hiding period is hillarious. There are so many meaningful lessons from this book, and the one shared by Grandpa Chai through the very last paragraph is the most precious. No matter what race, nationality, beliefs you embrace, this is useful advice. "... Selalulah menjadi anak muda yang peduli, memilih jalan suci penuh kemuliaan. Kau akan menjalani kehidupan ini penuh dengan kehormatan. Kehormatan seorang petarung". Deep. Firm. Wholesome. I totally love this book and having the opportunity to read it is a blessing.
Profile Image for Fitria Mayrani.
522 reviews25 followers
April 26, 2013
Tidak ada alasan untuk tidak memberi rating yang bagus pada seri kedua Negeri Para Bedebah ini. Ketegangan, intrik, twist-nya masih tetap cetar menggelora.

Kali ini, Thomas berkiprah sebagai konsultan politik. Intrik itu berawal ketika klien politiknya ditahan atas tuduhan korupsi. Sebagai konsultan politik terpercaya, Thomas segera bertindak untuk menyelamatkan kliennya dari segala tuduhan. Thomas tau, kliennya tidak bersalah sedikit pun dan ini hanyalah jebakan agar kliennya tidak bisa mencalonkan diri sebagai kandidat calon presiden pada pemilu mendatang.

Kembali, kehidupan Thomas terusik. Segenap upayanya untuk menyelamatkan situasi berhadiah jebakan demi jebakan dari musuh bebuyutannya. Beruntung Thomas punya relasi yang solid, bersisian menolongnya hingga titik darah penghabisan. Musuh sejati Thomas bisa dibekuk, masalah selesai menyertainya.

Eh tapi sejujurnya saya mengharapkan ada sekuel ketiga lho! Semoga Bang Tere mau memanjangkan ceritanya ya!
Profile Image for tiTa.
513 reviews20 followers
July 9, 2013
Buku Mas Tere Liye (sungguh saya baru tahu kalau ternyata pengarang seorang mas. Maafkan kekhilafan saya yang sudah semena-mena menyebut 'mbak' selama ini) ini masih tetap tipikal buku baik untuk vitamin hati...

Saya belum baca novel terdahulunya yang berjudul Negeri Para Bedebah itu. Jadi jujur saja, saya membaca novel yang satu ini tanpa ekapektasi apa-apa. Dan menilik dari review2 lainnya soal buku ini. Let say, saya terselamatkan oleh 'without any expectations' itu. Atau tidak. Entahlah.

Tadinya saya mau ikutan latah membandikan buku ini sama buku2 nya Dan Brown. Secara saya suka sekali sama cara bercerita om yang satu itu. Tapi,, ya beda la ya. Hanya agak2 menjurus saja ke genre yang sama ^^

Frankly speaking, awalnya.. saya ingin menyanjung tinggi novel ini. Tapi sayang, sungguh sayang,, niat itu berkurang seiring halaman yang saya tinggalkan.. Yang ada.. blakangan kok saya jadi rada bosan membacanya. Memutuskan menskip saja banyak bagian dan buru-buru sampai di penghujung cerita. Dan disinilah saya,, memberikan 3 setengah bintang untuk buku ini..
My last word.. bolehlah thriller ringan tipikal beach-read ^^

PS:
Buku ini mungkin memang sekedar fiksi. Isinya mungkin cuma mimpi. Tapi setiap aksi tentu didahului ‘cuma mimpi’
Kita nggak bakal kenal pesawat terbang kalau ngak ada orang gila yang bermimpi ingin terbang. Kita nggak mungkin kenal yang namanya lampu kalau nggak ada si pemimpi keras kepala yang kepingin menghadirkan cahaya matahari pada gelap malam. See, semuanya berawal dari mimpi. Siapa yang tahu kalau mimpi dari sebuah buku ini suatu saat justru bisa merubah negeri kita ini.
Berapa banyak yang membaca buku ini dan mengamini perubahan yang diimpikan sang penulis? Berapa banyak pula yang tak puas hanya sekedar mengamini jadi lantas mengambil aksi nyata untuk mewujudkannya? Wuiiih ... Mana tahu ada Thomas nyata diluar sana

Profile Image for Icha Aisyah.
6 reviews
July 26, 2013
negeri kita memang sedang di ujung tanduk, semoga semakin banyak anak-anak bangsa yang peduli dengan negaranya sendiri
Profile Image for Primadonna.
Author 50 books374 followers
April 11, 2013
Aku suka buku pertamanya. Namun di buku kedua, sebagai pembaca aku merasa kurang terpuaskan.

Kisahnya, berdasarkan alur, hampir sama dengan buku pertamanya. Diawali dengan klub tinju sejenis Fight Club. OK, barangkali agar pembaca teringat buku pertama dan merasa familier. Namun pada saat adegan pertarungan Monster Lee dan Thomas, tidak diceritakan. Ini membuatku kecewa! Kalau tidak salah, di buku pertama begitu juga. Tidak dikisahkan dengan gamblang pertarungan Thomas, eh tahu-tahu menang. Di sini juga sama. Padahal bisa saja kan, tetap diceritakan dan diarahkan agar pembaca masih menduga-duga, ini yang menang Thomas atau Lee sih? Di buku pertama tidak diceritakan, masa di buku kedua juga tidak? Kesannya penulis agak enggan menuturkan cerita pertarungan dari sudut pandang Thomas, padahal menurutku itu akan membuat kisahnya lebih seru. Tidak usahlah terlalu detail, cukup beberapa bagian yang menegangkan saja.

Lalu apa yang terjadi pada wartawan di buku pertama? Kesannya dibuang begitu saja. Dan anehnya di buku ini malah adanya wartawan baru, dan wartawan lama (logikanya kalau ada kejadian heboh seperti ini, dia nongol lagi dong) tak muncul sama sekali.

Aku tidak terlalu paham mengenai birokrasi, tapi bagiku yang awam, Thomas yang bisa pergi ke mana-mana tanpa paspor itu aneh. Dari Jakarta ke Hong Kong, hanya pakai surat jalan, bisa pergi begitu saja? Dari HK ke Jakarta bisa menggunakan dokumen2 entah apa seolah dia orang Malaysia? Tapi bisa saja memang aku yang tidak begitu paham peraturan bepergian ke luar negeri, barangkali sudah lazim menggunakan surat jalan saja tanpa paspor.

Lalu... duh, musuh utamanya masih sama dengan pertama. Agak gemas juga karena Thomas terkesan lemot tidak kepikiran orang itu sama sekali.

Menjelang akhir juga terasa sedikit antiklimaks. Aku akan lebih senang kalau Thomas bisa menghajar musuhnya dahulu, baru bantuan datang belakangan. Akan lebih mencekam! Di buku ini kesannya Thomas terlalu mengandalkan keberuntungan dan bantuan tak disangka-sangka dari orang lain. Ini yang membuatku memberikan dua bintang saja.

Meski demikian, aku berharap sungguh banyak pada sekuel buku ini (semoga ada yang ketiga?) semoga wartawan yang dulu muncul lagi, begitu pun konfliknya semakin seru. Dan semoga sisi psikologis dan emosi Thomas lebih diulik agar pembaca bisa lebih paham, apa dia sudah bisa berdamai dengan "setan-setan" dalam dirinya atau belum. Dan apa idealisme akan bisa menang melawan korupsi dan segala rupanya?

PS:
Setelah membaca review lain, aku juga teringat bahwa aku kurang suka dengan Thomas yang kesannya wordly tapi malah seolah menyindir LGBT . Kalaupun penulis berpendapat begitu ya silakan, tapi agak off ya, bagi karakter Thomas, sehingga kurang berterima bagiku kok Thomas bisa-bisanya berpendapat cetek dan berbicara di forum dunia, kemudian orang seolah tertawa akan kata-katanya, seakan menyetujui. :( Politically incorrect, I'd say.


This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Arifa Hilma.
35 reviews1 follower
February 8, 2014
yeaah....
sekuel dari Negeri Para Bedebah yang diaktori tokoh favorit kita. Thomas.
di bagian awal, saya kira sekuel ini bisa dibaca sendiri tanpa harus membaca prekuelnya, karena saya kira kasus di NPB sudah selesai. Ternyata belum. Wohooo...

Yang saya suka dari sekuel ini:

1. Kehadiran Tokoh Lee, yang sebelas duabelas dengan Thomas. Bahkan ada kemiripan lucu yang sedikit disinggung di bagian epilog.

2. kebiasaan kecil Thomas yang diselipkan penulis. Seperti bangun pagi, tepat waktu, ke-ramah-tamahan-nya dengan kerabatnya, dan sikap bersahabat dengan karyawan. Oya, lagi-lagi ada tokoh baru Kris.

3. dilihat dari cerita, sekuel ini lebih seru dan full action. Dengan jejaring mafia yang lebih luas dari prekuelnya.

4. Hei, keliatannya Maggie lebih cemburu dengan tokoh baru lainnya, Maryam. Tapi menurut saya, karakter Maryam lebih "pendiam" dan "mending" daripada Julia. Walaupun untuk novel Thriller dan action begini lebih cocok Julia.

5. ada bagian dari "kaset rusak" Opa yang menjadi pelajaran moral utama yang dipetik dari novel ini. Pelajaran moral yang akan dibeberkan oleh Opa-nya Lee di akhir cerita. Lagi-lagi dengan gaya kaset rusak.

6. dan bagian perpisahan Thomas dengan staffnya ketika berangkat ke Hongkong. Memenuhi undangan Mafia. itu adegan singkat yang cukup emosional setelah berlembar-lembar sebelumnya mencengkram adrenalin.

Yang kurang saya suka:

1. di bagian awal, plotnya tidak jauh beda dengan NPB, jadi terkesan agak template. Tapi cuma di awal kok

2. ada kalimat yang diulang penulis (mungkin sudah gayanya kali ya) seperti :
- Aku mengakhiri pembicaraan setelah satu dua kalimat lain dari Guru Alim
- "Kalau kalian tidak segera makan, Lita akan menghabiskan seluruh hidangannya bahkan sebelum kalian memegang sendok".
frasa yang saya garisbawahi diulang berkali-kali di percakapan lain.

3. kalau di prekuelnya kita lebih menyaksikan kecerdasan Thomas. Dan berkali-kali kecerdasan dan wawasannya sangat berjasa membuat citra keren dan wow di mata pembaca, dan juga berjasa menyelamatkan hidupnya. Misalnya, teorinya tentang "membalikkan pikiran" orang hanya dengan mengatakan opini yang berseberangan dengan cara keras.
atau pengetahuannya tentang rasi bintang yang menyelamatkannya di detik-detik terakhir NPB. Dan masih banyak lagi, di sekeul ini saya kurang merasa greget dengan kecerdasan Thomas.

4. Lagi-lagi soal 'kurang-greget'nya aksi Thomas di bagian akhir yang harusnya jadi Epic Finale. Adegan jotosnya Thomas kurang. Dan lama-lama tokoh Thomas jadi bayang-bayang Rudi dan Lee.

oiya, kalo saya boleh iseng nanya, tokoh se-tampan, keren, jenius, petarung, dan banyak koneksi macam Thomas kok masih bujangan di usia yang ke-34? Dari baca novel yang pertama, saya berharap ada sedikit adegan cheesy chessy yang menyeret kehidupan Thom. (lupakan! kenapa jadi telenovela begini).
Profile Image for Nurul Swadini.
23 reviews2 followers
November 21, 2013
Buku ini merupakan sequel dari buku Tere Liye lainnya yang berjudul "Negeri Para Bedebah". Sesuai judulnya, buku ini menceritakan busuknya sistem pemerintahan, dan juga betapa rakusnya manusia. Banyak orang pintar yang menggunakan kepintarannya untuk keuntungan sendiri dan merugikan banyak orang. "Para Bedebah tak akan peduli lagi dengan apapun yang penting dia bahagia.

Secara keseluruhan buku ini menceritakan kelanjutan cerita buku pertama. Mengisahkan Thomas yang beralih menjadi konsultan politik. Sejak berdiri sampai saat itu dia telah memenangkan kandidatnya.
Dia semakin dikenal banyak orang. Tapi tetap saja Thomas mempunyai lebih banyak musuh. Hal itu dimulai saat ia memilih untuk mendukung salah satu kandidat presiden yang dikenal sebagai orang yang jujur dan berdedikasi. Laki-laki paruh baya yang ternyata adalah kakak kelas Thomas saat di panti asuhan iti kini menjadi calon salah satu kandidat presiden dari partai politik ternama di negara nya.

Namun, karena dikenal sebagai orang baik bukan berarti banyak yang akan mendukung. Justru sebaliknya, banyak "bedebah" menginginkan dia tumbang walaupun harus dibayar dengan mahal. Dan benar, berkali-kali Thomas harus menghadapi mafia-mafia hukum.

Awal cerita, Thomas berlibur dengan Opa dan Kadek dengan kapal pesiar baru miliknya atas hadiah dari Opa. Datanglah sang Wartawan wanita yang akan mewawancarainya untuk suatu majalah ekonomi tersohor. Dalam perjalannya, tampak tak ada masalah. sesampai di Hongkong, mereka disergap tim antiteror Hongkong yang mendapatkan laporan bahwa kapal Thomas memuat narkoba dan senjata. Akhirnya mereka semua digelandang untuk dipenjarakan. Tak habis akal, Thomas mengenal salah seorang petarung yang berhutang 1 permintaan padanya. Dari situlah mereka semua bisa lolos. Kembali ke Jakarta...

Muncul berita menghebohkan kandidat Thomas disangka sebagai pelaku korupsi mega proyek tunnel di Jakarta. Sang Kandidat harus dipenjara, keluarganya bersembunyi di salah satu perumahan yang tak diketahui massa. Thomas kembali bingng apa yang sebenarnya terjadi. Siapa dalang semua ini?

Bagaimana dengan Thomas? Tentu saja dia sudah mempersiapkan banyak hal. Melarikan Opa ke kapal pesiar baru Thomas bersama Kadek.Sedangkan dia "berlari" dari satu tempat ke tempat lain, dari satu medan tempur satu dengan lain dan dengan peristiwa penting satu ke yang lainnya.
Profile Image for Hidayah.
61 reviews2 followers
January 31, 2014
Apakah Negeri ini benar-benar sudah di ujung tanduk, sekali terpa remuk sudah??? Dengan buku ini Bang Darwis mengajak pembaca menilik Negeri sendiri, istirahat sejenak berdiskusi tentang perasaan ala kalangan muda.., dan berkata Hei bukankah bentar lagi di Negeri kita akan digelar “Pesta Demokrasi “.., ayo sini Abang ajak ke back stage, disana adalah penggarapan film yang belum lulus sensor .., Nguing...nguing ,
Sudah menjadi rahasia umum untuk Negeri, sudah menjadi pembahasan yang panas, penjelasan Bang Darwis tentang isu moralitas tak lebih sebuah omong kosong yang bisa dijual..., yupzz pemeran tokoh – tokoh yang yaa taulah memang hanya fiktif belaka but mengena...hoho
Pembahasan Mafia Hukum wuuuh semua isi Negeri berkumpul sudah di buku ini, kongkalikong, beberapa yang berseliweraan di televisi hwuuuu bikin tegang saja Bang Darwis nie..,

Kesimpulan dari membaca buku ini , sudahkah partisipasi kita untuk Negeri ini level maksimal, BELUMMM......., Pedulimu mana??? Hehe garuk-garuk kepala


*tumbs up untuk buku ini , karena hanya mengisahkan waktu 3 hari dua malam bisa jadi buku setebal ini??? Kisah Thomas si konsultan politik yang kalo aku milih jika difilm kan yang jadi Joe Taslim... hehehe adegan di Makau full action mirip mission immposible tuh... Bang Darwis bisa action juga ternyata...xixixi but jujur semua buku Bang Darwis tuh Filmix , masih berada dijalur aman untuk bisa difilmkan, jadi kurang total.... untuk trap alur masih bisa di tebak ...aksi2 Lee , Thomas, Rudi terlalu dibaut cepat selesai seperti film Layar Lebar...., yah tapi aku senang bisa dipertemukan dengan buku ini.....

Satu pesan kehidupan kenapa Thomas bisa menjadi seperti itu :
Seluruh kejadian menyakitkan yang kita alami, semakin dalam dan semakin menyedihkan rasanya jika kita bisa bertahan, tidak hancur, kita akan tumbuh menjadi seseorang yang berkarakter laksana intan. ^_^

Profile Image for Abdur Rasyid.
9 reviews3 followers
April 12, 2013
"Bukan Negeri para bedebah lagi, bahkan akan jadi negeri di Ujung Tanduk", semua orang hanya peduli diri sendiri, tapi masih ada para petarung sejati yang bertarung sampai mati.

Kita masih tetap disuguhi cerita yang hampir mirip alur cerita dengan Negeri Para Bedebah, namun lebih banyak intrik dalam sini, lebih banyak konspirasi politik yang dihadapi oleh Thomas, Live Action dari Hongkong-Jakarta-Bali selama 48jam. Adanya hubungan dengan cerita yang lalu, kaitan-kaitan yang dibuat, Mafia besar, tokoh-tokoh baru di dunia pesengkongkolan hukum, dan semua kedok akan diungkap di dalam Negeri di Ujung Tanduk.

Sungguh ketika kita membaca ini dan membaca berita koran, seakan beriringan bersama dan seperti tampak sama dunia nyata atau khayalan belaka, kisah konspirasi politik partai yang sekarang ada, terungkapnya skandal korupsi mega proyek pengadaan infrastruktur olahraga dan pengadaan simulator sim. Yang anda baca seperti yang anda rasakan, yang anda reka-reka seperti yang anda tahu, inilah Negeri di Ujung Tanduk.

[Benar-benar memacu curiousity pembaca]
Two Thumbs UP!!
Profile Image for Luki.
9 reviews3 followers
May 2, 2014
Setelah nangkring cukup lama bersama novel-novelku yang lainnya, akhirnya aku ngebaca novel ini juga. Nggak biasanya aku ngebaca novel yang isinya intrik politik, konspirasi, konvensi partai, kekuasaan, dan lain-lainnya.

Membaca novel ini bagaikan lagi ngeliat live carut-marut keadaan politik yang sedang terjadi di negeri ini. Novel ini berisi tentang orang yang berperan di balik seorang capres yang akan mengikuti pilpres. Ah... ketika membaca novel ini pasti kalian akan tertuju kepada sosok capres yang juga akan mengikuti pilpres yang kemungkinan akan dilaksanakan tanggal 9 Juli mendatang.

Seperti halnya desas-desus dari sosok capres tersebut yang katanya di balik keberhasilannya yang dulunya menjabat sebagai walikota dan sekarang sebagai gubernur ibukota, di belakang keberhasilan pencitraan beliau terdapat dekengan dari pihak Tionghoa. Begitu juga dengan kisah di novel ini, dengan gaya penulisan Darwis Tere Liye yang kentel banget, seolah-olah Bang Tere dapat membaca situasi yang akan terjadi pada pilpres 2014, padahal novel ini dibuat sebelum capres yang saya maksudkan menyatakan dirinya akan nyapres di periode 2014-2019 ini.

Novel ini merupakan sekuel dari novel Negeri Para Bedebah. Tokoh utama dalam novel ini bernama Thomas, dia adalah sosok keturunan Tionghoa yang merupakan konsultan politik, dan salah satu client dari Thomas adalah capres yang bahkan saya lupa namanya pernah disebutkan dalam novel ini atau tidak karena Thomas hanya memanggil tokoh capres ini dengan sebutan "Halo Bapak Presiden". Seperti novel-novel Tere Liye yang lainnya, untuk membaca dan memahami setiap katanya memerlukan pemikiran yang lebih ketimbang kita membaca novel-novel yang bergenre teen. Konspirasi politik merupakan tema utama dari novel ini. Kalian yang masih merasa polos dengan dunia perpolitikan, masih hanya merasa bahwa hanya ada hitam dan putih di dunia ini, tak ada salahnya untuk membaca novel ini yang pastinya akan membuka pemikiran dan memberikan pemahaman tentang dunia abu-abu.

Tokoh-tokoh dalam novel ini juga sangat mirip bahkan ada beberapa tokoh yang sama, misalnya saja pada novel ini terdapat tokoh yang namanya Najwa yang profesinya menjadi wartawan dan mempunyai program tv tentang politik. Kalian tentu tau donk, juga ada seorang wartawan yang juga mempunyai program tv sendiri tentang politik di salah satu stasiun tv swasta yang juga bernama sama. :D.

Selain konspirasi politik, novel ini juga mempunyai tema action. Sayangnya, menurutku penggambaran action ketika sedang baku tembak terjadi terlalu banyak terdapat dialog. Penjelasan-penjelasan yang ketika baku tembak terjadi alangkah sebaiknya dijelaskan ketika baku tembak sudah usai. But, over all aku tetap menyukai gaya penulisan dari Darwis Tere Liye.

Ah... Membaca novel ini juga seperti lagi menonton drama Korea GHOST /yang pernah menonton/ atau melihat film The Bourne Ultimatum, jangan berharap akan terdapat romens, yang ada hanya romens php. hahaha...

Sekian review dariku untuk novel ini. :D.
Profile Image for Laras.
160 reviews
May 28, 2014
Rasanya pas membaca buku ini ketika geliat politik di Indonesia sedang memanas. Apalagi pas karena memang topiknya sedang membahas capres dan lain-lain. Ga kebayang aja kalau ternyata benar ada yang namanya mafia politik atau mafia hukum, orang yang mengatur semua proses jalannya hukum di suatu negara dengan cara yang, menurut saya, jahat banget. Iyalah. Mereka licik, culas, curang, dsb, dsb. berhubung ini buku fiksi, saya ga bisa nge-jugde kalo emang di Indonesia bener-bener terjadi yang namanya kecurangan ini. tapi gila loh ya. yang namanya orang baik itu disingkirkan demi ego mereka-mereka yang curang untuk mendapatkan kekuasaan, dengan cara yang sama sekali ga gantle. That’s sucks man. Kalo ga punya malu udah pasti. Soalnya mereka adem ayem aja tuh dengan kemunafikan yang mereka buat sendiri. Oke, saya jadi ngelantur kemana-mana. Hahaha. Abis emosi ga sih kalo yang saya baca itu jadi kenyataan? Saya kan sebagai warga negara yang innocent dan mempercayakan semuanya di tangan petinggi negara, mereka malah seenaknya memodifikasi apapun biar kelihatan baik di depan rakyat dan untuk diri mereka sendiri, padahal bedebahnya ya mereka itu juga.

Thomas yang udah setahun rehat dari petualangan mendebarkan akhirnya merasakannya lagi. Dia bersama Rudi, Lee, dan kawan-kawan lainnya berusaha untuk membongkar kejahatan yang sudah berlangsung lebih dari belasan tahun di negeri ini. kalo di novel, dan seharusnya di kenyataan juga, yang baik selalu menang. Dengan cara yang amat sangat mendebarkan, tapi tetap berhasil memuaskan kepenasaran saya terhadap novel ini. 4.5 stars!!
Profile Image for Kiki.
20 reviews2 followers
April 1, 2014
Novel ini merupakan kelanjutan dr novel yang sebelumnya, Negeri Para Bedebah. Di novel ini, baru benar-benar kena banget pesannya daripada di novel sebelumnya yang agak menggantung. Seru dan kerennya sih sama tetapi lebih menyentuh di novel kedua ini menurut saya.

Pesan yang disampaikan secara menarik tentang sebuah kepedulian. Kepedulian dalam seluruh aspek kehidupan. Terutama segi kehidupan kenegaraan. Negara yang `rusak` yang digambarkan dalam kedua novel ini sengaja dituliskan seperti kasus yang nyata terjadi di negeri ini. Sisanya dipoles dengan opini penulis dan imajinasi yang `bisa jadi` itulah yang terjadi. Lets say masalah `mafia`.

Novel ini tidak sekadar seru dan menegangkan, tapi sarat kode kode yang seharusnya dipahami sebagai sebuah bentuk penyadaran bagi kita untuk lebih peduli terhadap kehidupan sekitar khususnya negara kita.

Seperti digambarkan dalam prolog di bagian cover belakangnya : `di negeri di ujung tanduk kehidupan semakin rusak, bukan karena orang jahat semakin banyak, namun karena banyak orang yang memilih tidak peduli lagi`. Setuju banget deh bang tere.

Tapi sayangnya ada yang kurang saya suka dari novel kedua ini, sepertinya ada sosok tokoh yang digambarkan sangattt baik dengan nama dan sifat (yang terlihat di media) yg dimiripkan oleh seorang kepala daerah yang kabarnya akan jd kandidat capres di pemilu nanti. Secara tidak langsung cukup menggiring opini juga hehe.

Pas banget yaa, pas mau pemilu. Terlepas dr siapa sosok yang digambarkan `baik dan sempurna` dalam novel ini, tak jadi masalah. Berdoa saja masalah negeri ini tak serunyam seperti di novel :)

Makanya yuk pilih pemimpin amanah, setidaknya kalau kita tidak bisa menjadi terdepan untuk membela kebenaran, kita harus PEDULI dan mendukung dari belakang orang2 yang kita yakini bisa membela kebenaran tersebut. Jangan sampai sesat dan menyesatkan negara yang hampir di ujung tanduk ini :)

#edisi pemilu hehe
Profile Image for aditarisbowo.
2 reviews1 follower
February 22, 2014
buku kedua ini minim kejutan daripada yg pertama karena ada beberapa adegan yang mempunya plot sama dengan buku 1 negeri para bedebah..

dejavu no 1-->plot dimana thomas akan bertarung di atas ring, di buku 1 melawan rudi. di buku 2 melawan lee. dan hasil pertarungan itu2 sama kita ketahui beberapa bab setelahnya.

dejavu no 2-->plot thomas di wawancara oleh wartawati cewe yg tanpa sengaja terjebak dalam situasi thomas.dg karakter tokoh yg amat mirip. julia di buku 1 dan maryam di buku 2.yh membedakan hanya tempat wawancara.julia di pesawat maryam di attas kapal pesiar.

dejavu no 3-->plot ketika thomas menghubungi maggie utk mengumpulkan para pemred maupun pengamat dari kalangan media masaa dan akademisi ketika situasi thomas mulia genting dan membutuhkn support dari media massa. dan ending acara tersebut thomas meminta maggie utk memberikan "hadiah kecil" buat mereka. dg tujuan mempengaruhi atau menanamkan ide ke mereka. apakah itu sama dengan "menyogok"??entahlah..

terlepas dari beberapa pengulangan beberapa plot, saya tetap meyukai buku ini.penutup dwilogi ini.ending cukup memuaskan.karakter thomas yg dalam fantasi saya diperankan oleh JOE TASLIM heheh sanagt tangguh.ah andai saja tokoh ini bukan rekaan semata..

kekuatan besar tidak ada guna nya jika kita tidak punya kepedulian untuk berbuat sesuatu untuk memperbaiki keadaaan.


BRAVO UNTUK NOVEL ACTON TERBAIK INDONESIA !!!!!!
Profile Image for Megga wulandari.
7 reviews2 followers
September 10, 2014
Waktu ngebaca prolognya< misterius sekali ternyata . saya bingung ini ceritanya tantang apa... buram... gelap... gk ngerti.. :)hehe
buku ini sempat saya cuekin >.< tp nyesel juga.. krn ketika terpannggil jiwa saya untuk membaca buku ini... wuih.. keren.. HAHAHA...

ceritanya, tentang Thomas( bujangan tampan ,kaya )berprofesi sebagai konsultan politik dan konsultan keuangan yang rela mendukung konvensi seorang presiden walaupun harus merelakan nyawa...nah petualangan nya inilah yng bikin tman2 berdebar..jantungan... mirip si robert langdon nya DAN BROWN yiah.. termasuk dikejar2 polisi dan ditemani wanita .. hanya karakter si THOMAS ini menurut saya lebih keren krna mirip tokoh SHERLOCK HOLMES yang sama2 seorang petarung dan disini kalian akan menemukan byk hal yang sebenarnya kalian sendiri akan menebak nama2 tokoh nya yg sangat REAL ... Dan menemukan PROF. MORIARTY nya versi TERE LIYE...

Penasaran????mw tambah penasaran lagi... ?
buku ini terbit 2013,pemilihan presiden kita 2014.. kalian akan terkejut dengan karakter calon presidennya TERE LEYE...
hehe.. mari silahkan dibaca bukunya...

sekarang saya juga sedang membaca buku2 lainnya bang TERE... kecanduan ne ... (@@)/


Profile Image for Basma Hashem.
48 reviews3 followers
February 22, 2015
sequel dari Negeri para bedebah

justeru rasanya cukup dengan mencatatkan semula puisi yang didedikasi Putri buat Om Thomas dalam menyimpulkan storylines Negeri diujung tanduk....

Kata papa, bahkan bila terbakar hangus seluruh keluarga kita, jangan pernah berhenti peduli.
Walaupun terfitnah kejam keluarga kita, hingga rasanya sakit menembus relung hati, jangan pernah berhenti berbuat baik.

Anak-anakku, jadilah orang-orang yang berdiri gagah di depan, membela kebenaran dan keadilan.
Jadilah orang-orang yang berdiri perkasa di depan, membantu orang-orang lemah dan dilemahkan.
Atau jika tidak, berdirilah dibelakang orang-orang yang melakukannya, dukung mereka sekuat tenaga.

Maka, seluruh kesedihan akan diangkat dari hati, seluruh beban akan terasa ringan.
Kerana akan tiba masanya orang-orang terbaik datang, yang bahu-membahu menolong dalam kebaikan.
Akan tiba masanya, orang-orang dengan kehormatan hadir, yang memilih jalan suci penuh kemuliaan.

Percayalah,
dan jangan pernah berhenti percaya,
meski tidak ada lagi didepan, belakang, kiri-kananmu yang tetap percaya.
Profile Image for T.
8 reviews20 followers
June 17, 2014
Refreshing, intriguing. Where else would you enjoy a book about mafia in your country, in a light way?
Profile Image for Jefri S.
85 reviews2 followers
June 26, 2018
Sebenarnya 3.5🌟 sajoo~~
Saya membaca buku ini melalui e-book legal dari iJak, jadi........ tidak ada alasan males membaca eaaaaa😊 karena di iJak memiliki e-book legal yang lumayan lengkap dan ada satu lagi aplikasi yang serupa, iPusnas. Di download eeaaa


-Review-

Setelah membuat saya takjub dengan bahasan dunia perekonomian dibuku Negeri Para Bedebah. Tere Liye, dengan membuat buku kelanjutannya, Negeri Di Ujung Tanduk, berhasil membuat saya takjub (lagi), namun dengan pembahasan berbeda, yaitu dunia politik.

Negeri Di Ujung Tanduk mengambil waktu satu tahun setelah konflik yang terjadi pada Negeri Para Bedebah. Buku kedua ini lebih kalem dalam segi action-nya. Namun lebih banyak "membahas" saat Thomas waktu kecil. Memang benar kata orang, sepertinya Negeri Di Ujung Tanduk ini tidak terlalu diperlukan jika kisah di Negeri Para Bedebah tetap dijadikan satu buku. Dan yang pasti menurut saya, klimaksnya kurang WAH seperti Negeri Para Bedebah
Profile Image for Nandhy Poetri.
63 reviews2 followers
May 21, 2024
Sama menariknya dengan seri pertamanya. Setidaknya tidak diawali dengan prinsip ilmu ekonomi yang bikin saya hampir nyerah bacanya dibuku pertama 🤣
Petualangan Thomas selalu menarik diikuti. Walau banyak juga sebenarnya yang tidak masuk akal. Tapi ini fiksi, semua bisa terjadi.
Yaaahh, wartawannya ganti ya, kirain yg wartawan di seri pertama bakal lanjut terus
Profile Image for Raynsie RVLN.
3 reviews
August 15, 2025
I love how the book's intro is literally in the middle of something intense going on
Profile Image for Gagas.
50 reviews
August 8, 2023
Ga kalah asik aksi-nya sama buku yang sebelumnya. Seru banget membayang situasi-situasi genting yang harus dihadapi Thomas dan cara-cara cerdiknya untuk keluar dari situasi itu.
Profile Image for Rasyid Yamin.
36 reviews2 followers
September 1, 2014
Ini adalah novel ketiga karya Tere Liye yang gw baca. Kebetulan gw melihat buku ini di gramedia saat menunggu jam keberangkatan travel, gw lantas langsung membeli buku ini, karena ini sequel dari novel Negeri Para Bedebah, yang kebetulan gw suka. Ditambah setelah melihat cover-nya yang menggelitik hati.

Pada dasarnya, sebagai sequel Negeri Para Bedebah, cerita Negeri Di Ujung Tanduk berkisar dalam hubungan si karakter utama, Thomas, dengan karakter-karakter pendukungnya, yang sebagian besar muncul lagi dari buku pertama. Ceritanya mengambil tema yang beda, karena sekarang benar-benar tentang politik, bukan menyerempet kedalam masalah perbankan lagi.

Gw merasakan kesan yang mirip dengan novel pertama, bahkan dimulai dari saat chapter pertama. Walaupun chapter pertama dimulai saat Thomas sedang berada di Klub Tinju Makau, feel-nya mirip dengan chapter kedua di buku sebelumnya. Benar saja, di chapter-chapter berikutnya, perjalanan ceritanya bisa dibilang hampir sama dengan buku sebelumnya. Gw seperti merasakan perasaan yang sama saat gw nonton The Hangover 2

Setelah meneruskan membaca novel ini sampai habis. Pendapat gw adalah, cerita dari novel ini tetap bagus. Perjalanan Thomas dalam membereskan masalahnya dijelaskan dengan baik dan keren. Sama seperti buku sebelumnya, Tere Liye menjelaskan ide politik secara pintar, membuat gw bertanya-tanya kegunaan politik itu sendiri. Cerita tentang Mafia Hukumnya mengesankan sekaligus menyedihkan. Apalagi novel ini mengambil latar yang hampir sama, (beda kasus lho), dengan kejadian nyata di partai You-Know-Who, dan gw kebetulan mengikuti berita itu. Karenanya pas gw membaca novel ini tidak lebih dari dua hari setelah kejadian nyatanya, perasaan merinding muncul.

Sayangnya, gw anggap novel ini tidak begitu oke sebagai sequel Negeri Para Bedebah. Pertama, karena progress ceritanya yang terlalu mirip dengan buku sebelumnya, walau dengan jumlah drama dan flashback yang lebih sedikit. Kedua adalah si karakter Maryam, yang mirip dengan Julia, kayaknya hanya ada di sana dan perannya agak kurang jelas. Kenapa karakter Julia, yang gw lebih suka secara pribadi, harus diganti, dan tanpa alasan yang jelas pula?

Dalam sepakbola, ada ungkapan "don't change your winning team". Tere-Liye kelihatannya menggunakan ungkapan itu, dan bagaimanapun kekurangannya, it somehow worked. Ceritanya tetap bagus, dan ending-nya juga memberikan pesan yang bagus. Gw tetep suka novel ini, hanya saja impresinya tidak sekuat Negeri Para Bedebah. Dengan ini gw kayaknya harus mulai baca karya Tere Liye yang lain :)
Profile Image for Aesna.
Author 3 books13 followers
May 29, 2014
Aku rasa, Tere Liye berhasil dalam penggarapan sekuel Negeri Para Bedebah.

Sebelumnya, aku memang malas membeli buku ini, selain karena pengalaman yang membuktikan kalo novel sekuel rata-rata melempem, duitku juga tiris menjelang banyaknya tes PTN yang cukup menguras uang. Hahahahahaha.

Baiklah, mari kita mulai review singkat ini.
Dibuka dengan pertarungan Lee si Monster dengan Thomas, yang lagi-lagi cukup berhasil dalam membuat suspense, terutama bagian meloloskan diri dari hotel dengan bantuan Lee yang ternyata berhasil dikalahkan.

Tere kembali menghadirkan sosok wartawan yang kelihatannya kurang penting tapi berhasil menjadi assistant yang membuat cerita semakin hidup, belum lagi sekretarisnya, si Maggie itu. Dialog, "Kau bosnya, Thom." kurasa sungguh sangat cerdas dan secara tidak sadar melabeli dirinya dengan sifat cuek.

Konfliknya adalah ketika kliennya Thomas, calon presiden dengan kejujuran dan ambisi yang sangat menrepotkan banyak orang, menegakkan hukum, didaulat tidak bisa mengikuti konvensi karena tuduhan kasus yang tiba-tiba saja membuatnya mendekam di penjara.

Thom merasa negara ini memang benar-benar sudah di ujung tanduk, ia merasa banyak petinggi negara yang terlibat dalam kasus penangkapan ini. Dan, ia tahu saksi kunci dari kasus ini: Om Liem, pemilik Bank Semesta yang hukuman dua puluh tahun penjaranya dipotong menjadi hanya empat tahun. Enak sekali bukan? :)

Selanjutnya, tentang Tuan Shinpei yang kukuatirkan di novel sebelumnya akan merepotkan ternyata benar. Di adalah... *gak mau spoiler ah*

Dah sampai sini aja.
Good lah. :)

Displaying 1 - 30 of 753 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.