"Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri" Demikianlah, pernyataan sikap kebudayaan yang dilontarkan oleh Angkatan '45 yang tertuang dalam "Surat Kepercayaan Gelanggang". Kumpulan puisi Tiga Menguak Takdir yang merangkum puisi-puisi pelopor Angkatan '45 ini merupakan pengejawantahan dari sikap kebudayaan itu, sekaligus penolakan terhadap estetika Takdir, generasi Pujangga Baru. Buku ini akan membawa pembacanya mengarungi kegelisahan sastrawan Angkatan '45.
Chairil Anwar was one of the famed figures of the “1945 Generation,” that group of luminaries who brought heat and light to Indonesian literature in the formative years of the new nation.
Through his poetry, Chairil Anwar succeeded in infusing Indonesian verse with a new spirit and bringing a new enthusiasm to Indonesia’s cultural arena. He also provided friends and acquaintances with never-ending tales to tell of his personal eccentricities, including his hobby of stealing books from the shops, his tendency to plagiarize from foreign poets, his many lovers, his numerous ailments, and his bohemian lifestyle.
Born on July 22, 1922 in Medan, North Sumatera, Chairil attended the Hollands Inlandsche School (HIS), a Dutch elementary school for “natives.” He then continued his education at the Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, a Dutch junior high school, but he dropped out before graduating. At the age of nineteen, after the divorce of his parents, Chairil moved with his mother to Jakarta where he came in contact with the literary world. Despite his unfinished education, Chairil had an active command of English, Dutch and German, and he filled his hours by reading an international selection of authors, including Rainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff and Edgar du Perron. These writers became his references, directly influencing his own poetry and later helping him shift the gaze of Indonesian literature to fall upon Europe.
This westward turn was one of the major differences between Chairil’s “1945 Generation” peers and the previous cohort of Indonesian writers, the “New Authors Generation” of the 1930s, who were more oriented toward traditional verse forms. Chairil’s poetry was not only topically fresh, it struggled with individual and existential issues, in contrast to the writers of the “New Authors Generation” who were more concerned with giving voice to nationalist enthusiasm.
Chairil began to gain recognition as a poet with the publication of “Nisan” (“Gravestone”) in 1942. At that time, he was only twenty years old. He had apparently been shocked by the death of his grandmother, which awakened him to the fact that death could at any moment tear one away from life. Most of the poems he wrote after this point referred, at least implicitly, to this awareness of death. All of his poems—the originals, the adaptations and those suspected of being plagiarisms—have been collected in three books: Deru Campur Debu (“Roar Mixed with Dust,” 1949); Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus (“Sharp Pebbles The Seized and the Severed,” 1949); and Tiga Menguak Takdir (“Three Tear Open Fate,” 1950, a collection of poems with Asrul Sani and Rivai Apin).
Chairil’s poetic vitality was never in balance with his physical condition, which grew weaker as a result of his chaotic lifestyle. Before he could turn twenty-seven, he had already contracted a number of illnesses. On April 28, 1949, Chairil Anwar passed away at the CBZ Hospital (now R.S. Ciptomangunkusomo) in Jakarta. And indeed, he was buried at Karet Cemetery the next day. In memory of the words he left behind, April 28th is now celebrated as Literature Day in Indonesia.
Kalau kami bitjara tentang kebudajaan Indonesia, kami tidak ingat kepada melap-lap hasil kebudajaan lama sampai berkilat dan untuk dibanggakan, tetapi kami memikirkan suatu penghidupan kebudajaan baru jang sehat. Surat Kepercayaan Gelanggang (hal. xi)
Tiga Menguak Takdir adalah cita-cita dari ketiga penggagasnya: Chairil Anwar, Rivai Apin, dan Asrul Sani. Ide dasar atas terbitnya buku ini sudah ada di kepala mereka sejak satu setengah tahun sebelum mereka mendirikan 'Gelanggang'. Gelanggang sendiri adalah sebuah rubrik kebudayaan yang mengisi warta mingguan 'Siasat'. Tabloid Siasat mulanya diasuh oleh Chairil Anwar dan Ida Nasution. Kemudian, dilanjutkan oleh Rivai Apin, Asrul Sani, Siti Nuraini, dan terakhir oleh Ramadhan K.H.
Gelanggang bisa diartikan sebagai termpat berkumpulnya sastrawan Angkatan '45. Pada waktu itu, Chairil-Rivai-Asrul hendak menjadikan Gelanggang sebagai suatu kumpulan kesenian (Kunstkring). Tetapi, setelah melalui berbagai diskusi dan pertukaran pikiran, mereka menemukan bahwa belum ada suatu dasar yang menjiwai pertanggungjawaban atas takdir mereka yang berada dalam kumpulan itu. Mereka membutuhkan sebuah angkatan untuk menamai kelompok Gelanggang ini. Angkatan ini tidak saja harus ada, tapi juga harus mempunyai pandangan hidup, suatu tujuan takdir.
Pada dasarnya, baik Chairil Anwar, Rivai Apin, maupun Asrul Sani, menempuh jalan kesenian yang berbeda. Mereka punya jalan masing-masing, yang melatarbelakangi penciptaan karya-karya mereka. Bersatunya mereka dalam Gelanggang tidak lantas membuat setiap dari mereka harus mengikuti haluan salah seorang lainnya. Melainkan, ketiganya telah berupaya untuk menempuh jalan konsensus dan saling menghargai masing-masing pribadi.
"Pendekatan ini tidak berarti menuruti salah satu garis atau garis dari salah seorang dari kami, tapi dalam saling menghargai segi-segi yang dihadapi masing-masing. Garis dasar yang satu, bagi kami apriori, tidak usah dipertengkarkan lagi." Demikian, Asrul Sani menulis.
Kumpulan puisi ini membawa kita menyelami pemikiran dan perasaan Chairil Anwar, Rivai Apin, dan Asrul Sani. Dengan segenap perbedaan, mereka bersatu demi mencapai cita-cita yang mereka sebut sebagai 'suatu tujuan takdir'. Lantas, 'takdir' seperti apa yang sebenarnya mereka perjuangkan?
Generasi Gelanggang yang selanjutnya dikenal dengan sebutan Angkatan '45 lahir dan berawal dari kecamuk dan kegetiran atas Perang Kemerdekaan. Kemenangan atas perang akan mengantarkan kemerdekaan. 'Surat Kepercayaan Gelanggang' pun menyuratkan bahwa revolusi di tanah air kami sendiri belum selesai. Tekanan perasaan dan pikiran semasa itu serta keadaan ekonomi yang mengguncang, telah memenjarakan kemerdekaan mereka. Puisi, lantas menjadi jalan keluar sebagai jalan pembebasan. Rivai Apin sendiri memaknai kemerdekaan kebebasan sebagai kebebasan berkata, berpikir, atau berekspresi yang harus diperjuangkan sendiri. Sedangkan, Asrul Sani, memaknainya dengan pengembaraan ke dunia luas dan alam bebas, seperti tertulis dalam puisinya, 'Surat Untuk Ibu'.
Pembebasan juga tidak hanya dimaknai sebagai pengembaraan jasmani, tetapi juga pengembaraan pikiran. Pengembaraan yang mendaparkan Rivai Apin dalam kehidupan yang tak kenal siang. Tercatat dalam sajak "Anak Malam". Puisi juga menjadi media apresiasi mereka terhadap para pejuang yang telah mengorbankan nyawa, demi tercapainya kemerdekaan. Chairil Anwar menulisnya dalam "Antara Krawang - Bekasi" dan Asrul Sani dengan "Sebagai Kenangan kepada Amir Hamzah, Penyair yang Terbunuh".
Tiga Menguak Takdir terbit pertama kali tahun 1950 oleh Balai Pustaka. Pada tahun yang sama pula, "Surat Kepercayaan Gelanggang" diterbitkan di majalah. Surat itu seakan menjadi jawaban atas Polemik Kebudayaan generasi Pujangga Baru. Pernyataan sikap yang demikian itu seolah memutus generasi sebelumnya. Sebuah upaya dan usaha untuk menguak takdir selanjutnya telah ditegakkan. Sebuah angkatan baru telah dibentuk. Chairil-Rivai-Asrul menegaskan sikap kepengarangan dan gerak estetika mereka dalam buku ini. Sajak-sajak mereka berkatalah dengan sendirinya.
Catatan Personal
Seandainya saya mengenal buku ini 11-12 tahun yang lalu, tentu saya tidak akan terlalu kebingungan dalam menjawab soal-soal Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru. Saya terus terang merasa kesulitan dengan pertanyaan-pertanyaan seputar generasi Pujangga Baru, Tabloid/majalah Siasat, Angkatan '45, Surat Kepercayaan Gelanggang, dan segenap persoalan sastra Indonesia di masa itu. Saya belum membaca sendiri seperti apa buku-buku yang sering menjadi pertanyaan dalam soal-soal ujian. Misalnya, Atheis, Tiga Menguak Takdir, Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus, hingga Olenka karya sang maestro Budi Darma.
Saya sendiri perlu melakukan penelitian (observasi, lebih tepatnya) lebih lanjut dan mendalam untuk menemukan jawaban atas pertanyaan saya sendiri terhadap Tiga Menguak Takdir. Yaitu, apa dasar bagi Chairil Anwar, Rivai Apin, dan Asrul Sani, yang menjadi alasan penentu karya-karya yang ditampilkan dalam Tiga Menguak Takdir? Saya yakin bahwa ketiganya sudah memiliki satu buku kumpulan puisinya yang paling lengkap. Lalu, bagaimana ketiganya melakukan seleksi atau pemilihan atas karya-karya mereka sendiri untuk ditampilkan dalam Tiga Menguak Takdir? Saya rasa, saya masih harus mengkajinya dengan mencermati tanda zaman waktu itu; zaman perang kemerdekaan.
Overall, bisa dibilang, penemuan buku ini bagi saya pribadi adalah menguak takdir atas diri saya lebih dari satu dekade kemarin. Barangkali, ada maksud tersendiri mengapa saya harus baru bisa menamatkan Tiga Menguak Takdir ini usai Tragedi Crane yang jatuh di Mekkah sana. Ya, barangkali.
Saya mencoba membaca buku ini karena ini merupakan salah satu karya sastra Indonesia yang wajib dibaca sebelum mati. Kebetulan tersedia di ipusnas. Namun ternyata menafsirkan setiap puisi dalam buku ini sangat susah bagi saya.
Ini buku puisi yang khabarnya mendefenisikan Angkatan 45 yang gah itu. Sudah pasti sajak2 yang paling kuat adalah dari Chairil Anwar, si 'binatang jalang' itu yang ternyata masih kuat pengaruhnya hingga ke hari ini. Sajak-sajak Asrul Sani juga punya 'kedalaman' yang tersendiri dan menampakkan adanya unsur individualisme yang berimbang dengan sajak-sajak nasionalisme beliau.
Dan yang terkenal dalam buku ini selain sajak-sajak tiga penyair pelopor Angkatan 45 itu ialah satu deklarasi yang di beri nama Surat Kepercayaan Gelanggang yang menjadi pengenalan buku ini:
Kami adalah ahli waris jang sah dari kebudajaan dunia dan kebudajaan ini kami teruskan dengan tjara kami sendiri. Kami lahir dari kalangan orang-banjak dan pengertian rakyat bagi kami adalah kumpulan tjampur-baur dari mana dunia-dunia baru jang sehat dapat dilahirkan...
Dari balik tembok-tembok sepanjang gang-gang maut mengintai tak kunjung putus Manusia hanyalah anak dari beberapa jam. —Rivai Apin, 37
Manusia tidak kuasa ikat aku melepas aku juga tidak Dan bukan saja tak kuasa, tapi juga tak bisa. —Rivai Apin, 29
Chairil Anwar bagian menulis soal perlawanan yang membara, rindu, dan beberapa rasa putus asa. Rivai Apin bagian mengamati manusia, sesekali soal kepasrahan dan ketersesatan. Asrul Sani bagian bicara tentang Tuhan, romansa, dan harapan.