What do you think?
Rate this book


180 pages, Paperback
First published April 1, 2023
Kamu di Mana? membuka buku ini dengan pengalaman sedih seorang anak. Ditulis dengan menggunakan sudut pandang sebagai anak kecil. Tapi entah kenapa saya merasa agak sedikit "gemash" saat membaca kisah ini (sampe saya nge-rant pas update progress hahaha).
Nilai untuk Rio jadi semacam "permen setelah makan obat" buat saya; sehabis nge-rant tentang Imbi, saya langsung disajikan cerita tentang anak "nakal". Saya suka kisah ini dan masih bertanya-tanya, kenapa Rio jadi seperti itu?
Karena Wanita Ingin Dimengerti mengusung konsep (temporary) magical gender transformation dan cerita fantasi pertama di buku ini. Bukan konsep yang baru tapi dieksekusi dengan manis (sekaligus jadi "tamparan" tersendiri buat saya, hahaha).
Jauza dan Zaula berkisah tentang sepasang anak kembar. Aroma fantasinya kental dan sedkit (sumpah cuma sedikit) mengingatkan saya sama sinetron azab-nya Indosayur. Tapi baca cerita ini lebih bikin merindink disko (klo nonton sinet Indosayur kadang saya, maaf, ketawa).
Gerbang Hujan adalah cerita fantasi yang cukup menarik untuk dicicip tapi masih menyisakan tanda tanya bagi saya. Kenapa hanya Ophelia yang bisa melihat gerbang keperakan saat hujan dan apa sebenarnya fungsi gerbang itu adalah dua pertanyaan terbesar yang sampai akhir ga bisa saya dapatkan jawabannya. Mungkin kalau dibuat novela, pertanyaan-pertanyaan saya akan terjawab (?).
Sayap-sayap Doa adalah kisah kehilangan kedua yang saya baca di buku ini. Perasaan yang muncul menurut saya tidak berlebihan. Tapi entah kenapa orang-orang sekeliling justru merasa rasa sedih itu kalau perlu ga usah dibiarin muncul. Saya suka akhir positifnya tapi mungkin kurang terlalu setuju sama "dorongan" yang diberikan. Sedih wajar asal tidak berlebihan (dan saya ga merasa kadar kesedihan di cerita ini terlalu berlebihan sich).
Benteng Terakhir sempat membuat saya berniat skip baca. Saya sempat mikir: wah, mc-nya lagi halu ini kayanya. Tapi makin ke belakangan saya kepikiran lagi: astajib, ini simbolik yah.
Kemuning Senja menceritakan persahabatan antara seorang teman tuli dan teman dengar di masa SMP. Terasa hangat, manis dan sedikit menampar.
Si Kimpul berkisah tentang seorang anak yang harus tinggal bersama Neneknya. Punya nilai tersendiri, terutama soal perasaan tidak nyaman, cemburu dan bersalah.
Pha menjadi kisah penutup yang sayangnya malah membuat kening saya berkerut ga keruan. Saya juga kurang tahu apakah temanya masuk tapi yang pasti cerita fantasi ini paling menyisakan buanyak pertanyaan. Dan... saya masih ga paham ceritanya sampe sekarang, huhuhu