From Operation Desert Storm to the conflict in Bosnia, computerization and other scientific advances have brought about a revolution in warfare. This book shows how our high-tech age has spawned both increasingly powerful weapons and a rhetoric that disguises their apocalyptic potential in catch phrases like "smart weapons," "cyberwar," and "bloodless combat." A skillful combination of trenchant cultural study(/WRITERS: CHANGE CULTURAL STUDY TO "SOCIAL ANALYSIS" IN SOME SITUATIONS), provocative illustrations, and engrossing military, technical, and historical analysis, Postmodern War sheds new light on the ways we conceptualize and conduct war today.
“War is not just in transition, but in crisis!”. Kalimat ini adalah tema yang sangat menonjol dipaparkan oleh Chirs Hables Gray, Ph.D dalam sistem perang postmodern yang ditulisnya pada buku “Postmodern War: The New Politics for Conflicts. Gray adalah seorang profesor di bidang Interdisciplinary Studies dan Computer Science/Cultural Studies of Science & Technology yang memiliki minat mendalam pada studi seputar iptek dan pengaruhnya terhadap negara, demokrasi dan politik postmodern yang bertitik berat pada perang dan upaya-upaya perdamaian. Secara umum, buku ini ditulis oleh Gray yang menghabiskan masa kecilnya di Vietnam sebagai usaha untuk memahami mengenai kekuasaan dan bagaimana hal itu dapat dicapai, terutama setelah ia melihat perkembangan geopolitik dan militer, terutama di Amerika Serikat, pasca perang Vietnam dan perang dingin: kekerasan terjadi di mana-mana dengan musuh dan ancaman yang semakin tidak jelas (unidentified enemy) sehingga menyebabkan AS mati-matian untuk menguasai teknologi dan “grasp at any new possible weapon." Menurut Gray, perang tidak akan berhenti dalam waktu dekat karena beberapa alasan (semakin majunya teknologi dan perkembangan senjata militer terbaru, semakin meluasnya ekspansi manusia dan industrialisasi terhadap lingkungan, berkembangnya teknologi komunikasi dan teknology cyber – kesemuanya berkembang bukan untuk memahami perang, tetapi untuk memenangkan perang! p. 3), dan karakteristiknya pun semakin berubah. Perang teluk merupakan contoh paling jelas untuk menggambarkan sistem perang portmodern: "low-intensity conflict" (LIC) in which advanced technology allowed the allies to kill their adversaries without personal contact and without empathy, a war of media as well as information manipulation.” Sebagai kesimpulan, terlepas dari berbagai kritik terkait dengan konsep dan sistem perang postmodernisme itu sendiri dan dengan melihat keterlibatan teknologi dan media dalam perang sepertinya tidak salah kedua aspek tersebut sangat berperan dalam perang dan sangat berpotensi untuk menjadi hamba perang dengan berbagai penemuan yang semakin berisiko tinggi dan tidak mempertimbangkan konsekuensinya pada perikehidupan manusia.