Jump to ratings and reviews
Rate this book

Tidur Berbantal Koran Kisah Inspiratif Seorang Penjual Koran Menjadi Wartawan

Rate this book
Seorang remaja meninggalkan kampung halamannya demi meraih sebuah mimpi, dia ingin berkuliah. Pendek kata, dia ingin mengubah hidupnya. Tetapi, belum genap sebulan menjadi mahasiswa, ayahnya sakit dan tidak bisa mengirimi uang untuk kuliah.

Akhirnya, demi mencukupi kebutuhan hidupnya, dia terpaksa berjualan koran. Siapa sangka di jalanan dia justru mendapatkan banyak ilmu dan pengetahuan hidup yang tidak pernah didapatkannya di bangku kuliah. Dari situ, dia kemudian juga bermimpi ingin menjadi penulis di koran, meskipun tak memiliki guru yang membimbing dan harus mempelajari segala hal secara otodidak.

Berkat perjuangan yang tak kenal lelah nan putus asa, dia tidak hanya dapat melanjutkan kuliah, tapi juga mampu meraih mimpi di tengah keterbatasan fasilitas.

260 pages, Paperback

First published January 1, 2013

1 person is currently reading
28 people want to read

About the author

N. Mursidi

2 books
Lahir di sebuah kota kecil, Lasem, Jawa Tengah. Kini, tinggal di Jakarta

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
5 (31%)
4 stars
5 (31%)
3 stars
5 (31%)
2 stars
0 (0%)
1 star
1 (6%)
Displaying 1 - 5 of 5 reviews
Profile Image for htanzil.
379 reviews149 followers
April 3, 2013
Ini adalah buku memoar N. Mursidi, seorang penjual koran yang menjadi wartawan.
Bagi pembaca resensi buku di koran-koran mungkin tidak asing dengan namanya. Namanya sempat merajai kolom resensi buku di sejumlah koran lokal dan nasional. Menurut pengakuan penulisnya hingga kini ada sekitar 300-an tulisan (resensi, essai, cerpen, opini, dll) yang pernah dimuat di koran.

Nah, di buku inilah penulis menuliskan pengalaman dan kerja kerasnya dalam menempuh hidup sebagai seorang penulis. Ada banyak pengalaman menarik dan tips-tips menulis yang bisa memotivasi pembacanya, terlebih pembaca yang saat ini sedang menekuni dunia resensi buku atau opini di sejumlah koran.

Buat mereka yang sedang berusaha agar resensi/opini nya tembus di koran baca deh buku ini. Mungkin ada pengalaman2 yang sama seperti yang dialami penulis buku ini.

Kritik untuk buku ini ada pada covernya yang mencantumkan label "novel" padahal ini bukan novel melainkan sebuah memoar.

Review lengkapnya silahkan dibaca di

http://bukuygkubaca.blogspot.com/2013...
Profile Image for Ady Ahmed.
26 reviews3 followers
April 10, 2013
Hidup adalah pilihan, hidup juga perjuangan oleh karenanya kita mesti berjuang untuk meraih mimpi-mimpi dalam hidup kita.

Melalui buku memoar ini, N. Mursidi menjabarkan kisah hidupnya yang sedari awal tak punya arah dan tujuan. Ketika tersadar bahwa hidupnya tidak boleh disia-siakan, ia lantas berbalik menjadi remaja yang ambisius mengejar mimpi.

Hingga akhirnya, ia sempat merajai kolom resensi di media-media lokal hingga nasional. Pada akhirnya ia pun berlabuh sebagai wartawan sebuah media massa.

Perjalanan panjang si Buyung -sapaan akrabnya- ini patut dibaca oleh siapapun. Sebagai motivator untuk menuju kehidupan yang lebih baik.

Selamat membaca! :)
Profile Image for FinChu Harefa.
22 reviews17 followers
June 12, 2014
Me Time wif Nur Mursidi Tidur Berbantal Koran
Oleh: Finchu Harefa

Beberapa media online menuliskan sebuah artikel tentang seorang anak (putri) dari tukang becak yang menjadi wisudawati terbaik dengan IPK 3,96 bernama Raeni (baca di:http://unnes.ac.id/berita/putri-tukan...). Berita ini tersebar semenjak Selasa, 10 Juni 2014. Sebuah prestasi yang mampu membuka mata kita bahwa semua orang bisa meraih kesuksesan tanpa memandang latar belakang miskin atau kaya.

Hal yang sama juga diceritakan di dalam buku berjudul Tidur Berbantal Koran karya N. Mursidi. Pertama membeli dan membaca judul buku ini membuat saya tertarik, apalagi saya hobi membaca biografi orang-orang sukses, buku ini bukanlah sebuah novel fiksi tetapi dapat dikatakan buku ini merupakan otobiografi si penulis. Buku ini dicetak pertama kali pada tahun 2013 oleh penerbit Elexmedia Komputindo.

Tekad awalnya ingin melanjutkan pendidikan di jenjang yang lebih tinggi, tepatnya di Yogyakarta walaupun orang tuanya tidak menyetujui tekadnya tersebut karena menurut kedua orang tuanya lebih baik beliau meneruskan usaha dagang. Tekadnya tersebut benar-benar sudah bulat dan beliau berhasil meyakinkan kedua orang tuanya. Suatu ketika ayahnya jatuh sakit membuat Buyung – panggilan untuk Nur Mursidi – mencari kerja agar beliau tetap berkuliah apalagi beliau berkuliah di perguruan tinggi swasta dan Budi – teman seperantauannya – menyarankan beliau untuk berjualan koran di jalanan. Inilah awal si penulis mengenal kehidupan sesungguhnya di jalanan.

Setelah beberapa hari menjual koran di jalanan, ada kejadian yang menjadi tonggak bersejarah dalam hidupnya. Beliau bertemu dengan seorang tukang becak. Awalnya beliau heran melihat seorang tukang becak membeli korannya dan membacanya. Itu dilakukan si tukang becak berulang-ulang terhadapnya.

Aku merasa malu pada diriku sendiri. Selama tujuh hari berjualan koran, aku tidak pernah membaca koran yang kujajakan sendiri. Aku seperti tidak peduli dengan apa yang kujual karena yang kuinginkan adalah koranku laku. ... Tak pernah aku meluangkan waktu untuk membaca dengan detail isi berita korang yang kujual (hal 5-6).

Pikirannya mulai terbuka melihat antusiasme tukang becak tersebut, si penulis mulai membaca isi koran yang selalu beliau jual. Di dalam koran yang sedang dibacanya, beliau menemukan sebuah opini di sebuah rubrik dan resensi sebuah buku di koran Minggu yang ditulis mahasiswa. Hal tersebut membuat beliau tersadar bahwa mahasiswa seperti dirinya bisa menulis di koran dan saat itu beliau memutuskan untuk menulis.

Setiap selesai membaca tulisan-tulisan penulis yang masih berstatus mahasiswa itu, otakku serasa mendidih bagai air yang dijerang di atas tungku. Ada sekelebat mimpi di dadaku yang memompaku untuk bisa menulis; menorehkan namaku di koran seperti mereka. Maka dalam hati, aku berjanji bahwa suatu saat nanti aku harus bisa menulis di koran. Dan sejak itu aku pun mulai rajin membaca koran yang kujual dan mempelajari tulisan yang dimuat di koran secara autodidak (hal 8).

Beberapa kali beliau menulis cerita pendek dan mengirimkannya ke redaktur melalui pos – berhubung karena dulu masih belum mengenal e-mail – tetapi hasilnya nihil alias tulisannya ditolak. Semangat Mursidi tidak putus sampai disitu. Keseriusannya menekuni dunia tulis-menulis terbukti dari keinginannya mempunyai mesin ketik dan si penulis berhasil mendapatkannya dari Abdul Manaf – temannya dari Gresik – seharga tiga puluh lima ribu. Lama-kelamaan Buyung mengalami kejenuhan dalam menulis dan berhenti sementara dari aktivitasnya tersebut. Beliau lalu beralih ke dunia fotografi semenjak beliau mendapatkan kamera SLR dari Majudin hingga foto pertama hasil jepretan-nya yang berjudul Menerobos Mara Bahaya berhasil dimuat di rubrik foto harian Kedaulatan Rakyat.

Nur Mursidi terkenal dengan sebutan Raja Resensi. Hal itu diperkuat dengan bukti bahwa tulisan pertama yang berhasil dimuat di koran adalah resensi sebuah buku berjudul Sehari di Yogya yang dipinjamkan oleh temannya sendiri, Arif Syarwani. Setelah tulisan pertamanya tersebut, si penulis meneruskan meresensi buku-buku yang lainnya dan beberapa dimuat lagi di koran.

Lika-liku perjuangan Nur Mursidi menjadi seorang penulis tidak hanya itu saja. Banyak tantangan yang beliau alami dan berhasil membentuk karakter yang kuat dalam dirinya. Setelah lulus kuliah dari IAIN (awalnya dulu si penulis berkuliah di Universitas Sarjana Wiyata Taman Siswa kemudian beliau keluar dari universitas tersebut karena tidak sanggup membagi waktu antara kuliah dan berjualan koran di jalanan), Mursidi bertekad untuk mencari pekerjaan. Berkat temannya Herry, si penulis berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai wartawan di kantor Majalah Hidayah. Beliau diterima bukan karena ijazahnya atau berkat temannya tetapi itu semua berkat kerja kerasnya selama di jalanan, yaitu tulisan-tulisannya yang pernah dimuat di koran.

Pramoedya Ananta Toer pernah menulis: ”Menulislah, apa pun, jangan pernah takut tulisanmu tidak dibaca orang, yang penting tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat pasti berguna.” Itulah keajaiban yang terjadi pada diri si penulis.

Aku dulu pernah merasa tulisan-tulisanku yang dimuat di koran itu tidak berguna setelah aku mendapatkan honor. Tapi sekarang ini aku sadar bahwa aku diterima kerja tidak lain karena setumpuk tulisanku yang aku sertakan dalam surat lamaran. Sementara ijazahku tidak lebih hanya sebagai formalitas. ... Rupanya, setumpuk tulisaku itu sekarang ini berguna dan mengantarku bisa diteruma bekerja di sebuah kantor redaksi majalah (hal 242).

Buku ini sangat menarik dibaca oleh anak-anak muda yang sedang meniti kesuksesan. Tidak ada kesuksesan yang instan terbukti dari kisah Nur Mursidi yang tak pernah kenal lelah meraih keinginannya menjadi seorang penulis dan dia sudah berhasil membuktikannya. Menurut saya, kekurangan buku ini hanyalah pada cara penyampaian si penulis dalam tulisannya. Mungkin karena kisah dalam buku ini ditulis dalam bentuk otobiografi sehingga terasa kaku dan kurang mendapat emosi bagi pembaca terutama saya yang sudah pernah baca. Apalagi kisah ini juga ditulis dengan konflik yang tidak terlalu mendetail dan cenderung melompat-lompat dari kasus satu ke kasus lainnya. Ada baiknya kalau buku ini dijadikan novel – walaupun di cover depannya tertulis sebuah novel padahal ini sebuah kisah nyata – sehingga pembaca dapat merasakan alur konflik yang beruntun dan imajinatif. Selain itu, saya rasa kisah dalam buku ini jauh lebih menarik dibanding kelemahan yang sudah saya tuturkan.

Sudahkah Anda membacanya? Daripada terlambat buruan beli dan nikmati kelengkapan cerita Nur Mursidi dalam bukunya yang berjudul Tidur Berbantal Koran Kisah Inspiratif Seorang Penjual Koran menjadi Wartawan.
Thursday, June 12th 2014

Download versi pdfnya di: http://id.scribd.com/doc/229378028/Me...
[Kalimat pernyataan: Tulisan di atas benar merupakan hasil buah pikiran saya, Erfin Triyaman Harefa. Mohon jangan lakukan plagiarisme pada tulisan orang lain karena telah diatur dalam UU RI NO. 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta. Apabila suatu saat saya menemukan tulisan saya ini dijiblak/dicopy-paste tanpa seizin atau tidak mencantumkan nama pemilik tulisan ini, maka saya tidak segan-segan untuk menuntut Anda di depan hukum. Hargailah karya orang lain dan hentikan plagiarisme. Terimah kasih]
Profile Image for Aries Saputra.
19 reviews1 follower
May 28, 2014
Kisah inspiratif tentang perjuangan hidup yang patut di contoh.
Displaying 1 - 5 of 5 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.