Waktu saya kecil, mama saya mengoleksi buku karya Marga T. (di antara yang lainnya). Saya iseng dan penasaran baca, tapi saya tidak pernah bisa membaca lebih dari 1 halaman. Lalu, waktu saya SMP, saya menonton film "Badai Pasti Berlalu" yang diperankan oleh Raihaanun dan Vino G Bastian yang diadaptasi dari novel Marga T. dengan judul yang sama. Lalu, saat saya sudah cukup dewasa (hahahaha) saya memutuskan untuk membeli novel ini.
Well, novel ini betah nongkrong di TBR saya selama berbulan-bulan semenjak dibeli. Bahkan, ketika saya memutuskan untuk membacanya, saya berhenti di halaman 40an untuk waktu berbulan-bulan juga. Kenapa, ya? Mungkin saya terlalu 'pusing' dengan gaya bahasa dan bercerita yang menurut saya agak lampau, mengingat Bu Marga T. menulis buku ini pasti sebelum tahun 1974. Pengenalan kehidupan tiap karakter yang terlalu berjalan lambat dan membosankan, juga menjadi salah satu alasan kenapa saya tidak melanjutkan buku ini. Sampai suatu saat, saya 'memaksakan' diri untuk membacanya. Eh, malah keterusan dan saya menyelesaikan 400an halaman hanya dalam 1 minggu kurang.
Memang, sih, butuh 'adaptasi' dengan gaya bercerita Bu Marga T. mengingat kesenjangan waktu (menurut saya). Dialog-dialog yang kaku, entah kenapa menurut saya jadi sebuah bentuk sastra yang indah. Ternyata, di luar dugaan, saya menyukai gaya bernarasi Bu Marga T., yang terkadang membuat saya cekikikan sendiri, tertawa sendiri, cemberut mengerut, mengumpat (seperti kebajingan Helmi dan Marina), dan mengucap 'awwwww' di saat membaca bagian di mana Leo diam-diam menunjukkan perhatiannya pada Siska.
Harus saya akui, saya agak pening memikirkan bahwa Siska harus menjalani kehidupan yang sedemikan berat karena kebodohan dan wataknya yang buat geregetan. Dia tidak harus menikahi Helmi, kalau saya jadi dia malah saya lawan itu si lintah penyedot harta! Dia bisa memilih menikah dengan Leo, kalau saja dia mau berterus-terang dan tidak mengemban penderitaan sendiri! Ini semua gara-gara turunan diabetes!
Walau memang, sih, di sini tidak banyak dijabarkan bagaimana Siska dan Leo jatuh cinta. Tiba-tiba, jatuh cinta saja. Bahkan tidak banyak bagian di mana mereka berinteraksi, tidak seperti novel romansa yang sering kita temui. Mungkin di situlah indahnya jatuh cinta, karena sifatnya yang abstrak?
Saya menilai karya ini sebagai sastra yang menggugah. Bukan hanya karena romansa di dalamnya, tapi gaya bahasa dan penuturan kisah yang menggunakan rangkaian kata-kata kesusastraan. Berkat novel ini, saya jadi lebih percaya diri dan ingin mengoleksi buku-buku karya Bu Marga T. yang lainnya.
Omong-omong, di saat saya menyelesaikan novel ini, grup musik Diskoria duet dengan BCL 'mendaur ulang' lagu Chrisye dengan elemen-elemen baru, berjudul 'Badai Telah Berlalu' dengan lirik yang benar-benar mengingatkan saya dengan novel ini, apalagi di MV-nya ada bu Christine Hakim yang dulu berperan sebagai Siska di film 'Badai Pasti Berlalu' pada tahun 1977.