Jump to ratings and reviews
Rate this book

Muslim Tanpa Masjid: Esai-Esai Agama, Budaya, dan Politik dalam Bingkai Strukturalisme Transendental

Rate this book

404 pages, Paperback

First published February 1, 2001

22 people are currently reading
197 people want to read

About the author

Kuntowijoyo

39 books132 followers
Kuntowijoyo was born at Sanden, Bantul, Yogyakarta. He graduated from UGM as historian and received his post-graduated at American History by The University of Connecticut in year 1974, and gained his Ph.D. of history from Columbia University in year 1980.

His father was a puppet master (dalang) and he lived under deep religious and art circumstances. He easily fond of art and writings and became a good friend of Arifin C. Noer, Syu'bah Asa, Ikranegara, Chaerul Umam, and Salim Said.

His first work was "Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari".

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
29 (39%)
4 stars
31 (42%)
3 stars
12 (16%)
2 stars
0 (0%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
Profile Image for M Mushthafa.
145 reviews17 followers
December 20, 2017
http://rindupulang.blogspot.co.id/200...

Kegaduhan panggung politik belum juga usai. Perebutan kekuasaan masih tetap dipertontonkan tanpa menyadari bahwa mereka telah bermain terlalu lama dan tak menghiraukan penonton yang sudah kecapaian.
Menurut Kuntowijoyo, demokrasi politik selama ini telah seringkali mengecoh umat. Umat masih saja percaya bahwa demokrasi politik ini akan sangat bermanfaat bagi mereka. Padahal, menurut Kunto, ajang politik hanya menjadikan umat berpikir dalam jangka yang amat pendek.
Dalam berpolitik umat Islam banyak menyandarkan legitimasinya kepada fakta bahwa mereka adalah mayoritas di negeri ini. Jadinya, politik bagi mereka adalah mediokrasi, sehingga politik akhirnya disusutkan hanya semata-mata menjadi fanatisme massa yang irasional. Pada titik ini, logika yang digunakan oleh umat adalah logika dikotomis: I versus You—“kita” versus “mereka”.
Sudah saatnya umat Islam memulai sebuah babak baru dalam sejarah untuk secara arif membaca gejolak perubahan sosial di masyarakat. Tiba waktunya umat tidak lagi berpikir dikotomis dengan mencari-cari musuh (politik) berupa golongan atau kelompok tertentu. Musuh umat bukan lagi “Mereka”, tapi realitas objektif. Umat Islam saat ini mestinya dituntut untuk lebih berpikir menjawab tantangan perubahan dan masa depan yang semakin jelas di depan mata.
Keterjebakan umat dalam hiruk-pikuk pentas politik sebenarnya tidak akan berakibat fatal bila dunia politik dipahami dalam kerangka yang lebih luas dan bijak. Politik adalah suatu bentuk perjuangan struktural yang bertujuan untuk membangun aliansi-aliansi strategis demi pemberdayaan umat. Sementara masih ada proyek-proyek kultural yang jauh lebih penting dan perlu diseriusi. Strategi kultural ini lebih menekankan pada usaha jangka panjang, suatu investasi masa depan yang dilaksanakan dengan penyadaran kepada individu atau masyarakat. Strategi ini juga amat berkait dengan strategi mobilitas sosial yang didesain untuk mempersiapkan SDM umat yang cukup memadai menghadapi tantangan masa depan.
Perubahan yang terjadi di masyarakat selama ini kurang begitu disadari oleh umat Islam. Ada banyak pergeseran sosial yang merubah berbagai definisi lama yang selama ini dipergunakan. Kunto mencontohkan lahirnya generasi baru Muslim yang disebutnya lahir dari rahim sejarah tanpa kehadiran sang ayah dan tidak ditunggui saudara-saudaranya. Mereka adalah aktivis kampus yang selama ini memperoleh akses keagamaan tidak dari masjid, pesantren, atau madrasah, melainkan dari buku, seminar, CD, internet, dan sebagainya. Generasi baru ini memiliki sikap-sikap politik yang tergolong “aneh” sehingga menurut Kunto membutuhkan sikap arif dalam menyikapinya. Ulama saat ini bukan lagi merupakan suatu kategori sosial, karena peran mereka lambat-laun digeser oleh berbagai institusi sosial baru, sehingga saat ini ulama lebih merupakan sosok intelektual.
Islam sebenarnya tidak anti perubahan. Bahkan, dengan sebuah tawaran metodologisnya yang ia sebut “strukturalisme transendental” Kunto menjelaskan bahwa Islam sebagai sebuah struktur memiliki kemampuan untuk mengubah dirinya (bertransformasi diri) tanpa harus kehilangan keutuhannya. Perspektif keutuhan Islam ini harus tetap dipertahankan dalam proses pembacaan gejolak perubahan sosial.
Persoalannya adalah umat selama ini kurang menyadari gejolak perubahan tersebut. Karena itu Kunto mengajukan tawaran agar umat memperhatikan enam hal penting untuk mendasari agenda-agenda ke depan, yakni kesadaran tentang perubahan, kesadaran kolektif sebagai umat yang harus mampu menebar kedamaian, kesadaran untuk ikut aktif merubah sejarah kolektif masa depan, kesadaran tentang fakta sosial yang bersifat heterogen, kesadaran akan segera lahirnya Masyarakat Abstrak yang ditandai dengan munculnya sistem impersonal, serta kesadaran pentingnya upaya objektifikasi.
Untuk itu, semua lini kehidupan harus diperhatikan untuk dapat dikerahkan dalam upaya pembentukan keenam kesadaran itu. Seni misalnya menurut Kunto memiliki potensi besar untuk dirancang sebagai seni profetik, seni yang mampu menjadi media humanisasi, liberasi, dan transendensi.
Adapun agama menurut Kunto harus mampu dikembangkan melalui cara berpikir yang bersifat ilmiah, tidak lagi bersifat ideologis. Ini adalah bagian dari langkah objektifikasi. Sebagai Ilmu, Islam akan memberikan kerangka analisis faktual terhadap segenap fakta sosial untuk kemudian merekonstruksi dalam tataran ideal.
Langkah ini menurut Kunto harus dibarengi dengan kerjasama yang baik dengan ilmu-ilmu sosial yang sudah mapan, sehingga nantinya dapat melahirkan suatu paradigma baru dalam ilmu sosial yang disebut Ilmu Sosial Profetik. Paradgima Ilmu Sosial Profetik ini menurut Kunto mengemban cita-cita amar ma`ruf (humanisasi), nahi munkar (liberasi), dan tu’minuna billah (transendensi). Langkah ini dimaksudkan untuk menjadikan ilmu-ilmu sosial sebagai bagian utuh dari proses evolusi masyarakat menuju masyarakat yang rasional menyongsong masyarakat industri.
Esai-esai segar Kuntowijoyo dalam buku ini memiliki makna aktualitas dan relevansinya terutama karena ia berusaha menyadarkan umat Islam tentang agenda-agenda konkret yang selama ini diabaikan. Sejak terbukanya katup kebebasan seiring dengan euforia reformasi, umat Islam merasa lebih tertarik dengan politik kekuasaan. Bahkan, dalam perkembangannya, fenomena tersebut malah menggiring umat Islam dalam suatu polarisasi golongan seiring dengan friksi-friksi politik yang berkembang. Sementara agenda konkret umat Islam seperti pembenahan pendidikan (Sumber Daya Manusia) dan ekonomi ditinggalkan. Padahal, arus perubahan sosial (liberalisasi, globalisasi, industrialisasi, demokrasi dan pluralisme, dan sebagainya) menghadirkan tantangan besar yang betul-betul nyata.
Umat Islam harus segera bangun dari buaian mitos dan sejarah—mitos mayoritas. Umat Islam harus keluar dari mentalitas egois kembali kepada semangat kolektifisme dan inklusifisme yang bersandar pada realitas objektif, serta mempertegas misinya sebagai rahmat bagi alam semesta dengan cara berpikir jernih dan rasional dalam membaca gejolak-gejolak perubahan. Harus ada suatu perubahan cara pandang terhadap setting sosial umat Islam saat ini dalam rangka menghadapi perubahan struktur sosial masyarakat..
Tawaran Kunto dalam buku ini untuk memperbarui Islam boleh dikatakan cukup komprehensif, karena menyangkut aspek-aspek fundamental agama Islam, baik yang bersifat metafisis maupun epistemologis. Selain itu Kunto juga memberikan tawaran metodologis yang disebut “strukturalisme transendental”, yakni suatu usaha untuk menerapkan ajaran-ajaran sosial Islam yang lahir dalam episteme 15 abad yang lalu untuk diterapkan dalam konteks kekinian.

Tulisan ini dimuat di Harian Kompas, 8 Juli 2001.
Profile Image for Agung Wicaksono.
1,092 reviews17 followers
August 25, 2022
Pemikiran Pak Kuntowijoyo di buku ini ditulis secara sistematis dan rapi. Ia membahas tentang kondisi umat Islam terhadap perkembangan zaman, baik itu dalam budaya dan politik. Salah satu masalah yang ia ungkapkan adalah jangan sampai umat Islam menutup diri terhadap budaya baru yang masuk selama masih dalam batas baik dan membangun; serta tantangan politik kepada umat Islam yang selama ini masih tercerai berai karena paham yang berbeda, seperti kaum tradisionalis dan modernis. Selain itu, membaca buku ini membuat saya memahami kondisi politik pada zaman Orde Baru yang saat itu--salah satu masalah yang muncul--pemerintah cenderung tidak ingin masyarakatnya menunjukkan simbol agama yang dianut, seperti pelarangan penggunaan jilbab di sekolah negeri pada awal 1980-an.
Displaying 1 - 3 of 3 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.