Jump to ratings and reviews
Rate this book

NY Over Heels

Rate this book
Eyeliner, check! Mascara, check!
Matte dark lipstick, check! Perfect nails, check!
Outfit, check! Accessories, check!

Hari-hariku luar biasa ajaibnya sejak magang di Casablanca! Yap, Casablanca yang itu, ready to wear clothing line yang terkenal banget. Helooow, aku ada di New York!!!

Ini bukannya nggak pernah terbayangkan olehku. Tentu aja semua ini sudah ada di rencana wajib terlaksana sejak masuk akademi fashion design. Aku tahu aku bisa. Tapi, bukan berarti ini mudah, gals. Kerjaan yang meski asyik tapi bener-bener menantang, intrik kerja dengan teman-teman, tanggung jawab yang besar. Itu semua jadi makanan sehari-hari!

280 pages, Paperback

First published March 1, 2013

2 people are currently reading
33 people want to read

About the author

Dy Lunaly

12 books21 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
12 (15%)
4 stars
9 (11%)
3 stars
33 (43%)
2 stars
18 (23%)
1 star
4 (5%)
Displaying 1 - 17 of 17 reviews
Profile Image for Daniel.
1,179 reviews854 followers
February 4, 2016
Setelah membaca novel ini, semuanya sudah menjadi jelas bagi saya. Ternyata saya punya masalah sama karakter serbasempurna. Saya sudah menandai setiap karakter serbasempurna ini sebagai musuh saya, seperti Lord Voldemort menandai Harry Potter. Kenapa bisa begitu, ya? Hum, entahlah. Mungkin hidup saya tidak sempurna, dan saya juga menuntut semua tokoh yang saya baca juga harus merasakan ketidaksempurnaan? Tapi, ironisnya, ialah ketidaksempurnaan itulah yang membuat manusia menjadi manusia seutuhnya. Agak serem enggak, sih, kalau karakternya udah kayak dewa-dewi yang nyaris tiada cacat tanpa cela?

Novel ini kasusnya mirip sama Entangled by Michelle Tanera yang baru-baru ini juga saya kasih review dengan keluhan kurang lebih sama, yakni tokoh-tokohnya yang hidupnya terlampau lancar dan mulus bak Tol Cipularang.

This is not a boy's read, actually. Saya beli ini sebagai, yah, enggak ada alasan khusus. Sebenarnya saya sudah mencurigai kalau bakalan banyak istilah fesyen—sebuah terjemahan fashion yang sangat memaksa, menurut saya. Ketakutan saya terbukti. Yasalam, Kakak. Saya enggak paham waktu si Zee ini udah nyerocos soal jenis-jenis pakaian. Saya jahat. Saya skip waktu Zee udah jelasin tribal mold-cup tube, bomber jacket, body harnesses. Saya berbusa. Saya jadi ingat sebuah scene dari anime P4: The Animation yang menggambarkan ekspresi saya waktu membaca nama-nama barang fesyen tersebut:
description
Well, apa boleh buat? Saya cowok dan bukan anak yang fashionable dan memakai kaus dan jins biasa sudah merupakan kekerenan tersendiri buat saya. Tapi, saya enggak masalah, sih, justru menambah pengetahuan saya soal fesyen dan saya bisa mencarinya di Google kalau ada waktu luang. Sekali lagi, sih, saya sangat menyayangkan keterbatasan kosakata dalam bahasa Indonesia soal urusan fesyen. Jadi, yeah, buat para pakar fesyen, kalian harus bekerja sama dengan Balai Pustaka untuk menyusun KBBI edisi berikutnya. TT__TT

Sebelum saya melantur ke sana kemari, mari kita bahas cerita novel ini secara sekilas. Singkatnya, novel ini menceritakan kehidupan Zayyanda "Zee" Mary Sue yang sedang melakukan internship di Casablanca, ready-to-wear clothing line—mencomot dari blurb-nya. Ternyata bekerja di Casablanca ini tidak semudah Zee bayangkan. Banyak sekali pekerjaan yang harus ia lakukan, seperti mengerjakan seluruh perintah atasannya, mendesain banyak pakaian yang kece, dan lain sebagainya. Belum lagi, di hari pertamanya bekerja, Zee sudah sukses menciptakan musuh. Beruntung, ada teman-teman Casablanca yang baik yang dengan senang hati membantu Zee. Belum lagi ada Josh, fotografer tampan, yang selalu baik hati terhadap Zee. Mungkinkah fotografer itu menaksir Zee? Oh, jawabannya, iya, sih. #dihajar

Satu hal yang saya cermati adalah mengenai panggilan Josh, yang bernama lengkap Joseph David Millier. Ini cukup menarik. Bukannya saya mau sotoy atau apa, tapi saya suka detail kecil seperti ini. Josh itu kependekan dari Joshua, yang jelas-jelas berbeda dengan Joseph, Jacob's son. Nickname buat Joseph itu biasanya berkisar antara Joe, Joey, Seph, atau kalau mau yang ekstrem J.P. Kasusnya agak mirip antara Jon dan John yang meski etimologinya sama, tapi ini beda secara orang. Jon ini kependekan dari Jonathan alias kepanjangan dari Nathan. Bingung? Nama panggilan Jonathan ini biasanya Jo, Jon, atau Nathan. Jelas-jelas berbeda dengan John. Tapi, orang Amerika kebanyakan pakai John sebagai nickname dari Jonathan, yang sebenarnya kurang tepat. Sebelum saya semakin random, kembali ke soal Joseph - Josh. Iya, saya yakin ada yang memanggil Joseph dengan Josh, tapi ini bukan hal yang lumrah.

Masih sama dengan keluhan Remember Dhaka by Dy Lunaly , bahasanya masih campuran antara Inggris-Indonesia. Hasilnya adalah, kepala saya switched up dan down antara mau Indonesian mode atau mode English. Oke, sih, latar tempatnya ada di New York yang bahasanya Inggris. Tapi, does itu mean you have to berbicara dalam bahasa English setiap satu-dua kalimat? Prinsip yang saya junjung masih sama. Kalau masih ada padanannya dalam bahasa Indonesia, kenapa enggak? Tapi, saya juga enggak strict setiap kata harus diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Saya enggak anti-bahasa Inggris, tapi menurut saya, kalau bisa ditulis dalam bahasa Indonesia, kenapa enggak? Yes river, turtleneck diterjemahkan jadi leher-penyu? -_- Ada satu hal yang saya pelajari dalam constructed language dalam penulisan fantasi. Conlang itu enggak penting, enggak wajib, kecuali kalau plot baru bisa jalan kalau conlang itu dipakai. Contohnya, ada teka-teki yang hanya bisa dipecahkan dalam conlang itu. Mirip dengan bahasa Inggris, bahasa asing sebenarnya enggak perlu-perlu amat, kecuali kalau memang berpengaruh ke dalam plot. Dan, menurut saya, cerita di sini masih bisa jalan dan rasa New York-nya sudah terasa tanpa dengan menggunakan bahasa Inggris. Toh, atribut istimewa New York juga sudah dijabarkan, seperti Central Park dan Times Square. Selain itu, satu hal yang saya acungi jempol adalah grammar-nya sudah bagus. Jauh lebih baik dibanding dengan Remember Dhaka. Yeaay! Meski tadi saya lihat satu-dua salah ketik mungkin.

Karakternya, seperti yang sudah saya uraikan di bagian awal, terlalu sempurna dan hidupnya terlalu gampang dan mulus tanpa ada belokan yang berarti. Zee mendapatkan internship di Casablanca. Uh, oke, sih, kalau Zee enggak ke New York, barangkali cerita ini enggak bakalan jalan :v. Waktu Zee mengutarakan pendapatnya di depan Natasha, atasannya, ternyata pendapatnya diterima dengan baik. Uh... oke, meski awalnya saya pikir Natasha ini mirip kayak Meryl Streep di The Devil Wears Prada atau Anna Wintour yang kesannya begitu dingin. Rancangan gaun pernikahan Zee begitu saja disetujui oleh Rebecca Gray yang anaknya rewel banget soal hal-ini-hal-itu. Not cool. Si Zee ini siapa, sih, kenapa hidupnya begitu sempurna?

Saya bukan orang yang suka diberi motivasi. Saya enggak begitu suka dengan para motivator yang sering muncul di layar kaca, karena, hell, life isn't as simple as what you said, Sir. Saya juga enggak suka dengan cerita motivasional karena terkadang stars aren't always aligned for us. Tapi bukan berarti saya enggak suka sama cerita yang karakternya berjuang keras untuk mencapai apa yang didamba-dambakannya meski jalannya begitu sulit. Karakter semacam itu lebih klik buat saya, daripada karakter yang awalnya sudah mapan dan jalannya begitu mudah. Selain karakternya menjadi tidak manusiawi dan menyebalkan, jalan ceritanya menjadi datar dan mudah tertebak, "Ah, ini pasti begitu akhirnya. Mana mungkin si 'A' celaka? Dia, kan, begitu sempurna?"

Itu yang terjadi pada Zee. Waktu si Rebecca Gray menolak rancangan gaun pengantin dari George yang sudah jauh lebih berpengalaman daripada Zee, tapi ia menerima rancangan gaun Zee, saya sudah enggak tahu harus bagaimana. Belum lagi, ketika Janna yang awalnya kesal dengan Zee mendadak berbaik hati di penghujung cerita. Konflik Zee dengan Josh terselesaikan begitu saja di akhir cerita.

Entahlah. Gerigi-gerigi di otak saya yang selalu berpikiran buruk tak henti-hentinya bekerja. Apakah yang penting sekarang APS (Asal Pembaca Senang) sama seperti prinsip ABS (Asal Bapak Senang) yang digunakan para pegawai di era Orde Baru? Yang penting karakternya bisa mencapai semua yang dia inginkan dengan mudah? Seperti yang sudah saya katakan, saya lebih suka dengan karakter yang berjuang dengan keras untuk mencapai apa yang ia inginkan. Itu sebabnya kenapa saya 'klik' dengan Harry Potter. Itu sebabnya kenapa saya 'klik' dengan Erec Rex. Itu sebabnya kenapa saya 'klik' dengan Lena Mayfleet.

Hum, apa lagi, ya? Ilustrasi-ilustrasi yang digunakan bagus meski itu berarti harga novel menjadi sedikit lebih mahal. That's fine for me. Quote-quote yang diselipkan di setiap awal bab juga sangat menarik.

Sudut pandang orang pertamanya ada "bocor" di satu tempat, waktu Josh memelankan suaranya, tapi Zee masih bisa menceritakan apa yang dibicarakan oleh Josh. Padahal seharusnya Zee enggak bisa mendengar apa yang Josh omongkan.

Setiap orang enggak suka dibandingkan, tapi saya lebih suka Remember Dhaka—yang beberapa hari yang lalu saya beri tambahan satu bintang karena latar di Dhaka itu nilai plus plus plus banget buat saya. Mungkin karena temanya soal fesyen dan bisa dibilang saya buta soal fesyen, jadi saya kurang bisa merasakan isi cerita ini. Tapi, buat para penggila fesyen, mungkin bisa menikmati novel ini daripada saya.
Profile Image for Ifnur Hikmah.
Author 5 books13 followers
July 26, 2013
NY Over Heels. Buku ini bercerita tentang kehidupan seorang cewek 20 tahun bernama Zee yang diterima magang di Casablanca, a ready-to-wear clothing line yang—katanya—paling hip di New York. Jadilah, Zee yang lulusan akademi fashion di Indonesia pergi ke New York untuk magang, sekaligus menghabiskan waktu sebelum kuliah di Parsons. Selama magang, Zee punya banyak pengalaman yang absofashionlutely–kangen pake istilah ini, hihi—awesome. Dia bertemu dengan idolanya, the ultimate creative director from Casablanca, Natasha Fay, juga desainer dan stylist yang selama ini cuma dilihatnya dari katalog di web Casablanca, George, Janna, Michael, dan Debbie. Bahkan Debbie ini jadi roommate-nya Zee. Oh, don’t forget about good looking guy named Joseph David Millier, a photographer from Casablanca. Dan dimulailah cerita keseharian Zee sebagai an intern girl at Casablanca.
Oke, jujur ini novel pertama Dy yang gue baca—sebenarnya takjub sama proses menulis Dy yang cepat banget. Setahu gue baru beberapa bulan lalu Dy nerbitin novel. Judulnya Remember Dhaka. Penasaran sih sama Remember Dhaka ini, tapi begitu tahu Dy ngeluarin novel baru, NY Over Heels, gue jadi lebih penasaran sama novel barunya ini.
Gue memasang ekspektasi tinggi sama novel ini. Karena dua hal. Satu. It’s about fashion. If you know me, si I’m sure why I soooooo curious about this novel. Dua, settingnya New York. Yup, New York is my biggest dream—who doesn’t, right? Thanks to Bentang Pustaka dan #kuisminggu sehingga gue menang novel ini.
So, NY Over Heels? Oh, gue berharap menemukan Lauren Weisberger Indonesia setelah menyelesaikan novel ini.
Ceritanya sendiri cukup bagus. Sangat remaja. Menceritakan keseharian Zee yang gue yakin mampu membuat siapa saja meneteskan air liur karena iri. Siapa yang nggak iri coba bisa magang di New York—membayangkan bisa kerja di Condé Nast Building atau Hearst Tower?
Ada dua hal yang jadi concern gue di novel ini—tahu kan kalau ekspektasi gue tinggi banget? Pertama, tokoh. Mary sue. I never like Mary Sue. Memang sih novel itu fiksi tapi tetap aja kan harus ada sisi human-nya? Mary Sue itu nggak ada human-human-nya. Zee itu terlalu beruntung. Cantik, baik, tajir, ditaksir cowok ganteng, bisa magang di Casablanca, rancangannya dipilih sama A-list actress, ditawari jadi junior designer, lulus tes Parsons, punya keluarga supportif. Nggak ada cacatnya. Udah gitu Zee juga sabar. Dooh! Bukan hanya Zee, Josh juga nggak ada cela. Sepasang manusia tanpa cela saling cinta tanpa halangan berarti, it’s a fantasy. Sampai akhir gue berharap sepasang manusia ini ada celanya, tapi yang ada malah keberuntungan-keberuntungan yang selalu menerpa Zee. Dooh! Mungkin ya untuk teenlit, remaja menginginkan tokoh mary sue ini, tapi sebagai pembaca, gue berharap tokoh-tokoh yang gue baca masih ada sisi human-nya. Tokoh lain, seperti Natasha Fay juga menjadi concern gue. Thanks to Anna Wintour yang sudah membuat paradigma kalau atasan tertinggi di dunia fashion—entah itu fashion design, fashion magazine, fashion business, anything—harus bersifat dingin, cantik, style oke, dan galak. So, Natasha Fay masih ada nyerempet-nyerempet Anna Wintour—juga Miranda Priestly.
Kedua, ceritanya kurang drama jadi satu novel hasilnya ya serba nanggung. Di awal, gue berharap there is something with Janna. Gue merasa Janna ini punya potensi untuk membuat Zee terlihat sedikit human tapi ternyata? Di tengah-tengah, Dy malah membuang Janna entah kemana. Gue mencari-cari Janna tapi ini cewek entah sedang nyemplung di mana. Menjelang akhir dia muncul lagi tapi kehadirannya semakin memperkuat betapa baiknya Zee, betapa semuanya bisa berjalan lancar tanpa ada kesulitan bagi Zee. IMHO, sikap Janna dengan ego tingginya juga larangan pacaran di sesama karyawan Casablanca serta hubungan Zee-Josh, gue berharap Janna lebih berperan sehingga dramanya lebih oke. Kehidupan Zee bisa sedikit bergejolak dan nggak lempeng begini terus.
Kebetulan. Ini faktor yang paling nggak banget di sebuah fiksi. Di novel ini, kebetulan papa Zee adalah rekan bisnis papa Josh terasa gengges. Gue nggak melihat ada indikasi khusus hubungan ini ada selain mempermulus hubungan Zee dan Josh. Tanpa ada ini pun hubungan mereka sudah lebih mulus dibanding jalan tol. Dan kemunculan seorang cewek yang hanya berupa nama, Jesse, dan membuat Zee cemburu lalu menghindari Josh terasa maksa. Seolah-olah Dy ingin menciptakan drama antara Zee-Josh tapi tetap saja nanggung. Dan kemunculannya telat. Dooh! Ya gue masih berharap Janna berperan besar karena dia punya potensi sebagai ‘biang kerok’.
Setting New York. Terlepas dari New York adalah idaman setiap orang, gue penasaran kenapa Dy memilih NY. NY is tooooooo mainstream untuk cerita ber-setting fashion. Sex and The City, The Devil Wears Prada, Lipstick Jungle, Gossip Girls, Everyone Worth Knowing, it’s all about New York and fashion. Dan gue nggak merasa there is something special with New York di novel ini. Memang sih NY itu one of fashion capital, but it’s too mainstream. Jika one day gue menulis novel tentang fashion—still in my dream—Ny is a big no no. Masih ada fashion capital lain kayak Milan, London, Paris. Bahkan, bocoran dari salah satu teman gue dari grup majalah yang suka meliput fashion week sana, pasar Indonesia tidak terlalu berkiblat ke New York—makanya mereka jarang meliput NYFW. Intinya, kenapa New York terlalu mainstream, itu karena tanpa bisa dicegah, pikiran akan langsung tertuju ke cerita-cerita yang basic-nya fashion dan ber-setting New York.
Oh ya, dalam novel ini gue menemukan dua adegan yang oh-so-The-Devil-Wears-Prada banget. Pertama, waktu Natasha menyuruh Zee datang ke rumahnya memeriksa paket dengan catatan Zee si anak baru. Otak gue langsung tertuju ke part Miranda menyuruh Andy datang membawa The Book ke rumahnya. Andy yang terbengong-bengong di rumah Miranda juga persis seperti Zee. Kedua, the intern girl, yang posisinya secara kasar bisa diartikan sebagai bawahan paling bawah, disuruh sebagai penyedia kopi. Ini juga yang dilakukan Andy. Ini juga ada di Style, ketika Lee Seo Jung disuruh membeli kopi oleh Park Ki Ja. Mungkin Dy nggak ada maksud untuk nyama-nyamain, cuma ya gue aja yang langsung ke sana pikirannya.
Overall, I like this novel. Cukup ringan jadi bisa dibaca santai sepulang kerja. Hectic-nya Casablanca dapet banget—make me want to watch The September Issue again—juga New Yorknya. Sebagai seseorang yang belum pernah ke New York, penggambarannya sudah pas meski setting yang ditonjolkan adalah setting yang sebenarnya sudah nggak asing lagi.
Satu lagi concern gue, kenapa nggak disebut aja sih nama-nama penting itu? Ini bikin gue gregetan. Contohnya ketika Zee nemenin Josh belanja di salah satu luxury brand dari Itali. Berkali-kali disebut brand ini-brand ini. Kenapa nggak sebut langsung? Gucci-kah? Prada? Armani? Valentino? Salvatore Ferragamo? Roberto Cavalli? Fendi? Etro? Atau apa? Dari pada ‘brand ini’ dua suku kata mending langsung sebut. Biar lebih jelas. Toh luxury brand dari Itali banyak. Satu lagi, nama fotografer kesukaan Josh. Cuma disebut fotografer itu. Kenapa nggak sebut nama? Annie Leibovitz-kah? Patrick Demarchelier? Mario Testino? Steven Meisel? Peter Lindbergh? Atau siapa?
Ketika gue membaca novel luar, kemunculan nama-nama tokoh asli ini bikin gue merasa makin dekat dengan tokoh-tokoh itu. Sekarang gue lagi baca Last Night At Chateau Marmont. Weisberger dengan luwes menyebut Sony Music, Jay Leno Show, Tonight Show, Last Night, juga artis-artis lain yang keberadaannya terkait dengan tokoh utama. Hal ini yang nggak pernah gue temuin di novel Indonesia. Hiks. *malah curcol*
Karena novel ini bertema fashion, jadi sudah pasti banyak istilah fashion bertebaran di sini. Hati-hati lidahnya patah, hihihi. I’m not a fashionista—kalau istilah ngeledek gue sama teman-teman, we are fashion-nista—tapi gue pede dengan pengetahuan fashion gue. Nah, gue aja yang sempat keseleo menyebut outfit di sini, maka kalian yang not into fashion, berhati-hatilah.
Terakhir. Ketika Dy menulis kerjasama Casablanca dengan Harold’s, department store from London, gue selalu menyebut Harrods. Duh Dy, nama udah mirip gini, kenapa nggak Harrods aja? Atau at least cari nama lain yang jauh dari nama asli. Gue ngerasa terganggu aja dengan kemunculan Harold’s karena bikin gue gregetan. Why Harold’s, not Harrods?
*Ini serius. Nggak ada hukum nggak boleh kan mencatut nama asli di novel? Toh nggak dijelek-jelekin gini. Gue gatel soalnya mau mencatut nama Elle, Marie Claire, Amica, Dewi, Clara, L’officiel, Surface and others di draft gue. Juga nama perusahaan nyata lainnya. Karena gue suka dan membuat cerita terasa lebih real. Anybody yang tahu jawabannya, please answer mu questions.*
Penutup, good job, Dy. Ditunggu novel fashion lainnya—tentunya tidak di New York lagi ya.
Profile Image for Bila.
315 reviews22 followers
October 28, 2018
Aku nggak percaya bakat. Aku lebih percaya kerja keras. Kita bisa jadi apa pun yang kita mau asal kita bekerja keras. (hal.68)


Boleh aku katakan kalau ini author buy dan obralan buy* (istilah apaan ini Bil? 😂) yang agak...gagal? Karena jujur, aku sama sekali tidak merasakan pergolakan emosi saat membaca buku ini. Mengapa?

Sebelumnya, mari kita bahas apa yang bagus dari buku ini. Satu, penggambaran New York yang sangat detil. (dan ini sepertinya sudah jadi ciri khas kak Dy 😂) Jadi, kita seperti pergi ke sana. Cihuy.

Dua, penggambaran pakaian yang dipakai sangat...lengkap. Tapi tidak ditujukan untuk yang super awam dalam hal fesyen macam aku.

(Setelah disadari, memang 2 hal di atas jadi hal yang cukup "wajib" bagi buku-buku kak Dy, kalau ga percaya, baca aja reviewku untuk buku Pssst...!**)

Tiga, kisah yang sangat optimis, dan cocok untuk pembaca muda. Kisah yang menyenangkan.


Tapi, dibalik 3 hal yang bagus itu, buku ini malah menyimpan hal yang kurang tidak memuaskan.

Satu, tokoh utama yang terlalu SEMPURNA dengan "kisah" yang nyaris SEMPURNA. Aduh, beneran deh. Semua rintangan dia lalui dengan terlalu gampang. Optimis boleh, tapi jangan mengenyampingkan masalah riil di dunia nyata dong. 🙄

Dua, kemunculan konflik cuma selewat-selewat doang, habis itu biasa lagi.. (Sebenarnya ini kalimat lain untuk kisah nyaris sempurna itu, tapi...ah sudahlah!) Dan konfliknya itu cuma bikin kesel dikit.

Dan tiga, katanya bosnya-Nash-itu terkenal agak keras dan (ini asumsiku sih) super-duper perfeksionis. Tapi yang ada kok dia malah terlalu menganakemaskan anak magang? Oh iya yak, our main character is a perfect girl. Lupa aku.

Jadi intinya...aku bingung dengan buku ini. Dibilang cocok buat remaja, enggak. Ceritanya agak kekanakan. Dibilang untuk anak-anak juga enggak. Kisah cintanya agak ga cocok untuk anak-anak.

Ga tau ah. Ga tau! 😵😵

(Tidak ada quote kedua. Aku bingung mau mengutip apa dari sini.)

Catatan Bila:
*: Terima kasih untuk promo berlipat-lipat, aku beli buku ini cuma goceng dengan keadaan masih disegel. Beneran!
**: Buku ini terbit duluan daripada Pssst...! Jadi aku bisa bilang demikian.

Catatan tambahan:
Kenapa aku ga ngasih cuma 1 bintang padahal reviewnya aja kebanyakan isinya rant? Karena aku merasa buku ini ga seburuk itu kok. Atau mungkin...ini pembulatan dari 1.75?
Profile Image for Virginia Natalia Joo.
33 reviews
January 30, 2014
Hello lagi semuanya! Akhirnya, aku selesai juga baca buku ini, padahal awal baca dari tanggal 8 Jan lhoooo, lama banget ya padahal 268 halaman aja >//////< .

Jadi begini, pertama, menurutku buku ini cocok untuk remaja yang suka sama fashion. Kenapa? Karena mostly buku ini menyebutkan tentang fashion, bagaimana si pemeran utama ini magang di tempat khusus fashion, bagaimana ia kenal dengan seseorang, dan lain-lain.

Setiap buku pasti memiliki kekurangan, ingat, tidak ada satupun yang sempurna. Begitu pula dengan NY Over Heels ini. Buku ini memiliki kekurangan pada typo *entah sejak kapan saya jadi suka memperhatikan typo xD*. Yah, typonya sih sedikit, hanya ada beberapa yang saya tangkap dengan mata saya.

Berikut typo-typo tersebut :

1. Halaman 59 – It’s gonna be prefect –> yang dimana seharusnya PERFECT.

2. Halaman 70 – kamu bertiga menyelinap ke sana –> yang saya yakini seharusnya KAMI.

3. Halaman 78 – Tidak menolerasni –> yang dimana seharusnya MENOLERANSI.

4. Halaman 218 – Tapi Josh bukan enak kecil –> yang dimana seharusnya ANAK.

Hehehe, kesalahan-kesalahan kecil saja, sih. Jadi, tidak perlu terlalu dianggap serius dan tidak mengurangi rasa keingintahuan pada buku ini :p

Dan, tentu saja buku ini juga punya kelebihan. Kelebihannya adalah, di setiap bab penulis mencantumkan quotes dari beberapa orang terkenal, seperti Freddie Mercury, Taylor Swift, dan lain-lain.

Yuk, diintip ‘beberapa’ quote-quote ini :

1. Unique and Different is the next generation of beautiful – Taylor Swift.

2. Give a girl the right shoes, and she can conquer the world – Marilyn Monroe.

3. Be sure what you want and be sure about yourself. Fashion is not just beauty. It’s about good attitude. You have to believe in yourself and be strong – Adrianna Lima.

Apakah kamu mulai tertarik dengan buku ini? Belum saatnya, dear! Kamu harus lihat dulu sinopsis berikut ini :

Eyeliner, check! Mascara, check!
Matte dark lipstick, check! Perfect nails, check!
Outfit, check! Accessories, check!

Hari-hariku luar biasa ajaibnya sejak magang di Casablanca! Yap, Casablanca yang itu, ready to wear clothing line yang terkenal banget. Helooow, aku ada di New York!!!

Ini bukannya nggak pernah terbayangkan olehku. Tentu aja semua ini sudah ada di rencana wajib terlaksana sejak masuk akademi fashion design. Aku tahu aku bisa. Tapi, bukan berarti ini mudah, gals. Kerjaan yang meski asyik tapi bener-bener menantang, intrik kerja dengan teman-teman, tanggung jawab yang besar. Itu semua jadi makanan sehari-hari!

Dan, yang enggak kalah penting, aku bertemu dengan Josh! Oh, tunggu sampai kamu tahu sendiri betapa oke-nya fotografer itu! Oke oke, aku butuh fokus untuk bisa mengendalikan semua ini. Aku nggak sabar menaklukkan New York!!!

Sudah mulai tertarik? Hehehe, silahkan di check review ku ya :

Zee, nama panggilan Zayyanda Aqila Admiratja, merupakan gadis yang amat menyukai fashion. Magang di Casablanca merupakan cita-citanya yang baru saja menjadi kenyataan! Akhirnya, Zee pun meninggalkan Indonesia dan tinggal di New York. Zee sudah menentukan akan tinggal di New York apabila ia diterima di Parsons, sekolah fashion yang akan didaftarnya.

Di New York, Zee tinggal bersama seorang teman bernama Debbie. Debbie merupakan sahabat yang baik, dan tentunya menyenangkan! Sebelum Debbie dan Zee bertemu untuk pertama kalinya, Zee lebih dulu bertemu dengan Josh. Laki-laki yang tiba-tiba menawarkan dirinya untuk mengambil foto Zee. Josh mengaku sering melihat blog khusus fashion milik Zee yang cukup terkenal itu.

Tidak disangka, Debbie dan Zee ternyata satu kantor! Betapa beruntungnya Zee. Natasha Fey, atau yang lebih sering disebut Nash, merupakan atasan yang galak, tegas, dan perfeksionis. Pantas saja Nash menjadi seterkenal ini. Kerja keras membuktikannya.

Dan disinilah Zee berada, diantara George yang merupakan lead designer, Michael junior designer, dan Janna, fashion designer yang terkenal itu! Namun….. sikap Janna pada Zee tidak teman-teman yang lainnya. Janna tidak menyukainya, Zee bingung. Apa yang harus dilakukannya supaya ia tidak memiliki musuh? Masa, baru hari pertama bekerja sudah mendapat musuh?

Namun, Zee tidak terlalu memikirkannya. Karena Josh, fotografer yang waktu itu menawarkan diri untuk memotret Zee, ternyata juga bekerja di Casablanca! Zee senang bukan main. Namun di balik kesenangannya, ia harus menghadapi Janna – yang amat sangat menyebalkan – dan Nash yang tidak habis-habisnya menyuruhnya melakukan ini dan itu.

Akankah Zee menyelesaikan magang nya sampai tuntas? Belum lagi, masalah Zee dengan Janna, juga masalah percintaan Zee dan Josh. Menurut kalian, bagaimana? :p

Yuk, beli buku ini dan nikmati jalan-jalan bersama Zee menjelajah New York! ^^
Profile Image for Emilya Kusnaidi.
Author 3 books40 followers
December 22, 2015
Awalnya tertarik membaca buku ini karena sinopsisnya yang menyebutkan NYC dan fashion. Hmm, menarik. Tapi ternyata isinya tidak semenarik sinopsisnya. Terus terang saya kecewa.

Saya tidak suka dengan tokoh utamanya yang serba sempurna; cantik, fashionable, tajir, dan super bertalenta. Saya hanya bisa mengernyitkan alis ketika apa yang ia lakukan semuanya pasti berhasil, dan kayaknya semua orang memuja-muja si tokoh.Uh, sedikit menyebalkan sebetulnya. Pun, tokoh lain juga tidak ada yang menarik. Mulai dari Josh, Debbie, hingga Natasha Fey. Semua terasa lempeng dan tidak ada ciri yang menonjol. Oh iya, dan Josh, sebagai hero juga tidak ketinggalan dibuat serba sempurna; ganteng, tajir, berbakat, baik, dan naksir tokoh utama.

Latar New York yang dipasang sebagai judulpun, juga tidak dideskripsikan dengan baik. Hanya nama-nama yang numpang lewat, tanpa penjelasan ambience-nya kayak apa. Banyak hal menarik yang sebetulnya bisa diulas, tapi sayang kayak dihilangkan begitu aja. Misalnya Parade Haloween di Greenwich Village, atau bagaimana suasana Thanksgiving dan Black Friday.

Tapi yang membuat saya mengerutkan alis dan memutar bola mata berkali-kali adalah bagian fashionnya. Oke, saya tahu bahwa Zee ini fashionista dan seorang blogger. Tapi penjelasan mengenai fashionnya sangat mentah, dan penjelasan outfit-outfit hanya sekedar langsung tempel, kayak langsung mengkopi dari internet/fashion blog/majalah tanpa diolah lebih lanjut. Penjabarannya sama sekali berkesan maksa. Dan gaya Zee,yang katanya bohemian edgy itu, kalau dari deskripsinya sama sekali nggak menunjukkan bahwa ia bergaya bohemian edgy. OUCH.

Begitupula dengan masa internship Zee di Casablanca. Pertama, saya heran, Casablanca ini label macam apa? Menurut sinopsis di belakangnya, sih, ready to wear. Ok, masuk akal. Tapi membuat Haute Couture juga? Dan punya show sendiri di NYFW? Jujur saya nggak kebayang sama sekali. Jadi maksudnya kayak HnM/Zara/Mango bikin gaun couture, gitu? Dan wedding dress? Jelas-jelas segmen pasarnya udah beda.

Anehnya pula, Zee yang anak intern sendiri masa internnya cukup lama. Enam bulan. Padahal biasanya masa intern hanya 1-3 bulan. Dan langsung dipercaya dengan dikasih tugas yang penting-penting, dan jadi stylist fashion show, dan merancang gaun untuk klien penting, dan membuat lookbook? Unbelievable. Saya jadi semakin nggak yakin sebesar apa Casablanca ini sampai menggunakan jasa anak intern sampai sebegitunya.

Hmm, saya nggak tahu, apakah penulis adalah pecinta fashion/bukan, tapi rasanya penulis seperti kurang riset di hal ini. Padahal ini adalah nilai yang mau dijual si penulis. Akibatnya, membacanya bener-bener bikin mengernyit per halamannya.

Terus soal ceritanya sendiri. Rasanya kayak nggak ada konflik berarti. Konflik dengan Janna, dan Josh pun kayak numpang lewat aja. Dan banyak bagian yang kayak di skip-skip.

1.5 stars, actually.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for yanti.
117 reviews2 followers
October 3, 2016
Akhirnya selesai juga baca ini...kalo kulihat Date I started until Finished...its so long time
Sebenarnya sih tidak selama itu. tapi memang sih saya sempat berhenti sebentar di awal-awal baca novel ini.
Saya tertarik membaca novel ini, saat kulihat penulisnya Dylunaly...beberapa bukunya saya sudah baca dan lumayan suka, terakhir kubaca Il Tiramisu.
Tetapi pas membaca buku ini, kok kaya bukan penulisnya Dy yaa...mungkin karena ini buku lama, jadi mungkin sudah berubah penulisannya. dan ini genre Tenlit yaa

Awal membaca, saya sudah dibingungkan dengan berbagai istilah fashion, kombinasi baju, aksesoris dsb. Kalo ini memang salahkan saya yang kudet tentang penampilan, yang tahu baju itu hanya kaos, celana,gaun, outer...hadeh parah memang pengetahuan saya.

Btw..membaca halaman selanjut-selanjutnya mulai terbiasa dengan istilah itu, walaupun masih mengarang bebas, bagaimana ilustrasi yang sebenarnya. Kayanya akan sangat membantu saya, kalo setiap fashion ada gambar ilustrasinya :)

Selain persolan istilah, saya juga bingung setelah membaca, kutunggu-tunggu konfliknya dimana...bahkan sampai akhir, nyaris tanpa konflik yang berarti. selain tentang kesalahpaham Zee terhadap Josh. Dan itupun sebenarnya dengan mudah diselesaikan.
Yang lainnya tampak "sempurna", saya menunggu bagian cerita tentang "perjuangan Zee" yang sebenarnya, saat menjalani magang di Casablanca. Tetapi terasa kurang menggigit. Latar belakang masing-masing tokoh juga terlihat"sempurna". Ini seperti kisah princess bertemu dengan prince dalam dongeng Disnayland

Oke...novel ini tergolong ringan dan cukup menghibur :)
Profile Image for Caca Venthine.
372 reviews10 followers
January 9, 2014
NY over heels, dari judulnya udah bias nebak kalo nih cerita berlatar belakang New York (alibi banget, padahal di covernya ada patung Liberty,ya jelas aja NY, masa jawa tengah)

Cukup cepat juga ngabisin nih buku. Oke marikita acak-acak isinya..

Bercerita tentang cewek bernama panggilan Zee (padahal gue lupa siapa nama aslinya) yang mencintai dunia fashion dan berhasil magang di salah 1 kantor fashion ternama di New York yang bernama Casablanca.. Nah,disini dia magang selama 6 bulan,ketemu dengan desaigner atau fashion stylist terkenal. Nah terus dia ketemu salah 1 photographer bernama Josh yang adalah teman kerjanya juga.. Jadi ya udah gitu dah,mereka ngabisin waktu bersama-sama sampai akhirnya jadian juga sih..

Oke intinya begitulah..

Awalnya terlalu monoton,gue kya baca buku terjemahan gitu. Entah kenapa ya,mungkin karena dari kata2 nya yang agak terlalu baku atau bosenin sehingga awalnya gue gk terlalu menikmati cerita ini.. Tapi,for all gue suka sama ceritanya. Banyak juga pengetahuan tentang fashion2 yang bikin gue ngerasa cewek banget walaupun nih lidah agak belibet juga sih bacanya.. Maklum gue kan cewek jadi-jadian yang gk begitu tertarik dengan fashion. Mau ada koteka dipaduin sama sepatu Jimmy Choo pun sebodo teuing..

Yauda ya begitu aja. Gk tau kenapa akhir2 ini gue rada singkat padat dan gk jelas review buku. Sok lah dimaklumin aja yaa..
Profile Image for Vindri Prachmitasari.
Author 3 books6 followers
July 6, 2013
Selesaiiiii!!!
Akhirnya setelah hampir vacum membaca selama 2 bulan, novel ini yang sebelumnya sudah 1/4 halaman dibaca dan kemudian kehilangan mood, bisa selesai juga!
Oke, novel ini berkisah tentang seorang gadis yang mendapatkan kesempatan magang di salah satu ready-to-wear clothing line terbesar di New York. Dan yak. Bisa ditebak novel ini bersetting di tentang kesibukan di dunia fesyen. Ceritanya bagus, dan saya suka penuturan penulis yang details soal istilah-istilah fesyen yang begitu details. Dan kadang saya harus membayangkan jenis pakaian tsb itu yang seperti apa yah? heheh.. I am not into to fesyen very much, just admire. Bahasa yang digunakan menggambarkan betapa penulis sepertnya enjoy dalam menulis novel ini. Love it! Sampai-sampai saya bisa merasakan atmosfir hectic dan fun-nya dunia fashion.

But, It's too perfect for life. Konflik yang di timbulkan tidak begitu intim dan mudah di selesaikan. Tiap bab ada masalah dan selalu dapat di selesaikan di dalam bab itu juga. Oke ini cuma fiksi, dan ini adalah hak penulis. And overall, saya suka, saya enjoy, dan mampu membuat saya berpikir " should i change my current job to fashion business?"
Profile Image for Muhammad Ridwan.
193 reviews25 followers
March 2, 2014
Setuju banget sama review-nya Mas Daniel yang panjang lebar dan spoiler abis. :D .

+ Gaya berceritanya enak dan renyah.
+ Risetnya (gak tahu bener atau salah) hebat banget. :D . Kekuatan novelnya Dy Lunaly emang ada di deskripsi latar serta suasana.

- Karakter yang terlalu sempurna. Tidak ada hambatan yang mengiringi kehidupan mereka. Jadi pingin punya hidup selancar itu.
- Konfliknya gak greget sama sekali. Alasan Zee buat marah sama Josh pas hari ulang tahun Josh pun dangkal banget. Apa emang cewek kaya gitu banget ya? Hmmm....
- Dan ini yang paling penting: aku gak ngerti fashion. Jadi, kenapa gak disediain catatan kaki buat setiap istilah fashion, termasuk nama-nama pakaian dan kosmetiknya?

Semoga novel Dy Lunaly yang selanjutnya makin wow!
Profile Image for Ruth Munthe.
203 reviews159 followers
November 4, 2014
Lumayanlah kalo yang baca remaja yang sedang membangun mimpi dan cita-citanya, terutama mereka yang tertarik di dunia fashion. begitu banyak angan yang penulis tawarkan kepada pembaca. sampai-sampai saya takut kebagun dari mimpi itu karena ketinggian banget. menurut saya yang sedang dalam masa transisi dari remaja akhir ke dewasa awal, saya sih cuma bisa weleh-weleh aja ngeliat penulis menggambarkan tokoh utamnya yang serba bisa dan hidupnya yang too perfect to be real. tapi balik lagi, namanya juga bacaan remaja. ya wajar lah kalau penulis memompa semangat pembaca agar ikut bermimpi. oleh karena itu, 3 bintang untuk tulisan ini :)
Profile Image for Amelia Aura.
100 reviews11 followers
August 3, 2013
Jujur, saya baca NY Overheels ini seperti baca serial PinkBerry yang lebih 'luas' dan agak dewasa (karena ada adegan percintaannya juga kerja, fashion, dll). Dan ntah nggak suka sama karakter tokoh utama beserta pasangannya, apalagi percintaannya yang mainstream. Tadinya mau ng'rate 2 bintang, tapi terselamatkan dengan adanya karakter-karakter tokoh sampingan. Aku malah suka sama Natasha, Debbie, George & Michael. Karakter mereka lebih lovable dibanding tokoh utama, menurut saya. Juga jempol deh buat setting dan all-about-fashion-and-Casablanca, pasti risetnya abis-abisan deh.
Displaying 1 - 17 of 17 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.