What do you think?
Rate this book


280 pages, Paperback
First published March 1, 2013
yang baru-baru ini juga saya kasih review dengan keluhan kurang lebih sama, yakni tokoh-tokohnya yang hidupnya terlampau lancar dan mulus bak Tol Cipularang. 
, bahasanya masih campuran antara Inggris-Indonesia. Hasilnya adalah, kepala saya switched up dan down antara mau Indonesian mode atau mode English. Oke, sih, latar tempatnya ada di New York yang bahasanya Inggris. Tapi, does itu mean you have to berbicara dalam bahasa English setiap satu-dua kalimat? Prinsip yang saya junjung masih sama. Kalau masih ada padanannya dalam bahasa Indonesia, kenapa enggak? Tapi, saya juga enggak strict setiap kata harus diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Saya enggak anti-bahasa Inggris, tapi menurut saya, kalau bisa ditulis dalam bahasa Indonesia, kenapa enggak? Yes river, turtleneck diterjemahkan jadi leher-penyu? -_- Ada satu hal yang saya pelajari dalam constructed language dalam penulisan fantasi. Conlang itu enggak penting, enggak wajib, kecuali kalau plot baru bisa jalan kalau conlang itu dipakai. Contohnya, ada teka-teki yang hanya bisa dipecahkan dalam conlang itu. Mirip dengan bahasa Inggris, bahasa asing sebenarnya enggak perlu-perlu amat, kecuali kalau memang berpengaruh ke dalam plot. Dan, menurut saya, cerita di sini masih bisa jalan dan rasa New York-nya sudah terasa tanpa dengan menggunakan bahasa Inggris. Toh, atribut istimewa New York juga sudah dijabarkan, seperti Central Park dan Times Square. Selain itu, satu hal yang saya acungi jempol adalah grammar-nya sudah bagus. Jauh lebih baik dibanding dengan Remember Dhaka. Yeaay! Meski tadi saya lihat satu-dua salah ketik mungkin. Aku nggak percaya bakat. Aku lebih percaya kerja keras. Kita bisa jadi apa pun yang kita mau asal kita bekerja keras. (hal.68)