Rindu seperti sajak sederhana yang tak ada matinya. (2003)
Setelah punya rumah, apa cita-citamu? Kecil saja: ingin sampai rumah saat senja supaya saya dan senja sempat minum teh bersama di depan jendela. (2004)
Dengan kata lain, kamu tak akan pernah bisa membayar gurumu. (2004)
Menggigil adalah menghafal rute menuju ibukota tubuhmu. (2005)
Berilah kami rejeki pada hari ini dan ampunilah kemiskinan kami. (2005)
Tubuhku kenangan yang sedang menyembuhkan lukanya sendiri. (2006)
Kita adalah cinta yang berjihad melawan trauma. (2010)
Tuhan yang merdu, terimalah kicau burung dalam kepalaku. (2012)
Pada matanya aku melihat kerlap-kerlip cahaya lampu kota kecil seperti bisikan hati yang lembut memanggil. (2012)
---
Buku ini berisi 60 puisi pilihan Joko Pinurbo (Jokpin) yang ditulisnya dalam rentang waktu 1991-2012. Jokpin dikenal dengan cara berpuisinya yang unik. Puisinya tampak sederhana, namun sarat makna; di sana-sini mengandung humor dan ironi yang menyentuh absurditas hidup sehari-hari. Membaca puisi-puisinya adalah memasuki tamasya rohani yang mengasyikkan dan sering mengejutkan.
Joko Pinurbo (jokpin) lahir 11 Mei 1962. Lulus dari Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Sanata Dharma Yogyakarta (1987). Kemudian mengajar di alma maternya. Sejak 1992 bekerja di Kelompok Gramedia. Gemar mengarang puisi sejak di Sekolah Menengah Atas. Buku kumpulan puisi pertamanya, Celana (1999), memperoleh Hadiah Sastra Lontar 2001; buku puisi ini kemudian terbit dalam bahasa Inggris dengan judul Trouser Doll (2002). Ia juga menerima Sih Award 2001 untuk puisi Celana 1-Celana 2-Celana 3. Buku puisinya Di Bawah Kibaran Sarung (2001) mendapat Penghargaan Sastra Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional 2002. Sebelumnya ia dinyatakan sebagai Tokoh Sastra Pilihan Tempo 2001. Tahun 2005 ia menerima Khatulistiwa Literary Award untuk antologi puisi Kekasihku (2004). Buku puisinya yang lain: Pacarkecilku (2002), Telepon Genggam (2003), Pacar Senja (2005), Kepada Cium (2007), dan Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung (2007). Selain ke bahasa Inggris, sejumlah sajaknya diterjemahkan ke bahasa Jerman. Sering diundang baca puisi di berbagai forum sastra, antara lain Festival Sastra Winternachten di Belanda (2002). Oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan sejumlah sajaknya digubah menjadi komposisi musik.
Mantap sekali hingga ke aksara terakhir Baju Bulan yang menemankan malam-malamku yang sepi Oh tapi kini aku khuatir Apa lektur seterusnya akan seenak buku ini?
Selamat datang si bintang lima! Ke singgahsana tresna-sukma-manira.
Puitisnya ringan-ringan. Bahasanya sarat makna. Hampir kesemua puisi di buku ini menjadi kegemaran aku. Satu untaian puisi yang menyegarkan, bagi hiburan, rasa lucu dan adakalanya hati rasa dihiris-hiris dengan pengajaran di setiap bait kata.
"Tuhan yang merdu, terimalah kicau burung dalam kepalaku".
pulanglah pada kertas dan pena, jokpin. umat memerlukan nabi bagi puisi.
"..minggu pagi di sebuah puisi kauberi kami kisah paskah ketika hari mulai terang, kata-kata telah pulang dari makam iring-iringan demonstran makin panjang para serdadu berebutan kain kafan, dan dua perempuan mengucap salam: siapa yang masih berani menemani tuhan?"
Tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan buku ini. Setelahnya, saya bertanya-tanya, apakah ini puisi, apakah ini cerita pendek, ataukah perpaduan dari keduanya. Apapun bentuk pastinya, yang jelas, saya menikmati untuk tenggelam di lautan kata Joko Pinurbo. Di dalam puisi-puisi pilihan ini, kata yang akan sering kita jumpai adalah celana, kebanyakan untuk menandai masa lalu yang dilihat dari masa sekarang. Sebuah metafora yang bagus karena dari masa lalu sampai sekarang kita masih memakai celana, bukan? Selain celana, relasi antar keluarga juga terpapar jelas, lengkap antara Ayah-Ibu, Ayah-Anak, dan Ibu-Anak. Ada pula hubungan antara seorang guru dan muridnya yang telah sukses dan sedang mudik. Untuk melengkapi semua itu, tentu saja ada puisi tentang kekasih; kejenakaan dan kegetiran saling berpelukan di dalam tema ini.
Puisi yang mungkin menyentil tradisi keagamaan adalah, "Celana Ibu", "Paskah", tanya Maria "Pas sekali, Bu," jawab Yesus gembira. Mengenakan celana buatan ibunya, Yesus naik ke surga.
Lain lagi dengan "Winternachten", si penggoda berkelas. 'Mengigil adalah menghapal rute menuju ibukota tubuhmu.'
Puisi yang menyentuh saya secara pribadi berjudul "Pada Matanya" "Pada matanya aku melihat kerlap-kerlip cahaya lampu kota kecil seperti bisikan hati yang lembut memanggil."
Untuk setiap hati yang kesepian, untuk seluruh pikiran yang lelah berkelana, bacalah buku ini, beristirahat sejenak, dan semoga ini menjadi oase. Seperti saya yang kembali disegarkan olehnya.
Apa yang hendak disampaikan Jokpin dalam puisi-puisinya adalah semacam sentilan dalam bahasa yang sederhana namun sarat makna. Tentang kehidupan, tentang hal-hal yang luput hingga kita lupa, juga tentang pelbagai hal sederhana namun kaya makna yang sering kita abaikan dalam hidup yang serba hibuk dan sibuk ini. Ulasan sederhana di
Baju Bulan merupakan seuntai puisi pilihan yang memuat 60 puisi yang telah ditulis Bapak Joko Pinurbo sejak tahun 1991-2012.
Menurutku, melalui puisi-puisinya—kita diajak berwisata mengelilingi kilas balik peristiwa-peristiwa usang di dalam keseharian. Di tiap jejaknya, akan ditemukan bagaimana interaksi dari setiap kisah yang dipuisikan dengan lugas.
Ini sangat menyenangkan dan renyah untuk dibaca, apalagi di penghujung tahun seperti Desember ini. Karena lagi-lagi, terasa selayaknya sedang bernonstalgia dengan serangkaian kejadian yang bermuara di antara hubungan anggota keluarga, peran ibu, ayah, anak, momen-momen unik hingga kematian dan kasih yang di dekap setiap kata-kata—selalu bercerita.
Aku paham, bahwa puisi tidak mudah untuk dipahami. Namun, sedikit banyak yang aku rasakan ialah seperti sedang memutar waktu menuju sukacita dan haru yang pernah ada di masa lalu.
Uniknya, banyak sekali penggunaan diksi celana di tiap puisinya. Seolah menjadi ciri khas tersendiri yang memudahkan dalam mengingatnya.
Sentilan nakal Jokpin yang kurindu, datang kembali menghiasi hari-hari abu-abu. Sebelumnya, saat membaca Jokpin, saya menemukan kesatuan tema, seperti dalam Surat Kopi atau Buku Latihan Tidur: Kumpulan Puisi. Namun di sini, yang saya lihat adalah pengembaraan puisi Jokpin dari matang menjadi ranum. Saya melihat bahwa Jokpin tahu kalau tawa dan tangis adalah tetangga. Tragis dan senyum meringis juga sahabat. Kematian dan masa kecil disenandungkan Jokpin dengan jenaka, membuat hidup dan mati berdamai dalam tiap sajak.
Di sela-sela ricuh kehidupan, puisi Jokpin membuat saya berhenti sejenak, untuk merasakan mereka yang disebut miskin tapi cukup, bahkan ternyata kaya dan bijaksana. Kutipan puisi "Harga Duit Turun Lagi" ini salah satu beat yang "ngegong" bagi saya:
"Malu pada guru dan teman-temannya, coba ia serahkan tubuhnya ke tali gantungan. Dadah Ayah, dadah Ibu..
Ibucinta terlonjak bangkit dari sakitnya. Diraihnya tubuh kecil itu dan didekapnya. Berilah kami rejeki pada hari ini dan ampunilah kemiskinan kami."
Sesuai dengan diskripsinya, puisinya tampak sederhana namun sarat dengan makna. Sebuah buku puisi yang saya boleh baca berulang kali, setiap kalinya boleh dihadam dan diambil pendekatan dengan cara yang berbeza. Humor dalam puisi "Celana Ibu" amat menarik perhatian saya;
"Paskah?" Tanya Maria "Pas sekali, Bu," jawab Yesus gembira. Mengenakan celana buatan ibunya, Yesus naik ke surga.
Hati saya ringan saya membaca line tersebut, sesuai dengan amatan saya sendiri, tuhan itu tak pernah kejam, tapi tak pernah tersilap juga memberi nasib.
Membaca buku ini dari awal hingga penghabisan, perkataan celana banyak sekali digunakan oleh Jokpin. Jadi, setiap kali saya melihat perkataan tersebut di buku lain, langsung saya teringat puisi puisi Jokpin sendiri. Buku ini harus dibaca!
"Setelah punya rumah,apa cita-citamu? Kecil saja: ingin sampai rumah saat senja supaya saya dan senja sempat minum teh bersama di depan jendela" - Cita-Cita, Jokpin
Bagian yang saya suka, "Setelah punya rumah, apa cita-citamu? Kecil saja: Ingin sampai rumah saat senja, supaya saya dan senja sempat minum teh bersama di sepan jendela."
Setelah punya rumah, apa cita-citamu? Kecil saja: ingin sampai rumah saat senja supaya saya dan senja sempat minum teh bersama di depan jendela.
Ah, cita-cita. Makin hari kesibukan makin bertumpuk, uang makin banyak maunya, jalanan macet, akhirnya pulang terlambat. Seperti turis lokal saja, singgah menginap di rumah sendiri buat sekedar melepas penat.
Terberkatilah waktu yang dengan tekun dan sabar membangun sengkarut tubuhku menjadi rumah besar yang ditunggui seorang ibu. Ibu waktu berbisik mesra, “Sudah kubuatkan sarang senja di bujur barat tubuhmu. Senja sedang berhangat-hangat di dalam sarangnya.”
minggu ini sedang ktagihan menjalankan ibadah puisi kalo kata jokpin. lebih suka buku ini daripada perjamuan khong guan. bagian tebaik versiku: "Surat Malam Untuk Paska. Sudah Saatnya, Baju Bulan, Dengan Kata Lain, PEnjual Bakso, Kepada Uang, Tahi Lalat, Doa Makan"
Bulan, aku mau lebaran Aku ingin baju baru, tapi tak punya uang. Ibuku entah di mana sekarang, sedangkan ayahku hanya bisa kubayangkan. Bolehkah, bulan, kupinjam bajumu barang semalam? Bulan terharu, kok masih ada yang membutuhkan bajunya yang kuno diantara begitu banyak warna-warni baju buatan.
pertama kalinya baca buku puisi setelah sekian lama ga baca buku puisi. dan pertama kalinya juga baca buku puisi karya joko pinurbo. entahlah, saya tidak bisa banyak berkomentar, karena jujur saja, banyak yang saya tidak paham maknanya. tapi kata orang, kalau baca puisi ya baca saja. jadi, ya saya baca saja tanpa sok-sok-an menganalisis makna puisi tersebut.
Sebelumnya belum pernah baca buku Jokpin, hanya potongan-potongan puisinya saja. Dan Baju Bulan ini berisi puisi-puisi yang ditulis Jokpin sampai tahun 2012. Aku suka karena puisinya begitu ringan, begitu mudah dimengerti tapi sarat akan banyak arti. Sulit rasanya memilih puisi mana yang paling disukai.
Puisinya memang ringan, tapi ada beberapa judul yang saya nggak ngerti maksudnya. Tapi asik juga sih mencoba menginterpretasi makna puisi di saat lagi santai dan bukan karena tuntutan soal-soal mata pelajaran bahasa Indonesia yang jawaban hasil analisis makna puisinya harus tepat. hehe
Karena saya baca duluan buku Celana, trus baru buku ini jadinya beberapa puisi sudah pernah saya baca dalam buku Celana. Walau begitu, puisi lainnya masih tetap enak banget dinikmati sambil minum teh pagi atau sore hari.
Favorit saya : Surat Malam Untuk Paska dan Topeng Bayi Untuk Zela.
Jokpin resmi menjadi penyair lokal favorit saya sekarang.
Buku ini adalah buku pertama karya Jokpin yang berhasil saya lahap hanya dalam sekali baca, tidak lebih dari 3 jam. Terlepas dari makna tulisannya, buku ini menjadi pelipur lara di pekan-pekan berat yang telah saya lewati.
Tak perlu metafora yang berbelit-belit bagi Joko Pinurbo untuk memukau pembacanya, ia hanya perlu dua hal: cerita puisi yang dalam dan pemilihan kata yang jenius. "Celana Ibu" dan "Dengan Kata Lain" adalah salah dua yang paling kuat.
Karya Joko Pinurbo selalu punya ciri khas sendiri. Meski beberapa lembar puisinya kadang ngga aku mengerti, tapi itu ngga jadi masalah karena sisanya benar-benar menampar dan bikin pikiranku menggelitik mau berpikir lebih dalam.
Buku kumpulan puisi pertama yang saya baca pertama kali di tahun ini. Nggak nyesel pilih buku ini karena menurut saya bagus. Saya suka sama semua puisinya, banyak makna tersirat di akhir puisinya. Cocok banget dibaca buat hiburan singkat.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Bukan yang pertama kalinya banget baca buku puisi. Tapi ini jadi yang pertama kali ngebaca sambil menyesapi isinya. Aku suka. Isinya indah. Nggak sabar membuka karya-karya penyair lain dan mulai mengeksplor dunia puisi!