Aku mendengar langkah kakinya menuju kamar mandi. Lalu, insting perempuanku meliar. Aku menggeledah isi tasnya dengan degup jantung yang bergemuruh. Tanganku gemetar dan berkeringat. Di dalam tasnya, hanya ada kertas-kertas pekerjaan yang biasa ia bawa dan dompet dengan isi beberapa lembar uang dan kartu-kartu. Namun, saat aku menarik tanganku untuk keluar dari tas itu, kelingkingku menyentuh sesuatu. Napasku sejenak berhenti. Sebuah kotak dengan permukaan halus khas beludru. Aku menggenggamnya dengan gemetar dan mengeluarkan kotak itu. Jantungku melorot. Karena, di dalam kotak itu ada dua cincin. Emas putih dengan berlian yang kilaunya indah sekali. Benarkah suamiku akan menikah lagi?
Sekembalinya dari kamar mandi, suamiku terkejut. Dia memandang kotak cincin itu cukup lama. Mulutnya membuka, lalu dia menghela napas panjang dan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Sejenak aku mengamati rambutnya yang sudah mulai tertutup uban. Jantungku merosot. Bagaimana bisa laki-laki masih berpikir untuk menikah lagi saat rambutnya sudah tidak lagi hitam.
Dia terkekeh. “Ini cincin pengganti cincin kawin yang dulu kita jual untuk nambah-nambah uang beli rumah ini, Ma. Juga sebagai rasa terima kasihku serta permohonan maaf atas kesalahan-kesalahan sebagai suami dan bapak yang tak sempurna, dan rasa cinta yang tidak pernah menua.” Aku sesenggukan. Pipiku memanas. Sekali lagi kecurigaanku salah dan tidak pada tempatnya.
Buku ini seperti banyak lubang yang diatur berjajar. Saat pembaca melewatinya, mungkin saja ia tak mampu terjatuh ke semua lubang. Namun, ada beberapa yang mampu membuatnya jatuh dan tinggal di dalamnya.
Perjuangan Klub Buku Indonesia untuk memilah ratusan cerita pendek yang ia sayembarakan menjadi prakata pembuka untuk Antologi Cinta. Empat belas cerita pendek pilihan, sepuluh hasil karya sahabat Klub Buku yang diseleksi, dan empat karya penulis : Khrisna Pabichara, Adenita Priambodo, Sefryana Khairil dan Loryta Chai.
Saya tak meletakkan diri saya sebagai salah satu kontributor dalam buku ini. Sebagai pembaca, 'lubang' di mana saya terjatuh ada di (berdasarkan urutan penempatan kisah pada halaman buku) :
- "Cinta yang Tak Pernah Menua" milik Nina Nur Arifah Kekuatan cerita ini ada pada pengangkatan hal sehari-hari yang kecil menjadi bernilai besar. Kisah ini terasa dekat dan manis apa adanya. Penyampaian ceritanya pun tak rumit, namun saya yakin banyak pembaca yang merenung seusai menikmati kisah ini.
- Setelah "Gadis Pakarena", Khrisna Pabichara masih memikat saya dengan "Kedai Kopi Ceu Enah". Saya tak ragu mengatakan, ini kisah paling berkarakter dalam buku ini. Baik dari sisi diksi, permainan kalimat, tema yang diusung, maupun twist. Masih melekat kuat, meski saya telah berjalan jauh untuk mencoba jatuh ke dalam 'lubang' yang lain.
- "Dinda Kencana" milik Lidya Pawestri Ayuningtyas Terlepas dari sisi 'kebetulan' dalam adegannya, saya rasa kisah ini ditulis dengan "tidak semudah itu". Penulis mesti menuturkan tokoh B, melalui tokoh A. Menghidupkan dan menyinggungkan "tokoh di dalam tokoh" ini yang saya rasa tidak mudah. Bagian itu yang membuat saya memfavoritkannya.
Saya yakin, setiap pembaca akan jatuh di 'lubang' yang berbeda. Anda suka kisah cinta ala anak sekolahan dengan gaya penuturan ringan, anda akan menemukan. Anda suka dimanjakan kisah cinta mahasiswa yang mulai mencari makna, ada juga. Anda hobi dengan kisah cinta pada pasangan dewasa dan matang, tentu ada. Dan juga berbagai pertimbangan lain dari sisi gaya bahasa dan penyampaian. Beragam. Sangat beragam. Setidaknya pembaca mampu memilih satu 'lubang' dan mengatakan bahwa itu favoritnya.
Novel yang berisi kumpulan cerpen Yang mengisahkan kalau cinta itu banyak rasa Cinta itu manis tapi Ga selamanya cinta itu Berjalan lurus Banyak kerikil n lubang
Ya semuanya ada disini Fiksi tapi menambah kepercayaan q tentang kekuatan cinta
sebuah kumpulan cerpen dengan 14 cerpen di dalamnya. aku paling suka cerpen yang berjudul 'Cinta yang tak pernah menua' dan 'Pangeran tidur'. cerita-cerita yang begitu cantik dan penuh cinta yang ditulis oleh orang-orang yang berdedikasi untuk cinta.... :)
Cinta tak sebatas kepada cinta kepada lain jenis (bukan cinta sesama jenis juga), definisi cinta itu luas, yang disuarakan para Anggota Klub Buku Indonesia dalam Kumpulan Cerpen Antaloogi Cinta berkolaborasi dengan beberapa penulis yang namanya sudah cukup tenar dikalangan remaja, yaitu Khrisna Pabichara, Sefryana Kharil, Adenita, dan Loryta Chai. Meski mereka cukup tenar, tetapi saya belum pernah membaca karya mereka sama sekali >,<
Terdiri dari 14 Cerpen, Novel ini memang bagus dari segi ejaan, tetapi dari cerita hanya beberapa menurutku, salah satunya adalah yang berjudul Tel[ov]ephone, nuansa di Novel ini memang remaja banget, tetapi saya suka pesan moralnya. Sebuah sentilan buat remaja yang suka main gadget sampai ga inget mana jalan raya, mana trotar.