Jump to ratings and reviews
Rate this book

Marsinah: Campur Tangan Militer dan Politik Perburuhan

Rate this book

152 pages, Paperback

First published July 1, 1999

1 person is currently reading
18 people want to read

About the author

Alex Supartono

1 book1 follower

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
1 (14%)
4 stars
2 (28%)
3 stars
3 (42%)
2 stars
1 (14%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 2 of 2 reviews
Profile Image for Eben Haezar.
30 reviews323 followers
May 4, 2020
Katanya, Indonesia negara hukum?

Saya dapat memaklumi jika dikatakan bahwa KUHAP saat itu belum stabil dan masih bergantung denga HIR dari Belanda. Bahkan hingga hari ini, pejuang hukum dan peradilan kita masih memperjuangkan bentuk KUHP yang tepat bagi dinamika masyarakat Indonesia.

Polisi dan ABRI juga saat itu masih bergabung. Jadi ada kecenderungan cara-cara penyelesaian terhadap suatu permasalahan adalah dengan adanya kekerasan.

Di tahun-tahun tersebut juga ada banyak aparat (dalam hal ini ABRI) yang masuk ke dalam sistem pemerintahan. Meskipun akhirnya Kepolisian dan ABRI berpisah, tapi yang menjadi atasan pada Departemen Pertahanan dan Keamanan itu ABRI. Sehingga mereka masih bisa mengontrol kepolisian dalam menyelesaikan kasus Marsinah.

Hari-hari itu juga Kepolisian RI masih butuh adaptasi atas berpisahnya mereka dengan ABRI. Itu sebabnya beberapa cara (kekerasan) masih mereka lakukan atas dasar kebiasaan lama dan cara pandang terhadap HIR-nya Belanda.

Padahal kekerasan bukan satu-satunya jalan penyelesaian.

Keadaan pada saat itu cukup kacau balau. Rezim Orde Baru merubah banyak hal yang hingga hari ini masih banyak menjadi misteri bagi kita semua. Banyak sejarah ditutup-tutupi sehingga menimbulkan cacat di hari sekarang.

Di sisi lain, kebijakan-kebijakan pemerintah juga masih berpihak kepada pengusaha dengan alasan menjaga perputaran roda ekonomi Indonesia. Buruh menjadi dikesampingkan. Bahkan dalam membuat kebijakan upah buruh pun, buruh tidak dilibatkan.

Pengusaha menekan ongkos usahanya dengan menekan upah buruh/pekerja (blue collar worker) tapi memberi kesejahteraan pada white collar worker. Hal inilah yang sejak saat itu Almarhum Marsinah perjuangkan dan hingga hari ini diperjuangkan oleh banyak buruh. Maish banyak kebijakan yang merugikan dan menghilangkan hak-hak mereka sebagai buruh.

Buku ini telah membuka mata saya terhadap sebagian dari sejarah pada rezim Orde Baru. Juga menyadarkan saya terhadap apa yang selama ini buruh perjuangkan hingga hari ini.
Profile Image for Geral.
60 reviews1 follower
August 7, 2025
Pada bagian-bagian awal membaca ini seolah tenggelam dalam cerita novel thriller/horror. Banyak bagian yang menggambarkan bagaimana keterlibatan aparat dalam tindakan penyiksaan terhadap aktor yang diduga memicu pemogokan para buruh. Lalu penyiksaan yang dilakukan terhadap pemilik pabrik PT CPS agar mengakui terlibat dalam pembunuhan Marsinah. Namun sayangnya semua hal yang saya anggap hanya cerita dalam novel merupakan tragedi yang terjadi di kehidupan nyata.

Kasus pembunuhan Marsinah memberikan gambaran terhadap khalayak ramai bagaimana kondisi politik perburuhan yang selama ini terjadi di Indonesia. Buruh yang dihadapkan pada jam kerja yang panjang, upah yang rendah lalu harus diancam juga oleh aparat keamanan yang sangat 'protektif' terhadap kaum modal. Marsinah telah menjadi simbol pergerakan buruh di Indonesia dalam menuntut kehidupan yang lebih layak.

Hidup Perempuan yang Melawan!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Displaying 1 - 2 of 2 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.