Although rarely explored in academic literature, most inhabitants and visitors interact with an urban landscape on a day-to-day basis is on the street level. Storefronts, first floor apartments, and sidewalks are the most immediate and common experience of a city. These “plinths” are the ground floors that negotiate between inside and outside, the public and private spheres. The City at Eye Level qualitatively evaluates plinths by exploring specific examples from all over the world. Over twenty-five experts investigate the design, land use, and road and foot traffic in rigorously researched essays, case studies, and interviews. These pieces are supplemented by over two hundred beautiful color images and engage not only with issues in design, but also the concerns of urban communities. The editors have put together a comprehensive guide for anyone concerned with improving or building plinths, including planners, building owners, property and shop managers, designers, and architects.
Saya baca dalam bahasa inggris namun akan memberi review dalam bahasa indonesia.
Buku the city at eye level adalah salah satu buku yang disarankan oleh dosen saya. Secara sekilas saja buku ini sudah menarik karena menggunakan judul yang menggugah, namun ternyata setelah dibaca pun isinya ternyata lebih asyik.
The city at Eye Level mencoba untuk menggali perhatian pembaca terhadap apa yang disebut sebagai plinth. Teori plinth ini sudah dirangkum secara menyeluruh berdasarkan teori-teori yang sudah berdiri sebelumnya seperti teori Jan Gehl, Jane Jacobs, Allan Jacobs, dan lain lain.
Saya suka bagaimana penuturan dan segmentasi penulis dalam buku ini. Buku ini tidak membahas teori secara menutut namun menyampaikannya dengan studi kasus sehingga teori yang didapatkan bisa langsung relevan dan terasa lebih dekat dan tervisualisasikan lebih jelas. Harus dikemukakan bahwa studi kasus yang dilampirkan oleh penulis cukup banyak dan terpolarisasi khususnya hanya di Eropa saja, atau bahkan, hanya di Belanda saja. Namun, hal ini masih bisa dimaafkan karena pembahasan yang optimis dan justru menambah referensi kasus untuk saya sebagai pelajar dan pembaca.
The city at eye level tidak hanya membahas kota dari segi desain, tapi juga mengajak beragam tokoh untuk ambil andil untuk menciptakan kota yang lebih baik. Hal ini berulang-ulang dia sampaikan bahwasannya hasil yang baik dan menyenangkan banyak pihak dapat kok diraih kalau sama sama mau usaha. Dan itu dibuktikan dengan kasus kasus yang penulis lampirkan.
Pada akhirnya buku ini adalah bacaan wajib untuk anak tata kota (menurut saya) karena sungguh, bukan hanya pola tata kota saja yang harus diperhatikan, namun pengalaman berada di kota juga merupakan sesuatu yang tidak dapat diabaikan.
Mengutip kata penulis, it's not about making a city, it's about being a city