A Parisian love story, perfect for fans of French romantic novels by Joanne Harris including Chocolat , and the box-office hit film Amelie . She can change your life. If only she could change her own...deep in the heart of romantic Paris, in the elegant Sixteenth Arrondissement, at the top of a smart apartment building on Avenue Victor-Hugo, on the sixth floor at the end of a long landing, there is a housemaid's simple room. This is Fatima Monsour's new home. She has left her life, family and friends on a beautiful Tunisian island to work for the exacting Countess Poulais du Roc. Baffled by even the most mundane tasks, only Fatima's natural compassion and sheer grit ensure her survival - and gradually her unique gift for altering the lives of those around her begins to have an astonishing effect. Irresistibly touching and witty, this story of love, loneliness and determination is alive with the sights, sounds and tastes of Paris. Fatima's Good Fortune is a tribute to the power of kindness in an unpredictable world and an unforgettable portait of "la belle Paris".
Tadinya saya kira buku ini termasuk kategori chicklit yang ringan-ringan bikin hepi begitulah, ternyata ceritanya jauh lebih kaya. Fatima's Good Fortune bercerita tentang Fatima dari Djerba di Tunisia yang selalu memiliki nasib tak beruntung, datang ke Paris untuk bekerja kepada Countess menggantikan adiknya yang tewas akibat kecelakaan tertimpa atap gedung apartemen Countess. Tidak seperti Rachida sang adik yang cantik, pandai, dan modis; Fatima lebih konservatif, tak dapat membaca, tak memiliki dokumen imigran resmi, datang ke gemerlap kota cahaya Paris memakai djellaba (jubah tradisional Afrika) berwarna cerah yang mencolok.
Karakter dalam buku ini banyak, walaupun agak susah menelan semua nyaris sekaligus di awal cerita, namun para karakter berhasil berinteraksi dengan porsinya masing-masing dan menyatu dalam cerita. Buku ini terutama menceritakan perjalanan Fatima yang datang sebagai orang asing yang terasing dari segala hal di kota tujuannya. Ia memiliki satu tekad: mengumpulkan uang untuk pergi ke Wisconsin dan menyelesaikan urusan masa lalu yang mengikatnya. Namun kemudian secara perlahan Fatima menjadi bagian dari Paris, dan Paris menjadi bagian dari dirinya, bersama orang-orangnya.
Proses perjalanan Fatima menemukan jalan hidupnya di Paris melibatkan banyak hal yang masih relevan dengan berbagai isu saat ini. Fatima bersahabat dengan tetangga apartemennya yang gay, kemudian secara perlahan memangkas jarak strata sosial antara Countess yang bangsawan dan Fatima yang pembantu dari ras dan bangsa yang masih dianggap tidak setara. Karena suatu insiden yang buruk, Fatima juga berkawan dengan Hyppolite Suget yang terperangkap dalam hidupnya dulu dan hidupnya yang sekarang, tanpa bisa bergerak maju. Ia belajar membaca, bahkan memperbaiki penampilan. Fatima yang memiliki ikatan dengan masa lalu kemudian memutuskan untuk melakukan hal yang menyimpang dari tujuan utamanya datang ke Paris. Kemudian ia jatuh cinta.
Banyak hal dalam buku ini diselesaikan baik sengaja maupun tidak melalui keluguan, kebaikan hati dan kesabaran Fatima. Rasa-rasanya kok susah ya, di masa kini, menemukan orang seperti Fatima. Saya sendiri bahkan nggak bisa membayangkan punya sifat seperti itu :-D Sabarnya kok ya luar biasa :-D Tapi kesabaran itu tidak menjadi hal yang aneh dalam buku ini. Kehidupan Fatima telah menempanya menjadi sosok yang demikian.
Novel ini menggambarkan lokasi setting cerita dengan detail, rasanya seperti datang berkunjung jalan-jalan ke Paris, Djerba, Goutte d'Or, dan ke kastil Countess di pedesaan Branchevieille. Bahkan saya bisa membayangkan duduk ngopi-ngopi di Cafe Jean Valjean di Avenue Victor Hugo, tempat banyak karakter dalam buku ini bertemu dan berinteraksi. Untuk yang suka makanan, buku ini bahkan cukup banyak menceritakan makanan Perancis dan Arab. Lumayan banyak sesi yang sukses membuat saya lapar :-D
Buku ini memberikan rasa hangat di hati, rasa bersyukur bahwa masih banyak hal-hal baik bisa kita jumpai dalam kehidupan. Juga rasa optimis bahwa selama kita berusaha, akan selalu ada jalan.
On the surface, this is a cute little story about a woman, a newcomer who tries to find her way in Paris. But deep down, this is a pretty serious view about immigration in France and it shapes the country. I like Fatima, the main character, who is effortlessly likable. She's a woman from Tunisia who is considered unlucky, but apparently always has the greatest fortune. The plot, even though quite simple, is engaging and opening up our mind.
I chose this book because I felt like reading something uplifting. I almost gave up after about 50 pages as I found the book shallow and trite, however kept going despite myself. In the end, I began to enjoy the colourful characters in this book, but could not really recommend it to anyone because of its lack of literary prowess. Readers who just want something quick and easy may enjoy it.
He amado este libro con todo mi corazón, es una joya de la literatura francesa, simplemente sublime, y pensar que estuve a punto de no leerlo, pero recapacite a tiempo, muy recomendado porque realmente es una hermosa historia. Fatima es una Tunecina que llego a Paris a trabajar con la condesa Polaris du Roc en la avenue Victor Hugo, al principio no fue simple adaptarse a la rutina de la comunidad y el café Jean Val Jean, pero una vez que Fatima logro sincronizarse con la energía del lugar todo fluyo de la manera más suave posible.
Kurang lebih, ini review saya... semoga layak disebut "review"... :D
Pertama, tentang opini orang yang suka membanding-bandingkan satu sama lain. Meski Rachida dan Fatima kakak beradik, nggak berarti mereka harus sama persis, plek plek plek, kan? Nah, sayangnya, Countess berharap terlalu banyak ketika Fatima datang. Dan langsung dikasih kerjaan yang sama dengan Rachida, di awal harinya berada di Paris. Saya jadi ingat, waktu salah satu sepupu saya mempekerjakan pembantu yang kakak beradik. Dia membandingkan, bahwa kakaknya jauh lebih baik daripada adiknya. Tapi, ya, lumayan, lah, adiknya bisa kepake juga. Gitu, kurang lebih, katanya. Ternyata, nggak di sini, nggak di sana, membandingkan satu orang pembantu dengan pembantu yang lain (notabene kakak beradik) mah sama aja, ya... :D
Kedua, tentang pelayan yang berasal dari negara lain. Seperti yang kita tahu, bahwa negara kita, juga punya banyak pahlawan devisa, yang disebut sebagai Tenaga Kerja Indonesia atau TKI? Nggak tahu kenapa, khusus untuk perempuan ada istilah Tenaga Kerja Wanita alias TKW, sementara untuk kaum lelakinya nggak ada istilah Tenaga Kerja Pria atau TKP. Singkatan TKP justru dipakai untuk akronim Tempat Kejadian Perkara. #kriuk Saya baru tahu dari buku ini, kalo Tunisia juga menghasilkan TKW yang diekspor ke berbagai negara, termasuk Perancis. Kelihatannya, sama saja dengan di Indonesia, perlindungan warga negara Tunisia yang bekerja sebagai TKW di negara lain, kurang mendapatkan perhatian dari pemerintahnya. Di Indonesia, TKW yang bekerja di luar negeri yang disiksa, bahkan dibunuh oleh majikannya, kurang mendapat perhatian dari pemerintah Indonesia. Mengenaskan, ya. Padahal mereka mendapat gelar sebagai "pahlawan devisa negara". Miris banget. Tampaknya pemerintah baru bergerak kalo udah dioprak-oprak orang-orang lewat media. Gemes banget, deh, kalo udah begini...
Nah, sekarang yang ketiga. Tentang ceritanya. Saya suka ceritanya. Mengalir dan terkait satu sama lain dengan jelas. Meski terkadang, alurnya pindah-pindah, tapi nggak mengganggu. Sebab, alur yang berpindah-pindah ini mampu menjelaskan pertanyaan-pertanyaan yang ada ketika membaca. Namun, berhubung saya nggak belum bisa berbahasa Perancis, bingung juga memahami kutipan bahasa Perancisnya. Plus, nggak ada footnote yang menjelaskannya. Jadi, yah, kurang lebih, menginterpretasikan sendiri, deh... tahu sendiri, kan, kalo menginterpretasikan sendiri, bisa ke mana-mana arahnya? *keluh*
Keempat. Karakter. Ada banyaaaaaaaaaak sekali karakter di dalam buku ini. Plus, nama mereka lumayan susah, terutama yang bernama Perancis. Saya cuma bisa mengingat beberapa nama karakter di dalam cerita ini, terutama yang paling sering disebut. Semisal Countess, Suget, Hadley, Didi, Emma, Carmen, Angel, Monsiour Robert, dan sebagainya, dan sebagainya.... Jadi, akibat "kebolotan" saya ini, kadang kudu bolak balik halaman, untuk mengingat lagi, ini siapa, ya? Hubungannya apa, ya? Dia tadi ngapain, ya? Gitu... hehe... Tapi, ke semua karakter ini punya hubungan satu sama lain. Jadi, yah, seperti di poin ketiga tadi, ceritanya mengalir.
Kelima, setting. Dengan mengambil setting kota Paris, Perancis, di sini ada banyak informasi tentang kota ini. Misalnya tentang pemakaman di sana, sistem transportasi di sana, keadaan jalan raya di sana, dan masih banyak lagi informasi yang bisa saya dapatkan dari buku ini. So, saya bisa membayangkan kayak apa, sih, salah satu sudut kota Paris itu, meski belum pernah ke sana...
Keenam, moral ceritanya. Pesan di dalam cerita ini kuat banget, meski agak membosankan, karena kita udah bisa nebak. Berhubung desain ceritanya kayak kehidupan sehari-hari, pesan moralnya terangkat dengan baik. Kebaikan dibalas dengan kebaikan. Saya sih percaya, masih ada banyaaaaaaak orang-orang baik yang tulus di dunia ini. Semoga, kita salah satunya, ya... Hehe...
Ketujuh. Sampul alias cover. Terus terang, dari judul sama gambar sampul, rada "menipu". Kenapa? Soalnya, di sampulnya terlihat tampak seperti chicklit, padahal bukan :D Tapi saya suka desain sampulnya, jujur aja. Hanya saja, teks di bagian belakang, warna fontnya nggak kontras dengan gambar sampul belakang. Saya susah payah membaca bagian belakang bukunya. Padahal, itu kan sinopsis buku ini. Ya penting, tentu saja.
Nah, dari ketujuh point di atas, saya kasih bintang 4 dari 5 bintang. Mungkin kalo bukunya bakalan cetul alias cetak ulang, poin ke-6 dan poin ke-3 (yang tentang bahasa Perancisnya) sebaiknya diperhatikan, karena ini buku bagus, walau nggak bisa dibilang buku ringan, tapi buku ini menghibur, menginspirasi, sekaligus memberi informasi. Saya sempat hanyut dalam perasaan Fatima, karena di saat yang sama, saya sempat merasa sama nggak beruntungnya kayak Fatima. Halah! Malah curcol. Recommended-kah buku ini untuk dibaca para perempuan? Yup! Ini buku bagus!
Diposting juga di blog buku saya. Silakan mampir :D
3.5/5 bintang terutama untuk penggambaran settingnya. Bener-bener seperti dibawa langsung ke Paris, ke 34bis avenue Victor-Hugo, belum lagi bonus kunjungan ke Branchevieille, saat sang Countess ingin memperbaiki kastilnya. Detil suasana yg dibangun oleh pasangan Dryansky sebagai penulisnya sungguh top markotop!
Untuk tokoh utamanya, Fatima, jujur aja, agak susah menggambarkannya. Perempuan Tunisia usia 40 tahunan, berwajah Arab, gemuk dan suka memakai djellaba yg ternyata bisa menjadi kurus dan cantik pada 1/3 akhir cerita. Mana cover versi Indonesia-nya nipu abis. Karena gw gak bisa menggambarkan kayak apa, akhirnya mau gak mau gw bayangin aktris Emma Thompson deh. Soalnya, madame satu itu jagoan kalo peran watak yg mengubah-ubah wajah. Tokoh-tokohnya banyak (pake banget!), susah ngapalinnya, tapi down-to-earth, yang mungkin bisa ditemui di kehidupan nyata.
Inti ceritanya sih sederhana. Kebaikan akan mendapat balasan setimpal. Belum lagi romance ala chicklit-nya (namun, urung gw masukkan ke shelf tersebut karema tokohnya gak seglamor tokoh chicklit). Namun, caranya mengemas bisa dibilang kayak film-film drama Eropa dengan dialog-dialog yg ngalor ngidul, kadang mencetuskan satu dua hal baru ("Berbuat baik pada orang Perancis, maka kau akan memiliki musuh seumur hidup" "Jika belum pernah melihat New York, kau akan kehilangan sesuatu yg besar dalam pengetahuanmu terhadap dunia" Ha!!) dan narasi-narasi yg lebih manjain imajinasi tentang suatu lokasi daripada apa yg terjadi saat itu.
Well, buat penggemar film-film Eropa dan juga penikmat buku-buku drama dengan alur lambat, bolehlah dicoba buku ini.
Starts off kinda slow and you wonder "Where's this going?" But then you really get into the book and begin to understand the character. Very feel-good...
The kind of book that leaves you feeling warm and fuzzy. And it also gives the reader a lot to ponder, about life, love and our attitude to those around us.
Sosok Fatimah disini sangat toleransi sekali, dan sangat baik, terlihat seperti tulus meskipun sering di anggap aneh di Paris.
Banyak bahasa bahasa yang mengarah ke hal negatif, selain itu alur nya maju-mundur, namun tidak dibuat terpisah sehingga pembaca kebingungan untuk membedakannya.
Terlalu banyak side story yang selalu menambahkan berbagai macam nama tokoh dengan pengejaan yang susah (mungkin karena tokoh berasal dari Prancis)
Bahasanya terlalu baku, dan mungkin butuh pengulangan untuk memahami isi tulisan. Penulisan nama tokoh tidak disingkat, melainkan tetap ditulis nama panjangnya, kadang hanya nama depan, kadang nama belakang. Padahal itu satu orang, namun pembaca tetap dapat dibuat bingung.
A wonderful and entertaining romp through 2002 Paris with plenty of quirky characters of all races and classes. There is humor, tragedy, and, of course, love. A heart-warming book which I highly recommend.
What a sweet story, I loved the main character! I found it hard to get into at first due to the number of characters and the little asides in French, but once I was immersed I really enjoyed the story and the way the characters grew during the tale. A good read.
Moins bien que dans mon service. La pauvre Fatima a qui la chance sourit à Paris. La bourgeoise est très antipathique, mort aux bourgeois. J'aime bien les livres qui se passent dans un immeuble (parisien ofc). Je donne.
Loved this. I adore books set in Paris but longed for a more diverse perspective. This did it. The ending wasn’t as strong as the rest or it would have gotten full stars!
What a refreshing story describing the intricate relationships between characters who had depth and made you fall in love with them. This book is well written and has a wonderful storyline.
Namanya Fatima, jauh-jauh dari Tunisia ia menjadi Tenaga Kerja di Paris, Prancis. Padahal di kampung halamannya pun, ia sudah memiliki pekerjaan yang tetap, lalu mengapa ia jauh-jauh memilih bekerja di negeri orang?
Awal mulanya karena adik perempuan Fatima, Rachida, meninggal secara mengenaskan di tempat majikannya, wanita tua bernama Countess Poulais du Roc. Karena Rachida pernah menceritakan tentang kakaknya kepada Si Majikan, dan karena Si Majikan teramat mempercayai Rachida, maka dikirimkanlah pesan agar Fatima menggantikan posisi Rachida sebagai pembantunya di Paris.
Paris memang kota yang romantis, kota yang indah dengan sentuhan arsitektur lama. Tetapi sejak awal kedatangannya ke Kota itu, Fatima tidak menemukan kebahagiaan dan kenyamanan yang biasa ia dapatkan di Djerba, kampungnya. Setiap pagi ia harus mengajak Emma, anjing labrador tua milik Countess, jalan-jalan. Lalu membelikan secangkir kopi panas dan membawanya ke lantai 5, tempat tinggal Countess, masih dalam keadaan panas. Fatima juga harus berbelanja, membacakan koran untuk Countess, padahal ia sama sekali tidak bisa membaca.
Belum lagi tatapan sinis orang-orang kepada Fatima, seorang wanita Arab yang gendut, pendek dan kedua bola matanya yang berbeda warna, membuat Fatima sering diremehkan. Tapi Fatima tidak pernah menyerah, ia bertahan, belajar dan kemurah hatiannya membuat Fatima dengan cepat memiliki beberapa orang sahabat. Hadley, pria pelayan di 34bis avenue Victor-Hugo adalah salah satu sahabat terbaiknya. Ia mengajari Fatima membaca, mendengarkan cerita-cerita Fatima, menyemangati dan mendukung Fatima habis-habisan dengan tekad bahwa Fatima pasti bisa ’menaklukan’ Countess.
Keberuntungan rupanya menyertai Fatima, bersama keinginannya untuk pergi mengunjungi mantan suami yang telah mencampakkannya di Wisconsin, kepercayaan yang kemudian ia dapatkan, serta orang-orang yang mengasihinya, Fatima menemukan cinta di Kota Cahaya tersebut. Tapi apakah Fatima akan bahagia jauh dari kampung halamannya?
Sebuah cerita bagus yang memiliki banyaak sekali pesan moral. Ada persahabatan antar etnis yang dibangun dalam cerita, kepercayaan yang didapatkan setelah perjuangan, tekad yang kuat dari seorang wanita (yang tak lagi muda), buku ini memiliki ’warna’ yang beragam.
Sayangnya ada banyak istilah Prancis yang tidak saya ketahui, lalu tokoh-tokoh sampingan yang banyak dengan nama Prancis yang aduhai juga membuat saya ’sedikit kesulitan’ menghafal satu-satu siapa mereka.
Dan meski ending cerita bisa ditebak, toh saya tetap menyukai buku mungil ini :D
ternyata oh ternyata, tak kusangka tak kuduga ini bukan chiklit dkk xixixixi Kemarin ambil buku ini dari rak karena pengen baca yg ringan2... eh di bagian prolog dahi mulai berkerut melihat selipan kata bahasa prancis... daaaaan jeng jeng.. ga ada footnotenya huhuhuu :( karena males gugling yah akhirnya tancap aja terus, nebak2 aja... bab2 selanjutnya dahi lebih berkerut, widiiih ni orangnya banyak beneeeeer.... yak salah buku nih kalo mo yg ringan2 mah... tapi berhubung dah ga tau mo baca apa *mood baca lagi ga bener* ya lanjut aja deh...
jadi si Fatima ini, usia 40than, tinggal di Tunisia, kerja sebagai pelayan resort, pernah memiliki suami yang pergi ke amerika utk cari kerja malah jadi tinggal seatap ma perempuan lain dan mengirimkan surat cerai -_-
Fatima bekerja semenjak masih kecil, dia membantu biaya pendidikan adiknya Rachida yg sekarang bekerja sebagai pelayan seorang countess di Prancis.. Diapun mulai mengurus ibunya dan melupakan kehidupan pribadinya, sampai ibunya menjodohkannya dengan Mahmoud..
Tidak lama suaminya pergi, ibunya meninggal, dan beberapa saat kemudian datanglah surat dari mahmoud yg mengajukan perceraian..
Sebenarnya Fatima memiliki kelebihan yang iapun menyadarinya.. Gak tau kenapa orang2 selalu meminta nasehat dan saran padanya.. Sepertinya ada sesuatu dalam diri fatima yg menyebabkan orang dengan mudahnya mengungkapkan masalah2nya, tanpa segan2 menceritakan rahasia2 mereka.. Tapi selain kelebihan itu Fatima selalu merasa dirinya tidak beruntung, dia merasa dirinya buruk, gemuk, tidak menarik.. beda dengan adiknya Rachida..
Dan suatu hari sebuah surat datang mengabari musibah yg menimpa Rachida...
Terus kenapa Judulnya Fatima's Good Fortune? Karena akhirnya keberuntungan perlahan menghampirinya ^^
Musibah yang menimpa Rachida memberikan kesempatan padanya untuk menginjak paris, mengenal Countess Poulais du Roc, bertemu dengan orang2 di Cafe Jean Valjean, yang beberapa orang diantara mereka membuat perubahan dalam hidupnya...
Selain urusan kata2 dalam bahasa prancis yg aku ga ngerti itu, diantara banyaknya nama yg musti diwaspadai *halah* buku ini dapet 3* dari aku, knapa? karena ga tau knapa aku selalu suka baca cerita tentang perjuangan gadis desa di sebuah kota besar hehehheeh..
Eh ada satu lagi yg agak mengecewakan... sepertinya aku dapet buku yg jelek.. jilidnya ga rapih.. sisi sisi kertasnya jadi ga rata :(
"Freshly arrived from a beautiful Tunisian island to work for the exacting Countess Poulais du Roc, Fatima finds herself in a city where even the most mundane tasks like walking the dog and buying the groceries prove baffling. But her natural compassion ensures her survival, and-unexpectedly-brings good fortune to those around her."
Fatima's younger sister, Rachida, moved from the Tunisian island of Djerba to Paris to make a better life for herself. She was working as a maid for the Countess when she was killed in an accident. The Countess remembers that Rachida had a sister and imperiously sends for her to take her sister's place. She considers this a mission of charity but doesn't think about the impact on Fatima's life. That is the major character flaw of the Countess. She is so self-centered that she doesn't think about the needs of anyone other than herself and her dog, Emma. She moves through other people's lives like a battering ram oblivious to the damage that she is causing. She takes credit for good deeds that others have done and never gets called out on her casual racism.
She is shocked to find out that Fatima is nothing like her sister. Fatima went to work in a resort as a cleaner as a child. This income allowed Rachida to go to school. Fatima is illiterate. She is not as worldly as Rachida. Life in France is overwhelming to her.
Fatima enlists the help of others in her building to help her learn the skills that she needs to survive in France. She has a warmth that draws others to her and makes them want to help her. The reader sees this slice of Paris through the eyes of a North African immigrant who isn't always welcomed.
The ending is mostly an immigrant fairy tale. Everything works out wonderfully and not that realistically. This book tries to make a light and fun tale out of some serious subjects - immigration, class inequality, the death of a family member - so even as you root for the characters it feels jarring like no one is taking this as seriously as is merited.
melihat ukuran dan cover na kirain ini adalah cerita anak. melihat ripiu teman yang bilang ini bukan novel anak, akhir na membuat buku ini kembali masuk di rak dan tak kunjung dilirik untuk dibaca.
ketika akhir na bertemu dengan fatima, memang banyak keberuntungan yang dibawa. mulai dari sebuah perjalanan ke negeri asing menggantikan adik na yang tewas kecelakaan, sampai keinginan na untuk bisa bertemu kembali dengan mantan suami yang menceraikan na via surat. apakah wanita desa seperti dia mampu beradaptasi di kota dengan kehidupan modern. maka keberuntungan itulah yang menjadi jawaban na.
setelah lebih dari 30 tahun hidup di desa yang sederhana dan merasa selalu tidak disertai nasib baik, akhirna penantian itu berbuah juga. semua yang menjadi hal baik dan tak pernah dimiliki na bisa tercapai justru di tempat, kota dan budaya baru. dengan orang-orang dan keluarga baru. bahkan tidak cuma dia, tapi juga orang-orang di sekitar na.
ternyata sebuah lingkaran keberuntungan tidak hanya milik kita tapi juga orang-orang di sekitar kita. kita tidak pernah tau apakah peran kita bagi orang lain, jadi... jangan ragu untuk berbuat baik :)
A cosy read. It's set in very posh Paris and is about the effect a "simple" woman from an Island off the coast of Tunisia has on the people she meets when she takes a job with an elderly Countess.
Fatima is a sweet, soulful character who isn't overly perfect or Pollyanna-ish, but rather is habitually unlucky, yet still positive, and is deeply empathetic to all she meets. She is aware that her misfortunes give her a rare depth of understanding,and she is greatly loved for her wise counsel and sympathy, but she longs for happiness and fulfillment for herself.
I enjoyed meeting the inhabitants of her neighbourhood and seeing them through her eyes. I felt it to be a realistic yet kind portrayal of city life, with divisions among class and financial lines as well as the role immigrants play in propping up the swanky lives of the wealthy.
I bobbed along in Fatima's wake and thoroughly enjoyed her journey from pitiable old maid to happy Parisienne. It's in the Zichron Library.
tokohnya itu banyaaakk.. and awal2 sih lumayan bingung, hahahaha.. mana nama2nya itu khan lumayan bribets.. tapi lama2 kurang lebih jadi tau juga dhe siapa yang lagi diomongin :D
karakter Fatima sendiri buat gua itu bukan tipe yang dari pertama baca langsung bikin gua jatuh hati, tapi lebih kepada.. dia itu seakan 'bertumbuh' dalam hati gua seiring bergulirnya cerita yang bikin gua jadi jatuh sayang ama dia, hahahaha..
Fatima yang merasa sejak lahir itu ngga pernah beruntung, akhirnya sedikit demi sedikit menemukan keberuntungan dan kebahagiaan setelah meninggalkan Djerba dan menjejakkan kaki di Paris ^o^
cerita yang menginspirasi untuk.. membeli undian lotre, wakakakakakakakak :p
ngga dinks.. untuk ngga pernah menyerah dan melakukan yang terbaik dalam hal apapun yang kita lakukan serta tetap menjaga hati agar ngga menjadi 'tawar' atau bahkan 'pahit' walau hidup terkadang berjalan ngga sesuai dengan yang kita harapkan ;)