Cemong selalu iri melihat kucing-kucing yang mengenakan kerincing. Baginya, kerincing melambangkan rumah dan kasih sayang. Bisakah ia memiliki kerincing yang diimpikan? Ia hanyalah kucing liar tak bertuan. Suatu hari seseorang justru menangkapnya. Cemong bingung dan takut. Ia akan dibawa ke mana?
Misteri Telinga Terpotong: 5 Pelajaran Berharga dari Perjalanan Si Cemong Coak
Kamu, pernah nggak berjalan di sudut gang dan berpapasan dengan seekor kucing liar yg tampak kusam, badannya kurus, & ujung telinganya terpotong?
Mungkin, bagi sebagian orang yg belum paham, luka itu mungkin dianggap sebagai bekas perkelahian jalanan yang brutal. Namun, melalui buku Si Cemong Coak terbitan Kemendikbudristek (2022), kita diajak melihat dunia dari perspektif "Si Cemong", seekor kucing jalanan dengan wajah unik yg terlihat seperti "belepotan kena cat
Buku karya Iwok Abqary ini berbalut estetika visual yg hangat, grainy, dan dominasi warna sepia hasil ilustrasi Ikku Nala, narasi ini menjadi media yang sangat efektif untuk membangun kecerdasan emosional.
Saya melihat kekuatan buku ini terletak pada kemampuannya menempatkan pembaca di posisi makhluk yang paling rentan, sehingga kita bisa belajar memahami rasa takut, lapar, dan harapan melalui sepasang mata kucing.
Nah, berikut adalah lima pelajaran berharga yang bisa kita petik dari perjalanan hidup Si Cemong:
1. Realitas Pahit di Balik Meongan Kelaparan
Hidup di jalanan bagi Cemong adalah perjuangan tanpa henti. Sepanjang siang, ia mungkin hanya menemukan sepotong kecil kepala ikan yg tak mengenyangkan. Sering juga, harapan untuk mendapatkan sisa makanan pupus karena pengusiran oleh manusia.
Buku ini memotret realitas "kekerasan halus" secara jujur namun tidak menggurui. Kita melihat bagaimana manusia yg merasa terganggu sering kali mengusir kucing dengan guyuran air dari ember. Ketidakberdayaan ini terekam jelas dalam refleksi batin Cemong saat ia meringkuk kelaparan di bawah kandang ayam. Adegan ini sangat emosional, apalagi batin Cemong seakan berbisik di telinga saya.
"Enak juga jadi ayam, pikirnya. Mereka tidak perlu takut kekurangan makanan. Pagi dan petang, dedak selalu ditaburkan
Hal ini menunjukkan betapa dunia luar bagi hewan jalanan adalah medan tempur untuk sekadar menyambung nyawa, sebuah perspektif yang akan menyentuh empati pembaca cilik dan dewasa.
2. Terjebak dalam Jaring Misteri
Momen paling dramatis dalam narasi ini adalah ketika kebebasan Cemong tiba-tiba terenggut oleh jaring manusia. Bagi hewan liar, sentuhan manusia sering kali dianggap sebagai ancaman daripada pertolongan. Rasa takut dan ketidakpastian yg dialami Cemong saat dibawa ke ruangan asing mencerminkan trauma yg sering dirasakan hewan terlantar saat berhadapan dengan sesuatu yg tidak mereka paham
Transisi dari jalanan yang luas ke kandang sempit di ruangan bercat putih merupakan poin emosional yg kuat. Di sini, pembaca diajak merasakan kegelisahan makhluk hidup yg tak punua kendali atas dirinya sendiri, walau di balik jeruji itu tersedia semangkuk ikan sarden lezat yg selama ini ia impikan.
3. Rahasia Tanda "Coak" di Telinga.
Bagian paling edukatif dari buku ini menjawab pertanyaan besar yg sering membuat orang awam salah paham: Mengapa telinga kucing harus dipotong sedikit ujungnya?
Melalui bagian "Tahukah Kamu?", dijelaskan bahwa tanda tersebut adalah identitas bagi kucing yang telah menjalani sterilisasi.
"Telinga coak sudah menjadi simbol internasional. Jadi, jangan heran kalau menemukan kucing bertelinga coak juga di luar negeri ya.
Perspektif ini memberikan pencerahan baru. Telinga coak bukanlah sebuah cacat akibat kekejaman, melainkan sebuah "tanda sayang". Ini adalah bukti bahwa ada manusia yg peduli untuk merawat & memastikan kucing tersebut tetap sehat tanpa menderita karena kelebihan populasi di jalanan.
4. Program TNR (Trap, Neuter, Release) sebagai Solusi Populasi.
Buku ini dengan cerdas memperkenalkan konsep pengelolaan populasi hewan secara etis melalui program TNR (Trap, Neuter, Release). Konsep ini melibatkan penangkapan kucing liar secara aman, sterilisasi, perawatan hingga sembuh, lalu pelepasan kembali ke habitat asal.
Berdasarkan informasi teknis dalam buku, sterilisasi memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan kucing.
😺Kesehatan Meningkat: Hormon reproduksi berubah menjadi hormon perkembangan, membuat kucing lebih lincah dan gemu
😺Mengurangi Agresi: Kucing jantan tidak lagi agresif memperebutkan wilayah dan jarang menandai wilayah dengan air kencing.
😺Populasi Terkendali: Mencegah bertambahnya kucing liar yang terlantar dan menderita di jalanan
😺Karakter Lebih Tenang: Kucing cenderung menjadi lebih tenang dan jinak
Edukasi ini sangat penting ditanamkan pada anak-anak agar mereka memahami cara mengelola populasi hewan secara etis dan ilmiah.
5. Pertemuan Dua "Keunikan" – Cemong dan Lila
Akhir cerita membawa kita pada pertemuan mengharukan saat Cemong dibawa oleh Om Ivan untuk diadopsi oleh Lila, seorang gadis kecil di kursi roda yang baru kehilangan kucingnya. Keduanya memiliki "keunikan" fisik masing-masing, Cemong dengan telinga coaknya dan Lila dengan keterbatasan geraknya.
Namun, di sinilah letak keindahan narasinya. Simbolisme "kerincing" atau lonceng kalung merah-biru yang akhirnya didapatkan Cemong bukan sekadar aksesori; itu adalah simbol bahwa ia telah memiliki rumah. Menurut saya, pertemuan mereka menunjukkan bahwa dua sosok yg dianggap "berbeda" oleh dunia justru bisa saling melengkapi dan menemukan kebahagiaan sejati bersama.
Perjalanan Si Cemong Coak mengingatkan kita bahwa empati harus diwujudkan dalam aksi nyata, seperti mendukung sterilisasi atau mengadopsi hewan terlantar. Dengan memahami alasan di balik setiap tanda di tubuh mereka, kita belajar untuk lebih menghargai nyawa di sekitar kita.
Jika sebuah tanda kecil di telinga bisa menyelamatkan ribuan nyawa kucing dari penderitaan di jalanan, bukankah itu luka yang paling indah?
Setelah menutup buku ini, tak terasa mata berkaca-kaca 🥹🥹🥹
This entire review has been hidden because of spoilers.
Aaahh, baguuss! Ya ceritanya, ya ilustrasinya. Sepertinya belum ada (belum banyak) cerita untuk anak dengan tema seperti buku ini. Tidak semua, yang memiara/suka kucing sekalipun, paham tentang TNR dan ear tip, misalnya. Jadi, selain ceritanya seru dinikmati, buku ini juga memiliki pesan-pesan spesifik terkait pengendalian populasi kucing.
Saya terhanyut dengan ceritanya--mungkin karena kenal dengan penulisnya yang dikenal pecinta kucing dan sering "dititipi" kucing oleh orang tak dikenal.
Penggunaan warna yang cenderung "gelap" pada ilustrasi, juga ceritanya yang agak sedih bisa jadi membuat buku ini terkesan dark bagi pembaca anak. Tapi, ending yang happy (spoiler nih) membantu menetralisasi :)
agak kaget pas baca buku anak tapi terkesan dark, tapi untungnya alurnya sangat nyaman diikuti, walau gak tau anak2 udah mampu gak mencerna cerita yg twist ending. mungkin perlu dibantu orang tua nya. tapi sangat fresh dan berani.
ilustrasi nya benar2 bikin wow, seperti ilustrasi film2 mahal. sangat dark, mistis, tapi juga cantik dan indah. baru pertama kali juga liat buku anak dengan ilustrasi yg juga berani beda dari buku anak yg biasanya.
Buku pertama di tahun 2024 yang sukses membuatku menangis.
Seorang gadis kecil yang memberikan kalung milik kucingnya yang telah "pergi" kepada kucing baru yang hadir di hidupnya.... Sosok itu benar-benar menggambarkan diriku beberapa tahun silam.
Buku ini juga mengedukasi kita betapa pentingnya sterilisasi bagi kucing dan tentunya bagi hewan-hewan lainnya juga.
Cerita tentang sterilisasi kucing. Hatiku koyak waktu Cemong terus menunggu untuk diadopsi di penampungan, tapi tidak ada yang memilihnya. Untungnya endingnya dibuat melegakan.
Ilustrasinya cantik sekali. Sayangnya bagian wajah para tokohnya tidak terlalu jelas.