Buku tentang semiotika ini dimulai dari sebuah definisi semiotika yang dikemukakan oleh Umberto Eco yang mengatakan, bahwa semiotika "... pada prinsipnya adalah sebuah disiplin yang mempelajari segala sesuatu yang dapat digunakan untuk berdusta (lie)." Definis Eco ini ꟷmeskipun mungkin sangat mencengangkan banyak orangꟷsecara eksplisit menjelaskan betapa sentralnya konsep dusta di dalam wacana semiotika, sehingga dusta tampaknya menjadi prinsip utama semiotika itu sendiri.
Kenapa? Karena, semiotika sebagai satu bentuk representasi pada dasarnya adalah sesuatu yang hadir namun menunjukkan bahwa sesuatu di luar dirinya sendirilah yang coba dia hadirkan. Representasi tidak menunjuk kepada dirinya sendiri, namun kepada orang lain. Karena sifat dasar itulah, maka representasi sering dipermasalahkan ihwal kemampuannya untuk bisa menghadikan "sesuatu" di luar dirinya, karena seringkali representasi malah beralih menjadi "sesuatu" itu sendiri. Jurang yang terbentuk antara representasi dan yang direpresentasikan ini seringkali terlupakan oleh manusia.
Nah, permasalahan "tipuan" seperti inilah yang menjadi landasan pembahasan tentang [hiper]semiotika dalam buku. Inilah buku yang menjadi rujukan wajib bagi para pemerhati semiotika dan cultural studies.
Buku ini sebagai buku utuh, berhasil memperlhatkan secara menyeluruh dan rinci ... [disertai]... Pemaparan deskriptif informatif, bahkan nyaris leksikografis, yang menuntut ketekunan cermat ini, sangatlah berharga sebagai suatu tahapan dasar untuk melakukan refleksi lebih mendalam dan substansial selanjutnya atas kiprah peradaban mutakhir dunia kita ini." ꟷBAMBANG SUGIHARTO
Yasraf Amir Piliang is a nationally known scholar of cultural studies and postmodernist theories. He has published in journals of cultural studies and social sciences. He has written several groundbreaking books that excite Indonesian humanities community. He finished his bachelor of design degree at ITB and a master’s degree at St. Martin College of Art and Design. His research interests include design and culture, product semantics, design postmodernist theories, and cultural studies.
Bibliography: * Sebuah Dunia yang Dilipat: Realitas Kebudayaan Menjelang Milenium Ketiga dan Matinya Posmodernisme, Penerbit Mizan , 1997. * Hiper-realitas Kebudayaan: Semiotika, Estetika, Posmodernisme, LKIS, 1999. * Sebuah Dunia Yang Menakutkan: Realitas Kekerasan dan Hiperkriminalitas, Penerbit Mizan, Bandung, 2000. * Hiper-moralitas: Mengadili Bayang-bayang, Penerbit Belukar Budaya, Yogyakarta, 2003. * Dunia yang Berlari: Mencari Tuhan-tuhan Digital, Penerbit Grasindo. * Hiper-semiotika: Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna, Penerbit Jalasutra, Yogyakarta, 2003. * Hantu-hantu Politik dan Matinya Sosial, Penerbit Tiga Serangkai, Solo, 2003. * Pos-realitas: Realitas Kebudayaan di dalam Era Pos-metafisika, Penerbit Jalasutra, 2004
Journals: * ‘Terkurung di antara Realitas-realitas Semu: Estetika Hiper-realitas dan Politik Konsumerisme’, Jurnal Ilmu dan Kebudayaan Ulumul Qur’an, nomor 4, Vol. V., 1994. * ‘Tamasya di antara Keping-keping Masa Lalu’, Jurnal Kebudayaan Kalam, Edisi 2, 1994. * ‘Estetika dan Abnormalitas: Seni dan Komponen Komoditi’, Majalah Kajian Ekonomi dan Sosial Prisma, LP3ES, No. 11, 1994. * ‘Merayakan Abnormalitas: Identitas di Zaman Pluralisme Kebudayaan”, Jurnal Kebudayaan Kalam, No. 5., 1995. * ‘Wawasan Semiotika Posmodernisme’, Jurnal Seni Rupa, Volume I, 1995. * ‘Etnosentrisme: Isyu Politik Kebudayaan Dunia Ketiga’, Jurnal Seni Rupa, Volume II, 1995. * ‘Kekuasaan dan Kecepatan’, Majalah Kajian Ekonomi dan Sosial Prisma, LP3ES, No. 8, Tahun XXV, 1996. * ‘Global/Lokal: Mempertimbangkan Masa Depan’, Jurnal Seni Pertunjukan Indonesia, Tahun X, 2000. * ‘Fenomena Sufisme di Tengah Masyarakat Pos-modern: Sebuah Tantangan Bagi Wacana Spiritualitas’, Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam Al-Huda, Volume 1, Nomor 2, 2000. * ‘Public Sphere dan Cyber-democracy’, Jurnal Demokrasi & HAM, Vol. 1, Nomor 2, November 2000 * ‘Cyber-space, Cyborg dan Cyber-feminism: Politik Teknologi dan Masa Depan Relasi Gender’, Jurnal Perempuan, No. 18., 2001. * ‘Posmodernisme dan Ekstasi Komunikasi’, Jurnal Komunikasi Mediator, Volume 2, Nomor 2, 2001. * ‘Terkurung di antara Ruang-ruang Kegilaan: Ekstasi Kapitalisme, Posmodernisme dan Cyberspace, Jurnal Pemikiran Kebudayaan Insight, Edisi 1, 2001.
Setelah lewat dari duapuluh tahunan sejak awal kehebohannya, istilah “posmodernisme”, sebagai terminologi, periodisasi ataupun isi gagasan, tetaplah problematis dan penuh kontroversi. Namun, rupanya hal itu tak seberapa mengganggu perkembangan isu dan substansi yang ditawarkannya. Kendati sebagai trend ia boleh jadi sudah kadaluwarsa, dalam berbagai kemasan baru yang berbeda ternyata sebagai substansi ia justru berkembang biak hingga hari ini, seperti sesuatu yang tak terelakkan. Bahkan dari sudut ini, substansi posmodernisme sepertinya justru baru lahir dan berkembang. Hampir di segala lini wacana, dari biologi, fisika, politik, antropologi hingga teologi kini berhamburan kerangka-kerangka pikir baru yang hanya bisa dimengerti bila kita memahami segala isu yang awalnya dilemparkan oleh gejala posmodernisme
Buku ini mencoba menguraikan seluk-beluk semiotika kontemporer dalam perspektif cultural studies, yang ditulis dengan bahasa yang mengalir, dan menjelaskan setiap terminologi secara mudah namun kritis dengan menggunakan sistematika akademis yang ketat namun lincah, dan sangat berguna bagi siapa pun yang ingin belajar memahami dan mendalami semiotika dari seorang pakar semiotika terkemuka di Indonesia.
bisa dijadikan buku yang membantu untuk referensi karena banyak menyebutkan priode sejarah, aliran-aliran pemikiran, nama penulis, dan judul bukunya. sistematika buku ini disusun cukup membantu memahami maksud penulisnya. tentang hiper-realitas yang sudah lama disinggung, dan mau tak mau menjadikan kajian semiotika dan pengaruh tanda2 menjadi harus dipahami secara tidak biasa.
Buku yang bagus sebagai sumber referensi. Piliang menyajikan cakrawala yang luas dalam pemahaman tentang postmodernisme terutama di bidang estetika dan seni. Analisis yang mendalam dan penjelasan yang mudah dimengerti adalah beberapa kelebihan buku ini. Sayangnya, masih banyak kesalahan tulis dalam hal tata bahasa.
Pnejelasan yang menarik karena gaya bahasa Piliang yang provokatif dan hiperbolis. Kalau aku beberapa kali tersenyum sendiri dan menerutkan dahi, itu lebih karena sifat subjek yang sedang dibahas, bukan pembahasnya. Buku ini bagus karena penulisnya.
gaya penulisan dan pembahasannya enak. bukan berarti lantas saya jadi ngerti semiotika, hipersemiotika, postmodernisme, dan blablabla. tapi buku ini bagus lah buat nambah wawasan dan cara pandang :)
Wah teler juga baca buku ini. Capek karena terlalu banyak istilah baru bagiku. Aku cuma tahan baca 2 bab dari buku ini, termasuk pengantar. Buku ini aku pinjam dari Didot, temanku anak DKV.
sy suka sekali dengan buku ini. pertama baca tahun 2003, edisi pertama. terpana. salah satu edisi 'Yasraf' yg edaan! tak sabar menunggu karya2 lainnya dari dosen FSRD ITB ini..