Jump to ratings and reviews
Rate this book

Alam Pikiran Yunani

Rate this book
Ada dua jalan untuk mencapai pengetahuan tentang filosofi. Pertama, menanamkan pengertian secara berangsur-angsur labih dahulu, dari yang agak mudah sampai kepada yang sulit-sulit benar, dan mempelajari susunan pengetahuan itu didalam sistemnya. Berbagai pertikaian paham diketahui dengan jalan ini sejak semulanya. Inilah jalan yang sebaik-baiknya bagi orang yang memilih filosofi sebagai faknya.

Jalan yang kedua inilah yang kita pakai dalam buku ini. Gunanya untuk mengetahui berbagai paham tentang yang satu, berbagai pandangan tentang alam dan sikap hidup. Dengan jalan ini tidak saja kita ketahui cara orang berpikir dahulukala, yang begitu berlainan dengan sekarang, melainkan kita mendapat juga timbangan yang luas tentang pendapat orang lain. Jalan ini melepaskan kita dari berpendapat sebagai katak dibawah tempurung. Pendirian picik berbahaya benar bagi kemajuan paham temtang Ilmu, pengetahuan dan agama.

191 pages, Paperback

First published January 1, 1941

121 people are currently reading
1440 people want to read

About the author

Mohammad Hatta

84 books182 followers

Latar Belakang dan Pendidikan
Dr.(H.C.) Drs. H. Mohammad Hatta (populer sebagai Bung Hatta, lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 12 Agustus 1902 – wafat di Jakarta, 14 Maret 1980 pada umur 77 tahun) adalah pejuang, negarawan, dan juga Wakil Presiden Indonesia yang pertama. Ia mundur dari jabatan wakil presiden pada tahun 1956, karena berselisih dengan Presiden Soekarno. Hatta dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Bandar udara internasional Jakarta menggunakan namanya sebagai penghormatan terhadap jasanya sebagai salah seorang proklamator kemerdekaan Indonesia.

Nama yang diberikan oleh orang tuanya ketika dilahirkan adalah Muhammad Athar. Anak perempuannya bernama Meutia Hatta menjabat sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dalam Kabinet Indonesia Bersatu pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ia dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta.

Perjuangan
Saat berusia 15 tahun, Hatta merintis karir sebagai aktivis organisasi, sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond (JSB) Cabang Padang. Di kota ini Hatta mulai menimbun pengetahuan perihal perkembangan masyarakat dan politik, salah satunya lewat membaca berbagai koran, bukan saja koran terbitan Padang tetapi juga Batavia. Lewat itulah Hatta mengenal pemikiran Tjokroaminoto dalam surat kabar Utusan Hindia, dan Agus Salim dalam Neratja.

Kesadaran politik Hatta makin berkembang karena kebiasaannya menghadiri ceramah-ceramah atau pertemuan-pertemuan politik. Salah seorang tokoh politik yang menjadi idola Hatta ketika itu ialah Abdul Moeis. “Aku kagum melihat cara Abdul Moeis berpidato, aku asyik mendengarkan suaranya yang merdu setengah parau, terpesona oleh ayun katanya. Sampai saat itu aku belum pernah mendengarkan pidato yang begitu hebat menarik perhatian dan membakar semangat,” aku Hatta dalam Memoir-nya. Itulah Abdul Moeis: pengarang roman Salah Asuhan; aktivis partai Sarekat Islam; anggota Volksraad; dan pegiat dalam majalah Hindia Sarekat, koran Kaoem Moeda, Neratja, Hindia Baroe, serta Utusan Melayu dan Peroebahan.

Pada usia 17 tahun, Hatta lulus dari sekolah tingkat menengah (MULO). Lantas ia bertolak ke Batavia untuk melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Dagang Prins Hendrik School. Di sini, Hatta mulai aktif menulis. Karangannya dimuat dalam majalah Jong Sumatera, “Namaku Hindania!” begitulah judulnya. Berkisah perihal janda cantik dan kaya yang terbujuk kawin lagi. Setelah ditinggal mati suaminya, Brahmana dari Hindustan, datanglah musafir dari Barat bernama Wolandia, yang kemudian meminangnya. “Tapi Wolandia terlalu miskin sehingga lebih mencintai hartaku daripada diriku dan menyia-nyiakan anak-anakku,” rutuk Hatta lewat Hindania.

Pemuda Hatta makin tajam pemikirannya karena diasah dengan beragam bacaan, pengalaman sebagai Bendahara JSB Pusat, perbincangan dengan tokoh-tokoh pergerakan asal Minangkabau yang mukim di Batavia, serta diskusi dengan temannya sesama anggota JSB: Bahder Djohan. Saban Sabtu, ia dan Bahder Djohan punya kebiasaan keliling kota. Selama berkeliling kota, mereka bertukar pikiran tentang berbagai hal mengenai tanah air. Pokok soal yang kerap pula mereka perbincangkan ialah perihal memajukan bahasa Melayu. Untuk itu, menurut Bahder Djohan perlu diadakan suatu majalah. Majalah dalam rencana Bahder Djohan itupun sudah ia beri nama Malaya. Antara mereka berdua sempat ada pembagian pekerjaan. Bahder Djohan akan mengutamakan perhatiannya pada persiapan redaksi majalah, sedangkan Hatta pada soal organisasi dan pembiayaan penerbitan. Namun, “Karena berbagai hal cita-cita kami itu tak dapat diteruskan,” kenang Hatta lagi dalam Memoir-nya.

Selama menjabat Bendahara JSB Pusat, Hatta menjalin kerjasama dengan percetakan surat kabar Neratja. Hubungan itu terus berlanjut meski Hatta berada di Rotterdam, ia dipercaya sebagai koresponden. Suatu ketika pada medio tahun 1922, terjadi peristiwa yang mengemparkan Eropa, Turki yang dipandang sebagai kerajaan yang sedang runtuh (the sick man of Europe) memukul mundur

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
210 (51%)
4 stars
91 (22%)
3 stars
50 (12%)
2 stars
29 (7%)
1 star
27 (6%)
Displaying 1 - 30 of 46 reviews
Profile Image for Nanto.
702 reviews103 followers
October 10, 2008
Buku ini pernah saya baca ketika masih di Djatinangor. Salah satu koleksi perpus FISIP yang jadul. Buku ini merupakan hasil kompilasi kuliah filsafat yang dilakukan Hatta saat ia dibuang ke Boven Digul. Demikian informasi yang saya dapat dari orasi ilmiah Ignas Kleden mengenang Sutan Sjahrir, 8 April 2006, TIM, Jakarta, yang berjudul SUTAN SJAHRIR: ETOS POLITIK DAN JIWA KLASIK. Detil lebih jauhnya saya agak kabur.

Ingatan saya kepada buku ini kembali menguat, dan ingin membacanya ulang. Itu setelah saya sempat membaca artikel Daniel Dakhidae di Majalah Tempo (CMIIW)yang menyebut Hatta merupakan sedikit orang Indonesia yang mampu meng-Indonesia-kan banyak istilah latin dengan baik. Bahkan, istilah "post hoc ergo propter hoc". Repotnya saya semakin jauh dari Djatinangor dan saya juga lupa edisi kapan artikel Daniel Dakhidae itu dimuat. huah!!!

Buku ini ditulis ketika Hatta dibuang ke Digoel kemudian dipindahkan ke Banda. Dipembuangan itu Hatta selalu membawa hartanya yang terpenting: berkoper-koper buku. Saya ingat pernah diskusi dengan seorang teman di kampus dulu. Topik diskusi yang kami bicarakan soal bacaan jaman kami dan jaman Hatta. Kami yakin bahwa buku yang dapat kami akses saat itu jauh lebih dari yang Hatta peroleh, namun apakah nilai bacaan itu sama dengan pemahaman yang diperoleh Hatta? Bobot apa yang membedakannya. Hatta jaman itu dengan akes bacaan yang bisa jadi tidak semudah sekarang toh ternyata berhasil. Lalu kenapa kami dengan akses bacaan yang lebih, tidak menunjukan hasil yang lebih dari Hatta? Itulah diskusi kami mahasiswa yang kurang kerjaan di kampus. Ketika kami dihadapkan pilihan mau ngapain dengan koleksi perpus yang seadanya.

Sekarang bisa jadi lebih mudah, karena ada internet dan ada keajaiban dunia yang ke-8: Google. Namun saya tidak ingin jadi orang tua yang kerap membanggakan kesusahan jamannya dan meremehkan persoalan jaman sekarang. Persoalannya adalah apa yang didapat dari membaca, sehingga Hatta mau berpayah-payah memperhatikan hartanya dan kemudian berhasil menuangkan ikatan idenya dalam buku ini.

Lain kali perlu juga digugah kesadaran, apakah benar kita sudah membaca atau jangan-jangan itu hanya kesibukan yang diada-adakan tanpa produk yang jelas?
Profile Image for dhani  Machfud.
66 reviews5 followers
Read
January 18, 2010
Saya membaca buku ini sewaktu masih SMP (thanks Dad atas koleksi buku gratisannya),..Mohammad Hatta adalah seorang penulis jenius yang membuktikan bahwa di dalam pengasingan di Boven Digul, pena adalah sebuah senjata yang melahirkan kreativitas tak terbatas oleh sebuah jeruji besi dan tembok penghalang.

Buku ini lebih merupakan literatur filsafat yang jujur aja untuk ukuran anak SMP seperti saya waktu itu masih terlalu berat untuk membacanya,..hihihi
Profile Image for Mutia Fauzia.
13 reviews6 followers
January 23, 2016
Saya rasa buku ini adalah buku yang cukup penting bagi mereka yang ingin memperdalam khasanah keilmuan, terutama untuk mempelajari epistimologi dari ilmu pengetahuan. Tak bisa dipungkiri, pemikir-pemikir Yunani merupakan salah satu pengantar penting untuk bisa memahami apa itu filsafat. Moh Hatta, sebagai salah satu pemikir penting bagi Indonesia, mampu merangkum serta menggambarkan secara garis besar pentingnya filsafat bagi bangsa ini.
Profile Image for Zam.
31 reviews1 follower
December 30, 2023
Tepat rasa jika mengatakan bahwa Alam Pikiran Yunani merupakan mahakarya yang tak hanya menarik, namun juga memperluas wawasan pembaca mengenai sejarah filsafat, khususnya di masa Yunani Kuno.

Bung Hatta, sukses menguraikan serta memberi gambaran konkrit mengenai cara hidup masyarakat Yunani Kuno yang selalu berupaya menjelaskan dunia melalui berbagai pertanyaan.

Anyways, pada mulanya buku ini dibagi menjadi tiga jilid terpisah, namun pada akhirnya Bung Hatta memutuskan untuk melebur ketiganya ke dalam satu jilid yang sama. Adapun rincian ketiga jilid tersebut sebagai berikut:

1.) Pembahasan mengenai periode Filosofi Alam (Thales, Anaximandros, Anaximenes).
2.) Periode Filsafat Klasik (Socrates, Plato, Aristoteles).
3.) Uraian mengenai periode Helen-Romana/Helenistik yang sekaligus menjadi penutup dari kemasyhuran era pemikiran Yunani Kuno.

Filosofi Yunani Kuno sejatinya memegang peranan penting terhadap sejarah pemikiran umat manusia, yang dalam skala luas juga mempengaruhi sejarah peradaban dunia— Khususnya di wilayah Eropa karena pemikiran ini sempat menguasai dunia barat kurang lebih sekitar seribu tahun lamanya.

Bahkan hingga hari ini, banyak pemikiran maupun gagasan terutama dalam ranah sosial, hukum serta politik yang masih berkiblat pada filosofi sebagai benchmark dalam ilmu kenegaraan. Oleh karena itu filosofi juga kerap dikenal dengan istilah "Mother of Knowledge" karena memang banyak sekali rumpun ilmu pengetahuan yang lahir dan bermula dari padanya.

Lebih dari itu, secara praktis dengan mempelajari filosofi kita diharapkan dapat melihat sebuah fenomena dengan lebih skeptis, tajam serta mengedepankan rasionalitas. Secara keseluruhan, Alam Pikiran Yunani memberi wawasan yang begitu berharga mengenai sejarah pemikiran Yunani kuno dengan runtut, padat namun tetap mudah untuk dicerna.

“Menuju kebaikan adalah jalan yang sebaik-baiknya untuk mencapai kesenangan hidup.”

[Selesai].🤲
Profile Image for Evan Kanigara.
66 reviews21 followers
January 1, 2020
(3.5) Saya bukan mahasiswa filsafat sehingga tidak bisa memberikan kritik terkait substansi buku ini. Namun yang jelas, "Alam Pikrian Yunani" merupakan buku yang menarik dan padat informasi. Hatta memberikan pengertian-pengertian filsafat Yunani secara sederhana, sehingga ia lebih mudah dipahami awam. Tentu ada keterbatasan alih bahasa. Rasa-rasanya juga bantuan ilustrasi dan tabel juga diperlukan untuk mempermudah penjelasan hal-hal yang teknis. Meskipun begitu, saya merasa bahwa buku-buku semacam ini seharusnya kembali dipopulerkan.

Selain itu, saya senang bahwa penulis buku ini ialah wakil presiden pertama Indonesia. Seorang ahli ekonomi yang berani menulis perihal filsafat saat masa pengasingannya di Banda Neira. Jelas disitu terpampang semangat Hatta yang cinta buku dan haus akan ilmu pengetahuan. Mungkin saja saat itu Hatta berasumsi bahwa para pembaca juga demikian. Saya jelas tidak tahu. Namun saya tentu berharap semangat tersebut ada di zaman ini.
Profile Image for Adi.
158 reviews19 followers
August 6, 2012
i like this book
Profile Image for Probo Darono Yakti.
84 reviews5 followers
May 21, 2018
Saya benar-benar menaruh respek pada Bung Hatta karena penulisan buku ini. Ketika ia diasingkan di Digul dan Banda Neira, ia merangkum apa yang telah ia pelajari dari negeri Belanda. Tempatnya menuntut ilmu dan kemudian menjadi seorang sarjana ekonomi yang andal.

Bisa dibilang, Alam Pikiran Yunani ini adalah buku dasar bagi siapa saja yang ingin menyelami filsafat. Sebagai dasar dari segala ilmu pengetahuan, maka kita memulai segala sesuatu dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana. Begitulah Sokrates kemudian membentuk perguruannya Academia, dan diteruskan oleh muridnya Plato dengan mencetuskan Idea. Aristoteles kemudian muncul meluruskan konsep gurunya ini dalam membahas demokrasi. Ini lazim ketika ada dalam alam pemikiran klasik.

Sebelum Sokrates, ada tokoh lain seperti Phytagoras yang mencetuskan sejumlah hal yang berbau metafisika. Dan bahkan dalam batasan tertentu kepercayaan pada Tuhan dimunculkan ketika orang mulai mencari-cari agama pada era Yunani Kuno. Setelah itu timbullah perubahan besar yang kemudian menjelaskan etik-etik yang diajarkan setiap tokoh pemikir Yunani ini.

Itulah yang akan kita dapatkan selama membaca buku yang terdiri atas tiga jilid yang diringkas menjadi satu ini. Hatta merupakan orang yang cukup brilian, karena pada msa itu mampu men transliterasikan apa yang ia dapatkan dari buku-buku yang bersumber dari Jerman dan Belanda ke Bahasa Indonesia menjadi kosakata-kosakata awal pada waktu itu. Meski naskah dari buku ini sempat lenyap ketika Aksi Militer II di Yogyakarta ketika rumah singgah Hatta di Kaliurang dibombardir Belanda, namun pada akhirnya terbit kembali akibat inisiatif kuat Hatta untuk menggunakan bukunya dan memahamkan nasyarakat mengenai filsafat. Buku inipun secara resmi menjadi pengantar dalam sejumlah subjek ilmu sosial di Universitas Indonesia.
Profile Image for melancholinary.
461 reviews38 followers
May 22, 2024
Although this book (at least for me) is merely an introduction or an overview of ancient Greek philosophy, with explanations that are indeed not very detailed (one might say, by today's standards, at the Wikipedia level) and only highlighting some core ideas of the ancient Greek philosophical schools, it is nonetheless one of the most interesting books on (the history of) Western philosophy to read. In addition to presenting various branches of thought from different forms of philosophy, such as ethics, logic, and physics, Hatta also reflects on these ancient Greek thoughts in the context of Indonesia. He examines how the thinking of these philosophers resonates with the directions of thought and state ideology. Very interesting. The context of writing and the division of chapters in this book are also intriguing because each chapter was written at different times and eras (some of them were written during the New Order regime).

Unfortunately, pre-Socratic natural philosophy receives less attention compared to the classical era, leaving me wanting to know more about Hatta's perspective on natural philosophy, which I believe could reveal how closely Hatta aligns with materialism.
20 reviews
June 22, 2022
Ya.. Bagus. Dari pendahuluan sepertinya Bung Hatta ingin masyarakat Indonesia utk tidak terlalu terikat oleh takhayul dsb, yakni menggunakan "gaps" fallacy. Ia ingin masyarakat indonesia seperti orang orang yunani yang mencari penjelasan rasional utk berbagai kejadian alam dan tdk terlalu membebankannya oleh hal hal yang mistis.

Bukunya tidak ada referensi namun memiliki 27 buku sebagai Daftar Pustaka, di antara buku-buku itu ada buku-buku karya plato dan Aristoteles sendiri dan juga buku tersohor yakni Sejarah Filsafat Barat oleh Bertrand Russel. Seperti yang anda perkirakan, sebenarnya di zaman sekarang sangat banyak buku yang mengupas sejarah filsafat yunani lebih mendalam dari buku ini dengan referensi yg lengkap. Tetapi menurut saya yang menarik adalah penulis buku ini dan sejarah dari buku ini.
Juga saya kira buku ini murni ditulis oleh Bung Hatta saat diasingkan tetapi tak demikian, buku ini terdiri dari 3 jilid yang jarak masa penulisannya cukup lama, lalu digabungkan menjadi 1 buku.
Sebagai orang yang apatis ttg filsafat yunani menurut saya buku ini menjelaskannya/meringkasnya dengan baik dan tidak bertele-tele
Profile Image for Alif Indiralarasati.
18 reviews
October 8, 2021
Buku yang sangat apik. Sebuah karya agung milik bung Hatta yang selayaknya dapat dicetak kembali, disebarkan ke ruang-ruang kelas dan dijadikan bahan diskusi di warung-warung kopi. Tebal buku yan g tak seberapa nyatanya telak menampar dengan buktian bahwa isinya luar biasa detail dan mencakup pokok-pokok dasar pemikiran Yunani dari awal dikenalnya sebuah kemampuan berpikir dan berkontemplasi, mencari definisi dan arti dari dunia dan kehidupan. Buku yang tebalnya tak seberapa ini harus saya tamatkan hingga waktu satu bulan lantaran makna per kata yang terlalu indah untuk diabaikan dan tentunya pengetahuan baru buat saya yang sedang gemar mengenal ilmu filosofi.

Satu hal yang saya sayangkan, andai dapat memiliki atau membaca versi aslinya, mungkin saya akan lebih bersorak girang. Beberapa bagian halaman hilang dan membuat kata yang terjeda jadi sayang karena tak bermakna.
Profile Image for Roffi Ardinata.
30 reviews2 followers
October 15, 2018
Salah satu cara melihat perjuangan dan arah sesorang dalam hidupnya adalah dengan membaca hasil buah pikiran (tulisan) yang Ia buat selama hidupnya.

Dari tulisan ini, Saya belajar lebih dalam lagi mengenai pemikiran seorang Hatta dalam perjuangan sebuah cita-cita untuk memerdekakan serta mencerdaskan kehidupan bangsanya. Menasehati dan merancang pola berpikir masyarakat dizamannya agar dapat berpikir lebih cerdas dan meniggalakan segala tahyul yang hanya melemahkan pikiran dan kehidupan masyarakat, bahkan hingga sekarang tulisan ini masih sangat bermanfaat bagi saya yang sangat awam dengan dunia filsafat namun punya rasa keingintahuan tentang filsafat itu sendiri.
Profile Image for Agamtriptyline.
141 reviews
Read
January 30, 2025
Selain konten yang berat, gaya penulisan buku ini juga sulit kupahami. Mungkin karena buku ini ditulis berpuluh tahun sebelum aku lahir. Butuh waktu yang lama untuk menyelesaikan satu halaman.

Penulisnya kupikir adalah orang yang sangat cerdas dan rajin karena untuk merangkum ilmu filosofi butuh banyak membaca dan mampu memilih yang penting dari yang banyak itu untuk dirangkum menjadi satu buku.

241225BDG
Profile Image for Hery.
8 reviews1 follower
January 13, 2019
Moh Hatta memperkenalkan filsafat Yunani dengan ringan dan mudah untuk dipahami.
Profile Image for Harits Zaenal.
4 reviews
May 18, 2019
It's a good book for a people who try to know more about diversity of mind.
Profile Image for Otniel.
3 reviews
February 2, 2020
Lumayan ringan dan padat buat lebih mendalami filsafat yunani.
Profile Image for Wankeb Ihfer.
1 review
April 19, 2020
Saya bingung mau buka bukunya bagaimana sih, supaya bisa ke buka. Bantu dong. Plis
Profile Image for Widi Ichihara.
1 review
September 15, 2020
Jujur saya belum baca buku ini. Tapi, setelah membaca komentar tentang buku ini, aku percaya buku yang sedang aku cari ini adalah buku yang tidak boleh aku lewatkan. Semoga lekas bertemu dengannya.
1 review
March 2, 2021
sangat membantu
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Alysia.
8 reviews
July 28, 2025
Setiap filsuf Yunani mempunyai pemikiran yang luar biasa. Mereka memahami cara kerja alam dan dunia dengan cara mereka masing-masing dengan mengamati dan mempelajarinya.
Profile Image for Rizki Rinaldi.
4 reviews1 follower
January 15, 2021
Sudah diincar sejak SMA, kebetulan tahun kemarin dapat bukunya sama buku untuk negeriku, cara bung Hatta menerangkannya sangat luar biasa, jauh dari kata menjemukan
Profile Image for Fikri Muhammad.
10 reviews7 followers
December 30, 2019
Buku ini menjelaskan ttg perjalanan filsafat di Yunani dari masa ke masa, mulai dari filsafat alam hingga filsafat-filsafat akhir masa yunani. Sebuah buku yang cocok dibaca apabila kita ingin mengetahui dasar filsafat Yunani berdasarkan urutan waktu. Mohammad Hatta menunjukkan kemampuan intelektualnya yang luar biasa dalam buku ini, bagaimana buku ini ditulis dengan menyeluruh dan dengan sangat baik.
Profile Image for Farrahnanda.
Author 10 books21 followers
October 3, 2015
Halamannya cuma abis di 176, sih. tapi biar progress-nya 100%, ya kutulis 191 ahahaha~
buku yang saya baca ini halamannya ilang dari 147-156... #krik padahal penasaran sama sekolah Stoa dan sekolah Skeptis. Tapi yawda lhaa~
Quotes favorit saya:
Tabiat jiwa yang kesasar itu serupa dengan sikap kanak-kanak, yang dari kecilnya terpisah dari bapanya dan hidup serta dibesarkan di negeri lain. Dia itu tidak kenal lagi dengan dirinya sendiri. Karena jiwa-jiwa itu mengagumi dunia dan mengutamakan benda, mereka merendahkan diri sendiri dari barang-barang dunia ini. Itulah yang menjadi sebab mereka tak kenal lagi kepada dunia asal dan tak sanggup lagi menerima dalam dirinya sifat dan tenaga Tuhan.
-Mohammad Hatta: Alam Pikiran Yunani hlm. 172-

Selesai tanggal 12 Sept 2015 17:00 *jam-nya dibuletin ajhaa wwww*
Displaying 1 - 30 of 46 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.