Heaven really knows what’s best for us...
Setahu saya, Autumn Once More merupakan kumpulan cerita pendek (kumcer) bergenre metropop pertama yang ditulis secara keroyokan oleh beberapa novelis metropop dan editor GPU. Sedangkan untuk kumcer metropop sendiri sebenarnya sudah ada sejak Jakarta Kafe-nya Tatyana, sampai dengan serial Metropolitan (Nyonya Besar, Tuan Besar, Roman Orang Metropolitan, dsb) karya Threes Emir.
Daya pikat utama yang membuat kumcer ini istimewa tentu saja jajaran para penyumbang tulisannya. Siapa yang tak kenal nama-nama besar semacam Ilana Tan, aliaZalea, atau Ika Natassa? Ketiga penulis tersebut, menurut saya, termasuk novelis metropop terpopuler yang buku-bukunya superlaris bak kacang goreng di pasaran buku Indonesia. Bahkan, menurut mbak Hetih, salah seorang editor GPU, menyebutkan bahwa novelnya Ilana Tan sudah cetak ulang untuk yang ke-26 kali. WOW.
Beruntung, saya bisa membeli dan membaca kumcer ini lebih dulu dibanding pencinta metropop lainnya mengingat kumcer ini dijadwalkan rilis resmi tanggal 11 April 2013 mendatang, sementara saya sudah membeli novel ini hari Sabtu, 6 April 2013, bertepatan dengan #gatheringGPU yang diselenggarakan Gramedia. Sayang, karena ketersediaan bukunya baru ada sore, saya tak sempat lagi berkeliling mendatangi para penulis yang kebetulan berhadir untuk membubuhkan tanda tangan di kumcer ini. Untungnya masih ada mbak Hetih dan Mei yang bersedia ditodong menandatangani kumcer ini. Alhamdulillah.
Berikut adalah kesan-kesan saya pada masing-masing cerita seusai saya menuntaskan-baca kumcer ini.
#1 Be Careful What You Wish For karya aliaZalea. Tipikal khas tulisan Alia. Seksi, menggoda, dan segar. Penulisnya sendiri mengakui bahwa ia menyukai cowok seksi, jadi tak heran jika lagi-lagi tokoh cowok seksi dihadirkan di cerpen ini. Melalui kelebatan fantasi sang tokoh perempuan yang menyimpan hasrat namun tak sanggup berucap, cinta mengalir dalam tempo cepat dan membius. Sayangnya, karena ruang yang terbatas, fantasi romantis nan seksi itu seolah kurang tersalurkan.
#2 Thirty Something karya Anastasia Aemilia. Huwaaaaaaaa....saya langsung jatuh suka pada cerita ini sejak kalimat pembukanya dengan segala keribetan yang dihadirkan untuk tokoh utama perempuan dalam cerpen ini. Belum lagi pada inti ceritanya yang meskipun lagi-lagi tentang tema klise: soal sahabat yang memendam rasa. Tapi, tema usang itu tetap saja menghipnotis saya. Tak ragu lagi, cerpen ini menjadi salah satu favorit saya di kumcer ini. Ringkas, tangkas, dan dikemas cerdas.
#3 Stuck With You karya Christina Juzwar. Hmm, awalnya sempat mau protes, ya masak lift kantor bisa rusak terus-terusan gitu, sih? Saya berharap itu akal-akalan si tokoh utama laki-laki demi menggaet si tokoh utama perempuan, tapi tidak, itu murni kerusakan, yang agak absurd menurut saya. Yang juga sayang menurut saya adalah tokoh Haris yang tak tergali maksimal, ujug-ujug dia divonis playboy hingga si tokoh perempuan tak lagi mencintainya dan mengalihkan cintanya pada si tokoh utama laki-laki. Tapi, saya merasakan aura romantisme menguar manis di cerita ini.
#4 Jack Daniel’s vs Orange Juice karya Harriska Adiati. Well, definitely, this is my second favorite of this short-story collection. Persahabatan para cowok di kota besar, pasti relatable banget buat saya. Dengan dialog dan kalimat yang efektif, cerpen ini mengalir mulus hingga pada ritme konflik dan solusi yang dipilih untuk mengakhiri konfliknya. Satu kata, SERU!
#5 Tak Ada Yang Mencintaimu Seperti Aku karya Hetih Rusli. Filosofis, dalam, kalimat bersayap, dan membiarkan pembaca menentukan sendiri interpretasi masing-masing. Saya menangkap tema cinta yang posesif, cinta yang cenderung ke arah psikopat. Saya berharap ada lebih banyak interaksi untuk menegaskan ‘cinta yang sakit’ itu.
#6 Critical Eleven karya Ika Natassa. Dari segi gaya menulis, saya sudah takluk pada tulisan seorang Ika Natassa. Sudah pasti saya akan dibawanya hanyut ke mana pun dia menghanyutkan saya. Kalimat modern terkemas manis dalam penggalan kalimat yang menurut saya selalu memiliki makna. Dari cerpen inilah quote-quote keren bisa di-copy paste, jika dibandingkan dengan cerpen yang lain. Saya tahunya, Critical Eleven ini direncanakan untuk menjadi novel, jadi cerpen ini serupa teaser bagi saya, untuk mengenali kedua tokoh utamanya sehingga cukup membuat saya tak sabar menunggu novelnya.
#7 Autumn Once More (Autumn in Paris: Side Story) karya Ilana Tan. Jujur saja, saya mungkin salah satu anomali dari sekian banyak pencinta metropop karena saya sebenarnya tak begitu menyukai karya-karya Ilana Tan, kecuali Winter in Tokyo. Bahkan ingatan saya akan Autumn in Paris pun dipenuhi ketidakpuasan, jadi ketika membaca cerpen yang diangkat jadi judul kumcer ini, saya tak berekspektasi lebih. Memang manis, romantis, dan menyenangkan, tapi terasa biasa saja buat saya. Entahlah, apakah ada yang salah dengan saya?
#8 Her Footprints on His Heart karya Lea Agustina Citra. Bagi saya, berani mencintai seseorang harus juga berani berkompromi dengan masa lalunya. Itulah yang saya tangkap dari cerpen karya Lea ini. Juga soal melimpahkan kepercayaan. Apakah setelah kita saling meneguhkan tekad untuk memercayai pasangan, begitu si dia dekat dengan orang lain, kita langsung terbakar api cemburu dan mendadak berteriak lantang, “Ingin kubunuh dirinyaaa...”? Well, saya suka tema yang diangkat cerpen ini.
#9 Love is a Verb karya Meilia Kusumadewi. Mungkin dari kesemua cerpen yang ada di dalam kumcer, cerpen ini adalah salah satu yang “gue banget”. Jujur, memang bukan tema baru: pasangan yang menuntut perhatian lebih karena selama ini dirasa tak pernah berbicara mesra sedikit pun. Ini pas sekali dengan kondisi saya, yang terkadang tak sanggup merajut kata dan lebih suka mengumbar tindakan. Saya pikir dengan begitu, pasangan akan menyadari betapa besar cinta yang saya semaikan. Nyatanya, manusia itu berbeda-beda, ada pula yang sudah dimanja-manja tetap mengharap seuntai kalimat verbal, “Aku cinta kamu.”
#10 Perkara Bulu Mata karya Nina Addison. Karya debutan Nina, Morning Brew, menjadi salah satu karya perdana yang langsung mencuri perhatian saya. Maka, ketika melihat nama Nina di jajaran penyumbang cerita di kumcer ini, saya bahagia. Dan, benar saja, kisah ringan, segar, dan bernuansa khas metropolis berhasil dihidangkan Nina dengan gaya serial Friends ini dengan apik. Cerpen ini juga relatable banget sama saya karena berkisah soal benih cinta yang tumbuh di antara sahabat dan dikhawatirkan akan merusak persahabatan itu. Sejauh ini, saya setuju dengan ini. Dalam kehidupan nyata, sebisa mungkin saya menghindari jatuh hati pada sahabat. Soalnya jika hubungan tak berjalan, takutnya kami saling menjauhi, padahal kami dalam lingkaran pergaulan yang sama, awkward banget pastinya.
#11 The Unexpected Surprise karya Nina Andiana. Tentang cinta seorang ibu yang tidak berbatas. Meskipun tak diungkapkan terang-terangan, cinta dalam diamnya akan selalu putih untuk anak-anaknya. Nina menghadirkan kisah ini dalam nuansa yang agak datar. Jawaban atas konflik yang dialami tokoh utama agak kurang ‘tak terduga’ menurut saya.
#12 Senja yang Sempurna karya Rosi L. Simamora. Jujur, saya bingung pada cerpen yang ini. Oiya, cerpen ini hampir seluruh kalimatnya bertabur rangkaian kata indah. Namun, justru karena itulah saya merasa cerpen ini ‘nyasar’ di kumcer metropop ini. Kisahnya tentang laki-laki yang baru menyadari bahwa perempuan yang selama ini ada di dekatnya adalah takdirnya, maka ia mencoba memesan senja yang sempurna untuk sang perempuan. Malangnya, ketika pesanan mahal itu ia serahkan padanya, justru perempuan itu berpindah rasa, tetiba ia menyukai hujan.
#13 Cinta 2 x 24 Jam karya Shandy Tan. Well, ini jenis cerita yang dulu pernah ingin saya tulis, hahaha. Tapi, saya tak akan bilang bagian mananya, karena bagian itu yang paling vital, meskipun untuk ukuran cerpen ketika beberapa ratus kata kemudian saya yakin pembaca sudah bisa menduga tokoh utama di cerpen ini itu “apa” dan bukan “siapa”. Soal twist di ending-nya pun sudah terendus di tengah-tengahnya, jadi sisi misterius yang dibangun oleh perasaan melankolis sang tokoh utama hanya bertahan beberapa saat saja, setidaknya bagi saya.
Secara keseluruhan saya menyukai kumcer ini. Paling tidak ada 5 cerita yang menjadi favorit saya: 2, 4, 6, 9, dan 10, dengan cerita ke-2 dan ke-6 menjadi yang terrrrrrfavorit buat saya.
My rating: 4 out of 5 star