Jump to ratings and reviews
Rate this book

Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib

Rate this book
Ahmad Wahib (1942-1973) - wartawan, budayawan dan pemikir Indonesia yang konsisten merakam pengelutan pemikirannya atas meja di sebuah bikil sewa kecil; di dalam beberapa lembar buku tulis lusuh persis diari. Beliau mengikuti secara dekat perdebatan para ilmuwan dan intelektual era Orba. Meninggal dunia digilis sepeda pada Mac malam, ketika pulang kerja. Seorang teman tergegas ke bilik sewa Wahib; menyelamatkan buku-buku catatan yang kemudiannya terjilid sepertimana yang ditatap ini.

335 pages, Paperback

First published January 1, 1981

112 people are currently reading
1554 people want to read

About the author

Ahmad Wahib

2 books28 followers
Ahmad Wahib adalah seorang budayawan, dan pemikir Islam. Semasa hidupnya yang singkat banyak membuat catatan permenungan yang juga telah dibukukan dalam Pergolakan Pemikiran Islam. Pada tanggal 31 Maret 1973, Ahmad Wahib meninggal dunia karena ditabrak sepeda motor di depan kantor majalah Tempo, tempat di mana ia bekerja sebagai calon reporter.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
332 (48%)
4 stars
190 (27%)
3 stars
109 (16%)
2 stars
23 (3%)
1 star
27 (3%)
Displaying 1 - 30 of 71 reviews
Profile Image for John Ferry Sihotang.
27 reviews47 followers
September 18, 2010
Review: Berpikir Merdeka Dalam Beragama

"Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan buddha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim". - Catatan Harian 9 Oktober 1969 -

Ahmad Wahib adalah seorang muslim yang kritis dalam beragama. Ia menulis demikian: Lebih baik ateis karena berpikir bebas daripada ateis karerna tidak berpikir sama sekali. Ya, walaupun sama-sama jelek (h.24). Ungkapan ini untuk memberi jawaban kepada orang-orang yang menyatakan: "Berpikir tentang Tuhan itu Haram!". Bahwa mempertanyakan segala sesuatu, termasuk eksistensi Tuhan adalah langkah penting menghancurkan kedok hidup beragama yang makin buram akhir-akhir ini. Ahmad Wahib membentuk dirinya menjadi seorang muslim yang mau berpikir merdeka tentang Tuhan, Yang Maha Segala yang diikutinya. Dia mau menjadi seorang yang 'nakal' dengan menghalalkan berpikir semaksimal mungkin tentang Tuhan. Menjadi seorang muslim emosional saja tidak cukup, karena itu berfikir bebas dan bersikap terbuka merupakan suatu keharusan yang tak bisa ditawar-tawar (h.74).

Pemikiran dan visi yang benar tentang Tuhan yang benar mempermudah praktek hidup keagamaan yang benar. Walaupun kita mengatakan diri kita seorang sebagai penganut Islam, belum tentu bahwa pikiran kita telah berjalan sesuai Islam (h.23). Ahmad Wahib nampaknya melihat bahwa kedangkalan hidup beragama sangat dipengaruhi oleh keterbatasn visi tentang Tuhan. Iman pada Tuhan pun menjadi dangkal aplikasinya. Relasi dalam berkehidupan sosial harus menjadi pisau cukur untuk memangkas klaim-klaim beriman kepada Tuhan, khususnya kepada mereka yang beriman secara radikal. Bahwa beragama dan/atau beriman itu harus terlihat menjunjung tinggi nilai-nilai moral dalam praksis hidup (real dan bisa dievaluasi). Pada akhirnya, keberanian untuk berpikir dan bervisi membuka wacana tentang ketuhanan akan membantu manusia itu sendiri untuk memurnikan motivasinya menjadi pengikut Tuhan yang benar dengan benar.

Pluralisme Agama
Konsekuensi logis dari berpikir bebas adalah mengakui pluralitas keagamaan. Ahmad Wahib juga melihat bahwa agama tidak lagi dipakai sebagai sarana menumbuhkan spritualitas personal, atau urusanku dengan Tuhanku. Melainkan sudah merambah kehidupan manusia di luar tembok masjid, gereja, pondok pesatren atau biara. Agama sudah masuk dalam percakapan dan tindakan di ruang publik.

Faktanya semua agama memang menawarkan jalan-jalan ke Tuhan. Terhadap fakta pluralitas agama itu, Wahib mencoba mendobrak tembok fundamentalisme sempit yang kuat di depannya. Karena tak bisa dipungkiri, peran publik agama cenderung diiringi kebangkitan fundamentalisme agama, dengan pengakuan agamakulah yang benar.

Absolutisme adalah sumber intoleransi (h.180). misalnya penyiaran agama Nasrani oleh banyak aliran ekstrim seperti babtis, Advent, Yehova dll; pada hakekatnya telah merendahkan nmartabat agama menjadi semacam barang dagangan atau bis kota yang merebut penumpang. Penangkapannya kepada kehendak Tuhan sudah diabsolutkan sehingga kemungkinan lain telah ditutup sama sekali. (h.181).

Mengapa jembatan dialog tidak dibuka untuk barangkali atau memang tidak dibuat?, tanya Alwi Shibab dalam bukunya Islam Inklusif. Ahmad Wahib mencoba mencoba membangun jembatan. Ia menganjurkan: bagi para pemimpin dan mubaliqh Islam, mereka harus lebih banyak merenung dan berfikir agar kotbah dan pidato-pidatonya terleps dari sloganisme sehingga massa umat dibimbing berfikir terang. Bagi pihak Katolik agar lebih serius memperhatikan hasil konsili Vatikan II 1965 yang tidak memutup jalan ke sorga bagi penganut-penganut Islam…karena sebagian dari mereka sampai sekarang masih berada dalam semangat pra-Konsili. Demikian juga pihak Protestan perlu ingat akan perkembangan-perkembangan baru dalam teologi Protestan yang tak lagi mengartikan kegiatan misioner sebagai penyebaran agama kristen, melainkan "memasyhurkan nama Allah" (h.183-185).

Ketiadaan jembatan komunikasi (dialog agama) telah menciptakan konflik horizontal yang sia-sia dalam bermasyarakat. Kekuatan hebat agama justru acap dimobilisasi untuk menciptakan sekaligus membangun konflik, seperti yang terjadi di Ciketing Bekasi beberapa hari belakangan.

Agama seharusnya menjadi ladang menumbuhkan sisi-sisi terbaik kemanusiaan, baik personal maupun kolektif bagi pemeluknya. Nyatanya akses lembaga agama mempunyai pengaruh kuat dalam bernegara -setidaknya di Indonesia- justru kerap merongrong kemanusiaan. Dengan legitimasi yang diperoleh dari dewan keagamaan, tokoh tertentu yang cukup berpengaruh atau mengutip salah satu sumber agama, maka seseorang bisa saja melukai dan bahkan membunuh orang lain (Alwi Sihab, 2001, h.147)). Katanya tindakan itu legitim karena dilakukan atas perintah Tuhan atau perintah agama (ibid h. 40). Padahal, saat agama masuk ruang publik, ia dan segala atribut yang melekat harus menjunjung tinggi hak asasi ruang privat yang dimiliki setiap orang. Kesimpulannya, sebagai faham as sich, setiap orang harus dihormati (hal.179)

Ulah Pecandu Agama
Orang ateis bisa berbuat baik. Orang humanis bisa berbuat baik. Orang non Islam melakukan tindakan yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Agama tidaklah memberi jaminan bahwa seseorang itu pasti berbuat baik. Lalu, mengapa ada kelompok yang menyebarkan kebencian dan kekafiran yang merajalela? Sebaiknya, jangan terjebak!

Awan gelap menyelimuti agama-agama dan kini kelihatan semakin kehilangan taring dalam kehidupan nyata. Seolah nilai-nilai spritualitas yang diusung agama itu hanya terbelunggu dalam gedung Masjid, Gereja, Vihara. Gedung-gedung keagamaan itu justru terlihat membuat jurang pemisah yang dalam dengan di pasar atau di jalanan. Apakah nilai-nilai hakiki yang diusung agama-agama itu masih konsisten saat ini?

Ahmad Wahib melihat bahwa nilai-nilai Islam itu sendiri tetap, sedangkan penafsiran terhadap isi tiap-tiap nilai itulah yang dinamis. Kalau ada perubahan tentang apa saja nilai-nilai Islam itu, masalahnya bukanlah karena nilai-nilai itu sendiri yang berubah melainkan karena pengetahuan manusialah yang berubah dalam mencari-cari nilai itu (h.67),. Sepantasnyalah kita belajar dari situasi jaman! Beriman kepada Tuhan secara kontekstual! (h.26-27). Nilai-nilai yang terdapat dalam agama itu hendaknya menyata dalam hidup sehari-hari tanpa menciptakan sekat atau distingsi yang tak perlu.

Yang mutlak hanyalah Tuhan, sedangkan mahluk-Nya termasuk "agama" adalah mati (h.127). Wahib hendak menegaskan visi yang benar dalam beragama. Bahwa simbol-simbol agama - kitab suci, dogma, ibadat – tidak mutlak (tapi perlu). Pun agama itu sendiri tidaklah mutlak. Memutlakkan yang tidak mutlak akan membangun sarang-sarang fundamentalisme yang kerap jadi nyinyir dan berbuah busuk; penghacuran kemanusiaan, narsisme berlebihan, pemaksaan kehendak dll.

Kenyataan pahit akan kaburnya bisi Yang Mutlak itulah yang membuat Wahib berpikir merdeka: dengan bertanya, mengejar, dan terus mencari. Mencoba menjembatani jurang pemisah antara penghayatan religius dan praktik ajaran Tuhan itu sendiri dalam kenyataan. Karena memang banyak jalan ditawarkan jaman, tetapi manusia itu sendirilah yang harus menentukan jalan yang sesuai dan cocok baginya, kata Frithcjof Schuon.

Para penggemar apalagi pecandu agama agar bersikap kritis dan dewasa terhadap jalan-jalan menuju Tuhan (agama dan kepercayaan). Seharusnya jalan mernuju Tuhan itu bukanlah sarana untuk pemuas segala kepentingan perut, egoisme dangkal dan nafsu-nafsu yang membabi-buta. Manusialah yang menunggang kuda, bukan sebaliknya. Bahwa agama ada untuk manusia, bukan sebaliknya. Karena itu, manusia harus menjadikan agama sebagai perwujudan kebebasan dari segala belenggu dan keterikatan yang membebani hidup. Akhirnya, dalam keyakinan itu pula, Wahib berharap kepada penggemar dan pecandu agama: bahwa setiap ucap-tindak pribadi merupakan pancaran dari iman yang memateri di pusat hayatnya (h.126). Emoh jadi orang orang munafik! (h.31)

Penafsiran yang Relevan
Para rosul dan nabi-nabi hidup dalam satu lingkungan konkret (di suatu ruang dan waktu tertentu dengan kondisi sosio-kultural tertentu yang melahirkan persoalan dan kebutuhan tertentu), mereka harus memberikan problem solving atas persoalan-persoalan dalam kondisi tersebut, tulis Louis Leahy. Bahwa para tokoh pun menjadi besar karena kecekatan mereka dalam menuntuskan masalah yang terjadi, seperti Muhammad, Yesus, Musa dan Abraham juga mengalami problem kehidupan yang menuntut pemecahan. Suatu kejelian dan kecakapan karena mampu membaca tanda-tanda zaman, lantas menginternalisasikan dengan iman yang menjadi pegangan hidupnya.

Demikian juga dengan persoalan agama akhir-akhir ini, ajar-ajar agama itu harusnya ditafsirkan sesuai tuntutan kekinian agar menjadi kontekstual: menghunjam kepada problematika hidup manusia. Pada abad pertama dan kedua agama kristen dirasakan sebagai jalan pembebasan dari ketertindasan di zaman itu. Demikian juga, pada abad-abad keenam dan ketujuh agama Islam menjadi ladang subur kebebasan manusia secara otentik. Layaklah kita pertanyakan sekarang, apakah pembebasan itu masih terasa hingga saat ini? Bukankah sekarang terlihat bahwa keberadaan agama itu tak lebih dari sekadar pembatasan dan pengkotak-kotakan?

Mungkin bukan agamanya yang salah, akan tetapi penafsiran terhadap ajaran agama itu yang sudah kedaluarsa. Ahmad wahib memjawab, tak ada hukum yang melepaskan diri dari perkembangan masyarakat tempat hukum itu mau dilaksanakan bila hukum bertujuan untuk mengatur dan menyejahterakan masyarakat. Jadi bukan agama yang menyesuaikan diri, tapi fiqh (h. 59)

Bila agama ingin membebaskan manusia dari kemiskinan, ketertindasan, dan kejahatan maka jalan pembebasan yang harus ditempuh adalah pemahaman yang benar terhadap pesan-pesan sumber ajaran agama. Kalau kita sudah menerima untuk tidak menganut Quran dan Hadist secara letterlijk maka itu berarti kita sudah tidak puas terhadap ungkapan lahiriah dalam kalimat Quran dan hadist tersebut (hal.45). Teks kitab suci 'hadir' pada zaman tertentu, dalam kondisi dan keprihatinan sosial tertentu untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan tuntutan situasional saat itu. Maka, pembaca Al-Quran perlu membaca, menafsir dan mengejawantahkannya agar relevan untuk zaman ini (Shihab, 2001, h.244-250). Nilai-nilai Al-Quran dan hadist itu tetap, sedangkan pengejawantahannya terus berkembang kondisional. Ungkapan yang sudah tak relevan perlu ditinggalkan, karena sifatnya memang lokal dan remanen.

Kalau demikian, mengapa kita masih takut atau ragu-ragu untuk dengan tegas berusaha mencari ungkapan-ungkapan lahiriah yang baru dan relevan dengan gambaran dunia dan manusia zaman ini? (h.130). Misalnya tentang dikotomi halal-haram, kafir-sejati, harus sesuai konteks saat ini penafsirannya. Wahib menambahkan, saya pikir, yang kita tuntut bukan sekedar reinterpretasi, tapi suatu transformasi ide-ide Islam pada zaman yang sedang berjalan (hal.49). Itulah hermeneutika, penafsiran terhadap sumber ajaran Islam - dan agama lain dengan sumber ajarannya – setinggi dan setajam mungkin sekaligus real dan dapat dipahami. Hal penafsiran itu menjadi pokok yang tidak terelakkan untuk eksistensi agama itu sendiri. Sehingga ide-ide kitab suci itu tertransformasi kepada pemeluknya: menjadi Quran-Quran hidup, alkitab-alkitab hidup dan membahagiakan sesama.

Itulah tujuan penafsiran ajaran agama yang kontekstual: agar ajaran agama itu bukan untuk merendahkan martabat manusia, melainkan harus mengangkat martabat manusia ke tingkat yang lebih luhur. Makin terangkat dari keterpurukan yang dialami dalam situasi sosial yang sekarang terjadi.
***

Refleksi bertuhan dan beragama Ahmad Ahwib dalam "Catatan Harian" yang kontroversial ini masih aktual untuk kondisi religiusitas kita, yang terasa memuakkan belakangan ini. Berani berpikir merdeka untuk memerdekakan diri. Sehingga beragama menjadi kerinduan untuk mendekat kepada Tuhan: di mana hati terarah ke surga dan kedua kaki tetap berpijak di bumi. Agar agama itu tidak menjadi sesuatu yang entah karena makin miskinnya sumbangannya kepada kemanusiaan. Agar keberadaan agama itu dirasakan kembali manfaatnya menjadi ladang subur bibit-bibit spritualitas hidup. Agar pemeluknya menjadi manusia-manusia merdeka yang otentik dan utuh sebagai mahluk rasional.

Saya tergugah untuk menuliskan pemikiran Ahmad Wahib ini, karena semakin maraknya pemeluk agama yang tidak bisa berpikir dalam beragama akhir-akhir ini. Selain itu, filsafat ketuhanan Ahmad Wahib bersifat universal, berlaku bagi siapa saja, bagi muslim dan non-muslim. Dan memang, Pluralitas agama itu sudah jadi keniscayaan, apalagi ditengah kehidupan bernegara kita yang mengakui kebebasan beragama. Bahwa pluralitas itu bukan jadi penghalang bagi hidup justru diharapkan bahwa keyakinan hidup dan jati diri seseorang makin diteguhkan. Sejalan dengan para pemikir besar seperti Kung, Dannah Zohar, Whitehead sampai Kristeva menyakini: semakin intens kita berhubungan dengan ‘yang lain’, semakin kita bertumbuh menjadi diri sendiri. Semakin kita bergaul dengan mereka yang memiliki agama lain, (mestinya) semakin dalam kita memahami keunikan agama kita. Dan dengan itu, semakin bebas dan rileks pula kita bergaul dan menghargai agama lain.***

Mari beragama dengan berpikir merdeka!


Sumber utama:
Wahib, Ahmad, Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib, LP3ES dan Freedom Institute, Jakarta 2003

Sumber Tambahan:
Leahy, Louis, Filsafat Ketuhanan Kontemporer, Kanisius, Yogyakarta, 1993.
Shihab, Alwi, Islam Inklusif: Menuju Sikap Terbuka Dalam Beragama, Mizan, Bandung, 2001
Widhiwiryawan, Alfonsus, Pemikiran Filosofis-Kontekstual Tentang Ketuhanan Ahmad Wahib, Dalam Jurnal Filsafat Driyarkara Tahun XXVII no.2, Jakarta, 2004.
Profile Image for Johan Radzi.
138 reviews197 followers
February 17, 2013
Kawanku bimbang apabila dia membaca serpihan daripada buku ini. Dia memandangku dengan wajah yang menyimpan ribuan persoalan dan bertanya, "Mengapa kau baca buku ni? Dia ada cakap pasal ragu-ragu, kau tak takut hilang akidah?"

Kepada ini, aku tersenyum. Aku tersenyum bukan tersenyum sinis mahu menyindir, tetapi aku buntu mahu beritahu apa kepada kawanku yang tidak pernah terdedah dengan apa-apa yang bersifat ilmiah ini. Hidupnya hanya disebalik dinding-dinding masjid dan disulami bunyi-bunyi bacaan Al-Quran serta syarahan ustaz-ustaz selebriti.

Aku cuma menjawab, "Kau baca sajalah, kawan. Nanti kau tahu." Tetapi dia tidak pernah mengambil usaha untuk membeleknya. Barangkali dia terlalu takut.

Ahmad Wahib bersifat jujur menerusi catatan hariannya ini. Beliau merakamkan kegelisahannya mengenai masyarakat dan islam dengan begitu berkesan tanpa berlaku sebarang nilai ganda (double standards) yang kita sering nampak dibuku-buku kontemporari. Ahmad Wahib cuba menyelesaikan permasalahan-permasalahan ini melalui pemikiran dan kaedah sains yang menyeluruh, dengan berpokok pada satu tunjang utama: yakni berfikir.

Catatannya terasa begitu dekat dengan hati. Barangkali kerana kami pernah berkongsi rasa dan kegelisan yang sama, mengenai hal-hal yang tidak perlu kita menjadi hipokrit dengan menidakkan. Ini adalah sebuah buku yang harus dibaca oleh orang-orang islam yang mahu mencari jawapan alternatif pada kegelisahan-kegelisahan yang merenggut masyarakat kita pada hari ini.
Profile Image for Nawasandi.
113 reviews9 followers
May 13, 2009
Oleh : Asep Sopyan*

Pemikir bebas itu telah pergi 32 tahun lalu (31 Maret 1973), hampir 31 tahun setelah ia datang (9 Nopember 1942). Dalam pencariannya yang penuh haru untuk menemukan Tuhan, akhirnya ia dipanggil oleh-Nya dengan segera, tanpa disengaja saat sebuah sepeda motor berkecepatan tinggi menabraknya di depan kantor majalah Tempo, tempat di mana ia bekerja sebagai calon reporter.

Kepada kita, Wahib mewariskan sekumpulan catatan harian yang kemudian dibukukan dengan judul menggugah, Pergolakan Pemikiran Islam (LP3ES, 1981). Apa yang dimaksud judul buku itu sebenarnya lebih merupakan pergolakan batinnya sendiri yang selalu gelisah; gelisah sebagai seorang muda yang nasibnya tak kunjung cerah, dan terutama gelisah sebagai seorang manusia yang rindu akan Kebenaran, ketimbang pergolakan pemikiran Islam secara umum.

Inti Gagasan Pembaruan Wahib

Beragam persoalan yang diungkapkan Wahib dalam buku tersebut, menunjukkan minatnya yang luas terhadap berbagai bidang. Oleh Djohan Effendy, kawan terdekat sekaligus editor buku, persoalan itu dibagi ke dalam empat bagian: masalah keagamaan yang menempati porsi terbesar, soal politik dan budaya, dunia kemahasiswaan dan keilmuan, dan soal-soal yang menyangkut kehidupan pribadi. Di sini akan disinggung sekilas tema-tema pemikirannya yang saya anggap penting.

Kritik terhadap umat Islam

Di bagian awal buku, Wahib mengungkapkan kekecewaannya akan kondisi umat Islam saat itu, yang menurutnya belum mampu menerjemahkan kebenaran Islam dalam suatu program pencapaian (PPI, 18). Antara cita dan kenyataan masih jauh jaraknya.

Dalam pandangan Wahib, agama (Islam) telah kehilangan daya serap dalam masalah-masalah dunia, dus terpisahnya agama dari masalah dunia. Jadi tanpa disadari, umat Islam telah menganut sekularisme, meskipun dengan lantang sering menentang sekularisme (PPI, 37).

Kekecewaan Wahib juga diarahkannya pada organisasi-organisasi Islam. Apalagi tantangan pertama terhadap gagasan-gagasannya justru berasal dari kalangan HMI, sebuah organisasi yang menghimpun mahasiswa Islam, dari mana dia memulai pembaruannya. HMI saat itu masih belum bisa melepaskan ketergantungan baik secara emosional maupun politis dengan tokoh-tokoh Masyumi. Partai politik yang pernah dibekukan Soekarno itu, bersama Muhammadiyah, kerap menjadi sasaran utama kritik Wahib. Perjuangan politik Masyumi, menurutnya, terlalu yuridis-formalistis, hanya berkutat pada aspek-aspek lahiriah dari ajaran Islam.

Senafas dengan itu, ia juga menilai Muhammadiyah telah berhenti sebagai
organisasi pembaharu karena tidak lagi gelisah dan merasa cukup puas dengan ide-ide yang sudah ada. Muhammadiyah telah kehilangan élan vital pembaruannya, yakni kemauan untuk mencari dan bertanya, mengkritik diri, dan tidak terdapat lagi benturan ide-ide yang intensif di dalamnya.

Wahib justru lebih menghargai NU yang menurutnya lebih apresiatif terhadap kebudayaan, terbuka terhadap perubahan (change) dan penuh dengan inovasi-inovasi kultural. Hal ini, andaikata dilambari dengan sikap demokratis, jujur dan berwatak, dapat diperkirakan masa depan NU akan jauh lebih cemerlang daripada Muhammadiyah yang cenderung anti-kebudayaan. Kritiknya terhadap NU adalah kurangnya apresiasi ulama-ulamanya terhadap ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan modern, yang membuatnya gagap terhadap perubahan.

Kebebasan Berpikir

Atas kondisi-kondisi yang ada pada umat dan organisasi-organisasi Islam itu, Wahib menyerukan pentingnya pembaharuan. Dan itu harus dimulai dari kebebasan berpikir. Kebebasan berpikir bukan saja hak, melainkan kewajiban. Bagi Wahib, orang yang berpikir itu, meskipun hasilnya salah, masih jauh lebih baik daripada orang-orang yang tidak pernah salah karena tidak pernah berpikir. Ia yakin bahwa Tuhan tidak membatasi, malah Tuhan akan bangga dengan otaknya yang selalu bertanya tentang Dia. Oleh karena itu Wahib heran dengan orang yang tidak mau menggunakan pikirannya, atau yang menyarankan agar dia berpikir dalam batas-batas tauhid, sebagai konklusi globalitas ajaran Islam. Aneh, tulisnya, mengapa berpikir hendak dibatasi. Apakah Tuhan takut terhadap rasio yang diciptakan oleh Tuhan sendiri? Tuhan bukanlah daerah terlarang bagi pemikiran. Tuhan itu segar, hidup, tidak beku. Dia tak akan mau dibekukan (PPI, 23).

Sumber Islam dan Sejarah Muhammad

Meskipun sangat mempercayai kekuatan akal, Wahib tidak setuju kalau akal dijadikan sebagai sumber Islam. Sumber Islam itu dua, Alquran dan Sunnah. Akal adalah alat untuk menggali kedua sumber itu. Tidak proporsional kalau akal dijadikan sumber. Logikanya, akal itu macam-macam, tiap orang berbeda-beda, maka sumber pun macam-macam pula (PPI, 23). Namun pada catatannya kemudian, Wahib menyatakan bahwa sumber Islam adalah Sejarah Muhammad. Alquran dan Sunnah hanyalah sebagian sumber saja dari Sejarah Muhammad. Sumber lainnya dari Sejarah Muhammad adalah kondisi sosial, yakni struktur masyarakat waktu itu, kebudayaannya, struktur ekonominya, pola pemerintahannya, hubungan luar negerinya, adat istiadanya, iklimnya, pribadi Muhammad, pribadi sahabat-sahabatnya, dan lain-lainnya (PPI, 110). Tampaknya ini merupakan perkembangan lebih lanjut dari pemikirannya yang belum selesai, dan, oleh karena itu, merupakan yang paling susah dipahami. Pantaslah jika pemikiran tersebut tidak disetujui seorang pun yang hadir dalam sebuah diskusi di rumah Dawam Rahardjo, yaitu Nurcholish, Djohan, Usep, dan Utomo, dan Dawam sendiri.

Ijtihad dan Transformasi

Bentuk nyata berpikir bebas diwujudkan dalam ijtihad. Ijtihad merupakan usaha untuk menyusun konsepsi Islam tentang masalah keagamaan (akidah, ibadah, akhlak, dan khilafah), dan usaha untuk menjawab persoalan-persoalan kemanusiaan dengan berpegang pada konsepsi Islam di atas. Dalam menafsirkan ayat-ayat Alquran, Wahib menekankan pentingnya memahami semangat jaman atau konteks ketika suatu ayat turun (asbabun nuzul). Dengan demikian, kita tidak akan memaknai ayat secara harfiah, melainkan didasarkan pada konteksnya di jaman Nabi, dan disesuaikan dengan kondisi saat ini.

Untuk menjawab persoalan umat, yang dibutuhkan bukanlah sekadar re-interpretasi ajaran Islam, melainkan transformasi ide-ide Islam pada jaman yang sedang berjalan (PPI, 69). Transformasi melepaskan kita dari kungkungan teks yang statis menuju sumber lain yang lebih dinamis, yakni kondisi sosial. Lebih jauh, Wahib membuat tesis, karena nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat itu berkembang, seharusnyalah hukum-hukum Islam itu berkembang pula.

Konsep ini mempunyai konsekuensi besar terhadap berbagai hal, misalnya pada perumusan fikih. Fikih, menurut Wahib, merupakan hasil sekularisasi ajaran Islam di suatu tempat dan waktu (PPI, 58). Apa yang dilakukan Nabi adalah fikih pada masanya, dan ini bisa jadi berbeda dengan fikih yang kita terapkan saat ini.

Misalnya Nabi menerapkan bentuk negara teokrasi, itu memang sesuai dengan jamannya. Apakah kita sekarang hendak menerapkan teokrasi, demokrasi, atau bentuk negara lain, sifatnya kondisional. Yang jelas, dalam hal hubungan Islam dan negara, Islam hanya menyediakan nilai-nilai dasar. Kitalah yang menentukan penerapan nilai-nilai itu dalam bentuk apa.

Politik, Budaya, dan Pribadi\

Keluasan minat dan pandangan Wahib kian terlihat jelas ketika ia menyoroti masalah politik dan budaya. Greg Barton, dalam buku Gagasan Islam Liberal di Indonesia (Paramadina, 1999, hal. 288), meringkas pikiran-pikiran ensiklopedis Wahib ini dalam satu paragraf panjang:
“Di bagian ini Ahmad Wahib menanggapi isu-isu militer dalam kehidupan Indonesia serta kebutuhan responsi pragmatik untuk hal itu, peran dan potensi Pancasila, kebutuhan masyarakat Indonesia untuk menginternalisasi prinsip-prinsip prinsip-prinsip demokratis dan problem-problem nasionalisme etnik. Ia menyentuh dan berulang-ulang menyoroti tema intelektual serta peran mereka dalam masyarakat, menjelaskan perbedaan antara intelektual dan teknokrat, pemikir dan ilmuwan, lalu mendiskusikan peran perubahan mereka dalam konteks sejarah singkat Indonesia, serta mengupas prospek masa depan mereka. Ia pun memperhitungkan kontribusi seni, sastra, dan seniman bagi hidup serta jiwa juga kelemahan-kelemahan santri yang menentang kelompok-kelompok agama lain. Ia mencari saat-saat ras tidak lagi menjadi isu dan mempertanyakan tabiat partisan nasionalisme Indonesia. Ia mendiskusikan sebab-sebab serta alasan hegemoni kultur Jawa. Ia menulis panjang tentang Pemilu 1971 dan tabiat politik Indonesia. Ia mengkaji ABRI dan Golkar dan perilaku kekuasaan. Ia menatap kaum muda sambil mempertimbangkan peran partai-partai oposisi. Ia menertawakan birokrat. Ia memperjuangkan hak-hak asasi manusia. Ia berpikir dan berpikir bebas.”

Tidak banyak pemikir Islam yang menaruh minat pada banyak hal sekaligus, tanpa kehilangan kedalaman dan orisinalitas. Dalam hal ini, mungkin hanya Abdurahman Wahid yang bisa melebihinya. Nurcholish Madjid sendiri, menurut saya, tidak seluas Wahib rentangan pemikirannya, terutama karena Nurcholish tidak tertarik dengan seni dan sastra dan karenanya jarang bicara soal-soal kebudayaan. Tetapi tentu bukan di sini tempatnya untuk menjabarkan secara rinci pandangan-pandangan Wahib tentang aneka ragam soal itu.

Lepas dari semua atribut kehebatan itu, Wahib tetaplah seorang manusia yang tak luput dari keterbatasan. Obsesinya yang melangit, cita-citanya yang mengangkasa, seolah tidak berbanding lurus dengan kehidupannya sehari-hari sebagai pribadi: pekerjaan yang tidak tetap, kehidupan cinta yang tidak jelas, dan masa depan yang belum pasti. Wahib sendiri berulang-ulang mengeluhkan keadaan ini di catatan-catatannya yang menyangkut kehidupan pribadi. Keadaan sebenarnya tentu lebih lengkap dari sekadar yang dapat dibaca dalam PPI, yang atas pertimbangan-petimbangan tertentu tidak dimasukkan oleh Djohan Effendy selaku editor.

Posisi Wahib dalam Pembaruan Pemikiran Islam

Buku Pergolakan Pemikiran Islam diterbitkan pada tahun 1981, delapan tahun setelah kematiannya. Meskipun semasa hidupnya Wahib sering menganjurkan pembaruan Islam, namun pemikiran genuinnya baru diketahui oleh teman-teman diskusinya saja seperti Djohan Effendy, Dawam Rahardjo, Syu’bah Asa, dan Nurcholish Madjid, serta paling banter oleh para aktivis HMI Jateng. Posisinya dalam kelompok pembaruan, menurut Djohan Effendy, “lebih merupakan ‘orang belakang layar’ atau ‘actor intellectualist’, tak begitu dikenal umum” (PPI, 13). Karena ia memulai pembaruannya dari tubuh HMI, maka waktu itu fungsionaris HMI-lah yang lebih dikenal. Lebih lanjut, dalam pengantar buku PPI itu Djohan juga menyayangkan terlupakannya nama Ahmad Wahib dalam tulisan dua sarjana luar negeri, yakni Prof. Bolland dari Belanda dan Dr. Kamal Hassan dari Malaysia, yang meneliti gerakan pembaharuan Islam di Indonesia (PPI, 13).

Oleh karena itu cukup wajar jika dikatakan bahwa Wahib menjadi besar justru setelah ia meninggal. Ia mati, sudah itu berarti. Kita bisa berandai-andai apa saja mengenai nasib Wahib seandainya ia hidup lebih lama. Mungkin namanya akan tenggelam karena idealismenya terbentur kenyataan, karena bakat intelektual dan kerja kerasnya tak cukup kuat untuk melesatkannya ke garda depan; atau boleh jadi ia akan lebih besar dari yang diperolehnya sekarang, lebih terkenal dan lebih berpengaruh, bahkan dibanding Nurcholish Madjid. Apapun itu, yang terjadi adalah: ia berpikir, ia menulis, ia mati; ia sempat dilupakan, dan tiba-tiba ia menghentak dunia Islam Indonesia begitu catatan hariannya diterbitkan.

Ia pun dikenal banyak orang. Namanya sering dibicarakan. Pemikirannya kerap jadi kutipan. Dan kegelisahannya yang khas dalam menempuh jalan kebenaran banyak dijadikan model oleh anak-anak muda Islam.

Ini menunjukkan bahwa sebesar atau sekecil apapun, Ahmad Wahib, bersama Nurcholish Madjid, Djohan Effendy, Abdurahman Wahid, dan lain-lain,telah
menorehkan jejak dalam pemikiran Islam Indonesia, khususnya dalam suatu corak pemikiran yang akhir-akhir ini diidentifikasi sebagai “Islam liberal”. Wahib telah ikut melapangkan jalan bagi dakwah liberalisme Islam di Indonesia. Buahnya kini dapat dinikmati kaum liberal dengan adanya berbagai kemudahan menyampaikan pendapat, termasuk mendirikan organisasi.

Banyak hal yang ditinggalkan Wahib, sebagian besar belum selesai, untuk kita pikirkan dan tanyakan kembali. Sekadar kesimpulan, saya kira sumbangan terbesar Wahib bagi pembaruan pemikiran Islam bukanlah pada kebenaran gagasan-gagasannya, karena untuk itu ia tak diberi banyak waktu untuk melengkapi pemikirannya dengan argumen-argumen yang komprehensif dan sistematis. Dalam hal ini Nurcholish Madjid dan Abdurahman Wahib telah menggantikan perannya secara lebih baik.

Sumbangan Wahib paling berharga justru terletak pada pertanyaan-pertanyaannya, yang diliputi semangat dan spirit yang gigih dalam mencari Kebenaran.

Akhirul kalam, pergulatan Wahib yang tanpa lelah mengingatkan kita akan satu prinsip hidup mahapenting: kejujuran, (meminjam Pram dalam Bumi Manusia) sejak dalam pikiran. Ia sendiri telah mengamalkannya secara konsisten lewat praktek berpikir bebas. Ia emoh jadi orang munafik, sok suci dan semacamnya. Ia benci pada pikiran-pikiran munafik, yaitu pikiran-pikiran yang tidak berani memikirkan yang timbul dalam pikirannya, atau pikiran-pikiran yang pura-pura tidak tahu akan pikirannya sendiri (PPI, 31). Sebab hanya dengan kejujuran, dengan berpikir bebas, kita akan menemukan diri kita yang sebenarnya, menjadi sepenuh manusia, yang kreatif. Otentik. [:]

* Penulis adalah Nominator Ahmad Wahib Award 2003, aktivis HMI Cabang Ciputat.
Profile Image for CuT ALma.
31 reviews3 followers
September 24, 2007
Inspiring..
buku ini banyak memberikan inspirasi ke gw. untuk berfikir, bertindak, dan memutuskan.
Ahmad wahib - salah satu inspirator gw, sejak jaman kuliah dulu.
Sekarang buku ini langka banget... ada yang mau ngasih tau dimana bisa ditemuin ga?
Profile Image for Fia Senja Membiru.
4 reviews3 followers
November 26, 2013
Ketika saya membaca buku ini, saya merasa figur Ahmad Wahib adalah figur Hok-gie versi religius.
Profile Image for Tidak Selain Buku.
7 reviews4 followers
March 26, 2015
"Dengan umat Islam sendiri kaum terpelajar Muslim kurang komunikasi dan fikiran-fikiran mereka kurang difahami. Akibatnya, tetaplah umat Islam dalam keadaan tak terbimbing, menjadi stereotaip dan makin reaktif. Tak jarang terjadi, kaum terpelajar Muslim lantas terbawa oleh ‘semangat’ massa atau pendapat kaum awam. Golongan lain dengan kuat dikritik, tapi golongan sendiri langsung tak disentuh. Angkatan muda Islam, golongan yang darinya diharapkan lahir tenaga-tenaga intelektual Muslim, ternyata sangat mengecewakan. Angkatan muda Islam kini merupakan angkatan yang terlambat lahir. Mereka tidak ‘bicara’ dan tidak ‘hadir’ di banyak bidang. Untuk memperbaiki situasi ini maka harus ada pembinaan suatu lapisan budaya baru dalam golongan Islam untuk membawa kesegaran, meningkatkan 'level of political culture’ golongan Islam. The best educated kaum muda yang berbudaya tinggi ini akan merupakan creative minority yang pada gilirannya akan melepaskan umat Islam dari kebekuan." (Wahib 2007: 188-189)

Sebelum mengulas mengenai kandungan buku Pergolakan Pemikiran Islam yang ditulis oleh Ahmad Wahib, menjadi kebiasaan saya melihat latar belakang dan konteks semasa penulisan dibuat. Hal demikian kerana, pemikiran-pemikiran penulis selalunya dipengaruhi oleh latar belakang masa, tempat dan keadaan seperti mana terhasilnya Das Kapital dan The Communist Manifesto. Karl Marx menghasilkan karya besar tersebut semasa berada pada era penindasan kelompok borjuis terhadap golongan proletar dari sudut ekonomi.

Catatan harian Ahmad Wahib ini ditulis sekitar tahun 1960-an dan Indonesia pada waktu tersebut berada di bawah pemerintahan tentera yang dipimpin oleh Soekarno. Tambahan pula, penulis berada pada fasa transisi antara dunia mahasiswa dan massa. Perubahan pemikiran jelas kelihatan berlaku hasil daripada proses transisi dan kekangan terhadap pemikiran-pemikiran asing dalam landskap politik semasa Indonesia.

Berpindah kepada isi catatan harian yang terbahagi kepada tiga tema iaitu masalah keagamaan, politik dan budaya serta kemahasiswaan dan keilmuan, Wahib banyak menimbulkan persoalan-persoalan yang sengaja dibiarkan tergantung tanpa jawapan. Persoalan dan kenyataan yang ditimbulkan di bahagian masalah keagamaan kadang-kadang kelihatan keterlaluan bagi norma berfikir individu Muslim.

Antaranya idea-idea pluralisme yang terhasil daripada proses interaksi seharian penulis dengan kelompok penganut Kristian. Dakwaan bahawa tidak ada konsepsi dalam Islam dan Allah menurunkan wahyu juga kepada diri kita di samping wahyu terbesar berupa Al-Quran kepada Muhammad ﷺ. Dakwaan sebegini memerlukan huraian dan penjelasan yang hanya boleh didapati daripada penulis itu sendiri.

Seperti juga apabila dia menyentuh mengenai konsep sekularisme-sekularisasi. Ajaran Islam difahami sebagai berbeza dengan sistem sosial yang di mana ajaran Islam merupakan wahyu Allah yang sudah tetap dan sistem sosial berada dalam daerah kekuasaan manusia.

Saya juga tertarik amat tertarik dengan untaian kata pada kulit buku catatan harian Wahib ini yang berbunyi “Tuhan bukanlah daerah terlarang bagi pemikiran,” yang diambil dari halaman 7. Sesungguhnya dalam situasi ribut hudud dan banjir liberalisme pastinya makalah harian ini amat mudah jatuh dalam stereotaip yang dilabel bahan liberal agama.

Bagaimanapun, pada saya “quotes” sebegini menjadi begitu “intriguing” untuk saya memamah isi kandungannya. Lalu saya putuskan untuk membiarkan akal saya yang penakut ini mengembara dalam ikhtiar menjawab masalah keagamaan. Hasilnya, nah biar saya kemukakan satu-persatu. Julungnya, saya amat bersetuju dengan sikap skeptikal Wahib terhadap apa itu Tuhan, bertuhan dan ketuhanan.

Sama seperti konsep berfikir kita tentang agama, beragama dan amalan agama. Konsep-konsep ini yang seputar kehidupan harian kita terus menerus dicabul definisi, makna dan pemaknaannya bagi maksud setiap frasanya hingga akal yang sihat kita jadi beku untuk berfikir tentang agama lantas menganut agama hanya seperti kita melanggan budaya.

Bagaimana cara dewasa makan, begitu juga cara kita makan, nah bukankah ini sama seperti bagaimana kita memahami konsep tuhan, bertuhan dan ketuhanan itu sepertinya menurut agamawan atau intelektual Islam yang punya nafsu egoistik dan akal apologetik bagi setiap interpretasi teks sakral oleh golongan ini?

Justeru memungkinkan wujudnya ruang Islam menjadi jelik dan emosional dengan kebenaran yang selalu didakwa tapi tak punya bukti kukuhnya. Wahib punya nafsu berfikir dan bertanya. Dia malah berani kalau dimarahi Tuhan sekalipun. Justeru, adakah tuhan benar-benar marah jika berfikir itu salah sedang akal yang bebas dikurniai Tuhan?

Wahib juga menentang keras unjuran bahawa akal punya batas untuk fikir tentang tuhan yang sering dicanangkan lantas menimbulkan sikap percaya tuhan yang penuh kepura-puraan? Persoalan Wahib ini juga bukan suatu yang bid'ah bila diselak lembaran teks sakral Quran yang menyebut kisah Ibrahim mempersoalkan kemampuan Tuhan untuk menghidupkan semula makhluk yang mati.

Nah, apakah Ibrahim itu kufur bila berfikir? Bahkan, ukuran akhir keimanan itu adalah hati nurani setelah pertimbangan terhadap pendapat-pendapat, kepentingan-kepentingan, cita-cita orang lain dan kelompok sosial di sekeliling (Wahib 2007; 160).

Frasa-frasa Wahib yang mengutarakan pandangan bahawa agama itu perlu diberi bentuk tetapi bentuk itu sendiri bukan agama telah menyentak kerangka berfikir saya tentang struktur-struktur Islam yang ada pada masa kini e.g. ekonomi Islam, perbankan Islam undang-undang Islam yang terkaut kemas dalam paradigma fikiran saya selama ini.

Betapa Wahib benar dalam menjustifikasikan hal ini di mana selama ini betapa kita telah mengidentifikasikan Islam dengan benda-benda yang bersifat fana’ sedang Islam dan Tuhan tidak pernah benar jika ditempel pada ruang dan waktu. Jika hal itu berlaku, bagaimana pula Tuhan itu dikata bersifat kekal? Justeru, jelas manipulasi kata nama sakral ini sedang dilelong dan dijual secara borong oleh kapitalis agama dan politikus yang penuh serakah dengan kuasa.

Usaha Wahib membuat renungan perkara-perkara ini bukan satu usaha mudah, justeru kembali kepada akal kita untuk berfikir. Wahib sendiri tidak pernah memberi jawapan. Justeru segala tuduhan dan stereotaip yang dilemparkan pada catatan harian ini tidak absah lantaran tuduhan dibuat tanpa sebarang sabit kesalahan. Perkara lain yang dicatat Wahib yang saya tertarik untuk mengupas adalah isu Islamologi.

Kritikan Wahib terhadap ilmu bidang agama yang belum lagi memenuhi syarat untuk disebut ilmu. Persoalan berat ini ditanggapi Wahib dengan tiga syarat yang perlu ada untuk menjadi ‘ilmu’ iaitu; a) objektif; b)sistematik; c) metodologi. Justeru apakah sudah ada dalam ilmu tafsir dan kalam itu syarat-syarat ini?

Saya menanggapi persoalan ini dengan berdasarkan fenomena kajian yang dibuat oleh para pelajar Islam dari fakulti pengajian Islam itu sendiri sebenarnya telah menggunakan metode ilmu liberal dalam menghasilkan kajian agama. Ini sekali gus menjawab persoalan mengapa keluasan ruang ijtihad yang wujud dulu terbatas. Begitu juga subjek-subjek Islam difahami secara linear atas garisan sejarah.

Justeru, bagaimana Islam itu mampu berdiri kukuh sebagai ilmu yang bebas dan bisa memerintah andai peminjaman sebegini terus menerus berlaku? Wahib berhujah bahawa Muslim masih kurang orang yang mahu mengabdikan hidupnya secara atau hampir sepenuhnya pada tugas pembangunan ilmu tersebut hingga dunia Islam ini penuh dengan orang yang kaya pengetahuan tapi tidak sekali gus kaya ilmu.

Manakala, di bahagian politik dan kebudayaan, Wahib sentiasa berada di posisi kontradiksi daripada tipikal pemikiran kelompok HMI dan aliran pemikiran semasa. Keadaan ini mengingatkan saya kepada ahli-ahli falsafah lain yang sentiasa sahaja berkontradiksi dengan aliran pemikiran semasa. Dan seperti biasa, hanya mereka yang berada dalam posisi berlainan merasakan kontradiksi itu satu keperluan bagi menjustifikasikan tindakan yang diambil.

Wahib berpendapat penyesuaian-penyesuaian yang dilahirkan kini pada gilirannya nanti akan melahirkan kontradiksi-kontradiksi baru dan untuk itu harus ada penyesuaian-penyesuaian baru lagi. Saya memanggil proses ini sebagai proses equilibrium – satu proses mencapai keseimbangan yang tidak mahu tidak akan berlaku secara sunnatullah.

Disebabkan Wahib lebih banyak mengutarakan persoalan-persoalan yang dihadapi hasil wacana yang dilalui berbanding jawapan, jadi sehingga ke akhir pembacaan, saya tidak tahu pendirian Wahib bagi sesetengah isu. Namun, perbincangan bersama Ustaz Wan Ji banyak mencerahkan beberapa kekeliruan yang wujud terutamanya pada bahagian masalah keagamaan. Tambahan pula, isu perbincangan lebih banyak berkisar topik masalah keagamaan berbanding politik dan kebudayaan serta kemahasiswaan dan keilmuan.

Namun, apa yang saya dapat rumuskan hasil daripada pembacaan dan bedah buku yang dibuat ialah, Wahib melalui penulisannya, berusaha membiarkan akal fikirannya menerawang ke segenap sudut isu-isu di sekeliling yang mampu ditanggapi sehingga timbul persoalan-persoalan yang saya kira terhasil dalam batas pemikiran seorang Wahib yang tidak akan lari dari dipengaruhi oleh latar belakang sosial, pendidikan dan kepentingan.

Disediakan oleh:
1- Nurhidayu Rosli (Calon PhD - Sains Politik)
2- Aisyah Jaafar (Calon PhD - Sosiologi)
Profile Image for Luthfi Ferizqi.
456 reviews14 followers
dnf
March 26, 2024
Sudah baca hampir separuh tapi tetap tidak mampu untuk melanjutkan
Profile Image for Pera.
231 reviews45 followers
December 19, 2007
Salah satu buku yang sangat berpengaruh bagiku.Dua kali kubeli, dua kali pula harus kehilangan hiks...
hopely...LP3ES mencetak ulang lagi dan lagi.

kalau ada yang mengharamkan buku ini...rugi banget deh. karena dia membunuh kesempatan dirinya sendiri untuk belajar berfikir secara bebas. karena berfikir lah satu-satunya modal agar dekat pada wahyu Ilahi.
Yup...bebas berfikir itulah point utama yang kudapat dari buku ini.

Membacanya seperti merefresh pemikiran masa kecil kita dulu, ketika kita masih kritis bertanya, apa itu Tuhan, apa itu Islam , dst...dan usai membacanya kita akan terheran2 kenapa pemikiran2 masa kecil itu harus dipaksa mati dengan doktrin.

Jamin buku ini tidak membosankan tapi memberikan pencerahan. Jangan lihat dari percakapan Wahib pada tuhan dan organisasi, tapi pada keberaniannya membebaskan dirinya untuk berfikir.

Buku ini the most have to read.

Tuhan, bisakah aku menerima hukum-Mu tanpa meragukannya lebih dahulu? Karena itu Tuhan, maklumilah lebih dulu bila aku masih ragu akan kebenaran hukum-hukum-Mu. Jika Engkau tak suka hal itu, berilah aku pengertian-pengertian sehingga keraguan itu hilang. Tuhan, murkakah Engkau bila aku berbicara dengan hati dan otak yang bebas, hati dan otak sendiri yang telah Engkau berikan kpadaku dengan kemampuan bebasnya sekali ? Tuhan, aku ingin bertanya pada Engkau dalam suasana bebas. Aku percaya, Engkau tidak hanya benci pada ucapan-ucapan yang munafik, tapi juga benci pada pikiran-pikiran yang munafik, yaitu pikiran-pikiran yang tidak berani memikirkan yang timbul dalam pikirannya, atau pikiran yang pura-pura tidak tahu akan pikirannya sendiri ( Catatan Harian 9 Juni 1969)
Profile Image for erry.
120 reviews76 followers
June 11, 2008
Achmad wahib adalah sosok pemikir muda, aktifis, cendekia yang selalu bersikap kritis. Ini bukanlah sebuah catatan harian biasa. disini tertulis pandangannya yg kritis tentang bangsa, negara, pergerakan hingga dunia. pun tercantum kisah cintanya sebagai jiwa muda.

sebagai seorang aktifis hmi ia juga mengkritisi organisasi tempatnya bergabung. kekecewaannya terhadap sesama aktifis, kekecewaannya terhadap sifat oportunis dan kekecewaannya terhadap kemandulan skeptis di tubuh organisasi ini membuatnya keluar dari hmi.

walaupun buku ini ditulis di jaman yang berbeda, selang beberapa dekade dari sekarang. tetap saja, buah pikirannya masih cocok untuk situasi sekarang. dan saya, saat membacanya masih tercantum sebagai seoarang aktifis (ciee) dan bernaung di lembaga yang ditinggalkannya. Dan gara2 terpengaruh buku ini,saya jadi bersikap lebih kritis terhadap tubuh lembaga tempat saya belajar saat itu. Dan gara2 itu pula, akhirnya saya mengikuti jejak Ahmad Wahib. Keluar, pergi daripada teracuni, walaupun tak secara resmi. Tak dapat kusangkal kalau keberadaanku disana telah memberiku banyak pelajaran dan pengalaman berharga. Tak dapat aku mengelak dari fakta kalau organisasi itu salah satu yang telah membentukku sekarang. kita memang harus selalu membuat pilihan. Walaupun terkadang itu menyakitkan.
9 reviews1 follower
July 7, 2010
Ahmad Wahib adalah seorang pemikir bebas yang di hatinya tertanam kuat iman islam. bagi beberapa orang itu adalah hal yang musykil, tapi untuk Wahib, seperti yang pernah di tulisnya.. Tuhan telah menciptakan manusia dengan akal, maka pasti Tuhan juga tidak pernah takut manusia menggunakan akalnya untuk bertanya tentang Nya. Membaca bukunya seperti di ajak menjelajah hutan perawan yang penuh pemandangan menakjubkan.

Setiap manusia pernah bertanya dalam hatinya tentang masalah-masalah "yang nyleneh". Tetapi tidak berani mengungkapkan. Saya memuji Ahmad Wahib, karena dia menyampaikan apa yang ada dalam hati secara jujur. Ini suatu keberanian. Kalau ingin membaca dengan baik, lepaslah kaca mata yang biasa kita pakai
Profile Image for Sandy Sulaiman.
3 reviews1 follower
September 2, 2008
Namanya memang tak setenar Soe Hoek Gie, tapi keduanya mempunyai nasib yang sama, yaitu :Mati Muda!Ia adalah anak muda islam yang gelisah akan realitas sosial. Bukan hanya realitas, melainkan juga Islam yang dipeluknya sejak kecil. Tercekam kesangsian, kecemasan, keraguan, dan rasa penasaran yang menggebu-gebu. Diterabasnya semua keyakinan yang sudah lapuk&lumpuh oleh tantangan2 zaman. Keimanannya berkobar-kobar, menyusuri pertanyaan2 yang tajam, menukik dan penuh bahaya, tapi JUJUR! Islam yang diyakininya membawa api yang melampaui zaman dimana ia hidup. Buku ini adalah sajian intelektual berharga, yang percaya bahwa keimanan bukan seruan, tapi sebuah pergulatan yang tak kunjung usai....
Profile Image for linschq.
60 reviews
March 1, 2013
Mencatut apa yang pernah dosen saya katakan, di Indonesia ada 3 buku harian terbaik yang layak dan kalau perlu, memang dibaca. Yang pertama ialah Soe Hok Gie, catatan seorang Demonstran; Ajib Rasidi, hidup tanpa ijazah; lalu Ahmad Wahib, pergolakan pemikiran islam.

Di sini kita akan menemukan betapa rumitnya PR yang diusulkan Wahib di dalam buku catatannya. Sebagai orang yang mengaku beragama, selayaknya juga, bisa memaknai syariat-syariat yang diwajibkan pada setiap diri manusia, kritis, bukan menelannya begitu saja.
Profile Image for Thamrong.
79 reviews22 followers
August 23, 2009
Karya Ahmad Wahib sungguh menarik. Sayang sekali dalam umur yang amat muda telah meninggalkan kita kerana kecelakaan waktu pulang dari kerja pada tahun 1973. Anak kelahiran Madura ini sungguh tinggi daya pemikiranya dalam menulis corat-corat semasa terutama kedudukkan agama Islam dikalangan warga Indonesia yang terumbang ambing dipukul arus sekularisme....Kedudukan Orde Baru setelah tumpas pengaruh kominis dll.
Profile Image for Imam.
10 reviews
September 5, 2008
Tulisan reflektif pertama yang saya baca. Membaca buku ini seperti mengintip relung kegelisahan seseorang, mencuri diam-diam buku hariannya. Kematian tragis, skeptisme hidup, dan apologi atas perbantahan dirinya dengan Iman islam, entah mengapa mengingatkan saya tentang Kierkegaard dalam Fear and Tremble.
Profile Image for Asya Azalea.
Author 7 books14 followers
May 24, 2013
Bapakku punya buku jadul ini, tapi melarangku untuk membacanya. Semakin dilarang, aku jelas semakin penasaran. Well, buku ini menyentil sisi rohaniku sekaligus mengguggah banyak hal yang mungkin takut kupertanyakan. Recommended dibaca bukan buat gaya-gayaan, tapi buat membuka mata! :)
Profile Image for mahatmanto.
545 reviews38 followers
October 2, 2010
buku ijo kecil, sebanding sama bukunya soe hok gie. terbit dari penerbit yang sama, dalam waktu yang nisbiah bersamaan.
keduanya adalah catatan harian yang inspiratif.
Profile Image for fitrah munir.
1 review
March 31, 2011
meskipun judul buku ini seharusnya pergolakan pemikiran seorang muslim.
Profile Image for Mull Borneo.
14 reviews2 followers
August 16, 2019
Ahmad Wahib seorang wartawan dan budayawan juga seorang pemikir indonesia yang terus konsisten dalam menyumbangkan pemikiran pemikirannya untuk indonesia.

Buku ini merupakan catatan harian ahmad wahib, renungan, pemikiran tentang islam. Menurutku buku ini harus di baca oleh kaum muda khususnya kalangan mahasiswa islam untuk membangun nalar kritis, karna buku ini menawarkan pertanyaan-pertanyaan tentang hal-hal sudah di anggap selesai dalam islam, dari pemikiran tajam dan mendalam yang dilakukan oleh ahmad wahib. Yang mengajak sang pembaca untuk menjelajahi yang sudah tersedia di hadapan umat saat ini.

Ahmad wahib yang meninggal di usia muda di usia 32 tahun, tapi hasil pemikirannya banyak mempengaruhi pemikir-pemikir di indonesia. Catatan harian ahmad wahib dalam buku ini dari tahun 1969-1973 yang tertulis secara murni pyur secara jujur dari pemikirannya yang sangat kritis dan sangat dahsyat pada masa itu, dan bertanya secara tajam mengenai kebenaran islam itu sendiri.

Buku yang juga berisi pro dan kontra ini tentu banyak esensi yang bisa kita ambil pada masa sekarang ini salah satunya untuk jujur pada perasan akal dan hati untuk bersikap adil.

Buku yang cocok untuk membangun nalar kritis.
Profile Image for Haris Murshidi.
22 reviews2 followers
November 24, 2016
Sudah lebih tiga tahun lepas sejak aku beli buku ni, dan hari ni baru aku habis baca. Aku hanya baca beberapa sub tajuk waktu beli dulu. Kecenderungan waktu tu tak mendorong untuk dihabiskan buku ni. Tapi takpe lah, better late than never.

Sebagaimana Ahmad Wahib bergelut dengan perkembangan pemikirannya, begitulah aku bergelut dengan sedikit imbauan kenangan aku sendiri beberapa tahun sudah. Banyak tempat juga pemikiran Wahib yang aku kongsi persamaannya. Tidak dinafikan ada juga yang tidak aku sependapat dengannya.

Agak lama juga nak menghabiskan buku setebal 335 muka surat ni. Kerap kali juga aku berhenti seketika, termenung sendiri, tika usai membaca bahagian tertentu.

Dapat aku katakan betapa buku ini harus dibaca oleh anak muda terutama kepada mahasiswa/i. Supaya mereka dihadapkan dengan persoalan kehidupan yang akan buat mereka gelisah. Mudah-mudahan terus saja mereka keluar dari tembok kejumudan, dan terbang mencari jawapan-jawapan kepada kegelisahan jiwa dan minda.

P/s: Buku ni adalah banned book di Malaysia, aku tak tahu mudah atau tidak untuk dapatkannya sekarang.
Profile Image for Anjar Priandoyo.
312 reviews16 followers
September 23, 2018
What kind of person that wants to publish a diary of a dead person. This is a diary, a sad and tragic one, it's a love story, it's about his loneliness. His failure, drop out from Science Faculty Gadjah Mada University after 10 years in 1971. His failure, conflict of everything, resign from HMI in 21 Mei 1969. He never write about science, let say physics, chemistry or math. Instead, he chooses to join HMI, choose to be confused with his mind.

The saddest part is in part 4 of his personality. His love story is tragic: Sisca, Tika, and his Mum. His first time to Jakarta at age of 28. His first 30 birthday. This is a diary of a quarter-life crisis man, a single, that fail in his love. A tragedy. 50 years after his death people no longer writes about his opinion of social politics. He will be subject of psychological interpretation. I am really sorry Mr. Ahmad Wahib, I understand you.
Profile Image for Citra.
73 reviews1 follower
October 2, 2022
Muda & berbahaya adalah dua kata yang terlintas ketika selesai membaca buku ini. Catatan harian yang sifatnya pergumulan diri sendiri dan bersifat personal ini dijadikan buku, dan sudah sepatutnya kita juga bisa berpikira bahwa opini kita bisa saja berbeda dengan AW. Tapi, yang pasti buah pikiran AW sangat berani & ternyata sempat menjadi hal yang mengguncang Islam saat buku ini beredar. Walaupun banyak sanggahan terhadap pemikiran AW, tak menurunkan kualitas isi pikiran AW sendiri sebagai pemuda Islam.
Profile Image for Seno Guntur Pambudi.
75 reviews30 followers
October 24, 2016
Kadang kita tidak terima dikritik bila suatu sistem itu sudah terlalu "benar" menurut kita. Salah satu alasan ide-ide pembaharuan tidak bisa masuk dipikiran.

"Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan buddha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim". - Ahmad Wahib, 9 Oktober 1969
6 reviews
December 4, 2023
Menulis dengan kejujuran berfikir, terlihat jelas idealisme pemuda yang dipacu oleh kekritisan dan gejolak pemikiran yang tajam. Ahmad wahib menulis catatan harianya dengan kejernihan berfikir yang tanpa apologis, pemikiranya bebas untuk mengkritisi apapun itu. Kritiknya akan agama islam dan visi pembaharuan ditulis dalam pakem-pakem ringan dan pandangan yang berbeda dari yang lain.
Profile Image for Mochamad Luqman Hakim.
4 reviews
February 12, 2017
Seorang kawan kuliah memperkenalkan saya tentang seorang mahasiswa yang disebut "Soe Hok Gie-nya UGM" melalui buku ini. Banyak terobosan-terobosan pemikiran dalam tulisannya yang membuka pikiran saya, terutama sekali soal spiritualitas.
Profile Image for Khairur Rosyidi.
25 reviews
September 16, 2020
Tulisan "lama" 60-70an ini masih segar, pergolakan pemikiran dalam klub diskusi limited seperti ini perlu dilanjutkan oleh generasi-generasi ke depan supaya terus dinamis. Salah satu isi buku intinya islam itu statis, yang dinamis adalah pemahamannya. Sip
Profile Image for dedeh  handayani.
130 reviews
August 4, 2013
lama nyari buku ini. nemu edisi digitalnya, diterbitkan oleh Abad Demokrasi.

ini link-nya: http://www.abad-demokrasi.com/file/99...
atau ini: http://www.abad-demokrasi.com/sites/d...

sempet mogok bacanya krn ingin cari edisi cetak. buku bagus, sayang ebook gak bisa dicoret2. lalu ketemu aplikasi AutoReader. lanjut baca. tamat. bagian awalnya jadi agak lupa2. masih ingin cari edisi cetak.

pertama2, buku ini harus dibaca tanpa prasangka dulu, klo tidak terbiasa dg perbedaan, akan sulit menerimanya.

ternyata bukunya sempet dilarang terbit dan dianggap meyesatkan.

memang menghentak pikiran. disini AW banyak mempertanyakan dan menggugat hal-hal yg sudah mapan dan tabu utk dipertanyakan.
di awal, dialog2nya dg Tuhan mmg ekstrim. tapi keraguan n pertanyaan2 itulah yg kemudian terus menuntunnya untuk terus bertanya, berpikir, dan mencari.

kegelisahan yg sebetulnya mungkin justru timbul dari kepeduliannya yg sangat besar pada kehidupan, dan kenyataan kehidupan keagamaan yg dilihatnya, yg sungguh tidak sesuai dg ideal statement kebesaran agama itu. di akhir2 arah pemikirannya mulai terlihat bentuk utuhnya. sayang ia mati muda. klo saja ia sempat hidup lebih lama, akan sangat menarik mengikuti alur pencarian dan pemikirannya.

tapi klo usianya panjang, mungkin catatan hariannya ga kan dibukukan seperti ini.

yg pasti, AW mengajarkan pentingnya berpikir bebas dan kritis. agar jangan takut utk melakukan autokritik, melakukan kritik ke dalam (baik dalam lingkup individu, kelompok/organisasi, atau umat suatu agama secara lebih luas). berpikir bebas dan kritis itu menuntun pada penemuan dan pencarian esensi. agar tdk terjebak pd formalitas kosong.

di bagian2 akhir sangat menarik catatan pemikirannya ttg pentingnya pembaruan dalam islam. kegelisahannya ttg keadaan umat yg stagnan, atau malah mengalami kemunduran. ttg arah perjuangan umat islam yg tidak memiliki bentuk yg utuh dan solid. ttg kegamangan umat islam menghadapi kemajuan zaman dan semua kenyataan hidup yg serba baru. (masalah2 yg persis sama dg masa sekarang. bahkan bertambah buruk)

(hal 16) Tuhan Maklumilah Aku
Tuhan, bisakah aku menerima hukum-hukum-Mu tanpa meragukannya lebih dahulu? Karena itu Tuhan, maklumilah lebih dahulu bila aku masih ragu akan kebenaran hukum-hukum-Mu. Kalau Engkau tak suka hal ini, beri aku pengertian-pengertian sehinga keraguan itu hilang dan cepat-cepatlah aku dibawa dari tahap keraguan-keraguan kepada tahap penerimaan. Tuhan, mukarkah Engkau bila aku berbicara dengan-Mu dengan hati dan otak yang bebas, hati dan otak yang Engkau sendiri telah berikan padaku dengan kemampuan-kemampuan bebasnya sekali? Tuhan, murkakah Kau bila otak dengan kemampuan-kemampuan mengenalnya yang engkau berikan itu menggunakan sepenuh-penuhnya kemampuan itu? Tuhan aku ingin berbicara dengan engkau dalam suasana bebas. Aku percaya bahwa engkau tidak hanya benci pada ucapan-ucapan yang munafik, tapi juga benci pada pikiranpikiran yang munafik, yaitu pikiran-pikiran yang tidak berani memikirkan yang timbul dalam pikirannya, atau pikiran-pikiran yang pura-pura tidak tahu akan pikirannya sendiri. (9 Juni 1969)

(hal 34) Aku Bukan...
Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan Budha, bukan Protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim. Aku ingin bahwa orang memandang dan menilaiku sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana saya termasuk serta dari aliran apa saya berangkat.
Memahami manusia sebagai manusia. (9 Oktober 1969)
Displaying 1 - 30 of 71 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.