Membaca buku ini, pandangan Anda tentang figur seorang reporter akan berubah. Itu terjadi bila para reporter punya nama tengah “Si Blank”, “Ratu Konslet”, atau “Biang Apes”. Keadaan kian ricuh bila para kameraman ikutan ngehang. Plus, hadirnya Boss yang hobi acak-acak tanpa dosa hasil liputan para kru. Sudah begitu, ada klien berjiwa mak lampir dan narasumber dengan segala tingkah ajaibnya.
Hanya di sini diumbar tanpa sensor kisah reporter buta peta, sok tahu bikin malu, sodorin pertanyaan sama sampai tiga kali, bingung mem-bedakan playback dan feedback, treble atau trouble.
“Bayangan reporter yang intelek runtuh seketika pas jadi penghuni rumah produksi tempat Boss bercokol... terseret dalam lubang nista dunia media,” demikian pengakuan penulisnya.
Si mantan reporter yang sekarang mencicipi dunia penulisan. Menulis buku, mengirim tulisan di majalah, blogger, peresensi buku di blog dan koran, freelance blogger journalist, dan mengurus toko online di www.tokowuri.blogspot.com yang menjual kreasi flanel dan buku. Tulisan Wuri berbentuk fiksi, nonfiksi, artikel, sampai karya tulis,. Entah itu berbau komedi, bisnis, maupun inspiratif.
Teriak Chantal Della Concetta murka. Wajar saja Chantal marah seperti itu, faktanya ketika sedang melakukan liputan, seorang pemuda iseng menyolek pantatnya. Kejadian ini aku ketahui ketika stasiun berita tempat Chantal dulu bekerja (sebelum akhirnya dia beralih profesi menjadi model majalah ‘horor’) menayangkan behind the scenes kerjaan para reporter dalam rangka peringatan hari ulang tahun stasiun televisi tersebut.
Kehidupan seputar reporter ini pula yang membuat Wuri untuk menuliskan kisah-kisah konyolnya ketika dulu masih bekerja sebagai pemburu berita. Alih-alih menceritakan dengan serius, Wuri memilih menuliskannya dengan jenaka. PeLit (Personal Literatur) semacam ini memang sedang booming. Namun, karena cerita ini diangkat dari kisah nyata dan… menceritakan sebuah profesi yang memang bagi sebagian orang bikin penasaran, maka lahirlah Cenat Cenut Reporter.
Lebih dari satu lusin pekerja kurang waras tampil di buku ini. Dari si Bossman, driver hingga… tentu saja para reporter yang unyu-unyu, hihi. “Sejak Flintstone masih pakai pokok, sudah ada ‘kesepakatan-tidak-tertulis’ perihal sosok reporter yang identik dengan cerdas, berawasan luas, dan update” Hal.9, padahal ya… reporter juga manusia yang punya sisi gokil dan apesnya hahaha.
Misalnya saja ketika ditugasi untuk mewawancarai narasumber bule. Selain ketar-ketir masalah bahasa, mereka harus menghadapi tingkah laku bule yang hanya mau diwawancari oleh laki-laki. *uhuk, you know what I mean* Padahal tim pewawancara yang diutus perusahaan cewek semua! Ya sudah, kameramen cowok deh yang harus ambil alih. Heuheuheu.
Ternyata ya, jadi reporter itu enak juga. Bisa dzalan-dzalan dan bisa jual mahal ding. Kebanyakan orang berpendapat bahwa salah satu tugas berat reporter adalah mengejar narasumber. Namun, di saat-saat tertentu narasumber inilah yang pada akhirnya mengejar-ngejar reporter. “…narasumber yang memohon-mohon untuk diwawancara… wawancara ditolak rayuan bertindak. Maksudnya, setelah liputan maka narasumber memberi jaminan kalau tim bakal dapat makan gratis tiga hari-tiga malam di restoran miliknya.” Hal. 38.
Masih banyak lagi pengalaman seru dan sial para reporter ini dalam memburu berita. Dari yang mobil mogok di rumah narasumber, ngadepin narasumber cerewet dan banyak maunya, hingga ketiban rezeki ngeliat narasumber model ganteng yang pamer bodi. Uhlalaaa… sesuai dengan judul bukunya, kisah kehidupan reporter memang bikin cenat-cenut hihi *ngomong ala Smash. Yu no-w mi so wel-lah!*
Kelebihan utama (dan sekaligus jadi bumerang) buku bergenre komedi semacam ini adalah... hasil akhir dari kisah-kisah yang disajikan sangat berpengaruh dengan kondisi psikis pembacanya. Artinya, hal-hal lucu yang mungkin diniatkan untuk memancing gelak tawa bisa jadi tereksekusi biasa-biasa saja. Sebaliknya, hal-hal yang biasa bisa jadi berakhir lucu takkala pembaca merasa bagian itu cukup laik untuk ditertawakan hahaha. Pada intinya, Cenat Cenut Reporter cukup laik memperoleh predikat PeLit komedi :)
Buku pertama yang dibeli saat liburan berkunjung ke Surabaya. Cukup menghibur buatku yang ngga tau harus ngomong apa sama kerabat dalam bahasa Jawa saat itu
buku ini berisi cerita-cerita seputar kerjaan reporter yang bikin ngakak. pas banget waktu butuh sesuatu yang menghibur. padahal ada beberapa cerita yang menceritakan keapesan si tokoh, tapi tetep aja ketawa. berasa kejam karena ngetawain kesusahan orang. tapi di balik itu, buku ini juga memberi semangat kalau ada hal yang bisa diambil hikmahnya dari tiap kejadian yang dialami sehari-hari.
Sama-sama pernah menjadi reporter tapi sepertinya pengalaman memalukan mbak Wuri dkk lebih sadis. Dua jempol deh untuk para reporter yang bisa bertahan. Buku ini cocok banget untuk panduan reporter pemula agar tidak terjebak di "kemaluan" dan teman kocak bagi sesama reporter.
Pertama baca kurang ngeh sama komedinya secara saya bukan anak liputan. Kesini" ketawa ngakak ga berhenti. Yang bikin salut sama Kak Wuri ini penulisannya yang padahal biasa" aja. ga lebay kayak novel komedi lain, tetapi sukses mengundang tawa ☺