• Judul : Saha Mansion
• Penulis : Cho Nam-Joo
• Penerjemah : Iingliana
• Penyunting : Juliana Tan
• Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
• Terbit : 22 Maret 2021
• Harga : Rp 95.000,-
• Tebal : 296 halaman
• Ukuran : 14 × 20 cm
• Cover : Soft cover
• ISBN : 9786020650661
"𝘒𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘢𝘪𝘳 𝘢𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘯𝘴𝘢𝘯𝘨, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘥𝘶𝘭𝘪 𝘣𝘦𝘵𝘢𝘱𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘩, 𝘩𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘢𝘮𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘪𝘳𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶. 𝘔𝘶𝘴𝘵𝘢𝘩𝘪𝘭." (hal. 103-104)
Diceritakan terdapat sebuah negara kota bernama Town yang pada awalnya dikelola oleh perusahaan swasta. Namun, pada akhirnya Town memiliki beberapa menteri di berbagai sektor pemerintahan. Anehnya, menteri-menteri tersebut tidak boleh diketahui identitasnya oleh siapa pun. Selain itu, Town juga memiliki beberapa jenis atau kelas dalam masyarakatnya. Pertama ada Warga atau level L yang memiliki status paling tinggi di Town. L2 yang berada di tengah-tengah dengan status kependudukan yang serba tidak pasti. Serta terakhir ada Saha, masyarakat kelas paling bawah yang paling tidak diperhatikan oleh pemerintah Town. Para Saha ini tinggal dan berkumpul di sebuah rumah susun bernama Saha Mansion. Para penghuni Saha Mansion kebanyakan adalah orang buangan yang memiliki rahasia masing-masing dalam kehidupan mereka. Akan tetapi, bisa dibilang para penghuni Saha Mansion dapat bekerja sama dengan baik membentuk sebuah komunitas yang cukup solid. Di antara para penghuni Saha Mansion tersebut, terdapat sepasang kakak beradik, Jin-kyeong dan Do-kyeong. Mereka mencoba untuk kabur serta menghindar dari masa lalu yang mengancam.
Sayangnya, pelarian dan kehidupan baru yang coba dibangun oleh Jin-kyeong, harus hancur berantakan saat Do-kyeong dituduh membunuh seorang dokter muda bernama Su. Su ditemukan sudah tidak bernyawa di dalam mobilnya. Sementara itu, Do-kyeong sendiri masih menjadi buronan polisi. Di tengah itu semua, Jin-kyeong harus berusaha menemukan keberadaan adiknya. Tidak hanya menceritakan perihal Jin-kyeong dan Do-kyeong, Saha Mansion pun memiliki para penghuni lainnya yang tidak kalah bermasalah. Di antaranya adalah Nenek Konnim dan Woo-mi. Kedua wanita beda generasi itu dipertemukan takdir, sehingga bisa hidup bersama di Saha Mansion. Akan tetapi, Woo-mi harus menjalani serangkaian pemeriksaan dan perawatan, karena dirinya dinyatakan tidak sehat. Seiring bergulirnya waktu, Woo-mi menyadari ada keanehan pada perawatan yang ia jalani. Kecurigaan Woo-mi tepat, karena disinyalir Woo-mi hanya dijadikan alat, alih-alih menyembuhkan penyakitnya. Para penghuni Saha Mansion ini berusaha untuk keluar dari jerat kehidupan yang muncul dan mengancam nyawa mereka. Bisakah Jin-kyeong menemukan keberadaan Do-kyeong? Apa yang akan dilakukan Woo-mi setelah mengetahui fakta yang sesungguhnya?
"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘪𝘮𝘱𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘩𝘢𝘴𝘪𝘢?" (hal. 131)
Nama seorang Cho Nam-Joo banyak dibicarakan saat bukunya yang berjudul Kim Jiyoung, Born 1982 berhasil menarik perhatian pembaca dari seluruh dunia. Dua tahun berselang setelah Kim Jiyoung, Born 1982 terbit, Nam-Joo kembali mengeluarkan karya terbarunya yang berjudul Saha Mansion. Berbeda dengan buku sebelumnya, Nam-Joo mencoba untuk mengeksplor kemampuan menulisnya ke dalam 𝘨𝘦𝘯𝘳𝘦 misteri dan distopia. Dan, Gramedia Pustaka Utama cukup cekatan untuk segera menerbitkan bukunya ke dalam Bahasa Indonesia. Dilihat dari 𝘤𝘰𝘷𝘦𝘳 buku versi Bahasa Indonesia karya Martin Dima, nuansa suram dan kelam dari Saha Mansion cukup terasa. Ilustrasi sebuah gedung berbentuk huruf U memperlihatkan visualisasi dari Saha Mansion. Pemilihan warna hijau lumut yang berpadu dengan gradasi warna kuning seakan menunjukkan betapa kotor dan busuknya Saha Mansion itu sendiri. Letak judul buku dan nama penulis pun dibuat cukup presisi. Namun, entah kenapa, saya pribadi tidak terlalu menyukai 𝘤𝘰𝘷𝘦𝘳 bukunya ini. Kesannya terlihat terlalu biasa dan sederhana, sehingga kurang memunculkan rasa penasaran saya terhadap buku ini.
Berbeda jauh dengan Kim Jiyoung Born 1982 yang mengangkat isu tentang feminisme, Saha Mansion lebih berfokus pada ketimpangan sosial. Hanya saja, kali ini Nam-Joo menambahkan sedikit unsur distopia dan misteri ke dalam ceritanya. Di sini pembaca akan dibawa ke dalam sebuah negara bernama Town yang memiliki beberapa kelas dalam masyarakatnya, yaitu Warga, L2, dan Saha. Di antara ketiga kelas masyarakat tersebut, Saha menjadi kelas masyarakat yang paling bawah. Mereka semua tinggal dan berkumpul di Saha Mansion. Cerita akan lebih banyak tertuju pada para penghuni Saha Mansion beserta masa lalu mereka. Walaupun Nam-Joo berusaha untuk menawarkan perpaduan antara misteri dan distopia, tapi sayangnya itu semua seperti tempelan belaka. Saha Mansion seakan terlalu berusaha untuk memasukan berbagai macam isu ke dalam ceritanya. Salah satunya adalah tentang kesenjangan sosial. Isu-isu ini sesungguhnya sudah tersampaikan dengan baik di sini, tapi amat sangat disayangkan karena kekuatan ceritanya sendiri malah menjadi lemah dan tidak jelas mau dibawa ke mana.
Di awal cerita pembaca akan diperkenalkan kepada dua tokoh bernama Jin-kyeong dan Do-kyeong. Namun, Saha Mansion sendiri nyatanya memiliki banyak tokoh yang akan memiliki cerita masing-masing. Jin-kyeong dan Do-kyeong sendiri merupakan kakak adik yang sedang berusaha bersembunyi dan menata ulang hidup mereka di Saha Mansion. Jin-kyeong digambarkan sebagai seseorang yang tangguh, kuat, dan pemberani. Sementara adiknya, Do-kyeong, adalah orang yang sedikit gegabah dan emosional. Sebenarnya pendalaman karakternya sendiri terasa kurang dan hambar. Walaupun menawarkan berbagai kisah dari masing-masing penghuni Saha Mansion, tapi tidak ada satu pun tokoh yang mampu menarik perhatian saya. Semua tokohnya terasa biasa saja dan mungkin tidak akan membekas sama sekali dalam benak pembaca. Padahal, menurut saya, seharusnya Nam-Joo akan jauh lebih efektif jika hanya berfokus pada kisah Jin-kyeong dan Do-kyeong saja. Tapi, sayangnya, Nam-Joo sepertinya ingin mengeksplor semua penghuni Saha Mansion, sehingga harus mengorbankan pendalaman karakter dari setiap tokohnya, khususnya Jin-kyeong dan Do-kyeong.
Saha Mansion sedikit mengingatkan saya dengan School Nurse Ahn Eunyong yang berisi kumpulan cerita pendek. Saha Mansion sendiri tidak bisa dibilang sebuah cerita yang utuh, karena kebanyakan hanya menceritakan setiap penghuni Saha Mansion. Alur ceritanya bagi saya sedikit lambat, karena Nam-Joo ingin memperkenalkan setiap tokoh yang ada. Sudut pandang orang ketiga digunakan untuk menarasikan jalan ceritanya. Setiap penghuni Saha Mansion diberi kesempatan untuk bercerita dalam setiap babnya. Lewat sudut pandang ini saya masih belum bisa menangkap semua maksud dan tujuan dari masing-masing tokoh yang ada. Sementara gaya bercerita dan bahasa dari Nam-Joo tergolong ringan dan mudah dipahami. Setiap penjelasan, khususnya tentang konsep Town dan Saha Mansion, bisa disampaikan secara singkat dan lugas. Hasil terjemahannya mudah dipahami dengan penggunaan kata yang sederhana. Penggunaan Saha Mansion sebagai latar tempat berjalannya cerita mampu dideskripsikan dengan baik. Suram, kelam, dan kumuh adalah nuansa yang bisa saya rasakan dari penggambaran penulis terhadap Saha Mansion.
Terdapat benang merah yang sepertinya ingin dijadikan penghubung dari setiap kisah para tokohnya, yaitu kematian Su. Tapi, sayangnya kasus yang dihadapi Jin-kyeong dan Do-kyeong tersebut malah terlihat tidak nyambung sama sekali dengan setiap kisah yang ada. Saya sendiri merasa bingung dengan konflik ceritanya yang terasa ambigu. Padahal, jika konfliknya tidak diinterupsi dengan potongan-potongan kisah para penghuni Saha Mansion, mungkin akan menciptakan sebuah konflik yang jauh lebih luar biasa. Terlalu banyak hal yang ingin disampaikan, sehingga entah mau dibawa ke arah mana konflik ceritanya. Konflik Jin-kyeong dan Do-kyeong juga tidak terselesaikan dengan jelas, sehingga masih memunculkan tanya di akhir cerita. Eksekusi yang dilakukan oleh Nam-Joo terasa terlalu ambisius, sehingga terlihat keteteran di beberapa bagian ceritanya. Isu tentang kesenjangan sosial dan kritik terhadap pemerintah yang ditunjukkan terasa kuat dan menonjol. Akan tetapi, hal itu justru malah mengorbankan kualitas ceritanya. Padahal potensi ceritanya bisa jauh lebih menarik lagi jika Nam-Joo tidak terlalu banyak menceritakan setiap penghuni Saha Mansion.
Bisa dibilang Saha Mansion adalah cerita misteri dan distopia yang terlalu ambisius. Penulis seperti ingin memasukkan banyak hal ke dalam jalan ceritanya, sehingga terasa kedodoran di beberapa bagian. Isu-isu politik dan kesenjangan sosial yang disuarakan di sini, sebetulnya sudah tersalurkan dengan baik. Hanya saja, akibat dari itu membuat kekuatan dan fokus ceritanya menjadi menurun. Terlalu banyak kisah yang ingin diekspos, malah menciptakan ambiguitas terhadap pembaca. Tadinya saya justru mengharapkan sebuah misteri yang akan diselidiki secara mendalam. Namun ternyata, misteri itu sendiri hanya sebuah pemanis cerita saja. Dunia distopia yang diciptakan Nam-Joo terbilang sudah cukup baik. Akan tetapi, sekali lagi Nam-Joo seperti berusaha terlalu keras untuk memasukkan berbagai unsur, sehingga Town sendiri terasa kurang mengikat. Akhir ceritanya juga masih sangat menggantung dan terlalu membingungkan untuk dicerna. Secara keseluruhan, Saha Mansion adalah sebuah perpaduan misteri dan distopia dengan eksekusi yang terlalu menggebu-gebu.
"𝘛𝘶𝘫𝘶𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘱𝘦𝘴𝘪𝘧𝘪𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘮𝘱𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘰𝘳𝘰𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘥𝘢𝘬. 𝘒𝘦𝘺𝘢𝘬𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘨𝘶𝘯𝘢𝘯𝘺𝘢." (hal. 230)
"𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢𝘱𝘶𝘯, 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘢𝘴𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨." (hal. 255)