Jump to ratings and reviews
Rate this book

Pekerdja di Djawa Tempo Doeloe

Rate this book
Ketika negara Republik Indonesia ini belum lahir, penduduk yang mendiami bumi nusantara ini sudah memiliki kebebasan untuk memilih pekerjaan sesuai dengan minat atau memang telah menjadi warisan leluhurnya. Sebagai jantung politik pemerintah Hindia Belanda sekaligus pusat industri, Pulau Jawa menjanjikan nafas kehidupan yang panjang. Dalam buku ini, Olivier Johannes Raap, sang penulis, menuturkan setiap koleksi kartu posnya secara rinci, santun, bahkan tak jarang menggelitik. Lebih dari seratus lima puluh pekerjaan sudah dilakoni oleh masyarakat pada rentang akhir abad 19 hingga awal abad 20.

Uniknya, tidak sedikit pekerjaan yang sudah punah, namun banyak juga yang bermetamorfosis. Sebut saja, penjual sutra keliling. Pada zamannya, pekerjaan itu boleh dibilang menjadi primadona kaum ernis Tionghoa, namun kini keberadaannya sudah tergilas zaman. Di sini, Olivier menjelaskan bahwa penjual seperti ini disebut "tukang kelontong". Kelontong adalah alat musik kecil yang berbunyi kalau diputar, yang pada zaman dahulu dipakai oleh pedagang keliling Tionghoa.

Sunggu ... melalui kartu pos, kita bisa mengetahui banyak istilah ataupun riwayatsejarah yang belum diketahui. Seolah-olah, imajinasi kita dibawa ke masa lalu dan seolah-olah pula, waktu bisa kembali diputar lewat kartu pos.

190 pages, Paperback

First published January 1, 2013

4 people are currently reading
65 people want to read

About the author

Olivier Johannes Raap

5 books3 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
14 (42%)
4 stars
9 (27%)
3 stars
9 (27%)
2 stars
1 (3%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 9 of 9 reviews
Profile Image for mahatmanto.
545 reviews38 followers
June 11, 2013
sekarang ini, kartu pos bergambar menjadi barang yang pantas dikoleksi [collectible]. dulu, ketika kartu pos bergambar masih berfungsi sebagai pilihan untuk berkabar, kartupos enggak gitu-gitu amat dihargai sebagai barang koleksi. itu barang biasa saja.

pentingnya dan maraknya kartu pos bergambar seiring dengan kemajuan transportasi yang memungkinkan orang melancong ke tempat-tempat yang asing dan aneh. ini sekitar peralihan abad XIX-XX hingga ke PD II.
dengan belum mengkhalayaknya sarana fotografi, seperti kamera digital sekarang ini, maka gambar-gambar eksotik dari tempat-tempat kunjungan itu hanya bisa diproduksi oleh studio foto tertentu. eksklusif.
ada juga manipulasi sana-sini [misalnya, foto-foto hitam-putih itu ada yang ditusir dengan warna]. foto-fotonya kadang tidak otentik. penjual maknan jalanan, misalnya, bukan dipotret di jalanan tempatnya biasa mangkal tapi di studio, dengan orang-orangnya disuruh berpose seolah-olah di jalanan.
jadi,
menyajikan gambar-gambar pekerja jawa jaman dulu, dengan mengandalkan sumber kartupos bergambar, itu sudah suatu seleksi yang spesifik. jelas, kacamata yang bekerja adalah kacamata orang asing terhadap orang pribumi. yang mereka lihat hanyalah yang berbeda dari kebiasaan mereka di eropa.

bila sumber macam gini mau diperlakukan sebagai dokumen historis, haruslah dilakukan dengan kritis, berhubung proses produksi kartupos bergambar ini dipenuhi niat untuk menyajikan eksotisme.

buku tebal ini dijual cukup murah, untuk nilai informasinya.
di banyak negara, buku seperti ini lebih mahal dan ....nah... didisain dengan lbih baik.
buku ini layot dan disain grafisnya tidak bikin saya nyaman. halaman-halamannya tidak "clean". peletakan keterangan foto agak mengganggu. saya lebih suka, biarkan kartupos-kartupos itu bicara dulu apa adanya, teks bisa di baliknya, atau disatukan di halaman belakang.
yang pertama-tama perlu disadari bahwa ini adalah buku tentang gambar-gambar kartupos. bukan buku tentang pekerja jawa jaman dulu.
foto yang disajikan di buku ini bukan foto langsung dari jaman dulu, tapi foto yang sampai kepada kita melewati kartupos. melewati medium bikinan orang yang bepergian mengunjungai daerah-daerah eksotis.

terima kasih untuk mas olivier yang telah dengan tekun mengumpulkan kartupos-kartupos berharga ini!
Profile Image for Adriani Zulivan.
61 reviews5 followers
June 14, 2014
Saya penggemar foto lawas, namun tak seheroik Mas Olly yang berburu di seluruh dunia. Saya hanya menikmati via KITLV, museum atau media-media lain, dan tidak sampai mengoleksi.

Bukunya sangat menarik, pemilahan bab berdasar kategori pekerjaan sangat memudahkan pembaca. Namun informasi yang membahas tiap kartu pos agak mengganggu, seperti: Pertama, soal penggunaan bahasa yang kerap tidak efektif (mungkin sebab keterbatasan Bahasa Indonesia penulis). Kedua, penulis yang bukan orang Indonesia, menjelaskan suatu subyek sangat detil ("rujak adalah makanan tradisional yang terbuat dari berbagai macam sayuran atau buah-buahan. Semua bahan dicampur dengan saus. Dst..." hal. 12), padahal buku berbahasa Indonesia ini pasti ditujukan bagi orang Indonesia yang tahu apa itu rujak, misalnya. Ketiga, ini yang paling bahaya, penulis terlau banyak berasumsi tentang kejadian dalam foto: "Warung ini dikelola tiga generasi, nenek memasak, ibu melayani, cucu menjajakan keliling" (hal. 45). Padahal, tulisan pengantar menjanjikan tak ada tafsir berlebihan terhadap tiap foto.

Di luar semua itu, banyak pengetahuan dalam buku ini. Tentang sejarah fotografi dan kartu pos di nusantara, hingga siapa fotografer dan perusahaan penerbit kartu-kartu pos tersebut. Riset mendalam yang dilakukan penulis terhadap tiap gambar merupakan keunggulan utama. Tulisan Seno Gumira Ajidarma dalam Kata Pengantar juga sangat berharga.

Trims telah membagi koleksimu kepada kami!
Profile Image for Pra .
220 reviews185 followers
April 12, 2013
kartu pos ibarat mesin waktu. kita bisa melihat apa yang terjadi ratusan tahun lalu
Profile Image for Inov.
14 reviews
December 14, 2022
An insightful read into colonial-era Indonesia. It elaborates the backstory of many things I have never been aware of.
Profile Image for Damar Juniarto.
Author 4 books11 followers
July 14, 2016
Buku berisi koleksi kartu pos lama ini berbicara banyak tanpa perlu memasukkan banyak teks untuk menjelaskannya. Senada dengan yang disampaikan Seno Gumira Adjidarma dalam pengantar buku berjudul “Pekerja di Djawa Tempo Doeloe”, susunan foto para pekerja yan ditampilkan berikut penjelasan mengenai kondisi perekonomian rakyat Jawa di masa Kolonial Belanda di medio 1890-1940-an mampu menjadi “teks” untuk membaca apa yang terjadi pada masa lampau tersebut.

Semisal pada 4 foto kartu pos yang ada di dalam buku ini. Semuanya terkait dengan kopi. Ada foto toekang koppie yang dibuat di Batavia pada tahun 1910 dan Ijs en Koffie verkooper, di pada tahun yang sama tapi di Surabaya. Yang menarik adalah bagaimana di dua kota yang berbeda, muncul kesamaan kebutuhan pada kopi. Kopi seperti apakah yang diperdagangkan? Apakah varietas arabica atau robusta? Atau malah bukan keduanya? Karena misalnya bila merujuk pada buku-buku mengenai penanaman kopi di Indonesia, varietas arabica di Jawa sudah banyak yang dirusak oleh hama. Lalu sempat digantikan sebentar oleh varietas liberica tapi kembali hama merusaknya, meski di beberapa tempat seperti Lampung dan Toraja, varietas ini bertahan.

Siapakah pembelinya? Bila melihat salah satu foto, terlihat bagaimana orang Jawa sudah menikmati kopi, sekalipun minuman tersebut bukan minuman lokal.

Dari buku ini kita akhirnya bisa melihat bagaimana para tuan tanah Belanda pernah mengujicoba penanaman varietas Liberica di daerah Priangan 1906. Dan bagaimana gadis-gadis cantik pernah diminta untuk menjadi model untuk menggantikan perempuan-perempuan pemetik kopi (Koffieplukken) di perkebunan-perkebunan di Bogor pada tahun 1910.

Itu baru satu sisi. Sungguh menarik bila pembacaan kartu-kartu pos ini dilakukan pada sisi lain semisal mengenai kedai makanan, termasuk restoran chinese food yang ternyata punya sejarah yang panjang dan cukup menarik. Sekalipun buku ini hanya setebal 190 halaman, namun informasi yang ada di dalamnya menyimpan banyak kisah untuk diceritakan dan dibaca di masa kini.
Profile Image for Dinastuti.
43 reviews1 follower
January 7, 2015
A very good reference book about the history of profession in Java.
1 review
Read
January 4, 2018
dimana sy bisa membeli buku ini, sy cari di gramedia sudah kosong... mohon info, tks
Displaying 1 - 9 of 9 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.