Aku melarikan diri dari kelas-kelas yang mengajar, tetapi tidak mengilhamiku. Dan, aku memperoleh kepekaan terhadap hidup serta alam. —Rabindranath Tagore
Selamat datang di zaman digital, zaman dimana anak-anak muda disebut alay alias anak layangan. Sebuah generasi bermental speedboat yang gemar berlari kencang di atas permukaan arus dangkal.
Untuk mengejar para murid, Guru Gokil tidak cukup hanya berenang, tetapi harus menyaru sebagai kapal selam, membawa murid bergerak perlahan di kedalaman makna.
Para murid bukan lagi kertas kosong yang bisa ditulisi apa saja oleh para pengajar. Mereka begitu kritis dan enggan duduk diam. Jadi, bersiaplah untuk menjadi guru bermental driver (pengemudi), winner (bermental juara), dan good listener (pendengar yang baik).
Apakah Anda seorang guru? Calon guru? Murid? Calon murid? Orangtua murid? Atau bukan semuanya? Buku ini wajib di baca oleh siapa pun! A great book from a great teacher. Buku ini membuat kita "melek" terhadap pendidikan yang seharusnya, pendidikannya yang mengutamakan kebiasaan membaca dan menulis, pendidikan yang seharusnya dilandaskan oleh karakter yang kuat. Karena pendidikan dengan model kuno sudah tidak relevan lagi dengan jaman yang semakin maju ini. Selamat membaca dan bersiap-siaplah menjadi guru gokil yang akan mengantarkan siswanya menjadi unyu.
Intinya gue jadi tau kalo gue mau jadi guru harus gimana: banyak baca, banyak nulis. Buku ini juga menekankan bahwa pendidikan nggak cuma berhubungan dengan aspek kognitif, karakter juga--justru malah lebih penting. Berdamai dengan diri sendiri, sesama, dan Tuhan katanya. :)
Okay. I'll give my 3 stars for this book. It's like a humor. I love the way Sumardinata wrote in this book. This is such an enlightenment to Indonesia's education in the future. Great!
Ini buku wajib buat guru yang punya kegelisahan di kelasnya, seperti saya. Hehehe. Meskipun judul buku ini tampak gaul, namun cara bertutur sang penulis jauh dari kesan alay. Buku ini memuat A-Z keseharian guru, tidak melulu berbicara masalah pembelajaran dalam kelas. Cara bertutur penulis dalam buku ini terasa hangat, sistematis dan konsisten. Setiap bab selalu diawali quote (petikan motivasi atau kata-kata mutiara), lalu dihantarkan oleh cerita inspiratif, dan ditutup dengan refleksi dan tips dari penulis berdasarkan pengalaman nyatanya di dalam kelas. Tentu saja buku ini tidak ditujukan bagi guru yang keras hati, mudah tersinggung (lalu hanya sekadar berbuah sakit hati berkepanjangan), dan tidak mau berubah. Kalau dipaksa untuk mencari poin negatif dari buku ini, mungkin hanya dari sisi ilustrasi yang amat minim, tidak se-unyu sampulnya. Lalu secara pribadi, saya masih haus akan penjelasan dan kiat yang lebih bersifat praktis dan bisa lebih mendetail untuk menjadi guru yang gokil (cerdas dan membawa manfaat). Sebab, saya merasakan kiat yang diberikan oleh penulis dalam buku ini masih banyak yang hanya berupa garis besarnya saja. Selain itu, buku ini secara umum menggambarkan segudang bacaan sang penulis di mana Ia pernah meresensinya. Bagi pembaca yang punya daftar bacaan yang cukup panjang, bisa jadi isi buku ini hanya sekadar pengulangan-pengulangan atau ringkasan-ringkasan dari gagasan penulis lainnya. Bagaimana dengan pembaca yang berstatus pelajar? Apakah buku ini cocok untuk mereka? Secara umum rasanya kurang pas. Takutnya, si pembaca justru membanding-bandingkan secara tidak adil kondisi guru di sekolahnya dengan idealisme sang penulis buku ini, dan akhirnya berbuah apatisme, kekecewaan berlebihan. Namun, bagi pelajar tingkat menengah yang merasa mampu membuka hati, buku ini sesungguhnya menyuguhkan kisah-kisah inspiratif dengan gaya bertutur yang cantik, yang bisa dinikmati siapa saja. Bintang lima saya berikan untuk buku "langka" ini. Dan, maaf sebelumnya, bagi saya isinya lebih mengena dibanding dua buku berserinya Pak Jamaluddin, untuk menjadi Inspiring Teacher.
buku ini ditulis oleh seorang guru dan mengenai dunia yang melingkupinya: aktivitas belajar-mengajar. tidak banyak yang baru mengenai teori-teori pengajaran, karena memang fokusnya bukan di situ. ini seperti kumpulan tentang kegembiraan dan kegelisahan yang diungkapkan dalam tulisan. mengenai banyak hal. tidak hanya proses belajar yang terjadi di kelas, namun juga di mana pun proses belajar dilangsungkan. dari buku ini saya jadi tahu, banyak guru yang perlu mengungkapkan suka dan dukanya, kegembiraan dan kegelisahannya dalam merenungi tindakan mengajar dan belajar. semula saya membeli buku ini untuk anak saya, yang kebetulan diajar oleh penulis buku ini. tapi setelah membacanya, buku ini bukan untuk dia tapi lebih cocok untuk saya sendiri, orang tua si pelajar. saya perlu paham tentang bagaimana guru memperlakukan pelajar. bagaimana visi guru dalam menggeluti relasinya dengan pelajarnya... tergambarlah, bahwa komunikasi yang baik antara guru dan murid itu sesuatu banget dalam menentukan kualitas iklim belajar. pelajar akan bergairah mempelajari sesuatu kalau dia merasa mendapat pembimbing yang mengerti kebutuhan dan karakternya, yang komunikatif. saya rasa, sikap pak guru penulis buku ini banyak cocoknya dengan keinginan saya sebagai orangtua pelajar. semoga makin banyak guru menulis, mengungkapkan pemikirannya ke publik.
Bagi saya buku ini mungkin tak ada gunanya. Saya adalah pembeli salah sasaran yang membeli buku ini karena tertipu Judul dan Covernya. Dari judulnya, saya pikir ini semacam novel. Ternyata ini semacam tulisan di Blog atau artikel di surat kabar Mingguan yang ditulis oleh seorang guru. Jadi saya salah. Dari covernya yang SANGAT MIRIP buku 'Waras di Jaman Edan'-nya Prie (kebetulan penerbitnya sama: Bentang Pustaka) juga turut mempengaruhi kenapa saya beli buku ini. Saya punya beberapa buku terbitan Bentang Pustaka yang semuanya rate 5 untuk tiap segmennya. Celakanya, buku ini ternyata sangat segmented. Pasarnya adalah para guru dan saya bukan guru. Kenapa saya beri bintang 5? Karena jika buku ini dibaca oleh guru2 di Indonesia, tak bakal ada lagi istilah guru killer. Tak akan ada lagi guru yang cuma modal taat kurikulum, atau pamer wibawa tapi miskin aksi dan melarat inovasi.
Sadar telah kesasar, saya bermaksud menjadikannya sebagai kado ulang tahun buat Dian, donk! (ga' usah nanya soal dia deh. Ntar saya galau lagi, hahaha...!) Tapi karena dia telah dibawa kabur pacarnya, siapa saja yang membaca (review apaan begini?) ini dan berprofesi sebagai guru, silakan hubungi saya. Via mana aja, terserah.
"Saya amat mencintai buku. Perasaan saya sampai berdesir-desir bila buku itu sungguh menyantuni kebutuhan batiniah saya" tulis J. Sumardianta di halaman 288. Dan inilah yang saya rasakan. Desiran itu menggelitik jiwa pendidik yang baru saja bangun dalam diri saya dan jiwa pembaca yang banyak ingin tahu, yang beberapa tahun ini sempat tertidur. Jika Sumardinata menulis lagi tentang pendidikan, saya akan senang merasakan desiran itu lagi. Bukunya sempurna!
Buku ini menceritakan berbagai macam fenomena di dunia sekolah. Di setiap kisah diawali dengan ilustrasi cerita yang menyentuh atau kadang lucu. Sampai setengah buku, saya masih merasa buku ini bagaikan Chicken Soup for Teacher nya Indonesia. Bab yang saya suka adalah di Pilar Pendidikan Karakter.
Luar biasa... Tidak hanya bagus untuk dibaca para guru, tapi juga direkomendasikan banget untuk dibaca semua orang!!! Inspiratif.Buat saya yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga, buku ini membuat saya lebih kritis terhadap pendidikan anak2 saya Dua jempol buat buku iniiiii!!!
Anda guru? Anda siswa? Bukan keduanya? Tak masalah, petani dan buruh pun bisa membacanya. Buku yang ingin belajar, belajar memahami orang lain, - sebagai contoh, dari sudut pandang seorang guru.
Dengan pemikiran bahwa buku ini memang diperuntukkan untuk dibaca semua kalangan. Tapi mungkin lebih tepat jika dialamatkan untuk guru guru. Bapak Sumardianta mengajarkan kita bagaimana metode belajar siswa yang mungkin memang seharusnya dipraktekkan dikelas. Buku ini sangat inspiratif.
seriously, buku ini bener2 bagus bangeeett.. dan saya sangat setuju dengan cara berpikiran pak johannes tentang pendidikan. tidak seharusny pendidikan membuat muridnya menjadi malas belajar dan yap, guru emang harus kreatif dalam mengajar dan jangan kaku :)
Sebuah buku yang memberikan pemahaman bahwa "Guru keceh" itu tidak hanya mampu mengajar dan mendidik tapi juga seorang guru harus memiliki wawasan luas dengan membaca dan menulis.
Guru gokil itu hobi membaca. Guru gokil itu punya karya tulis.