Saya belum pernah menulis novel sesulit menulis Somniterra, bahkan dengan bantuan RD. Villam sebagai teman menulis.
Ada empat tokoh di dalamnya, yang masing-masing karakter memiliki dunia, sifat dan masalah sendiri,dan keempatnya harus dibuat mendetil. Kerumitan muncul ketika empat tokoh ini harus masuk ke Somniterra dan lagi-lagi menemui masalah sendiri-sendiri di sana. Hasilnya adalah mata rantai yang menghubungkan dua dunia dan cerita yang saling bersimpangan tapi tak boleh bertabrakan. Saat Somniterra selesai ditulis saya benar-benar jatuh cinta pada keempat tokoh: Zahra, Arya, Faisal dan Nadia.
Somniterra adalah cerita tentang dunia keseharian kita, suatu tempat yang hanya bisa dijangkau segelintir orang, tentang persahabatan, tentang cinta dan benci, tentang pencarian jati diri. Ada pula etainn, eigavalad, para Somnar, dan--semoga memuaskan--pertempuran seratus halaman, hahaha.
Saya menghabiskan banyak waktu, tenaga, pikiran dan emosi untuk Somniterra dengan satu harapan, semoga Somniterra bisa diterima pembacanya.
:)
PS: terima kasih untuk Rama Indra yang sudah membuatkan ilustrasi sampul yang bagi saya luar biasa; dia berhasil menterjemahkan khayalan saya dengan baik sekali.
Buku ini berkisah tentang empat orang: Arya, Zahra, Nadia dan Faisal, dan petualangan mereka di Somniterra, atau dunia mimpi. Masing-masing dari mereka memasuki dunia tersebut dengan caranya sendiri-sendiri. Di Somniterra mereka menerima misi yang harus mereka selesaikan, dengan konsekuensi adalah jika mereka tak berhasil menyelesaikannya, maka kematian akan menjemput. Bagaimana mereka kemudian bertemu satu sama lain, saling membantu untuk menuntaskan misi, merupakan cerita inti dari buku ini.
Secara setting, buku ini mengambil tempat di dua dunia, dunia nyata yaitu Jakarta, dan Somniterra. Setting Jakartanya sendiri digambarkan dengan cukup bagus, walaupun nggak detil sampai menyebutkan tempat, makanan, atau keseniannya misalnya, tapi sudah cukup untuk memberikan kesan bahwa cerita memang terjadi di Jakarta.
Sebaliknya, setting Somniterra sendiri digambarkan seperti dunia yang... yah sudah, begitu. Oke lah, Somniterra ini punya kota, desa, padang rumput, sungai, hutan, gunung, dan seterusnya. Tapi nggak dijelaskan kenapa bisa begitu. Siapa yang menciptakan Somniterra, kenapa wujudnya seperti itu, nggak dijelaskan. Waktu Arya nanyain ini ke Ajka, pemimpin desa Niobi di Somniterra, Ajka malah balik nanya, "Kalau kamu disuruh nerangin kenapa dunia nyata bisa seperti itu, bagaimana kamu menerangkannya?"
Yeah, jawaban valid sih. Tapi menurutku ini malah menunjukkan kalau penulis nggak bisa nerangin dunia yang dia ciptain sendiri. Misalnya kenapa di Somniterra nggak ada mobil, jadinya Arya, Zahra, Nadia, dan Faisal harus jalan kaki ke mana-mana. Oh, aku lupa. Mereka nggak jalan kaki, mereka pakai etainn.
Di Somniterra, ada kekuatan yang disebut sebagai etainn, yaitu kekuatan keinginan. Semakin besar keinginanmu, maka hal tersebut akan mewujud melalui etainn. Oh iya, di Somniterra ada somnar, orang-orang yang hidup di dunia nyata dan kemudian masuk ke Somniterra; ada somnian, orang-orang yang memang dari sononya hidup di Somniterra, ada eigavald, roh elemen, dan sebagainya. Tapi kenapa ada mereka semua, nggak diterangin sama sekali.
Oke lah. Toh semua itu disampaikan dengan cukup jelas, jadi cukup buat meyakinkanku untuk menerima dunia Somniterra ini apa adanya.
Dalam hal karakterisasi, penggambaran Arya, Zahra, Nadia, dan Faisal sudah cukup bagus. Terutama buat Faisal, sifat seenak udelnya sendiri itu bener-bener kelihatan, tapi di saat yang bersamaan penulis juga bisa memperlihatkan bagaimana Faisal adalah seseorang yang nggak ragu-ragu buat nolong orang lain, walaupun hal itu bisa ngebahayain dirinya sendiri. Singkatnya, a lovable brave fool. Dan siapa sih yang nggak akan suka sama tipe karakter kayak gitu? Yang rela ngebuang nyawa buat nyelametin orang lain?
Penggambaran ketiga karakter lainnya ada di bawah Faisal. Di urutan kedua ada Arya, si tenang yang menganalisa segala sesuatunya dengan logika. Sebenernya karakter Arya ini sudah tergambarkan dengan cukup baik melalui dialognya, tindakan yang ia ambil dan seterusnya. Sayangnya hal ini nggak berlaku waktu dia harus nuntasin misinya. Kita bahas itu nanti.
Di urutan ketiga ada Nadia. Tipe cewek pemberontak, doyan dandan pake warna hitam, ngomong selalu pake-gue-elo, dan seterusnya. Karakter ini juga udah digambarin dengan cukup bagus. Sayangnya dialog-dialognya yang berganti-ganti antara gue-elo dan aku-kamu yang formal di Somniterra nggak digambarkan dengan mulus, jadi bikin ngernyit. Ngerti sih, tapi ya itu, penulisannya nggak mulus, jadi kebacanya juga malah jadi nggak enak.
Di urutan terakhir ada Zahra. Si lembut hati, pengertian, gemar menolong dan rajin menabung hahahaha. Zahra seharusnya jadi karakter cewek utama, sayang penggambarannya kurang meyakinkan, sehingga dia malah jatuh jadi semacam Mary Sue. Waktu Nadia bilang, "elo enak dicurhatin," aku nggak merasakan seperti itu. Apa sih yang dilakuin Zahra? Cuma ngomong sedikit, dan tahu-tahu Nadia bisa open up gitu aja dan bilang kalo Zahra enak dicurhatin? Nggak meyakinkan buatku. Sempat digambarin juga betapa Zahra terlihat amat khawatir terhadap para eigavald, membuat Nadia tiba-tiba merasa sayang pada Zahra. Emm... terlihat sebelah mananya? Hal kayak ginilah, penggambaran sifat secara telling, bukan showing, seolah-olah penulis memaksa pembaca untuk percaya kalau Zahra itu orangnya baik, lembut, dst dst dst, yang bikin karater Zahra jadi terasa seperti Mary Sue.
Sekarang kita bahas plot ceritanya. Secara keseluruhan plot cerita buku ini sebenarnya sudah umum dipakai. Empat orang yang nggak saling tahu satu sama lain (well, nggak tepat gitu juga sih, secara Arya kenal Nadia dan Nadia kenal Faisal) ketemu, terus masuk ke suatu dunia lain, nerima misi, belajar sihir, sori, etainn, dikejar-kejar musuh utama, dapet bantuan dari kakek tua bijaksana, ngalahin musuh utama, kembali ke dunia nyata, end. Tapi bukan berarti cerita ini lantas nggak menarik buat diikutin. Penulisannya yang lancar membuatku bisa dengan nyaman melahapnya. Sayangnya memang bagian awal buku ini terasa berjalan lambat, terutama waktu pengenalan tokoh. Tempo ceritanya cukup meningkat waktu Arya ketemu Zahra, tapi abis itu nurun lagi karena masing-masing dari tokoh utamanya sibuk dengan urusannya masing-masing. Tempo cerita baru naik lagi waktu Arya ketemu Faisal di Somniterra. Jujur ini di luar dugaanku, karena tadinya kukira formulanya bakal tokoh utama cowok ketemu tokoh utama cewek, baru tokoh sampingan cowok ketemu tokoh sampingan cewek. Ternyata nggak begitu formulanya di buku ini, dan ini yang bikin ceritanya jadi menarik.
Sayangnya ya tadi itu, penggambaran latar belakang tokohnya yang buatku rasanya kepanjangan. Penting sih, aku ngerti, tapi penulisannya yang rasanya nggak sebegitu menariknya bikin penggambaran latar belakang itu memperlambat tempo cerita.
Nah, sekarang kita sampai ke bagian kekurangan besar dalam cerita ini, yaitu soal Nadia. Spoiler alert, proceed at your own risk.
Beberapa hal minor lain yang jadi kekurangan buku ini adalah bagaimana di awal ketemu Nadia, Arya udah cerita kalau dia tahu masalah Nadia sama Om Frans. Eh, belakangan Arya nyebut hal ini lagi, dan Nadia malah kelihatan kaget. Bukannya udah disebut di awal ya?
Berikutnya, gimana Zahra membatin kalau kehadiran Reno membantunya melupakan Danu, mantan pacarnya. Emm, bukannya Reno adalah penyebab Zahra putus ama Danu? Ini bukannya malah bikin kesan kalau Reno itu muncul setelah Danu pergi, ya?
Lalu
Dan siapa sih sebenarnya Nisa? Kenapa dulu Arya putus sama dia? Kenapa kehadiran Nisa di Somniterra adalah sesuatu yang "nggak mungkin"? Apa karena Nisa udah meninggal? Nggak ada penjelasan lebih lanjut soal ini, sehingga membuat Nisa itu cuma jadi alat plot belaka.
Terus soal aturan tidak boleh membunuh di Niobi juga nggak jelas alasannya. Kenapa bisa begitu? Biasanya ada suatu larangan karena ada dampak tertentu dari perbuatan yang dilarang tersebut. Tapi hal ini nggak diterangin. Jadinya larangan itu cuma jadi alat plot supaya Zahra bisa diusir dari Niobi dan ketemu Aretta.
Penjelasan obat tidur sofnaheit itu juga nggak jelas. Obat tidur itu seakan digambarkan menjadi penyebab kenapa Arya, Zahra, Nadia, dan Faisal bisa masuk ke Somniterra, karena masing-masing dari mereka minum obat itu. Tapi terus di akhir cerita digambarin kalau obat tidur itu seakan nggak pernah ada, seakan menghilang gitu aja dari muka bumi, tapi nggak dijelasin alasannya. Itu sih namanya ngelempar misteri tapi nggak bertanggung jawab menyelesaikannya. Atau hal ini bakal dijelasin di sekuel Somniterra? (hahahaha)
Terakhir, nggak dijelasin kenapa Faisal nggak nemuin Nadia selama 2 minggu setelah keluar dari Somniterra. Kenapa mesti ngilang dulu 2 minggu? Biar pertemuan mereka jadi bisa lebih dramatis?
Terlepas dari kekurangannya, secara keseluruhan cerita ini sebenernya sangat bagus. Aku sangat menikmati melahapnya, dan waktu udah masuk ke bagian pertarungannya, aku nggak bisa berhenti bacanya. So, kudos for Mbak D and Bang Vill. Terima kasih karena udah mengizinkanku menikmati cerita kalian.
Bikin cerita kolaborasi itu sulit, apalagi kalo bentuknya adalah novel yang panjang. Kalo ada yang bilang itu gampang, saya getok kepalanya, hehe. Atau … hmm, silakan saja sih, kalau ada yang berminat, dan merasa bakal tahan dengan perang-perang yang akan terjadi selama prosesnya. Yang jelas itu butuh komitmen total dari dua kepala selama paling tidak dua tahun. XD
Dan awalnya dulu saya dan Dian sebenarnya tidak berpikir Somniterra akan sepanjang ini. Ketika dulu mengkreasi empat tokoh utamanya—Zahra, Arya, Nadia dan Faisal—kami berdua berpikir mungkin ceritanya hanya akan sepanjang 80 ribu s/d 100 ribu kata, ukuran normal untuk novel fantasi lokal. Ternyata kemudian naskahnya berkembang jadi 180 ribu kata lebih. Itu GEDE, dan jelas susah kalo mau masuk ke penerbit. Ada penerbit yang lalu bilang sebaiknya ditipisin (sampe bener-bener tipis), dan ada juga yang bilang sebaiknya dipotong jadi dua atau tiga bagian. Ya, saya dan Dian sih setuju-setuju saja dipotong, asal tidak jadi aneh ceritanya. Maka pisau edit lalu bekerja, dan akhirnya naskah bisa berkurang sampai sekitar 30 persennya. Kami puas, tetapi alih-alih mengirimkannya ke penerbit besar, kami kemudian malah akhirnya berpikir mendingan nerbitin aja sendiri bukunya lewat Kastil Fantasi. Dan kenapa tidak, kalau rasanya lebih menyenangkan? :-D
Jadi, inilah Somniterra. Hasil karya kolaborasi saya dan Dian, tentang empat orang yang mempunyai masalah-masalah di dunia nyata, dan harus menyelesaikannya di dunia lain, dengan resiko kematian. Sebuah cerita romance, dan fantasy, tentang mimpi dan keinginan-keinginan terpendam. Tentang etainn, roh dan ilusi. Semoga bisa dinikmati. :-)
Kita langsung saja masuk ke inti cerita. Ada... empat karakter utama di Somniterra.
Arya, seorang manajer di toko dealer mobil. Dia seorang lelaki muda profesional yang hidup berkecukupan. Tapi ada kesan kalau dirinya sudah melupakan banyak hal penting dalam hidupnya.
Zahra, seorang penulis novel yang baru saja mengeluarkan best seller pertama(?)nya. Dia lembut hati dan perhatian. Tapi karena suatu alasan, dirinya mulai mengalami gejala-gejala schizoprenia sesudah karyanya terbit.
Lalu Faisal, seorang mahasiswa berangasan dari jurusan Teknik Sipil yang sangat berbakat menggambar. Hanya saja dirinya punya masalah dalam menjaga amarahnya.
Kemudian Nadia, seorang mahasiswi yang sudah pemberontak, ditambah lagi kini dirinya sedang mengalami suatu masalah keluarga yang tak dapat diceritakannya ke orang lain.
Somniterra berkisah tentang pengalaman keempat orang ini saat mereka sama-sama terbawa ke sebuah dunia lain melalui mimpi di saat mereka tidur. Dunia lain tersebut, tentunya, bernama Somniterra. Lalu di sana ada suatu misi pribadi yang masing-masing dari mereka harus selesaikan.
Kesan-kesan yang menempel di kepala saya sesudah menamatkan buku ini adalah sebagai berikut:
1. Bab-bab awalnya benar-benar keren. Setiap karakter berada pada keadaan yang teramat berbeda dari satu sama lain. Lalu masing-masing situasi mereka sama-sama lumayan menarik untuk diikuti. Ada perasaan kalau ceritanya kayaknya bisa berkembang secara harfiah ke arah mana saja gitu. Lalu ada kesenangan yang saya dapat ketika saya berhasil menemukan titik-titik kesamaan di antara mereka.
2. Enggak ada peta. Dalam kondisi normal saya enggak akan terlalu mempermasalahkannya. Tapi dunia Somniterra kurasa seharusnya menarik untuk dijelajahi. Saya agak berharap kalau belum apa-apa begitu saya membuka buku, saya sudah bisa melihat tempat-tempat mana saja yang kira-kira bisa didatangi. Jadi begitu mengetahui kalau peta ini enggak ada lumayan menyakitkan.
3. Sistem sihir elementalnya secara mengejutkan lumayan biasa. Ada suatu sistem pengendalian elemen yang disebut etainn yang berperan penting dalam perjalanan Zahra dan kawan-kawannya di Somniterra. Ilmu ini ceritanya berperan penting, baik dalam kehidupan sehari-hari di Somniterra (ya, ada kehidupan sehari-hari) dan dalam pertempuran. Di satu sisi, ini membuat adegan-adegannya gampang divisualisasi. Tapi di sisi lain terasa seperti kurang tergali juga, seperti pada satu titik para karakter tiba-tiba saja bisa menggunakannya gitu. Lalu kurang ada kejelasan soal kenapa karakter yang satu bisa menggunakan elemen yang satu, sedangkan karakter lain bisa menggunakan elemen lainnya, misalnya.
Sebenernya, dari bab-bab awalnya yang saya anggap sangat berpotensi itu, sempat ada harapan lumayan besar dari saya terhadap akhir Somniterra. Tapi entah karena pengeditan, penyesuaian, atau pemotongan yang dilakukan Mbak Dian dan Bang Villam--sebagaimana yang Bang Villam sendiri ungkap dalam ulasan beliau sendiri--ada perasaan kalau perjalanan Zahra dan kawan-kawannya di dunia lain ini enggak sepanjang seharusnya.
Zahra dan kawan-kawannya berhadapan dengan masalah dan kesulitan mereka masing-masing. Tapi saya merasa potensi perkembangan karakternya seakan tersendat. Mungkin itu efek karena minimnya jumlah karakter di dunia nyata yang turut dimainkan dalam plot cerita. Para bawahan Arya atau teman sekamar Zahra menurut saya bisa turut terpengaruh oleh perubahan sikap para karakter utama selama mereka berada di Somniterra. Kurangnya konflik dari aspek ini sejujurnya agak bikin saya kecewa.
Satu hal lain yang juga agak membuat saya heran adalah bagaimana klimaks cerita seakan ditumpuk 'sekaligus' secara tiba-tiba. Agak susah menjelaskannya. Jadi tanpa pembangunan suasana yang optimal, suatu pertempuran besar yang bersifat final tahu-tahu pecah begitu saja. Lalu pertempuran ini sedemikian besarnya sampai mengguncang langit dan bumi.
Rasanya ingin sekali bisa mengenal lebih jauh dunia Somniterra ini. Tapi sayangnya durasi cerita dan alasan para karakter untuk berada di sana sudah tak ada lagi.
Pada akhirnya, ceritanya tak bisa saya sebut jelek sih. Secara garis besar termasuk lumayan. Cuma sayangnya saya tak bisa menyukainya sedalam yang saya sangka.