Mesopotamia, abad ke-24 SM. Kerajaan Akkadia berhasil menaklukkan negeri-negeri di sekitarnya. Untuk menahan serangan mereka seorang penyihir bangsa Elam dari tanah Persia menciptakan dinding ajaib di sepanjang Sungai Tigris. Naia, putri dari Kazalla yang negerinya telah dihancurkan Akkadia, bermaksud menyeberangi sungai dan meminta perlindungan pada bangsa Elam, namun di tengah perjalanan ia diserang dan harus terpisah dari para prajurit. Dalam keadaan terdesak Naia terpaksa mengambil keputusan tersulit: memanggil makhluk-makhluk terkutuk dari dunia kegelapan.
---
dapatkan bukunya hanya di Kastil Fantasi (www.kastilfantasi.com)
A writer who loves reading fantasy, science fiction, mystery, history, and feeding cats. He doesn't have a cat, but every morning there are always at least three cats waiting for him at his front door, and sometimes they are completely different cats. Besides looking for food, maybe they came for auditions so they could get into his book.
Books on Amazon: - Embracing the Clouds: The Dreams and Adventures of Children from the Bowl World ~ Book 1 - Heir of the Knights: The Dreams and Adventures of Children from the Bowl World ~ Book 2 - The Dreams and Adventures of Children from the Bowl World: Book 1 & 2 - Black Stone of Vallanir: Northmen Saga ~ Book 1 - King of the Northmen: Northmen Saga ~ Book 2 - Northmen Saga: Book 1 & 2 - Valley of Wizards: The Peacemakers ~ Book 1 - Rise of the Conqueror: A Prequel to Northmen Saga (Coming Soon)
Apa jadinya ketika kisah-kisah yang kita kenal hanya berisi para tokoh utama dengan kepahlawanannya. Ini berarti melihat Batman tanpa Joker; dunia Lord of the Rings tanpa Dark Lord Sauron; dunia sihir Harry Potter tanpa Lord Voldermort; atau kisah klasik Star Wars tanpa sang Dark Jedi, Darth Vader. Layaknya dua sisi koin, tokoh protagonis dan antagonis ini saling bertolak-belakang tapi juga tidak terpisahkan. Yang satu bukan pahlawan tanpa yang satu, demikian sebaliknya.
Menarik membaca kisah Akkadia: Gerbang Sungai Tigris ini tokoh antagonis diserahkan pada Rahzad, panglima pasukan Akkadia, yang nama dan kejahatannya jauh mendahului dirinya. Tersohor sebagai panglima yang memimpin pasukannya menaklukkan kerajaan-kerajaan di sekitar Akkadia satu demi satu, Rahzad menjadi pahlawan bagi rakyat Akkadia sekaligus musuh menakutkan bagi lawan-lawannya. Rahzad tidak segan mengorbankan pasukannya demi taktik perang, seperti ketika membiarkan pasukan Elam melindas pasukan yang ia kirim ke dekat Sungai Tigris dalam salah satu perang di kisah ini.
Namun kemudian, seperti tiba-tiba menikung saat sedang di tanjakan, Villam mengalihkan posisi antagonis ini dan menjadikan Rahzad karakter yang layak mendapatkan pengampunan karena toh dirinya juga dijadikan bidak oleh kekuasaan di belakangnya. Ini seperti halnya Darth Vader yang 'berubah' di penghujung hidupnya dan berusaha menyelamatkan putranya, Luke Skywalker, dari Emperor Palpatine di akhir kisah Star Wars. Namun tetap saja, agak sulit menerima bahwa seorang Rahzad yang hebat tidak menyadari kelicikan dan strategi musuh dalam selimutnya. Ini seumpama Sauron dijadikan bidak oleh Saruman, bukan sebaliknya.
Dengan semua kejahatannya yang tersohor, ternyata Rahzad tetap bukan siapa-siapa. Pertikaiannya dengan Davagni, makhluk yg katanya terkutuk dan muncul di sampul buku ini, juga menjadi tanda tanya sendiri. Penulis berhasil membuat bertanya-tanya ada apa gerangan di antara mereka. Lalu mengapa Davagni yang 'Terkutuk' berada di bawah kekuasaan Naia 'Sang Terpilih'? Jawabannya seolah diserahkan kepada pembaca, karena Naia sang putri dari dari Kazalla sendiri terombang-ambing dengan jati dirinya. Benarkah dia 'Sang Terpilih' atau bisa juga menjadi yang 'Terkutuk'. Keputusan-keputusan yang dia ambil juga menunjukkan kelabilannya sebagai seorang putri yang masih berusia muda tapi menanggung beban memimpin rakyatnya. Mereka yang tersisa dari kehancuran akibat serangan Rahzad.
Keputusan Naia untuk melakukan perjanjian dengan Nergal, Dewa Perang dan Bencana, adalah salah satunya. Sama halnya dengan para Dewa/Dewi dari Olympus, para Dewa/Dewi di Akkadia ini tidak bisa dipercaya begitu saja. Dalam kisah-kisah para Dewa/Dewi Yunani mereka cenderung menghabiskan waktunya bermain-main dengan manusia, bisa jadi karena bosan dengan keabadian yang mereka miliki, namun ketika campur tangan mereka berujung pada masalah dan kerumitan mereka akan cuci tangan dan hanya melihat dari puncak Olympus akan ke mana akhir dari kekacauan yang mereka mulai. Entah sifat kedewaan ini yang ingin ditunjukkan oleh penulis, Nergal memilih bahwa mudah baginya mengingkari janji yang dia buat karena darah keluarga dan kekuasaan jauh lebih kuat.
Layaknya kisah dengan beragam karakter, wajar ketika tidak semua karakter mendapatkan porsi kemunculan yang sama besarnya. Seperti yang terjadi di trilogy Lord of the Rings. Sayangnya, di sini, kemunculan karakter mendapatkan porsi yang sama namun karakter mereka berangsur-angsur melemah. Keinginanku untuk melihat salah satu dari tiga karakter: Ramir, Naia dan Teeza, menjadi kunci utama di akhir cerita pupus karena sepertinya penulis enggan menyerahkan kekuasaan itu padanya. Mungkin Villam tidak setega J.K Rowling yang membunuh Sirius dan Dumbledore demi salah satu ending paling luar biasa di dunia fantasi, atau seperti C.S Lewis yang menutup Narnia dari orang dewasa, sehingga Peter dan Susan tidak bisa ikut lagi di petualangan berikutnya.
Apa pun itu, kisah Akkadia ini cukup memberi ruang imajinasi. Celah di sana sini seakan sengaja dibiarkan. Banyak pertanyaan sengaja tidak dijawab. Terutama soal konsep satu Tuhan ketika di era itu sepertinya peradaban masih berurusan dengan para Dewa/Dewi. Ini semacam déjà vu: "Mungkin semuanya akan terungkap di kisah lanjutan alias sekuelnya."
catatan pribadi: Mungkin banyak yang bosan dengan ini, tapi kalau saja aku belum membaca trilogi Bartimaeus dan tuannya Nathaniel aku akan bisa lebih bisa mengapresiasi kisah ini. Salut buat penulis, semoga buku berikutnya lebih seru lagi.
Bisa jadi kerbau akan menjadi hewan keramat bagi sejumlah gembong fantasi yang selama ini gencar bergerilya di ranah dunia maya. Setelah menunggu, menanti, dan tak pernah berhenti berharap, akhirnya karya perdana mereka menetas di tahun ini. Sebut saja Garuda 5 oleh F.A. Pur dan yang teranyar adalah Akkadia: Gerbang Sungai Tigris oleh R.D. Villam. Ini jelas-jelas adalah pertanda yang sangat baik bagi para wannabe (seperti saya) yang selama ini selalu mendongak ke langit. Bahwa apapun bisa dicapai asalkan ada niat, mimpi, dan keringat. Pada akhirnya, segalanya akan terbayar tuntas. Monumental. Kebanggaan.
Mengenai sosok penulis novel ini, saya tidak pernah tahu jelas. Selama ini, saya hanya terbiasa membaca posting-posting tulisan beliau entah di kemudian.com atau blog pribadinya, rdvillam.com. Ditambah lagi, membacanya di depan layar monitor 15” yang sudah sangat uzur dan tentu saja, masih bermodel CRT. Tapi toh hal itu tidak mengurangi segala kelezatan yang tersaji. Sungguh tulisan bertema fantasi yang menarik, mudah dibaca, dan plotnya jelas. Akkadia mungkin adalah novel pertamanya yang muncul di pasaran. Tapi dengan gaya dan tulisan seperti itu, saya bisa percaya jika novel itu sebenarnya adalah karya kesepuluhnya. Permata yang sudah cukup terasah dan menanti untuk ditemukan. Jadi ketika salah satu ceritanya ini terbit dalam bentuk buku, saya seolah dilanda euphoria karena akhirnya bisa membaca cerita beliau tidak lagi melalui layar monitor. Ceritanya pun akan memliki awal dan akhir yang jelas, dan juga putus dalam satu buku saja. (walau sangat mungkin bersekuel jika ada tuntutan trend. Gejala dan aromanya begitu kentara.)
Nah, lalu bagaimana kesan pertama saya saat melihat novel ini terpajang di rak new release? Jujurnya lega karena setelah berselang nyaris tiga minggu terbit di ibukota kita tercinta ini, akhirnya novel ini boleh mampir di kotaku yang sebenarnya hanya berjarak dua jam saja. Sementara rasa excited-nya sendiri, ehm, udah nggak terlalu gimana lagi karena sudah terlalu sering memandangnya di web. Tapi saya sependapat jika desain covernya terkesan mewah dengan suasana dark dan eksotisnya. Walau bagiku, arsitekturnya lebih mengesankan kuil Yunani, tapi tetep keren lah. Jelas-jelas ini adalah gambaran adegan yang terjadi di bab pertamanya. Hanya saja jika ditilik-tilik lebih teliti, sang puteri berbaju putih ini seperti berusia sepuluh atau dua puluh tahun lebih tua dari seharusnya. Dan juga tempat ia berdiri lebih seperti podium pilar, bukan podium singasana. Tapi yah….teuteup keren lah. Makanya dengan senang hati, saya mau menerima novel ini untuk turut menyemarakkan rak buku saya yang anggota keluarganya masih segelintir.
Setelah mengerenyit rendah akibat hidangan cuci mulut (paragraf pertama halaman ucapan terima kasih yang hanya satu kalimat saja tapi panjang bangeud), akhirnya saya mulai melalap main course-nya. Hal pertama yang patut diacungi jempol adalah kelihaian sang penulis mengaitkan fakta-fakta historis dengan imajinasi liarnya hingga menjadi jalinan cerita fantasi yang memikat dan menegangkan. Sejak halaman pertama, gripnya sudah terasa kenceng. Tidak mengumbar banyak deskripsi atau basa-basi ini itu yang bikin cerita nge-lag. Sang puteri dan rombongannya langsung diposisikan dalam tekanan hebat di ujung tanduk. Berikutnya adalah serbuan makhluk-makhluk khas fantasi macam gharoul (varian ghoul) yang kubayangkan seperti shinigami Ryuuku di anime Deathnote, Davagni sang iblis licik terkutuk yang modelnya seperti gargoyle, dan macan gelap Barion (hm, adakah spesies macan di Eropa tengah? Kalo serigala raksasa sih ada. Contohnya tuh, inangnya Remus dan Romulus penemu kota Roma.). Satu jempol kanan untuk keberanian beliau menciptakan makhluk-makhluk jenis baru dengan deskripsi yang begitu ciamik. Satu jempol kiri untuk keberanian menampilkan setting Mesopotamia sebelum Masehi dan sense of naming yang begitu pas (walau menurutku agak terjegal di masalah Nergal.)
Tentu saja pelarian itu tidak berlangsung semulus yang diharapkan dan cerita pun mulai bercabang. Tokoh-tokoh utama terpencar dan masing-masing menempuh jalan tersendiri. Sejumlah tokoh lain pun dimunculkan untuk semakin menambah cita rasa. Hingga akhirnya, sang puteri bersama para sekutunya melancarkan pembalasan dan pecahlah pertempuran kolosal melawan Akkadia yang melibatkan makhluk-makhluk fantasi dan juga pendeta-pendeta seksi Ishtaran. Selanjutnya terjadi pembelokan dan cerita ini ternyata tidak berlangsung seperti yang semula kuperkirakan.
Secara keseluruhan, nyaris tidak ada salah ketik dan pengeditan yang mengganggu (thumb up to editor). Tutur bahasa mengalir lancar. Walau bercabang-cabang dan berkelok-kelok agak membingungkan, alirannya tetap terjaga lancar. Bumbu ketegangan, twist, dan aksi yang diramu dalam storyline terasa cukup tasty. Akhirnya dalam dua hari, main course itu terlalap habis (walau ngos-ngosan karena terlalu nafsu. Enak, sih.)
Oh, ya, sempat mengerenyit lagi di bab ke-41, tapi jujur ini memang cerita yang penuh MSG dan sangat mengenyangkan. Mak nyus! Tapi hati-hati dengan istilah kenyang yang satu ini. Saya tidak yakin semua orang berpendapat sama. Lay out yang memungkinkan huruf-huruf bertumpuk sesak. Saya bisa mengerti, salah satu alasannya pasti adalah untuk menekan jumlah halaman (sejujurnya saya juga termasuk salah seorang yang tertipu karena standar baca saya maksimum 400 halaman). Terkesan ‘tipis’ tapi sebenarnya sangat berisi. Bagi saya yang sudah mengenal gaya tulisan beliau, tidaklah masalah. Tapi saya tidak tahu bagaimana pendapat orang di luar sana yang benar-benar masih awam terhadap sepak terjang sang penulis dan tema-tema fantasi sejenis ini.
Nah, sekarang marilah menyantap menu-menu dessert yang ‘cukup banyak’. YAY! Tentu saja, dimulai dari keripik-keripik dan jus buahnya dulu. Persiapan perang besar berskala sepuluh ribuan termasuk gajah-gajahnya hanya dalam jangka waktu sebulan saja. Ehm, boleh lah. Sang pengawal pribadi puteri ikut-ikutan berpendapat dalam rapat strategi. Tidak pada tempatnya, but still OK. Terlalu banyak twist ternyata membawa aroma rumit tersendiri. Akibatnya sepanjang mengunyah, saya selalu diliputi kecurigaan. Waspadalah! Segalanya serba menipu. Termasuk sinopsisnya yang saya kira bakal muncul di bab-bab awal. Tapi toh, masih terasa lezat.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, nama Nergal yang ditampilkan begitu tersurat, menurutku, membawa sedikit masalah. Nama ini adalah nama salah satu dewa Mesopotamia yang seharusnya cukup ngetop di masanya. Dia itu putera dewa matahari Ea (sehingga punya kekuatan yang mematikan) namun terjebak dalam permainan cinta dengan Ereshkigal (dewi underworld) hingga akhirnya, ia benar-benar menetap sebagai raja underworld. Dalam epik Gilgamesh yang termasyur, kalau tidak salah nama ini juga memainkan peranan sebagai antagonis. Nah, dengan nama yang sebegitu notorious-nya dan juga langsung diperkenalkan blak-blakan oleh si iblis batu, tidak mungkin si puteri tidak tahu. Sudah seharusnya ia juga bersikap lebih ekstra hati-hati karena bakal menghadirkan iblis setara Hades di dunia nyata. Bahkan jika diperdalam lebih lanjut lagi, pilihan itu bukanlah alternatif lagi karena dewa itu pun bukanlah dewa bangsanya sendiri (aku tidak tahu dewa favorit bangsa Kazalla itu apa). Singkatnya berarti si puteri meminta bantuan dari dewa bangsa musuhnya untuk menolong bangsanya sendiri. Weleh weleh. Tapi, yah, aku juga kurang begitu paham dengan pola pikir si puteri labil yang baru berumur 19 tahun itu. Mungkin sudah sebegitu desperate-nya kali.
Mengenai kedalaman emosi, sepertinya sang penulis tidak ingin mendayu-dayu. Tapi, ehm, menurutku ini agak kelewat datar. Hubungan cinta sang remaja pemimpi dan sang gadis berambut perak seperti cuma jadi tempelan. Sekadar cinta monyet tapi entah kenapa dijadikan pamungkas di adegan tamatnya (benar-benar bau sekuel). Lalu adegan kepergian si duo berambut pirang juga cuma berlalu begitu saja. Adegan si iblis batu boleh dibilang yang paling OK walau disisipi konsep ketuhanan yang menurutku agak mengganggu.
Balik lagi mengenai rentetan aksi bombastis di bab ke-41 itu, sedikit banyak terasa flavor Deus ex Machina. Mentang-mentang musuhnya berpangkat dewa, jadi harus dilawan dengan kekuatan setara dewa pula (alias Tuhan). Bukannya nggak suka. Tapi diam-diam aku berharap ada sedikit unsur logisnya yang turut bermain.
Beberapa tokoh protagonis mempunyai kesamaan karakter, yaitu keras kepala dalam mempertahankan kebodohan. Si raja muda beserta adiknya, si gadis berambut perak, tapi terutama adalah sang puteri yang digambarkan begitu mandiri, tangguh, tegar, namun naif. Benar-benar bikin gereget dan ingin menjitak kepalanya. Punya kemampuan extraordinary ala Cyclops dari X-Man kok disimpen-simpen. Padahal jelas-jelas bisa digunakan untuk melindungi rakyat tidak berdosa dan juga tanah air. Memang sih, risi juga dicap terkutuk. Bisa-bisa digantung ato dibakar ato masuk gosip panas infotainment. Tapi kalau dulu Bung Karno mempunyai kekuatan ala Dr. Manhattan dan menggunakannya untuk mengusir armada Japon, saya bisa mengerti dan mengesampingkan status terkutuknya. Toh, kekuatan terkutuk itu cuma sebatas di kulit saja dan tidak sampai menjadikan hati nuraninya jahat. Hm, dugaan sementaraku, sang penulis kuatir sejarah bisa berbelok jika sang puteri benar-benar nekad menggunakan kekuatan sakti mandragunanya. Karena sudah pasti, Akkadia bakalan gagal menguasai wilayah Mesopotamia. Buatku, adegan yang satu ini benar-benar merusak logika dan terlalu sentimentil. Ah, repotnya mencampurkan fantasi dengan fakta historis.
Karakter favoritku justru jatuh pada sang panglima Akkadia yang keji namun cukup logis dan konsisten. Kehadirannya memberi warna tersendiri karena super tangguh, ambisius, menyimpan rahasia, dan humanis. Bahkan di saat-saat terakhir, ia masih juga mampu menghadirkan drama dan sejumlah twist. Hanya adegan melarikan dirinya bersama si gadis berambut perak di bab 34 yang nggak banget. Langsung deh aku teringat pada serial kesayangan anak-anak negeri kita tercinta ini: NARUTO.
Menu desert berikutnya adalah caesar salad. Tokoh yang begitu beragam dan masing-masing mempunyai taste-nya sendiri. Si gadis berambut perak yang lupa-lupa-ingat, si remaja pemimpi yang ingin menonjol tapi sulit karena memang belum waktunya, si pengawal pribadi dengan cita-cita dan hasrat terpendam, si puteri yang nyaris selalu morang-maring, si raja muda yang memang bener-bener masih muda, si iblis batu yang bermulut tajam, dan sebagainya. Yang rasanya paling tidak sedap adalah si gadis berambut perak terutama saat adegan amnesianya yang bisa sembuh karena tertusuk di pundak. Hm, mungkin gara-gara sensasi shock-nya yang serupa dan menjalar hingga kepala. Masih bisa diterimalah. Walau aku sempat menduga, jangan-jangan bakal ada twist ala Total Recall. Tapi, ya, begitulah. Aku masih terlalu hijau dan polos. Sementara sang koki terlalu piawai mengumbar menu hidangan yang beraroma menggairahkan.
Nah, yang jadi masalah adalah kalau ada orang di luar eksistensi kelompok fantasi yang bertanya: rasa campur aduk caesar saladnya seperti apa sih? Maka bingunglah aku. Jawaban pertamaku pasti: ambisi Akkadia untuk menguasai wilayah Mesopotamia, balas dendam si puteri Kazalla, dan reaksi negara-negara di sekitarnya yang juga berselisih dengan Akkadia. Setelah itu, ada pula cerita tokoh-tokohnya pribadi demi pribadi yang akhirnya saling berkait. Tapi ujung-ujungnya adalah pertarungan melawan dewa kegelapan yang hendak menguasai dunia. Dan si dewa yang asli keturunan Mesopotamia itu akhirnya terjungkal di kandangnya sendiri oleh Tuhan yang notabene berasal dari tanah bule di Utara. Nah, lho?
Menu yang terakhir adalah adegan no kill-nya yang begitu tersurat di bab 40. Agaknya menjatuhkan rating dari Adult ke PG-13 atau bahkan Children. Padahal di halaman-halaman awal sudah penuh dengan adegan tempur yang pastinya berdarah-darah macam kepala remuk, perut memburai, dan sebagainya. Tapi toh, kukira semua itu masih dalam kadar cukup dan tidak berlebihan. Bukannya aku doyan dengan adegan yang berdarah-darah, tapi kukira, hal itu memang yang paling masuk akal dalam suatu situasi pertempuran nan genting. Namun di bab 40 inilah….Ehm, mungkinkah situasi diperlembut gara-gara ada yang hendak bertobat?
Ah, sepertinya aku sudah terlalu kenyang sekarang. Tapi dengan aroma after taste yang masih terasa menggeliat namun menggantung, sepertinya novel ini sangat berpotensi untuk kelahiran Akkadia-Akkadia berikutnya. Atau mungkin pula berganti menjadi Assyria atau Babylonia. Halah, pokoknya sih tergantung sang koki dan pasar. Ada permintaan, ada barang. Namun sekali lagi, yang pasti bagi sang koki, ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Bagi saya sang penikmat adalah menu dan cita rasa yang mengenyangkan. Sementara bagi komunitas Fantasi Dalam Negeri, mereka baru saja mengesahkan anggota terbaru yang sangat mungkin berpotensi di masa mendatang.
Tapi marilah kita memanjatkan doa bersama-sama: Arante rei kui tanara. Arante rei eis tadira. Uis tera din eidara, eista. Arante rei, pi pi pi la la la la. Terjemahannya kira-kira seperti ini: Tuhanku, kepadaMu aku berlindung, kepadaMu aku kembali. Bawa aku dalam lindungan cahayamu. Aku percaya. Kau akan selalu memberkati dan mewujudkan mimpi insan-insan-Mu yang lainnya. Tentu saja, mimpi sang penulis review ini dan juga para pembacanya. Hehehe. PUAS! (sambil mengangkat dua tangan terkepal ke atas).
Buku ini termasuk satu diantara buku yang *susah* aku baca.
Kenapa susah dibaca? Dua hal. Satunya adalah sesuatu yang nggak bisa dihindari. Menurut hitung-hitungan kasarku, keseluruhan cerita ini terdiri dari 140k kata. Namun, visi penerbit adalah agar buku ini terjangkau. Jadilah layoutnya dipadat-padatin. Hasilnya adalah buku dengan layout paling mencekik yang pernah kubaca selama ini, yang kadang bikin aku ngos-ngosan baca.
Faktor kedua, prosanya yang masih kurang ngalir. Ada orang yang nggak masalah dengan prosa apapun, tapi buatku, ini masalah, apalagi karena dikombinasi dengan layout nyekek. Kalau cuma salah satunya, barangkali aku tahan. Tapi layout nyekek + prosa berat, wew... tiap kali aku nutup buku ini, jadi malas bukanya lagi ~_~
Untungnya, aku dah janji untuk bikin review Akkadia. Jadi suka gag suka ya harus baca. Ternyata, buku ini memiliki latar dunia yang cukup kaya. Mesopotamia, abad 24 SM? Hmm... kerasa sih, secara garis besar. Tapi kadang, pada detail-detail kehidupan masyarakat, ada yang bikin aku pengen bilang, "Muup, nanya dunk!" Hal 268, misalnya, dibilang kalau salah satu perbekalan Teeza adalah sebotol air minum.
Bukannya kalau prajurit mau pergi perang, daripada bawa botol harusnya mereka bawa kantong minum dari kulit? Lebih ringan dan gampang daripada botol, kan?
Kalau masalah tokoh, aku nggak puas sama karakterisasi beberapa diantaranya, tapi ada juga yang aku sukai. Peringkat pertama lari ke Davagni yang smart-ass, in a good way. Rasanya pengen miara dia di halaman rumahku, hehehe. Ga usah dikasih makan pula, karena dia bisa makan batu. ^^
Yang kedua, Toulip. Yang juga smart-ass in a good way.
Ketiga, Nergal. Kenapa? Cuz he's BAD-ASS in an EVIL way. Oh yeah.
Sementara para tokoh utama manusianya sendiri banyak yang bikin aku bingung. Mereka nggak bisa ditebak maunya apa, dan not in a good way.
Kenapa? Alasan dibalik keputusan-keputusan yang mereka ambil, juga karakterisasi mereka, kurang jelas.
Ambil satu contoh, misalnya, Rahzad. Penjahat kejam yang sudah membantai ratusan ribu orang dengan uenak tenan. Kayaknya dia mau dijadikan karakter kelabu yang perlu diberi simpati, mengingat dia digambarkan punya alasan yang bisa membenarkan pembantaian yang dia lakukan.
Apa alasan itu?
1. karena dia merasa bangsanya adalah bangsa unggul yang seharusnya menguasai ras lain, dan
2. Karena dia punya masa lalu yang *menurut dirinya sendiri* tragis, bergelimang fitnah and so on and so on.
Mari merenung sejenak. Kita disuguhi pemikiran bahwa memiliki ide megalomania dan masa lalu buruk (yang bahkan nggak diconfirm benar-salahnya) adalah *pembenaran* untuk jadi panglima perang pembantai kejam.
Kelabu, memang. As in, kelabu nggak jelas mengapa aku harus bersimpati pada karakter ini.
Dan plot? Hmm... banyak kepentingan dan perjalanan yang saling silang dari para karakternya. Beberapa anak plot ini dijelaskan dan diselesaikan dengan baik, beberapa dibelokkan dengan cara yang membingungkan, dan beberapa lagi dibiarkan nggak terjawab. Kayak biji bekel yang dilempar tapi nggak semuanya diraup lagi.
Memang konflik nggak semuanya harus terselesaikan. Hanya saja kayaknya ujung yang terselesaikan ini terlalu sedikit. Kurang memuaskan ~_~ Tapi yang paling bagus dari plot ini memang bukan akhirnya, tapi prosesnya.
Yang secara khusus indah itu di bagian tengah. Penasaran juga, si A sudah memilih ini, dan mereka jalan ke sini, dan pada saat bersamaan si B bertemu si C, dan ternyata si C memiliki kaitan dengan si A, bagaimana akhirnya mereka ketemu? And so on. Kait-mengait itu sangat menarik untuk diikuti, dan tiap kali aku menemukan ada 'kecocokan' antara apa yang diperbuat karakter B sehingga karakter C mengalami ini, wew, itulah saat-saat cerita ini terasa sangat bisa dinikmati.
Bagian akhir yang harus dipuji barangkali adalah glosariumnya. Walau kebanyakan berisi nama tokoh, ada banyak pengetahuan singkat tentang Mesopotamia (dan sekitarnya) yang lumayan menarik.
Jadi, 3 Bintang. 4.5 bintang untuk cerita dan bangunan dunia, minus 0.5 untuk layout, minus 0.5 untuk prosa (ini personal preference), dan minus 0.5 untuk motivasi tokoh-tokohnya yang bikin aku bingung dan kadang-kadang nepok jidat.
Tidak banyak referensi tentang buku-buku fantasi yang saya miliki untuk mengatakan hampir tidak ada/tidak pernah selesai. Dan seingat saya kebanyakan buku fantasi adalah buku terjemahan, sehingga ketika membaca nama penulisnya yang kelihatannya berbau non Indonesia nggak tahu kenapa saya tertarik untuk cek apa judul aslinya dan siapa penerjemahnya (padahal juga nggak ada yang hafal nama-nama penerjemah :), hanya memastikan ini buku terjemahan/tidak). Tapi disana tidak ada informasi yang menunjukkan kalau buku ini adalah karya terjemahan. Mungkinkah ini karya anak negeri? Genre fantasi? Cek kata pengantar, yup ini karya anak negeri. Hmmm…akankah seru? Ada sedikit ragu :)
Kesan pertama dari covernya, saya telah membayangkan bahwa ini akan jadi cerita tentang dunia sihir berisi aneka makhluk aneh-aneh. Pada bab awal, suasana mencekam telah mampu dibangun oleh penulis, meski demikian dia sempat menyelipkan sebuah humor lewat pernyataan Davagni (yang sering disebut sebagai makhluk terkutuk, makhluk dari dunia ‘lain’) ketika menanggapi istilah ‘dunia kegelapan’ yang digunakan oleh manusia untuk disandangkan kepada kaumnya padahal dunianya jauh lebih terang dibandingkan dunia manusia. Jadi manusia itu sotoy ya…Hahaha…
Dengan tempo yang cukup cepat, kisah ini mampu membuat kita ikut merasakan ketegangan, was-was, menebak-nebak dan terkaget-kaget. Villam berhasil mengecoh pembacanya untuk memilih dan memutuskan mana tokoh protagonis dan antagonis, bukan seperti sinetron Indonesia yang menampilkan tokoh protagonis dan antagonisnya didramatisir sampai sedemikian nggak masuk akalnya. Naia, Sang protagonis juga memiliki kelemahan bahkan keputusan salah yang menjadi bumerang bagi dirinya dan pasukan sekutunya. Rahzad, si jenderal Akkadia yang sangat ditakuti karena kebengisannya tetap memiliki sisi yang menyentuh atas prinsip yang dia yakini. Nergal, yang digambarkan dengan sosok yang mempesona (cakep, sopan, sakti) justru bertransformasi menjadi sosok yang menakutkan. Bahkan kepastian siapakah sejatinya Sang Terpilihpun juga masih sempat menimbulkan pertanyaan sampai dibabak-babak akhir. Yang sempat bikin gondok adalah ketika pembaca sudah diyakinkan untuk bersimpati untuk kedua kalinya kepada sosok Davagni dengan latar belakang kelamnya memegang teguh kepercayaan yang telah diberikan oleh Sang Terpilih dan teman-temannya tiba-tiba muncul dengan nada mengancam disaat yang tidak terduga-duga. Pokoknya nggak bisa ditebak deh… And Davagni you’re ROCK hehehe…
Yang paling saya suka adalah karakter toko-tokoh perempuannya yang tidak manja, dan fragile seperti fairy tales putri raja dan pangeran yang sudah sering kita konsumsi :D, disini bisa dikatakan semua tokoh perempuannya adalah super woman. Putri Naia, memiliki kemampuan pedang yang cukup untuk bisa bertahan dari para pengejarnya. Kapten Teeza, sosok cerdas, ahli memanah dan bermain tombak, memiliki pendengaran dan penglihatan yang tajam, hingga membuat prajurit Akkadia harus sangat berhati-hati. Putri Elanna, tenang dan kemampuan bertempurnya juga tidak perlu diragukan lagi. Putri Rifa, sosok petualang yang mengagumi Kapten Teeza dan ingin sebanding dengannya. Soalnya sudah capek dengan kisah putri-putrian yang menangis tanpa daya berharap menunggu pertolongan dari pangeran kesasar :D
Bisa jadi yang mungkin tidak biasa dari kisah fantasi ini adalah pesan yang coba disisipkan oleh Villam tentang dunia spiritualitas. Dengan mantra eh doa ‘Arante rei kui tanara. Arante rei eis tadira. Uis kisa ren entara, kuiva. Uis tera din eidira, eista. Arante, rei’ (inikah artinya—saya hanya menduga: Tuhan, kepadaMu aku berlindung, kepadaMu aku kembali. Bawalah aku ke sisiMu, matikan aku dalam cahayaMu. Aku percaya). Ya, sebuah penerimaan/kepercayaan dengan sungguh-sungguh atas keberadaan Sang Pencipta langit dan bumi telah mampu menjadi senjata yang melindungi Teeza dari maut. Sisipan yang dahulu juga dipakai dalam pagelaran wayang pada masa wali songo dalam mensosialisasikan Islam dengan istilah ‘Jimat Kalimasada (syahadat)’, sebuah ilmu yang dicari dan diyakini akan membawa kemenangan bagi kebenaran yang dinisbatkan pada kelompok Pandawa. Bagaimanapun, kisah fantasi ini telah memikatku. Gue suka gaya loe Villam…
Apakah saya mulai menyukai genre fantasi? We’ll see :)
-------------------------------$$$$$------------------------------- Sebelumnya aku bukan penikmat genre fantasi, tetapi seorang 'Peri Buku' yang tinggal di Radal telah membujukku untuk mengkonsumsi 'racun' Akkadia... Walhasil, sementara ini efek sampingnya adalah halusinasi, dada berdebar-debar, mudah curiga (belum tahu apalagi efek samping yang akan kuderita selama racun itu masih menjalar ditubuhku)
Akkadia… penulis serasa ingin menggabungkan cerita dari buku-buku yang pernahjaya. Petualangan, fantasi, roman… serasa ngebaca eragon dengan settingan misteri gunung merapi dan disisipi majapahit. Petulangan fantasi yang pengen menunjukkan perkelahian dasyat namun yangn ada ujung-ujung na adalah perkelahian brutal, tanpa rencana matang dan strategi perang. Dangkal.
Bisa dibilang.... serasa kita duduk dihadapan orang-orang yang ribut ngomong sendiri tanpa melibatkan kita, dengan ego masing-masing mengemukakan pendapat na dan menganggap kita yang duduk di samping meja pendengar tidak tahu apa-apa. Mmhh... gimana ya, ribut. Seperti itulah rasa na di dalam buku ini. Kebanyakan omong. Semua tokoh berbicara, saut-sautan. Ya... sibuk ngomong sendiri dengan ego masing-masing dan kekeraskepalaan na. Walo bukan omong kosong, tapi serasa bertele-tele, ngomong yang ga penting juga ada, ga pada momen na. Kaya waktu Ramir masuk ke mimpi Teeza, bukan na ke tujuan awal untuk membangunkan Teeza dari mimpi na, tapi pake acara meminta maaf dan menjelaskan kenapa ramir masuk ke mimpi juga. Huallow.... dah keburu dimangsa gharoul kali, kelamaan. Atau percakapan basa basi lain yang mungkin bisa diilangin, pantes buku na lumayan tebel (mengingat font huruf yang kecil-kecil).
Terlepas dari itu semua, rhe suka si pengarang sempat menempatkan orang kepercayaan menjadi lawan mereka (walo dalam kasus hilang ingatan). Hal ini bisa dijadikan senjata berharga. Dia bisa membunuh, tapi tak akan dibunuh musuh na karena ’mantan’ rekan mereka. Tapi, kenapa ketika ingat kembali, Teeza semudah itu menerima fakta dan semudah itu dibujuk. Arrgh... yang proses yang lama dikisahkan singkat, proses singkat dikisahkan bertele-tele.
datar.... ga kerasa klimaks dan anti-klimaks na. ketika buku ni selesai dibaca... yang ada cuma, ow.. dah selesai ya. gitu doang. ga ada kesan saking datar na tu cerita.
First Impression: Killer Cover :) What can I say, even when some people say don't judge the book by its cover, but this one certainly draw me in.
And now for the content: as I did help in some of the editing, I am probably one of the very few person who read this book first. As a fantasy lover, the first thing that I love about this book is its unique spin that revolves around the story, culture and history of people in the Mesopotamia in the 24th century B.C. Some of the characters, places and story there, were actually real things and could be found in the actual history of the Mesopotamian (And yes I check this out through google and wiki :D)This really open up my eyes to one of the most amazing civilization of the world past. I don't know much about the history of Mesopotamia, but RD Villam is able to convince me enough with his writing, that he has done enough research and being able to bring the history back to live in his own story. His writing is able to kept me reading non-stop, and bring that world up in front of my eyes.
Also love the twist and spin of the story that kept me guessing till the end. I thought I had it figure out at the middle of the book, but boy was I wrong :)
Pertama-tama, saya harus mengatakan bahwa novel fantasi dan saya adalah dua teman yang baru saling kenal dan mencoba memahami sifat masing-masing. Tepatnya, saya yang sedang berusaha mengakrabi novel-novel bergenre ini. Bagaimana tidak, saya baru mengoleksi novel fantasi saat Harry Potter muncul, dan baru menyadari keberadaan 'makhluk-makhluk asing' yang berjuang berdampingan dengan manusia saat menonton Lord of the Rings (menonton ya...bukan membaca).
Dengan referensi sedemikian rupa, saya mencoba untuk mengulas novel fantasi "Akkadia: Gerbang Sungai Tigris" ini. Fantasi sejarah tepatnya, karena setting yang dipilih penulis adalah Mesopotamia abad 24 SM. Sebagian tokoh dan tempat dalam novel ini juga benar-benar ada, seperti Raja Sargon penguasa Akkadia (2360 -2279 SM). Menunjukkan riset yang cukup teliti untuk menunjang jalinan cerita.
Kisah dibuka dengan dialog Putri Naia dan Davagni, makhluk perkasa dari dunia kegelapan. Putri Naia membutuhkan segenap bantuan untuk melawan pasukan Akkadia yang telah menghancurkan negerinya dan membunuh keluarganya. Pasukan Akkadia sangat kuat karena dipimpin oleh Rahzad, panglima hebat yang disegani musuh-musuhnya.
Putri Naia tentu tidak berjuang sendiri. Dia dikelilingi oleh orang-orang terpercaya: Fares, pengawal setia yang diam-diam menaruh hati padanya, Teeza, panglima cantik yang tangguh, serta Javad, raja Avan di wilayah Elam yang memberi perlindungan kepada rakyat Naia sekaligus calon suami Naia.
Wilayah Elam yang dikelilingi Sungai Tigris masih aman dari serbuan Akkadia karena ada gerbang gaib yang melindungi wilayah tersebut. Hanya tiga orang pemegang kunci yang bisa membuka gerbang, yaitu Naia, Javad, dan satu orang lagi yang belum diketahui keberadaannya. Itu sebabnya Naia dan Javad di satu sisi dan kerajaan Akkadia di sisi lain, sama-sama mencari pemegang kunci ketiga.
Adegan awal yang menggambarkan pengejaran Naia oleh pasukan Akkadia langsung menghadirkan ketegangan yang tidak berhenti hingga akhir. Ketegangan demi ketegangan mengiringi pertemuan Naia dkk dengan Rahzad, petualangan Teeza yang sempat hilang ingatan dan direkrut oleh musuh, pengungkapan jati diri pemegang kunci ketiga, hingga pertempuran akbar antara pasukan Elam dengan pasukan Akkadia. Pertempuran yang melibutkan barion-barion ganas, gajah-gajah, dan makhluk-makhluk setengah dewa.
Plot yang tidak lurus alias belak-belok mengikuti perjalanan tokoh-tokohnya membuat novel ini tidak membosankan bagi saya yang -sesungguhnya- kurang suka adegan perang-perangan. Karena selain perang masih ada kisah cinta, ada persahabatan, ada pemuda desa yang ternyata menyimpan kekuatan super.
Karakter tokoh yang tidak hitam-putih menjadi nilai lebih novel ini. Tidak heran jika semakin lama saya malah semakin bersimpati pada Rahzad. Apalagi, ternyata ada yang lebih jahat lagi daripada dia kok. Hubungannya dengan Teeza juga menjadi favorit saya di antara kisah-kisah cinta lainnya dalam buku ini. Rahzad yang gagah, bengis, dan dingin bisa-bisanya berkata seperti ini: "Daripada mati di tangan orang lain, aku lebih suka mati di tanganmu, satu-satunya wanita yang pernah kucintai seumur hidupku" (hal. 243). aw aw aw.
Satu hal lagi yang menarik, setelah berbagai konflik, pertunjukan kesaktian dan pertemuan dengan makhluk-makhluk dari dunia lain, ternyata ada satu kekuatan besar yang tak bisa diabaikan, yaitu keyakinan kepada Tuhan. Unik juga karena kisah-kisah fantasi yang saya tahu biasanya malah tidak menyentuh wilayah itu.
Namun, ini menurut saya, beberapa adegan pengejaran dan penyerbuan terasa agak berlama-lama. Tapi mungkin juga karena saya belum terbiasa membaca genre fantasi. Padahal, novel-novel fantasi hampir seluruhnya berkisah tentang peperangan dan pertempuran dan perebutan kekuasaan ya!
Di luar isi cerita, tata letak halaman ternyata membuat mata saya cukup lelah. Huruf-hurufnya begitu rapat dan mungil, mungkin supaya bukunya tidak terlalu tebal?
Yang jelas, karya perdana R.D. Villam ini berhasil membuat saya penasaran dengan novel-novel lokal bergenre fantasi lainnya yang ternyata sudah banyaaaaak (duh ke mana aja ya saya!)
Apakah cukup satu buku untuk menceritakan tokoh-tokoh utama dalam sebuah episode peperangan dengan segala permasalahan pribadinya, latar belakang, efek dan detail musuh yang dihadapi? Saya membayangkan bagaimana jika TAIKO ditulis dalam 400-an halaman buku standar, adegan apa yang akan dipilih dalam cerita Musashi jika ingin membawa pembaca terpuaskan dalam 400-an halaman? Bagaimana JK Rolling memilih cerita tuntas Harry potter hingga matinya Dumbledore diringkas dalam 400-an halaman atau apa jadinya dengan cerita fantasi yang banyak disukai orang, trilogi barty diringkas dalam 1 buku yang jumlah halamannya 400-an...yay...
Pasti tidak akan memuaskan.
Menariknya, RD Villam dalam terbitan perdana, memberi pembaca (saya maksudnya) hal lain untuk berpuas diri menikmati cerita fantasy berlatar belakang Mesopotamia 24 SM.
Karakter-karakter yang dimunculkan Villam, berikut kekuatan dan makhluk-makhluk lainnya, membuat saya terpesona. Deskripsi tentang makhluk, tempat khusus, karakter baru selalu dengan jalinan kata-kata yang “tepat rasa” hingga pembaca akan sangat mudah membayangkan apa, bagaimana dan siapa.
Membaca Akkadia hingga paruh buku, pembaca akan menemukan saling silang antar tokoh yang benar-benar tidak terduga. Villam berhasil membuat beberapa keadaan yang tidak populer di pakem romansa fantasy **ah ya saya menggunakan istilah ini** .
Sayangnya, setelah semuanya berakhir dan buku Akkadia ditutup. Pertanyaan bahwa, apakah satu buku berjumlah 400-an bisa menceritakan fantasi epik dengan benar-benar memuaskan? Jawabannya adalah tidak.
Kernanya prekuel cerita Kekuatan Terpilih dan Terkutuk, Kakek angkat ramir dan perjalanannya, Davagni dan dunianya, serta Rahzad/Ellana dari Kaspia, begitu menjanjikan. Tanpa itu semua, buku Akkadia : GST membuat ruang kosong di mana keyakinan (saya) tentang sebab musababnya para tokoh Kaspia memilih berada di Akkadia (tetap) tidak kuat dan apa itu Terpilih dan terkutuk hanya seperti sebuah tempelan saja.
Akhirnya, bagi saya Akkadia seperti sebuah perayaan bagi buku fantasi dalam negeri. Selamat Villam! Di tunggu buku selanjutnya.
Finally done sama buku ini yang baru dikirim langsung sama Mas Villam. Versi black edition! Langsung saya babat semalaman dan... yah mau kasih sedikit review plus minus novel ini.
plus 1. Setting ceritanya, Mesopotamia dulu. waw. Ini adalah dunia yang masih penuh tanda tanya, dan kuakui, penulis memasukkan cerita yang sarat akan riset (ceilah bahasanya). Ide ini cukup unik (sampai saya baca novel ini, saya belum lama ngegarap novel fantasi saya seputar era di jaman begini juga, dan sedikit tercerahkan) :3
2. proses yang too awesome. proses dari A ketemu B terus ketemu C dan so on membuat saya menikmati perjalanan tersebut. Entah mengapa saya merasa benar benar seperti jadi bagian dari perjalanan tersebut. Hohoho.
3. Bahasa lugas dan ga bertele-tele.
4. Beberapa tokoh punya watak kuat (Davagni, Toulip.... awesome. meski cuma muncul pada bab bab tertentu tapi aku suka :3 terutama Davagni...ish. Sifat sarkatisnya itu lho.... )
5. Proses perangnya itu. Saya speechless Thats too awesome for me so I can't complain.
minus
1. Motif atau latar belakang tokoh terhadap apa penyebab ia melakukan ini dan itu terasa kurang kuat dan agak ambigu. Kayak Rahzad gitu. Belum lagi kenapa tokoh Rahzad yang ditakuti dan super ekstreme maha bad-ass itu seolah dapat pembenaran dalam sikapnya yang tiba tiba bikin Teeza nerima? but somehow, saya suka sih tokoh Rahzad...selain Davagni dan Toulip.
2. Tokoh centralnya sebenarnya siapa? Keberadaan Ramir si pewaris atau Teeza sang terpilih (Atau sang terpilih?) atau Naia? Siapa sebenarnya the real hero disini? Bingung...
3. settingnya kurang nendang mas! Mungkin mas Villam harus lebih mengeksplorasi aja setting tempat supaya lebih terasa. Kekhas-an suatu daerahnya kurang terasa, dan itu yang mungkin bikin deskripsi jadi ga 'nendang' gitu...
Akhir kata. Saya tetep suka novel ini. Saya tunggu kelanjutannya, karena saya penasaran dengan kisah Teeza dan Ramir dkk. Hohoho...pastinya dengan petualangan mereka juga.
P.S: mas, kalo buku kedua udah jadi saya pre-order cetakannya sisaiin mas buat saya ya hahaha...
harusnya bintang 4, karena detil ceritanya oke. dan benar-benar menegangkan. cuma terpaksa didiskon, hanya gara-gara tempo. saya benar-benar terengah-engah membaca buku ini :-). Dari satu pertarungan/pengejaran ke pertarungan/pengejaran berikutnya, demikian seterusnya. Tidak ada jeda sama sekali. semoga di buku berikutnya, Villam dapat mempertimbangkan pengaturan tempo untuk pembaca yang berusia lanjut seperti saya. hehehe.
Suka atau tidak, Naia Kashavi, putri Talbrim, raja Kazaala harus menerima takdirnya menjadi pemegang kekuasaan tertinggi sejak ayah dan kakaknya meninggal dalam medan laga. Walau baru berusia sembilan belas tahun, namun dengan postur tubuh yang kecil ia sangat pandai menggunakan pedang. Ia membawa rakyatnya yang selamat menyeberangi Sungai Tigris dan berlindung dari pasukan Akkadia di Negeri Elam
Akkadia merupakan sebuah kekaisaran yang didirikan Sargon tahun 2334 SM merupakan kekaisaran multietnis pertama di dunia dan merupakan bangsa berbahasa Semitik pertama yang tercatat dalam sejarah. Hancur pada tahun 2250 akibat serbuan bangsa Gutia.
Guna memenangkan pertempuran, Putri Naia memakai bantuan Davagni, makhluk terkutuk dari dunia kegelapan. Walau tindakannya itu mendapat tantangan dari banyak pihak, namun tidak bISA di pungkiri, Davagni benar-benar menunjukkan kegunaannya dalam memberantas musuh.
Dalam pertempurannya, Putri Naia juga dibantu oleh banyak pihak. Antara lain oleh Teeza, pejuang wanita yang gagah berani serta Ramir sang penyembuh dengan bakat yang aneh yaitu menjelajahi mimpi serta berbicara dengan kucing peliharaannya. Pertempuran itu juga melibatkan Ishtaran, kaum wanita pendeta kuil Ishtar. Para gadis berjubah merah di masing-masing tangan mereka terpancar sinar jingga menyilaukan. Kekuatan magis mereka memiliki unsur api. Tak ketinggalan gharoul, makhluk dari dunia kegelapan yang membutuhkan darah manusia untuk bertahan hidup.
Pertempuran yang berlangsung tidak seimbang, membuat Putri Naia mengerahkan seluruh kekuatannya. Sang putri berlutut dengan tangan mencekram tanah. Dari dalam tubuhnya memancar cahaya merah yang jauh lebih terang dan menyilaukan . Kepalanya mendongak, dan tak sampai sedetik sinar merah terpancar dari sepasang bola matanya. Sinar merah itu dengan cepat membinasakan prajurit Akkadia
Semula cerita ini saya kira hanya menyampaikan pesan moral bahwa bagaimana juga kejahatan akan kalah oleh kebaikan. Namun ternyata ada unsur-unsur lain yang juga diracik apik oleh pengarangnya. Keyakinan akan kebesaranNya serta keyakinan hanya untuk memohon bantuan kepadaNya ju adihadirkan dalam wujud yang apik tanpa ada kesan menggurui.
”Erathek idiqlatta touraki tiri” Merupakan doa yang diucapkan oleh Ramir
“Arante rei kui tanara Arante rei eis tadira Uis kisa ren entara, kuiva Uis tera din eidara, eista Arante, rei Tuhan, kepadaMu aku berlindung, kepadaMu aku kembali. Bawalah aku ke sisiMu. Matikan aku dalam cahayaMu. Aku Percaya” Merupakan doa yang diucapkan Teeza saat dalam pertempuran berada dalam posisi terdesak.
Secara keseluruhan buku ini bisa membuat imajinasi saya bergerak bebas menjelajahi alam fantasi. Jalan ceritanya benar-benar berbeda, konflik yang ada diramu dengan cantik. Penyelesain masalah juga tidak berkesan dipaksakan. Cover dengan dua sisi kontras juga mengingatkan pada beberapa buku dan game on line.
Sebagaimana umumnya sebuah buku, pastilah ada kesalahan dalam tatabahasa. Namun ketegangan yang disajikan dengan apik membuat saya mengabaikan kesalahan itu. Hingga pada halaman 369, sebuah kesalahan pengetikan nama membuat saya harus membolak-balik beberapa halaman di depan. Disana disebutkan bahwa terjadi pertempuran sengit Teeza dan Nergal. Pedang Nergal seharusnya menyentuh tubuh Teeza dan mendadak terpental. Namun disana tertulis Zylia bukan Teeza.
Penulis memang merupakan wajah baru, walau ini bukan tulisan pertamanya. Salah jika mengira membaca buku pertamanya akan mendapat kesan hambar, setidaknya menghasilkan tulisan standar yang mudah ditebak jalan ceritanya. Beberapa tokoh yang semula saya kira adalah pahlawannya justru hanya mendapat porsi sebagai pelengkap. Sedangkan tokoh yang semula digambarkan dengan sambil lalu justru belakangan berubah menjadi tokoh jagoan. Uraian terinci mengenai pertempuran membuat saya merasa ngeri. Kekuatan dan kelicikan Davagni, makhluk dari dunia kegelapan yang memiliki nama indah mampu membuat cerita kian menengangkan.
Bagi saya, tingkat kesulitan buku ini nyaris menyamai seri The Thunnels. Banyak tokoh serta tempat terjadinya suatu peristiwa yang terlibat di dalam cerita ini. Saya sangat tertolong dengan adanya glossarium yang mengahabiskan 7 halaman di bagian akhir buku. Jika sesaat saya lupa dengan siapa tokoh yang sedang diceritakan atau lokasi yang disebut, tingal mengintip glossarium maka cerita akan mengalir kembali dengan cepat.
Yang membuat penasaran justru peristiwa kecil di akhir cerita. Dimana diceritakan perpisahan antara Ramir dengan Teeza. Ramir mengucapkan janjinya, ”Setiap tahun, lima tahun dari sekarang. Kau mungkin tidak datang di tahun pertama, maka aku akan datang dan menunggu lagi di sini, ditahun berikutnya. Lalu jika kau tidak datang juga maka aku menunggu lagi di tahun berikutnya. Dan di tahun kelima-sepuluh tahun dari sekarang-jika kau tetap tidak datang, maka akulah yang akan mencarimu ke utara, dan kau tidak bisa menolak” Mengingatkan saya pada beberapa film. Kalau ini buku dengan genre roman, maka saya akan teringat film India. Namun karena ini merupakan sebuah buku fantasi dengan tema laga, maka saya jadi teringat kalimat perpisahan yang sering diucapkan oleh para jagoan bela diri di akhir cerita. Sang jagoan akan mengucapkan kalimat perpisahan sambil memandang kekasihnya yang berjalan menuj ke arah matahari tenggelam!
Atau...., bisa juga ini merupakan sebuah strategi cerdik dari penulisnya guna mengundang rasa penasaran pembaca, sekaligus melihat bagaimana respon pasar. Jika novel ini diterima, maka bukan tidak mungkin akan ada sebuah buku yang berkisah mengenai Ramir dan Teeza. Namun jika tidak, imajinasi pembaca dibiarkan bebas membentuk sebuah cerita sendiri.
kelebihan: - PLOT, ini dia unsur terbaik buku ini. - Toulip si kucing cerdik (bisa berbicara pada salah satu tokoh cerita) dan Davagni (iblis batu yang sinis dan berlidah tajam, mengingatkan pada tokoh Bartimaeus, tapi Davagni lebih serius) - kick-ass heroine XD - ide gerbang sungai Tigris itu sendiri (lumayan orisinil) - the real villain: is .... - simbolisme
kekurangan: (maaf mas Villam, saya akan agak cerewet) - pengulangan kata 'sang', okelah ada sang terkutuk dan sang terpilih, tapi ternyata ada lagi: sang penjaga ilmu, sang pencari ilmu, dan sang terkutuk yang diulang-ulang... kata 'sang' memiliki kekuatan, tapi ketika digunakan kebanyakan, rasanya malah jadi overdosis... - kekurangan deskripsi tempat dan tokoh, misalnya ketika adegan melarikan diri di terowongan...kedua tokoh terus menerus berbincang, tapi apa yang mereka lakukan selagi berbicara? dunia timur tengah mereka kurang bisa kutangkap penggambarannya... - mungkin ini gara2 teks yang terlalu kecil dan berderet panjang? aku kesulitan mengatasi kesabaran untuk terus membaca dari kata ke kata, sehingga terkadang aku melakukan hal terlarang, yaitu menskip beberapa halaman hingga akhirnya menemukan sesuatu yang menarik (oh, ada Davagni, apa yang akan dia katakan kali ini? :P) - tokoh-tokohny kurang menarik dan tidak begitu mendapat simpati dari saya sebagai pembaca...
sekian review saya, terima kasih, semoga mas Villam akan menulis cerita lain yang tidak menggunakan format paragraf panjang2 seperti ini (karena efeknya sama seperti saat saya membaca Lord of the Rings, yaitu: ngantuk :))
sebenernya dapat buku ini sudah lebih dari setahun yang lalu, saat launching Xar&Vic #2 Prahara di gramedia matraman... berbulan2 buku ini nangkring di rak buku, di telikung buku2 lain.. beberapa kali sempat diambil, tp ditaruh lagi.. krena jujur, agak malas setelah membaca beberapa riview yg mengeluhkan soal font dan margin.. beberapa kali utk dijadikan modal swap, tp selalu batal dan dikembalikan ke rak.. mungkin masih ada sedikit penasaran kali yah :)
saat harus meninggalkan jakarta dan pindah ke balikpapan, buku ini akhirnya termasuk dalam beberapa buku yg dilimpahkan kepada teman2.. ngapain dibawa, sedangkan ditempat tujuan saya, buku ini sudah nangkring di raknya petrik :)
yang pertama terpikir setelah membaca buku ini adalah, kalau buku ini memakai margin dan font yg lebih bersahabat, berapa kira2 tebal bukunya ya? berapa lama waktu yg dibutuhkan utk membacanya? dua hari juga, lebih cepat atau lebih lama?
yang pasti saya menunggu buku lanjutannya.. jangan lama2 ya mas R.D. Villam :)
Belum sanggup menyelesaikan... jadi sementara saya taruh di rak lain dulu deh.
Mungkin memang karena model cerita seperti ini kurang nyambung dengan saya. Entahlah. Tapi yang jelas saya tidak sanggup membaca lebih dari beberapa bab pertama. Mungkin karena masalah font, saya jadi capek membaca bab-bab depan yang kebetulan memang isinya padat sekali. Dan ya, saya heran saja, orang lagi kondisi darurat, susah-payah kabur dari bahaya mengancam, sempat-sempatnya mengobrol panjang-lebar. Apa nggak sayang napasnya. Masih banyak cara lain untuk menyampaikan informasi atau detail cerita ke pembaca bukan dalam bentuk obrolan antara karakter (yang semestinya sudah tahu sama tahu soal sebagian informasi itu). Tapi saya suka pilihan latar tempat dan waktu yang tidak begitu umum.
Bagaimanapun juga, menulis buku setebal dan seterperinci ini bukan perkara mudah. Saya senang, belakangan ini semakin banyak penulis baru Indonesia yang menunjukkan stamina menulis luar biasa. Maju terus, dunia tulis-menulis Indonesia!
R.D Villam adalah penulis fantasy Indonesia yang berbakat. Ia mampu menghadirkan cerita dunia fantasy layaknya penulis barat. Itu karena setting tempat yang dia pilih bukan tempat yang mudah untuk di deskripsikan. Tapi Villam mampu melalui rintangan itu.
Ia menulis Akkadia dari angkasa. Mengamati setiap tokoh yang dibuatnya dari atas punggung monster hitam. Setiap kali monster hitam itu mengepakkan sayap, Villam sampai di belahan cerita dan setting yang lain. Tak jarang ia mengamati pertarungan sengit dari udara. Villam pun kadang melesat melintasi gunung-gunung bersalju dan lembah curam. Menerobos hutan pekat dan tebing terjal. Lalu hinggap di menara kerajaan untuk mengintip intrik dan pengkhianatan.
Sesekali ia ikut berjalan di dalam rombongan yang terbuang. Merasakan dari dekat pekatnya kematian. Perihnya luka goresan dan tetesan air mata.
Akkadia bukan cerita 1001 malam atau pangeran tampan. Akkadia adalah cerita perjuangan orang-orang terbuang yang menuntut haknya.
For strarters... layout kurang menyenangkan, margin ki-ka terlampau lebar dan spasi terasa terlalu rapat. Akibatnya pengalaman membacanya agak ter-compromise. Terus terang tempo membaca saya jadi terpengaruh juga, agak tersendat.
Tapi kelemahan itu langsung terbayar dengan jalinan cerita dan teknis penulisan yang rapi-jali. Plot bergulir asyik, dengan tokoh-tokoh yang 'Villam banget': gak ketebak siapa baik siapa jahat, hehehe
Sebenernya masih ada sedikit kekurangan, dalam hal manajemen tempo cerita. Tapi karena gak ada point seperempat, gue kasih full satu bintang aja deh. Kalo menurut gue sih 3.75.
Secara teknik, saya nggak bisa berkomentar karena pengarangnya sudah memberikan sesuatu yang bisa 'diselami' dengan tenang. Sayangnya, mungkin karena BANYAK sekali tokoh di dalamnya, ditambah berbagai pihak yang - maaf - saya kesulitan menghafalnya, plus font serta margin yang kurang ramah untuk mata, buku ini termasuk kategori "Yaa, nggak jelek," di dalam kepala saya. Kalau diumpamakan, seperti menyelam di dalam laut, dan menemukan kapal karam. Indah, tapi bukan 'keajaiban'.
Halo, salam jumpa dari reporter Fantasindo, Vadis dalam wawancara eksklusif dengan Davagni, bintang tamu kita dari novel AKKADIA – Gerbang Sungai Tigris karya R. D. Villam. Kita langsung saja mulai dengan pertanyaan pertama.
Vadis: Nah, Davagni, dalam novel Akkadia ini anda digambarkan sebagai “makhluk terkutuk” yang menjadi hamba dari Puteri Naia dari Kazalla yang negerinya dihancurkan bangsa Akkadia dan berusaha melintasi Sungai Tigris yang tertutup gerbang magis untuk mencari perlindungan dari Bangsa Elam. Bisa anda ceritakan sedikit tentang hal itu?
Davagni: Ya, seperti yang bisa tuanku lihat pada cover depan novel, hamba digambarkan sebagai sosok iblis yang dipanggil dari dunia kegelapan dengan kekuatan ajaib dari kalung misterius yang dipakai oleh Naia. Nah, sejak saat itu hamba menjadi pembantunya yang terkuat dalam menerobos tiap tantangan, khususnya dari monster-monster unik dalam novel ini, yaitu Barion dan Gharoul.
Tapi terus terang ini tugas yang menyebalkan, karena tindakan Naia ini menimbulkan potensi pergesekan kepentingan antara dirinya sendiri, Dunia Kegelapan, Akkadia, Elam dan seorang musuh misterius yang ingin membuat kekacauan. Hamba jadi makin sering dipanggil dan terlalu diandalkan, padahal selalu ada harga yang harus dibayar untuk meminjam kekuatan kegelapan.
Vadis: Oh, jadi itu yang membuat jalan cerita menjadi kompleks, sarat dengan pelbagai konflik yang dialami setiap tokohnya yang dijabarkan secara detail dan tidak berlebihan, dengan plot yang layak disimak dan sarat dengan twist-twist yang tak terduga. Bukankah begitu, Davagni?
Davagni: (Menghela napas panjang) Yah, tentu saja. Hamba jadi ikut tegang, penasaran kapan giliran hamba beraksi dan apakah para tokoh utama berhasil mengatasi konfliknya masing-masing dan menuntaskan misi mereka dengan selamat. Akankah cinta bertaut, akankah janji ditepati, atau apakah semuanya harus runtuh karena pengkhianatan?
Satu hal yang perlu dicatat, tuan sejati hamba, Villam mengambil setting dari sejarah kekaisaran Akkadia di Mesopotamia abad 24 sebelum Masehi (http://en.wikipedia.org/wiki/akkad), yaitu zaman yang memang sarat dengan perang, perebutan wilayah dan kekerasan sebagai sarana masing-masing suku bangsa untuk memperluas wilayah dan meningkatkan kemakmuran.
Setting Akkadia ini memang cukup unik karena berbeda dari banyak cerita fiksi lain yang “meminjam” setting sejarah, mitologi dan legenda yang lebih klasik dan populer seperti Genghis Khan (dalam kisah Pendekar Pemanah Rajawali), Ksatria Meja Bundar, Mitologi Yunani, Roman Tiga Kerajaan (Sam Kok), Kisah 1001 Malam dan lain sebagainya. Jadi, walaupun tidak sepenuhnya unik dan “alien”, kisah ini jadi lebih “believable”, mudah dicerna dan dikenali dan nuansa Timur Tengah yang disajikannya menjadikan kisah ini bagai “dunia baru” yang layak dijelajahi.
Vadis: Wow, sungguh menakjubkan. Memang, penggunaan setting yang tidak biasa ada baiknya untuk menjauhkan image sebagai “Pengikut Lord of the Rings” atau “Pengikut Eragon”, dan ini merupakan nilai tambah tersendiri bagi karya Villam ini, yang sebenarnya bukan karya perdananya namun menjadi yang pertama bertengger di toko-toko buku terkemuka di seluruh Indonesia.
Kembali pada kisah perjalanan anda, Davagni, anda pasti telah bertemu dengan berbagai ragam orang dan makhluk. Kira-kira, di antara mereka siapa saja yang paling menarik dan berkesan bagi anda?
Davagni: (mengelus-elus tanduk pada dagunya) Hmm, walaupun pada dasarnya hamba tidak diterima dalam lingkungan manusia dan selalu dicaci-maki dan terus dianggap terkutuk sepanjang perjalanan, terus-terang hamba terkesan pada para tokoh utama yang mungkin bisa dijadikan kesukaan bagi pembaca, di antaranya:
Naia Kashavi: Cantik dan terkesan ada sisa-sisa keangkuhan sebagai mantan putri raja berderajat tinggi, dan cenderung serba serius karena terus ditekan oleh krisis dan intrik-intrik di sekitarnya. Salah melangkah, bukan hanya nyawanya sendiri yang melayang tapi juga para sahabat dan mereka yang selama ini berjuang bersamanya.
Fares Faradan: Walaupun cintanya nampak bertepuk sebelah tangan, namun ia tetap setia berjuang mendampingi kekasihnya itu. Ia juga bertekad memulihkan nama baik ayahnya yang tercemar lewat sepak terjangnya bersama senjata pusakanya, Gada Geledek.
Rahzad: Panglima Akkadia yang ditakuti oleh lawan-lawannya, disegani kawan dan jatuh cinta pada musuhnya (lho?).
Ramir: Pemuda yang memiliki beberapa kemampuan aneh, agak polos tapi cukup pemberani. Toulip: Kucing peliharaan Ramir. Jangan dekatkan dia pada hamba! Hamba alergi kucing!
Teeza Alnurin: Mungkin adalah sosok paling heroik dalam novel ini. Wanita perkasa yang sangat pemberani ini sering jatuh-bangun dan hampir tewas demi junjungannya, dan sikap lapang dadanya patut disimak dan dicontoh, sangat berkesan bagi hamba. Terus terang hamba paling suka bekerjasama dengan Teeza ini.
Nergal: Dewa perang dan bencana dalam mitologi bangsa Akkadia, dan sering dianggap juga sebagai dewa kematian dan pemimpin dunia kegelapan – berarti pemimpin hamba juga.
Vadis: Tokoh-tokoh yang konsisten dan berkembang kepribadiannya setelah ditempa konflik dalam novel ini layak pula disimak, disukai, dikenang dan dicontoh, membuat cerita menjadi lebih hidup dan diharapkan cukup membekas dalam benak pembaca.
Nah, sekian dulu wawancara eksklusif kami dengan Davagni. Dan good work, Villam, saya benar-benar feel good setelah membaca Akkadia ini. Mungkin pengembangannya ke depan bisa diarahkan ke penterjemahan dalam bahasa Inggris untuk tujuan go internasional dan bisa menjadi terobosan baru dalam dunia fiksi fantasi bukan hanya di Indonesia, tapi juga global.
Davagni: Ingat, bukan statusmu yang membuatmu ditolong atau tidak oleh Tuhanmu. Tapi perbuatanmu, pilihan-pilihan apa yang kaubuat. Nah, hamba undur diri dulu, sampai jumpa dalam petualangan hamba di novel AKKADIA – Gerbang Sungai Tigris!
Tawa membahana Davagni terdengar untuk yang terakhir kali.
“Pada akhirnya, yang penting adalah apa yang kita lakukan, bukan hanya siapa diri kita.” (hlm 383)
Mesopotamia, kawasan subur di antara lembah sungai Eufrat dan Tigris, abad ke-24 sebelum Masehi. Kerajaan Akkadia dibawah pimpinan Raja Sargon dan panglima perangnya nan legendaries Rahzad, berupaya memperluas wilayahnya dengan menaklukan kerajaan-kerajaan kecil di sekitarnya. Seluruh wilayah di barat sungai Tigris sudah takluk di tangannya, para raja dan keluarga kerajaan yang ia taklukan ia basmi dengan semena-mena. Sementara, rakyatnya ia terror dengan ketakutan agar tidak muncul pemberontakan. Dia gunakan pasukan barion, binatang ganas perpaduan harimau, banteng, dan kuda dengan kulit yang tak tertembus, sebagai senjata penakluk utama. Dewi Ishtar, dewi cinta, kesuburan, sekaligus pelindung perang bagi bangsa Akkadia, konon memberikan sendiri sepasukan barion kepada Rahzad karena keberanian dan kehebatan sosok sang panglima. Untuk membendung invasi bangsa Akkadia, penyihir Elam dari Tanah Persia kemudian membangun sebuah dinding sihir tak kasat mata di sepanjang aliran sungai Tigris. Selama 30 tahun, dinding gaib ini tak tertembus dan Akkadia tak pernah bisa menaklukkan Kerajaan Elam di timur sungai Tigris.
Naia, putri dari Kazzala—yang telah ditaklukkan oleh Sargon—membawa rakyatnya mengungsi ke Timur. Dengan melewati Gerbang Sungai Tigris, ia menyeberangi tabir pelindung gaib dan menyeberang ke Tanah Elam yang aman. Namun, untuk menghindari kejaran pasukan Akkadia, dia terpaksa bersekutu dengan mahkluk kegelapan. Satu perjanjian kuno yang akan membuatnya “terkutuk” selamanya. Tubuhnya tercemar, setiap malam purnama ia akan menjadi mesin pembunuh yang tak terhentikan. Ketika ini belum cukup, kekejaman Rahzad memaksa Naia bersekutu dengan sesosok iblis batu bernama Davagni yang meminta syarat berat kepada Naia: membawa turun sosok-sosok Nerghal, para abdi kegelapan yang kekejamannya bahkan lebih ganas dari Sargon. Tapi, Naia tak punya pilihan lain. Kondisinya sudah terdesak, pasukan Akkadia hampir berhasil menangkapnya.
Keadaan semakin rumit ketika Tezza, pelindung sekaligus kawan terdekat Naia tertangkap oleh pasukan Rahzad dalam posisi linglung. Dengan bujukan sang panglima, Tezza lupa dengan semua masa lalunya, dia bahkan diubah menjadi mesin perang Akkadia yang harus mengejar dan menyerang Naia. Sementara itu, Naia sendiri memiliki misi untuk menemukan Ahli Waris Sang Penjaga Gerbang, keturunan dari sosok penyihir yang telah membangun dinding sihir di sungai Tigris. Tak dinyana, takdir malah mempertemukan Tezza dengan sang ahli waris, saat itu keduanya sama-sama tidak tahu siapa diri mereka sebenarnya dan sebesar apa takdir yang mereka emban. Cerita terus bergulir, menghadirkan lebih banyak tokoh dan pertempuran. Petualangan Naia bertemu dengan serangan Tezza, sementara pencarian sang ahli waris mempertemukannya dengan sosok-sosok besar dalam sejarah perang kedua kerajaan.
Ketika hampir mencapai tengah, pertempuran besar pun akhirnya pecah antara pasukan Akkadia dan pasukan gabungan dari kerajaan-kerajaan di Elam. Ribuan pasukan saling bertempur satu sama lain, pedang menebas, tombak menusuk, taring barion mengoyak, sihir bertemperasan, bola api menyambar, darah tertumpah di mana-mana, ribuan nyawa melayang sia-sia dalam beberapa hari saja. Sungguh, perang di mana pun selalu kejam dan tidak mengenal perikemanusiaan. Korban berjatuhan di kedua belah pihak. Dan ketika kedua pihak kelelahan, musuh yang sejati muncul. Sosok-sosok kegelapan datang ke bumi membawa kekejaman yang tak terbayangkan. Dan, Naia serta kawan-kawan, kembali harus berjuang untuk melawan sang musuh dari alam lain, musuh yang jauh lebih kuat dan tak terkalahkan.
Sebagai sebuah novel fantasi karya penulis local, Akkadia bisa dibilang sebuah masterpiece. Penggabungan antara sejarah dengan tema fantasi, yang kemudian digarap dengan intens dan penuh ketekunan telah menghasilkan sebuah bacaan fantasi yang bisa dibilang “lengkap”. Ada sihir dalam buku ini, ada pula perang, intrik, sejarah, mitos, legenda, persahabatan, perjuangan, dan juga cinta. Saya yakin Akkadia ini digarap dengan begitu serius, hasil dari oleh pikir sang penulis juga polesan para editor yang berjuang sekuat tenaga menghasilkan sebauh kisah epic yang begitu mendetail seperti Akkadia. Secara cerita, plot novel ini begitu tak tertebak, pembaca akan sulit menerka bagaimana jalan cerita selanjutnya. Bahkan, banyak tokoh yang berbolak-balik sehingga kita tidak tahu siapa sebenarnya yang harus kita dukung atau malah kita benci.
Untuk saran, bagian deskripsinya agak kurang bisa terbayangkan, walaupun cukup detail. Sampai selesai membaca buku ini, saya masih sulit membayangkan bagaimana rupa atau wujud barion ini. Saya juga masih kesulitan membayangkan sosok Naia dan Tezza. Atau, mungkin karena saking serunya alur cerita sehingga saya nggak memperhatikan detail, bisa saja sih begitu. Kritik lain adalah soal fontnya yang kecil dan rapat. Buku ini sangat bagus, tepi entah kenapa saya butuh waktu lama saat membacanya. Dan, setiap kali membaca pasti ketiduran sehingga buku ini baru selesai dalam 1 minggu, cukup lama karena halamannya yang hanya 370-an. Mungkin, kerapatan spasi dan kecilnya font ikut mempengaruhi. Tetapi, saya tetap yakin bahwa Akkadia adalah sebuah novel fantasi karya local yang seharusnya bisa dibaca dan diapresiasi lebih banyak orang.
Akkadia. Ceritanya berlatar di Mesopotamia, abad ke-24 sebelum masehi *lama beneur*. Fyi, Mesopotamia adalah daerah Iran-Irak sekarang, dan dipercaya sebagai tempat munculnya peradaban manusia yang pertama. Alkisah Akkadia adalah kerajaan di wilayah tersebut yang terkenal dengan pasukannya yang kuat, dipimpin oleh jenderalnya yang mematikan dan ditakuti semua orang, Rahzad. Pasukan Akkadia telah berhasil menginvansi kerajaan Kazalla yang dipimpin Putri Naia, membuat Naia dan sisa rakyatnya terpaksa mengungsi ke Negeri Elam di sisi utara Sungai Tigris. Negeri Elam merupakan tempat yang aman karena dilindungi tembok tak terlihat yang berdiri di sepanjang Sungai Tigris. Hanya para pemegang kunci yang dapat membuka gerbang tembok ini dan menyeberang ke sisinya. Salah satu pemegang kuncinya adalah Naia, kemudian Raja Javad dari kerajaan Avan di Elam, dan seorang lagi yang merupakan keturunan langsung dari sang pendiri tembok, yang keberadaannya masih misterius. Meski mendapat bantuan dari Elam, Putri Naia tidak lantas merasa tenang, karena pasukan Akkadia terus memburunya. Merasa tidak ada lagi yang sanggup menolong, sang putri pun menggunakan kekuatan spesialnya untuk memanggil makhluk-makhluk terkutuk dari dunia kegelapan..
Ramir adalah pemuda 15 tahun biasa dengan kemampuan yang tidak biasa. Dia mampu masuk ke mimpi orang lain, mampu bicara dengan kucing, dan memilki bakat penyembuh. Suatu hari dia menyelamatkan seorang gadis berambut perak yang pingsan hanyut di sungai. Kucing Ramir memberi informasi bahwa gadis itu adalah Sang Penjaga Ilmu, dan dia, Ramir, adalah Sang Pencari Ilmu. Sayangnya saat tersadar, gadis itu tidak dapat mengingat siapa dirinya. Pasukan Akkadia kemudian datang mengaku bahwa gadis tersebut adalah Zylia Zarkaef, kapten mereka. Zylia pun memperkuat barisan pasukan Akkadia bersama Rahzad. Namun apakah tempatnya memang sungguh-sungguh disana? Zylia tidak bisa yakin. Disisi lain Ramir memutuskan berkelana untuk menyusuri misteri Penjaga dan Pencari Ilmu, sekaligus mencari jati dirinya yang sebenarnya.
***
Alasan kenapa gue dulu berhenti baca fantasi lokal adalah: kapok. Fantasi indo terakhir yang gue baca kelihatan menjanjikan pada awalnya, tapi ngegantung menyedihkan pada akhirnya. Ada endorsement lebaynya segala lagi “gaya penuturan mirip dengan J.R.R. Tolkien!” dsb. Bohong. Sejak saat itu gue males baca fantasi indo apapun, dan malah tambah nggak percaya lagi kalo dikasih embel-embel iklan macem-macem.
Kemudian alasan gue mau membacanya lagi: pertama, buku Akkadia ini gue dapet gratis tis, gift karena terpilih sebagai salah satu penanya terbaik di diskusi buku GoodReads Indonesia bulan Februari lalu. Tema diskusinya waktu itu tentang ‘Fiksi Fantasi Dalam Negeri’ dan pengarang buku ini, R.D. Villam, jadi salah seorang narasumber disana. Kedua, gue ‘tergugah’ juga sih sama diskusi buku waktu itu. Diceritakan sulitnya fantasi lokal berkembang karena sedikitnya minat pasar, padahal semakin lama kualitasnya pun pelan-pelan semakin membaik. Pada akhirnya inti dari diskusi tersebut adalah mengajak buat baca fiksi lokal juga.
Sekarang, masuk ke sesi bedah buku Akkadianya.
Dilihat dari tema besarnya.. ya, masih berpakem sama The Lord of The Rings, Eragon, dan tipe-tipe semacam itulah. Perang yang epik, perjalanan menembus bahaya, nama-nama tokoh yang eksotis. Meski latarnya adalah dunia nyata pada masa lalu, beberapa unsur fantasinya kadang agak susah dibayangkan sebagai hal yang nyata. Misalnya Barion, hewan sepertiga macan-sepertiga serigala-sepertiga badak, dan makhluk-makhluk dunia kegelapan seperti Gharoul, Davagni, Nergal. Manusia ras Kaspia yang memiliki beberapa keunggulan dibanding manusia biasa—rupa rupawan (tubuh tinggi, warna rambut keemasan atau perak), kekuatan fisik lebih dari manusia normal, dan terutama usia yang empat kali lebih panjang dibanding manusia normal—mudah diasosiasikan sebagai...more
Yehaa akhirnya bisa juga baca buku ini ehehehehe. Sebetulnya dulu udah pernah liat ni buku di toko buku tapi g diambil karena satu dan lain hal. Baru kemaren beli dan mulai baca ehehe. Tapi tnyt lambat juga soalnya ada bbrp hal yg agak ngganggu.
Hmm... mirip kaya waktu ku baca dragon keeper. Sering2 kabur sama feel ceritanya. Judulnya mesopotamia, tapi rasanya kaya medieval XD (ditabok).
Mungkin gara2 penamaan yg rada g nyambung. Wkt baca judul akkadia ku berharap menemukan nama antik macam tiglat-pilnesher, marduk-baladan, kusyan, dll dsb. Jadi agak kaget juga ngeliat nama naia, fares, dkk XD. Ah ku dulu g jadi beli buku ini gara2 itu. Pas ngeliat sinopsis di hlm belakang ada nama akkadia (yg mesopotamia), naia ama fares (yg mengingatkanku pada nama2 cerita fantasi standar), teeza (yg rada2 nge-game), trus -O.o- gada geledek!! (waow). Langsung dah kebayang adegan aneh. Dua cewe dgn kostum mantap ala pemain game pasang pose keren di samping cowo bule yg berdandan ala wirosableng dan mengacung-acungkan gadanya dg latar belakang siluet ziggurat dan matahari terbenam. XD (ditimpukbatu)
Trus krn narasinya sangat amat kurang (menurutku) jadi ku sangat kesulitan membayangkan latarnya. Apalagi ku g tll ngerti soal sejarah mesopotamia gitu ehehe. Alhasil pas ada adegan di rumah makan, di rumah ramir, dsb, sering kepeleset jadi bayangin setting bar ato rumah-penebang-kayu ala medieval >< Dan ku juga g tll bisa bedain etnis2nya kecuali elam yg berkulit coklat sama kaspia yg bule. sumer sama akkad nyaris tak berbeda. (kok rasanya pernah baca klo org sumer g piara jenggot ya? -berpikir-)
Ah, ada juga adegan yg (IMO) berbau buka-tutup-tirai-panggung (istilah ngaco). Jadi org2nya kerasa baru bergerak pas disorot kamera (a.k.a lagi ditulis), stlh itu kaya mereka g ngapa2in. Seringnya wkt pembukaan dialog yg kedengaran rada aneh klo bneran di dunia "nyata". Juga adegan2 battle yg sering cuma membahas "para aktor yg lagi disorot kamera" sementara yg lain bagai menghilang ditelan bumi (weleh). Buatku yg punya ketergantungan akut terhadap narasi dan deskripsi jadi pusing ngikutin adegan2nya (><). Padahal kayaknya banyak adegan2 seru (yg terpaksa kulewatkan TT).
Krn narasinya super sedikit, ku jadi ngerasa dialognya malah over. Heran juga kayaknya orang2 di sana hobby ngomong di mana pun dan kapan pun sampe wkt lari diuber2 musuh, di tengah2 perang (itu g kena samber panah ato tombak?), di dalam mimpi, dan waktu mau mati (><) masih sempat ngomong puanjaaaangggg lebaaarrrr. Padahal yg diomongin juga kayaknya g tll penting/mendesak buat mereka (meskipun penting buat pembaca ehehehe).
Tapi asiknya, tambah belakang dialog2 mengganggu semakin berkurang. Ceritanya juga semakin bisa dinikmati. Yay! I love the plot! XD (meskipun kayaknya masih bisa diolah lebih seru lagi) Kadang2 plotnya sukses bikin penasaran. Tapi kadang2 juga rada "maksa" ato kerasa "dunia ini begitu sempit". Ah, maksudnya gara2 kebanyakan bertemu dgn orang2 yg punya "hubungan khusus". Klo ga kakaknya, adiknya, bapaknya, kakeknya, temen kecilnya, gurunya, dll dsb. Kayaknya hampir g ada karakter rada penting di buku ini yg g punya hubungan "berantai" XD. Alhasil pertama2nya seru, tapi tambah lama bosen juga. Soalnya begitu ada "kejutan" klo tnyt si A adalah X, ku cuma bisa bilang "hooo gitu, ya... wajar siih" alih2 "apua? jadi dia itu X? waow! ga nyangka bo!" (ditaboklagi) XD
Aah akhirnya. Buku yg cukup bagus. Tapi kayaknya bisa lebih seru klo ada lanjutannya eheheheheh
Sebenernya aku pengen banget ngasih 4 bintang. Pengen banget. Karena apa? Karena buku ini punya begitu banyak potensi untuk jadi buku yang layak dikasih 5 bintang. Salah satu potensinya ialah jalinan plot di Akkadia yang memang segitu bagusnya. Saling silang dengan rapi kayak anyaman, saling bersinggungan di saat-saat yang tidak terduga. Gara-gara plot yang Te O Pe ini, aku sampai begadang baca buku ini, demi pengen tahu, plot yang saling silang ini mau dibawa ke mana? Kapan si A ketemu si C? Dan gimana ending dari semua jalinan plot ini?
Tapi sayangnya, akhirnya aku cuma ngasih 3 bintang. Dan akhirnya aku bilang, jalinan plot yang rumit itu cuma jadi potensi. Kenapa? Karena endingnya yang nggak banget. Setelah semua jalur plot itu dianyam dengan sangat hati-hati, tiba-tiba aja pengarang seperti kecapekan atau kebingungan atau kehilangan arah (atau memutuskan kalo ceritanya lebih baik dibuat bersekuel) dan melemparkan semua tokohnya ke dalam side quest yang tiba-tiba saja menuntun mereka pada the Big Boss (nah lho?), dan tiba-tiba saja ending (nah lhooo???). Semua jalinan plot yang cantik itu jadi terasa tidak ada gunanya, at all.
Kelebihan lain dari buku Akkadia ini adalah jajaran karakternya yang (again) punya potensi yang sangat besar untuk menjadi karakter-karakter unik yang bisa dikenang sepanjang masa. Tapi, pengarang menyampaikan cerita mereka dengan cara yang sangat tidak emosional, membuatku tidak bisa 'masuk' ke dalam tokoh-tokoh itu dan berempati dengan mereka semua. Untungnya gaya bercerita seperti ini lumayan membaik mulai pertengahan buku, sehingga aku akhirnya bisa bersimpati dengan para tokoh.
Dengan gaya penceritaan yang minim emosi seperti itupun, pengarang berhasil melahirkan dua karakter yang sepertinya akan dikenang sepanjang masa, satu ialah Davagni si setan batu, dan yang kedua Toulip si kucing.
Satu lagi kekurangan buku ini adalah taktik peperangannya yang terasa sangat 'hijau', entah disengaja atau tidak. Salah satu tokoh utama di cerita ini, seorang pimpinan perang, digambarkan mengambil taktik yang terus-terusan mengakibatkan banyak korban jatuh, hanya demi menghadirkan adegan pengejaran yang tragis, yang ditutup dengan adegan pemberantasan pasukan musuh yang amat dramatis.
Jadinya aku ngerasa, semua adegan peperangan itu, yang begitu berpotensi jadi adegan akbar nan epik sekelas peperangan di the Lords of the Ring, pada akhirnya hanyalah setting belaka, demi menghadirkan adegan penutup di malam bulan purnama itu. Ugh.
Parahnya, ada tokoh utama lain di buku ini yang malah menghujat para jenderal bawahan si pimpinan perang tadi, karena jenderal-jenderal itu memutuskan untuk mundur dari perang! Kalo aku jadi salah satu jenderalnya, aku juga nggak akan segan-segan mundur, atau bahkan mengkudeta si pimpinan perang. Buat apa ngikutin pimpinan perang yang nggak ngerti taktik, dan akhirnya cuma bikin para prajuritnya mati sia-sia?
There you go, folks. Sebuah buku dengan potensi yang luar biasa, yang sayangnya dieksekusi dengan cara yang membuat aku pengen teriak-teriak saking gemesnya.
Lega adalah salah satu hal yg saya rasakan saat selesai baca buku ini. Bukan karena endingnya atau hal-hal teknis, tapi karena I want to read this book until end but there are something from this book that bothering me to enjoy it. Saya sendiri tidak pasti apa itu , apa masalah layout yg padat tulisan yg kecil-kecil, saya tidak tau pasti tapi yang jelas saya tidak terlalu terganggu selama ceritanya sendiri bisa mengalir dari satu halaman ke halaman lain.
Catatan untuk diri sendiri : Tampaknya saya lebih ke penggemar novel-novel YA(Young Adult) daripada novel fantasy, tidak semua novel YA harus ada unsur fantasy dan sebaliknya tidak semua novel fantasy berarti YA. Yang saya suka dari novel YA adalah unsur-unsur yang lengkap seperi action, romance, humor, misteri, violance, ideologi emosi para karakternya bahkan lebaynya-nya pun ada dan semua itu dikemas dalam tata bahasa yang mengalir.
Lalu apa Akkadia termasuk YA, hanya karena tokohnya yang usianya relatif muda dan para karakternya yang berpenampilan dewasa muda, saya tidak tau dan tidak memusingkan genrenya, tapi yang saya pribadi rasakan adalah kalimat-kalimat dalam novel Akkadia cenderung kaku dan serius, membuat saya terkadang merasa seperti membaca text book mengenai kisah Gerbang Sungai Tigris. But I dunno, I'm not expert about judging something like words.
Lalu banyaknya karakter yang cerita mereka dibagi dalam bab-bab terpisah yang nyaris seimbang, ngga tau kenapa membuat saya jadi lambat connect sama cerita dan karakternya (balik lagi mungkin emang secara selera pribadi, saya lebih suka cerita yang fokus sama satu karakter sementara karakter lain lebih ke support aja perannya. Karena saat saya udah masuk dan mengikuti cerita karakter A, tiba-tiba putus dan masuk ke bab berikutnya mengenai karakter B, dan seterusnya begitu, jadi sedikit berliku alurnya untuk mencapai ke suatu tujuan tertentu. Dan bikin kurang enjoy ikutin alurnya (saya lebih suka karakter A difokusin dulu sampai beberapa bab dan baru jeda ke karakter lain setelah beberapa bab dari karakter A but then again it's my personal taste)
Lalu soal karakter, saya kok nangkepnya kerakternya pada nanggung yah, misal ada karakter yang nyaris setengah buku digambarkan antagonis dan sangat kejam but in the end turn into a good guy, saya ngga keberatan sih selama jelas transformasinya, tapi masalahnya saya kurang nangkep disini, begitu pula dengam emosi karakter-karakter lain yang membuat saya bacanya cenderung merasa flat ^^
Terlepas dari semua itu, saya acungin jempol untuk plot yang terbilang rapih dan riset author tentang timur tengah pada era kuno sampai memasukan unsur spritualisme. (walaupun saya tidak terbiasa dengan unsur spiritualisme yang secara gamblang dalam novel fantasy)
Buat Mas Villam, nice work, not perfect but it's nice work.
akhirnya dapet juga, lengkap dengan tanda tangan penulisnya. thanks to puss in the uniform, bukunya nyampe tadi siang. :)
langsung ditilik2...hahaha...kok ada halaman promosi female radio? :) dari blurb di back cover, ceritanya sepertinya akan menarik. tapi...begitu lihat2 ke dalem buku...wadaaaaww....tampaknya bakal butuh usaha ekstra nih namatinnya. spasi rapat! margin mepet ke pinggir halaman! uuuhhh...belom2 udah cape duluan. >'<
semoga ceritanya bisa cukup menenggelamkan, sampe2 saya ngga merasa spasi rapat dan marjin mepet itu bisa jadi alasan yg kuat untuk pindah buku lain :D
-------------------- review setelah selesai baca:
kalau bukan karena margin & rapatnya spasi yang cukup mengganggu, buku ini pantas diganjar 4 bintang lebih. story telling yang mengalir, dengan aksi peperangan dan pertarungan yg cukup intense, believable characters, a little bit of romance here and there, ditambah background research yang lumayan, ramuannya patut diacungi 4 jempol. sedikit kesalahan ketik/editing/proofreading tidak terlalu mengganggu dan dapat diampuni. cover artnya juga oke, cuma berharap gambar davagninya dibikin sedikit lebih terang/detilnya lebih terlihat.
kekurangan lain selain spasi dan margin, di beberapa bagian terasa ada percakapan bertele2 yang kurang perlu. bayangkan orang-orang yang sedang menghadapi suasana genting, malah sibuk berdebat dan ngobrol. situasi yang aneh. kecenderungan apa ini? :p
anyway, coba nanti kalau cetak ulang, minta sama penerbitnya supaya pengaturan spasi dan margin yang lebih manusiawi. apalagi kalo sampe diterjemahin & go international.
ide cerita menarik, alur cepat, cukup kompleks, actionnya oke, tidak rumit, virtualisasi dibenak mudah terbentuk, ada sentuhan emosional n roman, serta happy ending (hore). kurang lebih komplit.
awalnya mengira ini adalah novel fantasi terjemahan. tapi gaya deskripsi yang tidak terlalu 'panjang', menimbulkan 'kecurigaan'. pas browse info penulis, oh ternyata penulis indonesia (woow...)
berharapnya, perasaan sang tokoh utama dibahas lebih dalam (seperti bellanya twilight, mel-wandanya the host, saphnya ingo, pingnya dragon keeper, dst). seperti kebanyakan cerita dgn tokoh utama perempuan.
dan walaupun tokoh utama laki2 biasanya tidak terlalu banyak menampilkan apa yg dirasakan dan cenderung full dgn deskripsi n action, tetapi... (imho) toraknya chronicles of ancient darkness yg tokoh utamanya laki2 menuang cukup banyak yg 'dirasakan' sang tokoh utama (dengan sangat ok). kalau ide cerita si nicholas flamelnya michael scott tidak sebegitu menariknya, chronicles of ancient darknessnya paver adalah buku terbaik bagiku (dengan tokoh utama laki2).
saat membaca cerita fantasi, kata2 membentuk virtualisasi di benak. ide baru & actionnya tentu menarik. tetapi dengan emosi yg mengikat kuat, sebuah cerita akan tertanam jauh. lengket. seolah suatu cerita sudah menjadi bagian hidup. mungkin akan memberikan hiburan, pesan positif,..., atau inspirasi.
aku membayangkan akkadia dengan sentuhan emosional lebih dalam (hmm...)
saya dah lama banget baca akkadia, tapi lupa mulu mo me review. ceritanya tentang apa nya :P. Kidding kok om Villam. Ceritanya memang tentang sebuah gerbang di sungai Tigris. Gerbang tersebut adalah satu satunya tembok yang menghalangi kekuasan Kerajaan Akkadia menjadi lebih luas. tapi cerita sebenarnya bukan itu. ini kisah tentang impian suatu bangsa yang mestinya berkuasa karena mereka memiliki kemampuan di atas rata-rata tapi mereka tergerus oleh waktu dan menjadi tinggal sedikit (berasa familiar dengan ide ini gara2 baru menghabiskan tetralogi itu:P)
tapi ada satu yang membuat saya mengingat kisah ini lebih baik. Ini disebabkan oleh karakter Iblis yang dituliskan dengan baik. Davagni namanya. Saya rasa tanpa kelucuan yang dibuat Davagni saya akan merasa ini cerita terlalu serius.Selain itu novel ini juga bercerita berdasar sejarah asli. jadi memang ada sebuah kerajaan Akkadia yang dulu besar di Mesopotamia. cara mengangkat base lokasi dengan menggunakan tempat nyata menjadi daya tarik tersendiri. Setidaknya saya jadi penasaran mencari tahu tentang Akkadia dari mbah Google.
Novel ini saya kasih skor 4,5 tapi karena ga bisa kasih skor setengah jadi empat aja dah :D
Menarik, kelemahannya adalah aku merasa membaca buku seri Akadia yang ke kedua dari bawah, maksudnya gini:
Jika buku ini berbentuk tetralogi, maka "Akadia Gerbang Sungai Trigis ini seri ke 3, Atau jika novel ini berbentuk Trilogy, maka "Akadia gerbang sungai trigis" ini seri ke 2
atau bisa juga novel yang terakhir dari series Akadia
alasanku
1. Dari awal sampai akhir disuguhi peperangan yang sudah berjalan
2. Banyaknya tokoh, menangkap kesan tokoh yang diceritakan di buku satu sampai 2 muncul semua di novel Akkadia ini. Jadi aku merasa buku Akadia ini merupakan finnal battle
dan satu lagi, tokoh Ramir mengingatkanku pada Leonardo dicaprio... apa hubungannya...:)
hubungannya Leonardo memerankan tokoh Dominick Cobb dalam film Inception
di film tersebut Domm cob memasuki dunia mimpi orang lain ( atau lebih tepatnya korbannya )untuk mencari informasi, dengan bantuan teknologi, sedang Ramir memasuki mimpi orang lain dengan bantuan sihir..atau keahliannya kali ya...:)...:D ...
Hibahan dari Mute. Menurut pengarangnya baru akan dilanjutkan setelah 5 tahun lagi. Apaaa? *jitak Villam* -----------edit------------ Minggu, 17 Juli 2011 mulai dibaca. Tapi baru dibaca 10 halaman, ditaruh bentar, langsung disikat istriku. "Ntar dulu, aku mau baca!". Langsung deh, "nyerah" dan meratap.T_T *halah* -----------edit------------ Rabu, 17 Agustus 2011 Sett dah, ni buku ke mana ya??? Pending lagi deh. Selanjutnya baca apa ya? *timang2 Eragon & Kinsey Millhone seri 1* -----------edit------------ Minggu, 4 September 2011 Uhh, nda pernah bisa selesaikan baca dari awal sampai akhir. Nda enak bener baca kayak gini. Lagi makan juga, nda enak kan kalau makan sesuap trus tinggalin untuk pergi jalan, trus makan sesuap lagi. Tinggalin lagi buat mandi, makan sesuap lagi, tinggalin lagi buat cuci baju, makan sesuap lagi, dst. Eneg yang ada -____- ----------edit-------------- Serius baca baru mulai 3 September 2011 Selesai juga baca buku ini. Seru, tegang, bikin penasaran. Dan akhir yang tak terduga. Can't wait for the sequel...
Dapet buntelan dari penulisnya....ternyata teman se-SMA dan se-kampus :D
Trims ya....R.D.Villam :D
Akhirnya buku ini keluar dari rak waktu mau pergi ke Jogja menghadiri pernikahan Kobo-Gehu, alhasil, tamat dalam waktu 8 jam (dipotong waktu makan, dan nemenin Tio ke toilet) jadi teman perjalanan di kereta Lodaya Jogja-Bandung.
Berhubung sudah diberi peringatan oleh teman-teman yang udah baca duluan, jadi tidak merasa terganggu dengan jenis font, kertas, ukuran huruf dll, jadi langsung libas saja....dan baru bab pertama langsung terpana :)
Ceritanya mengalir, dengan "rasa" yang sama saat membaca buku fantasi terjemahan.
Tidak bisa langsung dapat gambaran dunia dan sosok tiap karakternya di awal cerita walaupun sudah ada penjelasan bahwa berlatar tempat di Mesopotamia abad ke-24 sebelum Masehi. Lalu, belum apa-apa sudah ada banyak dialog yang menurutku agak membosankan. Konfliknya sendiri cukup menarik walau di beberapa bagian mungkin kesannya agak maksa. Aku cukup tersentuh di bagian mendekati akhir.
Tidak disangka aku menyelesaikan satu novel fantasi dalam waktu 1 minggu. Selain aku lumayan santai saat membacanya, mungkin juga karena ukuran hurufnya yang kecil untuk novel 300-an halaman. Aku menemukan banyak kesalahan ketik yang cukup mengganggu konsentrasi membaca.