Dimas Abi adalah salah satu penulis Indonesia yang bergerak pada genre komedi. Ia telah menerbitkan beberapa novel solo, antara lain : Gorilove (bukune, 2009), Detektif Sekolah (2012), Idolku Cantik (2014), dan Berburu Restu (2023)
Selesaiiii! Dan sukaaa 🤩🤩🤩. Ini novel pertama Kak Dimas Abi yang aku baca. Dari pertama aku lihat judulnya kok lucu terus baca blurbnya langsung tertarik. Aku cukup suka cara berceritanya yang pasti lucu soalnya tiap chapter selalu senyum bacain gombalannya Dipa ke Ajeng adaa aja 🤭. Tapi juga cukup bikin emosi naik kena Dipa 😒 tapi buatku aja ya karena aku tidak sesabar Ajeng 🙈. Menurutku cowok maupun cewek wajib baca novel ini apalagi bagi yang ingin hubungannya sampai ke jenjang yang lebih serius yaitu pernikahan. Novel ini bukan cuman tentang berburu restu tapi juga berani untuk berbicara jujur, terbuka, percaya dan kompromi. Selain itu juga ada tentang mau mencoba memahami atau tidak akar permasalahan yang sebenarnya, serta bersedia membuka diri untuk mendengarkan atau tidak. Tentang impian yang bukan cuman milik kita tapi juga pasangan kita. Di dalam novel ini aku merasa cukup banyak mendapatkan nasehat mengenai pernikahan. Di bagian mendekati akhir aku sempat sedikit kzl tapi ternyata aku salah 😅. Aku suka dan nggak suka sama Dipa. Aku suka nasehat dari Tante Citra, Om Genta juga Kak Raras. Pokoknya baca deh ini 👍🏼. . “Maaf, ya, Jeng, bukan maksudku bikin kamu ragu. Tapi, kamu harus hati-hati sama sikapnya dan harus bisa berpikir jernih. Menjalin hubungan itu bukan tentang pokoknya, tapi baiknya gimana. Jangan sampai, Jeng, suatu saat kamu justru malah tertekan dengan kepala batunya Dipa.” (Hal 115). . “Ndak ada orang yang benar-benar tulus, Mas. Dan, mengharapkan sesuatu itu manusiawi.” (Hal 207). . “Om mau kamu jadi laki-laki yang bisa melindungi Ajeng. Misal ada tornado, kamu yang berdiri jadi tiang pelindung Ajeng, bukan malah ikut terbawa angin. Mens sana in corpore sano itu benar, Dip. Kamu butuh badan dan jiwa yang kuat untuk melindungi keponakan Om.” (Hal 209). . “Nah, dari kalimatnya wis jelas, toh, Dip? Pernikahan itu bukan cuma perkara kamu dan Ajeng yang saling suka. Tapi, ada penyerahan mempelai wanita ke mempelai pria, oleh orangtua pihak perempuan. Ayah menyerahkan Mbak ke Mas Lingga karena setelah menikah, Mbak udah bukan tanggung jawab Ayah lagi. Begitu juga dengan bapake Ajeng, kalau kelak kalian menikah.” (Hal 303).
Korsleting otaknya Dipa sebetulnya cukup jadi alasan kenapa ia susah untuk memperoleh restu menikahi Ajeng, perempuan yang sudah dipacarinya selama tiga tahun sejak perjumpaan mereka di momen pengangkatan CPNS. Masalahnya, Ajeng kadung kesengsem dengan aneka gombalan absurd dari mulut kekasih berjambulnya itu. Namun, sedari awal Dipa memang berniat serius. Ia tak pernah main-main untuk memperistri Ajeng. Hanya saja ia punya satu prinsip yang sulit diterima oleh banyak pihak: ia ingin menikah di KUA saja dan tanpa resepsi!
Dengan banyaknya banyolan ringan dan situasi kocak yang membuat pembaca bertendensi ingin menggaruk-garuk tanah karena kelakuan Dipa, novel ini tetap setia membeberkan isu utamanya yang sebetulnya sangat serius dan relevan dengan kehidupan modern—susahnya berburu restu, apalagi berhadapan dengan orangtua dan calon mertua yang merasa punya tanggung jawab penuh mengatur hajat pernikahan anak-anaknya. Menikah di KUA tanpa pesta resepsi harus berkelahi dengan gengsi.
Terus terang aku sangat menikmati bab-bab pendek novel ini, meskipun kadang kala terasa ada sempilan adegan yang cukup bertele-tele, ya walau itu juga yang jadi bumbu komedinya. Gaya penulisan Mas Abi dengan perbendaharaan analogi yang cerdas, tidak hanya sukses mengurai tawa, tapi juga berhasil menyisipkan pelajaran tentang komunikasi dan kompromi dalam hubungan. Ya, urusan berburu restu ternyata ujung-ujungnya bermuara pada masalah komunikasi juga.
Selain premisnya yang menarik sejak dalam judul, bagian favoritku di novel ini tentu saja pilihan profesi para karakternya yang jarang diangkat dalam kisah fiksi lain; mulai dari pegawai puskesmas, penyuluh kesehatan, pemilik bisnis kuliner, kolektor tas branded, sampai bapak-bapak paruh baya instruktur olahraga. Selain itu, trivia prosesi pernikahan adat Jawa beserta filosofinya pun memberi kesan menarik untuk pembaca yang awam, terutama yang—ehem—belum menikah.
Sangat cocok jadi selingan bacaan untuk yang lelah berkutat dengan bacaan yang berat-berat!
Dari judulnya aja udah bisa ditebak isinya tentang apa. Yaa, tentang pencarian restu untuk menikah. Terdengar klise, tapi yang berbeda yaitu, restu yang akan dicari di sini adalah menikah di KUA. Iya, wajar saja menikah di KUA, tapi yang dimaksud adalah tanpa resepsi. Nahh, di era sekarang ini tidak mudah meyakinkan para orang tua menggelar pernikahan tanpa adanya resepsi. Dan disitulah petualangan Dipa dimulai.
Adalah Dipa dan Ajeng, pasangan yang sudah berpacaran cukup lama dan ingin melanjutkan hubungan ke jenjang serius, yaitu menikah. Berdasarkan pengalaman Dipa, ketika orangtuanya menggelar pernikahan Raras, kakaknya, dengan resepsi yang cukup besar yang ternyata hutang sana sini, mengakibatkan Dipa anti dengan resepsi. Sebab karena itulah, kuliah Dipa sempat berantakan. Akhirnya, Dipa bersikeras mengajak Ajeng untuk menikah di KUA tanpa resepsi. Dan mereka bertekad meminta restu ke keluarga Ajeng.
Di awali dengan mendekati keluarga Ajeng, yaitu Tante Citra dan Om Genta. Tidak bisa dibilang mudah karena ternyata ada banyak challenge alias ujian yang harus mereka hadapi. Singkat cerita, meskipun adik dari ayahnya sudah memberikan restu, tapi tidak dengan ayah Ajeng. Ayahnya seorang pejabat yang bersikeras menolak menikah tanpa resepsi. Di situlah hubungan Dipa dan Ajeng diuji. *lama lama nanti spoiler ya*
Oke, cerita ini kocak. Cocok kalo nanti kira-kira diangkat ke layar lebar untuk genre romcom (aamiin). Mulai dari sampul buku dan pembatasnya, ini cukup eyecathcing. Kok kepikiran gitu di pembatasnya nulis syarat nikah di KUA? Ohh satu lagi, di setiap pergantian bab selalu di awali dengan gombalan ala Dipa yang bisa bikin pembaca cengar-cengir sendiri 😆
Latar ceritanya Bogor, namun mereka asli Jawa Tengah, sehingga banyak percakapan dan istilah yang menggunakan bahasa jawa. Tapi dijelaskan kok di footnote, hanya untuk orang jawa, pasti tanpa bantuan footnote pun sudah bisa memahami.
Dipa, menurut saya pribadi memang punya prinsip, dalam hal ini menikah di KUA tanpa resepsi, tapi juga kurang mau mendengarkan pendapat dari pasangannya, hingga dia mulai menyadari saat mendapat wejangan dari Raras. "Semua tentang kamu, Mas. Semua! Kamu enggak pernah mikir gimana perasaanku?" Ajeng sendiri, agak kurang bisa mengutarakan pendapatnya. Seperti sebenarnya tidak setuju kalo hanya di KUA, bagaimana pesta pernikahan yang dia impikan, tidak pernah diutarakan kepada Dipa. Entah, tipikal perempuan malas ribut mungkin, sehingga memilih diam.
Karakter menarik lainnya adalah Tante Citra, bisa-bisanya kepikiran buka cabang di Kendari. Itu gimanaaa 😂 idenya selalu out of the box, tapi kadang kalo memberi wejangan atau saran selalu on point. Dia juga sepertinya chill aja ketika suaranya sudah tidak didengar lagi di keluarganya hanya karena dia belum mau menikah. Bahkan yang bisa menyadarkan Guntur, ayah Dipa juga adalah saran dari Citra.
Overall saya suka cerita ini, cocok untuk yang sedang mencari wejangan untuk menikah, atau hanya sekadar mencari hiburan karena konfliknya ringan dan banyak kocaknya. Bakalan cepet selesai sih karena ceritanya ngalir dan ga ngajak mikir 😆
Pas baca blurb novel ini, aku langsung penasaran sama eksekusi ceritanya. Soalnya bagiku ide novel ini tuh sederhana, bahkan trope minta restu juga sering banget kubaca di novel-novel lain. Jadi ini PR banget sih buat Mas Dimas. Dan setelah kubaca, aku paham kenapa orang-orang suka sama novel ini (termasuk aku!). Soalnya gaya bahasa Mas Dimas tuh asyik diikutin, renyah juga, tipe pipa Rucika yang mengalir sampai jauh haha. Tingkah ajaib para tokohnya pun bikin ngakak.
Kalau ditanya siapa tokoh favoritku, aku bakal langsung jawab Dipa. Yap, Dipa tuh protagonis di novel ini. Dan sebagai protagonis, karakter Dipa itu kelihatan hidup. Aku bisa ngenalin "tone" Dipa kayak gimana, apalagi pas dia berinteraksi sama Ajeng. Lawakan dia juga cocok banget sama aku wkwkwk. Nggak salah sih kalau Ajeng jadi lengket banget sama Dipa haha.
Ngomong-ngomong tentang Ajeng, aku suka dia juga anw. Emang nggak sesuka kayak sama Dipa, tapi aku ngerasa karakter Ajeng juga kuat di sini. Ada momen-momen tertentu yang nunjukin kalau Ajeng itu emang cocok sama Dipa, contohnya pas flashback di bagian menuju akhir. Ini momennya sebenarnya sederhana, tapi interaksi Dipa dan Ajeng di sini bikin momen tadi jadi salah satu bagian yang berkesan di novel ini. Apalagi momen tadi juga jadi lebih nunjukin gimana perasaan Dipa ke Ajeng.
Untuk plot dan konflik, aku bisa nebak ceritanya mau dibawa ke mana (mungkin kalian juga). Tapi aku tetep bisa menikmatinya dengan baik, karena aku merasa udah masuk ke cerita mereka. Plus, bagiku emang nggak ada bagian yang bikin jenuh/bosen juga.
Tbh, aku sedikit berkaca-kaca pas baca bagian penyelesaiannya. Aku selalu suka sama momen di mana si tokoh tuh bisa menyampaikan "suara" mereka. Dan penyelesaian yang begini emang yang paling pas bagiku. Rasanya bikin lega juga.
Dan yang paling kusuka di novel ini tuh pas Dipa viral di medsos haha. Pas baca ini aku ngakak wkwk. Bisa-bisanya Mas Dimas kepikiran masukin adegan begini wkwkwk. Oh ya, aku juga suka sama gombalan-gombalan Dipa di setiap awal bab (terbaik sih iniii hahaha).
Secara keseluruhan, aku menikmati banget novel ini. Novel ini nggak cuma menghibur, tapi ada juga amanat-amanat penting yang bisa kita pelajari. Novel ini cocok dibaca buat yang mau melangsungkan pernikahan, tapi dibaca sama para jomlo kayak aku juga boleh banget kok wkwk.
lucu banget 😂 sebagian besar buku ini isinya guyonan, serta bucinnya pasangan kita di buku ini, ajeng dan dipa. dipa sudah bertekad, untuk menikahi ajeng hanya di kua saja, tanpa resepsi. tentu aja, hal ini nggak lazim dan kemungkinan besar ditolak camer.
nah, meski yang dibahas pernikahan, aku merasa santai aja baca buku ini, mungkin karena ditemani guyonan dipa. kalimat kalimat yang dirangkai juga terasa ringan saat dibaca meski topiknya berat.
ada satu hal yang membuat dipa sangat membenci adanya resepsi. bahkan, segala alasan akan dipa gunakan untuk tidak hadir di resepsi pernikahan temannya. iya, dipa sebenci itu dengan resepsi dan segala tetek bengeknya.
segala cara dipa lakukan untuk mendapat restu dari orangtua ajeng. om dan tante ajeng pun ikut terseret dalam masalah mereka. apalagi ayah ajeng adalah seorang pejabat eselon, mau ditaruh di mana mukanya jika putri semata wayangnya hanya menikah di kua?
kalau menurut aku pribadi, aku sebenarnya agak condong ke prinsip dipa. untuk apa sih resepsi dilaksanakan? apakah hanya untuk memberi makan ekspektasi orang lain? kenapa nggak fokus aja ke rencana hidup setelah menikah?
tapi di sisi lain, aku rasa aku bisa memahami perasaan orangtua ajeng. lagipula, orangtua manapun pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. karena pernikahan bukan hanya menyatukan 2 insan, tapi juga 2 keluarga.
nah gimana ya pernikahan dipa dan ajeng? apakah bisa hanya dilaksanakan di kua? atau tetap resepsi besar besaran? cus baca buku ini kalo penasaran 👌
tadi aku bilang kalo buku ini dipenuhi guyonan. tapi menurut aku, meski banyak guyonan tapi cerita di sini nggak terasa ngalor ngidul. dari awal udah jelas tujuannya mau ke mana. masing masing karakter juga porsinya pas 👌
Berangkat dari pengalaman pesta pernikahan kakaknya, Dipa memutuskan untuk melaksanakan pernikahannya nanti di KUA saja, tanpa ada resepsi. Bagi Dipa, resepsi itu tidak penting, hanya jadi ajang pamer dan buang-buang uang saja. Ketika dia mengajukan hal itu kepada Ajeng, kekasihnya, Ajeng sempat terdiam. Namun dia menuruti keinginan Dipa. Karena bagi Ajeng, dia hanya ingin menikah dengan Dipa. Yang menjadi kendala adalah apakah keluarganya akan menyetujui hal tersebut?
Maka dimulailah perburuan restu ke keluarga Ajeng. Dimulai dari adik-adik Ayahnya. Tante Citra, Paklik Genta dan Bulik Ratih. Masing-masing dari mereka ada tantangan dan ujian yang diberikan kepada Dipa. Dengan tekad kuat, Dipa berusaha melewati ujian tersebut.
Berburu restu adalah novel yang unik. Dibalut bumbu komedi dan jokes ala bapak-bapak, novel ini menyajikan lika liku persiapan menjelang pernikahan. Dipa dengan keteguhannya pada prinsip dan Ajeng yang berupaya memahami keinginan kekasihnya adalah perpaduan yang pas. Meski kadang becandanya Dipa ini berlebihan, tetapi itulah yang membuat Ajeng yakin ingin menikahi Dipa.
Novel ini ringan, page turner, dan menghibur dengan caranya sendiri.
Ada 47 bab di buku ini—tidak perlu khawatir karena setiap bab isinya pendek-pendek—tetapi yang menjadi “beda” adalah setiap bab-nya dilengkapi dengan 47 pick up lines yang dapat digunakan untuk lempar gombalan kepada pujaan hati. Seperti halnya Dipa—jambul khatulistiwa—kepada Ajeng—my ginuk-ginuk.
Mengisahkan tentang Dipa yang anti resepsi, sementara Ajeng—yang sudah dipacarinya selama 3 tahun—adalah anak satu-satunya dari seorang pejabat di Kementerian Pertahanan, wis so pasti keluarga perempuan ingin pesta besar-besaran. Kontradiksi inilah yang membuat Dipa berniat untuk berburu restu. Restu agar diizinkan untuk menikahi Ajeng di KUA tanpa embel-embel pesta resepsi.
Konfliknya sangat dekat sekali. Kayaknya hampir yang mau dan sudah menikah setidaknya pernah terlibat dengan polemik resepsi pernikahan ini.
#
Karakter. Dipa ini sebenarnya tokoh yang red flag in disguise, tapi karena penceritaan dan karakternya dibuat jenaka dan mirip lagi stand up comedy, jadi samarlah tuh ke-bendera merah-annya. Ya, gimana nggak? Dia tukuh banget dengan prinsipnya. Padahal biaya resepsi pun nggak akan dia yang nanggung—ada backstory-nya but still dia hanya berada di bubble-nya sendiri tanpa mendengar dulu maunya Ajeng apa. Ajeng pun udah terbutakan cinta—kepelet jambul khatulistiwanya si Dipa—pokoknya sama Dipa terserah mau kayak gimana
Favorite moment. Saat berburu restu kepada Tante CItra dan Om Genta—selaku tante dan omnya Ajeng. Tante CItra yang karakternya unik, Om Genta yang karakternya men sana in corpore sano, meleburlah menjajal tekad Dipa memperjuangkan prinsipnya. Buatku Tante Citra itu MVP di buku ini.
Plot. Setelah Om Genta, terus ke Tante Ratih masih okelah. Tapi, pas ke Pak Guntur—ayahnya Ajeng, sang raja terakhir malah menurun fasenya. Nggak se-meriah perjuangan mencari restu ke tante-tante dan omnya Ajeng, ke bapaknya malah melempem. Kabur deh ke Klaten karena “tertampar” harga dirinya—makanya humoris saja tidak cukup, bung. Jadi, makin-makin terlihat kan red flag in disguise-nya. Terus character development-nya pun ga terlalu smooth. Ya, sekekehnya dirimu, lalu jadi okelah aku akan mendengar Ajeng sekarang, hm … agak escalated quickly ya buatku.
#
Meskipun banyak ina dan inu, tapi aku tetap suka buku ini. Sangat bisa dinikmati. Jokes dan gombalan—beberapa ada yang hit and miss—sukses buatku mesem-mesem dan ketawa lihat tingkah Dipa jambul khatulistiwa—apalagi pas duet maut Jeletot, haha.
Penasaran sama buku ini karna judulnya 😭 dan review dari temen-temen booksta bikin aku makin penasaran!!
Ookayy, bukunya tentang apasih?
Dipa dan Ajeng sudah pacaran selama 3 tahun. Hubungan mereka lancar, orangtua dan keluarga Ajeng gak ada yg menentang gitu, dan mereka juga saling sayang. Tibalah waktu di mana Dipa melamar Ajeng dengan keinginan hati pernikahan mereka hanya diselenggarakan di KUA saja. Apakah keinginan Dipa bisa terpenuhi?
Keinginan itu diterima Ajeng. Ajeng manut aja asalkan dia nikah Ajeng. Ajeng pokoknya tresno bgt sama Dipa. Tapi yang jadi masalah di sini yaitu keluarganya Ajeng. Ajeng itu putri tunggal Pak Guntur, Pejabat Eselon II Kementerian Pertahanan. Gimana bisa pernikahan Ajeng dan Dipa hanya sebatas KUA saja?
Dipa berburu restu keluarga Ajeng agar diberi restu untuk menikah di KUA saja. Perjuangan Dipa gak main², dari Tante Citra yg ternyata lumayan unik, kemudian Om Genta yg addict bgt sama olahraga terus Bulik Ratih yg doyan tas mahal.
Aku suka dengan interaksi Dipa dan Ajeng di sini. Mereka memang kelihatan bucin banget dan jatuhnya jadi alay, tapi aku bisa melihat bahwa mereka benar-benar bahagia. Bahagianya mereka itu gak mahal, dengan makan di warung pinggir jalan mereka udah bahagia bgt 💖
Kalau kamu baca buku ini, pasti bisa melihat kalau Ajeng dan Dipa ini kebanyakan bercanda, tapi aku ngerasa di sinilah letak cintanya mereka, tulus bgt 💓💓
Aku suka dengan gaya penulis bercerita yg asik dan ringan. Gurauan Dipa sama Ajeng bikin aku ikutan nyengir. Walaupun kebanyakan komedi, pas menuju ending ceritanya jadi agak cenat cenut. Aku suka dengan proses itu dan alur cerita ini bikin nagih bangett..
Overall, aku suka sama ceritanya. Berburu Restu punya ide yg unik, diceritakan dengan ringan dan asik, dan baca ini tuh bikin happy sendiri. Ada pelajaran hidup juga yg bisa diambil dari buku ini, salah satunya yaitu pikirkan dengan baik² dalam mengambil suatu keputusan, apalagi yg berbau uang. Dan satu lagi, kalau jodoh pasti gak ke mana kok 💓 ada aja jalannya buat bersama walau rintangannya tuh pasti berat bgt ✨🌸
Waktu tau Dimas Abi bakal nerbitin buku baru, setelah sekian lama vakum nulis, aku semangat banget nungguin bukunya terbit. Aku udah baca semua karyanya, dan aku bisa bilang, buku Abi itu selalu menghibur. And this one is the best of him so far! Di tengah gempuran buku realistic fiction dg segambreng permasalahan, buku Dinas Abi itu rasanya seperti oase di tengah gersangnya komedi. Fresh menyegarkaann. Hehehe..
Dan bener dong pas baca, kelakuan Dipa bikin geleng2 kepala. Belum lagi Ajeng yg selalu mengelu-elukan kegantengan Mas Dipa dengan rambut jambulnya itu 🤣🤣 Khas tulisan Abi, karakternya selalu on point. Ga cm karekter utama kaya Ajeng dan Dipa, tp juga karakter pendukungnya. Mulai dr Tante Citra yg eksentrik abis, Om Genta yang hobinya segala macam olah raga sampe lempar lembing segala, Bulik Ratih yg tajir melintir dan bangga bgd sama calon memantunya. Dan tentu aja ada bapaknya Ajeng, pejabat yg karakternya keras banget. Satu lg ada jg yg aku suka, temen kantor Dipa yg influencer binaraga gt. Hahaha. Sumpah klo dikelilingi orang kaya gitu kebayang kan keos nya 😆
Walau endingnya udah ketebak, aku tetep enjoy banget bacanya. Dan satu lagi, aku juga suka banget sama judul bab dan gombalan2 Dipa sebagai pembuka bab nya. Contohnya: D: Jeng, kayanya Mas kena virus korona dengan gejala baru. Hati senang, jantung deg-degan, dan rasanya ingin selalu diperhatikan A: Masa ada gejala kayak gt? D: Ada, Jeng. Semua Korona Cinta.
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Dah lah, kalian harus baca sendiri bukunya biar ngakak bareng kita.
Seru! Banyak part yang bikin ketawa, tapi pesannya tetap tersampaikan dengan baik—yaitu mengenai pernikahan yang gak hanya perlu menyatukan pemikiran serta preferensi dari kedua pihak melainkan kedua keluarga besar.
Pernikahan zaman sekarang—dari dahulu sih sebetulnya—tidak cukup cuma ijab kabul tanpa resepsi. Mau mampu ataupun tidak, pesta mesti diselenggarakan besar-besaran! Buat orang yang tidak punya, biasanya minjem dulu ke sana kemari. Soalnya malu tuh tidak pake resepsi, seringnya disangka tekdung. Bayar-membayar utang, urusan belakangan. Inilah yang menjadi beban pikiran Dipa ketika ingin melamar kekasihnya Ajeng, soalnya ia mengharamkan resepsi.
Dipa ketiban sial ketika kakak perempuannya Raras, menikah dengan uang pinjaman. Ketidakmampuan orang tua (ayahnya) membiayai pernikahan tersebut turut serta menyeretnya ke dalam masalah yang menjadi traumanya saat ini. Gimana enggak, akibat dari “pemborosan” itu, ia mesti ikutan menanggung utang dan kuliahnya sempat terbebani pula.
Awalnya sempet bersimpati pada Dipa, tapi belakangan aku menyadari dia sebetulnya belum layak untuk Ajeng yang baik, pengertian, dan sabarnya selevel mythical immortal. Tingkat keegoisannya sangat tinggi; pokoknya gak kuat, gak kuat, gak kuat. Somehow aku merasa dia berpikir dunia hanya berputar di sekelilingnya. Saking gondoknya, aku sampai punya satu sticky tabs khusus warna merah untuk menandai ke-red flag-an dia.
1. Ngebanyol berlebihan tak tahu tempat. Awal-awal berasa lucu, tapi lama-kelamaan capek bacanya, apalagi ngadepin secara langsung. Lagi mode serius pun dibawa becanda, tidak paham situasi. Contohnya, ketika Dipa tau bapak Ajeng lagi marah, dia malah ngebanyol, “Waduh, nyembur api enggak, Jeng?” Padahal emosinya gara-gara dia.
2. Cuek bebek, egois pula. Selama tiga tahun pacaran, Dipa TIDAK PERNAH tahu apakah Ajeng menginginkan resepsi atau tidak. Tepatnya tak peduli sih. Yang dia tahu, prinsipnya sebagai laki-laki yang mesti dipegang teguh, hadeuh, resepsi tidak boleh ada. Harus diwujudkan.
3. Komunikasi jelek, tidak gentleman. Katanya pacaran sudah tiga tahun, tapi kok… komunikasi dengan keluarga kurang? Selama ini jarang basa-basi, hubungan tidak dekat. Ngedeketin keluarga Ajeng pas mau berburu restu doang. Akibatnya? Keringat dingin, sulit memulai pembicaraan, sangat challenging. Udah mau pup baru bikin WC. Duh.
4. Lambe turah. Sebetulnya aku tidak mempermasalahkan Dipa yang tidak menginginkan resepsi. Paham juga seberapa kesalnya dia sama ayahnya yang telah menghambur-hamburkan uang padahal dari keluarga nggak berkecukupan. Tapi, rasanya kurang pantes bersikap bitter terhadap semua orang yang melakukan resepsi juga kali ya. Contohnya, ketika menghadiri kondangan teman Ajeng (yang sebetulnya dia dipaksa, sebelumnya tidak pernah mau), bacotnya bukan maen. Perkara gaun pernikahan temannya dibilang pemborosan, pasalnya biaya yang harusnya bisa dimanfaatkan untuk hidup malah dihabiskan buat pesta satu hari. Kalau dia mampu ya biarin, sewot amat.
5. Tidak menghargai adat pernikahan. Saat menghadiri kondangan pemersatuan sepupu Ajeng yang berkonsep adat Jawa, Dipa mengomentari seserahan nikah kenapa harus pisang raja dan bukan nangka—soalnya lebih enak buat es campur. Berikutnya, ketika lagi ada ritual midak tigan (menginjak telur), dia bilang sayang telurnya, lebih baik diceplok dan dimakan dengan sambal bawang. Begitupun ketika lagi dulangan, kedua mempelai yang saling menyuapkan sesendok tumpeng dan secangkir air putih, dia bertanya kok hanya sesendok, kenapa tidak dihabiskan sekalian. Kebayang nggak, selama acara sakral lambenya non-stop ngomong tak jelas kayak gitu? Merusak mood aja.
Kalau aku jadi Ajeng, udah tak putusin sejak awal. Membayangkan hidup bersama dengan orang yang tidak menempatkan diri dengan baik, dengan sikap childish dan punya ego tinggi seperti ini, jarang-jarang berakhir baik. Dipa masih butuh waktu untuk berbenah diri, memikirkan ulang mana yang pantas dilakukan dan yang tidak, dan memantaskan diri sebelum menjalin hubungan dewasa. Sungguh, emosiku teraduk-aduk sepanjang melihat Dipa interaksi. Setiap kemunculan dia, selalu ada hal yang men-trigger-ku, banyolan dan gombalannya yang absurd pun menjadi tidak lucu.
Beruntungnya, tokoh-tokoh di sekelilingnya bantu menetralisir gedegnya Dipa. Selain Ajeng, ada Citra tantenya Ajeng yang tak kalah humoris tapi tidak slengean. Genta, omnya Ajeng yang nyiksa Dipa dengan workout plan-nya. Gugum, rekan kantornya yang juga seorang fitfluencer ngajarin Dipa workout tak kalah lucu.
Meskipun kelihatannya banyak protes, aku masih sangat menikmati narasi dalam novel ini. Babnya ringkes, mudah diikutin, dan ngalir sekali. Di akhir bab selalu dibikin penasaran sama kelanjutannya, jadi tidak bisa berhenti bacanya. Terkait dengan penyelesaian ceritanya, aku suka. Tidak ujug ujug memperbaiki Dipa yang serbakurang ini, namun solusi yang ditawarkan cukup fair. Meskipun ya, aku masih kesal, bwahaha.
Anyway, aku merekomendasikan Berburu Restu sebagai selingan dari buku yang topiknya berat. Semoga nggak ikutan gedeg, masih seru kok! 😆
"...kita sama-sama sedang mencoba menentang standar-standar konstruksi dan tekanan sosial yang kadang membodoh-bodohi, dan itu berat loh, Dip." (107)
Pernikahan menjadi puncak impian bagi dua sejoli yang berikrar saling cinta. Peristiwa sakral ini kerap dirayakan besar-besaran, megah, lengkap dengan aneka prosesi adat yang dipilih. Tapi, bagaimana jika calon mempelai pria tidak mau ada resepsi di pernikahannya alias cukup ijab kabul saja di KUA? Inilah kisah Dipa dan Ajeng, dua sejoli yang saling jatuh hati dalam upaya keduanya #BerburuRestu demi mendapatkan pernikahan idaman lewat jalur nggak umum!!!
"Buat Tante, menikah itu hanya layak dilakukan oleh orang yang siap dan tentunya sudah ketemu alasan kenapa dia harus menikah." (106)
Dipa trauma sama namanya resepsi. Bukan karena dulu dia pernah ketahuan datang ke resepsi orang ga dikenal dengan amplop kosong cumanbuat numpang makan karena pas akhir bulan. Bukan pula karena Dipa pernah kesenggol ibu ibu barbar sampe jatuh pas rebutan kambing guling di prasmanan sebuah pernikahan. Bukan pula karena selama jadi tenaga sinoman dia hanya ditempatkan di bagian cuci gelas dan piring karena tampangnya kurang estetik ( eh ini saya dibg 😭😭😂). Bukan, bukan itu semua. Dipa pernah hampir menjadi orang semiskin miskinnya akibat Ayahnya yang meminjam uang ke rentenir demi resepsi kakaknya Dipa. Resepsi telah menjadikan perekonomian keluarganya berantakan.
"Kenapa ... enggak difokuskan untuk mematangkan persiapan mental dan fisik mempelai? Kenapa malah dihabiskan untuk hal-hal yang sifatnya aksesori? Resepsi bukan syarat sah menikah, lho, Pak." (321)
Masalahnya, Pak Guntur (Bapaknya Ajeng) menganut prinsip "nggak resepsi nggak hore" alias wajib resepsi kalau nggak mau ada insiden pot melayang. Maka, Dipa dan Ajeng pun bertekad untuk meminta restu kepada Bulik dan Pakliknya Ajeng. Agar apa? Agar supaya kalo dilempar pot bunga, keduanya punya tameng hidup. Eh bukan, ding. Tentunya harapannya ketiga orang itu akan membantu membujuki Pak Guntur agar mau meletakkan pot yg sudah siap dilemparkan ke kepala Dipa itu wkwk. Canda gaesss.
"Jeng, kayaknya mas kena virus korona gejala baru. Hari senang, jantung degdegan, dan rasanya ingin selalu diperhatikan. / Masak ada gejala kayak gitu? / Ada, jeng. Itu semua korona cinta." (32)
*Itu karena woy, gue kunyah juga nih bujang* Sabar, Pak.
Selanjutnya, kita akan dihibur dengan perjuangan Dipa mencuri hati Tante Citra, om Genta, dan Bulik Ratih dalam mempromosikan 'nikah yes, resepsi nggak dulu". Bagian ini bikin ngakak, seru, bikin prihatin, sekaligus bikin pembaca banyak - banyak beristighfar sambil mengelus dada (dadanya sendiri sendiri). Penulisnya jago banget bikin cerita yang beda. Bukan hanya beda karena ceritanya menarik dan tidak bisa berhenti baca bukunya, tp juga pengen borong serum retinol gara - gara kerut kerut halus yg muncul karena seringnya ketawa pas baca. Ini benar novel yang beda, beda dalam arti bagus sekaligus kok ya kepikiran buku roman bisa ngakak tapi tetap njawani kayak buku ini. Oh iya, novel ini memang agak Njawani ya, alias banyak hal-hal Jawa bertebaran. Tp masihh bisa dipahami kok, wong kongene kok dibanding-bandingke aja bisa kok kalian nyanyinya.
"Menjalin hubungan itu bukan tentang pokoknya, tapi baiknya gimana." (115)
Jangan mengharapkan kisah cinta penuh kata - kata berbunga (kecuali jokes bapak bapak yang asli bikin ngakak di setiap awal bab) dalam #BerburuRestu. Bersiaplah dengan jambul mekar Dipa dan Ajeng ginuk-ginuk yang akan menghibur anda sekalian menuju jenjang resepsi impian penuh adegan yang bakal membuat pengunjung puskesmas muntah massal. Atau celetukan celetukan lepas yang hampir muncul di tiap paragraf. Saking banyaknya, adegan sedih pun jadi tetap menghibur di novel ini ( maaf ya Dipa dan Ajeng). Penghargaan untuk maknae terbaik perlu disematkan untuk Tante Citra. Favorit banget tante yang satu ini. Telepon aku dong, Tante, eh.
"Dan, hidup emang sering begitu, toh, Dip? Kadang kamu harus mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan hasil yang kamu inginkan." (196)
Kali ini, Mas udah siap, Jeng. Maukah kamu menjadi istriku? Menjadi separuh napasku? Mas asma tanpamu." Hal: 15 . Jadi buku ini tuh bercerita ttg Dipa yg mau berburu restu ke keluarga besarnya Ajeng-Pacarnya. Awalnya aku kira berburu restu utk ijin menikah, ternyata restunya utk menggelar pernikahan di KUA tok. Jarang sih emg ya, trus pandangan dari masyarakat jg pasti gak baik gtu kan. Apalagi Bapaknya Ajeng punya jabatan, dan Ajeng merupakan anak tunggal. . Pas baca ini tuh, berasa ceritanya relate bgt. Walaupun konflik utama di novel ini ternyata gak sederhana. Penulis jg berhasil bikin aku ketika selesai membacanya serasa jd orang jawa. Medoknya ngikut 😂 . Buku ini cocok bgt jadi bacaan buat naikin mood. Ceritanya ringan, kocak, dan gombalannya itu, gak kuat 😂. Penulisnya jagoo 🤭👍🏼. Jujur, aku jarang baanget baca buku yg tokoh utamanya laki-laki. Tp baca buku ini enjoy bgt. Ditambah dgn kebuncinan Ajeng-Dipa. .. Memang sih namanya mau menikah, harus ada cobaan juga usaha yg effort. Jadi Berburu Restu bercerita ttg proyek Dipa utk mendekatkan diri ke om dan tante Ajeng yg karaktenya unik-unik. Sebelum akhirnya berujung ke orangtua Ajeng. Sebenarnya Dipa dikerjain yaa 😂. Tp dibalik tantangan yg diberikan, ada pesan yg tersampaikan. Bagian lucunya nih tantangan workout plan hidup sehat ala om Genta, yg menjadikan Dipa viral lewat goyang jeletotnya 😂. . Dipa tipe lelaki yg gak aku sukai. Walaupun pinter ngegombal, tp dgn prinsip yg di pegang teguh itu menjadikannya sedikit minus dimataku. Mana dia pulak yg merajok gak jelas 😂. Dipa ini modelan cowo yg keras kepala & egois gak sih? 😤. Tp ya itu sih yg jadi bumbu asem asin dibuku ini. Terlepas dari itu semua, byk insight yg bisa diambil dari novel ini loh. . "Dipa sekeras itu ya, Jeng?” Hapsari mengusap bahu Ajeng dengan lembut. "Maaf, ya, Jeng, bukan maksudku bikin kamu ragu. Tapi, kamu harus hati-hati sama sikapnya dan harus bisa berpikir jernih. Menjalin hubungan itu bukan tentang pokoknya, tapi baiknya gimana. Jangan sampai, Jeng, suatu saat kamu justru malah tertekan dengan kepala batunya Dipa." Hal: 115
Bagus banget! Ceritanya dibawakan dengan lucu (candaan recehnya selera saya banget, ngakak puas baca buku ini😆). Walaupun begitu, temanya sebenarnya bagus dan cukup serius, tentang kompromi di suatu hubungan (baik berpasangan maupun keluarga) yang terbalut dalam suatu premis menarik: Mau nikah tanpa resepsi!
Overall, seru banget! Bacanya ngalir, seru, dengan bumbu-bumbu pelajaran kehidupan yang bisa kita petik.
"Menjalin hubungan itu bukan tentang pokoknya, tapi baiknya gimana."
Sebagai perempuan menjelang usia 30 tahun, rasanya cukup sulit nemu novel romcom indo yg ga bikin cringe dan “geleuh” pas baca. Tapi buku ini bukannya bikin cringe malah sukses bangett bikin ngakak dengan kebucinan dan kegesrekan Dipa-Ajeng. Pesan yg dibawa juga ngena dan dekat dengan dilema pasangan2 di Indonesia & tuntutan sosialnya 🤣. Salah satu buku paling menghibur yg ku baca tahun ini!!
🤵🏻👰🏻♀️ Berburu Restu || Dimas Abi || Penerbit Noura Books || 338 Hlm || Cetakan Pertama, Juni 2023 👰🏻♀️🤵🏻
"Buka bisnis di mana pun itu sama aja. sama-sama butuh keberanian. Asal kita punya mindset yang tepat, insyaallah profit akan datang." — Tante Citra (Hal 74).
"Cinta enggak butuh alasan, Jeng. Kalau ada alasannya, itu bukan cinta, tapi argumentasi." — Dipa (Hal. 110).
Q : Kalian tim nikah di KUA saja atau nikah dengan resepsi?
Kalau aku pribadi, aku lebih suka akad nikah itu di rumah. Lebih terasa khidmatnya buatku dan aku ingin tetap ada resepsi cuma sesuai dengan budget yang ada tanpa dipaksakan harus megah dan sampai berhutang ke mana-mana karena menurutku nikah hanya sekali seumur hidup, aku ingin mengabadikan momen tersebut dan sebagai wanita aku ingin menjadi ratu dalam sehari.
Menikah dengan ada resepsi atau tanpa resepsi hanya di KUA saja itu selera serta pilihan masing-masing individu. Begitu pun dengan seorang wanita yang setelah menikah memutuskan tetap berkarir atau memilih menjadi ibu rumah tangga. Itu semua tidak salah, namanya hidup punya banyak pilihan dan yang pasti orang tersebut memiliki alasan serta sudah berpikir matang sebelum memutuskan pilihannya.
Berburu Restu merupakan salah satu dari 10 naskah cerita terbaik yang mampu mengalahkan 2.000 ide cerita serta menjadi pemenang di program MWB (Mizan Writing Bootcamp).
Berburu Restu berkisah tentang Dipa yang mempunyai prinsip menikah di KUA saja tanpa menggelar resepsi sedang melakukan proyek berburu restu keluarga besar pacar tercintanya, Ajeng. Apa alasan Dipa tidak ingin menggelar resepsi dan apakah proyek Dipa sukses? Kalau kalian penasaran bisa langsung baca novelnya!
Dibuka dengan review atau pendapat dari beberapa penulis dan pembaca yang sudah selesai membaca cerita ini ketika masih tayang di platfrom baca online. Novel Berburu Restu sukses membuatku yang kurang begitu receh dan kebanyakan serius di saat- saat tertentu pun bisa tertawa dengan tingkah laku serta dialog humoris dalam novel ini. Humor dalam novel ini nggak kaleng-kaleng, bukan jenis humor garing apalagi humor yang dipaksakan. Meski novel ini bergenre romcom, tapi bisa kujamin kalau novel ini sangat berdaging. Dari halaman pertama sampai halaman terakhir Ilmu pengetahuan umum dan ilmu kehidupan atau pesan moralnya sangat banyak.
Premis novel ini sederhana, unik dan fresh, tapi eksekusinya luar biasa. Konfliknya sangat related dengan kehidupan sehari-hari, terutama drama sebelum menikah atau menjelang pernikahan. Mengikuti perjalanan Dipa berburu restu untuk mempersunting Ajeng itu seru banget, kadang aku dibuat geregetan dengan tingkah Dipa yang banyak ndagel daripada serius. Penggunaan POV yang tepat juga membuatku bisa ikut merasakan apa yang dirasakan setiap tokoh. Aku juga dibuat paham inti dari masalah yang ada. Alurnya maju mundur dengan penulisan yang smooth dan diberi keterangan sehingga membuat pembaca nggak bingung. Penyelesaian masalahnya pun melegakan hati.
Para Tokoh dalam novel ini pun memorable, mereka memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, mereka juga punya masa lalu dan alasan tersendiri dengan sikap serta keputusan yang mereka ambil.
Ajeng. Bucin banget dengan Dipa, dia wanita yang nggak banyak nuntut, selalu setia mendampingi Dipa berburu restu keluarganya, punya hamster yang diberi nama Margono dan Cindy, serta menerima Dipa apa adanya.
Dipa. Jujur dia ini tokoh yang bukan tipeku, aku nggak bisa bayangkan betapa stressnya aku menghadapi Dipa. Aku salut banget sama Ajeng yang sabar dan nerima Dipa yang suka ndagel. Punya jambul yang bisa dipakai atlet selancar untuk berselancar di sana, rasanya geregetan dengan model rambut si Dipa. Yang buat aku salut Dipa punya prinsip yang kuat, berani meminta maaf meski sempat menjadi pengecut, dia juga punya tekat kuat serta bertanggung jawab. Plus, dia bukan tipe pekerja yang makan gaji buta.
Tante Citra, tantenya Ajeng. Memutuskan melajang, membuka usaha kuliner yaitu angkringan bernama Warung Hik Yu Citra, orangnya asyik, out of the box cara ngetes calon suami keponakannya, punya mindset yang luar biasa, orangnya cuek meski kurang dianggap di keluarganya.
Om Genta, Adik kedua Bapaknya Ajeng. Maniak Olahraga, yang bikin kagum meski sudah berusia 45 tahun, tapi tubuhnya begitu prima seperti atlet yang berada di puncak karier, paling benci orang yang nggak tulus.
Bulik Ratih, Adek pertama Bapaknya Ajeng. Suka banget pamer kesombongan yang dibalut dengan kalimat merendah, suka banget sama tas mahal, punya rumah bak istana, penampilannya pun menunjukkan isi dompet.
Pak Guntur, Bapaknya Ajeng. Sosok ayah yang sayang banget sama putri tunggalnya, ingin yang terbaik untuk putri satu-satunya, wataknya mungkin keras, tapi bukan nggak bisa dilunakkan dengan cara yang tepat.
Wening, Ibunya Ajeng. Ibu-ibu pada umumnya yang sudah nggak sabar untuk nimang cucu, sosok Ibu yang mengerti perasaan anaknya.
Mbak Raras, Kakak perempuan Dipa. Orangnya sabar dan bisa mengerti dan memaklumi sikap ayahnya dan juga sikap Dipa.
Aku suka dengan interaksi Dipa dengan Mbak Raras. Interaksi Sibling pada umumnya yang tentunya diwarnai perdebatan tanpa meninggalkan sakit hati setelahnya. Meski sering berantem, tapi saling sayang dan peduli satu sama lain.
Aku juga suka dengan interaksi Ajeng dengan bestie atau konco kentelnya, Hapsari. Saling membantu dan nggak pernah membahas masalah perbedaan usia. Aku setuju dengan pendapat Hapsari tentang laki-laki yang sudah nikah, seperti persoalan masalah ngupas buah karena aku sendiri mengalami. Sebelum nikah kita mungkin merasa sudah 100% mengenal pasangan kita, tapi ternyata setelah menikah kita sadar kalau kita belum sepenuhnya mengenal pasangan karena setelah nikah akan ada kejutan seru dan berwarna seperti kata Hapsari.
Yang aku suka dari novel Berburu Restu ; Cover novelnya sangat menggambarkan isi novel, novel yang bikin ngiler dengan masakan-masakan yang disantap para tokohnya, para tokoh utamanya yang merupakan orang asli Jawa tapi mereka orang Jawa sing ora ilang Jowone (Orang Jawa yang nggak hilang ciri khas Jawanya) meski tinggal di Jabodetabek, banyak dialog yang diselipkan Bahasa Jawa, tapi bagi pembaca yang kurang paham atau tidak tau Bahasa Jawa bisa baca di bagian footnote, ada juga beberapa dialog berbahasa sunda yang nggak lupa dilengkapi footnote, analogi Ajeng tentang kebiasaan memakan bagian yang menurutnya paling enak belakangan, judul di setiap bab menggunakan Bahasa Jawa, layout yang sangat cantik, bookmark yang bukan sembarang bookmark karena terdapat info tentang syarat nikah di KUA, suka dengan para tokoh yang selalu menghormati orang yang usianya lebih tua, suka dengan cara keluarga besar Ajeng yang setiap apa-apa dirundingkan bersama, serta setting tempatnya yang dinarasikan begitu detail membuatku merasa seperti berada langsung di lokasi scene.
Apa saja yang kupelajari dari novel Berburu Restu ; dapat ilmu tentang bisnis terutama bisnis kuliner, tentang dunia sepak bola, tentang beberapa bagian pekerjaan di Puskesmas yang masih banyak belum diketahui orang awam seperti nutrisionis dan tenaga promosi kesehatan, tentang prospek kerja lulusan S-1 Manajemen Sumber Daya Perairan, tentang asal mula adanya Wedang Uwuh, cara testi makanan di vendor katering agar tidak rugi atau kecewa, prosesi pernikahan adat Jawa serta filosofinya, tentang aturan keamanan perumahan elite, mengenal macam-macam workout untuk pemula, pentingnya pemanasan dan beberapa tentang dunia olahraga, mengenal makanan Khas Jawa Tengah, khususnya Solo, mengenal sindrom sinestesia, resep membuat oatmeal yang enak, dan masih banyak lainnya.
Aku rekomendasikan novel ini untuk kalian yang suka baca novel genre romance-comedy, untuk kalian yang mau menikah atau yang sedang mengejar restu keluarga pasangannya.
“Sebenarnya sedang berburu apa? Berburu restu menikahi Ajeng atau mencari validasi atas prinsip Dipa sendiri?”
Banyak sekali anak yang mendapatkan sisi trauma dan mengorbankan impian atas kesalahan orang tua dalam mengambil keputusan. Seolah berperang dengan prioritas kebutuhan dan gengsi atas pandangan masyarakat mengenai pesta pernikahan anak perempuannya, ternyata salah hitungan sehingga menyeret ketidakadilan untuk anak yang lain. Aku sangat mengerti luka yang dialami Dipa meskipun penulis mengemasnya dalam cerita komedi. Dikarenakan kesalahan ego bapaknya yang ingin menggelar pesta pernikahan besar untuk sang kakak Dipa harus berjuang sendiri demi menyelesaikan studinya ditambah hutang yang menumpuk tak disangka-sangka dari pesta yang mencekik itu. Berburu Restu adalah kisah Dipa berjuang mempersunting Ajeng dengan pernikahan sederhana cukup di KUA tanpa pesta atau resepsi apapun. Satu hal yang menjadi pertanyaan saya, apakah semua itu memang keinginan mereka berdua atau hanya memperjuangkan prinsip Dipa? Lalu bagaimana dengan Ajeng? Bukankah ada tidaknya pesta pernikahan harus atas keputusan berdua yang menjalaninya?
Buku ini unik, lucu dan tidak terduga kayak KOK BISA GITU GOMBALAN VINTAGE NGGAK HABIS-HABIS, KAYAK SETIAP SUB BAB PASTI ADA AJA GOMBALAN DAN KELAKUAN ANEH SI DIPA. Dipa tahu keinginannya mempersunting Ajeng akan sulit karena tidak sesuai dengan kebiasaan masyarakat setempat. Katanya tak ada yang namanya menikah tanpa resepsi apalagi kalau hanya di KUA bisa melukai harga diri keluarga. Maka dimulailah perjalanan Dipa mencari restu dari tante dan om Ajeng agar didukung melakukan pernikahan tanpa pesta.
Aku suka bagaimana cara penulis mengemas cerita komedi yang benar-benar lucu tidak garing dan tidak dipaksakan sama sekali seolah pembaca bisa menikmati ceritanya begitu mulus. Konflik batin Dipa, Ajeng dan orang tua Ajeng serta om tantenya juga terasa meskipun sekali lagi dikemas dalam komedi drama yang lucu WKWKWKWKW. Restu paling alot tentu saja dari bapaknya Ajeng yang berperang melawan ego, kebiasaan masyarakat dan juga keinginannya sendiri. Lagi-lagi aku mempertanyakan sebenarnya keinginan Ajeng bagaimana???
Ditutup dengan penyelesaian yang LUCU WKWKWK semua yang aku risaukan di awal akhirnya terjawab, baik bapaknya Ajeng maupun Dipa menyerahkan hasil akhir ke Ajeng. Semua perseteruan dan ketakutan tersebut terjawab dengan dibukanya kesempatan untuk Ajeng memberikan pemikiran atas pernikahan impiannya. Buku yang membawa konflik cukup riskan karena berkaitan dengan pernikahan, ego dan keinginan manusia untuk menunjukkan pencapaiannya. Bagusnya penulis mampu mengemasnya menjadi cerita komedi tanpa menyinggung pihak manapun. Ceritanya juga ringan cocok untuk mengobati kelelahan maupun selingan bacaan yang berat.
Hal Menarik: • Penulis memberikan judul sub bab yang unik-unik meskipun ada beberapa yang aku tidak tahu maksudnya bagusnya ada keterangan maksud dari judul tersebut. • Komedi yang ringan dan tersampaikan bukan garing atau dipaksakan. • Ada gabungan penggunaan bahasa daerah dan Indonesia seimbang ditambah adanya footnote untuk membantu pembaca yang tidak memahaminya. • Ada gombalan vintage wkwkwkwk di setiap sub bab baru sebagai pembuka. Heran banget si Dipa ini gombalannya nggak abis-abis loh! • Konflik yang cukup riskan mengenai pernikahan yang biasanya sering dicampuri oleh orang tua bahkan om, tante, nenek maupun tetangga tanpa memberikan kesempatan kedua mempelai untuk memutuskan keinginannya sendiri. • Penulis mampu membawa konflik real yang ada di lapangan mengenai keinginan pernikahan di KUA tanpa pesta tanpa menyinggung siapapun. • Tokoh Dipa yang unik, Ajeng tidak kalah gesrek dan juga tokoh-tokoh lain di dalamnya yang mengalami pengembangan karakter cukup signifikan. • Alurnya maju dengan mini konflik yang langsung terselesaikan tanpa membiarkan pembaca betanya-tanya mengenai akhir dari perjalanan yang sudah dimulai.
Pelajaran yang Didapatkan: Dalam sebuah pernikahan itu yang penting adalah bagaimana kedua mempelai berdiskusi dan memutuskan sesuatu. Kalau dari buku ini bukan hanya tentang kemauan Dipa, orang tua Ajeng dan om tantenya melainkan juga harus bertanya mengenai kemauan Ajeng. Dari kemauan Dipa dan Ajeng bisa didiskusikan jalan tengah yang paling baik dan tidak membebani. Sebelum berjuang mencari restu orang terdekat coba cari restu dulu pada pasangan mengenai pernikahan impianmu barangkali pasanganmu punya impiannya sendiri sehingga tidak ada salah satu yang berkorban sendirian atau bahkan terluka. Jangan memaksakan diri untuk mengikuti omongan, kemauan dan standar orang lain karena yang menjalani adalah kita sendiri. Pahami kemauan anak-anak kalian yang akan melangkah ke jenjang pernikahan jangan berkutat pada ego sehingga mengorbankan kebahagiaan mereka.
Siapa yang Harus Membaca? Berburu Restu adalah cerita romansa komedi yang aman dibaca untuk siapa saja terlebih bagi yang masih jomblo atau mempersiapkan pernikahan. Dari cerita Ajeng dan Dipa mungkin saja ada penyelesaian masalah yang selama ini masih membelenggu hubunganmu. Contoh sikap Dipa yang tenang dan selalu lucu setiap saat namun tinggalkan sikapnya yang sedikit egois mengenai keinginan pernikahan itu.
Pilih mana: nikah pakai resepsi atau nikah di KUA aja?
Dipa pro-berat nikah di KUA aja. Resepsi itu baginya cuma menghabiskan waktu dan uang. Banyak hal-hal yang lebih krusial setelah pernikahan. Uangnya juga bisa ditabung untuk keperluan rumah tangga. Pokoknya nikah di KUA itu perwujudan peribahasa hemat pangkal kaya, banget. Masalahnya, orang tua Ajeng itu pejabat eselon II Kemenhan. Mustahil, dong, kalau nikah di KUA aja? Masa bapaknya punya duit banyak, anaknya tunggal pula, nikah nggak digedein? Apa tanggapan orang-orang?
Bagi Dipa, menikah tanpa resepsi itu prinsip. Tapi, bagi bapaknya Ajeng, nikahin anak tunggal nan kesayangan itu wajib pakai resepsi besar, kalau nggak, sama aja kayak nginjek mukanya. Nah, lho, kasihan si Dipa kepojok, tapi ya demi Ajeng Ginuk-Ginuk, apa pun bakal diterabas, yang penting dapat restu.
Ekspektasi bakal dapet novel penuh banyolan (yang omong-omong emang isinya mostly banyolan), malah dapet sesuatu yang lain. Ini testimoni yang lebih ke kaget aja, sih, beberapa buku genre komedi biasanya hampir 85% nggak serius, 10% serius, dan 5% haru. Bagian seriusnya juga masih suka dikasih banyolan sampai rasanya kayak over banget kebanyakan komedi. Berburu Restu kasih 50% serius, 60% serius tapi pake banyolan.
Karakter Dipa bisa dibilang common man kalau di dunia nyata alias banyak orang kayak gini, yang bedain Dipa punya pride, jambul penambah ketampanan (menurut dia). Kurasa karena common jadi agak relate. Maksudnya bagian prinsip dia. Nikah tanpa resepsi di zaman sekarang agak kurang lumrah, ya, walaupun masih ada. Bayangan nikah tapi nggak ada sound yang bikin geter kaca tetangga kayak nggak afdal gitu. Apalagi yang punya adat dan kebetulan keluarga besarnya penganut adat tersebut alias kalo kelewatan satu aja nanti ke depannya ada ganjalan. Dipikir-pikir, makhluk hidup selalu punya ganjalan, sih. Daun kemangi aja kemungkinan bakal dipotek kalo emak-emak lagi butuh.
Menurutku, buku ini langkah cerdas buat membahas perdebatan menikah di KUA aja atau pakai resepsi. Macam bubur harusnya diaduk atau enggak, tapi ini lebih serius (hah, apaan). Konflik tetap diselesaikan dengan serius karena hidup nggak bisa komedi mulu, hey, isinyaaa, walaupun iya, kalau ada masalah emang ketawain jangan sampe bikin spaneng. Intinya, BR sukses menyajikan topik berat dan alot jadi semacam hmm apa ya nyebutnya, bukan jalan keluar karena jelas masalah orang beda-beda, ya. Yah, anggaplah ini salah satu kisah dari salah satu jalan bercabang soal perdebatan mau pakai resepsi atau enggak, itu aja.
Jadi gini, gara-gara resepsi kakaknya yang besar-besaran, keluarga Dipa jadi kesusahan ekonomi. Trauma banget, sampai-sampai waktu dia lamar pacarnya, Ajeng, dia langsung ngajuin konsep nikah di KUA aja biar hemat. 🤔 Masuk akal sih, karena dia udah ngerasain sendiri dampak buruknya. Eh, Ajeng—yang sabar banget dan super pengertian—mendukung ide ini.
Tapi masalahnya, keluarga besar Ajeng itu kaya raya, guys. Ajeng juga anak tunggal yang paling disayang. Udah bisa kebayang, kan, gimana Dipa harus jungkir balik berburu restu buat nikah di KUA?
𝙆𝙚𝙨𝙖𝙣 : Kocak dan Ringan Novel ini ringan banget dibaca! Narasinya santai, gaya bahasanya campur-campur sama bahasa Jawa, dan tingkah laku tokohnya bikin ngakak. 😂 Apalagi kalau Dipa udah mulai gombalin Ajeng. Beh, dunia langsung berasa milik berdua, yang lain cuma numpang lewat. 😆
Yang bikin relatable, novel ini ngangkat dilema antara 𝙧𝙚𝙨𝙚𝙥𝙨𝙞 𝙫𝙨 𝙣𝙞𝙠𝙖𝙝 𝙙𝙞 𝙆𝙐𝘼 aja yang sampai sekarang masih jadi perdebatan.
𝙋𝙖𝙣𝙙𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙋𝙧𝙞𝙗𝙖𝙙𝙞𝙠𝙪 𝙏𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝘿𝙞𝙥𝙖 Jujur, aku agak kesel sama Dipa. 😤 Oke deh, dia trauma sama resepsi gede gara-gara pengalaman kakaknya. Tapi apa harus sampai merendahkan atau ngomongin negatif soal resepsi orang lain? Kan nggak semua orang punya pandangan yang sama, ya. Bayangin, datang ke resepsi orang, eh malah komen, “Ngabisin duit aja.” Ya nggak gitu juga dong. Harusnya dia bisa lebih menghormati pilihan orang lain. 🙄
Terus, aku makin kasian sama Ajeng. Dia sabar banget ngadepin Dipa yang menurutku sering terlalu ngotot sama ide nikah hemat, tanpa bener-bener tanya pendapat Ajeng.
Di satu sisi, aku paham sih kenapa Dipa trauma. Tapi, situasi keluarga Ajeng beda banget. Mereka tuh kaya raya sampai ngeluarin ratusan juta pun nggak kerasa apa-apa. Wajar dong kalau keluarga Ajeng mau ada resepsi, karena Ajeng pun anak tunggal. Nggak ada salahnya kan mereka pengen merayakan momen bahagia ini dengan meriah?
Tapi ya itu, Dipa menurutku egois.😒 Dia terlalu ngotot sama maunya sendiri, padahal belum tentu itu yang Ajeng mau. Selama ini, dia juga jarang banget bener-bener nanya pendapat Ajeng (soalnya Ajeng manut-manut aja karena terlalu bucinn). Kan dia yang nikah sama Ajeng, bukan sama traumanya. 🤦♀️
Untungnya, setelah drama panjang, mereka akhirnya bisa rembukan dan ambil jalan tengah. Tapi tetep aja ya, bikin gemes! Wkwk. 😅
#ReviewDumz novel #BerburuRestu . Berburu Restu • ditulis oleh @dimasabi • diterbitkan pertama kali Juni 2023 oleh @nourapublishing • 337 hlm • ISBN : 978-623-242-399-2 . . Apakah kamu tim KUA atau tim resepsi nih?
Kalau aku pengennya di KUA aja, bukan karena uang tapi aku ndak mau ngerasa sakit di kepala karena karsuhun atau sunting Palembang. Btw, aku ada darah Palembang dari Mama. ———
Senang banget bisa berkenalan dengan Dipa 'Jambul' Endaru dan Ajeng 'Ginuk-ginuk' Gantari. Apalagi menjadi saksi betapa penuh perjuangannya mereka untuk Berburu Restu agar bisa menikah tanpa resepsi.
Tante 'freak bin unik' Citra yang memiliki usaha angkringan ini menjadi target pertama mereka. Om Genta dengan "Workout Plan" nya menjadi target selanjutnya.
Bulik 'merendah untuk membanting' Ratih yang menjadi target terakhir sebelum ke Pak Guntur memilih tutup mata ketika Dipa Ajeng meminta restu beliau.
Menurutku, topik yang diangkat cukup berat ya namun Kak Dimas sukses mengemas dengan apik ditambah banyolan serta gombalan Dipa, jadi terasa lebih ringan.
Dipa kekeuh banget mau menikah tanpa resepsi karena ada trauma masa lalu lho.
Novel yang memiliki latar tempat Bogor dan Klaten ini sangat menghibur, seru, lucu dan buat terharu juga. Mataku menghangat ketika masuk ke scene Dipa dan Mbak Raras berbicara dari hati ke hati. Nyess banget.
Prosesi adat Jawa yang ditulis secara runut juga bisa kita temukan pada novel yang menggunakan alur campuran ini.
Novel ini unik karena di setiap awalan Bab selain dilengkapi dengan gombalan Dipa ke Ajeng tetapi juga dengan istilah Jawa kocak ala mereka.
Intinya, aku merekomendasikan novel ini karena relate banget dengan kehidupan dan banyaknya insight yang akan didapat.
Demikian ulasanku dan semoga berkenan ya. 👋👋
This entire review has been hidden because of spoilers.
Dipa dan Ajeng serius melangkah ke pernikahan. Berbekal pengalaman pahit resepsi pernikahan kakaknya, Dipa bertekad tidak akan mengadakan resepsi. Cukup meresmikan pernikahan di KUA. Sementara itu, Ajeng, adalah putri tunggal yang ayahnya adalah seorang pejabat kementerian. Tentunya tidka hanya orang tua Ajeng, tetapi keluarga besar Ajeng mengharapkan pesta besar. Mampukah Dipa meyakinkan keluarga Ajeng untuk menyepakati maunya?
Tidak dimungkiri, inilah yang terjadi di kehidupan bermasyarakat. Seolah resepsi adalah satu kesatuan dengan pengucapan janji suci di hadapan Tuhan hingga orang mengusahakan segala upaya demi terciptanya sebuah resepsi.
Buku ini memaksa pembaca untuk memahami dari berbagai sisi. Dari sisi Dipa yang kekeuh cukup mengikat janji di KUA tanpa prosesi lain, dan juga keluarga Ajeng yang berkehendak menggelar resepsi. Pembaca akan dibawa ke dialog-dialog perdebatan pandangan. Namun, jangan khawatir, bacaan ini tidak menegangkan. Alih-alih tegang, narasinya justru mengalir menggelitik. Pembaca akan dibuat tergelak oleh lelucon atau gombalan Dipa atau tokoh lain di buku ini.
Jujur saja, aku sulit dipuaskan dengan lelucon atau gombalan. Namun, aku tergelak ketika mengetahui nama lengkap peliharaan Ajeng, atau nama tokoh figuran yang harus disuarakan lantang saat Dipa memanggil antrean. Woi, kenapa namanya harus begitu, sih? Harus banget, ya, dilantangkan? Ha-ha-ha ....
Kalau kamu berencana menikah dalam waktu dekat, cobalah baca buku ini. Bisa jadi buku ini akan memantapkanmu untuk memilih menggelar resepsi atau cukup mengikat janji di KUA. Namun, pada akhirnya, pernikahan adalah soal si calon manten, bukan?
Penasaran?
Berburu Restu • Dimas Abi • Noura • 2023 • 344 halaman
💐 Aku pikir berburu restu di novel ini sama seperti berburu restu pada umumnya. Ya, berusaha dapetin restu orang tua agar sebuah hubungan disetujui. Ternyata tidak seperti itu, melainkan berburu restu agar diizinkan menikah di KUA aja tanpa resepsi. Loh?!
💐 Akhirnya Dipa melamar Ajeng setelah tiga tahun lamanya mereka menjalin hubungan. Tentu saja Ajeng senang dan menerima, tetapi Dipa tidak ingin mengadakan resepsi. Dipa punya alasannya sendiri. Namun, ada banyak kebenaran yang sebenarnya Dipa tidak tahu.
💐 Menikah tanpa resepsi adalah hal yang sangat sulit dilakukan oleh keluarga Ajeng. Ayahnya seorang pejabat di kementerian, pastilah orang-orang akan berpikiran buruk jika pernikahan Ajeng dan Dipa dilakukan tanpa resepsi.
💐Novel ini akan mengajak kita untuk mengikuti perjuangan Dipa untuk mendapatkan restu dari para saudara ayahnya Ajeng untuk menikah tanpa resepsi sebelum Dipa berhadapan langsung dengan beliau.
💐Dipa sosok pria yang humoris dan sangat kocak, perempuan mana yang akan bosan dengan pria seperti itu. Selama bersama Dipa, rasanya Ajeng bagaikan seorang ratu. Pembaca novel ini juga pasti akan merasakan bagaimana kesemsemnya Ajeng mendengar setiap gombalan yang terlontar dari mulut Dipa.
💐Hal-hal tentang pernikahan di novel ini sangat related dengan kehidupan di masyarakat kita, dikemas dengan cerita yang menarik dan memang beda dari yang lain. Ide ceritanya sangat menarik. Bacaan awal tahun yang sangat menghibur!
Buku pertama dari seri MWB yg selesai kubaca sampai tamat.
Kalau pengalaman bacaku harus diwakilkan oleh satu kata: 'happy' Kalau diwakilkan oleh tiga kata: 'happy', 'sederhana', 'bermakna'. Karena: ide cerita ini sederhana, tapi eksekusinya luar biasa, gaya penulisannya bikin yang baca bahagia.
Semua karakternya hidup, membekas, sama sekali gak ada yang numpang lewat doang. Meski selengean, Dipa, tokoh utamanya punya pendirian kuat. Dan itu buatku macho abis. Meski gemes juga yaaa krn di sisi lain Dipa cukup egois.
Sementara tokoh2 lain, pny ciri khas kuat yg melekat. Contohnya Gugum yang ... OMG aku selalu ngakak setiap dia muncul lengkap dgn otot2nya dan dada yg bs naik sebelah itu. Tante Citra yg pemikiranya super unik n the best bgt! Bahkan smp Margono, hamster, tp sukses bkin 🤣🤣
Narasinya enak. Pemilihan bahasa simpel, tp justru bkin aku bs membayangkan segala sesuatunya dgn sangat jelas. Pesan moral ttg esensi pernikahan itu adalah 'kehidupan setelah menikah', disampaikan dgn luwes. Resolusinya jg apik. Win-win solution dan aku puas bgt 🥳 Sebuah novel yg seger, menghibur, tp ttp pny bobot. Jd bkn cm sekadar novel komedi kosongan, beb. Cocok buat km yg lg penat sm keseharian, butuh ketawa-ketiwi, atau bosen sm bacaan berat yg bkin alis nyatu d tengah. Sangat kurekomendasikan!
Cerita ini aslikk gokil banget! Selain jalan ceritanya yang unik, didalamnya juga berisi guyonan-guyonan lucu dan yang paling penting, buku ini ga bosenin!
Yang aku suka dari cerita ini, di setiap pergantian chapter, ada ilustrasi chatting antar Dipa dan Ajeng dengan kalimat receh dan gombalan maut khas Dipa yang buat panas dingin pembacanya. Karakter Dipa juga somplak banget sekaligus menurutku karakter Dipa ini unik dan pantang menyerah!
Buku ini juga fun banget untuk dibaca, dilengkapi dengan alur maju mundur tapi fast-paced, cerita ini cukup page turning. Konflik cerita ini menurutku cukup ringan dengan perjuangan Dipa yang berlika liku dalam meminta restu pada keluarga Ajeng.
Transisi emotional scene juga dapet banget, dari yang ngakak tiba-tiba jadi tegang, maupun kebalikannya. Awalnya sedikit kesal dengan prinsip Dipa, tapi untungnya di akhir semua jadi saling mengerti. Selain Dipa, aku juga suka dengan karakter Ajeng yang nggih2 dan manut apa mau Dipa. Terus tuh ya, Ajeng juga perhatiaann banget dan bucin abis ke Dipanya.
Overall, aku recommended ceritanya! Isi ceritanya unik, narasi yang dikemas dengan apik dan page turning abis. Meski isian di dalam buku ini banyakan lelucon, tapi suerr, leluconnya bukan yang buat cringe ataupun cranky! Harus dibaca ya gaisss!
Kalau endingnya dibuat sesuai kemauan di awal mungkin gua akan kasih bintang 2. Bintang 5 kalau endingnya sesuai yang didebatin jelang bab akhir.
Demi apapun, DIPA BANYAK BACOT!! Guyonannya lama-lama bikin jengkel. Udah mah egois banget lagi!! Ajeng deserves better. Tapi kan yaaa Ajeng udah milih, udah haknya dia lah ya
Iyaaa gua terlarut banget sama ceritanya. Iyaa gua nangis banget waktu Mbak Raras nasihatin Dipa, dan pas Pak Guntur ngobrol sama Dipa.
Novelnya gak jelek, tapi gua membayangkan Dipa adalah manusia sungguhan, jadi review ini adalah penilaian gua buat Dipa!
Udah tau punya trauma sendiri. Mau dibantu tapi egois. Udah tau ada jalan keluar, tapi sok sokan. Halah bikin kesel.
Iyaa banget kalau dibilang buku ini sukses bikin gua emosi. Sayangnya gua udah keburu benci sama si Dipa. Puncaknya pas di resepsi nikahannya Puspa Praba.. Hadeeh!! *tepokjidat
Yanh paling keren emang cuma Tante Citra dan Mbak Raras lah. Best! Shout out to Tante Citra.. *love
This entire review has been hidden because of spoilers.
awalnya males kesel pol sm dipa yg mau nikah di kua cuma krn prinsip dan trauma hutang pas nikahan mbaknya padahal keluarga ajeng kan kaya raya anak cewe tunggal, batu bgt egois prinsipnya biar ga dibilang mokondo kali yaa wkwkwk trs pas lg deketin pakde genta jg nyebelin sempet mau licik tapi ga jadi badannya ga kuat klo pura2 ganti baju rekam setoran workout hahahha dari situ cukup terkesan sih sama upaya dia demi dikasih restu. endingnya juga apik, meski sempet kesel krn dia egois gamau ngalah akhirnya sadar setelah ngobrol sm mbaknya dan yeayyy jadi nikah mereka di kua dan resepsi intim keluarga aja. sukaaaaaaa kamus diksi jawa sama gombalan di tiap bab nya menghibur bgt wkwkk