...jelas kiranya bahwa klaim dari para pengamat dan peneliti yang menilai kejawen merupakan sinkritisme antara Islam dengan nilai-nilai lama yang terdapat di jawa, perlu sejenak direnungkan dan dikoreksi. Sebab, dalam sejarahnya, orang Jawa tidak pernah melakukan upaya sinkritisasi.Orang Jawa hanya melakukan "pembukaan diri". Terbuka menyilahkan nilai dan ajaran dari mana pun datangnya ke Jawa, dan menerimanya (dalam arti menggunakannya) manakala dinilai berguna, bermanfaat bagi diri pribadi dan masyarakatnya. Sekali lagi, Jawa bukan sebuah pabrik yang sengaja mencampur berbagai macam agama dan kepercayaan, kemudia memformulasikan, serta memprosesnya untuk menghasilkan suatu produk baru. Spiritualisme Jawa benar-benar ibarat telega seperti yang disanepakan para leluhur. Ia tidak memanggil ikan, lumut, maupun ganggang, hidup dalam habitatnya. Ia tidak menetapkan undang-undang patembayatan bagi setiap materi dan fenomena yang berasal dari mana pun juga. Maka, telaga itu pun tidak dapat diklaim sebagai milik ikan, milik ganggang, milik cacing, melainkan milik semua yang tinggal dan tumbuh berkembang di dalamnya. Demikian pula halnya dengan dunia Spiritualisme Jawa, atau kejawen. Ia harus dipahami sebagai media yang sangat terbuka dan tulus menerima berbagai nilai, sehingga nilai-nilai tadi benar-benar menjadi kulit daging orang Jawa.
Ingatan Buku: Spiritualisme Jawa Oleh Iman Budhi Santosa
Spiritualisme Jawa merupakan buku yang menelaah kebudayaan dan masyarakat suku jawa. Buku ini dari buah penasaran saya juga tentang kejawen, lalu lestari di berbagai agama, kemudian menjadi sebuah aliran tersendiri.
Pokok ajaran kejawen itu terlihat dari gaya hidup masyarakat jawa yaitu, kebersamaan, spiritualisme, dan kemanusiaan. Masyarakat Jawa sangat ingin lestari dengan lingkungan /alam, mereka tidak mau ada ketidak seimbangan. Oleh karena itu mereka mempertentangkan keributan dengan pihak lain. Mereka lebih suka dengan keharmonisan, makanya ada istlah bener "Bener ora pener" artinya benar belum tentu bijaksana. Makanya mau masyarakat jawa itu bener atau salah dia akan mengalah jika ada yang lebih "ngotot".
Dari representasi masyarakat di atas, begitu juga ajaran kejawen tingkatan spiritualisme tertingginya kasunyatan. Kejawen ramah terhadap beragam Agama karena ia lentur dan sifatnya seperti air, tidak menentang, dan bisa beradaptasi sesuai kondisi. Begitu terlihat pada zaman Hindu-Buddha kerajaan, Kejawen juga menerima karena kesamaan darma, bahkan lebih damai daripada di tempat asalnya untuk Hindu-Buddha. Begitu juga Islam yg bs beradaptasi dengan syukuran, tumpeng, kesenian wayang. Para Wali juga masuk dan diterima oleh masyarakat jawa, apalagi dengan tidak adanya sistem kasta.
So, kejawen itu ide (semacam filsafat tapi bukan) kehidupan orang jawa yang disarikan dari berbagai nilai yang diyakini tepat pada roda zaman, sehingga bisa diamalkan di kehidupan sehari-hari, yang berfokus pada spiritualisme. Dia juga bukan filsafat macam barat, karena ajarannya itu via oral, ada yang ditulis dan tidak. Ya begitulah kira2, meski buku ini lebih lengkap tapi saya cuman paham sampe situnya aja. Terimakasih.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Kata-kaa kejawen, terkadang mengajakku kembali membayangkan asap dupa, semerbak kemenya dan kembang tujuhh rupa di hadapan seorang dukun. Bayanganku, sampai saat ini, ternyata menyudutkan makna "kejawen" itu sendiri. Aku telah mempreteli kejawen sebatas artifisial yang sebenarnya jauh darinya. Dan, aku kira, kejawen tak hanya dipreteli oleh aku saja, tetapi media massa, film-film horor, dukun-dukun yang dengan bangga memakai pakaian jawa pun turut sumbangsih mengamputusinya. Tak ayal, jika kejawen selalu dikaitkan dengan dunia "makhluk halus", hanya berisi jin, setan, demit, dhayang dan lain sebagainya. Sehingga beramai-ramai agama "meninju"nya dengan kata-kata "syirik". Lantas, apa sejatinya dunia kejawen itu sendiri? buku ini menjawabnya: dia adalah laku, bukan artifisial jawa. Kejawen adalah endapan bahkan proses "hening cipta" yang tak kunjung selesai. Kejawen adalah harmonisasi antara berbagai ragam kebudayaan, ajaran kepercayaan, agama yang ada di tanah Jawa. Kejawen adalah pengambilan intisari ajaran yang "becik" bukan sekedar "benar" demi memperoleh ketenangan batin, keselarasan hidup. Sehingga bisa mencapai tataran hidup yang "memayu hayuning bawono".
Memberikan saya pengetahuan dan filosofi jawa yang telah lama hilang dari pergaulan hidup saya sehari-hari, di buku ini dijelaskan isi dan makna ajaran ajaran jawa yang membuat saya sadar betapa tingginya ajaran jawa dan menurut saya karena ajaran jawa dipengaruhi ajaran hindu, budha, dan agama abrahamic, agama dan ajaran jawa lebih memiliki keunggulan dan memiliki nilai budi pekerti yang lebih baik dan sesuai dengan masyarakat indonesia karena mampu menyerap intisari dan kebijaksanaan dari berbagai sumber ajaran agama lainnya dan menerapkannya dalam kehidupan sosial masyarakat jawa.