Cinta pertama tidak pernah mati. Mungkin itulah kalimat yang cocok untuk melukiskan keadaan Mel saat ini. Meskipun telah ada seorang pria dengan predikat nyaris sempurna di sisinya, jauh di dalam hatinya nama Elang tetap terukir.
Setelah bertahun-tahun hidup selibat, Elang tidak berharap lagi untuk bisa menemukan sebentuk cinta. Dia bahkan sudah berhenti mencarinya! Elang sadar sepenuhnya bahwa hidup yang dia jalani sekarang bukanlah jenis hidup yang bisa melibatkan cinta.
Ketika takdir mempertemukan mereka, mampukah Mel dan Elang mengumpulkan kembali serpihan-serpihan hati yang dulu pernah mereka patahkan? Ataukah mereka harus menyerah saat nyawa menjadi taruhan masa depan mereka?
Aku tau terlalu kejam untuk bilang membaca buku ini melelahkan dan membosankan. Tapi... itu yg aku rasain. Setelah hlm 250an, aku bacanya udah loncat-loncat hlm tuh saaaking bosannya. Narasi dan dialognya kaku. Bukan krn penggunaan bahasa baku ya, tapi emang kaku aja gitu. Nggak luwes. Itu yg bikin aku capek bacanya.
Mel ini pinter, dia tahu banyak hal krn banyak membaca. Tetapi cara penulis menyampaikan ituloh, serasa Mel ini suok puinter. Terus yg paling bikin lelah adalah "POV hantu". Maigaatt kenapa itu kudu muncul? aku rasanya sampe pengen celingak celinguk "ha? ini siapa yg ngomong??" Rasanya menganggu bangettt, kayak tepian koreng yang gatal tapi nggak bisa digaruk. Oh satu lagi, ngerasa nggak sih kalo interaksi Mel dan Ryan, abangnyaa itu bocah banget? Jahil memang. Tapi jahilnya bocah ih. Aku kayak nonton bocah smp berantem sm abangnya. Bukan cewek umur 27 th.
Yang bikin aku ngerasa lumayan, interaksi Mel dan Elang. Meski nggak kerasa chemistry sama sekali. Yaa lumayan ngehiburlah. Dan aku ngerasa leegaa banget pas sampe di hlm terakhir. Tapi ini semua sesuai selera yaa, meski ratingnya di GR nggak terlalu menggembirakan, mana tau ada yg sukaaa banget dg Mel dan Elang. Sukses terus buat mbak Rini. 😊😙
"Dunia memiliki dua sisi berbeda. Jika salah satu sisinya malam, maka sisi lainnya adalah siang. Memang berbeda, tapi bukan terpisah, kedua sisi tersebut memang saling melengkapi."
Novel ini sebenarnya menarik tentang cinta yang tak pernah mati dan tak pernah dilupakan. Tapi karena terlalu banyaknya informasi yang dipaparkan, aku menjadi tidak begitu menikmati kisah ini.
Ini tentang kisah Mel-Elang, sepasang kekasih yang begitu saling mencintai. Namun, karena satu dan lain hal mereka terpaksa berpisah. Perpisahan ini menimbulkan rasa sakit dan patah hati yang mendalam di hati Mel. Walau tahun berganti dan telah ada sosok Aji dalam kehidupannya, sosok Elang tidak pernah pergi dan selalu punya tempat khusus dihati Mel.
Hingga suatu hari, Mel melihat suatu kejadian yang membuatnya terjebak dan menjadi buronan orang-orang jahat. Yang Mel tidak menyangka, sosok yang menyelamatkannya itu sosok yang begitu tak ingin diingatnya tetapi juga sangat dirindukannya, Elang.
Mel pun dibawa ke rumah Elang dan menjadi tawanannya. Tapi Mel dibiarkan untuk hidup bebas tapi dibawah pengawasan Elang. Dari sanalah, Mel akhirnya tahu tentang kehidupan Elang yang sesungguhnya, yang membuat mereka harus berpisah. Pekerjaan Elang yang begitu berbahaya untuk nyawanya dan orang-orang terdekatnya.
Mel pun menjadi dilema dengan perasaannya terhadap Elang, apalagi Mel masih terikat hubungan dengan Aji. Hingga hari itu, Mel malah diculik oleh musuh Elang dan menempatkannya dalam situasi antara hidup atau mati.
Bagaimana akhir kisah Mel dan Elang?
Novel ini menarik, tapi sampai akhir cerita ada sesuatu yang membuatku tidak terlalu bisa menikmatinya. Penulis seakan-akan ingin banyak memberikan info tentang pekerjaan Mel sebagai peneliti dan pengetahuannya yang luas.
Oke, baru pertama kali baca karya nya mbak Rini ini. Dan yaa not bad lah ya walau memang agak tidak terlalu memuaskan. Ceritanya agak kriminal2 gitu sih, tapi tetep ada romance nya.
Mel dan Elang adalah sepasang kekasih saat mereka masih duduk di bangku warung bakso Pak Jono, oke sorry maksud gue bangku SMA. Lalu tanpa alasan yang jelas Elang pergi ninggalin Mel. Hingga akhirnya mereka lulus SMA dan setelah bertahun2 lamanya mereka dipertemukan lagi di suatu keadaan yang bisa dibilang gk mengenakan.
Waktu itu Mel nyaksiin kekerasan di suatu tempat, sang pelaku ingin menangkap Mel, dan dia diselametin sama si Elang ini. Ternyata Mel dibawa ke rumahnya Elang yang dijaga sama pria2 berbadan gede bersenjata. Siapa Elang yang sebenernya? Ternyata Elang ini adalah kurir barang2 terlarang gitu, kya ganja dan narkoba2 gitulah. Iya kali yaa? Dan banyak musuhnya si Elang ini, makanya rumahnya dijagain sama buto ijo gitu, maksudnya sama body guard ._.
Yauda intinya ada musuhnya si Elang ini yang mau bunuh dia, dan lewat si Mel ini. Mel diculik sama dia, karena musuhnya tau Elang cinta sama Mel. Sudahlah intinya begitu, untuk lebih jelasnya baca sendiri. Ini dikarenakan gue sendiri juga agak bingung sama jalan ceritanya haha..
Banyak juga sih kejadian2 yang bikin kening gue berkerut karena bingung. Memang otak gue yang gk nyampe kali ya baca2 kya ginian? Tapi memang jujur aja gue gk menikmati baca ini. 3 bintang aja ya ^^
Well, sebenarnya udah agak-agak nggak berekspektasi macam-macam ketika lihat rating buku ini nggak begitu bagus dari orang-orang. Cuma kayaknya kali ini aku punya pendapat yang agak berbeda.
Tegang, ini adalah kesan utama yang aku dapat sepanjang membaca ceritanya. Bahasanya lugas dan sederhana, ada beberapa yang puitis --yang mana sebenarnya nggak terlalu berpengaruh dalam jalan cerita, tapi kesan yang itu hilang karena atmosfer yang berhasil penulis bawakan dalam ceritanya.
Memang, aku nggak bisa memungkiri ada beberapa bagian yang menganggu secara pribadi. Misalnya, penyebutan jenis-jenis senjata (I have no idea about it), yang bikin aku mengernyit karena enggak bisa bayangin bentuknya kayak apa, juga beberapa adegan yang terasa kosong. Misalnya darimana Elang punya uang banyak? Itu nggak dijelaskan dan bikin bertanya-tanya.
Tapi aku suka dengan beberapa adegan antara Mel dan Elang dan berhasil bikin aku senyum-senyumn. Aku rasa buku ini nggak seburuk ratingnya, bahkan seandainya bagian-bagian minus tadi diperbaiki, ini mungkin akan menjadi salah satu buku favorit aku ^^
Hmmm... saya g tau, tp ini buku berbahasa baku pertama yg bikin saya ilang minat dan geleng2 kepala. Bahasanya sih baku, tp susunan kata2 dan kalimatnya... g matching sama sekali. Dialog2 di bagian awal mlh, pas si cewek telpon2an nanya jalan ke cowoknya, saya pikir cowoknya itu org Batak. Dia make 'kau', tp kesannya bener2... ng....
Dan buku ini melelahkan plus membosankan. Nggak taulah ya, tp menurut saya, di zaman modern skrg, org2 yg baca novel pasti punya pendidikan yg cukup untuk tahu gmn caranya masang modem n bikin email, ttg BBM, manggis, bla bla bla. Too much information makes this book sucks. Tiap kali si cewek ngobrol ama si cowok, beribu2 informasi keluar dan saya skip semua bagian, jd nyaris aja setengah buku saya lewatin tanpa bnr2 membaca.
G ada yg tersisa stlh saya membaca selain merasa tidak puas.
Saya paham kenapa novel ini bisa sampai mendapatkan rating kurang memuaskan. Karena dengan halaman setebal itu hanya sedikit yang bisa saya ambil, selebihnya bikin bosan. Novel amore, genre romance tapi terlalu banyak membahas tentang hal-hal yg tidak bersinergi sama sekali dengan ceritanya. Too much information, bikin saya capek baca. Berbagi informasi melalui novel memang sah-sah saja tapi sebaiknya penulis cukup bijak untuk menyampaikannya secara tepat agar tidak berakhir melenceng kemana2. Penjelasan tentang senjata api dll yang cukup bikin dahi saya berkerut, saya gak paham soal beginian. Lalu penggambaran tentang suasana perkelahian dan "perang" antara Elang dan Samson yang jujur sulit saya bayangkan.
Bagusnya, ada beberapa moment antara Mel dan Elang yang saya suka, selebihnya saya cuma membaca tanpa benar-benar masuk ke dalam kisahnya.
Biasanya ketika saya selesai membaca buku, ada beberapa buku yang meninggalkan kesan yang mendalam. Sayangnya buku ini tidak termasuk dalam daftar buku itu. Ceritanya sebenarnya lumayan menarik, tapi terlalu panjang dan terlalu banyak informasi. Penulis terkesan ingin sekaligus menambah pengetahuan para pembaca, sehingga terlalu banyak detail ttg hal-hal seperti tanah, manggis, bbm & dsb. Saya merasa spt membaca ensiklopedia dan terpaksa men-skip bagian2 tsb. Buku ini juga terlalu cheesy & lebay apalg di bagian pernyataan cinta dari Mel. Duh, berasa lagi baca buku puisi cinta yang manisnya ga ketulungan.
Mungkin bukunya gak semenarik judulnya dan mungkin bahasanya mungkin terlalu rumit tapi semua tergantung pinter-pinternya yang baca kalau yang baca bisa jadiin buju itu rekaman dalam pikiran akan ada sensasi yg jarang di temukan di buku lain.