Jump to ratings and reviews
Rate this book

Jasmine, Cinta Yang Menyembuhkan Luka

Rate this book
Karya Terbaik Lomba Menulis Novel Inspirasi Indiva

Jasmine, ibarat sekuntum melati yang tercampakkan. Dalam gersangnya kehidupan, keindahan parasnya justru mengundang luka. Dean, The Prince, dedengkot jaringan Cream Crackers, ibarat pangeran misterius dari kegelapan. Menebar petaka, meski begitu, sejatinya masih tersisa sepenggal nurani di dalam jiwanya.

Mereka bertemu, dalam kerasnya gelombang kehidupan. Dalam luka-luka yang perih. Namun, dalam badai yang gencar mendera, cinta telah mendatangi mereka. Cinta yang membebat luka. Cinta yang secara ajaib, justru mengajarkan mereka tentang putihnya nurani dan indahnya cahaya.

ENDORSEMENT

“Kisah yang fantastis, mempercepat laju adrenalin! Diksi cintanya terasa segar, kisah para hacker Dean dan Ioran disajikan penuh petualangan. Tidak akan bosan dan kecewa membacanya.” (Sinta Yudisia, pegiat FLP, Penulis “Rinai “ dan lebih dari 40 buku).

Tidak mudah menggabungkan tema yang cukup rumit dengan romansa. Tetapi Lyta dengan kecermatan dan ketekunannya telah berhasil melewatinya. (Ifa Avianty, Penulis Novel-Novel Romance).

Harga: Rp 42.000

322 pages, Paperback

First published April 1, 2013

4 people are currently reading
58 people want to read

About the author

Riawani Elyta

26 books103 followers
facebook : Riawani Elyta
twitter : @RiawaniElyta
email : riawanielyta@gmail.com


Novel:
1. Tarapuccino (bersama Rika Y. Sari, Penerbit Indiva Media Kreasi 2009)
2. Hati Memilih (Bukune 2011)
3. Izmi & Lila (Divapress 2011)
4. Persona Non Grata (Indiva Media Kreasi 2011)
5. Yang Kedua (Bukune 2012)
6. Ping! (bersama Shabrina WS, Bentang Pustaka 2012)
7. The Coffee Memory (Bentang Pustaka 2013)
8. Jasmine (Indiva Media Kreasi 2013)
9. A Cup of Tarapuccino (bersama Rika Y. Sari, Indiva Media Kreasi 2013)
10. First Time in Beijing (#STPC Bukune 2013)
11. Perjalanan Hati (Rak Buku 2013)
12. A Miracle of Touch (GPU, 2013)
13. Dear Bodyguard (Bentang Pustaka, 2013)
14. Gerbang Trinil (duet bersama Syila Fatar, Moka Media)
15. Rahasia Pelangi (duet bersama Shabrina WS, GagasMedia, 2015)
16. The Secret of Room 403 (Indiva Media Kreasi, 2016)
17. Love Catcher (Gagas Media ; 2017)

Non Fiksi :
1. Kitab Sakti Remadja Oenggoel (bersama Oci YM, Indiva Media Kreasi 2013)
2. Sayap-sayap Sakinah (bersama Afifah Afra, Indiva Media Kreasi, 2014)
3. Sayap-sayap Mawaddah (bersama Afifah Afra, Indiva Media Kreasi, 2015)
4. I Will Survive (bersama Oci YM, Indiva Media Kreasi, 2016)
5. Sayap-sayap Rahmah (bersama Afifah Afra, Indiva Media Kreasi, 2017)

Antologi :
1. LDR Crazylove (Bentang Belia, 2012)
2. My Stupid Love (Indiva Media Kreasi, 2013)
3. Jomblo Prinsip Atau Nasib (Indiva Media Kreasi, 2015)
4. Ramadhan in Love (Indiva Media Kreasi, 2015)
5. Jejak Kaki Misterius (Indiva Media Kreasi, 2016)

Beberapa penghargaan lomba menulis :
1. Pemenang I Resensi Indiva (2008)
2. Pemenang II Sayembara Cerber Femina (2008)
3. Pemenang Harapan Sayembara Cerber Femina (2009)
4. Pemenang Hiburan Feature Ufuk Dalam Majalah Ummi (2009)
5. Pemenang II Lomba Novel Inspiratif Indiva (2010)
6. Pemenang I Lomba Novel Remaja Bentang Belia (2011)
7. Pemenang Berbakat Lomba Novel Amore 2012
8. Pemenang 1 Indiva Reading and Review Challenge (2015)
9. Pemenang Harapan Lomba Menulis Novel Indiva (2015)
10. Pemenang 2 Lomba Resensi Novel "Pulang" (2015)
11. Pemenang 1 Lomba Blog StilettoBook (2016)
12. Pemenang 2 Lomba Resensi Novel "Ayat-ayat Cinta 2" (2016)
13. Pemenang 1 Lomba Resensi Buku "Cerdas Mengelola Keuangan Pribadi" (2016)

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
10 (19%)
4 stars
25 (48%)
3 stars
13 (25%)
2 stars
2 (3%)
1 star
2 (3%)
Displaying 1 - 15 of 15 reviews
Profile Image for Octaviani Nurhasanah.
Author 1 book8 followers
April 28, 2014
Sewaktu paket buku yang salah satu isinya adalah Jasmine ini datang, saya lagi membaca novel tebel yang ditulis sama penulis yang katanya pake nama samaran padahal dia aslinya JK. Rowling. :D Tapi saya bosen bacanya. Panjaaang dan kurang menegangkan. Jadi saya ganti baca buku lain. Awalnya saya sempet galau antara mau baca Jasmine dulu atau A Cup of Tarapuccino. Setelah cap-cip-cup belalang kuncup, Jasmine inilah yang terpilih. :cutesmile:

Ternyataaa ... ngebaca Jasmine ini emang bisa jadi hiburan buat saya. Novel ini bukan novel berat yang mengerutkan kening atau bikin mikir. Walopun tema yang diangkat cukup serius. Tapi karena ada romens yang bercampur dengan isu ODHA, AIDS, human trafficking, dan juga hacking jadinya bisa membuat saya diam membaca. Saya emang kalo mbaca suka geratilan juga sih. Mbaca sambil nge-games (nunggu games loading saya mbaca dulu) atau mbaca sambil masak. Pas saya mbaca novel ini, saya gak nyambi kayak begitu. :D

Apa dulu yang dibahas ya? SOP saya sih biasanya dari sampul ya? Beklah.

Sampulnya Gimana?

Karena saya suka bebungaan dan hal-hal yang feminim, ini agak susah juga. Jadi saya bahas desainnya aja ya. :D

Mulai tahun 2013 kayaknya, saya mulai memperhatikan kalau desain visual, termasuk di dalamnya desain UI (User Interface) gadget dan sampai ke desain cetak, mulai masuk ke bentuk yang sama; flat design. Minimalis dalam penggunaan gambar, simpel, gak rame, dan juga--ini yang penting, warna-warna cute dan aneh mulai dipakai. Less is more. Perhatiin deh sampul beberapa novel yang make warna oren tapi orennya bukan oren yang biasa kita lihat. Atau biru tapi yang gimanaaa ... gitu. Misalnya aja di novelnya Mbak Afifah Afra yang Kesturi dan Kepodang Kuning. Itu flat design. Ada yang bisa bilang itu ijo apaan? :D Paling mudah nyebut hexcode warnanya dibanding ngasih nama karena ijonya emang cute, aneh, gak biasa. Trend flat design ini emang cukup mempengaruhi. Begitulah menurut pengamatan saya.

Jadi, saya bisa bilang kalau desain Jasmine ini memang sesuai dengan karakter dan ceritanya. Tapi secara desain, dia terlalu rame dan agak gak up to date. Terlalu banyak yang dimasukkan ke satu bidang gambar; melati, wajah, Jembatan Barelang dan juga efek tepiannya itu. Warnanya sendiri saya gak masalah karena emang cantik. Tapi ya itu ... seandainya dibuat lebih simpel mungkin akan lebih mudah menarik perhatian. Tapi ini ngomongin selera dan trend sih ya. Jadi susah juga ngasih penilaian. Heheheee ... gitu aja.

Ada yang Menarik dari Ceritanya?

Ada!

Isu yang diambil dan gimana isu itu mempengaruhi karakternya. Tokoh utama di novel ini, Jasmine, adalah perempuan yang jadi korban trafficking. Itu bukan isu yang mudah karena kita akan bicara tentang psikologis karakter yang mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya. Menurut saya, Jasmine ini digambarkan dengan baik. Bagaimana dia berinteraksi dengan orang lain karena masa lalunya itu, bagaimana dia melindungi dirinya sendiri dengan jadi orang yang seolah selalu menarik diri. Gak keliatan ramah juga. Buat saya, terasanya dia selalu aja curiga. Selalu aja kuatir.

Banyak tokoh yang muncul di novel ini dan membawa ceritanya sendiri. Misalnya aja Dean dan Ioran. Lalu karakter yang cukup dapat porsi besar setelah Jasmine; Malika dan Rowena. Mereka membuat silang-sengkarut cerita hidup Jasmine.

Ada Masalah dengan Karakter yang Banyak?

Ada!

Karakter yang banyak membuat penulis harus menyisihkan lebih banyak halaman untuk menjelaskan siapa mereka. Dan itulah yang dilakukan penulis novel ini. Dia menceritakan latar belakang Dean, Ioran, Rowena, dan Malika. Mereka semua mempunyai kontribusi memajukan cerita. Ikut andil mendorong ending. Masalahnya ... mereka terlalu banyak dan dengan porsi sebesar itu, saya merasa novel ini--walopun udah cukup tebal--belum memberikan ruang yang cukup untuk menjelaskan siapa mereka. Soalnya saya merasa subplot yang ada bukan hanya menjelaskan cerita tapi juga membuat cerita baru. Jadi bukan hanya hidupnya Jasmine yang diceritakan, tapi juga hidup karakter-karakter yang lain. Dan itu kalo gak dilakukan dengan baik, bisa bikin ceritanya jadi mumet. Itulah yang saya rasakan. Saya juga gak tau kemumetan ini entah dari mana datangnya. Apakah dari kurangnya penjelasan tentang mereka ataukah dari jumlahnya.

Memang sulit untuk membuang karakter untuk memadatkan cerita sehingga mainplot-nya bisa tereksekusi dengan baik. Nah, setelah selesai membaca, ini juga yang saya tanyakan: mainplot-nya hampir sama besar tebel dengan subplot-nya. Itu mungkin yang membuat ceritanya terasa agak mumet. Ketika cerita tentang Jasmine sudah rumit, ada lagi cerita tentang Ioran. Memang Ioran ini dibutuhkan untuk tujuan di akhir novel yang penting. Tapi informasi kehidupannya yang disampaikan dengan "tell" dan berdesakan dengan informasi lainnya membuat saya merasa terlalu banyak yang harus saya ingat. Sementara di akhir, kisah hidup Jasmine ini diceritakan seperti biografi singkat yang membuat saya berpikir: kenapa gak ini aja yang jadi fokus. Ini dan Dean. Udah. Karena ini lebih dramatis dibanding Ioran, Rowena, atau Malika.

Mau Ngomongin Deskripsi?

Iya. Mau. :D

Setting novel ini cukup banyak dan saya merasa semua terjelaskan dengan baik. Dari Batam, ruli (rumah liar), Yayasan Pelita, hotel di sekitaran Kota Batam, sampai ke rumah Dean, Jembatan Barelang, Roxy, Mall Ambassador, dan beberapa tempat lain. Tempat yang bervariasi ini membuat jalan ceritanya terasa mengalir. Tokohnya bergerak dan pembaca mengikuti geraknya ke mana mereka pergi. Khusus untuk Batam, saya rasa ini adalah pemilihan setting yang menarik banget karena belum banyak yang mengangkat tentang lokasi ini. Walaupun terkenal sebagai tempat yang banyak pabriknya, indah pemandangannya, dan juga saya sering mendengar cerita tentang bagaimana dekatnya dia dengan Singapura, tapi Batam yang lain, saya gak banyak tahu. Dan cerita tentang Batam yang lain itulah yang menambah nilai plus novel ini.

Sayangnya, walaupun saya beberapa kali membaca tentang trafficking di Batam dan isu tentang PSK, tapi saya sama sekali belum pernah membaca novel yang mengangkat masalah itu sebelumnya. Baru novel ini. Apa karena Batam masih terdengar kurang seksi ya? Gak kayak Jakarta atau tempat di luar negeri?

Deskripsi beberapa tempat dijelaskan dengan baik. Misalnya ini:

Tak banyak perabotan mengisi ruangan itu meski kapasitanya cukup untuk menjejalkan tiga kamar kost seukuran kost-kostan Ioran. hanta ada sebuah menja pendek berangka kayus erupa kotatsu yang diletakkan di sudut ruangan, sofa berbahan leather dilengkap dengan cushion dalam jumlah banyak yang berukuran besar, juga seperangkat televisi dan DVD player. Selebihnya, hanya foto-foto keluarga yang menghiasi salah satu sisi dinding dan sepasang guci antik bergambar bunga lotus terletak di belakang sofa.


Deksripsi yang cukup detail dan bisa membawa pembaca dengan cepat membayangkan ruangan yang dimaksud itu gimana bentuk dan rupanya.

Di depan, ada deskripsi tentang jembatan Barelang yang rasanya masih kaku. Saya sempet membandingkan deskripsi di novel ini dengan di A Miracle of Touch (AMOT) dan saya merasa di AMOT jauh lebih rapi dan baik. Penulis mengalami banyak kemajuan dan perkembangan dalam hal teknik penulisan sepertinya. Tapi cerita di novel ini memang jauh lebih menarik, berisi, dan juga menegangkan. Yah, jadi agak susah juga mau dibandingkan. Lain-lain rasanya. :D

Ada yang Mengganjal?

Ada. Tentang cracking dan "hamster".

Dean dan Ioran digambarkan sebagai crackers yang tergabung dalam grup Cream Crackers. So hi-tech. Masalahnya, saya gak menemukan penjelasan to the point tentang apa yang sebenarnya mereka lakukan. Saya menangkap kalau mereka melakukan pembobolan data nasabah bank dan melakukan perusakan di database kartu kredit bank dan itu membuat mereka bisa menarik dana nasabah yang datanya mereka rusak. Pertanyaannya; bagaimana caranya? Karena rasanya mengambang sekali. Menurut info yang saya dapet dari Tuan Sinung, katanya sih emang cracker Indonesia itu masih begitu cara kerjanya; masih beli-beli software untuk nge-crack dan gak nge-code sendiri karena belum mampu. Makanya mereka juga jadinya gampang ketahuan. :D

Gilfoyle di Silicon Valley menjelaskan dengan gamblang apa yang dia lakukan sebagai programmer dan hacker ke orang awam dengan cara kayak gini:

What do I do? System architecture. Networking and security.... While you were busy minoring in gender studies and singing a capella at Sarah Lawrence, I was gaining root access to NSA servers. I was one click away from starting a second Iranian revolution. I actually went to Vassar. I prevent cross-site scripting, I monitor for DDoS attacks, emergency database rollbacks, and faulty transaction handlings. The Internet... heard of it? Transfers half a petabyte of data every minute. Do you have any idea how that happens? ... I make sure that one bad config on one key component doesn't bankrupt the entire f*cking company. That's what the f*ck I do.


To the point.

Dean dan Ioran gak pernah secara jelas mengatakan apa dan bagaimana mereka melakukan sesuatu yang berhubungan dengan cracking itu. Hampir keseluruhan dialog hanya obrolan mengambang. Dan di halaman 110 Ioran bertanya pada Dean:

The biggest 'hamster'? Apa sesungguhnya benda itu, De?


Saya pun bertanya hal yang sama. Itu apa? Programkah? Mereka beli? Kalau bentuknya software, kenapa disimpan di flashdisk? Karena itu sangat beresiko. Kan ada cloud storage yang lebih aman--walaupun bakalan masih bisa diakses sama NSA sih. Soalnya jadi berkurang kerennya mereka. :D Masak mau nge-crack tapi software cracking dibawa pake flashdisk?

Tapi bisa aja sih cara kerjanya begitu. Software itu dibawa pake perantaraan flashdisk kayak yang di House of Card season 2, tapi itu software emang gak bisa dimasukin lewat internet atau jaringan lain. Harus langsung dicolok ke server yang mau di-hack karena pengamanan jaringannya itu server luar biasa ketat. Jadi harus ada orang yang menyusup ke tempat di mana server itu ada. Tapi abis itu, itu software bisa menghilangkan dirinya sendiri jadi gak bisa terdeteksi. Dari namanya yang "hamster" itu, saya sempat berasumsi kalau ini adalah semacam software yang bakalan membuat lubang di sistem keamanan. Tapi setelah disebut berulang kali, "hamster" ini akhirnya pun gak melakukan apa-apa. :mewek:

Trus juga ada koreksi di halaman 55:

Tangannya membuka kotak berisi CD-RW, lalu memasukkan kepingan tipis itu ke driver.


Penggunaan kata "driver" ini kurang tepat karena driver itu software yang menjembatani antara hardware dengan OS (Operating System). Kalau gak ada driver, software yang mau kita pake, gak akan bisa jalan karena hadrware-nya gak ngerti mesti ngapain sama itu software. Kata yang benar itu; CD-ROM drive atau DVD drive.

Kata Bertanda Kutip

Berhubung kita udah ngomongin "driver", saya juga mengamati banyaknya kata bertanda kutip yang dipakai di novel ini. Satu-dua, mungkin masih gak apa-apa ya. Soalnya itu juga menegaskan kalimat karena kata yang bertanda kutip itu memberikan petunjuk kalau kata itu seharusnya diartikan dengan makna lain. Tapi, dari halaman 9 sampai 13, saya menemukan 6 kata bertanda kutip; 'menyerbu', 'ular', 'ekor', 'menantang', 'pemandangan', dan 'padat'. Itu cukup banyak....

Meski 'pemandangan' yang dihadirkannya cukup 'menantang', dengan celana jeans yang hanya menutupi sejengkal bagian kaki, begitupun kaos putih yang ketat mengikuti lekuk tubuh.


Kayaknya kata 'menatang' itu gak perlu pake tanda kutip karena emang udah konotatif kalau dilihat dari pemakaiannya dalam kalimat.

Sedikit tentang Plot

Nah, ini bagian yang paling menarik dari novel ini; plotting adegan. :D

Saya baru paham kenapa endorse di bagian belakang novel mengataan bahwa novel ini memacu adrenalin ... karena plotting-nya emang apik. Diselang-seling antara tokoh dan makin lama dibuat makin cepat. Gaka da adegan haha-hihi yang bikin ceritanya melambat. Apalagi di bagian tengah sampai akhir. Pas di ending, emang adegannya melambat. Tapi itu karena memang ceritanya sudah sampai pada klimaks dan tinggal menjelaskan beberapa hal yang masih tertinggal untuk dijelaskan. Misalnya tentang masa lalu Jasmine.

Ini yang membuat novel ini menarik selain cerita dan temanya. Itu juga yang membuat saya sukaaa....

Tentang Gaya Bahasa

Saya ngerasa ada perubahan gaya bahasa penulisnya dari novel ini ke novel AMOT. Di AMOT terasa lebih lembut, mungkin karena romens kali ya. Di sini, terasa lebih berapi-api di beberapa bagian. Lebih bold. Saya juga merasa sepertinya penulis udah lebih bisa menahan diri untuk menggunakan kata-kata yang terlalu berlebihan di AMOT. Misalnya di novel ini, saya menemukan kalimat ini:

Panas terasa mengekspansi setiap ruangan dan dimensi yang terbuka.


Pemilihan katanya seolah gak bisa dibendung.

Penggunaan kata "visual" dan "instink" juga menjadi catatan. Tapi karena saya udah pernah membahasnya di review AMOT, jadinya saya gak bahas lagi ya. :D

Hal Kecil Lain yang Saya Suka

Sebenernya ini hal remeh-temeh sih, tapi boleh lah yaaa.... Hahahaaaa.

Saya suka bagaimana karakter Jasmine ini dibentuk dan berkembang. Memang dia bukan satu-satunya karakter yang mengalami perkembangan menarik. Ioran dan Dean juga. Tapi, dia yang paling terasa perkembangannya dan juga paling dramatis. Bagaimana dia digambarkan setelah berulang kali mengalami hal yang gak menyenangkan juga membuat saya bersimpati dengan cara yang gak biasa. Selain membuat perih, cara Jasmine ini diceritakan juga membuat saya sedih, tapi gak membuat saya kasian sama dia karena dia digambarkan dengan baik sebagai perempuan kuat.

Trus bagian crackers itu juga patut diapresiasi walaupun sepertinya risetnya kurang dalam karena emang jarang juga yang nulis tentang ini. Dicampur dengan kehidupan Jasmine, seolah membuat persimpangan di dua hal yang kayaknya kok agak sulit ya mau dieksekusi--menurut saya. :D Tapi novel ini melakukannya dengan baik.

Yang terakhir ... bolehlah ya fangirling. Hahahahaaa. :D

Saya suka cowok pendiem, dingin, dan yang bisa coding (tapi jadi hacker aja, jangan cracker). Yang kalo buka program aja dari terminal gitu, bukan pake shortcut. Karena itulah makanya saya mau nikah ama si Tuan Sinung.*ngelirik si Tuan di sebelah* :D Itu juga yang bikin saya suka sama yang geeky, nerdy, something genius.... Saya suka hal-hal yang high techy-techy walaupun gak terlalu ngerti--walaupun kalau diajak ngomong banyakan gak nyambungnya dibanding nyambungnya.Dan itu juga yang ngebikin saya suka sama karakter Dean dan Ioran. Lebih ke Dean sih, soalnya si Ioran keliatannya gak sedingin Dean. :D
Saya sekarang punya penilaian baru: post-it point namanya. Hahahaaa.... Semakin saya tertarik pada sebuah bacaan, semakin saya menulis banyak catatan selagi membacanya. Kadang isinya quote, kadang memang catatan untuk review. Dan semakin saya suka sama sebuah novel, bakalan semakin panjang review yang saya tulis. Dan Jasmine ini masuk ke review yang cukup panjang dengan post-it point lumayan tinggi; 15.

Rekomendasi Saya

Saya merekomendasikan novel ini karena temanya yang gak biasa dan cara penceritaannya yang apik. Gak bisa dibilang novel cinta sih, tapi ada cerita cintanya ... sedikit. Jadi, kalau kamu pengen nyoba baca novel dengan tema lain selain cinta dan pengennya yang hi-tech, bisa dicoba baca novel ini. Begitu juga kalau kamu pengen baca cerita dengan setting Batam yang menarik. Memang gak semua kejadian di novel ini terjadi di Batam, tapi Batamnya sendiri punya andil yang cukup besar dan membuat novel ini punya nilai lebih. Satu lagi. Walaupun temanya tentang pelacuran, tapi gak ada adegan yang menjurus. Semua sopan dan karena itu pula, saya rasa novel ini bisa dibaca oleh remaja.

Yah, gimana ya. Walaupun penulis punya kebebasan menuliskan apapun di ceritanya, tapi sebagai penulis yang merasa bertanggung-jawab pada karya-karyanya yang akan dibaca oleh orang lain, saya rasa memang perlu ada sensor untuk adegan kekerasan dan seks. Kalau kita menyalahkan film porno atau situs porno untuk banyaknya kejadian perkosaan dan pelecehan, kenapa kita gak menyalahkan novel? Gak semua yang baca novel itu bisa memilih mana yang bener mana yang gak, tapi setiap penulis punya pilihan untuk menuliskan kebaikan atau keburukan. Dan saya merasa bahwa Riawani Elyta bukan penulis yang menulis tanpa tanggung-jawab dan pertimbangan moral.

(Saya ngomong kayak gini bukan karena saya kenal orangnya loh, ya. Heheheee....) :D

Jadi kesimpulannya: bagian yang paling kuat dari novel ini adalah plot dan storytelling. Kalau kamu mau belajar dua hal itu, bisa dari novel ini.
Profile Image for Nay.
Author 4 books86 followers
December 29, 2013
Judul Buku : Jasmine, Cinta Yang Menyembuhkan Luka
Penulis : Riawani Elyta
ISBN : 978-602-8277-91-4
Penerbit : INDIVA Media Kreasi
Tebal Buku : 320 halaman
Ukuran : 13 x 19 cm
Harga Buku : Rp42.000,-


Jasmine dan Dean adalah dua orang yang saling mencintai di balik segala konflik dan masalah yang melingkupi mereka. Rasa kesepian membuat mereka saling memiliki. Namun semua itu tidak dapat berjalan seindah rencana mereka. Dean masih berkubang dalam lingkaran kejahatan yang dibuatnya sendiri dan harus mempertanggung jawabkan perbuatannya itu. Sementara Jasmine juga tak bisa lepas dari bayangan masa lalu yang menghantuinya.

Dean adalah seorang cracker handal yang telah membentuk sebuah jaringan yang beroperasi di bawah perintahnya. Mereka menjulukinya The Prince, otak dari jaringan tersebut sekaligus orang yang paling mereka andalkan. Mereka melakukan pembobolan kartu kredit, pemalsuan identitas dan banyak hal lain yang dapat dikategorikan sebagai tindakan kriminal.

Jasmine sendiri harus mendapati dirinya terdampar pada sebuah yayasan sosial, namun pada akhirnya menemukan secercah cahaya di sana. Ia belajar banyak dari wanita bernama Malika. Meskipun akhirnya ia kabur dari tempat itu karena nalurinya yang senantiasa waspada memberi peringatan kalau dirinya sedang berada dalam zona tak aman. Di sisi lain, seorang wanita bernama Rowena sedang mencari putrinya yang menghilang secara tiba-tiba. Gadis bernama Raisa yang ternyata memiliki banyak kemiripan dengan Jasmine.

Dean dan Jasmine bertemu dalam keadaan yang tak memungkinkan mereka untuk bersama. Mereka akhirnya terpisah untuk sementara dan hidup dengan cara mereka masing-masing sebelum sebuah takdir kembali mempertemukan mereka. Tapi pertemuan tersebut ternyata tak bermakna kebersamaan, melainkan sebuah jalan yang telah diatur untuk mengakhiri konflik berkepanjangan yang mengungkung hidup mereka selama ini. Jasmine harus kembali berurusan dengan orang-orang yang tak tak menghendaki keberadaannya dan membuatnya dilema antara ingin membantu Dean atau menuruti kata hatinya untuk mengungkap kebenaran yang dapat mengakibatkan pria itu mendekam lama di sel tahanan.


Apakah akhirnya mereka dapat memiliki waktu bersama lebih lama saat Jasmine akhirnya kembali menyadari bahwa perbedaan di antara mereka terlalu jauh terbentang?
***
Novel ini merupakan novel kedua dari penulis yang saya baca. Mbak Riawani Elyta merupakan salah satu penulis yang cukup produktif menghasilkan berbagai novel. Tulisan-tulisan penulis, menurut kaca mata saya sebagai pembaca, sarat dengan idealisme yang sebetulnya mencerminkan kepribadian dan prinsip besar yang dipegang teguh di setiap tulisannya. Idealis dan tetap produktif menghasilkan karya merupakan dua hal yang tak mudah namun justru akan menunjang umur panjang seorang penulis dan tentunya mendatangkan kepuasan batin bagi penulis itu sendiri.

Seperti biasa, penulis mengangkat tema-tema yang jarang diangkat penulis lain dalam sebuah novel roman. Tema segar yang memuat isu tentang Cybercrime, Human Trafficking serta HIV/AIDS. Tema yang lumayan rumit namun berhasil dirangkai penulis menjadi sebuah cerita inspiratif yang mungkin dapat mengasah kepekaan serta mengubah sedikit paradigma kita dalam memandang masalah-masalah di atas.

Karya ini, lagi-lagi menghadirkan sebuah setting kuat yang dibangun penulis dari sebuah kota yang saat ini sedang berkembang pesat di Kepulauan Riau sana. Latar belakang penulis yang memang berpotensi menguasai latar tempat dalam cerita (Kota Batam) merupakan salah satu unsur penting yang membuat setting tempatnya terasa lebih nyata. Hal ini berhasil dieksplor penulis dan dimasukkannya dengan sangat rapi ke dalam elemen-elemen cerita, bergumul dengan konflik serta karakter tokoh dan akhirnya menciptakan suatu paduan yang utuh.

Label “Pemenang Lomba Menulis Novel Inspiratif Indiva” merupakan salah satu daya tarik yang membuat saya akhirnya memilih memasukkan novel ini dalam daftar bahan bacaan penutup tahun 2013. Berharap di dalamnya akan ada kisah yang membuat saya terkesan dan membuatnya layak menjadi kisah penutup berbagai rangkaian cerita yang saya baca di sepanjang tahun ini. Dan harus saya akui, pilihan ini ternyata sama sekali tidak salah. Novel ini, dengan segala keunikannya berhasil membawa saya berpetualang menjelajahi ruang-ruang cerita yang tidak mainstream dan tentu membekaskan banyak hal dalam benak setiap pembacanya. Saya akhirnya paham alasan mengapa novel ini terpilih menjadi salah satu pemenang lomba Indiva.

Tokoh sentral dalam novel ini ada dua, yaitu Dean Pramudya dan Jasmine. Mereka memiliki karakter yang kuat dan dapat menarik simpati pembaca untuk terus menyelami watak keduanya. Keduanya sama-sama introvert dan sulit meleburkan diri dalam interaksi sosial dalam bentuk apapun. Dean memiliki konflik dengan keluarga dan jati dirinya, Jasmine memiliki konflik dengan masa lalu yang ingin ditenggelamkannya dalam-dalam hingga tak lagi terjangkau oleh memorinya. Bedanya, kalau Jasmine terjebak dalam masalah yang rumit karena keadaan ekonomi yang tidak mendukung, Dean malah memilih melepaskan diri dari lingkaran kekayaan ayahnya yang membuatnya terbelenggu dan kesepian. Hubungan keduanya terkesan misterius sebab penulis memang sejak awal tidak secara gamblang menjelaskan bentuk hubungan mereka, namun terlebih dahulu memperkenalkan kita dengan masalah-masalah pelik yang dihadapi Dean dan Jasmine.

Karakter Jasmine yang keras dan tertutup memiliki latar belakang dan alasan yang cukup kuat yang pada akhirnya akan diungkapkan penulis di akhir cerita. Dean yang berkarakter dingin, ambisius dan cerdas juga memiliki alasan mengapa ia akhirnya terjebak dengan pilihannya yang sering kali bertentangan dengan keinginan orang banyak. Tokoh pendukung lain seperti Rowena, Ioran, Luthfi dan Malika juga memegang peranan penting dalam perkembangan cerita. Tokoh Malika yang muncul cukup singkat bahkan membuat suatu perubahan berarti dalam karakter Jasmine. Ioran yang menjadi salah satu juru kunci perkembangan konflik yang dialami Dean, Luthfi dan Rowena sebagai tokoh yang mengawal perkembangan karakter hingga akhir. Masing-masing tokoh memiliki porsi yang pas dalam penceritaannya sehingga tak ada tokoh yang muncul sia-sia dan hanya memperpanjang cerita.

Alurnya cepat, padat dan teratur, ada sedikit flashback yang memungkinkan pembaca mengerti isi kepala para tokoh. Plot cerita disusun sedemikian rupa hingga menghasilkan cerita yang runut dan logis. Semua benang kusut yang membentang sepanjang cerita akhirnya menemukan penyelesaian di akhir dan hal itu membuat pembaca dapat menutup novel dengan rasa puas.

Novel ini juga memunculkan berbagai tanda tanya di benak pembaca dan membuat kami tak ingin berhenti hingga misteri itu terkuak sepenuhnya. Dan akhirnya, harus saya akui bahwa twist yang dimunculkan penulis lumayan membuat saya terkecoh. Satu twist kecil dan dan twist besar yang keduanya terkait Bu Rowena membuat saya merasa tertipu dan mengecek kembali halaman-halaman sebelumnya. Akhirnya saya menyerah bahwa kejutan yang dibuat penulis memang logis dan tidak bertentangan dengan logika yang dipaparkan sebelumnya.

Di balik kelebihan tersebut, sebuah karya fiksi tentu memiliki keterbatasan dan juga mengandung beberapa kekurangan, termasuk novel ini. Salah satu kekurangan dari novel ini, yaitu adanya penggambaran fisik Dean yang berulang kali disebutkan penulis sebagai pria yang tampan. Sebaiknya penggambaran ini bisa diganti dengan deskripsi lain yang memiliki arti yang sama atau mungkin bentuk penggambaran yang memungkinkan pembaca membayangkan tampilan fisik tokoh tanpa perlu menyebutkan kata ‘tampan’ berulang kali.

Sinopsis novel menyebutkan bahwa tokoh Dean adalah tokoh yang menebar petaka namun masih tersisa sepenggal nurani dalam jiwanya. Namun sangat di sayangkan, dalam novel ini, baru pada halaman 240 terdapat gambaran bahwa Dean memiliki sisi lain yang sebetulnya rapuh. Pada halaman tersebut Dean tiba-tiba saja merindukan Dzat penciptanya tanpa adanya pergolakan batin yang diceritakan sebelum-sebelumnya. Penulis fokus pada pergolakan batin Jasmine dan mungkin mengabaikan gambaran tentang Dean yang seharusnya masih memiliki nurani dalam jiwanya seperti yang disebutkan dalam sinopsis.

Masalah keluarga yang seharusnya selesai pada halaman terakhir juga masih menyisakan tanda tanya dalam benak pembaca. Apakah akhirnya Dean dapat berdamai dengan keluarganya atau tetap seperti dulu. Hidayah yang diperoleh Dean saat dalam penjara pun tidak dijelaskan lebih lanjut. Mungkin ini berkaitan dengan Open ending yang dipilih penulis untuk mengakhir cerita. Sehingga pembaca diberi ruang untuk menjabarkan sendiri akhir dari cerita tersebut.

Sebagai seorang pembaca, saya benar-benar terhibur dengan novel ini. Tidak hanya terhibur, tapi juga salut dengan konsistensi penulis dalam membangun cerita sekaligus memasukkan idealisme di dalamnya. Ide-ide yang tak biasa dan juga penuturan cerita yang indah khas Riawani Elyta membuat kalian layak membaca dan memiliki novel ini.

4,5 from 5 stars.
Profile Image for Eyiazzahra Fathurahman.
26 reviews4 followers
October 25, 2013
Judul Buku : Jasmine, Cinta Yang Menyembuhkan Luka
Penulis : Riawani Elyta
ISBN : 978-602-8277-91-4
Penerbit : INDIVA Media Kreasi
Tebal Buku : 320 halaman
Ukuran : 19 cm
Harga Buku : Rp42.000,-

Cinta yang Menyembuhkan Luka
“Mmm ... Bagaimana kalau ... Jasmine? Sepertinya nama itu cocok untukmu.”
“Karena Jasmine, berarti melati. Kau punya wajah yang cantik. Jadi, kupikir, kau cocok dengan nama itu. Tapi .... “
Jasmine, gadis cantik bermata almond, bak kuntum melati yang tak mampu menutupi harumnya di antara rerimbunan semak perdu yang mengelilinginya. Harum yang justru membawanya pada kepahitan. Terdampar pada belitan situasi yang mengharuskannya berlari dari satu pelarian ke pelarian lainnya demi secercah nafas kebebasan yang dia impikan. Dalam pekatnya nuansa keputusasaan yang mendera, nasib justru mempertemukan dirinya dengan seorang Dean Pramudya, sosok pemuda misterius yang menggawangi kegiatan “ilegal” bersama kelompok yang disebut sebagai Cream Crackers, namun sejatinya sebagai manusia yang masih memiliki secercah cahaya dalam gulita nuraninya.
Pertemuan mereka, dalam gersang dan kerasnya kehidupan yang ironisnya sebenarnya memiliki latar sosial yang sangat kontradiktif. Dalam luka dan kepahitan yang kian mendera, rona rasa merah jambu justru tumbuh dan mengakar di sudut hati mereka yang memang merindu damai. Rasa yang mampu meng”cover” luka-luka jiwa yang kian akut. Cinta yang menuntun pada terang dan putihnya nurani untuk menunjukkan eksistensi diri sebagai manusia yang memiliki arti.
Pelarian demi pelarian Jasmine mempertemukannya dengan beberapa orang yang memiliki kebeningan nurani yang membantunya menunjukkan cahaya dalam hidupnya. Luthfi, pemuda sopan dengan sorot mata teduh itu. Malika, wanita tabah yang mengajarkan jalan kembali pada-Nya, meski dirinya sendiri berjuang melawan penyakit yang tak seharusnya ia derita, juga ibu Rowena yang nyaris kehilangan harapan untuk menemukan putri kandungnya yang hilang. Pun meski harapan itu tak juga terpenuhi hingga akhir cerita, namun Jasmine dan dirinya berhasil saling mengisi kekosongan melalui pengorbanan yang tragis yang justru berkaitan dengan sang Prince, Dean Pramudya.
*****
Membaca novel ini, menyegarkan kembali ingatan kita, pembaca, terhadap peristiwa yang beberapa tahun lalu menjadi trend kejahatan, berupa maraknya pembobolan akun rekening para basabah bank yang kehilangan saldo rekening secara “ajaib” dan pembengkakan nominal pada kartu kerdit yang mesti mereka lunasi. Suatu ide yang tak terekspos oleh penulis lain dalam bentuk tulisan yang indah dibaca seperti yang ditulis oleh penulis seperti pada novel ini.
Poin plus berikutnya, deskripsi yang dipaparkan dalam penceritaan jalannya cerita benar-benar jelas, seakan-akan saya sebagai pembaca dapat melihat dan membayangkan masing-masing tokoh dengan segala cirinya, bahkan setiap lekuk ruangan maupun jalan dan suasana dalam cerita, digambarkan dengan lugas melalui kalimat-kalimat penulisnya.
Selain itu, cerita dalam novel ini juga sekaliigus menguak sisi negatif dari sebuah kota di tanah air yang menjadi salah satu pusat dan lajunya arus kemajuan zaman. Human trafficking yang tentu sangat merusak generasi bangsa, terutama para gadis belia nan polos yang seharusnya tak pernah masuk dalam pusaran gelap dunia pelacuran, entah itu disengaja ataupun tidak.
Adapun mengenai kekurangan, sulit bagi saya yang bukan seorang penulis untuk menemukan poin minus tersebut pada novel ini. Namun, sempat tertangkap oleh saya hal terkecil, benar-benar kecil jika dibandingkan dengan plusnya poin yang dimiliki novel ini. Saya menemukan sedikit “ketidak konsistenan” kecil, yaitu seperti tergambar dalam deskripsi berikut.
“ ‘Assalamu’alaikum. Sudah bangun, Jasmine?’ suara itu berasal dari wanita muda yang menghuni kamar persis bersebelahan kamarnya dan sepagi ini telah melintasi koridor seraya mengapit mukena. Dia Malika, satu-satunya pengurus yayasan yang tinggal di asrama....” (hal. 79).
“ .... Dan subuh tadi, kesempatan itu terbentang luas. Di saat masing-masing penghuni asrama melanjutkan tidurnya sesudah subuh ..... “ (halaman 129 paragraf ke-2).
“ Luthfi masih berusaha nenjejeri langkah Malika yang sedikit tertatih, lalu melambaikan tangannya pada Reni dan Sari, dua orang penghuni asrama yang tengah menanti senja seraya duduk-duduk di bangku depan koridor.” (halaman 143 paragraf ke-3).
Keterangan pada kalimat yang ditebalkan pada kedua paragraf terakhir menyatakan perbedaan pada keterangan yang ditebalkan pada paragraf sebelumnya. Mungkin penulis agak lupa sehingga antara keterangan tersebut menjadi berbeda.
Selanjutnya, ketika saya membaca cerita demi cerita dalam novel ini, terasa sedikit “buram” dan kurang kuat tentang si tokoh utama, Jasmine. Tentang latar belakang masa lalunya sehingga sampai pada situasi yang membuatnya “berlari”. Ternyata, “rahasia” Jasmine akhirnya terkuak juga pada epilog di halaman-halaman terakhir cerita sehingga membuat saya baru benar-benar merasakan kekuatan tokohnya. Namun efek kejut dan letak rahasia pemungkasnya ini mungkin justru sekaligus menjadi salah satu poin plus bagi novel ini.
Sebagai perbandingan, saya mengambil salah satu novel lain karya mbak Riawani Elyta juga, A Cup of Tarapuccino. Keduanya sama-sama mengambil setting di Batam. Sama-sama menampilkan tentang dunia kejahatan atau kriminalitas menjadi salah satu latar konfliknya. Pada novel Jasmine, tindak kriminalitas yang diulas yaitu tentang aksi para crackers, sedangkan pada A Cup of Tarapuccino yaitu tentang ilegal trading. Dalam novel A Cup of Tarapuccino, belitan perasaan antara tokohnya terasa mengental meski diselingi dengan kisah dari sisi lain dari kehidupan tokoh prianya, yang menjadikan novel ini terasa menegangkan. Namun, novel Jasmine ini lebih menyedot perhatian saya karena latar ceritanya yang lebih “membumi” dan “berani” menyuguhkan fakta dan realitas tentang human trafficking yang menjadi masalah sosial dan sangat meresahkan, namun tak banyak tereskpos. Tindakan yang menyebabkan maraknya praktik prostitusi yang erat dengan penyakit mematikan, sisi lain penderita ODHA yang kadang diremehkan masyarakat dalam keseharian mereka tanpa memandang sebab mengapa mereka menyandang penyakit tersebut, sampai pada aktivitas crackers yang mendulang keuntungan dari . orang-orang yang mereka rugikan. Novel ini juga menurut saya memiliki cerita yang lebih “tuntas” meski antara Jasmine dan Dean pada akhirnya terpisah, namun lebih jelas dibandingkan ending pada novel A Cup of Tarapuccino yang melimpahkan kepada pembaca akhir kisah perasaan antara kedua tokohnya.
Alhasil, novel Jasmine ini menjadi salah satu novel yang sangat layak dibaca oleh pecinta buku dan penikmat novel tanah air. Kelayakannya telah terlebih dahulu ditunjukkan dengan menjadi pemenang lomba menulis novel kreatif Indiva.
Sekian resensi saya, semoga bermanfaat dan selamat membaca.


1 review1 follower
December 30, 2013
Lomba Resensi Indiva, Novel Jasmine Cinta yang Menyembuhkan Luka

Jasmine, Kisah Hidup yang Mempesona


Judul buku : Jasmine, Cinta yang Menyembuhkan Luka
Penulis : Riawani Elyta
Penerbit : Indiva
Tahun terbit : 2013
Tebal/ukuran : 320 halaman/ 19 cm
Harga buku : Rp. 42.000
ISBN : 978-602-8277-91-4


Makna hidup. Setiap orang pasti memiliki makna hidupdengan versi yang berbeda. Mungkin kita sering mendengar makna hidup yang dijelaskan ustadz atau pepatah hidup dari orang tua. Berbeda pula makna hidup bagi Dean, pria tampan dan cerdas yang memilih menjadi seorang crackers, baginya hidup adalah melakukan apa yang ia mau. Begitu juga dengan Jasmine, gadis cantik bertubuh jenjang dengan mata indah yang terpaksa melewati masa belianya menjadi seorang PSK. Menurutnya hidup adalah masa depan yang harus dilalui dengan sekuat mungkin tanpa terusik bayang masa lalu.



Novel Jasmine, Cinta yang Menyembuhkan Luka menceritakan sepak terjang seorang Dean sebagai crackers, bagaimana kecakapannya dalam membangun jaringan cream crackers (sebutan untuk kelompok crackers). Crackers adalah seseorang yang dapat membobol sebuah sistem, termasuk merubah, atau menghapus data sehingga mengganggu sistem tersebut. Aktivitas ini biasa dilakukan oleh para crackers untuk membobol sistem bank dan menyedot saldo para nasabah terbesar bank tersebut. Tentu saja ini termasuk tindak kriminal kategori cybercrime.Dalam beberapa bab seperti Tragedi Hamster dan Cemas, Elyta cukup mendeskripsikan dengan jelas apa saja aktivitas para crackers.



Tidak hanya pertualangan Dean, novel terbaik dari lomba inspiratif Indiva ini juga mengkisahkan perjalanan hidup seorang Jasmine yang cukup kompleks. Ia berusaha bangkit dari masa lalunya, lari dari satu tempat ke tempat lain hingga ia mengalami kecelakaan dan dirawat di sebuah Yayasan ODHA (Yayasan yang menampung penderita Aids dan HIV). Setelah apa yang dilalui Jasmine, ia tetap saja mempesona. Kecantikan, kecerdasan juga kebeningan hati yang terpancar dari kepribadiannya. Itulah yang membuat Dean jatuh cinta dengannya. Dean dan Jasmine bertemu saat Jasmine masih menjadi PSK. Baginya Jasmine adalah penawar dan penentram jiwa yang amat mempesona, meski jarak memisahkan mereka. Kisah Jasmine semakin berwarna saat Rowena muncul mencari anak perempuannya yang hilang. Ia mendatangi yayasan tempat Jasmine berada.



Ditengah-tengah konflik, pembaca disajikan oleh perjalanan qalbu Jasmine, yang diam-diam menemukan ketenangan batin lewat Malika, salah seorang pengurus yayasan. Dengan cepat Jasmine merekam semua gerakan sholat dan wudhu’ yang telah dicontohkan Malika. Setelah itu ia tak pernah mau melewatkan kesempatan untuk sholat, termasuk ketika ia melarikan diri dari Yayasan. Pada bagian ini pembaca akan disuguhkan memorial dari kerinduan Jasmine akan masa kecilnya yang dekat dengan lingkungan masjid. Setelah rasa tentram itu muncul, azan layaknya panggilan khusus yang tak mampu ia abaikan, walau berada dalam kondisi paling genting sekalipun (hlm. 146)



Bagian yang paling menegangkan adalah saat Dean sedang bernegosiasi sebuah hamster (sebutan untuk kepingan data yangmemiliki nilai tinggi). Ia terjebak dalam sebuah situasi yang sulit. Jaringannya menjadi target utama pencarian polisi. Jaringan cream crackers sendiri secara tiba-tiba menghilang. Dean terjebak dalam sistem yang dibangunnya sendiri.



Konflik yang terbilang rumit mampu dirajut penulis menjadi sebuah scene yang menegangkan dan membangun rasa penasaran pembaca. Lompat dari satu plot ke plot yang lain menghindari kejenuhan pembaca dalam mengikuti konfliknya.Didukung pula dengan ketajaman setting Batam yang sesuai dengan tema cerita.



Akankah Dean lolos dari kejaran polisi? Apakah ia dan Jasmine akan bertemu kembali? Bagaimana dengan Rowena yang sedang mencari anaknya? Akan ada kejutan yang telah disiapkan penulis untuk pembaca. Sungguh ending yang tidak mudah ditebak. Meski memang Elyta terkesan terburu-buru dalam menyelesaikan deretan ending yang ia design padat dan masih menyimpan misteri yang belum terungkap. Dijamin pembaca tidak akan kecewa menguliti novel karya penulis yang telah sering menjuarai lomba kepenulisan ini. Ada banyak hikmah hidup yang jelas terlihat dari pahitnya kehidupan PSK dan kelamnya kehidupan crackers. Pun dari novel ini kita bisa merasakan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hambanya selama masih ada keinginan untuk berubah.


“Maka , jika ada doa yang sekiranya masih layak untuk ia panjatkan, cukuplah ia berharap bahwa air mata yang pernah mengalir itu adalah bukti bahwa dalam genangan dosa dan ketidakberdayaan, masih dimilikinya secercah cahaya iman.” (hlm. 148)


Peresensi : Dewi Chairani

https://www.facebook.com/notes/dewi-c...

1 review
August 12, 2013
Butuh waktu satu minggu menyelesaikan membaca novel ini, karena tidak termasuk novel yang langsung membuat saya tertarik untuk menyelesaikannya dalam sekali baca.

“Jasmine, ibarat sekuntum melati yang tercampakkan. Dalam gersangnya kehidupan, keindahan parasnya justru mengundang luka. Dean, The Prince, dedengkot jaringan Cream Crackers, ibarat pangeran misterius dari kegelapan. Menebar petaka, meski begitu, sejatinya masih tersisa sepenggal nurani di dalam jiwanya.”

Sekilas, blurb di atas adalah inti atau hal utama yang (seharusnya) memegang peranan paling pokok untuk diceritakan dalam novel ini. Kenyataannya? Dasar pemikiran dan latar belakang Dean Pramudya datang ke Sintai, lokalisasi terkenal di Batam , lalu bertemu Jasmine, malah tidak diceritakan sama sekali. Karena iseng-iseng berhadiah? Emang aslinya suka main perempuan, atau sekadar pengen mencoba-coba bergaul dengan cewek nakal di sanakah? ‘Seliar’ itukah pemikiran seorang prince yang katanya punya karakter sedingin Himalaya dan tingkat kecerdasan otak luar biasa : jauh-jauh datang dari Jakarta sekadar pengen nyobain cewek Sintai? Atau apa? Tidak ada dialog-dialog manis (yang tentunya tidak selalu dialog romantis atau dialog orang yang fall in love) yang menggiring asumsi pembaca bahwa ini cerita roman.

Kisah tentang hacker-nya pun terkesan tempelan belaka, alias kurang riset. Oke, issue utamanya mungkin lebih ke human trafficking dan pelacuran remaja di Batam, jadi masih bisa ditoleransi. Karena alasan itu jugalah, saya lebih baik tidak membahas tentang kurangnya pergolakan/konflik batin Jasmine saat menemukan kembali “hidayah” melalui Malika.

Dari awal, pembaca sudah disuguhkan narasi dan dialog dalam paragraf-paragraf yang panjaaaaang banget. Penulisnya santai aja, bikin tokohnya ngomong satu paragraf panjang, tanpa satu pun tagging dialog. Kayaknya ini nih yang bikin novel ini menurut saya cukup membosankan. Aduh.

Tokoh-tokoh yang sebenarnya enggak penting diceritakan pun terlalu banyak, dan malah menyita porsi untuk penceritaan dua tokoh utamanya. Bayangkan saja: ada Ioran dan teman-temannya, ada keluarga besar Dean, para pengurus yayasan diceritain dengan cukup detail, Rowena dan Arya, ..., siapa lagi, ya? -.-

Diksinya nggak ‘gue banget’lah. Nggak taulah, mungkin ini Cuma masalah selera yaaa .... Saya merasa terganggu saat penulis mengganti menyebut mata dengan ‘visual’. Selalu visual, dan bukannya mata, dan itu cukup banyak.

Sepasang visual tajamnya tak semenit pun lepas dari jalan raya. (hal. 19) <=masih banyak lagi yang seperti ini, menyebut visual untuk mengganti ‘mata’.

Perlu diingat, penggunaan visual untuk mengganti “mata” menurut saya tidak tepat. Dalam KBBI, visual = dapat dilihat dng indra penglihat (mata); berdasarkan penglihatan: bentuk -- sebuah metode pengajaran bahasa;. Jadi, visual adalah kata sifat atau kata kerja, bukan kata benda apalagi organ pancaindra. =.=

EYD? Saya menemukan ratusan kesalahan pengeditan dan EYD dalam novel ini, mulai dari penempatan koma yang tidak tepat, penempatan “pun” sebagai partikel atau sebagai kata yang berdiri sendiri masih cukup banyak yang salah, tidak kapitalnya huruf b untuk Blackberry, tidak adanya tanda pisah untuk memisahkan kata dalam bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia, paragraf-paragraf yang (buat saya) panjang-panjangnya kurang bisa ditoleransi, banyak narasi panjang yang bahkan terlalu telling dan bosenin, kalimat-kalimat yang enggak efektif, dan ... kata-kata baku dalam narasi yang tidak saya temukan di KBBI. Ruli itu apa? Perkampungan kumuh? -.- Apa lagi kesalahan EYD-nya, ya? Saya nggak pakai stabilo sih pas bacanya.

Tapi nggak adil kalau Cuma bicara kekurangan, karena ini novel juara sayembara. Bintang satu untuk covernya yang cantik dan segar. Bintang dua untuk ceritanya yang lumayan, dan bintang ketiga untuk ending-nya yang mengandung twist. Bahwa Jasmine bukan Raisa. Pesan? Bahwa tidak semua ODHA adalah mereka yang memang bergelimang kekotoran? Bukan hal baru dan semua orang sudah tau.


Profile Image for Naima Knisa.
5 reviews
April 3, 2014
Pertama lihat covernya, komentar saya langsung negatif, kok semacam novel-novel fiksi lama ya? Yang biasanya cover dihiasi bunga-bunga dan carakter seseorang. Tapi setelah melihat siapa penulisnya, saya langsung memutuskan membeli. Ini novel ketiga Elyta yang saya baca setelah PING! dan The Coffee Memory.

Saya suka kisah dalam novel ini, masih berlatar belakang cinta, tapi Elyta berhasil meramunya dalam plot yang menarik, pemeran utamanya adalah Jasmine yang terjerat dalam kehidupan yang tidak pernah dia inginkan, yaitu kawasan pelacuran. Pemeran utama lainnya adalah Dean, anak konglomerat yang menjadi leader dari jaringan Cream Crackers yang sering membuat resah bank-bank dan consumennya dengan keluhan tagihan kartu kridit yang membengkak.

Elyta menceritakan kisah mereka berdua bersama tokoh-tokoh lain yang saling berhubungan da nada dalam setiap sub babnya. Selain cyber crime, novel ini juga mengisahkan perjuanagn penderita HIV AIDS, dua topik yang berbeda tapi berhasil diramu dengan apik oleh Elyta.

Membaca novel ini membuat saya berfikir beberapa kali tentang siapa sebenarnya Jasmine dan apa hubungannya dengan Ibu Romewa yang mencari anaknya yang juga menjadi korban human trafficking, dan pembaca benar-benar diminta menyimpulkan sendiri dari cerita yang dibawakan Elyta.

Sayangnya, novel ini lebih banyak narasi dengan diksi-diksi yang berbunga-bunga (maaf kalau istilah saya agak aneh), dasarnya saya bukan orang yang menyukai kalimat bertele-tele dengan hanya menggambarkan suatu perasaan dengan majas personifikasi yang berlebihan. Dan menurut saya tulisan dalam nobel ini minim dialog. Ending yang tidak terduga, ya jelas itu bisa membuat anda yang membaca melanjutkan sendiri imajinasi tentang lanjutan cerita Jasmine. Tapi menurut saya (lagi) epilognya terlalu dibuat-dibuat-buat karena hanya ingin menceritakan siapa Jasmine sebenarnya.

baca juga di : http://naima.staff.ub.ac.id/2014/04/0...
Profile Image for Esti Sulistyawan.
67 reviews11 followers
December 12, 2014
Jasmine adalah seorang gadis yang sudah menjadi pelacur sejak usia belia. Lika-liku hidupnya terjabar dengan sangat detil di novel ini, membuat saya ikut miris dan sedih. Cerita mengharubiru kisah pelacur belia yang dipaksa menjalani hidup yang nista dan kemudian bergelut dengan penyakit paling mematikan, AIDS.

Novel yang diracik dengan ramuan penyakit AIDS serta derita yang ditimbulkannya, cyber crime, dan human trafficking, membuat saya menghela nafas berkali-kali. Ada cinta yang terselip manis di sini, cukup manis dan bisa membuat kita yakin bahwa harapan akan selalu ada.
Profile Image for Sri.
4 reviews22 followers
September 11, 2014
Allah telah menyiapkan sesuatu untukku di akhir perjalanan nanti, sesuatu yg diberikan atas nama kasih sayang pd hamba-hamba-Nya, meski sang hamba tak lg berharga di mata manusia. Aku percaya itu...
Profile Image for Rembulan Kayangan.
7 reviews1 follower
November 6, 2013
Oh, ini republish Persona Non Grata ya? Buku bagus, tiga setengah, tapi buletin jadi empat karena kavernya cakep banget, asli :-D
Profile Image for VaaRida.
133 reviews6 followers
June 25, 2021
buku karya RIawni ELyta kesekian yang aku baca, dan alhamdulilah selalu suka dengan ceritanya.
Profile Image for Bening Pertiwi.
Author 2 books2 followers
July 5, 2014
membaca buku ini harus sampai selesai dulu
kalau bacanya lompat2, maka resikonya harus membaca ulang
sekilas tiap chapter dalam buku ini adalah kisah masing-masing
tetapi ternyata ada benang merah yang menghubungkan seluruh kisahnya
hanya saja, sosok dean pramudya yang seorang (mantan) cracker kurang dikembangkan lebih dalam lagi
Profile Image for Predator Buku.
11 reviews3 followers
May 10, 2013
Tiga setengah hampir empatlah. Gue pikir, novel ini bakal keren. Ya emang keren juga sih. Ceritanya asyik, alurnya enak diikuti. Sayangnya pembahasan soal hackernya kurang nendang. Ketemu The Prince lewat inbox FB juga rasanya rada gimanaaa... gitu.
Profile Image for Iis Soekandar.
11 reviews
Read
November 6, 2015
Pantaslah buku ini sebagai pemenang lomba novel inspiratif. Isinya ungguh 'jaman sekarang banget'. Ada kejahatan di internet, dan perdagangan gadis belia. Kok masih ada ya seorang ibu yang tega menjual anaknya sendiri.
kapan saya bisa membuat cerita sebagus itu
Profile Image for Rosalina Susanti.
15 reviews1 follower
July 18, 2013
endingnya kurang mantap menurutku. terus latar belakang konflik masa lalu Dean dan Jasmine juga kurang kuat untuk menjadi daya tarik bahwa mereka adalh dua orang "terbuang" yg akhirnya bersatu...
Displaying 1 - 15 of 15 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.