Siapa bilang lahir pada tanggal 29 Februari adalah kutukan karena berulang tahun lebih sedikit daripada orang lain? Buat Jasmine, tanggal 29 Februari itu ada di setiap tahun---dengan mencoret dan menulis sendiri angka dalam kalendernya.
Tapi… ada satu masalah besar yang harus dijalani Jasmine karena kebandelannya menjelang hari ulang tahun yang ia nanti-nantikan. Hukuman 100 jam mengajar di sekolah kolong jalan tol!
Ternyata 100 jam itu mengantarnya pada teman-teman yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya. Jasmine pun tertawa dan menangis bersama mereka.
Amalia Suryani started her writing career when she was 12. Her first short story was published in a children magazine: Bobo. She was then active writing short stories for teenage magazine, newspaper, and some poetry in her blog.
In 2005, she first published a teenlit novel titled "Being 17." Her second and third novel followed.
In 2007, the latest novel "100 Jam" she wrote with a co-writer, Andryan Suhardi, won Adikarya IKAPI Award - as the best teenage novel. This novel was also translated to Malay in the following year.
Novel ini sudah mengendap di atas meja sejak bulan lalu. Dan saya menyesal tidak cepat2 membacanya. Seharusnya saya tahu Amalia selalu mengangkat tema yang berbeda untuk buku2 teenlit-nya (seperti yg saya baca dalam rival). Dan 100 jam bukan pengecualian. Sebuah sisi lain dari remaja ibu kota yang tidak hanya sibuk dengan percintaan dan pergaulan di lingkungan sekolahnya.
Setelah sekian purnama, akhirnya bisa baca novel lagi *biasanya baca komik atau webtoon XD* Ternyata baca ini tetap seru dan menggugah selera membaca novelku yang sempat padam walaupun demografinya teenlit dan terbitan lama *2007, dibeli 2010, dibaca 2023 hehehe*. Awal bacanya karena ada tugas ngawas dan nggak boleh megang HP. Sebelumnya baca nonfiksi, terus mau lanjut komik Uzumaki, tapi kok tebal banget. Akhirnya cari2 di rak novel dan asal ambil novel ini aja.
Ceritanya sendiri tentang seorang anak panti, Jasmine *btw, kubacanya kadanga Jasmin, kadang Yasmin ^^* yang dihukum 100 jam untuk mengajar di sekolah kolong. Tahun segitu memang masih banyak berita tentang sekolah kolong, pemukiman di bawah jembatan tol/pemukiman liar. Tapi kalau sekarang kayaknya udah jarang dengar berita tentang ini.
Jasmine sendiri awalnya ogah-ogahan ngajar di situ. Seiring berjalannya waktu, malah jadi suka dan menikmati mengajar di sekolah kolong ^^.
Awalnya nggak ekspetasi dengan ceritanya karena demografinya teenlit. Kupikir bakal yang bosen dibacanya, tapi ternyata seru juga. Menurutku, cerita novel teenlit zaman dulu tuh memang banyak hal yang nggak bikin cringe sih. Ceritanya nggak aneh-aneh dan masih masuk dalam akal. Contohnya, sekolah kolong, teman yang pintar tapi sombong, kehidupan anak jalanan dan kurang beruntung dalam mengejar pendidikan.
Selain tentang sosialnya, ada juga selipan romansanya. Gemes banget kalau baca bagian Jasmine x Arya. Jasminenya pintar, punya pemikiran mindblown dan Arya yang berwibawa, khas mahasiswa berpendidikan (?) gitu ^^. Awalnya kupikir Arya udah punya someone, tapi ceritanya nggak dilanjutkan dan dia mikirin Jasmine mulu. Yaudah, kushipperin aja dan akhirnya jadi *walaupun di akhir dibilang mereka tidak pacaran**tapi kenapa di surat nulisnya belahan jiwa, ya? Terus apa yang dibisikkan Arya waktu Jasmine ultah?*
Sebenarnya, novel ini sudah bagus menurutku. Kekurangannya ada di penggambaran cerita beberapa tokoh yang terkesan cepat. Kayak hubungan Arya dan Marsha itu apa sebenarnya? Apa mereka sepasang kekasih, terus putus atau teman biasa, tapi Marshanya menaruh hati ke Arya. Awalnya kukiran Marsha dan Jasmine bakal ketemu, taunya nggak sama sekali. Terus pengajar kolong lainnya, Hendra, kasihan cuma disebutin nama aja. Tentang Bagas juga agak kurang puas ceritanya. Mardi, si tukang ojek payung juga kukira bakal diceritakan juga jadi murid sekolah kolong. Sampai akhir pun Tya tetap manut sama ibunya, ya.
Pengarangnya sendiri, Amalia Suryani, pernah baca karya beliau sebelumnya, cuma aku lupa apa pernah dibaca. Kalau Andryan Suhardi, beneran baru baca novelnya yang ini aja hehehe ^^.
Overall, baca teenlit di usia segini *umur di sensor* tidak buruk juga. Cerita novel ini jadi salah satu yang memikat dan bikin tergerak buat bikin pendidikan Indonesia bisa lebih baiklah. Btw, masih banyak teenlit yang sudah dibeli, tapi masih di dalam dungeon. Bakal dibaca selang-seling dengan komik supaya nggak bosan :).
Buku ini bukanlah buku yang baru melainkan sudah terbit sekian lama. Aku kembali membaca buku ini setelah menemukan ada teman yang menjualnya di media online. Aku kembali bernostalgia dengan 100 Jam setelah belasan tahun berlalu. Bicara mengenai cover aku memang memiliki ketertarikan sendiri dengan buku-buku ¬cover lama sehingga cover buku ini pun menurutku menarik.
Walaupun dibaca kembali dengan usia yang berbeda saat pertama kali membacanya, buku ini masih tetap bagus. 100 Jam menceritakan bagaimana kisah Jasmine selama menjadi guru dadakan di sekolah kolong jalan tol. Sangat sedih rasanya melihat bagaimana anak-anak kolong jalan tol itu sangat bersemangat sekolah namun sayangnya terkendala ini dan itu.
Sebenernya galau. Kasih bintang 3 kedikitan, bintang 4 belum sampe. Ya sudah anggap aja nilainya 3.5 yah. Sebenarnya tema dan premis buku ini bagus banget. Isu-isu yang diambil juga keren. Sayang, terlalu banyak yang mau diceritain dan bikin ceritanya jadi ga terlalu fokus. Terlalu banyak sub-plot ini juga bikin setiap cerita yang dibangun gak bisa diulik terlalu dalam, karakter ga bisa terlalu dieksplor. Akhirnya momen-momen penting di buku ini jadi terasa flat. Ya sedikit bikin nangis tapi juga ya udah gitu aja.
Iya, aku tau kok umurku udah ga pantes lagi untuk baca novel bergenre teenlit. Tapii jangan salah, novel ini boleh bergenre teenlit dan termasuk tipis, tapi ceritanya daleeemmm.
Tokoh utamanya bernama Jasmine, anak panti asuhan yang mendapat hukuman mengajar di sekolah kolong selama 100 jam. Awalnya Jasmine ogah-ogahan tapi lama-kelamaan Jasmine malah menyukainya.
Berbeda dengan teenlit kebanyakan yang ceritanya hanya soal cinta monyet dan kehidupan yang wah, novel ini malah mengambil setting kehidupan kumuh kota Jakarta dan realita yang terjadi disana. Bukan hanya diceritakan dari sudut pandang Jasmine, tapi juga dari tokoh lainnya sehingga sedikit banyak kita bisa tau latar belakang tokoh itu. Kalo novel ini gak bergenre teenlit, mungkin novel ini bisa lebih tebal sehingga cerita dari tokoh-tokoh itu bisa lebih di-explore.
I usually don't read Indonesian books in general, but I had to read this one for my Bahasa Indonesia class in school. At first, I was dreading to read this; but the more pages I flipped, the more intrigued I become. The moral of this story is awesome. And let me tell you this, even though the romance ain't with a lot of heat, the romance here was really sweet. Foreigners who reads this book will know the situation people are in here in Jakarta.
Bookshelves are a way for you to organize your books. You can create as many shelves as you like and shelf a book under as many shelves as you like. Shelves are essentially what some people call 'tags'. a
Buku ini sangat bagus untuk anak-anak menjelang remaja. Banyak sekali pasan penting yang terdapat pada cerita ini. Selain itu bahasanya mudah dimengeri, dan memiliki alur yang menarik bagi anak-anak.
Tiga bintang untuk pesan yang terkandung di dalamnya. Tapi, secara keseluruhan banyak kekurangannya (menurut saya, lho), jadi saya beri dua bintang saja.