Jump to ratings and reviews
Rate this book

Macaroon Love

Rate this book
Kalau ada satu hal yang paling aku benci di dunia ini, itu adalah namaku, Magali. Kalau ada satu hal yang paling kusuka di dunia ini, itu adalah makanan. Padu padan makanan menjadi passion-ku. Sebagai seorang food writer, aku selalu mencari cara untuk memadukan resep. Harus berbeda, jangan mainstream.

Jadi betapa kagetnya aku saat ketemu Ammar. Bukan saja dia berprofesi sebagai koki seperti ayahku, tetapi dia juga memberikan suguhan yang berbeda. Di Suguhan Magali, resto yang namanya sama persis dengan namaku.

Dan saat Ammar menyajikan MacaroonTower warna-warni, dia seakan mempersembahkan nuansa warna hatinya padaku. Mampukah aku menerimanya? Maukah aku?

262 pages, Paperback

First published April 1, 2013

39 people want to read

About the author

Winda Krisnadefa

7 books15 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
3 (4%)
4 stars
11 (15%)
3 stars
41 (59%)
2 stars
13 (18%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 - 25 of 25 reviews
Profile Image for Ria Tumimomor.
Author 4 books16 followers
May 23, 2013
Buku yg halaman demi halaman membuat gue ketawa cekikikan. Buku ini berkisah tentang cewek bernama Magali yang bekerja sebagai wartawan freelance yg mengulas makanan di restoran. Walau benci dengan namanya yang dianggapnya aneh itu, Magali sendiri adalah wanita yang unik dan tidak berkepribadian seperti cewek pada umumnya. Mau tau bagaimana kisahnya dan apakah cewek seunik Magali juga bisa jatuh cinta? Baca dulu deh buku ini ^_^
Profile Image for Citra Rizcha Maya.
Author 5 books23 followers
June 7, 2013
Tiga Keping Macaroon untuk Magali!

Blurb:
Kalau ada satu hal yang paling aku benci di dunia ini, itu adalah namaku, Magali. Kalau ada satu hal yang paling kusuka di dunia ini, itu adalah makanan. Padu padan makanan menjadi passion-ku. Sebagai seorang food writer, aku selalu mencari cara untuk memadukan resep. Harus berbeda, jangan mainstream.
Jadi betapa kagetnya aku saat ketemu Ammar. Bukan saja dia berprofesi sebagai koki seperti ayahku, tetapi dia juga memberikan suguhan yang berbeda. Di Suguhan Magali, resto yang namanya sama persis dengan namaku.
Dan saat Ammar menyajikan Macaroon Tower warna-warni, dia seakan mempersembahkan nuansa warna hatinya padaku. Mampukah aku menerimanya? Maukah aku?

***
Aku suka cita rasa dalam Macaroon Love karya mbak Winda Krisnadefa!
Berkenalan dengan duo sepupu ajaib Magali dan si cakep setengah bule, Beau (dibaca Booouuuu dengan aksen Prancis seksi ) dan larut dalam obrolan mereka yang berasa kayak lagi ngemil Pringles yang Fieri Hot, renyah dan ga bisa bikin berhenti baca dari halaman satu ke halaman selanjutnya. Naskah Unggulan dalam Lomba Penulisan Qanita Romance ini memiliki ide cerita yang tak biasa.

Sebelum membahas idenya aku mau tanya, siapa sih diantara kita yang punya kesempatan untuk memilih nama sendiri? Ada? Betapa beruntungnya kamu! Contohnya gini; aku bernama Citra Rizcha Maya, terpaksa harus terima-terima saja nama pemberian bapak Andro dan Ibu Ros, pa-da-hal! Ya ampun Citra itu nama super pasaran :/ dan yang parah aku bahkan tidak bisa menyebut namaku sendiri dengan benar, yeay gegera huruf R terlalu susah disebutkan lidahku, belom lagi nama tengah, Rizcha yang orang sering tanya lafalnya bagaimana dan juga sering salah dituliskan, dan terakhir Maya yang seperti menggambarkan aku yang kecanduan dunia maya. Stop Citra, cukup curhatnya! Sama kayak kata si Magali; Harusnya nama itu hak prerogative seseorang sejak lahir, sampai saatnya dia bisa memutuskan mau memakai nama apa. Yeah si Magali benci sekali dengan namanya sendiri, walau kata Jodhi berarti Mutiara dalam bahasa Prancis atau berarti luas daughter of the sea, oh c’mon Jodhi itu kan diluar negeri tempat mereka pada ngerti artinya, nah di Indonesia nama Magali jadi korban plesetan dari tukang gali kubur sampe galian singset…pukpuk Magali. Tapi… tada! siapa sangka pada suatu waktu Magali melihat namanya di papan ruko, bertuliskan: Suguhan Magali. Okay harus aku bilang bahwa masalah besar dari novel ini adalah tentang NAMA si Magali. Jarang kan ide sebuah novel memusatkan pada nama seorang tokohnya.

Dan, ceritanya mulai seru dibagian sini, saat Magali mulai berkenalan dengan Ammar, pemilik restoran Suguhan Magali itu, restoran dengan konsep unik dan suguhan yang menarik. Nampaknya Ammar yang digambarin mirip dengan chef Joe Bastanich ini memiliki kepekaan terhadap hal-hal unik, Ammar tahu sekali makna “What makes us different makes us beautiful” yang ada dalam diri Magali tapi tak disadarinya. Magali adalah karakter keren (menurutku) walau dalam cerita ini Magali menganggap dirinya sangat aneh. Aneh? Aneh itu keren kali, karena normal itu justru sangat membosankan (menurutku, lagi!) hanya saja sayangnya tentang keanehan Magali seharusnya jangan dijelasin berkali-kali.

Selain membicarakan tentang nama, novel ini juga membicarakan hal favorite semua orang; Cinta? iya, tapi jawaban yang paling benarnya adalah tentang makanan. Si Magali adalah seorang food writer dengan selera makan yang bikin kening berkerut. Kentang goreng colek sundae, okay kapan-kapan kudu coba, dan bagaimana selera anehnya ini bisa mengantarkan dia jadi food traveler dan redaktur rubrik kuliner di majalah food traveler yang punya rubrik kuliner keren: Magali Chronicle!

Secara kesuluruhan aku suka novel ini, tapi ada sedikit hal yang menurutku “kurang Magali” yang pertama judulnya; seandainya aku berada di tokoh buku sebagai seorang pembaca yang tidak tahu tentang cerita ini sebelumnya aku pasti menganggap bahwa Macaroon Love adalah sejenis chicklit manis dengan tokoh cewek rata-rata, sedikit genit peduli penampilan dan hidup dalam drama (mengingatkanku pada si Blair Waldorf dari serial Gossip Girl) dan Magali sangat jauh dari penggambaran seperti itu. Selain itu menyandingkan nama kue imut Prancis dengan kata cinta membuat ekspektasi kita melayang pada hal-hal romantis, tapi setidaknya Ammar lumayan berusaha dengan terbang ke Aussie dan memberikan kue ulang tahun seharga $400… dan aku bertanya-tanya kira-kira Magali akan menikmati Macaroon dengan cara seperti apa ya?

Jadi aku memberikan tiga keping Macaroon buat Magali; Pertama untuk ide ajaib novelnya; menggabungkan masalah nama dan makanan, yang kedua untuk karakter Magali yang keren banget, yang ketiga…untuk Beau dong :* (Aku bersyukur Beau mau usaha digital printing, bukannya ikutan casting :P )

Ah ya, jika novel ini adalah sejenis makanan maka, novel ini berasa seperti permen ‘kabel’ panjang Twizzlers Strawberry <3


Profile Image for Haryadi Yansyah.
Author 14 books64 followers
August 25, 2017
“Nunggu apa lagi, sih? Make a wish!” sahut Beau ricuh (hal.13) Aku memandangnya lekat, Beau –sepupuku, selalu saja begitu. Tampang bulenya sering kali tertutupi sifatnya yang menyebalkan! Seperti biasa, di setiap hari jadiku, Beau-lah orang yang paling cerewet menyuruhku menyuarakan keinginan walaupun dia sendiri tahu harapanku tiap tahunnya selalu sama. Aku hanya berharap namaku bukan Magali.

Magali? Nama yang aneh bukan? Bahkan, dengan nama itu kerap kali orang salah mengira aku ini lelaki atau perempuan. Sungguh, bagiku nama itu tak ubahnya lelucon. Berkali-kali aku melancarkan protes ke Jodhi –ayahku, bahwa aku tak menyukai nama itu. Namun, Jodhi selalu menanggapi protesku dengan ringan. “Magali dalam bahasa Perancis berarti Mutiara,” ujar Jodhi (hal.17). Lalu, Jodhi kembali menambahkan, “Dalam arti yang lebih dalam lagi, artinya daughter of the sea, anak perempuan sang samudera.” (hal.17) rasa sebalku malah menjadi-jadi mendengarnya.

Kadang aku tak ingin terlalu memusingkan hal itu. Toh, pekerjaanku sudah banyak menyita waktu. Pekerjaan yang menyenangkan… walau tidak membanggakan. Bayangkan, bertahun-tahun mengabdi sebagai reporter lepas, aku tak juga ditawarkan menjadi pegawai tetap. Di Free Magazine, aku ‘hanya’ bertugas meliput restoran dan menuliskannya menjadi sebuah artikel. Pekerjaan yang sering dimanfaatkan Beau untuk turut mencicipi makanan gratis dari restoran mahal. Aku sendiri sebetulnya tidak terlalu menyukai restoran berkonsep fine dining.…beberapa orang memang akan terintimidasi dengan kemewahan yang ditawarkan sebuah restoran bagus.” (hal. 58) Dan aku salah satu orangnya.

Hidup ini berisi pertemuan yang tak terduga. Ketika aku sedang makan bersama Beau, aku tak sengaja bertemu Ammar, lelaki sok akrab (yang… sttt… jujur kukatakan, ia tampan) yang ternyata pemilik sebuah restoran bernama sama denganku! Yeah, restoran Ammar juga bernama Magali. Kebetulan yang aneh, bukan? Bahkan ketika kami semakin akrab, ntah mengapa sepertinya aku menikmati ‘interaksi aneh’ antara aku dengan Ammar. Apakah ini cinta?

Cinta… ah, sesuatu yang selama ini kuacuhkan. “Jatuh cinta aja kamu bilang repot. Semua orang di dunia ini tahu kalau jatuh cinta itu indah sekali rasanya. Nikmat tak terkira,” sahut Nene menasehatiku. (Hal.117). Aah, stop! Aku tidak mau memikirkannya. Aku mengkhawatirkan Beau yang mendadak ‘menghilang’ pasca permohonannya untuk meminjam uang aku tolak. Lagi pula, aku kini mulai memikirkan bagaimana nasipku ke depan. Apa iya aku bisa bertahan hanya dengan menjadi pegawai lepas? Tentang hubunganku dengan Ammar… biarlah keanehan-keanehan lainnya sajalah yang akan merajut kisah kami bagaimana ke depan. Omnduut… terima kasih sudah diizinkan curhat di rumah mayanya ya. Aku ada liputan lagi nih. Bye :)

* * *



macaroon-tower

Siapa coba yang tak tergoda dengan menara macaroon ini? gambar dari sini.

Senang sekali bisa berkenalan dengan trio Magali-Beau-Ammar di Macaroon Love ini. Sebuah roman apik tanpa interaksi kisah percintaan yang berlebihan. Sesuai dengan judulnya, Macaroon Love juga mengajak pembaca untuk mengenal dunia kuliner lebih dekat. Beberapa istilah dan tokoh-tokoh dunia kuliner disajikan dengan baik. Bahasa yang digunakan juga sangat renyah :) Aku bahkan menuntaskan novel ini dalam sekali duduk saking menikmatinya. Hanya, ada sedikit kegundahan di hatiku mendekati akhir cerita. Yakni tentang ‘secuil’ kesedihan yang terjadi walaupun aku sadar itu ending yang tepat. Walau begitu, nuansa romantis tetap menjadi sajian utama naskah unggulan lomba penulisan romance penerbit Qanita ini :) Selamat mencicipi Macaroon dengan penuh ci(n)ta rasa :)

Profile Image for Dyah.
1,110 reviews63 followers
June 15, 2013
OK...let's just list the things I like and dislike from this book. But firstly, you should know that overall, I quite enjoy reading this.

Things I LIKE:
~ The cover & the title. I've been in love with macaroon way before it becomes trending and can be found everywhere.

Things I DISLIKE:
~ The characteristics of Magali and her cousin Beau. I'm gonna call them the "obnoxious duo".
~ Many coincidences in this story. Wait. Coincidence? You're kidding me. "There is no such thing called coincidence. Everything is foreordained." (do you know whose quote that is?)
~ I never get why Magali hates her name so much. Why is that such a big deal! There are names worse than that.

NEUTRAL OPINIONS:
~ The plot twists are predictable (no surprise element for me, but still fun to read.
~ The lead male character is more likeable than the lead female.
~ The story's too good to be true. But since it's romance... I can tolerate it.
Profile Image for Hairi.
Author 3 books21 followers
July 17, 2013
Penasaran banget sama novel ini. Makanya saya memilih untuk membeli novel ini ketimbang yang jadi juara lomba qanitanya.
Sampai di halaman 60an saya bbm suami yang lagi di kantor, biasa curhat :p
Saya bilang ke suami, ini novel sudah sampai hal 60an kok nggak berasa konfliknya apaan?
Apa jawaban suami saya? Ga penting. Hahaha... Saya lupa dia jawab apaan :p
Dan di hal 90an saya harus meyakinkan diri saya kalau konflik tentang anehnya nama Magali itulah yang jadi konfliknya. Ya ya ya...
Saya suka kuliner, tapi ga seaneh Magali sih seleranya.
Setelah menutup novel ini, saya merenung sendiri. Cieee...
Kalau magali seperti terjebak dalam dunia anehnya, sepertinya saya juga terjebak di dunia yang berbeda :D

Reviewnya ada di sini : http://coretanyanti.wordpress.com/201...
Profile Image for Atria Dewi Sartika.
115 reviews10 followers
September 11, 2013
Novel ini termasuk dalam salah satu Naskah Unggulan “Lomba Penulisan Romance Qanita”. Buku ini saat melihatnya pertama kali cukup bikin jatuh cinta. Kenapa?? Tampilan bukunya sangat ramah buat dibawa kemana-mana. Ukuran buku yag cukup mini membuatnya mudah diselipkan di dalam tas sehari-hari. Selain itu sampul dengan warna lembut itu bikin penampilan makin keren saat duduk manis menuggu di kafe atau bahkan dipinggir jalan sembari menunggu angkot (^_^)

Macaroon Love ini dimulai tentang keluhan simple. Ya, masalah kecil menurut saya yakni tentang kekesalan seorang perempuan pada namanya yang tidak umum. Tokoh utamanya bernama Magali yang berasal dari bahasa Perancis yang berarti “Mutiara” atau lebih keren dan romantis lagi yakni “daughter of the sea”. Nama Magali masih tergolong aneh dan tidak umum di Indonesia. Hal ini membuat Magali harus menghadapi berbagai reaksi orang atas namany mulai dari salah menyebut nama hingga namanya dipelesetin macam-macam (ini terjadi di zaman dia sekolah).


Novel dibuka dengan wish birthday Magali yang setiap tahunnya sama yakni andaikan nama dia bukan Magali. Dengan ditemani sepupu yang sekaligus sahabatnya yang bule kere bernama Beau. Saat itu, Magali tidak menyangka bahwa usia 24 akan membawa berbagai cerita ke dalam hidupnya. Hal ini ditandai dengan perkenalannya dengan Ammar yang memiliki restoran “Suguhan Magali”. Ya, restoran itu memiliki nama yang sama dengan namanya. Apakah ini sebuah kebetulan tanpa arti? Ataukah benar kata orang bahwa di dunia ini tidak ada yang kebetulan, selalu ada alasan untuk setiap kejadian?

Sejak itu Magali mulai belajar melihat dirinya melalui kacamata seorang Ammar. Selama ini dia selalu merasa sinis bahkan terhadap namanya sendiri. Ia merasa bahwa namanya yang aneh dan berbeda membuatnya menjadi pribadi yang aneh dan sulit di pahami orang lain. Hal yang ia senangi berbeda dengan hal yang secara umum disenangi oleh orang lain.

Pekerjaan Magali sebagai freelance writer di Free Magazine untuk rubrik wisata kuliner. Ya, Magali memang sangat menyukai dunia kuliner. Kecintaan ini mungkin dipicu karena Jodhi, ayah Magali, bekerja sebagai juru masak di sebuah kapal pesiar. Setiap pulang Jodhi pun membawa majalah-majalah kuliner dari negara-negara yang ia singgahi, hal ini semakin memperluas pengetahuan Magali tentang dunia kuliner.

Namun akhirnya pada satu titik Magali mempertanyakan pilihannya sendiri. Tentang alasan ia masih bertahan pada pekerjaan freelance writer yang tidak menjanjikan kemapanan ekonomi dan tidak bisa ia nikmati itu. Magali tidak mampu menyukai pekerjaannya meskipun membuat dia tetap berkecimpung di dunia makanan, sebab selera makan Magali cukup aneh. Tidak umum. Berbeda. Dan dalam tulisan yang ia buat saat meliput sebuah tempat makan, ia harus memaksa diri dan sudut pandangnya sesuai dengan selera makan yang umum dan cenderung seragam.

Maka ketika satu persatu masalah mengganggu pikirannya, Magali belajar memahami dan menghadapinya. Mulai dari masa depan dan pekerjaan yang harus dia pertimbangkan ulang dengan memperhitungkan Nene, neneknya Magali, Jodhi dan Beau hingga masalah perasaan yang tidak bisa dia mengerti. Tentang perasaannya pada Ammar. Dan puncaknya ketika idenya dicuri dan saat kabar buruk tentang Jodhi datang.

Saat itulah Magali belajar menemukan hidup dan masa depannya. Magali berdamai dengan namanya. Berdamai dengan kehidupan yang dia anggap biasa saja dan bahkan cendurung ia pandang dengan sinis.

Yah, secara keseluruhan buku ini jauh lebih dekat dengan kehidupan pribadi saya. Usia 24 tahun, masa depan yang belum pasti, nama yang tidak umum. Saya paham perasaan terkait nama itu, tapi syukurlah saya pribadi sudah berhasil berdamai dengan persoalan nama tersebut. (^_^)v
Profile Image for Esti Sulistyawan.
67 reviews11 followers
Read
December 11, 2014
Magali dengan semua keanehannya adalah hal pertama yang terlintas dipikiran saya setelah selesai membaca novel Macaroon Love ini. Bagaimana tidak aneh. Mulai dari namanya, Magali, bukanlah nama yang lazim bagi seorang gadis, bahkan untuk digunakan sebagai nama tokoh dalam novel sekali pun. Kemudian dari selera makannya yang tak biasa. Walaupun di dalam novel hanya dicontohkan bagaimana Magali suka mencocol kentang goreng pada es krim, itu sudah cukup membuat para pembaca tahu akan keunikannya itu. Masih diperkuat dengan cerita tentang latar belakang keluarganya yang tidak lazim. Lengkaplah sudah.

Dari awal, sosok Magali memang sudah menarik perhatian dengan semua ketidaklaziman dalam dirinya. Bahwa dia begitu membenci namanya, memanggil ayahnya hanya dengan menyebut nama, dan sikapnya yang apatis terhadap segala hal.

Karakter yang ditampilkan pada tokoh Magali, bisa dikatakan sebagai cerminan anak muda jaman sekarang. Yang selalu galau dalam segala hal. Merasa cukup berpuas diri dengan apa yang diraih saat ini, padahal dia bisa mendapatkan hal yang lebih baik jika dia mau berusaha.

Saya memberikan tiga bintang dari lima bintang untuk novel Macaroon Love ini. Kelebihan dari novel ini, antara lain:

Satu, Cerita yang simple dan menggunakan bahasa yang sederhana pula. Walau pun di beberapa bagian ada percakapan antara Magali dan Beau, sepupunya, yang memakai bahasa Inggris. Tetap saja cerita ini mengalir dengan apik.

Dua, Penokohan yang menarik. Para tokoh dalam novel ini sungguh menarik hati. Mulai dari Magali, Beau yang tampan tapi kolokan, Nene, si nenek yang nyentrik, Jodhi yang gaul dan berusaha menjadi ayah yang baik bagi Magali. Dan tentu saja, Ammar, si perfect guy. Semua tokoh diceritakan dengan semua kelebihan dan kekurangan layaknya manusia.

Tiga, Dunia kuliner yang diceritakan dalam novel ini, membuat orang yang membaca jadi bertanya-tanya, apa benar ada chef yang bernama ini, bekerja di sini, dan spesialisasinya di situ. Membuat saya langsung searching di google deh. Jadi tambah pengetahuan tentang kuliner dan pernak-perniknya. Hal ini menunjukan kalau si pengarang melakukan riset yang cukup mendalam untuk memperkuat cerita.

Sedangkan kekurangan pada novel ini menurut opini saya:

Satu, Konflik yang ditampilkan terlalu datar. Hanya pada konflik pada si tokoh utama, Magali. Bagaimana dia membenci namanya, mengapa ibunya meninggal dan hal-hal lain terkait dirinya. Cerita akan lebih sedap jika menampilkan konflik yang juga melibatkan tokoh lain. Seumpamanya, Magali yang didesak untuk segera menikah oleh neneknya. Karena bagaimana pun juga, konflik adalah ruh dari cerita di novel. Karena dalam dunia nyata pun, kita pasti bersinggungan dengan kepentingan orang-orang di sekitar kita, bukan?

Dua, Tokoh Ammar yang ditampilkan memang menarik, tetapi apakah tidak terlalu kebetulan jika tokoh ini tiba-tiba datang begitu saja. Apalagi masih ditambah dengan sosoknya yang sempurna. Latar belakangnya juga tidak jelas. Seakan-akan si Ammar ini memang dimunculkan sebagai malaikat penolong bagi Magali. Walau pun ini hanya fiksi, menurut saya harus ada alasan yang logis untuk semua hal.

Tiga, penekanan sosok Magali yang aneh sebenarnya sudah dapat banget dengan semua kebiasaannya yang tidak lazim. Penggambaran wajah yang tak biasa tapi menarik. Saya pikir tidak perlu lagi ditambah-tambah dengan kata aneh . Aneh itu kesan yang ditampilkan konotasi. Seandainya aneh diganti dengan kata lain, semisal unik pada beberapa bagian. Saya kira cerita yang ditangkap akan lebih manis.


Secara keseluruhan, novel Macaroon Love ini cocok banget dibaca sebagai pengisi waktu. Cerita yang lucu, ide yang segar bisa memantik syaraf kita untuk rileks sejenak. Menikmatinya sambil minum kopi, pasti asyik banget.
Profile Image for Helvira Hasan.
Author 2 books8 followers
May 28, 2014
Judulnya bagus. Macaroon Love. Ide ceritanya yang berbau kuliner juga bagus. Tapi...

Kenapa Magali benci sekali dengan namanya yang bagus itu, artinya saja "mutiara", atau "the daughter of the sea", yang pasti erat kaitannya dengan pekerjaan ayahnya yang selalu di lautan itu. Dan, sebagai anti-mainstream, seharusnya dia suka dong kalau ada yang menganggap aneh namanya. Walaupun disebut, dia dan namanya itu "love-hate-relationship", porsi benci Magali terasa lebih kuat. Jadinya bosan juga sama Magali yang mengungkit-ungkit masalah namanya.

Kenapa Ammar menamakan restorannya dengan Suguhan Magali? Kenapa Magali? Jawabannya hanya sebatas permukaan. Akan jauh lebih menarik kalau nama yang dipilihnya itu juga menggambarkan atmosfer restorannya, serta menu-menunya. Mutiara. Daughter of The Sea. Tapi, isi daftar menunya tet-tot. Baca sendiri!

Judulnya. Macaroon memang sempat disebut di awal cerita. Tapi, baru disebut lagi di akhir cerita. Akhirnya, judul terasa dicomot begitu saja, tidak menggambarkan keseluruhan ide cerita. Sebelum baca, saya sempat menduga, wah.. ada apa nih dengan Macaroon? Ammar jago bikin macaroon ya? Atau, macaroon itu makanan favorit Magali? Ternyata, tidak ada background apa-apa untuk macaroon. Sayang sekali..

Dan, setelah pertemuan ketiga Magali-Ammar, mereka tiga bulan gak kontak. Ammar kalau memang ada rasa, kok gak inisiatif menghubungi Magali, sih? Cowok macam apa!

Saya agak gak bisa terima kalau ada anak yang manggil ayahnya dengan panggil nama saja. Seaneh/sefreak/seunik/se-antimainstream apapun sebuah keluarga.

Terus...

Hmm, novel ini menurut saya tidak diedit dengan baik. Bukan masalah EYD segala macam itu. Saya rasa editornya kurang kritis. Kalau cerita ini diperbaiki lagi hal-hal yang kurang, menurut saya, Macaroon Love akan jadi cerita yang bagus.
Profile Image for ayanapunya.
341 reviews13 followers
August 24, 2015
sejak kecil, magali tak pernah suka dengan namanya yang diambil dari bahasa perancis. baginya nama yang dianugerahkan sang ayah tersebut lebih banyak membawa cerita buruk dalam hidupnya.

Magali sendiri sehari-harinya bekerja sebagai seorang freelance di sebuah majalah gratisan yang membahas tentang rumah makan. Sejak kecil keluarga yang dikenalnya hanyalah Jodhi -sang ayah yang bekerja di kapal pesiar-, Nene, dan Beau sepupu yang tumbuh bersamanya sejak usia 14 tahun.

seleranya yang unik membuat Magali kerap merasa dirinya dipandang aneh oleh orang-orang di sekitarnya. sampai kemudian Magali bertemu dengan Ammar dan restorannya yang bernama Suguhan Magali. berkat liputannya ke restoran magali, tulisan Magali mulai mendapat perhatian dari redaktur grup majalah yang menaunginya.

***

sebenarnya agak bingung dengan premis dari novel ini. mulanya ia bercerita tentang magali yang tak suka namanya, tapi kemudian topik itu bergeser menjadi semacam pencarian jati diri magali.
yang saya suka dari novel ini, ceritanya sangat mudah dinikmati. sosok magali juga digambarkan sangat biasa, membuatnya terasa dekat dengan keseharian.
Profile Image for Titish A.K..
Author 1 book133 followers
January 12, 2016
Nama: Magali
Cita-cita: menjadi orang aneh

sehingga ...

setiap harinya meyakinkan kepada semua orang berkali-kali bahwa dia itu aneh-unik-freak-antimainstream, namanya aneh-unik-freak-antimainstream, selera makannya juga aneh-unik-freak-antimainstream.

Eh, "semua orang" ini sebenarnya Ammar dan pembaca saja. Karena selain keluarganya (Nene-Jodhi-Beau) yang juga aneh-unik-freak-antimainstream, sebenarnya tidak ada tokoh lain lagi yang perlu mendapat penjelasan dari Magali bahwa dia itu aneh-unik-freak-antimainstream. Karena, Magali ini memang tidak begitu banyak berinteraksi dengan orang lain, nggak punya temen. Nggak punya temen ini sih katanya karena Magali ini aneh-unik-freak-antimainstream, tetapi menurut saya karena dulu sewaktu Magali (masih) punya temen, temen-temennya ini sering mendengar cerita dari Magali sendiri kalau Magali ini aneh-unik-freak-antimainstream. Temen-temennya jadi bosen dan lelahhhhh ....

... kayak saya +_+
Profile Image for Pia Devina.
Author 31 books47 followers
June 7, 2016
Pengen baca buku ini sejak lama, sebenarnya. Tapi baru baca sekarang. Dulu kalau nggak salah, pernah baca Mbak Penulis bilang judul naskah ini awalnya adalah Magali sebelum diganti jadi Macaroon Love--dan saya lupa dulu bacanya di mana.
Saya ngerasa judul awal tersebut lebih cocok, mungkin karena keseluruhan cerita memang bercerita tentang karakter Magali. Soal romance pun, cerita di novel ini baru disebut pas Ammar dateng, menjelang halaman 100 (saya lupa tepatnya). Tapi, pihak penerbit pasti punya pertimbangan lah ya, kenapa judulnya malah jadi Macaroon Love.
Secara konten, saya suka "nama aneh (eh, unik)" jadi ide cerita. Saya juga suka relasi Magali, Nene, dan Beau. Berharapnya sih, Nene dan Beau diceritain lebih banyak, trus Jodhi sempet bertemu langsung dulu dengan Magali dan jelasin arti nama Magali versi panjang kali lebar.
But overall, cerita di novel ini manis. Bikin pengen makan juga pas baca beberapa bagiannya :)
Profile Image for Rhein.
Author 7 books173 followers
July 14, 2016
Baca novel ini mengingatkan sama tipikal novel atau cerita tahun 90an. Macam cerita Lupus, Vanya, Olga, atau yg agak tebal TIA by. Kembangmanggis (entah itu siapa). Ide cerita simpel, bercerita tentang kejadian sehari-hari, ngalir, teratur, dan dialog yang hidup patut diacungi jempol. Juga untuk karakter Magali yg sukses bikin saya sebel. Biasanya, cewek aneh itu happy dan gak peduli dengan keanehannya, tapi di sini dia sering menyebut dirinya aneh dan terkesan depresi. Well, super aneh kl gt. hihihi...

Sebut saya pembaca mainstream, meski ide sesimple apa pun, tetap ingin ada sesuatu yg greget untuk dicari tahu. Di sini, gelombang konflik2nya ibarat ombak, kecil2, bukan badai cetar membahana gitu. Udah ah, daripada spoiler.. :p
Profile Image for Halida Hanun.
325 reviews13 followers
August 28, 2013
biasa aja bacanya. datar. flat. bahkan kesan romancenya nggak terasa.

1. saya agak kurang suka dengan penekanan karakter Magali. iya tau Magali itu sinis dalam memandang hidupnya. tapi cukuplah ditunjukkan melalui sikap/dialog, nggak usah ditekankan lagi kalo dia memang sinis. jadinya kayak "lo gak percaya kalo si magali ini sinis, biar gue tekankan lagi deh" gituuuu.
2. entah kenapa saya merasa si beau ini cocoknya jadi cewek aja. dari sifatnya, dari dialognya. auranya tuh dia lebih pas jadi cewek.
Profile Image for Caca Venthine.
372 reviews11 followers
January 8, 2014
bercerita tentang perempuan bernama unik Magali,seorang reporter di salah 1 majalah gratisan.. hhmm iya suka wawancara di restoran2 gitulah. sampai akhirnya bertemu dengan Ammar, salah satu pemilik restoran yang nama restorannya sama dengan Gali.

ya intinya seperti itulah. agak bosenin juga,dan gue gk nikmatin cerita ini. cuma suka pas di bagian endingnya pas Ammar kasih kue ultah ke Gali berupa macaroon's tower.. udah itu aja,lainnya kalo menurut gue gk ada yang special..
Profile Image for Eka Situmorang-Sir.
173 reviews27 followers
September 18, 2013
Hello Magali! ^_^ a grumpy gal who complains a lot and has a unique name with unique character. The novel is light, offering ideas about the relationship of family and friends. As the writer is or (was?) in the culinary world, you will find fresh information about culinary and pastries and so on.
Love the way Mbak Winda describing things here but more dialogues would freshen up the story ^_^
Profile Image for Muhammad Ridwan.
193 reviews25 followers
February 2, 2014
Komentarnya cuma 2:
- Ending-nya terlalu dipaksakan.
- Pertemuan Magali dengan Flora, dan sikap Ammar yang main peluk-pelukan terlalu ... hmm ... aneh. Agak-agak gak realistis terjadi di Jakarta #plak
Profile Image for Ani Andriyanti.
108 reviews4 followers
April 24, 2015
Cover yang manis. Ditambah judulnya "macaroon". Kebetulan saya suka kue itu :D
Dialog di dalamnya ringan dan segar. Awal-awal baca sempat berasa ini konfliknya dimana ya. Tapi entah kok saya bisa bertahan menyelesaikan novel ringan ini. Bisa dinikmati lah :)
Profile Image for Phalupi Apik.
50 reviews
July 22, 2014
Runut, maju dari awal sampai akhir. Meski ada flashback itu menguatkan alur majunya. Novel yang bisa menjawab pertanyaan di bab satu ketika kita membaca akhir bab.
Profile Image for miss hfan.
322 reviews6 followers
May 14, 2017
Magali, tokoh wanita utama di cerita ini kembali mengingatkan kita bahwa tidak ada yang salah untuk menjadi lain daripada yang lain. Karena adanya "lain" itulah yang menjadikan diri seseorang itu unik aka ga pasaran.
Displaying 1 - 25 of 25 reviews