Jump to ratings and reviews
Rate this book

Notasi

Rate this book
Rasanya, sudah lama sekali sejak aku dan dia melihat pelangi di langit utara Pogung.
Namun, kembali ke kota ini, seperti menyeruakkan semua ingatan tentangnya; tentang janji yang terucap seiring jemari kami bertautan.

Segera setelah semuanya berakhir, aku pasti akan menghubungimu lagi.

Itulah yang dikatakannya sebelum dia pergi.
Dan aku mendekap erat-erat kata-kata itu, menanti dalam harap.
Namun, yang datang padaku hanyalah surat-surat tanpa alamat darinya.
Kini, di tempat yang sama, aku mengurai kembali kenangan-kenangan itu....

294 pages, Paperback

First published May 1, 2013

124 people are currently reading
2028 people want to read

About the author

Morra Quatro

7 books159 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
622 (38%)
4 stars
603 (37%)
3 stars
318 (19%)
2 stars
54 (3%)
1 star
23 (1%)
Displaying 1 - 30 of 314 reviews
Profile Image for Herdina Primasanti.
103 reviews1 follower
June 29, 2022
Beberapa waktu setelah aku selesai membaca Laut Bercerita, aku membaca sebuah utas di Twitter yang membahas tentang novel ini. Aku cukup tertarik dengan ilustrasi dan latar yang disebut di dalam utas. Katanya, novel ini juga berlatar di tahun 1998.

Bagaimana kesan membacanya?
Aku punya love-hate relationship dengan novel ini. Latar tempat di novel ini sangat memuaskan. Sebagai seorang alumnus kampus biru, aku bisa mengonfirmasi lokasi yang digambarkan akurat, terutama penggambaran kampus. Lukisannya juga sesuai. Hal ini tidak kutemukan dari Biru Laut ketika membaca Laut Bercerita (padahal Laut dan aku sama-sama berasal dari jurusan dan universitas yang sama).

Hanya saja, kisah cintanya sedikit terasa seperti kisah cinta anak SMA di novel teenlit versi anak kampus pada tahun di mana kerusuhan '98 terjadi. Baru ketemu sama Nino, Nalia jatuh hati pada pandangan pertama, sampai dikit-dikit Nino ini lah, Nino itu lah. Hal terbodoh yang dilakukan Nalia adalah ngekor Nino sewaktu demonstrasi besar-besaran terjadi. Like, damn bro, Indonesia is chaotic right now and all you want to do is beside your ayang?

Lalu, bagian demonstrasinya terasa seperti kepingan cerita-cerita yang di-fast forward hingga bertahun-tahun setelahnya. Bagian diskriminasi dan penindasan terhadap keturunan Tionghoa di Indonesia juga terkesan selewatan aja, kayak "Oh, si ini disakiti oleh aparat di lokasi demo karena dia keturunan Tionghoa, aku harus menolongnya!". Aku merasa ketegangan selama demonstrasi atau pergerakan mahasiswa pra-demonstrasi di novel ini kurang nendang dibandingkan Laut Bercerita. Geregetnya jadi kurang berasa. Padahal, kalau bagian ini bisa disajikan dengan baik, pembaca bisa ikut ngerasa ketar-ketir sama Nino yang entah bagaimana rimbanya.

Hal lain yang agak mengganjal bagiku adalah hubungan Nalia dan Faris serta Nino dan Ve bertahun-tahun setelah tragedi '98 terjadi. Kenapa akhirnya Nalia mau sama Faris dan Nino sama Ve? Terus, janjinya Nino ngajakin ke Merapi nggak pernah terbayar? Kalau ini sekadar novel cinta remaja yang tokoh utama putus sama cowoknya karena udah ga cocok atau salah satunya mau pergi jauh dan endingnya bittersweet gak masalah. Hanya saja, kebersamaan Nino dan Ve + Nalia dan Faris terlalu dadakan (dan maksa). Si Nino bilang dia punya rasa sama Nalia, tapi kok tau-tau udah jadian sama Ve bertahun-tahun setelah kejadian '98?
Profile Image for Palinda.
180 reviews3 followers
May 17, 2021
Aku kasih rating lima karena ada banyak hal yang aku sangat suka dari novel ini. Mulai dari settingnya di kampus UGM, peristiwa-peristiwa Sejarah Indonesia yang berkaitan dengan kondisi politik, ekonomi dan sosial saat itu dan sampai cikal bakal Radio Swaragama FM yang udah menemaniku kalo lagi macet-macetan di Jakal. Jalanan yang biasa aku lalui selama kuliah di UGM dan Sanata Dharma kampus Mrican pun jadi saksi bisu perjuangan para mas mbak mahasiswa. Rest in Love, Mas Moses Gatotkaca.

FYI, Jalan Moses Gatotkaca itu diambil dari nama almarhum karena beliau meninggal di jalan itu. Coba cek Google aja.

Satu hal yang tidak aku suka dari novel ini yaitu...

Notasi bener-bener bikin aku nostalgia. Kebetulan ada timing yang sama pas aku kuliah, ketika letusan Gunung Merapi tahun 2010. Walaupun alurnya flashback ke tahun 1998, settingnya masih ada yang mirip sama zamanku (zaman banget mbak?). Bahkan deksripsi settingnya bener-bener detail banget. Cuma bagian kantor pos, Kopma sama Mirota Kampus ini aku bingung. Soalnya zamanku kantor pos udah nggak ada. Tapi gedung KFC, Mirota Kampus, RS Panti Rapih, Mipa Selatan, gedung bekas Perpus Pusat dan Swaragama FM masih ada hahahaha! Terima kasih Mbak Morra sudah menjadikan UGM bagian dalam novel ini. Dan maaf aku baru baca karena baru tau. Untung novel ini kembali ramai di Litbase yay!

Ada salah satu cerita lucu di novel ini yang pernah aku alamin (hampir semua mahasiswa sih). Setiap temen-temen dan aku ke fakultas lain tuh rasanya kayak Nalia dan Zee pas ke Teknik. Ngerasa asing krik krik plonga plongo. Dan udah pasti anak-anak fakultas tersebut tau kita bukan anak situ. Sama halnya anak-anak fakultas lain kalo masuk FEB juga gitu pasti aku tau mereka bukan anak sini.

Ada setting warung burjo! Khas mahasiswa Jogja banget sih! Contohnya pas Nalia dan Nino pertama kali ngeburjo di daerah Pogung Kidul. Aku yakin banget ini Pogung Kidul karena ada jembatan McD tapi pas zaman aku kuliah seingetku namanya bukan itu sih atau aku yang lupa wkwkwk. Mengutip dalam novel (halaman 255), "Juga hari ketika kita pertama kali duduk berdua, menjelang senja, melihat pelangi di utara langi Pogung." Pasti dulu indah banget ya daerah Pogung tuh. Zamanku udah padat akan rumah dan gedung MM UGM yang tinggi. Dan sekarang lebih ketutupan lagi sama gedung apartemen dan hotel. Pemandangan Gunung Merapi pas cuaca cerah pun sekarang terhalang sama tembok beton.

Kampus Biru emang punya banyak cerita cinta. Dibalik megahnya gedung perkuliahan saat ini, ada bayang-bayang kenangan para mahasiswa di setiap sudut kampus yang nggak akan lekang oleh waktu. Pernah lagi lepas penat (akibat pressure belajar Ujian Komprehensif) di bangku batu di bawah pohon lebih tepatnya di belakang Perpus Pusat (udah masuk area Gedung Pusat). Ada sepasang suami istri jalan gandengan tangan. Pas sampe Gedung Pusat mereka duduk di balkon pilar-pilar lantai 1. Masnya bobok di paha mbaknya gitu. Terus mbaknya elus-elus kepala masnya. Kayaknya mereka lagi napak tilas ke masa mereka pacaran pas mahasiswa. So sweet banget pasangan yang kayak gini tuh. The real Cintaku di Kampus Biru. FYI, kita cuma bisa ciye-ciye dari jauh dengan suara pelan. Takut ganggu mas mbaknya. Yah maklum obat nyamuk tak kasat mata harus sadar diri.

Dear Papa, terima kasih udah ngenalin aku apa itu Kampus Biru sedari kecil. Membaca novel ini bikin aku teringat akan cerita Papa waktu jadi mahasiswa Teknik. Aku masih inget senyum bangga Papa waktu liat para mahasiswa lagi ngerjain tugas di KPTU (masih inget juga tiba-tiba Papa nongol di kosan). Dan aku baru sadar walaupun Papa, Nalia, Nino dan aku berbeda generasi, vibes kuliah di Jogja itu tetap sama. Nggak bisa aku gambarin. Yang pasti ada unsur bahagia yang tenang. Ada unsur kangen yang berbeda dengan kota-kota lain. I love you to the moon and back, Pa. Rest in Love, Mr. Engineer.
Profile Image for owleeya.
307 reviews100 followers
May 21, 2013
Rasanya, sudah lama sekali sejak aku dan dia melihat pelangi di langit utara Pogung.

Ini cerita cinta yang terjadi sebelum dan saat peristiwa Mei '98.

Namun, kembali ke kota ini, seperti menyeruakkan semua ingatan tentangnya; tentang janji yang terucap seiring jemari kami bertautan.

Tentang Nalia, mahasiswi Kedokteran Gigi UGM, yang menjadi ketua panitia untuk sebuah acara BEM Fakultasnya, dan akan meminta bantuan publikasi dari sebuah radio mahasiswa Teknik Elektro.

Di sana, dia bertemu Nino, mahasiswa berkacamata yang selalu terlihat tenang.

Di sana juga, dia mengetahui kalau menyiarkan radio yang belum mendapatkan izin termasuk ilegal. Media masih belum sebebas sekarang. Siapa pun yang berkata jelek tentang Presiden (yang saat itu adalah Soeharto), akan dicari orangnya, dan kemudian, kita tidak akan mendengar apapun tentang orang itu. Hilang.

Ketika akan menyebarkan undangan untuk acaranya, Nalia mendapati dirinya mendengarkan semua keluh-kesah Nino. Dari sana, mereka menjadi dekat.

Sampai akhirnya, peristiwa Mei '98 terjadi. Peristiwa yang akan terus dikenang masyarakat Indonesia. Bahkan setelah 15 tahun Reformasi.

Segera setelah semuanya berakhir, aku pasti akan menghubungimu lagi.

Setelah peristiwa itu juga, Nino... menghilang. Padahal waktu kebersamaan mereka begitu sebentar... begitu cepat. Mereka bahkan belum pernah pergi bersama...

Itulah yang dikatakannya sebelum dia pergi. Dan aku mendekap erat kata-kata itu, menanti dalam harap. Namun, yang datang padaku hanyalah surat-surat tanpa alamat darinya.

Surat-surat Nino tidak terbalas. Nalia hanya bisa duduk di depan gedung Fakultas Teknik, menunggu Nino kembali.

Tapi, di suratnya, Nino tidak mengucapkan kata tunggu.

Beberapa tahun berlalu, Nalia pergi dari kota itu dan berhubungan dengan Faris. Bencana alam, ketika Gunung Merapi meletus lah yang membawa Nalia kembali ke Yogyakarta. Mendengarkan kembali radio mahasiswa Teknik Elektro yang dulu bernama Jawara FM. Dan... mengingat Nino dan surat-surat yang tidak terbalas itu.

Kini, di tempat yang sama, aku mengurai kembali kenangan-kenangan itu...

---

Tahun 1998, saya masih kecil, bahkan belum berumur 3 tahun (saya lahir di tahun 1995, di bulan Desember). Yang saya tahu, keluarga saya (yang waktu itu masih tinggal di Bekasi) mengungsi ke rumah saudara yang tepat di belakang rumah kami. Tentu saja saya tidak mengingat semua itu. Dan sekarang, 15 tahun kemudian, saya membaca dua novel tentang peristiwa ini; Pulang dan Notasi.

The A Side:

- Notasi terasa lebih personal. Seperti seorang teman lama yang bercerita tentang kisahnya yang dipendam setelah sekian lama. Cara penulis mendeksripsikan apa yang terjadi saat itu... terasa nyata.

- Like they said, you know you've just read a good book when you feel like losing a best friend. Saya... gak bisa move on. Eh tapi bukan ke Nino saja loh (who, I admit, I have a crush on because he was wearing glasses) (shallow, I know) (but, hey, guys look better when they're wearing glasses!), tapi juga ke Nalia, narator dalam kisah ini. Ke Farel, sahabat Nino. Tengku, Lin Lin, bahkan Ve.

- Akhir cerita. Saya gak bermaksud spoiler, tapi ending-nya itu... bikin saya (agak) puas.

The B Side:

- Segalanya terasa begitu cepat. Percintaan Nino dan Nalia yang tiba-tiba. Surat-surat yang tersampaikan tapi tidak dibalas...

- Akhir cerita. (Loh, katanya puas, Ul? Kok masuk ke B side?) Jadi gini... awalnya saya gak puas sama ending-nya. Makin dipikirkan, saya akhirnya mengerti maksud penulis apa... tapi... tetep aja 50:50! *Pembaca gak tahu diri*

Bahasa Fisika yang digunakan secara sekilas juga membuat saya teringat Forgiven, buku Mbak Morra yang pertama. Jadi inget Will. :') Saya menikmati keseluruhan cerita ini, kecuali bagian-bagian yang disebutkan di B side. Rating awalnya 3.5/5, tapi akhirnya saya menambahkan 0.5 karena saya akhirnya merasakan book hangover lagi. Aneh, ya? Tapi karena saya sudah lama tidak merasakan itu, dengan kata lain saya orangnya cepat move on dari sebuah buku (huh kalo ke orang lain aja susah move on) (eh), dan saya akan menghargai sebuah buku yang dapat membuat saya tidak bisa berpindah. (#nowplaying The Man Who Can't Be Moved - The Script)


Bila segalanya telah berakhir.
Bila segalanya telah berakhir.
Tidak ada yang tampaknya akan berakhir.
Tidak ada. Lihat saja sekarang, bahkan setelah event selesai dan BEM fakultas-fakultas mulai berdamai. Segala hal tampak akan terus terjadi, susul-menyusul. Aku dan Nino mungkin tidak akan pernah pergi ke mana-mana seperti yang kami angan-angankan. (Hal. 149)

4/5
Profile Image for Fakhrisina Amalia.
Author 14 books200 followers
May 22, 2013
Ketika menulis, aku selalu membayangkan buku-buku hebat yang aku suka, bermimpi untuk menjadikan tulisanku sebagai salah satu dari buku-buku hebat itu. Dan, tentu saja, aku bermimpi untuk bisa menjadi salah satu dari penulis yang bukan sekedar menulis, tapi memberikan sesuatu yang kadang -aku juga tidak tahu apa itu pada pembacanya.

Aku sudah pernah cerita di review terdahulu mengenai Forgiven, bahwa novel itu berhasil menumbuhkan lagi semangat bacaku yang terpangkas selama bertahun-tahun di masa SMA, membuatku jatuh cinta pada tulisan Kak Morra, menjadi follower twitter dan tumblr-nya, menjadi fans beratnya, oh, dan sesekali betapa aku berharap menjadi adiknya ;)

Ketika mendengar Notasi terbit, ada kekhawatiran dalam diriku bahwa William Hakim di novel pertama itu masih akan terus membayangiku, sama seperti yang terjadi pada saat aku membaca Believe yang syukurnya, masih bisa aku atasi. Tapi Langit tidak bisa menyeimbangi William Hakim saat itu.

Tapi aku tahu aku harus membaca ini, dan aku mendiamkan novel ini meski sudah datang dan bersampul berhari-hari, tersusun rapi di barisan Forgiven dan Believe, pada bagian terdepan lemari buku.

Dan tadi aku akhirnya memberanikan diri untuk membacanya.

Giftan Mariano Alatas.
Nino.
dengan setting 15 tahun silam, kota Yogyakarta, ketika Indonesia berada pada titik krisis pemerintahan dan aku baru berusia 5 tahun.

Kalau harus membandingkan Nino dengan Will, aku merasa tidak cukup adil. Karena Will dan Nino punya pesonanya masing-masing, dengan alur cerita yang berbeda dan usia di masa lalu yang berbeda pula.
Meski harus ku akui, aku masih jatuh cinta dengan Will. Hanya saja, Nino punya hal-hal yang tidak Will punya, satu sisi humble yang pada Will berupa keangkuhan, tapi sama-sama menawan.

Menceritakan tentang reformasi, aku rasa Kak Mo sudah melakukan riset besar-besaran tentang semuanya, tidak ada komentar, dan cara penjabaran Kak Mo tentang semua itu menyamai penjabaran tentang MIT maupun Boston dan hal-hal lain yang sebelumnya tidak pernah aku tahu, -hampir sempurna.

Ada beberapa pesan yang aku dapatkan dari Notasi, bahwa kadang dalam hidup ada beberapa hal yang tidak seharusnya terjadi meski kita berharap sedemikian rupa, bahwa ada jalan yang lebih baik untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Bahwa hidup tidak tentang satu jalan lurus yang semua orang melewatinya secara bersamaan.
Ada beberapa persimpangan, yang kadang di salah satunya kita berpisah, tanpa pemberitahuan sebelumnya, entah lain kali akan bertemu lagi atau justru kita saling berjalan dengan arah yang berlawanan.
Kak Mo seolah memberikan pesan bahwa, life isn't always about happy ending, life isn't always about what you wanted, hidup adalah tentang perubahan. Alam dan seisinya, manusia dan perasaannya, segalanya berubah dan tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengembalikannya seperti semula, kecuali menerima dan mengikhlaskannya.

Setidaknya, kita masih punya kenangan yang kita simpan bersama-sama.

Aku membayangkan betapa rapuhnya Nalia ketika ia menunggu Nino selama bertahun-tahun, berharap laki-laki itu datang seperti yang ia harapkan. Juga waktu-waktu getir demonstrasi yang terasa lebih seperti mengumpankan diri sendiri ke kandang buaya. Juga segala kebersamaan singkat mereka dan janji tentang puncak merapi yang pada akhirnya tidak dapat terealisasikan.

Tapi setidaknya, satu hal saja, semuanya baik-baik saja dan akan bahagia.

Kak Mo, aku rasa novel ini berhak disejajarkan dengan Forgiven, bahwa Nino, sama seperti Will, punya karakternya sendiri untuk membuat semua orang jatuh cinta.
William Hakim memang tidak akan pernah tergantikan, ia istimewa. Tapi Nino juga berharga :')
Terimakasih untuk semuanya; cerita, pelajaran, pengalaman, emosi yang sudah dibagi selama ini melalui buku, blog maupun twitter.

Akan aku tunggu karya Kak Mo selanjutnya.
Iis sayang kakak :')
sayang Nino juga, sayang Will juga.. :p
Sukses ya kak ^^
Profile Image for Hidya Nuralfi Mentari.
149 reviews15 followers
July 11, 2013
Pertama kali baca ulasannya digoodreads ataupun media review lainnya, aku tahu novel ini memiliki 'kasus' yang sama dengan FORGIVEN. Kalau FORGIVEN lebih ke sci-fi, NOTASI like a...historical fiction--genre fiksi cerdas yang akhir-akhir ini menarik perhatianku dibandingkan dengan kisah romance yang 'biasa-biasa aja'.

But, fortunately, yet. Kenapa endingnya juga harus kayak gini:''') ini seolah menguak luka lamaku atas Will. Hingga akhirnya berpikir, bahkan sampai Nino pun nggak kesampean:') this takes my tears so much!

But, ada beberapa hal yang akhirnya kusimpulkan. Cerita ini nggak akan se-greget ini kalau endingnya nggak seperti ini. Kak Morra selalu tahu bagaimana menempatkan cerita sad ending namun tetap terlihat happy ending--meski menurutku tidak, sih. Hahaha. Tapi yang aku cari bukan endingnya kok, tentu saja. Dan teman-teman yang baca ini pun pasti tahu sekelumit ending yang kurang menyenangkan disini seolah terbayar dengan keseluruhan cerita cerdas ini.
Seperti yang aku bilang--cerita ini memiliki 'kasus' yang sama dengan FORGIVEN. Bukan 'kasus' dalam arti yang sebenarnya. Tapi seperti alur, kerangka, bahkan prolog-epilog yang mengingatkanku pada novel pertama Kak Morra itu. Hanya saja disini bukan Will dan segala fisikanya. Disini ada Nino-Nalia dengan sejarahnya (dan juga teknik sebagai latar belakang Nino). Aku suka tema reformasi yang diangkat dalam cerita ini. Tentang orang-orang pada masa itu dan juga pemerintahannya yang sangat terkenal. Juga mahasiswa-mahasiswanya yang membuatku merinding sendiri. Dan kisah antara Nino-Nalia membuatku sadar, pasti ada cinta seperti itu ditengah-tengah masanya. Merinding. Aku ingat, di SMA aku sangat tidak menyukai pelajaran sejarah. Satu-satunya pelajaran sejarah yang kuingat ya hanyalah reformasi karena saat itu aku pernah ditugaskan membuat presentasi tentang masa reformasi dan tetek bengeknya. Maka, novel ini seolah mengingatkanku kembali saat-saat guru sejarahku berdiri didepan kelas dan menerangkan tentang Elang dkk yang terbunuh, ataupun orang-orang yang menghilang begitu saja di masa itu. Untuk Kak Morra, terimakasih telah mengangkat tema ini dengan penuh emosi. Dan aku akan selalu memberi seluruh stok jempolku untung pembawaan emosi yang selalu berhasil dibentuk oleh Kak Morra dari tulisan-tulisannya.

Aku sudah sering membaca novel-novel berlable 'sad ending', tetapi aku tak pernah ingin memilikinya. Semua novel berlable itu kubaca dari hasil pinjam atau pun googling book atau bahkan curi-curi baca ditoko buku. Tetapi novel ini telah menyelip diantara semua novel happy ending yang kupunya. Dan aku tak menyesal.

Aku hanya ingin mengatakan, bahwa aku akan selalu menunggu novel-novel karya Kak Morra selanjutnya. Dan aku harap, tak kalah cerdas dari novel ini ataupun FORGIVEN.
Profile Image for Nay.
Author 4 books86 followers
May 21, 2016
Novel yang indah. Ya ampun, sepertinya aku akan susah melupakan cerita dari novel ini. Tentang kisah cinta mahasiswa teknik elektro dan mahasiswi kedokteran gigi UGM. Tentang permusuhan dua kubu BEM fakultas. Tentang perjuangan sekelompok mahasiswa menggulingkan orde baru. Tentang mahasiswa-mahasiswa yang menghilang pasca tragedi Mei 98.

Ada beberapa bagian dalam novel ini yang membuat sesak. Jadi tolong jangan tanyakan padaku tentang endingnya. Aku menyukai ending seperti ini dan membencinya sekaligus. Tapi sungguh semuanya tampak masuk akal.

Sampai-sampai aku tak peduli dengan banyaknya (sangat banyak) kata-kata yang tak diberi spasi dalam novel ini dan tanpa ragu menyematkan bintang lima.

Bagi kalian yang ingin membaca kisah cinta yang istimewa serta perjuangan gigih mahasiswa di masa Orba, jangan lewatkan novel ini.
Profile Image for Nurul.
312 reviews38 followers
December 26, 2023
26/12/23

Kayaknya baca ulang novel ini setiap tahun udah jadi rutinitas bagi saya. This is one of my comfort books! Nggak sabar buat baca sequel-nya dari POV Nino hehe. Sebuah novel yang pas untuk dibaca di penghujung tahun.

-----
12/8/22

Baca ulang tapi yang cetakan terbarunya dengan ada satu bab tambahan. Terus dapet surat Nino juga dan akhirnya saya mutusin buat tambahin satu bintang lagi jadi solid 5/5. Buku ini bakalan saya re-read terus sih dan nggak akan ada bosannya karna sesuka itu (anyway ini review subjektif karna nggak tau kenapa bukunya ini sebenarnya sederhana tapi saya suka banget).

Rate: 5/5

------

Saya baca buku ini karna direkomendasi sama orang di twitter, dan kebetulan saya lagi suka baca novel lokal yang masih ada unsur peristiwa sejarahnya. Peristiwa sejarah di sini tentang demonstrasi mahasiswa Yogya tahun '98 di mana jadi perspektif baru bagi saya.

Saya lumayan kaget ternyata romance di sini dominan juga. Ya emang saya nikmatin banget juga karna saya suka karakter Nino-Nalia. Suasana kuliahannya juga berasa, penulis berhasil ngebangun latarnya karna dijelasin secara detail, walaupun ada beberapa hal yang kurang relate di saya karna mungkin latar tempatnya yang bukan di Jakarta kali ya.

Oh iya, awalnya ekspektasi saya itu Nino bakalan hilang dan nggak akan kembali lagi, eh ternyata dia balik lagi dong, kayak rada gimana gitu sebenernya. Terus, walaupun ending-nya realistis dan saya tipe pembaca yang lumayan suka sad ending tapi entah kenapa saya ikutan sedih mereka nggak bersatu. Dan sampai sekarang masih kebayang ending-nya itu

Terlepas dari semua itu novel ini layak dibaca dan bagus kok saya suka. Aku niatnya baca ini buat ngilangin book hangover setelah baca Laut Bercerita, eh malah book hangover ke sini dong :(

Rate: 4/5
Profile Image for Nurul.
312 reviews38 followers
August 15, 2022
Baca ulang tapi yang cetakan terbarunya dengan ada satu bab tambahan. Terus dapet surat Nino juga dan akhirnya saya mutusin buat tambahin satu bintang lagi jadi solid 5/5. Buku ini bakalan saya re-read terus sih dan nggak akan ada bosannya karna sesuka itu (anyway ini review subjektif karna nggak tau kenapa bukunya ini sebenarnya sederhana tapi saya suka banget).

Rate: 5/5

------

Saya baca buku ini karna direkomendasi sama orang di twitter, dan kebetulan saya lagi suka baca novel lokal yang masih ada unsur peristiwa sejarahnya. Peristiwa sejarah di sini tentang demonstrasi mahasiswa Yogya tahun '98 di mana jadi perspektif baru bagi saya.

Saya lumayan kaget ternyata romance di sini dominan juga. Ya emang saya nikmatin banget juga karna saya suka karakter Nino-Nalia. Suasana kuliahannya juga berasa, penulis berhasil ngebangun latarnya karna dijelasin secara detail, walaupun ada beberapa hal yang kurang relate di saya karna mungkin latar tempatnya yang bukan di Jakarta kali ya.

Oh iya, awalnya ekspektasi saya itu Nino bakalan hilang dan nggak akan kembali lagi, eh ternyata dia balik lagi dong, kayak rada gimana gitu sebenernya. Terus, walaupun ending-nya realistis dan saya tipe pembaca yang lumayan suka sad ending tapi entah kenapa saya ikutan sedih mereka nggak bersatu. Dan sampai sekarang masih kebayang ending-nya itu

Terlepas dari semua itu novel ini layak dibaca dan bagus kok saya suka. Aku niatnya baca ini buat ngilangin book hangover setelah baca Laut Bercerita, eh malah book hangover ke sini dong :(

Rate: 4/5
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Puput.
297 reviews145 followers
July 5, 2013
Satu efek dari baca novel ini: MERINDING.

Sebagai mahasiswi, walaupun ga pernah terlibat dalam acara-acara orasi atau demonstrasi, baca cerita kaya gini tuh emm apa ya namanya, kerasa banget semangat mahasiswanya. Kehidupan kampus teknik dan kedokteran yg beda banget itu juga bener banget, setiap aku ke fakultas teknik geologi di kampus, berasa banget out of place. Hahaha. Tokoh Nino juga bikin jatuh cinta banget ♥♥♥ Anak teknik, ganteng, kalem, pinter, siapa sih yg nolak?hehehehe.

Awalnya kurang suka sih, pace-nya lambat, kurang greget. Tapi setelah kejadian penembakan di FKG itu jadi menarik banget, apalagi kalau bener-bener bayangin kejadian 98, pasti deh di antara kita semua udah pernah belajar sejarah atau nonton video dokumenternya. Merinding, so I said earlier.

Ending-nya juga baguuuussss, bukan typical happy ending dimana Nino balik lagi sama Nalia. Walaupun mereka ngga bersama, pada akhirnya masing-masing saling bahagia. and I'm soooo happy Nino ends up with Ve! It's like they're destined to eventually end up with each other.

Kekurangannya... hm itu tadi sih, awalnya lambat, terus teknisnya banyak kata-kata yang ngga dispasi. Terus, kenapa judulnya Notasi ya? u__u
Profile Image for Luz.
1,027 reviews13 followers
December 4, 2021
Novel ini tidak hanya bercerita tentang cinta, jugá bercerita tentang sejarah dan kenangan pahit bangsa ini. Kisah cinta berlatar belakang tahun 1998 dengan keadaan negara yang masih belum stabil. Romansa di tengah hiruk pikuk pergolakan mahasiswa Indonesia.Saya suka kisah yang menunjukkan saya betapa kejam dunia, kisah yang menyadarkan saya bahwa semesta tidak selalu berjalan dengan apa yang saya harapkan, and it’s okay
Profile Image for Al Szi.
57 reviews4 followers
April 18, 2018
Aku tertarik sama buku ini ketika liat settingnya. Kisah cinta di taun 98 yg katanya indonesia sedang di puncak kekacauan. Karna dlu aku masih SD jd aku gatau banyak ttg kasus yg terjadi di taun itu. Juga aku gak tinggal di lokasi yg ramai sama pendemo jadi bener2 gak tau suasananya. Makanya aku tertarik sama buku ini. Pastinya kisah cinta tragis ttg mahasiswa yg diculik lalu hilang.

Itu ekspektasi aku doang ya. Dan ternyata nggak setragis itu. Dan ternyata ceritanya sesungguhnya lumayan bagus. Seandainya kedekatan Nalia sama Nino dibikin agak sedikit lebih lama. Maksudnya, hey, cuma dalam beberapa kali pertemuan mereka berani bilang cinta? Bahkan Nalia kenal siapa Nino lebih dalam aja belum. Tapi kayak mereka udah deket sejak lama. Dan sparksnya terkesan dipaksakan antara Nalia dan Nino. Tiba2 jatuh cinta aja. Udah.

Pinginnya ngasih 2 bintang untuk ide ceritanya, tp ada beberapa hal yg mengganjal pas baca. Seperti misalnya, pas aku lagi baca dialog2 mereka aku kok ngebayangin ada anak2 Nagini lagi ngobrol ya? Deskripsinya pasti bilang, "desis nino" "desisku" "desis faris" "desis Ve" dan bermacam desisan lagi yang mereka lontarkan.

Yang ke dua, banyak kalimat yang terpisah dari paragraf, membuat paragraf baru yang hanya satu kalimat itu bermaksud membuat penenakan (kali ya), tp justru jd aneh. Karena ada beberapa kalimatnya ga penting juga untuk dijadiin penekanan. Dan banyak typo juga. Gaya bahasanya berdialog juga campur aduk bikin gak nyaman. Terkadang mereka informal, tp tiba2 formal dan tiba2 pake bahasa baku. Gatel aja. Heuyueu

Yang ke tiga, alurnya yang sepertinya mau dibuat flash back, tp narasi di masa sekarangnya enggak terlalu ngena. Di tengah2 ada adegan masa sekarang, tp ga nambah apa2. Intinya cuma dia inget Nino kalau liat fakultas Teknik Elektro. Kan itu di awal2 udh dibahas. Padahal udah aja biarin flash backnya di awal aja, endingnya masa sekarang. Drpd diulang.

Yang ke empat, settingnya jogja tp entah kenapa enggak kerasa jogja. Udah itu aja.

Heuuuu jadi itulah kenapa bintangnya meredup. *tsah*
Profile Image for miaaa.
482 reviews419 followers
December 30, 2015
Best part of being a reader, you'd notice how certain author, especially when you read them since their first works, keep growing in writing department as much as your reading experince.

I'm no fan of physics or something like that, but Morra's stories and me, we're on the same wavelength!

***

Cerita di karya ketiga ini menarik, apalagi buat yang tidak merasakan sendiri bagaimana sejarah reformasi 98 terjadi. Yang kuingat di saat kerusuhan mulai menyebar di beberapa kota, saat itu aku baru lulus SMU dari salah satu sekolah swasta di Pematang Siantar, Sumatera Utara. Dan mayoritas siswanya keturunan Tionghoa.

Aku mulai merasa aneh ketika selesai upacara kelulusan teman-teman Tionghoa dijemput orangtua mereka, dan saat keluar dari kompleks sekolah jalanan hening dan aparat polisi serta tentara siaga sepanjang Jalan Sutomo dan Jalan Merdeka, dua jalan utama di kota itu.

Niatku untuk ikut UMPTN ke Yogya sempat ditentang bapakku atas alasan keamanan, walau sampai di Jakarta aku menerima kabar dari sekolah aku diterima di Univ. Brawijaya Malang. Ternyata salah satu teman keturunan Tionghoa juga berangkat ke Yogya, kupikir dia cukup berani saat itu.

Ada yang hilang tentunya dari generasiku dan seterusnya yang tidak mengalami sendiri suasana demonstrasi, diserang aparat yang seharusnya melindungi rakyat bukan menganiaya. Menurutku paling tidak aku cukup beruntung bisa melihat berubahnya situasi di Indonesia di era-era itu, tapi bagaimana dengan mereka yang lahir di tahun 90-an?

Beruntunglah Morra membuat kisah dengan latar belakang Reformasi 98 ini. Seperti biasa dengan caranya, dengan narasinya yang menarik, dan karakter-karakternya yang begitu hidup.
Profile Image for Alvi Syahrin.
Author 11 books728 followers
June 29, 2013
Akhirnya, saya menemukan novel favorit pertama saya di tahun ini. Saya suka sekali novel ini dan saya tidak segan-segan menyematkan bintang lima. Pertama, karena ide ceritanya yang nggak biasa. Saya benci pelajaran sejarah, tapi suka banget konflik reformasi itu, seru banget membayangkan mereka demo. Kedua, karena gaya bahasanya yang 'cerdas' dan enak dinikmati. Ketiga, karena suasana kuliahnya kerasa banget, dan nyata. Saya jadi pengin ke kampus terus rasa-rasanya. Btw, saya juga anak Teknik *penting*. Keempat, karena emosinya sampai ke saya. Kelima, karena... karena masih banyak hal-hal yang saya sukai dari novel ini dan saya kesulitan menjabarkannya karena ketika menutup buku ini, yang saya rasa adalah, "It was amazing."
Profile Image for Ifnur Hikmah.
Author 5 books13 followers
July 26, 2013
Notasi merupakan buku pertama yang dibaca oleh Reight Book Club untuk dibaca bulan Juli. Apa itu Reight? Silakan lihat di sini.
Notasi:
Rasanya, sudah lama sekali sejak aku dan dia melihat pelangi di langit utara Pogung.
Namun, kembali ke kota ini, seperti menyeruakkan semua ingatan tentangnya; tentang janji yang terucap seiring jemari kami bertautan.
Segera setelah semuanya berakhir, aku pasti akan menghubungimu lagi.
Itulah yang dikatakannya sebelum dia pergi.
Dan aku mendekap erat-erat kata-kata itu, menanti dalam harap.
Namun, yang datang padaku hanyalah surat-surat tanpa alamat darinya.
Kini, di tempat yang sama, aku mengurai kembali kenangan-kenangan itu….

Ini buku kedua Morra yang gue baca setelah Forgiven bertahun lalu yang bikin gue jatuh cinta pada gaya menulis Morra. Ada dua hal utama yang bikin gue langsung menetapkan buku ini sebagai must have read. Pertama, setting reformasi dan demonstrasi besar-besaran tahun 1998. Ketika kejadian itu terjadi, gue cuma bocah sembilan tahun di Bukittinggi sana yang enggak tahu apa-apa dan cuma menonton tv. Tapi gue tahu semua keluarga gue khawatir karena abang sepupu gue yang lagi kuliah di UI ikut turun ke jalan. Bertahun kemudian, gue mendengar sendiri cerita kengerian di jembatan Semanggi, enggak hanya dari abang gue, tapi juga dari bos gue waktu magang di humas FISIP, Mas Raymon. Ketika belajar sejarah pun, gue enggak pernah enggak nangis ketika membaca nama Elang. Ada masa di mana gue begitu menyukai sejarah—sampai sekarang insya Allah masih meski enggak terlalu—dan reformasi merupakan salah satu yang paling gue suka. Udah banyak yang mengangkat peristiwa ini ke dalam cerita dan gue penasaran gimana Morra mengemasnya ke dalam sebuah novel pop.
Kedua, radio. Semua yang kenal gue tentu tahu betapa sukanya gue sama radio. Bisa dibilang, Marconi itu idola gue karena udah nemuin radio. Waktu kecil, tv di rumah gue kurang bagus jadi gue males nonton tv. Ujung-ujungnya pergi ke radio. Ketika remaja, gue semakin dekat dengan radio dan punya banyak teman dari radio. Sekarang pun masih, meski enggak pakai radio lagi, melainkan streaming. Tapi, gue yakin sampai kapan pun radio akan selalu menyertai gue.
Dan ketika kedua hal ini digabung jadi satu, gue makin semangat membaca buku Morra. Ditambah dengan Forgiven yang bikin gue berdecak kagum.
1. First impression
Kesan pertama gue: two thumbs up for cover. Gambar radio itu bikin gue inget radio butut papa yang meski udah rusak masih enggak mau dibuang, hihi. Ada yang bikin gue penasaran, kenapa harus ada kuda mainan? Well, setelah dibaca, gue ngerti makna kehadiran kuda itu. Cover yang cantik bukan hal aneh lagi buat Gagas Media. Kapan sih cover novel Gagas biasa-biasa aja?
2. How did you experience the book?
Terhitung udah bertahun-tahun gue baca Forgiven jadi gue agak lupa dengan cara menulis Morra. Tapi gue ingat banget gue menyukainya sejak dari awal. Gue berharap bisa ngerasain pengalaman yang sama seperti waktu baca Forgiven.
Nyatanya, beda banget. Bagian awal terlalu deskriptif. Detail sedetail-detailnya, seakan-akan di depan kita tuh ada peta UGM lengkap. Bagus sih, cuma gue kurang sreg. Gue suka cerita yang sejak awal kita tuh udah diajak terjun langsung ke dalam kasusnya, jadi ketika opening lama banget, gue jadi sedikit turn off.
Tapi gue yakin Morra enggak akan ngecewain. Gue bertahan dan yup, I’m right. Perlahan-lahan gue menikmatinya dan mencintai buku ini. Ketika suasana demonstrasi digambarin dengan detail, gue enggak complain karena Morra berhasil menggambarkan kegetiran, kemarahan, dan kesedihan di masa itu.
3. Characters
I love Nino. Di balik sikap tenang dan misteriusnya, Nino mampu membius pembaca. Nino enggak perlu banyak omong untuk bikin orang menyukainya.
Nalia is gengges. Entahlah, gue enggak suka sama dia. Ketika Nalia bilang dia kekasih Nino, gue cuma bisa menanggapi dengan rolling eyes. Come on, satu ciuman bukan berarti lo udah jadi pacarnya Nino ya, Nalia.
Satu lagi, gue selalu kebolak baca namanya Nalia jadi Naila.
Tokoh lain seperti Faris, Ve, Farel, Zee, Tengku, Lin Lin, dan lain-lain porsinya udah cukup pas meski gue penasaran dengan Ve dan Nino hihi.
4. Plot
Morra juara dalam bikin plot meski di awal gue agak tersendat karena terlalu lama. Chemistry antara Nino dan Nalia terbangun dengan soft tapi ya itu tadi, gue ngerasanya begitu lama. Dari awal sampai akhir Morra menuliskan ceritanya dengan tempo yang lama. Buat yang suka grasa grusu, well, ini agak menantang nyelesainnya, hehe.
5. POV
Morra gunain POV orang pertama. Terberkatilah Morra yang berbaik hati memberi tahu kita sekelumit kehidupan Nino setelah pisah dari Nalia melalui surat-suratnya. Gue suka bagian surat ini. Cuma, narasi Morra enggak terlalu sreg buat gue. Gue enggak ngerti kenapa gue enggak terlalu suka gaya bercerita Morra yang kayak gini.
6. Main Idea/Theme
Seperti yang gue bilang di opening di atas, gue suka main idea yang ditawarkan. Reformasi dan radio. Dua hal ini cukup bikin gue harus baca buku ini. Kisah cinta enggak terlalu menonjol menurut gue meski katanya ini kisah cinta. Gue lebih suka kisah demonstrasi dan reformasi, juga peran penting radio di sana.
7. Quotes
Berhubung gue baca novel ini pas lagi di jalan dari dan ke kantor, gue enggak terlalu nandain kalimat yang quoteable. Tapi gue mencatat satu yang gue suka. Kalimat Tan Malaka di opening bagian 1. Kalimat ini bikin gue ingat biografi Tan Malaka yang disuruh bokap baca tapi gue anggurin sampai sekarang, hehe.
“Padi tumbuh tidak bersisik.”
Seperti Nino yang tenang tapi menggigit. Seperti padi yang tahu-tahu udah gede aja.
8. Ending
Gue penyuka ending realistis. Bagi gue, enggak ada sad ending dan happy ending. Yang ada cuma ending realistis dan ending maksa atau mengada-ada. Notasi, untungnya, memilih ending realistis. Seperti Forgiven yang realistis juga.

Selain masalah tempo, hal paling mengganggu ketika baca buku ini adalah typo. Bo, itu ya spasi antarkata suka kelewat dan banyaaaakkkkk banget. Gue sampai pengin jedotin kepala ke dinding saking banyaknya. Moga next time cetakan selanjutnya dibenerin ini ya. Ganggu, sumpah.
Overall, I love this book meksi gue masih lebih memuja William Hakim dan Forgiven. Tapi, jika ada novel Morra selanjutnya, gue akan tetap baca karena pertemuan pertama gue dengan Morra, melalui Forgiven, itu enggak akan bisa gue lupain.

PS: Ada satu hal yang pengin gue tanyain kalau bisa ngobrol sama Morra: itu peran Eross Chandra di novel ini beneran enggak sih? Eross memang dari Yogya sih. Selain itu, gue juga pengin nanya, apa Morra sendiri juga ikut demonstrasi sehingga bisa ngegambarin sedetail ini. Soal Swaragama, mungkin nanti berpuluh tahun kemudian ada yang baca buku ini karena butuh referensi soal sejarah berdirinya radio tersebut. Oh, belajar sejarah reformasi juga bisa.
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book267 followers
June 8, 2013
suatu hari aku akan kembali


Nalia, mahasiswi Kedokteran Gigi UGM tidak menyangka jika kedatangannya sore itu ke Fakultas Teknik akan mempertemukannya dengan Nino, salah satu mahasiswa Teknik Elektro. Sore itu dia datang untuk mengajukan penawaran iklan kegiatan BEM Fakultas Kedokteran Gigi untuk disiarkan lewat radio mahasiswa buatan anak-anak Elektro, Jawara FM. Sayangnya harga yang terlalu mahal membuat Nalia mengurungkan niatnya. Masih ada stasiun radio mahasiswa lainnya, di D3 Teknik Elektro. Sayangnya ijin siaran radio di D3 itu sudah dicabut oleh dekan. Nalia bukannya tidak menyadari di balik semua ini ada persaingan antar fakultas untuk memperebutkan kursi Presiden BEM universitas. Farel, mahasiswa Teknik Elektro adalah saingan berat Tengku, sahabatnya di Kedokteran Gigi.

Tetapi persaingan itu tidak berlangsung lama. Saat itu tahun 1998, masa dimana mahasiswa sedang melakukan pergerakan menentang rezim Orde Baru. Adanya serangan dari aparat tidak dikenal ke dalam kampus yang menembakkan peluru karet mempersatukan para pengurus BEM di UGM. Hal yang sama juga membuat Nalia dan Nino semakin dekat. Tidak ada kata cinta yang terucap, tapi Nalia tahu perasaannya kepada Nino adalah perasaan sama yang dimiliki Nino kepadanya.

Demonstrasi semakin membesar, disusul kerusuhan yang mengakibatkan ada mahasiswa tewas, dan tidak sedikit yang menghilang. Jalan-jalan dari bunderan UGM hingga ke Malioboro dipenuhi oleh mahasiswa. Sumpah mahasiswa terdengar dimana-mana, memberikan semangat bagi mahasiswa untuk melawan ketidak adilan.

Namun, peristiwa itu juga yang membuat Nino harus pergi dari Jogja meninggalkan Nalia, dengan satu janji yang terus berulang diucapkan Nino, bahwa dia akan kembali menjumpai Nalia. Tahun berganti, suasana di Jogja mulai pulih. Jawara FM mendapatkan izin resminya dari Departemen Perhubungan. 98,45 Swaragama FM, radio pertama yang diusung oleh mahasisawa. Kehidupan kembali berjalan normal, tapi tidak dengan hati Nalia. Dia terus menunggu di pelataran kampus Grafika.

——–

Kalau kamu berharap ada romansa yang mengharu-biru di buku ini, saya bisa bilang kamu tidak akan mendapatkannya. Saat membacanya saya sendiri tidak fokus dengan kisah antara Nino dan Nalia. Lewat buku ini saya justru seperti merasa ditarik kembali ke masa-masa tahun 1998 (padahal saya sendiri datang ke Jogja untuk pertama kalinya tahun 2000). Tahun 1998, saya masih di asrama mahasiswa di Malino, 60 km jauhnya dari kota Makassar. Yang saya ingat pada saat itu adalah selama beberapa bulan saya tidak boleh keluar dari asrama karena perawakan wajah saya yang kata guru saya mirip orang Cina. “Nanti kamu ikut diganyang di Makassar”, kata beliau saat itu. Dari layar TV saya tahu ada demonstrasi besar-besaran yang diusung oleh mahasiswa untuk menurunkan rezim Orde Baru. Dua tahun kemudian, dari cerita teman kost saya yang sudah lebih dulu di Jogja, saya tahu betapa susahnya kehidupan mahasiswa di Jogja saat itu, dan bagaimana ketika akhirnya nuansa perjuangan kembali hadir di Jogja waktu itu.

Selain serasa menaiki mesin waktu, ilustrasi di dalam buku ini membuat saya juga seperti dibawa menelusuri sudut-sudut kampus yang saya kenali. Apalagi saya yang kuliah di Biologi, sedikit banyak tahu tentang Fakultas Teknik dan Fakultas Kedokteran Gigi yang tidak lain tetangganya Fakultas Biologi. Tidak ketinggalan Swaragama FM, stasiun radio yang selalu membuat kangen Jogja, dan membuat saya juga berucap “suatu hari aku akan kembali” ketika meninggalkan Jogja di tahun 2005 (dan ya… saya sudah kembali).

Terlepas dari banyaknya typo dalam buku cetakan pertama ini, Notasi dengan sampul dan bookmark yang keren sudah membuat saya lebih cinta lagi pada UGM dan Jogja. Tidak berlebihan kalau saya mengatakan anak UGM harus baca buku ini. Dan mungkin sesudahnya kamu juga akan berkata dalam hati, “suatu hari aku akan kembali”
Profile Image for ama ૮ • ﻌ - ა.
128 reviews14 followers
March 14, 2022
bukunya. seru. banget.
romance dapet, sedih dapet, segi historisnya juga dapet.

move to segi historisnya, latarnya yang di tahun 1998, dengan banyak adegan pergerakan mahasiswa, mulai dari pembelotan mahasiswa dengan siaran radio ilegal sampai demonstrasi menuntut turunnya si bapak presiden kala itu. semuanya dijelasin dengan detail. banget. oh iya! sama latar tempatnya juga dideskripsiin dengan detail banget, mulai dari kampus teknik tahun 90'an, jalan Gejayan, Bulaksumur, kampus kedokteran dan daerah daerah lain di deket UGM menarik pembaca untuk ikut hidup di dalam hiruk pikuk kisah nalia dan nino. aku paling suka adegan demonya, detail, seru dan bikin merinding banget!!


romancenya jujur nggak menye menye, gemes, sedih dan lucu. tentang nino, anak teknik elektro yang ketemu sama anak FKG bernama nalia. kisah mereka tumbuh di antara konflik kedua BEM Fakultas mereka. tapi they made it. sampe akhirnya, zaman memisahkan mereka. tuntutan zaman untuk memerdekakan kebebasan dan memerdekakan diri dari pemerintah otoriter akhirnya memisahkan mereka. MESKIPUN ENDINGNYA GITU tapi menurutku endingnya oke (CUMA NINO COULD DO BETTER SIH!!).


tapi sayang, ada banyak salah penulisan yang jujur ganggu wkwk. aku nggak tau itu typo atau karena biar marginnya sejajar aja tapi banyak salah penulisan...

im not gonna lie that this book needs more regocnition, this book indeed deserves the mega hype just like what laut bercerita have!
Profile Image for Alle.
20 reviews
February 7, 2021
Ini adalah buku bergenre historical fiction pertama yang saya baca, dan nyaris membuat puasa pertama saya batal😵
Butuh banyak kesabaran dan ketabahan hati saat membaca buku ini. Terutama saya baca buku sewaktu puasa. Elus dada berkali-kali. Merinding.

Buku ini ditulis dengan alur campuran. Bercerita tentang kisah hidup Naila di masa sekarang dan di masa lalu saat Naila masih kuliah. Tepatnya di masa orde baru yang sedang panas-panasnya. Banyak sekali cerita tentang pemberontakan dan demo para mahasiswa yang ingin Suharto mundur dari jabatannya. Dan Naila terlibat dalam demo tersebut.

Tidak hanya tentang demonstrasi, buku ini, menurut saya, pada intinya membahas tentang kisah asmara Nalia dan Nino yang diselingi dengan cerita di masa orde baru.
Buku ini memberi pengetahuan dan membuka mata orang-orang yang membacanya tentang apa yang terjadi di masa itu.

Sekarang hanya sedikit remaja yang suka membaca atau ingin tahu tentang apa yang terjadi di Indonesia di masa lalu. Dan buku seperti ini sangatlah membantu para generasi muda untuk tahu tentang apa yang terjadi di masa lalu dan bisa dijadikan pelajaran. Penyajiannya jelas berbeda dengan buku pelajaran sejarah di sekolah. Lebih menarik dan lebih mudah dimengerti.
Profile Image for Biru.
103 reviews
August 7, 2023
Wow, the feels are so intense. I get why people end up disliking Nino after reading this book.

Surprisingly, this book does lean more towards romantic love, while I initially thought it would get into some real complex issues. But overall, I dig the storyline and how the author mixes romance with history. On the other hand, I feel there's still some stuff that needs clarifying 'cause it's kinda 'incomplete'.
Profile Image for Shanifiction.
221 reviews70 followers
September 4, 2023
Bagus sih tapi gak yang bagus banget kalau buat aku.
Aku kurang suka romance-nya, kaya insta love gitu. Terus aku juga kurang cocok sama gaya bercerita penulisnya, makanya pas di awal lambat banget bacanya.

Baca ini karena tertarik sama latar waktunya tahun 1998. Nuansanya dapet!
Sayangnya aku ngerasa ceritanya tuh terkesan buru-buru diakhiri.
Profile Image for Delviy Jacob.
175 reviews15 followers
December 1, 2017
I know it is too late.
But babe, Great story. Oh, It touched me so much. Reading this book feels like i'm on a rollercoaster. Begitu banyak rasa yg timbul dan 'mengaduk-aduk' hati.
Tiga. Tiga alasan yang membuatku tidak memberikan bintang lima karena :
1. terlalu banyak typo (tidak ada spasi di antara kalimat yg seharusnya terpisah.)
2. Ending yang tidak sesuai harapanku (ah aku benci ketika pendapat subjektif ku lebih besar dari pendapat objektif ku). Walaupun begitu harus saya akui, ending yang diberikan mbak Morra adalah ending yg semestinya.
3. Cukup banyak 'kata berulang' (misalnya waktu-waktu). Dibanding typo tadi kata berulang ini sedikit menggangguku.

Ini kali kedua saya membaca buku mbak Morra dan seperti yg pernah saya bilang, saya sangat menyukai gaya menulis beliau. Cara dia mendeskripsikan setiap momen, tempat, suasana dan segala sesuatunya. Beautiful dan sangat detail. Itu akan menjadi salah satu penulis dengan writing style favorit.
Aku setuju dengan salah seorang teman yang pernah bilang kalau karya Morra Quatro itu anehnya terasa real. Yap, I admit it. This is fiction,right, tapi semua adegan yang terjadi terasa begitu real. Seperti tidak membaca sebuah karya fiksi saja. ^^

Apalagi di Notasi ini bersetting tentang tragedi 98. Awalnya sulit untuk membayangkan bagaimana bisa sebuah kisah cinta dipadukan dengan tragedi tragis yang menjadi sejarah bangsa. Belum lagi setting waktu di tahun 1998. Sulit rasanya membayangkan masa dimana zaman belum berkembang seperti sekarang.
In fact, justru karena bersetting pada tragedi 98 -lah yang membuat kisah romance di buku ini tidak biasa dan begitu real. Ah, saya sangat penasaran riset seperti apa yang dilakukan mbak Morra sampai bisa menghasilkan karya seperti ini.

Karakter favorit aku pastinya Nino. Kind of boyfriend material-banget. Cerdas. Apa adanya. Care. Berprinsip kuat pada kebenaran.
Nino. Nino.
Ah, aku suka Nino. Suka karakternya. Suka surat-suratnya.
Selain Nino, aku juga menyukai karakter Nalia. Smart and strong. Kind of independen girl.

Well, ide cerita yang bagus dan unik. Karakter tokoh yang memorable. Plot dan twist yang apik. Apa lagi?

Buku ini sesuatu buat saya. Sangat jarang ada buku yang bisa menyentuh pembacanya sampai begitu dalam. Dan buku ini adalah salah satu yang bisa. Jujur, saya tidak terlalu interes dengan sejarah tapi buku ini membuatku mau menggali sejarah dan juga suka dengan Teknik Elektro. Keren.

*spoiler alert
Seperti yang sudah saya bilang di awal ini adalah buku dengan ending yang tidak sesuai dengan hati saya. Tapi menurutku itu adalah ending yang pantas. Sangat pantas terutama untuk Ve. ;)
Dari buku ini saya jadi belajar bagaimanapun jila memang bukan jodoh, ada saja dari tingkah kecil kita yang membuat kita akhirnya berbeda jalan dengan seorang yang kita inginkan hingga akhirnya benar-benar tidal bertemu.

I have to read the other books of Morra Quatro.
Profile Image for Bunga Mawar.
1,356 reviews43 followers
October 26, 2024
Mengingatkan kembali sistem peratingan di Goodreads:

⭐1 - tidak suka (bukan tidak bagus)
⭐2 - lumayan (bukan jelek, bukan suka)
⭐3 - suka (perihal selera, bukan masalah kualitas)
... dan seterusnya

Hampir sekali saya kasih buku ini bintang 1 bukan hanya karena memang gak suka dgn penyajian narasinya (subjektif banget memang), tapi terutama karena secara objektif cukup banyak sajian kesalahan fakta di dalamnya.
Sayang banget, padahal editor buku ini ada dua orang (halo, Kak Aveline!✌🏻) dan, data serta fakta seputar gerakan Reformasi 98 ini masih sangat berlimpah. Para pelakunya pun masih banyak yang hidup dan semestinya bisa dijadikan sumber.

Nanti saya paparkan beberapa fakta melenceng yg saya temukan. Tapi nanti, entah kapan.

Lagipula ini buku fiksi. Roman kisah kasih tak sampai yang menceritakan sepasang mahasiswa UGM beda fakultas, yang kebetulan memasang latar gerakan reformasi tersebut, diceritakan secara kilas balik. Jadi ini bukan buku sejarah yang harus faktual, tajam, terpercaya.
Diambil sisi hiburannya aja. Misal tentang kemunculan kuda secara mendadak di malam hari, atau tebak-tebakan tentang kantin kampus, pohon jambu biji, dan [perkarangannya].


Bintang buku ini bisa 2, naik jadi "lumayan" semata karena saya menjalani dunia romantika kampus seputar tahun 97-99 yg dikisahkan secara kilas balik dalam buku ini. Lumayan, bisa bernostalgia mengingat si dia saat itu yg mungkin kini tidak lagi mengingat saya 😄

Saya sedang agak bersemangat mengingat kembali hal-hal yang saya rasakan saat membaca buku ini, agar jika punya waktu luang nanti saya bisa "berargumen", atau begitulah harapannya 😁

Jadi curhatan ini masih akan bersambung.
Profile Image for Jee Jee.
Author 11 books22 followers
September 26, 2013
"... rumah yang akan kita beli dengan angusran dari seseorang yang sudah bosan tinggal di Jalan Kaliurang. Sebuah fiat lama, atau Peugeot tahun sekian yang akan kubeli second. Seeekor golden-retriever yang akan kita bawa berjalan-jalan di bulevar saban Minggu. Mungkin dengan stroller berisi bayi laki-laki. Atau perempuan, aku tak terlalu peduli. Aku akan mengajar di universitas swasta, bukan menjadi offshore-engineer seperti yang dicita-citakan ayah (karena itu aku membayangkan angusran rumah dan mobil second tadi), agar aku tidak perlu terlalu sering meninggalkanmu." -halaman 246, Notasi

Ini part yang ngebuat air mata saya nggak kebendung.

Saya langsung ngasih bintang lima untuk novel pertama Mbak Morra yg saya baca.

Notasi.. Hmm...
Jelas2 baik Nino maupun Nalia dapat 'rumah' mereka masing2. Tapi justru di sinilah yang ngebuat saya nangis sampai mata merah dan muka berasa tebel.

Notasi ngajarin saya tentang bahwa yang selama ini kita inginkan, kita tunggu nggak selamanya akan berbuah bahagia. Takdir punya caranya sendiri yang bekerja di sini.

Lagi2 untuk ke sekian kalinya saya jatuh cinta dengan sosok fiksi di sebuah novel. Dan kali ini Mbak Morra mempertemukan saya dengan Nino.
Nino yang pendiam. Nino yang memiliki senyum hangat. Nino yang pandai namun tak menonjolkan kepandaian itu secara blak2an di antara teman2nya. Nino yang tenang. Nino yang terlalu sederhana dan... ngebuat saya bertanya, kenapa saya harus jatuh hati sm sosok Nino di sini? Saya hanya mendapati sekujur tubuh saya menghangat ketika ada Nino di dalam sudut pandang Naila.
Terima kasih Mbak Morra atas Notasi-nya :)
Profile Image for Sinta Nisfuanna.
1,030 reviews64 followers
December 21, 2015
Notasi termasuk #timbunanbuku terbitan gagasmedia yang saya pertahankan, alasannya karena penulis menampilkan latar tragedi Mei 1998 dalam sebagian plotnya. Yea, novel se-roman apapun akan kupertahankan dalam timbunan, asalkan ada unsur sejarah di dalamnya.

Mungkin roman dalam Novel karya Morra Quatro ini tidak akan terlalu menarik bagi saya, jika tidak ada unsur sejarah dan latar belakang kampus teknik di dalamnya. Penuturan deskripsi kehidupan kampus tekniknya berhasil membuat saya kangen dengan masa kuliah. Keamburadulannya, kecuekan, keberanian, sarat tugas, kesetiakawanan, rasanya semua digambarkan dengan baik oleh penulis.

Selain itu, poin yang juga saya suka adalah bagaimana penulis menuturkan kisah cinta antara Naila dan Nino tanpa tergoda untuk mendominasi alur. Penulis tidak menghabiskan lembar-lembar buku dengan cerita cinta yang dituturkan dengan klise. Pertemuan Naila dan Nino selalu terasa sederhana tapi manis. Tidak mengumbar kata tapi dalam.

Pemilihan penutup kisah Naila dan Nino juga terbaik #gayaBoboiBoy dan sepertinya kisah Notasi akan membekas dalam waktu lama, terutama bagi saya. Sssttt.. satu lagi satu lagi, efek yang ditimbulkan novel ini adalah saya ingin punya radio lagi!!
Profile Image for Tiara Orlanda.
201 reviews18 followers
June 2, 2013
i love this book !
Berangkat dari cover , suka parah sama warnanya, gambarnya, teduh. Cuma masih belum ngerti kenapa dkasih judul NOTASI.

Suka sama isi cerita buku ini. Karakternya, temanya, suka ! Buku ini ngebahas kerusuhan Mei, 15 tahun lalu. Jujur saja, belum pernah baca novel terbitan gagasmedia yang membahas topik ini. Baca buku ini bikin aku ikut menggebu-gebu terbawa semangat mahasiswa dan para demonstran lainnya. Ikut merasa takut, membayangkan suasana mereka waktu itu. Buku ini bikin aku tau tentang masa-masa itu. Pintar :)

Nangis dong, waktu part tengah ke ending. Dan paling gak suka sama endingnya. Unpredictable. Bagaimana bisa tiba tiba Nino sama-sama Ve. Tapi seandainya saat itu Nalia meninggalkan Faris, malah gak make sense.
aaa galau ya :D

Ahya, typo nya lumayan banyak. Banyak kata-kata yang gak pake spasi. Overall, i love this book.
Profile Image for Maddy.
106 reviews2 followers
June 3, 2023
Definisi nyesek tapi realistis, karena sesungguhnya apa yang kita harapkan ngga selamanya akan jadi kenyataan kan? 🙂

Agak beharap bisa lebih digali lagi soal motivasi Nalia ikut aksi, ya mosok cuma karena Nino?

Selain itu masih kurang jelas juga soal alasan Nino ngga pernah nemuin Nalia lagi padahal Nino sempet balik lagi buat lanjutin kuliah di UGM dan Nalia masih tinggal di Jogja (kayanya).

Other than that, aku suka sama karakternya, mudah untuk merasa relate, dan latar UGM-nya emang kerasa dekat banget. Jadi bisa ikut membayangkan keadaan di saat itu. Latar soal aksi 98-nya emang ga terlalu banyak dan detail, tapi menurutku udah cukup sih.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Rossa Imaniar.
221 reviews5 followers
October 30, 2024
“Bahwa saat-saat istimewa dalam hidup kita selalu datang tanpa peringatan. Serignnya kita tidak sadar ada saat-saat dalam hidup yang kemudian akan menjadi momen yang spesial, meskipun itu sedang berlangsung. Serignnya, kita justru menyadarinya setelah semua berlalu.”

“Aku tahu ketakutan kita memang seringkali selalu lebih besar daripada apa yang kita takutkan itu sendiri.”

“Kami mahasiswa Indonésia, bersumpah, bertanah air satu; tanah air tanpa penindasan.
Kami mahasiswa Indonésia, bersumpah, berbangsa satu; bangsa yang penuh keadilan.
Kami mahasiswa Indonésia, bersumpah, berbahasa satu; bahasa tanpa kebohongan.”

“Tapi, bila revolusi tidak terjadi hari ini, pasti akan terjadi suatu saat nanti. Dan pada saat itu kelak, pertumpahannya, harga yang harus terbayar akan jauh lebih mahal.”

Novel ini terbit pertama kali di tahun 2013, yang entah kubeli di tahun berapa, yang akhirnya menjadi salah satu TBR-ku. Dan aku baru sempat membacanya di tahun ini—2024, di mana penulis juga sudah membuat sekuelnya di tahun ini berjudul ‘Serenada’.

Menurutku novel ini tergolong novel ‘Young Adult’, yang menceritakan tentang kehidupan beberapa mahasiswa UGM. Tentang kisah asmara, tentang permusuhan antar fakultas. Dan yang menarik, novel ini mengambil latar di masa Orde Baru—lebih tepatnya menjelang akhir masa Orde Baru.

Melalui tokoh Nalia, Nino, Tengku, Farel, Veronika, dkk. penulis mencoba memberikan secuil gambaran tentang peristiwa di masa lalu, di tahun 1998. Tentu kalian tidak asing dengan kejadian di tahun itu.

Di mana banyak mahasiswa yang terjun untuk berdemonstrasi demi menggulingkan pemerintahan Presiden Soeharto. Peritiwa 1998, yang tidak akan pernah kita lupakan dan menjadi bagian dari catatan kelam sejarah Indonésia.

Mengingat peristiwa itu melalui novel ini, terus terang saja membuatku merasa sesak. Betapa mereka yang gugur, dan mereka yang hilang hingga hari ini tanpa kabar, mereka mengorbankan diri demi membayar kebebasan kita hari ini dari pemerintahan Orde Baru yang otoriter.

Lagi-lagi aku tidak bisa membayangkan jika harus menjadi bagian dari mereka, para mahasiswa yang berjuang kala itu. Sesak rasanya. Bahkan ketika menulis review ini, aku masih menangis.

Betapa sadisnya peristiwa kala itu. Mereka harus menerima kekerasan, baik fisik maupun mental. Siapa pun yang tidak berpihak pada pemerintah di masa itu, berpotensi untuk di bunuh. Mereka diculik dan hilang tanpa kabar. Aku benar-benar tidak bisa membayangkannya.

Terima kasih untuk penulis sudah mengangkat tentang issue politik 1998. Yang bisa menjadi pengingat bagi kita akan perjuangan para mahasiswa yang berjuang menggulingkan pemerintahan Orde Baru.
Terima kasih untuk semua pejuang kala itu, kalian akan selalu abadi dalam ingatan kami.

5/5 🌟
Novel ini sangat rekomen buat kalian baca. Tidak hanya menyuguhkan kisah romansa dan kehidupan anak kampus. Lebih dari itu, novel ini juga membawa secuil kisah sejarah tentang tragedi 1998.
Profile Image for Zelviaaa Aris.
60 reviews6 followers
not-dnf-yet
February 29, 2024
100 halaman pertama dan aku masih ga mampu buat “connect” ke chemistry Nalia dan Nino.
1. Adegan Nalia dan Nino di pinggir jalan dekat mobil. Ada bayangan mendekat, isi kepala Nalia katanya takut sama Petrus (penembak misterius) tp kok pas udah di depan Nino dia bilang takut itu ternyata setan(?). Dan pas bayangan tsb hilang (yg trnyata kuda) lalu mereka berdua ketawa, itu… cringey banget. Sorry
2. ⁠Kedua kalinya Nalia Nino bertemu. Nalia dtg ke fak Teknik utk ngasih undangan. Singkat cerita, Nalia tanya ke Nino ada apa di ruang kelas yg ramai2 itu (dan kenapa Nino terlihat emosi), Nino ajak Nalia utk pergi dr situ kalau mau dnger ceritanya, dan Nalia mau… padahal jelas2 di narasi berkali2 diinfoin fak mereka itu bermusuhan, sahabat mreka musuhan (persaingan calon presbem), dan Nalia jelas blm kenal Nino. Baru ketemu 2x, dan zaman dlu (sekali lg diinfokan di narasi) jogja masih sangat sepi. Ga takut kah sama cowo baru dikenal? Diajak ke tmpt jauh jalan kaki? Walau trnyata ke burjo doang.
3. ⁠Banyak paragraf yang menurutku sebenarnya itu penjelasan sambungan dr paragaraf atasnya tapi kenapa malah dibuat baris baru? Apa buat penekanan aja? Tp kayanya malah aneh deh, soalnya inti kalimatnya sama aja.
4. ⁠Narasi penjelasannya selalu berputar di “fak kami bermusuhan”, “fak teknik suram”, “fak kedokteran dianggap banyak uang”, “Nino tenang dan tidak membenciku”, “aku nyaman bersama Nino”, udah berputar di situ2 aja. Aku ga nemu alasan di balik nyamannya tuh apa? Kok kaya dipaksain bgt..
5. ⁠Banyak typo dan banyak kalimat gak pake spasi. Padahal aku beli versi cetak terbaru.. apa gak dicek ulang sebelum cetak? Apa cuma ubah cover aja??
Profile Image for Sulis Peri Hutan.
1,056 reviews298 followers
August 21, 2014
Agak sulit mau memulai darimana saya akan bercerita, buku ini adalah buku ketiga yang saya baca dua hari terakhir ini, dalam rangka maraton buku baru yang datang kemaren, saya sudah tidak sabar ingin membacanya. Buku terakhir setelah Restart dan Bangkok yang entah kenapa saya langsung ingin menuliskan reviewnya. Saya jarang langsung menulis review setelah membaca, yang seharusnya sangat tepat dilakukan karena masih teringat jelas isi yang habis kita baca, biasanya saya akan langsung memulai membaca buku lain yang ada ditumpukan timbunan. Salah satu kebiasaan jelek saja.

Dari pengalaman membaca buku-buku mbak Morra sebelumnya, saya sama sekali tidak menyukai ending yang dia buat. Buku pertama; Forgiven selesai menutup pengen saya tendang, buku kedua; Believe, ingin saya sobek bagian epilognya. Perlu tahu saja, saya team penyuka happy ending garis keras, hahahaha. Bukan berarti semua bukunya berakhir sad ending, tergantung darimana kita melihatnya. Tapi anehnya saya tidak pernah memberikan sayap dibawah tiga dan selalu menunggu karya-karya selanjutnya. Rasanya seperti makan kripik maicih level sepuluh, kita tidak kuat akan pedasnya tapi akan selalu mencari dan sedikit demi sedikit menghabiskannya.

Buku ini kebanyakan bersetting di Jogja pada tahun 1998, tahun orde baru meledak dan lengsernya kepemimpinan presiden Suharto. Buku ini juga bercerita tentang sejarah berdirinya radio Jawara FM, yang kita tahu atau orang-orang yang pernah dan sedang bermukim di Jogja sekarang mengenalnya dengan radio Swaragama FM.

Cerita diawali dengan Nalia dan tunangannya, Faris, berkeliling kampus UGM, Nalia memintanya untuk melewati fakultas teknik, fakultas di mana pernah ada seseorang mengambil salah satu jurusan di fakultas itu, seseorang yang tidak pernah ia lupakan, seseorang yang selalu ia tunggu kabarnya. Cerita kemudian beralih ke tahun 1998, ketika di mana demontrasi besar-besaran akan dimulai.

Nalia adalah seorang mahasiswi kedokteran gigi, bersama temannya Zee, mereka memberanikan diri melangkah di jurusan teknik elektro untuk memasang iklan kegiatan yang akan dilakukan jurusan mereka di radio Jawara FM, radio milik mahasiswa teknik elektro. Kedatangan mereka tanpa hasil, dengan pandangan sinis orang-orang di dalamnya (kecuali satu orang), mereka berkata kalau mahasiswa kedokteran itu kaya raya, jadi tidak ada masalah kalau ada kenaikan ongkos bayar iklan, beda dengan mahasiswa teknik yang anggarannya harus dibagi dengan delapan jurusan di dalamnya, selain itu teman mereka juga dalam persaingan memperebutkan kursi presiden BEM. Lalu mereka beralih ke radio kampus lainnya, radio Gama, tapi tanpa hasil juga, alasannya bukan karena biaya tapi saat itu semua media baik cetak ataupun verbal dipantau oleh pemerintah, baik radio Jawara ataupun Gama belum mendapatkan ijin resmi, bisa dibilang selama itu kedua radio tersebut mengudara secara illegal.

Dalam proses tersebut, dalam riuhnya kegiatan kampus, Nalia dan Nino menjadi dekat. Nalia tahu Nino berbeda dengan teman-teman lainnya yang selalu sinis dengan mereka, yang selalu mengganggap musuh, dia pendiam, lebih tepatnya mereka sama-sama tidak pandai dalam berbicara tapi anehnya mereka merasa nyaman satu sama lain. Puncak kedekatan mereka adalah ketika seluruh mahasiswa yang ada di Indonesia bersatu, berdemonstrasi untuk mendapatkan keadilan, menuntut agar presiden Suharto turun dari jabatannya selama berpuluh-puluh tahun. Nalia menawarkan diri menjadi penyiar sukarela di Jawara demi memberikan informasi keadaan masa itu, di mana tidak ada lagi perselisihan, semua bersatu dalam visi misi yang sama, Nalia rela memanjat pagar rumahnya demi mengikuti demo bersama teman-temannya, demi ada di dekat Nino, demi mengetahui kondisinya. Setelah huru hara mereda, dia tidak pernah bertemu dengan Nino lagi, lelaki itu hanya mengiriminya surat tanpa alamat untuk bisa dibalas dan berjanji, “Suatu saat aku pasti akan kembali, Naila.”
Nino itu padi yang sedang tumbuh.
Dan padi yang sedang tumbuh tidak berisik.
Seperti itulah ia.
Saya tidak berharap banyak akan endingnya, yeah dari dua pengalaman sebelumnya, bukan saya spoiler loh, sudah saya bilang di awal tergantung dari kacamata masing-masing. Alasan kenapa saya selalu menanti-nantikan karya Morra Quatro dan jarang memberi nilai rendah walau saya tidak pernah menyukai endingnya adalah dia selalu menulis cerita yang berbeda, satu poin khusus ketika saya menemukan sebuah cerita yang tidak saya temukan dibacaan lain, sesuatu yang baru. Mungkin cerita orde baru sudah banyak diangkat, sebelumnya saya pernah membaca Pulang yang juga menyentil masa itu, tapi bagaimana cara menyuguhkannya, itu yang membuat berbeda. Bisa dibilang buku ini masuk hisfic dengan adanya sejarah berdirinya radio Swaragama FM dan runtuhnya masa orde baru, Morra menyelipkan kisah cinta yang tumbuh sebentar tapi akan selalu terkenang. Tokoh Nino yang pendiam dan cerdas akan menginggatkan kita pada William di Forgiven (ingatkan saya untuk baca ulang dan menuliskan reviewnya), lelaki pendiam yang cerdas yang bisa melakukan perbuatan nekat, sebuah karakter yang akan selalu kita ingat, yang selalu kita rindukan, bisa dibilang karakter cowok yang dibuat penulis merupakan salah satu khasnya, selain alur cerita yang tidak bisa kita tebak.

Covernya tidak perlu dipertanyakan lagi, sebuah radio lawas yang menggambarkan inti cerita, sesuatu yang mempertemukan Naila dengan Nino dan seekor kuda yang membuat mereka saling memulai percakapan untuk pertama kalinya. Untuk typonya, terpaksa saya katakana cukup banyak, terlebih untuk pemisah katanya, sering saya temukan tidak ada spasi di dua kata yang harusnya terpisah, dan beberapa kata dobel dalam satu baris.

Buku ini saya rekomendasikan buat kamu yang ingin mengenang tragedi 98, buat para mahasiswa UGM dan tentunya buat penggemar sad ending, ehehehe.

Terpaksa saya memberikan 3.5 untuk si bodoh Nino dan berharap mbak Morra membuat cerita yang endingnya saya suka :p.

read more: http://kubikelromance.blogspot.com
Profile Image for Diana.
21 reviews1 follower
March 24, 2022
Buku ini menceritakan tentang Nalia, mahasiswa Kedokteran Gigi UGM dan Nino, mahasiswa Teknik Elektro UGM. Setting cerita berputar di sekitar UGM dengan latar keadaan negara yang kacau di tahun 1998. Penggambaran latar dari penulisnya detail dan jelas banget, walaupun mungkin bayangan kampus UGM di otak aku ngga akurat tapi penulis jelasin dengan detail nama-nama tempat dan posisi setiap lapangan, gedung kuliah, dan jalan. Penggambaran keadaan tahun 1998 juga jelas, aku bisa dapat bayangan dari keadaan waktu itu.

Menurut aku, cerita ini lebih berpusat ke love story antara Nalia dan Nino. Cerita di buku ini didominasi kisah perkembangan hubungan mereka dengan keadaan 1998 sebagai latarnya. Tapi di buku ini ada diceritain juga aktivitas mahasiswa di tengah keadaan kacau politik Indonesia yang berujung demonstrasi di berbagai tempat, terutama di Yogyakarta dan Jakarta, karena itu semua dialami Nalia dan Nino. Termasuk juga pembentukan awal Swaragama FM yang didirikan anak-anak mahasiswa Teknik Elektro UGM.

Ceritanya menarik. Aku ngga kasih bintang lima karena emang aku orangnya kurang suka romance dan ceritanya didominasi romance, jadi ada beberapa bagian yang aku kaya ingin lebih diceritain hal-hal lainnya. Tapi di luar selera aku, secara keseluruhan ini ceritanya bagus! Gaya narasinya enak dan mulus, alurnya maju-mundur tapi juga ngga bikin bingung. Aku rekomendasi ini untuk yang tertarik baca tentang kisah cinta mahasiswa di tahun 1998.
Profile Image for selm.
127 reviews12 followers
December 21, 2022
3.75★ sejujurnya aku berekspektasi lebih sih, tapi sampai akhir baca ternyata masih merasa ada yang kurang. kayaknya karena aku berharapnya konflik yang lebih pelik.

buku ini lebih menggambarkan sisi lain mahasiswa pejuang peristiwa '98. bukan cerita yang berfokus ke kelamnya peristiwa itu (yang bisa dilihat dari adegan eksplisit kekerasan, penculikan, dan pembunuhan tersembunyi). beberapa kasus kelam tersebut ada yang disebutkan sih, tapi bukan jadi sorotan. konflik buku ini lebih ke hubungan antara mahasiswa yang awalnya menjalani kegiatan perkuliahan dan organisasi pada umumnya, kemudian dihadapkan dengan problematika politik yang mau tidak mau mereka ikut melawan juga seiring dengan semakin bobroknya kabinet saat itu. oh ya ada konflik juga di antara mereka (masalah radio mahasiswa) pada awalnya sebelum akhirnya saling membantu. endingnya cukup memuaskan yah walau geregetan sendiri.
Displaying 1 - 30 of 314 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.