Cerita dimulai saat tokoh utama, Fujii mendapat telepon dari ibunya di kampung. Book, anjing yang dipungutnya empat tahun lalu dalam keadaan sekarat. Pacarnya, Yoshimi (namanya baru disebut setelah baca lebih dari setengah buku -_-) memintanya untuk memperbaiki motor yang telah didiamkannya selama empat tahun, karena suara motor tersebut berarti bagi Book. Fujii pun menyanggupinya. Dan dimulailah proses memperbaiki motor tersebut.
Cerita berlanjut ke perjuangan Fujii memperbaiki motornya, mulai dari mengganti bensin, bongkar mesin, minjam cairan pembersih, dll. Lalu saat membersihkan karburator, secara spontan Fujii melamar pacarnya (jika saja reaksi mereka berdua ga datar-datar amat, adegan ini bisa saja jadi sedikit romantis).
Sepeda motor berhasil diperbaiki, kesehatan Book mulai membaik, dan pacarnya meng-iyakan lamarannya. Fujii benar-benar menjadi pria paling berbahagia di dunia. Tapi kebahagian itu harus berakhir. Setelah beberapa bulan tinggal bersama, siapa sangka pacarnya mengidap penyakit yang mematikan.
Jujur saja.. kecewa banget sama novel ini. Kalo dilihat dari judul pasti ngebayangin cerita yang bikin hati teriris-iris, bikin nangis tersedu-sedu sampai ngabisin dua box tisu dan besok pagi bangun dengan mata sembab karena saat itu lagi pengen baca sesuatu yang bikin mewek. Tapi setelah baca, jauuhhh... dari yang disebutin diatas tadi. Banyak penjelasan yang terlalu mendetail dan membosankan. Kisah Book juga dilewatkan begitu saja, dan baru disinggung kembali di akhir buku. Lalu hubungan kedua pasangan itu juga terlalu datar, ga berasa emosinya. Masa langsung meng-iyakan ajakan pacaran padahal baru beberapa kali bertemu? Saya butuh prosesnyaa....
Ehm, mungkin 'feel'nya bakal beda kalo nonton filmnya?
Ada dua hal yang kusuka dari novel ini, pertama ceritanya simpel dan sangat realistis. Realistis karena tidak ada dialog kembang gula, tidak ada hal-hal ajaib yang terjadi, semua mengalir begitu saja. Kedua tentang perjuangan Yoshimi dalam menghadapi penyakitnya, dimana dijelaskan cukup detail dan bener-bener menyentuh, yaitu bagaimana ia menjalani pengobatan anti kanker, bagaimana ia menghadapi efek samping dari pengobatan tersebut. Jujur saja saat membaca perjuangan Yoshimi, saya jadi membayangkan bagaimana jika saya berada di posisi Yoshimi, apakah bisa sekuat dan setabah itu? Atau langsung menyerah karena tidak tahan dengan semua rasa sakit itu?