Jump to ratings and reviews
Rate this book

12 Menit

Rate this book
Elaine, sang pemain biola, yakin bahwa musik adalah segala-galanya. Namun, ayahnya menentang, menganggapnya sia-sia.

Tara, berusaha menguasai nada-nada snare drum meski memiliki keterbatasan pendengaran. Tetapi, luka masa lalunya terus menghantui.

Lahang, di tengah deritanya, berusaha memenuhi janji pada sang ayah. Namun, dilema membuatnya ragu melangkah.

Rene bermimpi membawa mereka, tim marching band yang dilatihnya, menjadi juara. Meskipun mereka hanya datang dari sebuah kota di pelosok negeri. Meskipun orang lain menganggap itu mustahil.

Mereka berlatih ribuan jam hanya demi 12 menit penentuan. Mereka bertedad membuktikan pada dunia. Bahwa mimpi harus kau percayai agar terwujud. Dreaming is believing. Dan bersama-sama mereka akan menyerukan, Vincero!

###

"Novel ini berisi cerita orang-orang yang tak pernah takut meraih mimpi..."
-Oppie Andaresta

362 pages, Paperback

First published May 1, 2013

37 people are currently reading
606 people want to read

About the author

Oka Aurora

4 books12 followers
A stay at home mom with 3 children.
A telecommunication staff of 13 years turned screenwriter and novelist.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
150 (46%)
4 stars
103 (31%)
3 stars
60 (18%)
2 stars
8 (2%)
1 star
5 (1%)
Displaying 1 - 30 of 72 reviews
1 review
December 5, 2013
Terima masih dari hati yang terdalam untuk semua teman-teman yang sudah membaca novel ini. Tadinya novel ini dibuat untuk menjangkau teman-teman yang tinggal di daerah yang tidak memiliki jaringan bioskop 21 dan Blitz.

Novel ini diadaptasi dari skenario Film dgn judul 12 Menit Untuk Selamanya (saat ini masih dalam proses editing). Sungguh luar biasa Noura Books bersedia menerbitkan novel ini.

Novel dan Film ini kami persembahkan sebagai penghargaan kami untuk seluruh pembina, pelatih, staff official, anggota, alumnus dan para pencinta Marching Band. Kami sadar bahwa novel dan film ini masih jauh dari sempurna, namun kami berharap novel dan film yang kami buat dengan hati ini dapat diterima baik oleh teman- teman semua.

Untuk teman-teman yang belum mengenal marching band, semoga novel dan film ini dapat memberi kalian gambaran tentang marching band dan dapat menginspirasi kalian.

Sekali lagi saya, Regina, selaku producer, menghaturkan terimakasih dari hati yang terdalam. Terimalah persembahan kami ini.
Profile Image for Riawani Elyta.
Author 33 books103 followers
August 28, 2013
RESENSI NOVEL :
12 MENIT, KISAH INSPIRATIF-KAH?

Judul : 12 Menit
Penulis : Oka Aurora
Penerbit : Nourabooks
Tebal : 348 hal
Terbit : Mei 2013

“Kisah yang mencerahkan dan inspiratif.” (Andy F. Noya, host Kick Andy)
“...........Cerita yang akan menyemangati dan menginspirasi pembaca hingga lembar terakhir.” (Helvy Tiana Rosa, penulis)

Dua kalimat diatas adalah penggalan endorsement untuk novel buah karya Oka Aurora ini. Menarik. Saat menemukan kata inspiratif dan menginspirasi pada kedua kalimat tersebut. Seolah menegaskan kesamaan pendapat kedua endorser, bahwa novel ini memang layak disebut sebagai novel inspiratif.
Lantas, novel macam apa yang sesungguhnya layak menyandang predikat inspiratif? Apakah novel ini termasuk satu diantaranya ataukah stempel yang “diselipkan” via endorsement tersebut hanya strategi penjualan belaka?

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), kata “inspirasi” termasuk kata benda yang berarti “ilham”, dan kata “ilham” sendiri memiliki tiga arti, yaitu : petunjuk Tuhan yang timbul di hati, pikiran yang timbul dari hati, dan sesuatu yang menggerakkan hati untuk mencipta.
Dengan demikian, maka sebuah karya yang dianggap “inspiratif” atau menginspirasi adalah karya yang setidaknya berhasil memunculkan satu dari ketiga pengertian tersebut di hati pembacanya.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saatnya kita telisik sisi internal novel ini melalui ulasan berikut.

Sekilas, judul novel ini mengingatkan pembaca pada judul-judul cerita bergenre thriller. Sebut saja diantaranya, film seri “24 Hours” yang bercerita tentang rencana pembunuhan calon presiden Amerika Serikat. Apalagi, cover novel yang menampilkan gambar rak kayu berwarna biru dan bernuansa muram, cukup mendukung kesan tersebut, andai saja tidak terdapat tambahan gambar alat musik trompet dan mallet, serta insert foto orang-orang yang sedang berlatih marching band. Namun, novel ini sama sekali jauh dari unsur thriller, suspense dan sejenisnya.

“Dalam dua belas minggu ke depan, kita akan habiskan ratusan jam, siang dan malam, demi dua belas menit. Dua belas menit di Istora nanti.”
“Dua belas menit ini yang akan menentukan apakah kita akan juara. Dua belas menit ini yang menentukan apa yang akan kita kenang seumur hidup.” (Hal.83)

Inilah sesungguhnya inti dari novel berkapasitas 348 halaman ini. Inti yang kemudian terurai dalam lembar demi lembar yang bercerita tentang perjuangan keras Marching Band Bontang Pupuk Kaltim demi meraih kemenangan dalam Grand Prix Marching Band (GPMB), di mana waktu yang tersedia untuk penampilan puncak itu hanya 12 menit saja.

Siapa menduga, ada pengorbanan luar biasa, tetesan keringat dan air mata, kerja keras dan lika-liku panjang selama berbulan-bulan dan ribuan jam, dibalik sebuah penampilan yang “hanya” memakan waktu 12 menit tersebut, yang disajikan secara apik dan menawan oleh Oka Aurora di dalam novel ini. Novel yang juga merupakan novel pertama penulis dan diadaptasi dari skenario filmnya yang keempat.

Adalah Rene, seorang mantan pemain marching band dengan kemampuan dan pengalaman internasional, lalu meningkat menjadi pelatih marching band yang berhasil membawa anak asuhnya menjadi juara umum GPMB berturut-berturut, akhirnya dipinang oleh sebuah perusahaan besar untuk melatih marching band Bontang Pupuk Kaltim. Marching band yang beranggotakan anak-anak daerah dengan tingkat kepercayaan diri sangat rendah dan selalu merasa kecil meski sesungguhnya mereka memiliki potensi.

Kemampuan dan pengalaman cemerlang Rene benar–benar teruji disini, bukan hal mudah baginya menyuntikkan semangat kepercayaan diri kepada para pemain, menjaga agar semangat ini tetap eksis dan konsisten hingga akhir, ditambah lagi konflik internal yang melanda beberapa anggota inti, membuat upaya keras Rene untuk mewujudkan tim binaannya menjadi juara, menemui berbagai rintangan yang tidak mudah.

Diantara para anggota inti, terdapat Elaine, gadis blasteran Indonesia – Jepang yang pindah dari Jakarta ke Kalimantan mengikuti ayahnya yang pindah tugas. Elaine seorang pemain biola dengan kemampuan musikalitas sangat baik, dan berkat kemampuannya, juga didukung penampilannya yang menawan, Elaine terpilih sebagai field commander dalam marching band Bontang. Namun passion Elaine dalam bermusik ditentang keras oleh sang ayah. Beliau lebih menginginkan putri tunggalnya itu menjadi ilmuwan menyusul jejaknya. Juga menganggap pendidikan adalah satu-satunya kunci pembuka gerbang masa depan.

Selanjutnya ada Tara, gadis muda berbakat yang memiliki keterbatasan pendengaran akibat sebuah kecelakaan yang merenggut nyawa ayahnya. Tragedi tersebut membuatnya trauma, sehingga kerap menyalahkan diri sebagai penyebab kematian sang ayah. Sementara itu, ibunya melanjutkan pendidikan ke luar negeri dan Tara diasuh oleh opa dan oma yang sangat menyayanginya serta sangat mendukungnya. Keterbatasan pendengarannya membuatnya harus berjuang ekstra keras saat harus berlatih dan diperlakukan secara “normal” dibawah tempaan tangan dingin Rene bersama anggota marching band yang lain. “Kombinasi” kekurangan fisik dan tekanan psikis ini, hampir saja membuat Tara menyerah.

Juga ada Lahang, anak seorang tetua suku Dayak yang hidup dalam kondisi serba kekurangan, dan harus pula melewati perjalanan panjang nan penuh mara bahaya setiap kali pergi mengikuti latihan marching band. Lahang menghadapi dilema luar biasa saat ayahnya sakit keras, antara tetap tinggal untuk merawat ayahnya, atau pun mengikuti pertandingan marching band di Jakarta. Di satu sisi ia takut kehilangan ayahnya saat tak berada di samping beliau, di sisi lain ia tetap ingin mewujudkan janjinya pada sang ayah serta mewujudkan impiannya sendiri.

Selain keempat tokoh utama tersebut, terdapat juga beberapa tokoh pendukung lainnya, diantaranya Pak Manajer, Rob, kedua orang tua Elaine, opa dan oma Tara, ayah Lahang, Pemeliatn atau pemuka agama dalam suku Dayak, yang kehadirannya berhasil dioptimalkan penulis untuk memperkuat alur cerita ini dan tidak sekadar tempelan belaka.
Di dalam novel ini, pembaca juga akan diajak mengenal dan memahami dunia marching band lebih dalam, tidak hanya sekadar mengenalkan nama alat musik seperti perkusi (alat musik pukul), brass (alat musik tiup), snare drum, mallet, dan sebagainya, serta istilah-istilah di dalamnya seperti cadet band, drum corps, fouettes, field commander dan sebagainya, tetapi juga sebuah gambaran holistik tentang marching band sebagai sebuah aktivitas tim musikal yang membutuhkan kerja keras, disiplin dan kekompakan dalam jangka waktu panjang demi menghasilkan penampilan yang prima.

Novel ini mengambil latar utama kota Bontang di Kalimantan Timur. Unsur budaya Dayak pun turut dihadirkan di sini melalui ritual Beliatn yang dipercaya dapat mengusir roh jahat dari tubuh orang sakit, meski untuk kedua latar tempat dan kultur ini, porsi penceritaannya tidak terlalu besar.

Kembali pada pertanyaan di awal, apakah novel ini layak disebut sebagai novel inspiratif, tentu, sangat dibutuhkan kejujuran pembaca akan kesan yang diperoleh setelah aktivitas membaca berakhir. Tetapi, setidaknya ada 3 (tiga) poin penting dari novel ini yang layak dicermati, dan memiliki relevansi sangat erat dengan nilai-nilai pembangun inspirasi. Poin ini saya singkat dengan MAP, yaitu :

1. M = Motivational quotes (kalimat motivasi)
Salah satu trik populer saat ini untuk buku bermuatan inspirasi dan motivasi, baik fiksi maupun non fiksi, adalah dengan menyelipkan kalimat-kalimat motivasi atau motivational quotes didalamnya. Quotes semacam ini dapat mempertegas gagasan untuk lebih mudah diterima dan dipahami oleh pembaca, membuat tulisan menjadi lebih kaya makna, dan tentu saja, menyuntikkan semangat dan energi baru. Tak terkecuali di dalam novel ini, ada banyak taburan kalimat motivasi yang tersebar di dalam narasi maupun dialog-dialognya. Berikut beberapa kutipannya :
“Berapa pun waktu yang diberikan, tak seharusnya dihabiskan dengan ketakutan, karena ketakutan, anakku, tak akan pernah menyambung hidupmu. Yang menyambung hidupmu, hanya keberanian.” (hal. 104, nasehat ayah Lahang kepada anaknya).
“Tapi, ibarat sedang berenang, kalian semua sekarang sedang berenang melawan arus yang sangat kuat. Begitu kalian berhenti, kalian akan segera terdorong ke belakang. Untuk melawan arus, kalian bukan hanya butuh tubuh yang kuat. Kalian juga butuh mental yang kuat.” (hal.134, ucapan Rene saat memotivasi tim marching band).
Buat apa hidup jika tak bahagia. Apapun yang kita lakukan dengan hidup kita pada akhirnya adalah untuk menuju satu. Kebahagiaan. Lahir batin. Dunia akhirat. (hal. 165)
“Jika dirimu sedang sedih, lihatlah ke bawah. Ada orang yang jauh lebih sedih darimu. Sehingga kamu bisa belajar bersyukur.” (hal. 187)
“Berpikirlah kalah, maka kalian akan kalah. Kalau ingin menang, berpikirlah sebagai pemenang.” (hal. 307)
Kehadiran kalimat-kalimat tersebut sama sekali tidak terkesan menggurui, karena penulis berhasil menempatkannya secara tepat sehingga berhasil membangkitkan citarasa inspirasi dalam porsi yang pas. Apalagi dengan ditunjang gaya penceritaan yang lugas, sederhana namun energik, membuat pesan-pesan dari novel ini sangat mudah dicerna oleh pembaca.

2. A = A novel inspired by true story (novel yang terinspirasi dari kisah nyata)
Inspirasi novel ini memang bersumber dari keberhasilan tim marching band Bontang pupuk Kaltim yang telah mengukir prestasi sangat fenomenal, yaitu menjadi juara umum sebanyak sepuluh kali di dalam Grand Prix Marching Band (GPMB) atau kejuaraan Marching Band tingkat nasional, serta pernah pula meraih dua kali penghargaan internasional yaitu Sudlier Shield Award (1998) dan Band of the Year (2001).

Tak dipungkiri, bahwa fiksi yang mengambil inspirasi dari kisah nyata, apalagi kisah nyata yang inspiratif, memiliki kekuatan tersendiri untuk menggugah hati pembaca, ini mungkin terkait dengan semacam “keyakinan”, sugesti, bahwa pada faktanya kisah tersebut – meski telah bertransformasi ke dalam bentuk fiksi - benar-benar ada, pernah terjadi, sehingga bukan hal mustahil untuk dapat terwujud, dan dapat dijadikan teladan bagi pembaca.

Dan seperti beberapa novel lainnya yang terinspirasi dari kisah nyata lalu diangkat ke layar lebar, novel ini pun mengalami hal serupa, yaitu difilmkan oleh Big Pictures Production dan disutradarai oleh Hanny R Saputra dengan judul “12 Menit untuk Selamanya”.

3. P = Positive Character (Karakter positif)
Melalui tokoh-tokoh dalam novel ini, terdapat banyak karakter positif yang pantas untuk dipelajari dan diteladani. Dari sosok Rene, pembaca akan belajar tentang pentingnya sifat-sifat kepemimpinan untuk membawa tim mencapai tujuan seperti kemampuan memotivasi, ketegasan, disiplin, pantang menyerah, profesional dan berdedikasi tinggi. Satu hal yang unik disini, bahwa dalam versi aslinya, pelatih tim marching band Bontang yang bernama Rene Conway adalah seorang laki-laki, tetapi dalam versi novel, sosok Rene adalah seorang wanita.

Dari sosok Tara, pembaca mendapatkan pelajaran berharga bahwa kekurangan fisik bukanlah hambatan untuk merealisasikan mimpi.

Sosok Lahang dengan jalinan kisahnya yang dramatis, akan menggugah hati pembaca bahwa kekuatan mimpi dan keteguhan akan janji merupakan faktor substansial dalam mewujudkan cita-cita. Dan sosok sang field commander marching band, yaitu Elaine, juga ikut menyumbangkan pelajaran tak kalah berharga, bahwa ketekunan dan kegigihan dalam menggeluti passion - meski bidang passion yang ditekuni itu mendapat perlawanan dari keluarga sendiri, dalam hal ini ayahnya – pada gilirannya kelak akan membalikkan semua perlawanan dan cemoohan menjadi dukungan dan bahkan kebanggaan.

Beberapa tokoh-tokoh lainnya juga mengajarkan pembaca akan betapa pentingnya dukungan positif dari orang-orang yang dicintai. Diantaranya adalah yang apa ditunjukkan oleh opa dan oma Tara, ayah Lahang juga ibunda Elaine. Mungkin, tanpa dukungan oleh orang-orang terkasih ini, sosok Tara akan tetap berkubang dengan trauma masa lalunya, Lahang akan tetap memilih terus berada di samping ayahnya yang sakit keras ketimbang mewujudkan impiannya, dan Elaine memilih mundur teratur dari pembuktian diri di depan ayahnya.

Semua karakter ini pun berhasil dibangun oleh penulisnya secara natural, dengan metode “show” yang sangat baik, yaitu kemampuan untuk memvisualisasikan karakter lewat emosi, ekspresi, gestur dan dialog tokoh sehingga pembaca dapat langsung mengidentifikasi karakter masing-masing tokohnya tanpa perlu sang penulis menamai masing-masing karakter tersebut.

Dengan beberapa poin diatas, sungguh tak berlebihan rasanya, jika novel ini layak distempeli predikat sebagai novel inspiratif, dan sangat direkomendasikan bagi anda yang saat ini tengah berjuang merealisasikan mimpi, serta yakin bahwa setiap orang pasti akan sampai pada tujuannya saat menjalaninya dengan keteguhan hati dan tak pernah takut meraih mimpi. Hal ini sesuai bunyi firman Allah swt yang ditampilkan di awal lembar novel ini, yaitu :
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan sebuah bangsa sampai mereka mengubah keadaan mereka sendiri (QS Ar-Ra’d (13) : 11).

Juga quote pada lembar berikutnya, yang semoga dapat meyakinkan anda bahwa novel ini memang mampu menggugah semangat anda untuk menjadi pemenang kehidupan :
“Perjuangan terberat dalam hidup manusia adalah perjuangan mengalahkan diri sendiri. Buku ini adalah bagi semua yang memenangkannya.”



Profile Image for melati hp.
13 reviews
November 25, 2013
Jika Musik Bicara Lantang tentang Hidup dan Keluarga

"Dua belas menit ini yang akan menentukan apakah kita akan juara. Dua belas menit ini yang akan menetukan apa yang akan kita kenang seumur hidup."

12 Menit mengambil latar Bontang, sebuah kota kecil yang hanya bisa dicapai lebih cepat menggunakan pesawat kecil dari Balikpapan, Kalimantan Barat. Dari seratus tiga puluh anggota marching band Vincero ini kisah ini berputar pada empat tokoh. Rene, sang pelatih asal Jakarta, yang memiliki berbagai prestasi gemilang baik sebagai pemain dan pelatih, merasa di atas angin ketika diminta melatih ke Kalimantan. Rupanya di Bontang, dia justru diragukan kehebatannya, baik oleh pihak investor maupun oleh anggotanya, bahkan kemudian oleh dirinya sendiri. Lalu ada Tara, juga asal Jakarta, penabuh drum berbakat tetapi kini harus berjuang dari nol pascakecelakaan yang menewaskan ayahnya dan menurunkan kemampuan mendengarnya hingga sepuluh persen. Elaine, lagi-lagi murid pindahan Jakarta, sang pemain biola yang bermimpi menjadi seorang field commander. Walau memiliki kepintaran luar biasa di bidang musik dan akademis, Elaine justru dihambat oleh keinginan ayahnya untuk memiliki anak seorang ilmuwan. Dan akhirnya, rasa pribumi dihadirkan oleh Lahang, laki-laki asal Dayak yang menjadi penari. Namun, dia senantiasa ragu karena harus meninggalkan ayahnya yang sakit demi latihan.

Dengan tiga tokoh utama asal Jakarta, rupanya Oka Aurora tidak membuat cerita ini didominasi masalah tipikal anak Jakarta. Karakter orang-orang Kalimantan yang cenderung tertutup rupanya dilakoni juga oleh Tara yang terus menyalahkan dirinya sendiri atas kematian ayahnya dan Elaine yang terpaksa latihan diam-diam demi menghindari murka ayahnya yang seorang Direktur di salah satu perusahaan gas di Bontang. Maka jadilah kisah yang bhineka tunggal ika seperti halnya Bontang sebagai tempat kecil dengan ragam ras dan agama berkumpul di sana.

Marching Band merupakan orkestra musik kolosal yang tidak hanya menampilkan harmonisasi musik tetapi juga kostum, konfigurasi bentuk, dan tentu saja adu tenaga. Bagaimana tidak, mereka tidak bermain musik sambil duduk tenang, melainkan berjalan mengitari lapangan dan tidak boleh hilang napas sedetik pun karena akan membuat nada miring di sana-sini. Semua itu dilakukan dalam 12 menit pertunjukan dan ratusan jam latihan.

Saya sendiri baru memahami marching band dari dekat ketika menjadi mahasiswi di Universitas Indonesia, Depok. Dan saya terkejut begitu melihat teman saya mendaftar. Bagaimana tidak, profilnya tidak seperti pencinta musik seperti saya yang sudah menjadi anak sanggar dan berposisi sebagai gitaris sewaktu SMA. Gadis pemalu itu kemudian kebagian menjadi peniup terompet kecil, alat musik yang mungkin tidak pernah dia impikan selama 18 tahun hidupnya. Lalu ada teman saya yang bertubuh pendek dan chubby dan ingin menjadi penari. Hanya marching band itulah yang mampu mewujudkannya tanpa dihina melainkan hanya dukungan besar antaranggotanya. Dan ketika saya dan teman-teman menyaksikan pertunjukkan mereka di stadiun Soemantri Kuningan, yang saya rasakan adalah betapa manisnya buah dari sebuah kerja keras. Bahwa mereka juga mencintai musik seperti saya.

Itu pula yang hendak diceritakan Oka Aurora dalam 12 Menit. Membuat sesuatu dari tidak ada menjadi ada, mereka yang buta alat musik menjadi terpatri dengan alat musik itu. Tentu saja, seperti kata salah seorang pelatih tari di sebuah ajang idola penyanyi Korea, “Tidak semua orang berbakat menari, tapi semua orang bisa menari. Kuncinya, latihan. Yang keras.”

Walau menggunakan formula umum dalam naskah-naskah berlatar kelompok musik, saya terkesan bagaimana satu karakter dapat saling melengkapi dialog karakter lain dalam adegan yang berbeda. Seperti ketika Yoshuke, ayahanda Elaine habis kesabaran ketika mengetahui putri satu-satunya lebih memilih mengikuti kompetisi marching band ketimbang Olimpiade Fisika, dia berseru pada Rene, “Apa yang tidak penting bagi saya, tidak penting bagi Elaine!”

Sedangkan di dipan dalam sebuah rumah panggung sederhana, Lahang justru enggan mengikuti kompetisi karena ingin mendampingi ayahnya yang sakit kanker otak. Dalam sakitnya, si bapak berkata, “Nak, selama ini saya menyiapkanmu untuk menjalani hidupmu. Hidupmu.”

Dan dua dialog itu ditengahi apik di kepala saya dengan ucapan Rene pada Yoshuke, “Saya jadi menyadari betapa bersyukurnya saya memiliki ayah yang menginginkan saya jadi diri sendiri.”

Kemudian saya teringat Tara yang walau mendapat dukungan penuh dia senantiasa merasa sendiri. Pasca ayahnya meninggal dia justru dipindahkan ke kota kecil bersama oma opanya sedangnya ibundanya melakoni studi S2 di Inggris. Dan pada malam sebelum keberangkatan ke Jakarta si ibu hanya mampu memberi dukungan lewat text message. "Mama datang atau tidak, Tara tetap harus memberikan yang terbaik". Si anak menjawab tak kalah mengabdi, "Mama datang atau tidak, Tara tetap akan bermain untuk mama".

Harus saya akui, sosok Titi Rajo Bintang yang saya ketahui sebelumnya berperan sebagai Rene dalam filmnya, woro wiri dalam imajinasi saya. Memang itu seharusnya hal terlarang bagi seorang pembaca sejati, tetapi saya tidak bisa mengelak bahwa Titi RB justru adalah sosok paling tepat yang bisa ditemukan. Dia menunjukkan kekerenannya dalam bermusik saat menggarap musik untuk film Garuda di Dadaku. Menunjukkan sisi lain keseniannya kala beradu peran di film. Dan kini, di film 12 Menit, dia seolah tengah melakoni otobiografinya sendiri.

Buku ini sukses membuat saya banjir air mata hampir di setiap babnya. Mungkin karena saya sudah menjalani ketiga fase yang terhampar di cerita ini. Remaja labil, wanita mandiri, dan menjadi orang tua. Dan bahkan walau sudah begitu, tetap ada kalimat yang bergaung-gaung di kepala saya. Kalimat lama yang diucapkan Rene pada Elaine juga Lahang, "Selesaikan apa yang sudah kamu mulai. Dan selesaikan sampai berhasil."

Ya, hidup memang belum berakhir. Maka hiduplah seperti orang hidup, jangan seperti orang mati.[]

Profile Image for Nuri Dhea S.
3 reviews11 followers
August 30, 2013
Judul : 12 Menit
Pengarang : Oka Aurora
Penerbit : Noura Books
Tebal : xiv + 348 halaman
Cetakan : Pertama, Mei 2013
ISBN : 978-602-7816-33-6

12 Karakter 12 kisah 12 tantangan dalam “12 Menit”

Judul : 12 Menit
Pengarang : Oka Aurora
Penerbit : Noura Books
Tebal : xiv + 348 halaman
Cetakan : Pertama, Mei 2013
ISBN : 978-602-7816-33-6

Pada 12 menit pertama, 12 halaman pertama, novel ini akan membawa pembaca masuk pada pusaran kisah yang asyik, menyedot masuk seluruh perhatian. Kita makin mengenal setidaknya 12 karakter, 12 kisah, dan 12 tantangan dalam “12 Menit”.
Gaya penulisan Oka Aurora asyik, memikat, mengharukan tapi tetep bertabur humor cerdas yang membuat tersenyum bahkan sesekali terpingkal-pingkal. Membacanya seperti menonton film, menyaksikan sendiri bagaimana 12 karakter memiliki kisah dan latar belakang masing-masing yang membuat mereka berjuang menaklukkan setidaknya satu tantangan utama pada masing-masing karakter.
12 Karakter yang membuat jatuh cinta dan menjelma nyata:
1. Rene
Sosok Rene mewakili karakter perempuan mandiri yang keras kepala. Sifat keras kepala ini biasanya justru sangat gigih meraih keinginan dan cita-cita. Alkisah, Rene telah meraih prestasi-prestasinya sendiri yang gemilang, memukau, spektakuler, dan tak terkalahkan. Dalam kisah novel ini, Rene memulai semua dari awal, dari titik nol saat ia diminta menjadi pelatih Marching Band Bontang suatu kota kecil di Kalimantan. Rene menaklukkan tantangan demi tantangan dengan elegan, tegas, keras, sesekali meliuk indah dalam bernegosiasi dengan determinasi yang tinggi untuk membawa timnya menjadi juara GPMB (Grand Prix Marching Band), sebuah kejuaraan nasional Marching Band yang diadakan tiap tahun di Istora Senayan.

2. Tara
Anggota Marching Band yang paling inspiratif. Tara memiliki disabilitas yaitu kehilangan sebagian pendengarannya pada suatu kecelakaan fatal yang merenggut nyawa ayahnya. Tara berbakat berada pada tim Battery yang memimpin tempo permainan dengan alat music perkusi. Tara berjuang mengatasi tantangan terbesarnya yaitu berdamai dengan masa lalu dan keikhlasan menerima takdir yang telah terjadi, menghilangkan prasangka terhadap Ibu, Oma dan Opanya.

3. Elaine
Seperti Rene, Elaine adalah sosok perempuan kuat yang memiliki prestasi tak terkalahkan. Bedanya, Elaine adalah sosok perempuan lembut dan tak sekeras kepala Rene. Seperti Rene, Elaine memulai segalanya dari nol. Elaine baru saja pindah dari Jakarta ke Bontang, mengikuti kepindahan tempat kerja sang ayah. Proses adaptasi dari fasilitas super lengkap di Jakarta yang mendukung bakat musikalitas yang tinggi dalam diri Elaine menuju kota kecil yang terpencil adalah tantangan terbesar Elaine. Musikalitas yang tinggi serta takdir mengantarkan Elaine menjadi Field Commander.

4. Lahang
Karakter Lahang memiliki kecerdasan kinestetik tinggi yang mengantarkannya menjadi anggota penting Color Guard. Sebagai anak anggota Suku Dayak yang cukup disegani, Lahang terbiasa bergerak senada dengan alam dan sepenuh jiwa. Ini yang membuat tarian Lahang terasa magis. Tantangannya adalah memilih pada persimpangan antara mengikuti takdir sang ayah yang akan segera berakhir atau meneruskan takdir dan kesuksesannya sendiri.

5. Ayah Elaine (Josuke Higoshi)
Ayah Elaine jenis ayah yang otoriter dan kaku. Baginya, ukuran kesuksesan adalah memiliki uang yang banyak dan menjadi ilmuwan terpandang yang bekerja di tempat yang bergengsi. Pak Higoshi bagai tokoh antagonis yang menghalangi Elaine menggapai impian.

6. Ibu Elaine (Ny. Higoshi)
Sosok Ibu yang lembut, pengertian, dan moderat. Kebalikan dari ayah Elaine yang kaku, Ny. Higoshi adalah tipe yang luwes dan elegan. Sosok sahabat bagi Elaine. Tantangan beliau adalah menundukkan kekerasan suaminya dengan kelembutan yang elegan bahwa kebahagiaan Elaine lah yang paling utama.

7. Opa dan Oma Tara, serta Ibu Tara
Semua orang tua Tara. Opa dan Oma adalah orang tua pengganti bagi Tara saat Ibu Tara meneruskan pendidikan ke luar negeri tepatnya Inggris. Tantangan terbesar mereka adalah memberi semangat Tara agar bangkit dan sukses dengan semua keterbatasannya saat ini.

8. Ayah Lahang
Ayah Lahang adalah sosok ayah yang menganggap bahwa impian anaknya jauh di atas kepentingannya. Tantangan beliau adalah membuat Lahang menoleh ke masa depan, bukan masa lalu.

9. Nurani
Tokoh Nurani berkarakter antagonis karena sifat iri hatinya terhadap Elaine. Sebenarnya dia orang baik hanya kecemburuan membuatnya bersikap tidak adil terhadap Elaine, murid baru dari Jakarta. Tantangannya adalah mengendalikan sifat buruknya.

10. Rob dan Ronny
Dua karakter ini muncul sekilas dalam novel. Namun, mereka berdua karakter yang inspiratif. Rob adalah mantan anggota Marching Band Bontang yang berhasil diterima sebagai anggota The Blue Devils, salah satu Marching Band terbaik di Amerika.
Ronny adalah Field Commander yang digantikan Elaine. Ronny mengalami kecelakaan yang membuatnya harus memakai kursi roda. Ronny berani tampil sebagai Field Commander pada acara pelepasan sesaat sebelum GPMB dengan menggunakan kursi roda.

11. Bimo (Manajer Marching Band Bontang)
Karakter antagonis yang meremehkan serta tak yakin bahwa Rene dapat membawa tim menuju tangga juara ternyata yang memiliki masa lalu kelam dengan Rene.

12. Yahya/Rosmina/Toby
Karakteristik khas pelatih yang penuh perhatian terhadap anak didiknya ada pada ketiga tokoh ini.

Mengapa tokoh Rob harus diceritakan pada novel ini? Jika cerita tentang Rob dibuang takkan berpengaruh pada jalan cerita keseluruhan. Apakah di novel sekuel 12 menit tokoh Rob akan muncul dan menjadi tokoh sentral? Akankah dibuat lanjutan novel 12 Menit? Selain itu kejutan akan hubungan Rene dengan Bimo di menjelang ending terkesan dipaksakan.
Novel ini bertaburan kata-kata inspiratif dan humor cerdas. Dua unsur favorit yang memikat pembaca.
Salah satu humor cerdas yang memikat dalam novel ini ada pada halaman 65:
“Bayangkan, dua tahun tak henti memuncung-muncungkan bibir seperti itu. Tak mudah. Sungguh tak mudah.”

Salah satu kata inspiratif terdapat di hal 104:
“Karena ketakutan, anakku, tak akan pernah menyambung hidupmu, hanya keberanian.”

Beberapa istilah dalam dunia Marching Band menarik dan memperkaya kosakata pembaca. Over all, 12 Menit very inspiring. Good Debute for Oka Aurora.
2 reviews1 follower
August 29, 2013
12 Menit - Jalan Panjang Perjuangan Menaklukan Diri Sendiri,Menjangkau Mimpi

Judul : 12 Menit
Pengarang : Oka Aurora
Penerbit : Noura Books
Tebal : xiv + 348 halaman
Cetakan : Pertama, Mei 2013
ISBN : 978-602-7816-33-6

Mimpi adalah energi bagi kehidupan. Sejatinya mimpi bisa membawa manusia pada arah kehidupan yang lebih baik. Namun tidak banyak manusia yang percaya dengan mimpinya, dan tidak sedikit juga yang karena badai perjuangan akhirnya memilih untuk melupakan mimpi-mimpi besar tersebut. Secara sederhana 12 Menit kembali menegur kita bahwa mimpi harus dipercayai agar terwujud ; Dreaming is Bealiving”. Tidak ada yang salah dengan mimpi, yang layak dipertanyakan adalah seberapa serius dan siap kita mengejar mimpi tersebut.

“Terbayangkan berarti terjangkau” begitu ujar Hideyoshi, seorang tokoh besar Jepang dimasa lampau. Konsep ini pulalah kiranya yang diuji dalam buku 12 Menit. Menjadi juara dalam Grand Prix Marching Band (GPMB) adalah mimpi besar yang ‘coba’ dibayangkan oleh segenap tim Marching Band Bontang Pupuk Kaltim.

Rene seorang pelatih Marching Band berpengalaman hadir sebagai katalisator mimpi tersebut. Bagi Rene yang telah matang dalam dunia Marching Band dan telah beberapa kali membawa tim lain ke puncak kejayaan tentu mimpi tersebut tidaklah mustahil. Namun keyakinan Rene menjadi turut tergoncang saat berhadapan dengan realita tim yang dibinanya. Jangankan untuk menjangkau, untuk membayangkan saja personel tim sudah dihantam oleh berbagai rasa kecut dan konflik internal yang merong-rong keyakinan mereka.
Tara, Lahang dan Elaine adalah tiga tokoh sentral lain dalam buku ini. Tara, seorang pemain drum yang baik di masa lampau. Kini ia harus berjuang mengembalikan permainan terbaiknya dalam keterbatasan pendengaran. Hampir 80 persen pendengaran Tara hilang bersama kepergian Ayahnya dalam sebuah kecelakaan maut. Rasa bersalah dan kehilangan adalah luka masa lalu yang menghambat Tara untuk menatap masa depan.

Lahang, pemuda dengan bekal pesan dari sang bunda ingin menjadikan Tugu Monas sebagai loncatan bagi mimpi besar untuk mengunjungi berbagai tugu lain di dunia. Membentangkan sayap keberanian, terbang lebih tinggi seperti Elang. Dalam meretas mimpinya bersama marching band Lahang dihadapkan dengan sebuah dilema tentang keluarga. Kondisi Bapaknya yang kian parah, serta penyesalan karena tidak berada di sisi Ibunya saat sang bunda menghembuskan nafas terakhir membuat Lahang sulit beranjak dari sisi Bapaknya. Lahang meragu untuk mengejar mimpinya sementara sebuah janji telah terucap. Lahang telah berjanji kepada Bapaknya untuk terus ‘hidup’ dalam kehidupannya.

Elaine, gadis pintar keturunan Jepang yang sangat mencintai musik dan meyakini musik adalah segala-galanya dalam hidupnya. Josuke sang ayah, sangat menginginkan Elaine menjadi seorang ilmuwan, dan baginya musik adalah sesuatu yang sia-sia. Elaine mempunyai peran vital dalam tim. Ia adalah satu-satunya field commander yang diharapkan setelah field commander yang sebelumnya mengalami cedera berat. Josuke menentang keras keinginan Elaine untuk tetap bergabung dalam tim.

Sanggupkah Rene mengembalikan keyakinan tim untuk membayangkan, kemudian menjangkau mimpi mereka? Bagaimanakah cara Tara, Lahang dan Elaine berdamai dengan keadaan mereka?

“Hampir setiap saat, kalian teriakan VINCERO! SAYA. AKAN. MENANG. Vincero. Namun, sudahkan kalian resapi artinya?... Sudahkah kalian rasakan kemenangan itu? Bisakah kalian cium baunya?... Apakah kalian bisa merasakan getarannya di genggaman kalian?” (hal 83-84)
***


Dari segi penampakan luar, desain sampul biru dengan rak papan dan beberapa alat musik dipadu dengan judul 12 Menit menjadi magnet tersendiri dari buku ini. Bahan Sampul juga mengangkat derajat buku ini sehingga terkesan lebih classy. Dan poin terbesarnya adalah tempelan selembar foto kecil yang mencuri perhatian.

Marching Band bukanlah sebuah topik yang umum bagi masyarakat Indonesia tapi Oka Aurora berhasil mengurai kisah ini dengan sangat menarik dan manis. Pesona buku ini juga terdapat di latar kisah yaitu Bontang dan segenap keberagamannya. Keragaman latar belakang tokoh menjadi salah satu bentuk harmonisasi dalam buku ini.

Nilai lebih lainnya dari buku ini adalah uraian tiap bab yang singkat dan dengan gaya bahasa yang ringan. Ini seakan menjadi solusi bagi pembaca yang sering bosan saat terjebak dalam narasi panjang bab sebuah novel. Oka Aurora juga sangat kuat dalam pendeskripsian tempat dan suasana seperti tepi sungai kecil tempat persembunyian Rene dan pertemuan Rene dengan Tara di bab Konser di Atas perahu, pemandangan menuju rumah Lahang dan beberapa penggambaran lainnya yang sangat kuat. Deskripsi ini juga mengiring pembaca untuk menunggu kehadiran film dengan judul yang sama.

Adapun kelemahan yang saya temukan dalam buku ini adalah kisah iseng beberapa anggota tim sebelum naik pesawat dan kisah perjalanan di bus di jakarta yang terkesan agak kurang natural. Selain itu Oka Aurora juga beberapa kali menggunakan kata ‘khas’ dalam deskripsi sehingga kekuatan maknanya jadi berkurang tapi belum sampai membuat jenuh 

Overall 12 Menit adalah buku yang menarik dan inspiratif. Menyadarkan kita bahwa ada banyak macam mimpi yang harus diperjuangkan. Buku ini juga layak koleksi karena tetap terasa asik meski dibaca berulang-ulang. Selamat membaca dan terhanyut dalam kisah inspiratif ini !
Profile Image for A.
41 reviews7 followers
June 9, 2013
I LOVE THIS BOOK!!! I have never played in a marching band or drum corps but I can emphasize with the key characters of this book, particularly with Tara, the snare drum player. Music is all about feeling, not thinking. I totally agree!
Profile Image for Santi Artanti.
Author 1 book4 followers
August 18, 2013
12 Inspirasi dalam 12 Menit

“Bayangkan, Jakarta. Kota yang sekarang tak terjangkau tangan kalian. Bayangkan ribuan orang dari kota itu bersorak-sorai untuk kalian. Bayangkan ribuan orang di stadion besar itu mengentak-entakkan kakinya meminta kalian tampil lagi. Pernahkan kalian membayangkan, kalian menjadi pahlawan bagi ribuan orang ini. Ribuan orang yang tak kalian kenal satu juga. Kemenangan kalian akan membuat mereka sadar, bahwa siapa saja bisa menjadi pahlawan.”
-Rene-

Novel difilmkan, itu sudah biasa. Tapi kalau skenario film dinovelkan, sepertinya itu masih jarang. Dan 12 Menit, berhasil menjadi salah satunya. Oka Aurora mampu mengadaptasi skenario film yang dituliskannya menjadi naskah novel. Sebuah novel yang terinspirasi dari tim Marching Band Bontang Pupuk Kaltim, yang berhasil menjadi juara umum 10 kali sampai tahun 2011 di perhelatan GPMB (Grand Prix Marching Band). GPMB diadakan setiap tahun di akhir bulan Desember, diikuti oleh tim marching band ternama dari seluruh Indonesia. Tentu akan menjadi luar biasa, jika kemenangan itu diraih oleh sebuah tim yang berasal dari daerah. 12 Menit, kisah yang akan meyakinkan kita pada kekuatan mimpi dan keteguhan berusaha.

Rasanya tidak berlebihan jika 12 Menit dinobatkan sebagai novel inspiratif yang memukau. Jalinan cerita di dalamnya adalah gambaran tentang kehidupan yang ada di sekitar kita, rasanya begitu dekat. Oka menyajikannya dengan bahasa yang fresh, renyah dan mudah dipahami. Oka juga lihai menempatkan karakter sesuai tokohnya, tak terjebak dalam keakuannya sebagai pengarang. Banyaknya tokoh yang ia ciptakan sepertinya tidak menghambatnya dalam mengotak-ngotakkan sesuai dengan ciri khasnya masing-masing. Semua karakter mengalir begitu saja, mengikuti ke mana arah penyelesaian masalah dari masing-masing tokoh itu harus bermuara.

Sebagai novel inspiratif, tentu banyak nilai moral yang bisa kita petik di dalamnya. 12 Menit merangkumnya dalam jalinan cerita dan interaksi di antara tokoh-tokohnya. Menjadi pembelajaran yang berharga, mulai dari proses perjuangan meraih kemenangan itu. Suka duka, jatuh bangun, rintangan yang harus dihadapi sampai pada jalan setapak impian yang siap terbentang di hadapan. Dan inilah taburan inspirasi itu:

1. Semangat

Semangat adalah roh kehidupan yang menjiwai manusia. Semangat itu berasal dari diri sendiri. Nilai semangat dari novel ini diwakili oleh hampir seluruh tokohnya yang sangat variatif. Masing-masing mempunyai garis nasib yang berbeda. Masing-masing mempunyai semangat dalam menjalani hari dan lika-liku yang menyertainya.

2. Perjuangan

Perjuangan adalah kerja keras tanpa kenal lelah dalam meraih sesuatu. Nilai perjuangan ini juga diwakili oleh hampir semua tokohnya. Masing-masing mempunyai impian. Masing-masing berusaha memberikan porsi usaha terbaik demi pencapaian impian itu.

3. Disiplin

Mereka telah mengorbankan sebagian waktu yang dimiliki demi latihan itu. Ribuan jam telah mereka lewati hanya untuk 12 menit penentuan. Tanpa disiplin yang ketat, ketahanan dan keuletan, mustahil keberhasilan itu akan diraih. Kedisiplinan mengajarkan mereka untuk fokus pada tujuan utama. Menjadi pemenang, menjadi kebanggaan.

4. Kebersamaan

Tanpa kerja sama yang baik antar anggotanya, sebuah tim marching band tidak akan terlihat kompak. Mereka bersatu padu menciptakan formasi terbaik yang bisa mereka persembahkan. Saat ada satu celah saja yang kosong, akan terlihat timpang dan tidak menarik. Kebersamaan itu dibutuhkan untuk melengkapi semuanya.

5. Persahabatan

Interaksi antar sesama tokoh itu akhirnya menumbuhkan bibit persahabatan. Tanpa adanya jalinan rasa itu, mustahil akan diperoleh jiwa kebersamaan. Sesuatu yang memberi ‘nyawa’ pada permainan marching band mereka. Walau ada beberapa perbedaan status sosial, itu tak menjadi masalah dalam merajut persahabatan.

6. Kekeluargaan

Kehadiran keluarga sangat berarti. Ketiadaannya seakan menghapus separuh asa dalam diri. Arti penting keluarga itu tercermin dalam interaksi antara Tara, oma, opa dan ibunya yang akhirnya luluh dan kembali dalam rengkuhan. Juga terlihat dalam permasalahan Elaine, ibu dan ayahnya, yang akhirnya menyadari bahwa keberhasilan anak adalah kebahagiaan orang tua. Tak ketinggalan, interaksi antara Lahang dan bapaknya juga menunjukkan bahwa dukungan keluarga sangatlah penting untuk penggapaian cita.

7. Kesederhanaan

Ada nilai kebersahajaan yang dibangun oleh tokoh Lahang. Hidupnya yang sangat sederhana tidak menghalanginya untuk menyulam impiannya, untuk hidupnya yang lebih baik di masa mendatang. Meskipun banyak aral coba melintang, tapi keyakinannya terpatri kuat. Impian sederhana bagi banyak orang, tapi spektakuler bagi seorang Lahang. Impian ‘warisan’ almarhumah ibunya yang coba ia sambung. Ya, Bagi Lahang, Monas bukanlah sekadar tugu bersejarah yang wajib dikunjungi. Monas adalah perlambang. Lambang perubahan hidup. Jika ia bisa mencapai monas, ia punya kemungkinan lebih besar untuk mencapai tugu-tugu di kota lain. Atau mungkin juga di negara lain. Dan untuk mewujudkannya, Lahang harus berpacu dengan waktu yang ternyata tak bisa berkompromi dengan detak-detik nafas bapaknya. Sebagian isi novel yang akan mengaduk emosi dan menguras air mata pembaca ada di sini.

8. Pantang menyerah

Elaine, tumbuh dengan tahu persis apa minatnya. Ia begitu mencintai musik. Biola sudah menjadi bagian kesehariannya. Kepindahan keluarganya ke Bontang mengharuskannya melepas kecintaannya itu. Tapi bukan berarti ia menyerah pada keadaan. Di Bontang, ia mengalihkan minatnya pada marching band, sesuatu yang masih berhubungan dengan musik. Dengan perjuangan yang tidak mudah, ia hampir berhasil menjadi field commander. Tiba-tiba ia dihadapkan pada dilema, pilihan antara mengikuti timnya maju ke GPMB atau mengharumkan nama sekolah dengan mengikuti olimpiade fisika. Keadaan semakin sulit, karena ia harus berhadapan dengan ayahnya yang tak pernah menyetujui kegiatan marching bandnya. Tapi, ia tak menyerah begitu saja. Ia punya kemauan kuat, yang akhirnya mengalahkan keraguannya. Dan ia telah menentukan keputusan yang tepat.

9. Keterbatasan bukan halangan untuk maju dan berprestasi

Tak mudah menjadi seorang Tara. Ia kehilangan hampir seluruh pendengarannya dalam sebuah kecelakaan, yang juga merenggut kehidupan ayahnya. Ia hanya tumbuh bersama oma dan opanya. Sementara ibunya ‘menjauh’ demi keegoisan mewujudkan impiannya sendiri. Marching band adalah solusi tepat untuk Tara. Setidaknya, itulah yang omanya pikirkan. Karena semakin sering Tara bergaul dengan banyak orang, ia akan semakin cepat mandiri. Dan Tara berhasil menukar keterbatasannya dengan berprestasi sebagai seorang pemain snare drum yang handal. Sesuatu yang mustahil, tapi nyatanya Tara mampu menaklukkan tantangan itu.

10. Sikap percaya diri

Rene adalah gambaran dari kata ambisius, tegas dan keras kepala. Tapi justru itulah yang menumbuhkan kepercayaan dirinya. Sebagai lulusan fakultas Music Education and Human Learning, ia terbiasa latihan keras dan panjang. Ia berhasil menjadi anggota Phantom Regiment, sebuah corps kelas internasional. Mulai dari anggota snare, section leader hingga menjadi salah satu instruktur. Itu semuanya membentuknya menjadi seorang pelatih yang disiplin dan sedikit kaku. Tapi sisi baiknya, ia peduli dengan impian anak-anak asuhnya. Misinya sebagai pemimpin adalah membawa mereka dikenal seluruh Indonesia. Itu berarti harus menjadi yang terbaik. And she did her best. Ia berusaha keras menularkan semangat percaya dirinya, benih dari kemenangan itu.

11. Keselarasan

Komposisi yang selaras dalam permainan marching band adalah cermin keseimbangan dalam harmoni kehidupan. Jika semua nada pas dalam melodinya, akan tercipta kombinasi keindahan suara dalam keteraturan. Dan lagu kehidupanpun akan berdenting dengan syahdunya. Salut dengan kelihaian Oka, mampu menggambarkan hal-hal yang berhubungan dengan marching band dengan begitu rapi dan detail.

12. Dreaming is believing

Mimpi adalah awal dari segalanya. Percayalah pada mimpimu, lalu yakinkan hati untuk mewujudkannya. Beranilah bermimpi! Seperti pesan bapak Lahang pada putra semata wayangnya, “Berapa pun waktu yang diberikan, tak seharusnya dihabiskan dengan ketakutan. Karena ketakutan, tak akan pernah menyambung hidupmu. Yang akan menyambung hidupmu hanyalah keberanian.”

Vincero! Dan kemenangan itupun membayang di pelupuk mata. Sebuah pencapaian yang luar biasa. Bukti, bahwa prestasi bisa menjadi milik semua orang. Tak peduli siapapun atau dari manapun ia berasal. Sepanjang ia berusaha keras, kelak ia akan memetik buah manisnya.

12 Menit adalah inspirasi untuk semua. 12 Menit adalah novel untuk segala usia. Nantikan juga kehadiran filmnya. Segera, siap menghentak bioskop di seluruh Indonesia!
Profile Image for Fisca.
14 reviews8 followers
September 30, 2013
“… Yang akan menyambung hidupmu, hanya keberanian.”

Aristoteles pernah mengungkapkan bahwa untuk menjadi pemenang yang paling penting bukanlah soal bagaimana usaha mengenali musuhmu untuk mengalahkannya. Di atas itu, kau harus mengenali dirimu sendiri lebih dulu—mengalahkan dirimu sendiri. Pemenang adalah ia yang tahu potensi sekaligus kelemahannya sendiri. Pemenang adalah ia yang menyakini potensinya, setelah sebisa mungkin membenamkan kelemahan. Mengalahkan diri sendiri, itulah hal pertama yang dilakukan pemenang.
Rene paham betul akan hal itu. Ia adalah pemenang. Maka Rene sungguh merasa frustasi ketika anak-anak dalam tim yang dilatihnya kali ini bermasalah dalam kepercayaan diri. Apalah artinya keahlian, teknik dan segala macam kelebihan lainnya kalau tak ada rasa percaya diri?
Membesarkan hati para pemain yang kecil hati bukan soal mudah. Rene sendiri bahkan sempat meragukan dirinya sendiri. Selama ini ia adalah pemenang. Bukan cuma sekali tim marching band yang dilatihnya menjadi juara Grand Prix Marching Band. Tapi bertemu dengan anak-anak dari Bontang Pupuk Kaltim membuatnya menyadari bahwa sebelumnya ia melatih anak-anak yang memang bermental juara, calon-calon pemenang. Sangat berbeda dengan anak-anak Bontang Pupuk Kaltim. Tapi Rene tahu ia juga orang yang keras kepala. Rene terlalu angkuh untuk menyerah dengan mudah. Berusaha membuang keragu-raguannya sendiri, Rene harus berpacu dengan waktu yang semakin sedikit.
Perjuangan Rene untuk melatih tim kali ini tidaklah mudah. Seolah tak cukup hanya bermasalah dalam kepercayaan diri, anak-anak Bontang Pupuk Kaltim yang harus dilatih Rene memiliki masalah dalam keluarganya masing-masing. Elaine contohnya. Anak pemimpin perusahaan besar ini baru saja pindah dari Jakarta. Sejak ia mengenal piano, Elaine jatuh cinta pada musik. Ia pun bergabung dengan tim marching band Bontang Pupuk Kaltim. Sayangnya, ayahnya Josuke Higoshi sama sekali tidak mendukung pilhan Elaine. Ia ingin anaknya menjadi ilmuwan, ketimbang menjadi pemusik. Demi mempertahankan keinginan hatinya untuk terus berlatih, Elaine berjanji pada ayahnya akan mempertahankan nilai-nilainya tak kurang dari 95.
Elaine berhasil membuktikan pada ayahnya nilai-nilainya tetap memuaskan sehingga bisa terus berlatih marching band. Sialnya, kecemerlangan Elaine di bidang akademik membuatnya terpilih untuk mewakili sekolah dalam Olimpiade Fisika. Tentu tak akan ada masalah seandainya saja waktu pelaksanaan Olimpiade Fisika tersebut tidak bersamaan dengan pelaksanaan Grand Prix Marching Band (GPMB). Elaine harus memilih: mengikuti keinginannya, atau keinginan ayahnya. Bagi Elaine, mengikuti keinginannya untuk ikut GPMB adalah caranya mengaktualisasikan diri tapi di sisi lain ia sadar akan mengecewakan ayahnya. Sebaliknya, jika ia mengikuti keinginan ayahnya, maka perjuangannya selama masa latihan akan menjadi sia-sia. Belum lagi kenyataan bahwa anggota tim sangat bergantung kepadanya, karena dalam tim Elaine berperan sebagai Field Commander. Tidak ada Elaine, tim Bontang Pupuk Kaltim tak bisa bertanding. Tentu saja ayahnya marah besar ketika akhirnya Elaine lebih memilih mengikuti GMPB. Tapi Elaine telah membulatkan hatinya.
Bukan cuma Elaine yang harus berjuang. Tara juga demikian. Gadis yang tadinya ceria ini berubah menjadi pemurung sejak mengalami kecelakaan yang juga telah menewaskan ayahnya. Tara frustasi karena pendengarannya bermasalah akibat kecelakaan itu. Sebelumnya, Tara adalah pemain perkusi yang handal. Berbagai teknik memukul perkusi sudah ia kuasai. Ia sabar berlatih demi mendapatkan tempat di tim inti. Ketika harapannya terwujud, kecelakaan menjadikannya tak bisa mendengar nada-nada snare drum dengan jelas tanpa alat bantu. Hal itu membuat Tara sering menjadi penyebab kacaunya permainan anak-anak Bontang Pupuk Kaltim pada saat latihan. Sering kena damprat Rene membuat Tara tertekan. Selain itu, ia masih merasa bersalah karena kematian ayahnya.
Tara masih menyalahkan dirinya sendiri atas kematian ayahnya. Tara sangat marah pada dirinya sendiri, dan merasa tidak ada orang yang bisa memahami dirinya. Ibu yang diharapkan bisa menghiburnya tidak bersedia kembali dari Inggris karena masih harus menyelesaikan kuliah. Tara merasa terpuruk dan ingin menyerah. Untungnya ada Oma dan Opa yang selalu sabar dan berusaha terus mengibur Tara. Kata-kata dari Opanyalah yang kemudian berhasil membangkitkan lagi semangat Tara.
Satu orang lagi anggota tim yang harus berjuang keras: Lahang. Pemuda Dayak yang satu ini harus menempuh jarak berkilo-kilo meter jauhnya, melintasi rawa-rawa yang dihuni para buaya, demi latihan marching band. Semua dilakukan Lahang karena ingin mewujudkan mimpi ibunya yang sudah meninggal dunia, yaitu pergi ke Jakarta untuk melihat Monas. Dengan ikut GPMB, Lahang selangkah lebih dekat dengan Jakarta. Cita-cita Lahang mendapat restu dari ayahnya. Tapi segalanya menjadi dilematis karena ayahnya sakit keras saat Lahang hendak berangkat ke Jakarta. Lahang tidak ingin meninggalkan ayahnya, khawatir kalau ayahnya meninggal saat ia tidak berada di sampingnya seperti pada saat kematian ibunya. Janji ayah untuk menunggu Lahang pulang sedikit meringankan langkah Lahang. Maka berangkatlah Lahang ke Jakarta, berjuang bersama anak-anak Bontang Pupuk Kaltim dan cita-cita melihat Monas. Sayangnya, kepedihan masih harus ditanggung Lahang. Ayahnya menyerah pada sakitnya saat Lahang masih berada di Jakarta.

***

Jelas sekali apa yang menjadi inti dari novel ini. Motivasi. Masing-masing tokoh diceritakan memiliki masalah yang harus ditanggung, tujuan yang ingin dicapai, dan hambatan-hambatan yang datang silih berganti. Selalu ada masa sulit yang menjadikan tokohnya kehilangan semangat dan ingin melepaskan tujuan awal. Tapi pada akhirnya, kebulatan tekad tak pernah sia-sia.
Sebesar apapun masalahnya, kalau kau bertekad maka kau bisa. Saya kira, itulah yang hendak disampaikan penulis, Oka Aurora, dalam novel 12 Menit ini. Disampaikan dengan apik, 12 Menit adalah novel motivasi yang bisa dibaca sesantai membaca novel-novel populer. Kadangkala, membaca satu bagian kejadian mengingatkan saya pada hal-hal yang saya alami sendiri. Mengingat kesedihan, dan bagaimana cara menghadapinya agar tidak melupakan tujuan.
Novel ini berbeda, karena setahu saya belum ada novel yang bertemakan marching band. Satu nilai tambah, karena menamatkan novel ini setidaknya menambah informasi mengenai marching band beserta istilah-istilahnya. Mungkin “hal baru” ini jugalah yang menjadikan novel ini akan tayang di layar lebar dalam waktu dekat.
Kesan yang mendalam tentu saja mengenai kerja keras dan pengorbanan. Hanya untuk 12 menit, kau harus berjuang berbulan-bulan, menentang orang yang kaucintai demi sesuatu yang juga kaucintai, membuang rasa takut, melupakan rasa sedih, dan yang paling penting: percaya.
Sebab kau adalah apa yang kaupikirkan. VINCERO!
Profile Image for Rima Lestari.
1 review
November 30, 2013
Buku ini diawali sebuah ayat yang diambil dari Al Quran. Surat Al Ra'd ayat 11 yang berarti "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan sebuah bangsa sampai mereka mengubah keadaan mereka sendiri". Ayat ini mewakili isi novel yang disadur dari kisah nyata perjuangan tim Marching Band Bontang Pupuk Kaltim (MBBPKT). Kisah yang dirancang apik dalam novel "12 Menit".  
Uniknya, di sampul depan sudah ada secarik pesan: "nantikan filmnya". Biasanya, novel best seller atau novel yang memikat sineas muncul beberapa lama sebelumnya kemudian divisualkan dalam wujud film. Tapi ini, baru cetakan pertama sudah dilabeli seperti itu. Saya dibuat heran karena ini di luar kebiasaan. Ternyata novel ini adalah adaptasi dari skenario film "12 Menit untuk Selamanya". Penulisnya adalah penulis skenario film tersebut, Oka Aurora. Ia berkejaran menulis novel dalam masa syuting film karena novel harus terbit sebelum filmnya diputar di bioskop-bioskop.  

Saya menyebut novel ini sebagai hidangan pembuka film. Seperti halnya hidangan pembuka, novel pertama Oka bersifat membangkitkan selera. Tentu saja tidak mengenyangkan tapi membuat saya bersiap pada hidangan utamanya. Saya seperti halnya kebanyakan pembaca novel, suka ragu dengan film yang diangkat dari novel. Sering kali tak sesuai gambaran imajinasi. Untuk menjembatani pembaca seperti saya, sepertinya sengaja ditampilkan foto-foto pada sampul bagian dalam. Di sana ada Elaine, Tara, Lahang, dan Rene juga teman-teman MBBPKT yang tengah berlatih. Foto-foto itu adalah potongan gambar film sesungguhnya.  
"12 Menit" bercerita tentang perjuangan MBBPKT menjadi juara dalam ajang Grand Prix Marching Band (GPMB) di Istora, Jakarta. Lika-liku setiap anggotanya untuk bisa mengalahkan diri mereka sendiri agar dapat menyatu bersama tim dan mewujudkan impian bersama.  

Rene, pelatih MBBPKT adalah orang yang paling ingin mewujudkan impian yang mustahil itu. Ia sudah beberapa kali membawa tim marching band yang dilatihnya meraih juara di ajang nasional maupun internasional. Bahkan sebelum ke Bontang, tim marching band asuhannya di Jakarta menjadi juara GPMB tiga kali berturut-turut. Kali ini ia mendapat tantangan terberat selama menggeluti profesinya. Rene harus melatih satu tim yang berasal dari pelosok, bukan anak-anak kota yang biasa ia latih. Ia tak hanya harus melatih kemampuan bermain musik, tapi juga membangkitkan rasa percaya diri mereka. Anak-anak berlian yang merasa kecil karena berasa dari kota kecil.  

Tara salah satunya. Ia adalah pemain drum. Daya dengarnya yang tinggal 10-20 persen membuatnya kesulitan berharmoni dengan tim. Tapi masalah utamanya bukan itu. Tara punya trauma masa lalu yang menyebabkan pendengarannya berkurang. Trauma itu membuatnya keras pada diri sendiri dan tidak mau memaafkan. Ia kecewa dan mengecewakan orang-orang tercintanya.  

Lahang pun demikian. Ia tidak bisa memaafkan dirinya andai harus kehilangan bapak tanpa ia ada di sisinya. Lahang, penari berbakat dan menjadi andalan menari solo dalam tim, menghadapi dilema. Bapaknya, tetua adat Dayak, sakit keras menjelang kepergian anak semata wayangnya ke Jakarta. Meraih impiannya di Jakarta atau menemani ayahnya menjelang ajal adalah pilihan yang berat. Keduanya penting bagi Lahang. Ke Jakarta adalah juga mewujudkan impian mendiang ibundanya; sedangkan menemani ayah adalah juga tekadnya setelah pada kematian ibu, ia tak sempat menemani di penghujung hidupnya.  

Memilih juga hal tersulit bagi Elaine. Dia selalu mendapatkan tekanan berat dari ayahnya, Josuke Higoshi. Bahkan ketika ia sudah memenuhi kemauan ayahnya, masih saja itu belum cukup. Maka ketika ia memilih marching band daripada olimpiade Fisika, mengharukan saya. Perlu keberanian besar seorang Elaine memutuskannya. Dan benar saja, Josuke tak menyetujui pilihan anaknya bahkan menarik paksa Elaine dari lapangan saat gladi resik. MBBPKT terancam tak memiliki field commander dalam ajang GPMB di Jakarta.  

Kisah-kisah ini mewakili 130 anggota tim MBBPKT yang harus mengalahkan diri mereka dulu sebelum berjuang bersama tim. Saya suka dengan pilihan Oka yang menuliskannya dalam kalimat-kalimat pendek dan efektif. Hebatnya, saya tidak menemukan typo alias kesalahan ketik. Meski saya pembaca yang toleran dengan typo, tapi mendapati novel yang mulus seperti ini menyenangkan mata.  

Penceritaan yang to the point dan menghadirkannya dalam bab-bab pendek, memudahkan saya memvisualisasikannya dalam benak (ini kebiasaan saya kalau baca novel). Karena jalinan alurnya tidak terlalu cepat, maka bab-bab pendek ini tak membuat saya kelelahan membaca. Ditambah, kalimat-kalimat mutiara yang motivatif bertebar di hampir seluruh bab. Membuat saya kadang harus diam sejenak, meresapi kalimat-kalimat itu, sebelum kemudian melanjutkan membaca. Dan, itu sukses membuat saya membaca ulang lalu menandai kalimat-kalimat itu.  
"Berapapun waktu yang diberikan, tak seharusnya dihabiskan dengan ketakutan, sambung bapaknya lembut, "karena ketakutan, anakku, tak akan pernah menyambung hidupmu. Yang akan menyambung hidupmu, hanya keberanian." (halaman 104)  
"Tak ada pelaut tangguh yang dilahirkan oleh laut yang tenang." (halaman 140)  
"...hadapi masalahmu satu per satu. Selesaikan satu demi satu. Menghabiskan sepiring nasi nggak mungkin dalam sekali telan kan?" (halaman 258)  

Membaca novel ini membuat saya geregetan. Konflik yang dihadirkan berlapis terkadang bikin sebel. Seakan sudah selesai dan berekspektasi akan menikmati cerita yang manis-manis, eh muncul masalah lain dan itu bukan mengada-ada. Karena sebenarnya kalau mau cermat, potensi konfliknya sudah dihadirkan pada bagian-bagian sebelumnya.  
Meskipun tampaknya pesan yang disampaikan serius, Oka menyampaikannya dengan ringan. Malahan ada bab yang full bikin saya terbahak, bab 45. Istilah-istilah marching band tak membuat saya pening. Glosarium di bagian belakang malah saya telusuri usai menyelesaikan membaca novelnya. Dengan menerka-nerka istilah-istilah tersebut sambil menyesuaikan dengan narasi atau deskripsi yang dituliskan, lebih menyenangkan bagi saya yang buta istilah marching band dan musik.  

Berjuang memang akan selalu ada dalam tahapan hidup manusia. Bahkan untuk menaklukkan istilah-istilah dalam marching band tanpa menengok Glosarium. Hehehe. Sepahit apapun perjuangan, akan menerbitkan manis, cepat ataupun kelak. Yang terpenting, siapkan diri menjadi tangguh. Maka benar adanya bila Oka menuliskan ini dalam bukunya:
"Perjuangan terberat dalam hidup manusia adalah perjuangan mengalahkan diri sendiri. Buku ini adalah bagi semua yang memenangkannya."  
Vincero!
Profile Image for Lutfia Khoirunisa.
35 reviews9 followers
August 30, 2013
Apa yang pertama kali terpikir ketika mendengar buku motivasi? Mungkin sebagian besar akan berpikir tentang genre nonfiksi. Namun, tidak dengan buku yang satu ini. Inspirasi dan motivasinya terjalin rapi dalam cerita fiksi. Mari berkenalan dengan tokoh-tokoh yang akan menemani kita sepanjang novel ini.

Rene, seorang pelatih marching band profesional. Ia memiliki banyak pengalaman dalam melatih grup marching band. Kepiawaiannya dalam melatih marching band tidak bisa diragukan lagi. Rene telah berkali-kali membuat kelompok yang dilatihnya meraih juara.

Elaine, gadis yang sangat berbakat dan mencintai dunia marching band. Karena pekerjaan ayahnya, ia harus pindah ke Bontang. Di sana, ia langsung mendaftarkan diri untuk mengikuti Marching band Bontang Pupuk Kaltim sebagai field commander. Sayang, ayahnya tidak menyukai kegiatan Elaine. Ayahnya ingin Elaine menjalani sekolah tanpa diganggu kegiatan lain.

Tara, masa lalu yang membuat pendengarannya terganggu tak pernah bisa ia lupakan. Meski memiliki keterbatasan fisik, Tara terus berusaha mengikuti nada-nada dalam formasi marching band. Walaupun tak dipungkiri, ia sering juga merasa lelah dan ingin menyerah.

Lahang, ingin selalu menemani ayahnya yang sedang sakit. Namun, ia juga ingin terus berlatih fouettes. Lahang sering terlambat berangkat ke tempat latihan. Kondisi ayahnya yang semakin memburuk membuatnya ragu untuk meneruskan kegiatannya dalam marching band.

Kelompok Marching band Bontang Pupuk Kaltim selama ini berlatih dengan biasa saja. Marching band ini telah menjadi milik masyarakat Bontang, tapi minimnya prestasi membuat orang-orang di dalamnya kurang bersemangat. Rene yang didaulat menjadi pelatih baru berusaha membuat kelompok ini siap menghadapi Grand Prix Marching band (GPMB), festival marching band terbesar di Indonesia. Seleksi pemilihan tim inti segera dimulai. Bukan hal yang mudah untuk menemukan anggota yang bisa mengisi formasi tim inti. Elaine, Tara, dan Lahang adalah beberapa orang yang terpilih untuk menjadi anggota tim inti.

Latihan yang dipimpin langsung oleh Rene juga tidak berlangsung dengan mudah. Ada saja halangan yang membuat perkembangan kelompok ini lambat sekali. Elaine, Tara dan Lahang juga memiliki masalah masing-masing yang membuat keyakinan mereka teruji. Keyakinan untuk bertahan atau mundur. Begitu banyak perjuangan yang mereka lakukan untuk mempersiapkan penampilan selama 12 menit. 12 menit yang sangat berarti. 12 menit tampil di hadapan penonton, mempersembahkan yang terbaik dari diri mereka masing-masing.

Saya sering berpikir, apa yang sedang dilakukan orang-orang pada waktu yang bersamaan. Ketika saya sedang duduk-duduk santai, mungkin orang lain sedang terburu-buru mengejar kereta. Ketika saya sedang menghadapi ujian, mungkin banyak yang lainnya justru dengan berlibur dengan gembira. Novel ini mengingatkan saya pada pikiran-pikiran yang sering berlalu lalang itu. Kelompok marching band yang mengikuti GPMB memiliki 12 menit yang sangat berharga bagi mereka. 12 menit yang memiliki arti berbeda bagi setiap orang.

Novel 12 Menit berhasil saya habiskan dalam sekali duduk. Saya ingat sekali membacanya di perjalanan dalam kereta. Alurnya yang cepat, tidak banyak basi-basi membuat saya menuntaskannya dengan segera. Bahasanya pun mengalir dengan sangat enak, meski banyak kata-kata asing dalam dunia marching band yang tidak saya mengerti. Istilah asing ini juga tidak mengganggu saya karena penjelasannya bisa saya temukan di bagian belakang buku.

Novel ini sangat terasa sisi motivasi dan inspirasinya. Percaya diri, tidak mudah menyerah, kerja sama. Semua pesan itu ada dalam 12 Menit. Dialognya kuat. Kata-kata yang diucapkan Rene untuk menyemangati anggota timnya terasa sangat hidup. Pengalaman Oka sebagai penulis skenario tentu berperan banyak dalam hal ini. Novel ini sendiri memang adaptasi dari skenario film yang ditulis oleh Oka. Konflik yang dihadapi masing-masing tokoh utama membuat ceritanya semakin kompleks dan menarik untuk diikuti.

Saya menyukai ide penulis mengangkat marching band menjadi tema utama. Sepertinya, tema ini jarang diangkat sebelumnya. Saya sendiri tidak pernah bergabung dalam tim marching band. Membaca novel ini membuat saya lebih paham bagian-bagian dalam tim marching band. Tentu saya tidak bisa mengerti dengan begitu cepat. Namun, novel ini bisa menjadi pintu bagi saya untuk berkenalan dengan dunia marching band.

Secara keseluruhan, saya sangat menikmati ketika membaca novel ini. Meski begitu, tentu saja ada beberapa catatan. Novel ini bercerita tentang perjuangan kelompok dari daerah untuk mengikuti ajang akbar di Jakarta. Kerja sama untuk membentuk tim yang kompak dan solid sangat diperlukan. Namun, menurut saya proses latihan marching band ini sendiri diceritakan kurang detail. Memang di beberapa bagian ada adegan Rene memberikan kalimat motivasi yang kuat, dan saya menyukainya. Namun, di luar itu rasanya penggambaran prosesnya masih kurang.

Selain itu, di salah satu bab disinggung seorang tokoh yang terkesan memiliki arti penting. Sejak awal, saya sendiri bertanya-tanya apa peran tokoh ini dalam novel 12 Menit. Saya terus mencari nama tokoh ini di halaman-halaman selanjutnya. Namun, ternyata tokoh tersebut tidak berperan lagi. Saya kurang mengerti kenapa penulis menciptakan tokoh yang sebenarnya memiliki karakter kuat, tapi sayangnya hanya disinggung sebentar.

Untuk masalah teknis sendiri saya tidak ada masalah. Font-nya cukup besar dan nyaman dibaca. Hanya saja, untuk penjelasan istilah asing saya lebih menyukai jika diletakkan sebagai footnote, bukan dijadikan satu dalam lembar glosarium di lembar belakang. Menurut saya, penataan footnote akan memudahkan pembaca karena tidak perlu membalik halaman berkali-kali. Mungkin pertimbangan kerapian yang akhirnya membuat penerbit memilih meletakkan daftar istilah di bagian belakang.

Di luar catatan itu, novel ini tetap saya rekomendasikan untuk siapa saja. Temukan kata-kata penyemangat yang indah dalam novel 12 Menit. Untuk novel yang sarat motivasi ini, saya berikan 4/5 bintang. Vincero!
http://berceritabuku.blogspot.com/201...
Profile Image for Maryeni Auliyati.
28 reviews
October 3, 2013
12 Menit - Jalan Panjang Perjuangan Menaklukan Diri Sendiri,Menjangkau Mimpi

Judul : 12 Menit
Pengarang : Oka Aurora
Penerbit : Noura Books
Tebal : xiv + 348 halaman
Cetakan : Pertama, Mei 2013
ISBN : 978-602-7816-33-6

Mimpi adalah energi bagi kehidupan. Sejatinya mimpi bisa membawa manusia pada arah kehidupan yang lebih baik. Namun tidak banyak manusia yang percaya dengan mimpinya, dan tidak sedikit juga yang karena badai perjuangan akhirnya memilih untuk melupakan mimpi-mimpi besar tersebut. Secara sederhana 12 Menit kembali menegur kita bahwa mimpi harus dipercayai agar terwujud ; Dreaming is Bealiving”. Tidak ada yang salah dengan mimpi, yang layak dipertanyakan adalah seberapa serius dan siap kita mengejar mimpi tersebut.

“Terbayangkan berarti terjangkau” begitu ujar Hideyoshi, seorang tokoh besar Jepang dimasa lampau. Konsep ini pulalah kiranya yang diuji dalam buku 12 Menit. Menjadi juara dalam Grand Prix Marching Band (GPMB) adalah mimpi besar yang ‘coba’ dibayangkan oleh segenap tim Marching Band Bontang Pupuk Kaltim.

Rene seorang pelatih Marching Band berpengalaman hadir sebagai katalisator mimpi tersebut. Bagi Rene yang telah matang dalam dunia Marching Band dan telah beberapa kali membawa tim lain ke puncak kejayaan tentu mimpi tersebut tidaklah mustahil. Namun keyakinan Rene menjadi turut tergoncang saat berhadapan dengan realita tim yang dibinanya. Jangankan untuk menjangkau, untuk membayangkan saja personel tim sudah dihantam oleh berbagai rasa kecut dan konflik internal yang merong-rong keyakinan mereka.
Tara, Lahang dan Elaine adalah tiga tokoh sentral lain dalam buku ini. Tara, seorang pemain drum yang baik di masa lampau. Kini ia harus berjuang mengembalikan permainan terbaiknya dalam keterbatasan pendengaran. Hampir 80 persen pendengaran Tara hilang bersama kepergian Ayahnya dalam sebuah kecelakaan maut. Rasa bersalah dan kehilangan adalah luka masa lalu yang menghambat Tara untuk menatap masa depan.

Lahang, pemuda dengan bekal pesan dari sang bunda ingin menjadikan Tugu Monas sebagai loncatan bagi mimpi besar untuk mengunjungi berbagai tugu lain di dunia. Membentangkan sayap keberanian, terbang lebih tinggi seperti Elang. Dalam meretas mimpinya bersama marching band Lahang dihadapkan dengan sebuah dilema tentang keluarga. Kondisi Bapaknya yang kian parah, serta penyesalan karena tidak berada di sisi Ibunya saat sang bunda menghembuskan nafas terakhir membuat Lahang sulit beranjak dari sisi Bapaknya. Lahang meragu untuk mengejar mimpinya sementara sebuah janji telah terucap. Lahang telah berjanji kepada Bapaknya untuk terus ‘hidup’ dalam kehidupannya.

Elaine, gadis pintar keturunan Jepang yang sangat mencintai musik dan meyakini musik adalah segala-galanya dalam hidupnya. Josuke sang ayah, sangat menginginkan Elaine menjadi seorang ilmuwan, dan baginya musik adalah sesuatu yang sia-sia. Elaine mempunyai peran vital dalam tim. Ia adalah satu-satunya field commander yang diharapkan setelah field commander yang sebelumnya mengalami cedera berat. Josuke menentang keras keinginan Elaine untuk tetap bergabung dalam tim.

Sanggupkah Rene mengembalikan keyakinan tim untuk membayangkan, kemudian menjangkau mimpi mereka? Bagaimanakah cara Tara, Lahang dan Elaine berdamai dengan keadaan mereka?

“Hampir setiap saat, kalian teriakan VINCERO! SAYA. AKAN. MENANG. Vincero. Namun, sudahkan kalian resapi artinya?... Sudahkah kalian rasakan kemenangan itu? Bisakah kalian cium baunya?... Apakah kalian bisa merasakan getarannya di genggaman kalian?” (hal 83-84)
***


Dari segi penampakan luar, desain sampul biru dengan rak papan dan beberapa alat musik dipadu dengan judul 12 Menit menjadi magnet tersendiri dari buku ini. Bahan Sampul juga mengangkat derajat buku ini sehingga terkesan lebih classy. Dan poin terbesarnya adalah tempelan selembar foto kecil yang mencuri perhatian.

Marching Band bukanlah sebuah topik yang umum bagi masyarakat Indonesia tapi Oka Aurora berhasil mengurai kisah ini dengan sangat menarik dan manis. Pesona buku ini juga terdapat di latar kisah yaitu Bontang dan segenap keberagamannya. Keragaman latar belakang tokoh menjadi salah satu bentuk harmonisasi dalam buku ini.

Nilai lebih lainnya dari buku ini adalah uraian tiap bab yang singkat dan dengan gaya bahasa yang ringan. Ini seakan menjadi solusi bagi pembaca yang sering bosan saat terjebak dalam narasi panjang bab sebuah novel. Oka Aurora juga sangat kuat dalam pendeskripsian tempat dan suasana seperti tepi sungai kecil tempat persembunyian Rene dan pertemuan Rene dengan Tara di bab Konser di Atas perahu, pemandangan menuju rumah Lahang dan beberapa penggambaran lainnya yang sangat kuat. Deskripsi ini juga mengiring pembaca untuk menunggu kehadiran film dengan judul yang sama.

Adapun kelemahan yang saya temukan dalam buku ini adalah kisah iseng beberapa anggota tim sebelum naik pesawat dan kisah perjalanan di bus di jakarta yang terkesan agak kurang natural. Selain itu Oka Aurora juga beberapa kali menggunakan kata ‘khas’ dalam deskripsi sehingga kekuatan maknanya jadi berkurang tapi belum sampai membuat jenuh 

Overall 12 Menit adalah buku yang menarik dan inspiratif. Menyadarkan kita bahwa ada banyak macam mimpi yang harus diperjuangkan. Buku ini juga layak koleksi karena tetap terasa asik meski dibaca berulang-ulang. Selamat membaca dan terhanyut dalam kisah inspiratif ini !
Profile Image for Aisyah Sariasih.
15 reviews3 followers
November 9, 2013
SUKSES ITU, DI TANGAN KITA



Judul Buku : 12 Menit
Penulis : Oka Aurora
Penerbit : Noura Books
Terbit : Mei 2013
Halaman : XIII+343 halaman

Novel bersampul biru gelap, bermotif rak lengkap dengan satu dua perlengkapan marching band. Saat pertama kali menyentuh sampulnya, serasa memegang rak asli, ada tekstur kasar dari sampul novel ini, cukup unik. Nilai tambah yang lain adalah adanya pembatas buku yang bertekstur sama dengan sampulnya.
Tara, Lahang, Elaine, dan Rene. Merekalah tokoh sentral dalam kisah yang dibingkai dalam novel 12 menit karya Oka Aurora. Kisah perjuangan tim marching band daerah untuk dapat menjadi juara dalam ajang bergengsi tahunan marching band, Grand Prix Marching Band di Istora Senayan Jakarta. Mereka berusaha untuk memberikan pembuktian bahwa tim marching band daerah tidak kalah dengan tim marching band dari kota besar seperti jakarta. Dengan segala permasalahan yang melingkupi tiap tokohnya, akankah mimpi untuk menjadi juara dalam ajang bergengsi akan terwujud?
Tara, gadis yang kehilangan pendengarannya paska kecelakaan yang juga merenggut nyawa ayah yang dicintainya. Kecelakaan itu menimbulkan trauma bagi Tara, apalagi setelah mengetahui bahwa pendengarannya hanya bersisa 10-20%. Mimpi untuk menjadi bagian dalam tim marching band, seperti menjauh. Walaupun, kemampuan bermain musik, khususnya snare drum, tidak bisa disanksikan. Tara, merasa minder ketika harus menyeimbangkan diri dengan teman-temannya yang lain, yang tidak memiliki masalah sepertinya.
Lahang, seorang pemuda suku dayak yang harus menempuh perjalanan puluhan kilo demi latihan yang harus dia jalani dalam tim marching band. Kesukaannya menari, mengantarkannya ikut dalam tim ini. Walaupun dia harus dihadapkan pada pilihan sulit ketika ayahnya sakit, apakah dia akan mengalami hal serupa ketika ibunya meninggal? dengan berat hati dia berusaha untuk mewujudkan mimpi bapak dan ibunya untuk bisa membawa prestasi, melihat dunia baru yang selama ini belum ditemuinya. Dan marching band lah jalan yang dia pilih untuk mewujudkan mimpi tersebut.
Elaine, gadis blasteran Indonesia-Jepang yang jenius. Memiliki ayah yang keras, membuat Elaine tidak mudah menjalankan kecintaannya dalam bermain musik. Ayahnya ingin Elaine menjadi seorang ilmuan, bukan musisi. Maka, ketika mereka pindah dari Jakarta ke Bontang, ayah Elaine tidak lagi mengijinkan putrinya bergabung dalam tim marching band. Beruntung, Elaine memiliki ibu yang lembut hati yang membantunya menghadapi ayah yang keras. Dengan kemampuan yang Elaine miliki, tidak sulit baginya memenuhi syarat yang diminta sang ayah agar Elaine tetap bisa menajalankan kesukaannya tersebut.
Rene, pelatih marching band yang sudah memiliki banyak pengalaman dalam menangani tim marching band. Tiga kali tim yang dipimpinnya meraih juara dalam ajang bergengsi tersebut. Bergabung dalam tim marching band tingkat internasional, juga pernah dirasakannya. Namun, melatih anak-anak Bontang, baru kali pertama dia alami. Kondisi yang jauh berbeda dia temukan. Tidak hanya sebagai pelatih, dia juga harus menjadi seorang motivator untuk anak didiknya.
Pemilihan kata sederhana, petuah-petuah yang tidak menggurui, cukup memberikan motivasi untuk terus berjuang demi sebuah mimpi yang sudah dicanangkan. Istilah-istilah dalam marching band, tidak akan membuat bingung karena sudah ada penjelasannya di glosarium bagian belakang buku. Beberapa kalimat motivasi juga menambah semangat yang dibawa oleh novel ini.
“when you have nothing, you’ve got nothing to lose”
“Keberuntungan adalah kesiapan dalam kesempatan. Kesempatan sebenarnya selalu ada, tetapi hanya orang2 yg siap jasmani dan rohani yg bisa cpat mendeteksi kesempatan”
Namun, dalam penceritaan, ada yang mengganggu.
1. Kisah tentang tokoh bernama Rob, yang hanya ada pada satu bab, kemudian menghilang hingga akhir cerita. Tokoh Rob seperti hanya sebagai penambah halaman novel ini.
2. Bab “konser di atas perahu” agak aneh, karena disitu diceritakan bahwa Rene tidak mengenal Tara, padahal di bab sebelumnya, Rene baru saja memarahi Tara habis-habisan. Jikapun itu adalah flash back, tapi tidak ada kalimat yang menunjukkan nya. Sangat janggal.
3. Ending cerita yang klise. Mengapa? Dengan konflik yang ada, penjelasan yang kurang terasa prosesnya, tiba-tiba sudah jadi.
Terlepas dari beberapa kekurangan itu, novel ini memberikan pengetahuan baru bagi saya. Dunia marching band yang seperti identik dengan hura-hura, menunjukkan bahwa kesuksesan selalu harus diimbangai dengan kerja keras. Istilah-istilah dalam marching band memberikan wawasan baru bagi pembaca yang awam dengan dunia ini. Kisah tentang Lahang dengan kehidupannya, memberikan sedikit gambaran bagaimana suku Dayak dengan kehidupannya. Melalui dialog, prosesi adat, dan keyakinan yang dianutnya.
Akhirnya, novel ini cukup berhasil memberikan semangat pantang menyerah pada apa yang kita ingini. Karena sukses, itu di tangan kita. Seperti ayat al qur’an yang dikutip di awal buku “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan sebuah bangsa sampai mereka mengubah keadaan meraka sendiri” (Ar’d: 11)
1 review
August 27, 2013
Resensi Novel 12 Menit : Dreaming is Believing!

Ribuan Jam yang Menentukan

Ujung keberhasilan terletak pada pangkal apa yang kita lakukan. Artinya, sebuah keberhasilan hanya buah dari sebuah awal yang pernah kita kerjakan.
Kita sering kali berdecap kagum ketika melihat penampilan sebuah pentas yang apik. Tapi kita jarang bertanya: apa yang telah mereka lakukan untuk bisa menghasilkan sebuah pertunjukan yang memukau? Novel 12 Menit karya Oka Aurora mengajak kita untuk menjawab pertayaan itu. Menapak demi tapak langkah guna menghargai sebuah proses panjang sampai akhirnya tiba di tangga keberhasilan.
Novel 12 Menit berkisah tentang kelompok Marching Band Bontang Pupuk Kaltim. Mungkin sudah banyak cerita yang mendedah keberhasilan kelompok atau orang dalam label: Zero to Hero. Tapi novel ini berhasil keluar dari jebakan melodroma yang berlebihan seperti kisah-kisah kebanyakan. Yang menarik dari novel ini bukan hanya karena kita mengenal beberapa nama alat musik, macam-macam formasi atau sekadar bentuk-bentuk latihan, tapi juga bagaimana kita diajak menelusup dalam liku-liku perjuangan untuk menjadi yang terbaik.
Rene, sang mentor, mempunyai tugas yang tak ringan: mengangkat kelompok Marching Band daerah ke pentas nasional. Dari situ novel 12 Menit berpusar. Tentu saja semua itu tak semudah kisah Bandung Bondowoso yang bisa membangun Candi Prambanan hanya dalam waktu semalam. Dalam novel ini dibentangkan tentang bagaimana dibutuhkan ribuan jam untuk menempa Marching Band menjadi kelompok yang tangguh dan bisa menjadi kampiun.
Apa yang dilakukan Rene seperti menata puzle. Ia harus bisa menemukan pasangan yang pas. Ini jelas memerlukan ketekunan dan kesabaran karena yang dihadapi Rena adalah manusia. Yang menarik tokoh-tokoh yang ada tak hitam putih. Mereka manusia-manusia biasa yang punya retak-retak di sana sini, dengan problem dan masalah masing-masing. Semuanya berkelindan bersamaan dengan proses menjadi bagian pemain Marching Band yang unggul. Sebut saja Tara. Ia mesti jatuh bangun untuk menguasai snare drum dengan keterbatasan pendengaran yang ia miliki. Belum lagi ia mempunyai problem psikologis dari masa lalu yang perlu dipecahkan. Sedangkan Elaine menganggap musik adalah hidupnya, tapi ayahnya dengan kuat menentangnya. Pun, Lahang. Pada detik-detik pementasan ia harus menerima palu godam yang hampir merontokan impiannya melihat Monas.
Semua kisah itu diceritakan dengan manusiawi. Kita akan diajak mengikuti pemecahan semua persoalan itu seperti mengupas kulit bawang merah. Satu persatu tersingkap, yang pada akhirnya semua problem bisa diatasi. Di sinilah bahwa novel tidak hanya berkisah, tapi mengajak pembaca berpikir tentang kehidupan manusia yang beraneka ragam, sehingga kita makin menghormati perbedaan unik setiap manusia.
Ada alegori menarik dalam bagian novel 12 Menit: burung elang. Pesan moral yang ingin disampaikan dalam novel ini adalah pentingnya bermimpi. Tapi tentu saja mimpi mesti di turunkan ke bumi akan terwujud. Artinya perlu kerja keras yang perlu dilakoni. Burung elang merupakan pekerja keras. Tapi uniknya ia pekerja keras tanpa kebrisikan. Setelah menyambar ikan di dalam air laut setelah itu terbang lagi ke angkasa tanpa membuat keributan. Ia bekerja tanpa ingin sekililingnya tahu. Ia bekerja karena sudah seharusnya demikian setiap makluk hidup. Sepertihanya pohon padi yang tumbuh tanpa kehebohan. Itulah burung elang. Pun, semestinya demikian pula dengan manusia.
Novel 12 Menit memang tergolong tebal dan sarat dengan pesan. Tapi novel ini tak menjemukan untuk dibaca. Kisah-kisahnya disusun perbab dengan masing-masing diberi judul. Ini akan menjadi peta bagi pembaca. Ada 50 bab yang akan menjadi seperti arus sungai. Kita berhulu pada bab pertama dan berhilir pada bab kelimapuluh. Dengan cara seperti ini pelan-pelan pembaca akan diajak menuju klimaks. Sehinggapembaca tak akan ngos-ngosan membacanya karena bisa jeda dalam setiap babnya.
Sebuah novel yang enak dibaca tentu tak membenani pembaca dengan bahasa yang sulit dipahami. Novel 12 Menit termasuk novel populer dengan bahasa yang renyah dan mengalir. Tak perlu berkerut-kerut membacanya. Kadang memang kita bisa terharu membaca kisah sang tokoh yang ditimpa musibah. Bisa jadi pada halaman lain kita gemas dan emosi membaca tokoh lain yang menyebalkan. Pun, bisa terlonjok kegirangan. Di sinilah keberhasilan novel 12 Menit membuat emosi pembaca melonjak-lonjak.***

12 Menit 12 Menit by Oka Aurora
Profile Image for Stilldaydreaming.
9 reviews5 followers
June 13, 2013
Akhirnya saya berhasil menyelesaikan novel ini. Novel yang berhasil membuat saya merasa ada di dalamnya. Saya nggak tau gimana ngejelasinnya secara teknis, tapi yang jelas bagi saya novel ini punya "soul"-nya. Kekuatan utama dari novel ini menurut saya gimana novel ini punya soul and power (susah ngejelasinnya, tapi itu yang saya rasa). Saya bisa merasakan ambisi dari Rene, semangatnya, keras kepalanya. Mungkin dia adalah tokoh favorit saya. Meskipun keras kepala dan galak, tapi Rene adalah sosok yang pantang menyerah dan orang yang peduli akan anak-anak asuhannya. Pokoknya saya suka suka suka >.< (dan saya udah tau akhirnya, bahwa yang namanya Rene ini cewek, hehe). Hal lain yang jadi keunggulan dari novel ini adalah setting Bontang dan segala hal tentangnya yang cukup detail. Belum lagi istilah tentang marching bandnya juga memperlihatkan penulis novel ini sangat baik dalam hal riset. Sampai awalnya saya pikir penulis novel dulunya anggota marching band, tapi kalo baca di ucapan terima kasih-nya sepertinya dia hanya riset saja. Tapi thumbs up buat tema marching band yang diangkat oleh penulis. Sayangnya ... saya sempet agak nggak mudeng dengan istilah marching band yang dipakai, terutama diawal-awal, meski akhirnya saya mulai adaptasi. Tapi jujur, jadi susah bayanginnya karena saya nggak tau snare itu apa, front commander tepatnya kayak gimana (yang ini agak lumayan paham sih), dan istilah lain yang saya nggak hapal. Makanya, saya bener-bener menantikan filmnya :D. Dari segi kepenulisan, gaya bahasanya cukup baik dan enak untuk dibaca. Meskipun ada beberapa kalimat patah-patah (malah sebenarnya frasa), tapi sejauh ini penggunaannya masih wajar. Dan ada pengulangan frasa yang saya pikir jadi ciri khas (tapi agak bosan juga karena terlalu sering diulang-ulang--atau bahkan selalu), yaitu penggunaan fasa "jatuh iba". Hal yang saya pertanyakan adalah pembagian bab yang menurut saya terlalu banyak, tapi tiap bab halamannya cuma sedikit. Bahkan ada yang hanya sekitar 2 lembar saja. Padahal mungkin ada yang bisa digabung jadi satu bab. Selain itu meskipun judul tiap bab cukup menarik, ada yang menurut saya tidak terlalu nyambung dengan isinya--malah menurut saya tidak pas karena sebenarnya yang dijadikan judul bab itu cuma pelengkap saja. Seperti contohnya "Panggil Aku Toyib". Saya pikir tokoh Toyib akan menjadi bagian dari deretan tokoh yang punya peran penting, tapi sepertinya ia hanya penghias saja. Dan ternyata memang orang bernama Toyib ini tidak muncul-muncul lagi sampai akhir cerita. Dan ada satu tokoh yang secara misterius menghilang, setelah sempat disinggung di awal bab. Tokoh itu bernama Rob. Saya nggak ngerti kenapa Rob ini sempat dikenalkan di awal. Meski diceritakan dia pergi ke Amerika, tapi sampai akhir cerita dia nggak balik-balik ke Indonesia. Dan tidak disinggung-singgung sama sekali oleh tokoh lain. Dan saya jadi bingung. Dia siapa ya? Dan endingnya agak sedikit kurang nendang. Meskipun menurut saya pas sekali penulis menutup novel dengan adegan pertandingan marching band, tapi rasanya ada yang kurang. Salah satunya sih kayaknya Rene kurang dapet credit dari anak-anak buahnya. Saya pribadi sih berharap penulis lebih menggamparkan bagaimana akhirnya ada sedikit yang berubah dari hubungan antara anggota dengan si pelatih ini. Tapi saya tetep puas dengan adegan 12 menit pertandingan itu, dan berhasil bikin saya terharu :P. Sayang, ada sedikit yang menurut saya mestinya dihilangkan, yaitu komentar tambahan dari pengarang yang tiba-tiba muncul di dalam narasi--padahal sebelumnya hal demikian tidak ada.

Overall, saya menyukai novel ini, dan sama sekali tidak menyesal membelinya. Novel ini mengingatkan saya akan dorama-dorama Jepang semacam Nodame Cantabile atau Dragon Zakura, yaitu kisah inspiratif dari sekelompok orang yang dianggap pecundang, yang berjuang untuk menjadi pemenang. Tapi tidak hanya itu saja yang didapat, tapi ada nilai-nilai lain yang bahkan jarang diangkat di dalam dorama-dorama tersebut. Meskipun novel ini tidak terlepas dari klise-klise, seperti ayah yang kolot yang menghalangi impian anaknya, tapi saya rasa hal-hal seperti itu banyak terjadi di dunia nyata, dan wajar saja kalau penulis mengangkat tema tersebut. Tapi penulis berhasil mengeksekusi klise-klise tersebut dengan cukup baik, sehingga saya tidak mendengus saat membaca hal-hal "yang itu-itu lagi". Rasanya secara visual, novel ini akan menarik, makanya saya jadi kepingin nonton filmnya. Dan saya penasaran Rene kayak gimana ya hehehe. Akhirul kalam, VINCERO!
Profile Image for Skylar Alvins.
17 reviews5 followers
July 7, 2013
Madame's Warning: Reviews are subjective as it is supposed to be. And even if I seem to be using quite a harsh criteria on characters or plots, it's just me being a nitpick. Still, everything's all up to you, readers of my review, to either proceed with buying/continuing to read/borrowing (?) the book I review. (I just feel obliged to include this, and will probably include this warning before rants from now on.)

I'm finally back with another read. It feels like I've been reading papers for ages! (Well, I am preparing to get a research started since I plan to get my bachelor's degree by next year, so I would probably be mostly off this site.)

So! On to the review. Not in the usual format though.

A book about music. Marching band, to be specific. I've been learning about music slowly (especially being the self-taught one that I am), and most of my prior knowledge about marching bands come from either talks with former marching band members or John Bogenschutz's Tone Deaf webcomics, so I just try to chew it bit by bit.

So we are presented with the Jakartan girl Rene, a seasoned trainer who was once part of a professional marching band in the US, now the new trainer of the Bontang Pupuk Kaltim Marching Band. As with every single trainers in the world, she wants to bring the team into victory, despite it being quite the remote team to begin with (East Kalimantan!) and they have to compete with other marching bands from Java. Several points of view are presented, as is obvious in the blurb (Tara the snare drum player, Elaine the violinist , Rene herself, and Lahang the color guard guy, being the most poignant ones).

The conflicts arise as Rene's stubbornness creates clashes with the band's manager, staffs, and even members. Her rather harsh approach towards discipline creates some downturns during the course of the novel. But you can expect...

For me, this book is more about adaptations the whole cast has to do. The Jakartan trainer has to adapt with her new surroundings at Bontang in order to get to know her band better: the people, the cultures, the geographical characteristics (which has some effects too, as in, for example, why one comes late to band practice)... to which I can relate more than the band experience itself. (I used to move around a lot. Like, one year I was in A, the next I might be in B, and three or four months afterwards I'd have to pack up and fly off to C.) Also, the rest of the band has to get along with their new trainer and her approach to discipline.

As I have no experience in bands, I wouldn't comment so much on its musical content. Although I can still imagine the approximate resulting sounds.

And the characters... Generally they're all likable. Yet... okay, it's very personal, but Elaine seems to be the one I least like among the others. Seems like she didn't have the courage to actually stand up and face the music (pun intended), with her Overexpecting Asian Dad (literally) looming around her. But okay, at least she did gain support in the end.

Despite all its musical goodness... I could have given one more star, actually... but there's one thing that bothers me the most (not exactly a HISSSS point, though): the constant comparison between Bontang and Jakarta. I mean, okay, Bontang is not in Java, it's industrial, it's this and that, but comparing any other Indonesian city to Jakarta is sort of disturbing for me.

I don't know, it just seems to me that... hey, not all Indonesian cities have to be like Jakarta in everything, right? (Not even the city I live in right now. I know there are some aspects of Jakarta that would be good to have here, but I don't want this city to be a copy of it either.)

Nah, that's all for this time's book rants. As always, pardon my wording.
Profile Image for Sinta Nisfuanna.
1,023 reviews64 followers
December 22, 2013
"Mereka berlatih ribuan jam hanya demi 12 menit penentuan."

Tidak tau kenapa, saat membaca kalimat tersebut di bagian sinopsis, tiba-tiba di kepala malah muncul, "kok seperti ujian nasional ya, yang jadi titik tentu belajar selama bertahun-tahun." Well, kalau dipikir-pikir, begitulah hidup, yang terdiri dari titik-titik tentu dari setiap usaha dan doa manusia. Tinggal bagaimana manusia berusaha untuk mencapai titik tentu tersebut dengan cara bagaimana. Hasilnya? Pasti yang terbaik dari Allah SWT.

'Perjalanan' baca saya bersama marching band asal Bontang ini sempat tidak terlalu menyenangkan. Pasalnya, banyak sekali istilah-istilah yang saya tidak paham, meski pada bagian akhir novel terdapat glosarium. Jadinya, saat membaca bagian Rene yang begitu menggebunya membimbing seratus duapuluh anak, rasanya kurang mancep di hati, akibat kepala saya yang harus mencerna dulu istilah-istilah tersebut.

Tapi, semakin ke belakang ternyata alur menjadi lebih menarik, masalah istilah mulai dikesampingkan. Titik dimana, saya merasakan emosi cerita adalah saat Elaine memunguti sampah di bagian belakang rumah Lahang. Meski sedikit bingung dengan alur maju-mundurnya, saya mulai bisa merasakan kemarahan Tara, kekesalan pada Pak Josuke, tangisan Lahang, kegemasan Rene, teruuus... sampai ikut terharu di bagian ujung cerita. Sepertinya, jurus untuk menikmati novel ini, bagi yang tidak mengerti marching band, adalah mengesampingkan istilah-istilahnya.

Walhasil, sekarang saya menjadi ikut penasaran dengan filmnya. Semoga tidak mengecewakan.

Bintang: 3.5/5
Profile Image for Uthie.
326 reviews76 followers
August 1, 2016
Ini bukan review cuma curhat yang gak jelas

Ada yang bilang buku ini inspiratif, ada juga yang bilang "INSPIRATIF? INSPIRATIF DARI MANA? DARI HONGKONG?!?!"

Yah... masalah inspiratif atau tidaknya sebuah buku itu berpulang pada masing-masing pembaca dan pengalaman hidupnya sih. Bahkan bagi orang-orang tertentu buku kipas itu bisa sangat inspiratif. Buat anak-anak marching band atau anak-anak yang berada di pelosok daerah dan tak pernah ke Jakarta buku ini mumgkin bakal sangat inspiratif. Tapi buat saya....

Buku ini mengingatkan saya akan masa berseragam putih merah. Saat itu pada hari tertentu di sore hari saya duduk di depan rumah menunggu kakak-kakak marching band SMU yang akan berparade setiap minggunya sambil membawakan lagu-lagu nasional. Meski tidak mengenakan seragam, tapi mereka tampak begitu gagah dan keren.

Oh... buku ini juga mengingatkan saya pada seorang abang kelas, anggota marching band juga, yang saya taksir diem-diem. Tapi ya gitu deh... Gak dianggep. Soalnya saya bukan anak marching band. Pait, Jendral.


Review di blog menyusul...
Profile Image for Atria Dewi Sartika.
115 reviews10 followers
August 19, 2013
Sejujurnya, cover buku ini menurut saya kurang menarik. Warnanya terlalu gelap. Kurang cerah. Kurang merepresentasikan apa yang disajikan dalam cerita ini. Hal ini sempat mempengaruhi minat saya untuk membaca buku ini.

Bahkan jujur di awal membaca novel ini pun saya sempat merasa bosan. Membuat perhatian saya teralih ke novel lain. Dan kini setelah berhasil menamatkannya dalam waktu 3 jam di sela perjalanan kembali ke Bandung setelah mudik lebaran di Majene, maka saya harus mengakui bahwa kali ini saya ditemani oleh salah satu teman seperjalanan terbaik yang pernah saya punya.

Novel ini dibuka dengan situasi latihan marching band disertai berbagai istilah yang sangat asing bagi saya. Tapi ini salah satu kesenangan yang saya temukan dalam membaca yaitu mendapat ilmu baru yang tidak pernah saya kenal sebelumnya. Nah, setelah itu menyusul deskripsi beberapa anggota marching band. Perlu diingat, dalam novel ini penulis menggunakan kata ganti orang ketiga sehingga tokoh yang bisa dieksplorasi hidup, pikiran dan sudut pandangnya menjadi lebih banyak. Hal ini jelas bisa menjadi keuntungan sekaligus menjadi petaka jika penulis tidak mampu mengolahnya dengan baik.


Ada beberapa tokoh yang menjadi fokus dalam novel ini. Ada Rene, pelatih baru Marching Band Bontang Pupuk Kaltim yang memiliki karakter kuat dan dominan. Ia tegas, keras kepala, dan pantang menyerah. Ia sudah sangat lama menghabiskan waktunya di dunia Marching Band, bahkan di Amerika ia sempat bergabung dengan salah satu marching band profesional berskala internasional. Namun, tantangan yang ia hadapi di Bontang tidak mudah. Dengan karakter dan kebudayaan yang berbeda dari Jakarta, Bontang menghadirkan kesulitan tersendiri bagi Rene untuk membuat semua orang punya percaya diri, bahwa dari mana pun asal mereka, mereka bisa menang. Rene harus mampu menyesuaikan diri dengan pribadi dan karakter yang berbeda yang dimiliki oleh pemain dan staff Marching Band Bontang Pupuk Kaltim.

Ada pula Elaine, anak tunggal yang ikut pindah dari Jakarta ke Bontang untuk mengikuti sang ayah yang dipindah tugaskan ke Bontang. Ia meninggalkan zona nyamannya dan akhirnya menemukan Marching Band Bontang Pupuk Kaltim sebagai dunianya yang baru.ia meninggalkan teman-temannya, klub musik yang dicintainya. Syukurlah perhatian ibunya dapat membantunya menghadapi semua tantangan dalam proses adaptasi yang dijalani Elaine. Namun, ketika ia menemumakan mimpi baru bersama Marching Band Bontang Pupuk Kaltim, ia pun menyadari bahwa mimpi tidaklah mudah untuk diraih.

Selain Rene dan Elaine ada pula Tara. Kehidupan Tara mengajarkan kita tentang bahwa terkadang hidup kita yang tadinya baik-baik saja bisa tiba-tiba terbalik dan menjadi sangat susah dijalani. Tara yang harus kehilangan pendengaran sekaligus Ayahnya dalam sebuah kecelakaan. Setahun kemudian dia harus rela berpisah dari ibunya yang berhasil memperoleh beasiswa ke Inggris. Ia pun tinggal bersama Opa-Omanya di Bontang. Namun sejak kecelakaan itu Tara bukan lagi Tara yang dulu. Ia yang pering menjadi tertutup dan emosional. Namun ia akhirnya mencoba untuk menata kembali hidupnya dan bergabung dengan Marching Band Bontang Pupuk Kaltim.

Lain Tere lain pula Lahang. Lahang adalah bagian dari color guards tim Marching Band Bontang Pupuk Kaltim. Lahang, anak Dayak yang hidup berdua dengan sang ayah sejak ibunya meninggal. Ia menyimpan sesal terkait kematian ibunya. Dan kini sang ayah menderita sakit parah. Lantas sanggupkah ia membagi dirinya di antara dunia tarian yang ia cintai dengan keinginannya untuk selalu menjaga sang Ayah?

Satu persatu masalah dalam kehidupan tokoh-tokoh ini pun dikuak oleh penulis. diceritakan bahwa latihan yang keras membuat Tara tertekan. Ia pun berfikir untuk menyerah. Dan di lain pihak dia masih menyimpan rasa bersalah atas kematian sang ayah. Ia pun merasa bahwa latihan Marching Band sangat berat terutama bagi dia yang pendengarannya sudah hilang. Dan ia harus bertarung dengan dirinya sendiri. Bertarung melawan keterbatasannya dan luka hatinya. Namun benarkah keputusannya untuk berhenti? Itukah yang terbaik untuknya?

Elaine, hidupnya nyaris sempurna. Cerdas, cantik dan berbakat. Namun apa semua kelebihan itu membuat mimpi serta merta menjadi mudah di raih. Butuh keberanian untuk meraih impian. Dan ternyata tantangan itu datang dari sang Ayah. Ayahnya tidak setuju jika Elaine aktif di Marching Band. Ia ingin Elaine jadi ilmuwan. Maka kisah Elaine mungkin juga adalah kisah dari kehidupan kita saat impian kita harus terbentur dengan impian orang tua, harapan mereka, dan apa yang mereka pikir terbaik untuk kita.

Semua masalah ini pada akhirnya mempengaruhi penampilan Marching Band Bontang Pupuk Kaltim. Mampukah mereka tampil di Grand Prinx Marching Band (GPMB) yang diadakan setiap tahun? Siapkah mereka? Mampukah Rene membawa timnya tampil memukau di Jakarta? Mampukah mereka mengejar mimpi di bawah atap yang sama, di bawah naungan Marching Band Bontang Pupuk Kaltim?

Buku ini akan membawa emosi kita untuk memandang masalah yang bisa muncul dalam sebuah kelompok. Sekelompok orang yang tengah memperjuangkan mimpinya, membuktikan diri, dan berusaha membanggakan orang-orang terkasih. Kita akan bisa meresapi beban yang ditanggung seorang Lahang saat berjuang meraih impiannya. Dan saya pun menangis bersama Elaine yang terjebak diantara baktinya pada sang Ayah dan mimpinya tampil bersama Marching Band. Saya pun belajar memahami pikiran-pikiran seorang Tara yang awalnya memiliki indra yang sempurna dan hidup yang normal namun kemudian harus menerima hidup yang berbeda saat salah satu indranya tak lagi berfungsi dengan baik.

Dari segi kekuatan cerita harus saya beri dua jempol. Mungkin untuk cetakan berikutnya, sampulnya bisa didesain lebih menarik. Dengan begitu novel ini akan semakin menarik perhatian dan akan semakin banyak orang yang bisa terinspirasi oleh cerita ini.

Untuk setting tempat, maka membaca buku ini akan menambah khasanah kita tentang satu lagi daerah di Indonesia beserta budaya dan ke-bhineka-an yang melingkupinya. Ya, kota Bontang mungkin masih asing bagi beberapa orang. Namun tidak begitu asing bagi saya yang pernah tinggal di Kalimantan Timur. Dan kembali saya harus mengacungi jempol untuk dialog yang dituliskan dalam buku ini. Dialognya menggunakan logat yang memang digunakan di Kalimantan. Maka saya cukup yakin bahwa penulis tidak hanya melakukan riset tentang Marching Band Pupuk Kaltim ini tapi juga melakukan riset tentang budaya dan kondisi masyarakat di Bontang.

Ah, bangga saya pada penulis Indonesia yang bisa menulis sebagus ini. :)

Nah, jika harus memberi nilai untuk buku ini dalam skala 1-10, maka saya memberinya nilai 8,75. Kelak mungkin bisa jadi 9 jika sampulnya dibuat lebih menarik. He..he.. (^_^)v


Quote:

Keberuntungan adalah kesiapan dalam kesempatan. Kesempatan sebenarnya selalu ada, tetapi hanya orang2 yg siap jasmani dan rohani yg bisa cpat mendeteksi kesempatan.

Betapa musik bisa lebih halus berkata, sekaligus lantang bermaksud.
Profile Image for F3t.
167 reviews12 followers
August 3, 2013
Vincero! Dreaming is believing!
Jujur saja, saya awalnya penasaran dengan buku ini karena melihat tulisan “Nantikan filmnya”, yang terdapat pada cover depan buku ini. Kemudian saya membaca sinopsis yang berada di belakang buku yang lumayan tebal ini, dan saya terlanjur jatuh hati dengan ceritanya. Menceritakan tentang empat tokoh utama yang mempunyai latar belakang dan kesulitan yang berbeda, namun kemudian mereka bersatu untuk mencapai impian mereka bersama. Menjadi juara.
Elaine murid pindahan dari Jakarta dan memiliki bakat musik yang hebat. Setelah ia pindah ke daerah Bontang, Kalimantan Timur, dia memilih untuk masuk ke dalam kegiatan Marching Band daerah tersebut. Marching band yang dapat diikuti oleh siapa saja, dari berbagai usia yang ada di Bontang. Namun, ayah Elaine tidak menyetujui anaknya untuk bermain di marching band, walaupun nilai Elaine tidak pernah turun dari angka 95. Ayahnya menentang walaupun Elaine dipilih menjadi seorang field commander, yang bisa dianggap sebagai pemimpin marching band tersebut, dikarenakan musik tidak dapat menghasilkan uang.
Tara dulu tinggal di Jakarta. Setelah kecelakaan yang membuat ia kehilangan 80% pendengarannya, dia tinggal bersama kakek dan neneknya di Bontang. Tara merasa ditinggalkan oleh ibunya yang berkeinginan untuk mengejar pendidikan S2-nya di luar negeri. Namun dengan keterbatasan Tara ini, dia merupakan pemain snare drum yang sangat baik dan terpilih menjadi tim inti untuk mewakili Bontang. Bagaimana ketika Tara yang awalnya bersemangat ketika akhirnya ia merasa tidak percaya diri dan merasa kalut dengan perasaan takutnya sendiri?
Lahang tinggal di salah satu kedalaman Bontang, berjalan selama 45 menit dalam hutan, kemudian melintasi jalanan yang jelek, ia merupakan seorang murid teladan. Ia masih percaya dengan adat istiadat tradisional tempatnya. Ketika ayahnya jatuh sakit, ia percaya akan kemampuan pengobatan tradisional tersebut. Lahang sangat ingin pergi ke Jakarta. Namun ia mengalami dilema ketika harus meninggalkan ayahnya dengan kondisi yang sangat lemah.
Rene seorang pelatih marching band yang lulus dari Amerika dan berhasil membuat tim marching band Jakarta menjadi yang terbaik. Ia memutuskan untuk membantu marching band Bontang, walaupun marching band ini pasti akan dipandang sebelah mata atau tidak diperhitungkan karena berasal dari tempat yang mungkin tidak semua orang di Indonesia tidak mengenalnya. Namun, seperti yang Rene bilang, “Bila kita sudah merasa kalah. Maka pasti kita tidak akan menang.” Menjadi seorang pelatih yang akhirnya membawa marching band Bontang Pupuk Kaltim ke Jakarta, dan “berharap” untuk memenangkan lomba marching band se-Indonesia tersebut.
Bersama dengan anggota tim lainnya, mereka terus berlatih untuk menyempurnakan segalanya hanya untuk 12 menit penampilan mereka.
Pada awal kisah, pembaca disuguhkan dengan penggalan-penggalan cerita yang disorot dari setiap karakter untuk mengenalkan tokoh-tokoh utama kepada pembaca. Kemudian cerita beralih pada pemilihan warga yang ingin mengikuti marching band inti ini. Banyak kejadian lucu di sini. Sama ketika kita menonton film dengan orang-orang yang “nyeleneh”.
Semakin berjalannya novel, konflik antar pribadi mulai bermunculan. Ketika Rene menganggap bahwa semuanya telah “siap”, ternyata masih ada halangan pada beberapa anggota yang berada pada titik untuk “menyerah” dan dapat berujung pada kegagalan penampilan mereka, dan juga ia harus berhadapan dengan ketakutan dan rasa minder anggotanya yang lain ketika berhadapan dengan marching band dari luar daerahnya.
Di sinilah tugas utama Rene sebagai pelatih diuji. Dia harus menghadapi dan membangkitkan semangat setiap orang, berjuang untuk tetap melanjutkan marching band-nya. Ia yang tidak ingin kehilangan kesempatan untuk menjadikan Bontang juara, harus berhadapan dengan ketakutan setiap anggotanya dan menyakinkan mereka tentang apa yang terpenting bagi impian mereka, yaitu membuktikan dan membuatnya menjadi kenyataan.
Cerita secara garis besar dapat kita bandingkan dengan film-film yang mungkin bertema sama, seperti kompetisi menyanyi ataupun tari yang mungkin telah memiliki banyak instalmen (seri). Namun bedanya, ini adalah kontes tentang marching band, dan berlatar belakang di Indonesia. Sebuah kontes untuk memenangkan kompetisi tapi juga kontes untuk membuktikan diri.
Mungkin pembaca akan menebak apakah tim ini akan kalah atau menang pada akhirnya. Pembaca yang optimis akan berpikir, mereka pasti akan menang, layaknya film pahlawan super atau para loser/pecundang yang dikucilkan dan tidak diperhitungan. Atau pembaca yang pesimis akan berpikir, bahwa mustahil mereka akan menang pada akhirnya.
Tapi apapun hasilnya, novel ini sebenarnya lebih menjelaskan tentang proses untuk meraih hasil tersebut. Proses cerita yang diangkat inilah menjadi yang terbaik dalam novel ini. Proses dimana setiap individu dengan kelebihan, kekurangan, ketakutan, dilema, dan segala perasaan mereka bersatu untuk mencapai apa yang mereka anggap adalah impian mereka walaupun itu mustahil. Ketika akhirnya kita dihadapkan dengan pilihan untuk tetap memilih atau menyerah saja dengan mewujudkan impian kita sendiri.
Novel ini memiliki banyak latar belakang, perbedaan agama, dan kepercayaan yang ditulis melalui tokoh-tokohnya, inilah yang menbuat novel ini seperti membuktikan bahwa perbedaan pun dapat bersatu dan berjalan berdampingan untuk mencapai tujuan yang sama.
Mungkin yang dapat menjadi kekurangan pada novel ini adalah banyaknya istilah dalam permainan marching band, jabatan dalam marching band maupun alat musiknya, yang terkadang dapat membingungkan pembaca. Terutama pembaca yang “buta” terhadap musik dan sulit “mengimajinasikan” alat musik yang dimaksud. Namun pada akhir novel terdapat glosarium/catatan tambahan yang menjelaskan tentang istilah alat-alat musik tersebut, yang sedikit banyak dapat membantu pembaca untuk mengerti, walaupun tidak mencantumkan semua istilah yang ada. Sangat disarankan bila seandainya catatan tersebut tidak berada pada akhir buku melainkan berada pada halaman yang sama seperti catatan kaki, karena akan lebih memudahkan pembaca, dengan tidak harus membolak-balik halaman untuk mengerti arti yang dimaksud.
Sederhana dan inspiratif adalah gambaran umum yang dapat saya berikan pada novel “12 Menit” ini. Kesederhanaan dalam penuturan dan penceritaan yang membuat buku ini dapat dibaca oleh segala umur, penggambaran tokoh yang sangat sesuai dengan realita yang apa adanya. Inspirasi yang kental diberikan oleh setiap tokoh dengan dilema yang terjadi pada diri mereka masing-masing, dan bersatu untuk mewujudkan impian mereka bersama. Buku ini memang tidak rumit, buku ini sebagai pengingat kita, pembangkit perasaan untuk menang, yang sepertinya sering kita lupakan.
1 review
Read
April 15, 2020
12 MENIT, UNTUK SELAMANYA. DREAMING IS BELIEVING
A COTTON CANDY
Resensi novel 12 Menit oleh Nur Maryam Afifah Sy
Novel, lembaran penuh cerita mengandung banyak kisah yang memberi kesan tersendiri bagi pembaca. Ada yang seperti sepiring nasi gemuk penuh daging, cerita yang bertema berat dan menarik hati penggemar khusus. Ada yang seperti potongan kue cokelat berkrim, cerita ringan yang menyentil perasaan penggemar yang lebih khusus. Dan ada, cerita yang sederhana, manis dan menyentuh seperti permen kapas merah muda yang lembut dan menyisakan kesan yang lama di lidah kita. Mungkin penjelasan terakhir itu yang cukup pas untuk menerangkan tentang novel karya Oka Aurora, yang berjudul 12 Menit ini.
Kisah yang sederhana, dengan tema yang berpusat pada perjuangan sebuah tim Marching Band, tepatnya Marching Band Pupuk Kaltim. Bersetting di Bontang, Kalimantan Timur. Mengisahkan tentang Rene, seorang jebolan Universitas Musik di Amerika yang jatuh cinta pada marching band sejak ia masih kecil dan memiliki semangat tersendiri dalam jiwanya sebagai seorang pemain dan pelatih. Wanita muda yang penuh semangat ini dihadapkan pada sebuah situasi dimana ia harus melatih sebuah tim marching band di kota kecil yang bahkan orang-orang akan bingung dimana sebenarnya letaknya, yang bukan beban kecil untuknya. Tugasnya satu: membawa mereka menang di GPMB, acara nasional perlombaan Marching Band di Jakarta. Dan permasalahan bukan hanya seputar menang-kalah-menang-kalah, tapi juga di seputar para anggota tim Marching Bang itu sendiri. Di dalamnyalah cerita berjalan dimana tokoh-tokoh harus bergumul dengan diri mereka sendiri akan konflik yang menghambat jalannya proses menuju kemenangan tim Marching Band mereka.
Ada Tara, yang sifat dasarnya kekanakan dan suka merajuk, yang kehilangan ayahnya dan jauh dari ibunya. Seorang pemain drum yang berbakat alami, yang memiliki gangguan pendengaran akibat kecelakaan yang juga merenggut nyawa ayahnya. Ia bergumul dengan masalah pendengaran, rasa benci terhadap sikap ibunya yang baginya egois---pergi ke Inggris untuk menyelesaikan studinya dan meninggalkan dia dengan Oma-Opanya serta pendengarannya yang buruk, dan rasa bersalah di dasar hatinya serta mimpi-mimpi buruk karena kecelakaan yang terjadi pada ayahnya.
Ada Elaine, yang mencintai musik sepenuh hati. Pindah dari Jakarta ke Bontang mengikuti ayahnya, pria Jepang yang sekeras batu. Yang membenci hubungan akrab Elaine dengan musiknya. Yang yakin bahwa yang ia inginkan pasti diinginkan juga oleh anaknya. Dilemanya ketika ia harus memilih antara Olimpiade Fisika yang didukung ayahnya dan marching band yang dipandang sebelah mata oleh ayahnya. Ayahnya berkeras bahwa dia harus mengikuti keinginan ayahnya. Ayahnya mau Elaine jadi ilmuwan. Sebuah selipan manis di tengahnya dimana sebuah flashback muncul ketika Elaine masih kecil, saat ayahnya memasukan ide agar ia menjadi ilmuwan supaya bisa keluar negeri dan polosnya Elaine menjawab yang bisa diinterpretasikan bahwa tak usah jadi ilmuwan untuk dapat keluar negeri. Jadi apa yang kau inginkan dan terbang kemanapun kau mau.
Ada Lahang, anak suku asli Dayak dengan bakat menari yang mengagumkan. Dipenuhi hari-hari penuh kekhawatiran akan keadaan ayahnya yang mengalami sakit kanker otak. Ia harus fokus antara latihan dan merawat ayahnya. Selipan pedih ketika ayahnya meninggal saat ia ditengah perlombaan. Ia menangis tersedu namun dengan dukungan si Wanita Baja sebagai pelatihnya ia lanjut berlomba.
Novel ini mengalir lembut dan bagaikan sebuah film, kamera satu ke kamera lainnya bergerak lincah merekam situasi yang berbeda dan cepat. Dipenuhi dengan dialog-dialog menyentuh dan narasi-narasi manis diiringi humor yang lembut. Kelebihan dari novel ini tak lain adalah alur kisahnya dan para tokohnya, diciptakan begitu hidup dan begitu manusiawi; dengan masalah yang akhirnya harus mereka pecahkan sendiri. Hubungan antar satu tokoh dan lainnya menyeret kita ke dalam perjuangan latihan Marching band di tengah lapangan yang panas dan di sela peluh yang mengalir. Semua puncak dari konflik per tokoh menyentuh hati. Pertengkaran Tara dengan Oma-Opanya, nasihat ayah Lahang pada anaknya, menangisnya Elaine menghadapi ayahnya, dan ketika sang Pelatih, Rene berlarian kesana kemari mengumpulkan kembali anggota Marching Band yang tercerai-berai.
Penulis dengan lincah membuat para tokoh menyelesaikan masalah mereka pelan-pelan, satu per satu dengan cara mereka sendiri. Bagaimana tim marching band berlatih selama dua belas bulan demi dua belas menit penampilan mereka di kejuaraan adalah inti dari cerita, tapi bunga-bunga kisah yang ditampilkan tokoh-tokoh utamanya adalah sesuatu untuk dinikmati. Bahasa yang renyah, ringan, tentu dibumbui beragam istilah tentang marching band, yang tak perlu dikhawatirkan karena di glosarium kita bisa menemukan artinya. Penulis juga menyelipkan pesan moral dan kata-kata mutiara-motivasi disana-sini, yang merupakan nilai plus tersendiri. Satu yang akan disukai setiap orang mungkin adalah kutipan: Tak ada yang instan di dunia ini. Tak ada. Kecuali mungkin mi. Oh, dan kopi. (--Hal 66)
Kekurangan dari novel ini, mungkin ada pada kurangnya twist cerita. Agak hambar dan lempeng. Untungnya, kehadiran para tokoh yang terasa hidup bisa memperbaiki kurangnya kejutan pada alur cerita. Dan semua kesederhanaan mereka dan perjuangan mereka bisa membuat pembaca terharu. Sudut sederhana adalah Rene yang menyelesaikan masalah mereka namun kenyataannya bukan sedangkal itu. Mereka, para tokoh belajar menyelesaikan permasalahan dan sebagainya dengan cara mereka sendiri, dan Rene hadir untuk terus memarahi, mengkritik, menyemangati, melompat ke air untuk mengambil stik drum, berjalan melewati sungai berlintah untuk menjenguk ayah orang lain, memarahi lagi, menyemangati, dan akhirnya memeluk anggotanya.
Akhir dari kisah ini sendiri cukup bisa ditebak, bahkan ketika kita sampai di bab ketiga buku ini kita sudah tahu bahwa pasti Tim Marching Band Pupuk Kaltim akan meraih juara. Namun bukan alasan untuk menutup buku ini dan tidak menghabiskan ceritanya, karena selalu ada kejutan dalam tiap tokoh utama yang akan menyentil sesuatu dalam diri kita. Tentu, tak masalah bagi kita untuk sekali lagi mendengar tim mereka berteriak, Vincero!!!
Profile Image for Hairi.
Author 3 books19 followers
November 17, 2013
Namanya Tara. Gadis berkerudung itu mempunyai kemampuan teknik bermain drum yang lebih baik dari sebagian anak seusianya. Sampai kemudian satu kecelakaan membuat dia kehilangan pendengarannya. Hanya tersisa berapa persen dari suara yang seharusnya dia dengar, bisa ditangkap telinganya. Tara tertatih menemukan kepercayaan dirinya kembali.

Pertemuannya dengan Rene membuat dia masuk ke tim inti marching band. Namun, bisakah Tara dengan pendengarannya yang mengandalkan alat bantu dengar bergabung dengan team marching band yang tentunya membutuhkan kesesuaian dan kerjasama yang apik antara satu dan yang lain? Sementara Tara malah kerap tak bisa mendengar instruksi saat latihan. Membuat dia sering kena omelan dan teguran, menjadi kambing hitam dari tidak kompaknya latihan mereka.

Sementara Lahang, pemuda dayak itu harus menempuh perjalanan jauh demi latihan tiga sampai empat kali setiap minggunya. Belum lagi Lahang juga selalu didera kecemasan saat harus meninggalkan rumah karena bapaknya sedang sakit keras. Sakit keras yang terus memberikan bayang ketakutan dan kekhawatiran buat Lahang. Tapi Lahang punya mimpi. Mimpi yang dikobarkan oleh ibunya untuk melihat Monas, tugu perlambang ibukota negara itu. Dengan melihat secara langsung Monas, akan membuka jalan baginya untuk melihat tugu-tugu di kota besar lainnya. Dan marching band adalah jalan satu-satunya untuk mewujudkannya.


Elaine. Gadis Jakarta yang mengikuti papanya pindah kerja ke Bontang ini punya banyak prestasi. Elaine yang merasakan passion-nya dalam dunia musik cukup besar tak pernah cukup mendapat restu dari sang ayah untuk ikut marching band. Ayahnya lebih mendukung Elaine berprestasi dalam bidang akademik.

Elaine kemudian mendapatkan tiket untuk ikut Olimpiade Fisika. Membanggakan tentu, tapi menggiring Elaine pada situasi yang sungguh dilematis. Karena waktu Olimpiade Fisika berbentrokan jadwalnya dengan GPMB (Grand Prix Marching Band), perhelatan tahunan akbar tempat marching band ternama dari seluruh Indonesia berlaga untuk memperebutkan gelar juara.

Tiga tokoh itulah yang menjadi central cerita dalam novel 12 menit. Mereka bertiga tergabung dalam tim Marching Band Pupuk Kaltim Bontang. Mereka berlatih ribuan jam hanya demi 12 menit penentuan. 12 menit penampilan mereka dalam GPMB dibawah asuhan Rene sang pelatih.

Rene yang sudah begitu piawai dalam dunia marching band dan kerap membawa tim marching band yang dilatihnya menggondol piala juara. Tapi, menjadi pelatih tim marching band di sebuah kota kecil di Kalimantan mempunyai tantangan sendiri. Murid-muridnya di Bontang berbeda dengan murid-murid yang dia temui di Jakarta. Selalu ada kesan dalam keseharian mereka : merasa “kecil” karena berasal dari kota kecil. (Hal 13)

Novel 12 menit bukan novel tentang semangat, perjuangan dan kerja keras yang pertama saya baca. Tapi, membaca novel 12 menit mengantarkan rasa yang berbeda karena saya serasa mempunyai kedekatan emosional dengan tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Mungkin karena mengambil setting Bontang yang berada di provinsi yang sama dengan tempat saya bertinggal sekarang, Kalimantan Timur.

Apalagi sebelum membacanya saya juga menonton teaser dari film 12 menit. Yup, novel 12 menit ini akan segera difilmkan. Awalnya akan tayang 29 agustus ini, walau kemudian ditunda penayangannya hingga desember nanti.

Setelah menonton teaser film itu, setidaknya saya punya gambaran akan tokoh-tokoh di dalamnya, tidak rusuh sendiri bikin sketsa tokohnya dalam imajinasi saya. Dan tentu saja setelah menonton teasar dan membaca novelnya saya sudah tak sabar ingin menyaksikan filmnya secara utuh.

Ada 348 halaman dalam novel 12 menit ini dan dibagi menjadi 50 bab. Wow, bab dari novel ini banyak sekali. Tapi bab demi bab yang disajikan tidak memakan halaman yang banyak. Sekitar 4-5 halaman perbabnya. Paling panjang mungkin hanya 10 halaman. Dan karena novel ini berasal dari skenario film, jadi apa yang tersaji di dalamnya seperti urutan scene demi scene dalam sebuah film.

Membaca novel ini ada letupan dan hentakan semangat di dalamnya. Merasa tokoh yang ada di sana adalah saya sendiri karena permasalahan yang ada pada mereka justru dekat sekali dengan apa yang sering kita alami. Ketika ingin berjuang, terbentur dengan banyak hal kemudian ingin menyerah saja. Novel 12 menit juga mengisahkan keputusasaan dari para tokohnya dalam menghadapi masalah, beragam kondisi dilematis yang sebagai pembaca pun saya juga ikutan dirundung dilema ketika membacanya.

“Kadang-kadang, hidup itu, ya, kayak gitu, Dek. Kayak dorong mobil (mogok) di tanjakan. Susah. Berat. Capek. Tapi, kalau terus didorong, dan terus didoain, insyaAllah akan sampai.” (Hal 160)


Proses memoles berlian memang tak pernah mudah. (Hal 161)


Bagaimana pun tak ada yang instant di dunia ini. Tak ada. Kecuali mungkin mi. Oh, dan kopi. (Hal 66)


Dalam novel ini saya sedikit terganggu dengan istilah-istilah asing dalam dunia marching band yang keterangannya ada di glosarium di bagian belakang buku. Hal itu jadi mengganggu keasyikan saya membaca. Kenapa tidak dibikin catatan kaki dan keterangannya ada di akhir halaman saja? Dengan begitu, saya tidak perlu membolak balik halaman ketika ada kata asing tersebut.

Namun, ada banyak nilai positif dan hal-hal yang membuat tersentuh dalam novel 12 Menit. Cerita perjuangan anak-anak Marching Band Pupuk Kaltim Bontang dalam berlatih ribuan jam hanya demi 12 menit penentuan. 12 menit penampilan mereka dalam kejuaraan nasional marching band. Ketika ribuan jam kerja keras mereka akan mengkristal menjadi keajaiban 12 menit. Dreaming is believing. Dan bersama-sama mereka akan menyerukan : Vincero! Saya Akan Menang!

Perjuangan terberat dalam hidup manusia adalah perjuangan mengalahkan diri sendiri. Buku ini adalah bagi semua yang ingin memenangkannya.

Judul : 12 Menit
Penulis : Oka Aurora
Penggagas cerita : Regina Septati
Penyunting : @shinta_read dan @me_dorry
Penerbit : Noura Books (PT. Mizan Publika)
Tebal : xiv + 348 halaman
Tahun Terbit : 2013 (Cetakan Pertama)

Link Resensi di Blog : http://coretanyanti.wordpress.com/201...
Profile Image for Denny Ardhianto.
222 reviews24 followers
May 21, 2017
keren banget kata-kata motivasinya. bikin merinding juga. hiy!
Profile Image for Nabila Budayana.
Author 7 books80 followers
July 2, 2013
Vincero!

Seruan itu menghambur di buku ini. Seruan kemenangan, pengobar semangat demi sebuah tujuan. Secara garis besar, 12 Menit mengisahkan tentang perjuangan sebuah Marching Band dari Kalimantan Timur yang berkeras ingin meraih kemenangan di kompetisi nasional di Jakarta. Dengan blurb di bagian belakang, tentunya plot utama telah tergambar dengan genre novel yang jelas. Tentang perjuangan dan pencapaian mimpi. Mengambil genre novel inspiratif saat-saat ini cukup berisiko. Telah jamaknya novel sejenis, membuat kisah harus memiliki keunikan tersendiri. Lalu bagaimana dengan 12 Menit? Sebelum itu, izinkanlah saya bercerita sejenak. Seorang gadis membisikkan ini pada saya.

Ia memiliki sebuah impian besar terhadap musik yang ditekuninya. Namun berkali-kali ia ditegaskan oleh ucapan, "Musik tak bisa dijadikan pegangan hidup. Cukup hanya untuk senang-senang." Karena ia bukan tipe pengelak, meski sudut kepalanya tak menerima pernyataan itu, ia tetap menurut saja. Ia merasa mungkin hal itu memang benar. Kemudian, siapa sangka ia begitu menyesal dengan keputusannya itu di kemudian hari. Ia berkuliah teknik yang dengan setengah hati saja ia jalani, meski akhirnya selesai juga. Dari 12 Menit, ia menemukan sebagian dirinya itu pada Elaine. Elaine yang memiliki bakat besar di bidang musik, begitu ingin memperjuangkan mimpinya dalam marching band. Sayang, sang Ayah melarangnya habis-habisan. Menuntutnya untuk menjadi ilmuwan, karena baginya, musik tak akan menjadikan putrinya seseorang yang kaya raya.

Lalu bagaimana akhirnya?

Elaine bersikeras dengan marching bandnya, karena merasa hal itu yang mampu membuatnya bahagia dan pantas untuk ia perjuangkan.

Musik nyatanya sama sekali bukan hal yang senang-senang saja. Musik adalah ketekunan dan kerja keras. Pengorbanan. Sang gadis merasa ia tak pernah salah mengorbankan waktunya untuk berangkat kursus selama bertahun-tahun, meski sempat dihalangi berbagai persoalan. Ia menemukan sebagian dirinya pada Tara. Tara yang bahkan memiliki gangguan pada pendengarannya sebagai sandungan besar. Namun ia tetap bersikukuh bermain musik. Meski harus terkadang menelan celaan yang tak mengenakkan dari pelatihnya. Gadis itu lalu teringat pada dirinya yang mesti menerima hal yang sama dari salah satu musisi, saat berunjuk kebolehan untuk sebuah keperluan. Kecewa, hingga ia mendiamkan pianonya selama beberapa minggu. Merasa ternyata perjuangannya selama ini tak benar-benar menghasilkan hal yang baik. Sama seperti Tara yang sempat ingin berhenti dari marching band, hingga mundur berlatih selama beberapa saat.

Bagaimana akhirnya?

Ternyata Tara dan gadis itu selalu kembali pada musik. Tak mampu meninggalkannya terlalu lama. Sama seperti bepergian, yang akhirnya juga harus kembali pulang.

Lahang mengingatkan gadis itu pada saat ia bergabung dengan marching band sekolah dasar. Tanpa kelebihan fisik yang mencukupi, ia setidaknya ingin menggenggam bendera sebagai color guards. Dari 12 Menit ia berpendapat bahwa color guards bukan hanya sekadar tambahan, setelah melihat perjuangan seorang Lahang untuk berlatih menari meski dengan kondisi yang serba kekurangan dan dalam himpit kecemasan.

Penjelasan tentang memori otot pun mengingatkan gadis itu pada ucapan gurunya, "Otakmu mungkin nggak mengingat, tapi jarimu yang ingat"

Gaya penyampaian Oka Aurora dalam 12 Menit sederhana dan tidak rumit. Sehingga begitu mudah diapahami dan mampu disajikan untuk remaja. Hanya saja, pemberian informasi yang terlalu banyak di awal sedikit membuat kebingungan. Namun 12 Menit memiliki kelebihan dalam pemilihan objek untuk dikupas dan mampu menggambarkan seluk beluk tentang marching band dengan baik.

12 Menit memberi satu kesimpulan yang sama untuk saya dan gadis itu :

Musik bukan hanya perkara kemampuan, namun juga perjuangan. Semua melodi indah di dunia ini tercipta dari tetesan keringat dan ketekunan yang luar biasa.



Profile Image for Azhar.
58 reviews1 follower
December 17, 2020
https://www.instagram.com/p/CIzPJqmFP...

5 / 5 🔥

12 Menit adalah Novel yang berisi tentang tim Marching band yang berasal dari Bontang yang cukup terkenal yang ingin meraih puncak dengan tujuan menjuarai lomba yang diadakan di Jakarta.Mereka pun berlatih ribuan jam hanya demi 12 Menit penentuan, belum lagi masalah yang dihadapi masing masing orang dalam mempersiapkan hal itu.

Dari sini dapat kita ambil bahwas setiap orang mampu menjadi bintang ketika dia mau berjuang dan diikuti dengan usaha, kerja keras, doa + support dari orang orang dan juga dirinnya sendiri.
Profile Image for Naima Knisa.
5 reviews
April 19, 2014
Membaca buku ini semacam pergi ke 20 tahun yang lalu. Waktu itu saya sempat merasakan apa yang dirasakan Elaine, Tara dan Lahang saat bermain Marching Band. Dimarahin pelatih, berusahaa tetap tegak saat membopong snare drum dan berbaris siang bolong demi sebuah lomba drumband tingkat TK se-Solo raya. Ya, TK! Taman Kanak-kanak. Tapi tentunya saat itu tidak seberat apa yang ada di cerita buku ini.

Ah, kok malah ngelantur dan curhat sih!

Saya tahu buku ini sejak tahun lalu, tapi baru beli awal tahun 2014 ini. Tema yang diangkat emang beda, rasanya saya baru tahu ada buku yang bertema Marching Band ya baru ini. Dan tentunya kisah di dalamnya diambil dari kisah nyata lho, walau ada beberapa yang di fiktifkan, salah satunya adalah Rene. Dalam dunia nyata, Rene sang pelatih sebenarnya adalah laki-laki, tapi menurut saya, cerita ini lebih hidup dengan Rene perempuan.

Oka menceritakan kisah Rene, Lahang, Elaine dan Tara dengan gamblang, mengalir dan lugas. Pada awalnya kalimat-kalimat terasa kaku saat di baca, berbeda dengan novel-novel romance yang sering saya baca. Tapi kalimat demi kalimat mengalir begitu saja, menjelaskan kronologi, dan mengisahkan cerita mereka dengan penuh penjiwaan. Ya mungkin Oka benar-benar tahu cara menuliskan kalimat yang membuat pembacanya menahan air mata karena terharu.

12 Menit mengisahkan tentang Marching Band Bontang Pupuk Kaltim yang belum pernah menang di GPMB (Grand Prixe Marching Band). Rene, sang pelatih jebolan Amerika berkeyakinan akan membawa 120 anggotanya memenangkan GPMB. Bersama pelatih-pelatih lainnya, dia melatih tim inti siang dan malam secara efektif untuk mengejar kemenangan di Jakarta selama 12 menit mereka tampil.

Masalah Rene meyakinkan dan memupuk kepercayaan anak didiknya untuk berjiwa pemenang adalah sebuah tantangan yang ditawarkan dalam kisah di novel ini. Anggota intinya bermasalah, Tara yang telah 1 tahun di cadet band akhirnya digiring masuk ke tim inti tanpa perlakuan istimewa walaupun Rene tahu, gadis itu tinggal memiliki pendengaran 10% saja dan memiliki pengalaman masa lalu yang kelam.

Selanjutnya Elaine, anak asal Jakarta berketurunan Jepang itu mendaftarkan diri di Marching Band Bontang Pupuk Kaltim dan langsung masuk ke dalam tim inti, bahkan di bulan-bulan terakhir sebelum ke Jakarta, dia ditunjuk menjadi field commander. Sayangnya kecintaan itu ditentang keras oleh ayahnya.

Lahang, anak tetua suku Dayak juga memiliki masalahnya sendiri. Rumahnya yang ada di pesisir pantai tidak membuatnya malas untuk berlatih setiap hari ke stadion yang jaraknya sangat jauh. Tapi kondisi fisik ayahnya yang semakin memburuk membuatnya sering absen dan terlambat latian. Tapi dia benar-benar ingin membuktikan kepada ayahnya kalau dia bisa menjadi yang terbaik.

12 Menit begitu membumi, menjelaskan kota Bontang dari berbagai sisi. Tapi bagian yang paling saya suka adalah Oka menjelaskan makna Ketuhanan dengan gamblang, jelas dan tanpa condong kesalah satu keyakinan atau agama saja. Oka juga menjelaskan istilah-istilah Marching Band dengan jelas, walaupun saya tetap saja gagal mengingatnya. Walapun endingnya sudah bisa ditebak, tapi novel ini menang di prosesnya, karena nilai termahal dari bbuku ini memang kisah perjalanan mereka menuju kemenangan.

Oiya, sebenarnya buku ini adalah adaptasi dari skenario film 12 Menit Untuk Selamanya. Dan kerennya buku ini lebih dulu terbit dari filmnya yang baru ditayangkan Januari 2014 lalu. Ah, sayangnya saya terlewatkan menonton film ini.

bisa juga di baca di : http://naima.staff.ub.ac.id/2014/04/1...
Profile Image for Dessy Desma.
1 review
August 28, 2013
Adalah Rene, pelatih Marching Band Bontang pupuk Kaltim, dia bermimpi untuk membawa tim yang dilatihnya menjadi juara Grand Prix Marching Band (GPMB) ajang kompetisi Marching band tingkat nasional yang di laksanakan setiap tahun di Indonesia.
Bukan mudah jalan yang harus di tempuh Rene untuk mencapai impiannya, terutama dengan ketidakyakinan orang-orang di sekitarnya, termasuk anak-anak didiknya sendiri, yang merasa ‘kecil’ karena mereka hanya datang dari sebuah kota di pelosok negeri.
Sehingga, Rene harus terus dibenturkan pada masalah percaya diri anak-anak didiknya terutama Tara, gadis berwatak keras yang memiliki keterbatasan pendengaran. Rene harus menghadapi keras kepala yang Tara miliki karena merasa tidak akan bisa menguasai nada-nada snare drum dengan keterbatasan fisiknya. Belum lagi, karena luka masa lalu yang terus menghantui Tara.
Masalah bukan hanya berasal dari rasa tidak percaya diri anggota Marching band saja. Misalnya, kasus yang terjadi pada Elaine, gadis pindahan dari jakarta yang mencintai musik sebagaimana musik mencintainya. Namun sayang, ayahnya menentang, menganggapnya sia-sia.
Berbeda dengan ayah Lahang yang justru mendukung penuh impian anak lelakinya untuk melihat dunia luar melalui Marching band. Tapi dilema membuat Lahang ragu melangkah.
Mampukah mereka berjuang melawan diri mereka sendiri sebelum menghadapi dunia?. Dimana mereka harus mampu berdiri tegak sambil memeluk mimpi yang mereka miliki.
Mempertaruhkan ribuan jam yang mereka lalui untuk berlatih hanya demi berdiri selama 12 menit di hadapan dunia. Dan bersama-sama mereka akan menyerukan, VINCERO! SAYA AKAN MENANG!
Sebenarnya, membaca novel ini bukan tanpa resiko. Sebagai orang yang awam terhadap dunia Marching band, saya terpaksa harus membolak-balik halaman glosarium saat membaca. karena Kak Oka Aurora sangat detail menghadirkan dunia Marching band dengan segala istilah yang saya nyaris tidak pernah dengar. Misalnya saja, batterry, brass, color guards, fouttes, mallet dll. sehingga membuat saya nyaris kehilangan fokus akan cerita setiap kali adegan berhubungan erat dengan Marching band. Dan tak jarang, harus mengulang paragraf sebelumnya untuk mendapat pesan cerita yang utuh.
Beruntung gaya tutur Kak Oka yang lancar dan menyenangkan membuat saya bertahan membuka halaman novel ini hingga terakhir. Dan saya paling suka, setiap kali adegan Lahang bersama ayahnya. Mungkin hal itu di sebabkan karena dialog yang mereka berdua ucapkan membuat hati hangat. Dan Dialog favorit saya berasal dari ayah Lahang.

Berapapun waktu yang di berikan , tak seharusnya dihabiskan dengan ketakutan. Karena ketakutan anakku tak akan pernah menyambung hidupmu. Yang akan menyambung hidupmu hanya keberanian.

at least buku ini recomended buat siapapun yang berani bermimpi
Profile Image for Ziyy.
642 reviews24 followers
November 30, 2013
Pfiuh, ternyata saya sudah mulai membuka dan membaca buku ini sejak bulan Juli -,-
I know exactly that my intention to buy and read this book was to join the review competition. the prize tempted me.

Lalu saya menunda, karena deadline-nya masih lama. Lalu deadline diperpanjang. Saya tunda lagi. Lalu deadline diperpanjang lagi, hingga hari ini, dan ...

I withdraw..

Mundur teratur dari bikin review seriusnya.

shame on me..

Jadi, saya ngereview ngga serius aja ya? :-P
Soalnya saya juga ngga akan bikin review buku ini untuk blog buku saya. I just couldn't do it.

...

Well, buku ini keren.

Dilema dan perjuangan Tara, Elaine, dan Lahang itu berasa banget.
Saya nyesek berulang-ulang, terutama di cerita Tara dan Lahang.

Penulisan novel ini oleh Oka Aurora udah well-done banget. Bahasanya indah dan diksinya ngga minimal. Sederhana tapi ngga ngebingungin. Udah cakep deh kalo writingnya ^^d

Terus karakternya Rene sebagai pelatih dan motivator utama dalam 12 menit ini, dapet banget. Suer ^^v. Saya ikutan tersulut semangatnya saat Rene berusaha memotivasi 120 orang Grup Marching Band Vincero.
Terus, kata-kata motivasi di dalam novel ini, mungkin kadang udah kita dengar, tapi tetep aja gitu berhasil 'membakar'.

Yang saya sayangin cuma penamaan Elaine yang blasteran Jepang. Kenapa namanya Elaine? Kenapa ngga Mariko?
*ini gara-gara saya pernah punya murid blasteran jepang yang namanya Mariko*
Well, gimana pun nama Elaine itu kayak ngga kedengaran berkarakter Jepang. And i dont know why it bothered me this much -.-a

Terus, buat apa sih diselipin kisah Rob? Saya pikir, di suatu titik cerita, Rob akan muncul lagi. Eh tapi engga sama sekali. Lah terus buat apaa? Buat ngasih tau kalo 'ada lho, pemuda indonesia yang masuk the red devils yang tersohor seantero US. (?)

Terus momen 12 menitnya?? Kenapa bagian Lahang aja ? Kenapa ngga ada bagian Tara dan elaine saat merasakan 12 menit itu berlangsung? Kenapa dramatisnya cuma sampe detik-detik terakhir sebelum 12 menit mereka tampil? Arghh, coba aja momen 12 menit-nya lebih divisualisasikan, sedikit di touch-up lagi dengan dramatisasi.

Profile Image for Maudy Agusdina.
2 reviews3 followers
June 8, 2014
Mengejar mimpi. Berasal dari kota kecil. Impian besar meski keadaan terbatas. Rasa-rasanya kita sudah tidak asing lagi dengan cerita-cerita macam itu. Banyak buku yang meminjam formula serupa : tentang anak-anak kampung halaman yang mencoba mencapai cita, menghadapi banyak kendala untuk membuktikan diri bisa sukses meraih mimpi di kota besar. 12 Menit karangan Oka Aurora tak jauh berbeda. Mengangkat cerita tentang anggota marching band di sebuah kota kecil bernama Bontang, Oka Aurora sudah menarik perhatian sedari awal dengan perkenalan karakternya yang rinci namun tetap mengalir sederhana. Referensi Oka yang luas tentang dunia marching band dan berbagai nama alat musik ditambah kepiawaiannya merangkai kata membuat buku ini nyaman dibaca. Pada buku ini juga saya menemukan banyak kutipan-kutipan yang tersampaikan lancar tanpa kesan memaksa atau menggurui, pada suatu konflik atau bagian yang tepat.



Saya suka Elaine, Tara, Lahang dan tentunya Rene. Saya suka Tara yang berjuang mengalahkan rasa takut menerima dirinya sendiri, berdamai dengan masa lalu dan orang-orang disekitarnya. Elaine yang berusaha meyakinkan orang-orang terdekat tentang passion yang dipilihnya sampai jungkir balik untuk membuktikan bahwa ia cukup mampu untuk mempertahankannya. Atau Rene yang tegas dan keras kepala dengan Titi Sjuman di imajinasi sudah seperti perpaduan yang pas sejak awal saya mengenal karakternya.



Orang boleh meremehkan kisah motivasi atau fiksi-fiksi yang inspiratif, tapi konsep yang ada memang sebenarnya dekat dalam kehidupan sehari-hari kita. Kita boleh tidak mengakui tapi tengoklah dan peka lah sejenak. Saya punya teman yang menghadapi dilema seperti Elaine. Saya juga punya teman yang memiliki kehidupan terbatas tapi sebenarnya cukup pintar dan punya bakat seperti Lahang. Saya sendiri merasakan apa yang dialami Tara : kadang saya mudah menyerah, saya takut dan susah menerima diri saya sendiri apa adanya. Oka Aurora membuat karakter-karakter yang terbentuk independen itu saling terkait dan bahkan memiliki impact pada kehidupan karakter lainnya.

Lihat lebih lanjut: http://cinemaudy.blogspot.com/2014/06...
Displaying 1 - 30 of 72 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.