What do you think?
Rate this book


396 pages, Paperback
Published June 1, 2023
"Bagi Mama, politik dan Chinese adalah dua kata yang tidak boleh berada dalam kalimat yang sama. Ada garis tegas tak kasatmata yang memisahkan kaum mereka dengan politik."
"'Kita, Chinese, harus hati-hati. Hati-hati bicara, hati-hati bertindak.' Suara mamanya dalam dan serak. 'Jangan bikin rusuk. Bisa gawat! Kamu perempuan ..., jangan sampai kamu di—“
"Engkong Aming (suaminya Yuni, sepupu Martha) dulu tinggal di desa sekitar Klaten. Perjuangan bisnis keluarga mereka naik turun. Ketika presiden mengeluarkan keppres bahwa WNA tidak boleh memiliki toko, toko mereka dirampas. engkong Aming berjuang kembali dari bawah. mereka pindah ke area kota Klaten setelah mengumpulkan rupiah demi rupiah, berhasil membeli ruko, lalu dengan susah payah dan proses berbelit, engkong Aming menjadi WNI."
"Pada 22 April 1955, bertepatan dengan Konferensi Asia-Afrika, Perdana Menteri Zhou Enlai dan Mr. Sunario, menteri luar negeri Indonesia pada saat itu, menandatangani perjanjian Sino-Indonesia Dual Nationality yang menyatakan bahwa setiap warga keturunan Tionghoa di Indonesia yang memiliki dwikenegaraan, harus memilih salah satu. Proses pendaftaran kewarganegaraan yang berbelit, kurangnya sosialisasi, dan banyaknya keturunan Tionghoa yang tinggal di pelosok dan tidak mendapat akses terhadap informasi ini, menyebabkan kekacauan masif."
"I was born out of wedlock. My father was stateless ... I tried to defend my my birthright, to have my father's name written on my birth certificate."
"Setahun kemudian, pada akhir tahun 1996, entah berapa uang yang dihabiskan, akhirnya Papa mendapat SBKRI. Surat Bukti Kewarganegaraaan Republik Indonesia. Papanya berkata itu surat sakti. Papa tidak lagi stateless."
"Bukan hal yang aneh untuk memiliki dua nama: nama di akta dan nama Chinese. Nama di akta untuk kepentingan surat-menyurat, sedangkan nama Chinese dianggap lebih rendah derajatnya. Bahkan seorang pejabat pemerintah pernah menganjurkan tidak menggunakan nama Chinese. Padahal, bagi keluarga Tionghoa, nama Chinese adalah nama baik pemberian orangtua."
"Kalau jij marry that singkek, jij cuma makan mi sama sumpit seumur hidup jij!"
"... singkek atau totok adalah keturunan para pekerja kasar yang dulu datang merantau sebagai buruh di Sumatra dan Kalimantan, menikah di antara sesama totok, dan masih fasih menggunakan dialek mereka."
"Pa manggil Ma noni qiaoshen, Kata Pa, Ma Chinese yang sudah enggak punya akar."
"Linda sendiri tidak memanggil orangtuanya dengan sebutan'Papa Mama', tetapi Acek, yang sebenarnya sebutan untuk adik laki-laki papa, dan Aem, sebutan untuk istri adik laki-laki papa. Orangtuanya pernah mendatangi orang pintar, lalu mendapat petunjuk. Jika ingin keluarga mereka sukses dan bisnis mereka lancar, Linda dan kakaknya harus memanggil orangtua mereka dengan sebutan lain."
"... hidup memang sering tidak adil. Tapi, bukan berarti semua dalam hidup itu jelek. Ada hal-hal baik yang Papa syukuri. ... Tata jangan jadi manusia yang getir, ya. Hidup, meski berat, tetap punya hal-hal yang bisa dinikmati. Sekecil apa pun. Hidup itu ada masanya. Masa buat lahir; masa buat pergi. Kalau masanya sudah tiba, Tata harus ikhlas, ya."
❝Saya menyadari tidak ada propaganda pemerintah sekencang apa pun yang bisa menghapus sebuah identitas.❞
❝It's not a sin to be born as a Chinese-Indonesia.❞