Jump to ratings and reviews
Rate this book

Mizan Writing Bootcamp 2022

Perkumpulan Anak Luar Nikah

Rate this book
Shocking Confession from an Indonesian’s Ex-ASEAN Scholarship Recipient

Judul artikel itu mengguncang media sosial dalam semalam.

Martha, sang tersangka, panik. Keteledoran masa lalunya kini mencuat ke permukaan. Sebagai lulusan Computer Science, bagaimana bisa dia meninggalkan jejak digital yang menghantuinya dengan iming-iming penjara pada masa sekarang?

Pernikahannya guncang, kebebasannya terenggut, anak-anaknya terancam kehilangan sosok ibu hanya karena Martha memainkan “25 Question About Me” di blognya belasan tahun lalu dan menjawab terlalu jujur pertanyaan: “What is the wildest thing you’ve ever done when you’re 17 years old?”

I forged a legal document. Later, I used it to apply for a scholarship, and I got accepted!

396 pages, Paperback

Published June 1, 2023

54 people are currently reading
1279 people want to read

About the author

Grace Tioso

5 books28 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
717 (77%)
4 stars
188 (20%)
3 stars
18 (1%)
2 stars
1 (<1%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 30 of 302 reviews
Profile Image for Khansaa.
171 reviews215 followers
July 24, 2023
Sebagai keturunan Jawa-Muslim, aku tidak pernah merasa asing di negeri sendiri. Di mana pun aku berada, hampir selalu ada perempuan berhijab yang terlihat familiar. Rumah ibadah pun tidak sulit untuk dicari. It’s easier for us, Javanese-moslem women to feel belong in our country. Majority perks, huh?

Sebagai mayoritas, aku mengakui banyak sekali privilege yang ku dapatkan, sesederhana kemudahan mengurus KTP atau akta lahir. Tinggal dateng aja, kan? Ya paling agak lama, namanya juga di Indonesia.

Membaca Perkumpulan Anak Luar Nikah (yang ternyata bukan anak luar nikah secara literal), membuka mataku bahwa tidak semua orang merasakan privilege yang sama. Sebagai keturunan Tionghoa-Indonesia, Martha memalsukan akta kelahirannya untuk mendapatkan beasiswa di Singapura. Awalnya sih aman-aman aja, sampai akhirnya ada yang membuka rahasianya.

Novel ini dimulai dengan pemandangan yang tidak asing: akun spill politik di Twitter. Martha dan sepupunya mengupas habis latar belakang berbagai tokoh politik bermodalkan informasi yang bisa diakses publik. Karena penjelasannya mudah dicerna, akun politik milik Martha sukses besar. Namun, suaminya berpendapat berbeda.

Buat apa keturunan Tionghoa peduli sama politik? Suami Martha berkali-kali mengingatkan resikonya. Apalagi, Martha dan suami berasal dari kalangan minoritas. Dengan karir yang gemilang, suaminya merasa Martha cukup duduk manis dan mengasuh anak. Untuk apa mempersulit diri ketika udah susah payah sampai di titik ini?

Lewat kisah Martha, aku mendalami perjuangan keturunan Tionghoa-Indonesia, just to feel home. Just to feel belong. Bagaimana mereka merasa asing di negeri sendiri, dipandang sebelah mata oleh pemerintah, bahkan mau berdiri sendiri aja dipersulit.

Sebagai novel dengan topik yang sangat berat, ceritanya dikemas dengan ritme yang cepat dan bikin penasaran. Perkumpulan Anak Luar Nikah membuatku sedih, marah, senang, dan terharu secara bersamaan. Sebuah kisah yang ditulis secara seksama, imersif, dan emosional.

Buku ini resmi jadi salah satu bacaan terbaikku di 2023. Novel ini bukan bacaan yang menyenangkan, namun pengalaman yang harus dipahami oleh banyak orang, terutama para mayoritas.
Profile Image for raafi.
933 reviews452 followers
January 2, 2024
Saya belajar banyak tentang orang-orang Tionghoa-Indonesia dari sini; perjuangan mereka, keterasingan mereka, dan kegigihan mereka untuk terus bertahan. Pengetahuannya dapat, plotnya dapat, emosinya dapat. Paket lengkap. Masuk jadi daftar bacaan terbaik tahun ini.
Profile Image for Utha.
825 reviews402 followers
December 31, 2023
Rasa getir itu meluap saat Martha bilang, "Cinta butuh dua arah. Hubungan butuh dua arah. Kalau aku mati-matian nyoba bawa Indonesia ke arah yang lebih baik, tapi orang-orang di sana cuma pengin berkubang di situ-situ aja, mana bisa?"

Dan sama seperti Martha, pada akhirnya aku pun harus mendengar nasihat ayah wanita itu, "Jadi manusia jangan getir, ya. Hidup, meski berat, tetap punya hal-hal yang bisa dinikmati. Sekecil apa pun. Hidup itu ada masanya."

Bukan cuma membahas sejarah keturunan Tionghoa-Indonesia, novel ini juga mengambil isu yang lekat tapi jarang dibawa dalam fiksi.

"Kebencian tidak untuk diwariskan."

Catatan pertama: kesalahan teknis bikin jengkel.
Catatan kedua: menantikan novel Grace Tioso selanjutnya, dan kujadikan penulis yang harus kubeli karyanya. Wahai teman-teman, beli (kalau nggak bisa ya pinjam, jangan beli bajakan) lalu baca novel ini!

4,5 bintang
Profile Image for Liliyana Halim.
311 reviews242 followers
February 22, 2024
Selesaiiiii! Sukaaa 🤩🤩🤩. Mau bilang ke Kak Grace Tioso terima kasih sudah tulis kisah Perkumpulan Anak Luar Nikah 🙏🏼. Pokoknya siapa pun harus bangettt baca novel ini 🥺. Dan aku berharap semoga ada yang mau buat series dari novel ini 🥺. Martha sangat beruntung punya orang tua seperti papa dan mamanya. Punya Fanny sama Linda. Juga punya Ronny.
.
“Waktu Rivai kalah…, aku mikir…, kok bisa? He’s a superb leader. Dia punya visi, dia benar-benar peduli. Aku tahu dia udah berusaha dan berkorban banyak. Tapi, apa masyarakat peduli? No. Cuma karena foto kami beredar, ada gosip macam-macam. Dan, itu bikin Rivai kalah— Ini fakta. Masyarakat kita sukanya yang superfisial, yang viral tapi enggak ada substansinya. Maunya disuapin informasi, bukannya mikir sendiri.” (Hal 341).
.
Senyum kecut terpasang di bibir Krisna. Ketika Krisna mulai menulis tentang Kaum Tionghoa Indonesia, awalnya dia bertekad untuk tidak membahas Mei 1965 dan 1998. We’re so much more than that! Kenapa kami selalu harus dikaitkan dengan peristiwa berdarah itu? demikian pikirnya. Hingga Krisna menyadari bahwa sejarah kelam itu menghantui seperti bayangan yang menolak lepas dari tuannya. (Hal 123).
.
‘Forgiveness can give hope, a new life. “An eye for an eye” will leave the whole world blind’. (Hal 353).
.
“Life is not fair. But it doesn’t mean life is not good. One day, we can taste the goodness of life again. Definitely not today. But maybe nexy year or ten years from now, life can taste good again.” (Hal 382).
.
‘Persahabatan terjalin bukan di antara dua orang yang 100% saling memahami, melainkan di antara mereka yang mau berempati. Empati tidak dimulai dari otak, tetapi dari hati. Empati dimulai dengan tidak memaksakan pikiran sendiri’. (Hal 90).
Profile Image for Dinur A..
260 reviews97 followers
August 29, 2023
Grace Tioso is so elite that I feel like my brain's not up to the task of giving her a proper review. I love it when a writer has a solid grip on their craft and leads me to reevaluate my understanding of what I think I know. One of my 2023 best reads.

(4,55 stars due to a handful of errors I found.)
Profile Image for melmarian.
401 reviews136 followers
March 15, 2024
Sebetulnya aku agak bingung mengkategorikan buku ini. Dibilang buku metropop; karakter-karakternya memang cocok & diksi yang digunakan sangat modern, tapi kayaknya bukan metropop deh. Sastra? Ya, menurutku ini sastra, karena sastra tak selalu harus menggunakan bahasa yang berbunga dan mendayu. Fiksi sejarah? Memang latar sejarahnya sangat kental tapi karakter-karakternya tidak hidup di masa lalu, latar sejarah di masa lalulah yang mendasari plot ceritanya. Tapi, fiksi sejarah mungkin yang paling cocok disebut genre buku ini.

Buku unik yang tiap babnya digantikan dengan "Thread" ini bercerita tentang Martha, perempuan pintar yang mendapat beasiswa pemerintah Singapura dan kemudian ia bersama sepupunya Yuni membuat akun Twitter @duolion163 yang menguliti politikus-politikus Indonesia. Gara-gara sebuah postingan blog zaman duluuuu banget, ketahuan bahwa ia memalsukan akta kelahirannya dan memakai akta palsu itu untuk mendaftar beasiswa. Nasi sudah menjadi bubur dan Martha harus menanggung konsekuensi atas perbuatannya di masa lalu. Pemerintah Singapura yang strict tidak akan mendiamkan saja pelanggaran Martha. Dan semua yang dekat dengan Martha; Ronny, suaminya yg sedang mengajukan tenure menjadi associate professor; sahabat-sahabatnya dari remaja Fanny dan Linda; bahkan sahabatnya yang nyaleg, Rivai, ikut terseret dalam kasus Martha.

Ngomong-ngomong tentang masa lalu, ada suatu alasan kuat mengapa Martha nekat memalsukan akta kelahirannya. Ternyata karena di akta asli tertulis "anak luar nikah", karena papa Martha berstatus stateless alias tidak berkewarganegaraan; bukan WNI, mau dibilang WNA juga bukan, wong orangnya tidak pernah ke luar Indonesia. Dari sini kita ditarik mundur melihat sejarah tentang permasalahan pelik kewarganegaraan warga Tionghoa-Indonesia yang memuncak pasca 1965, yang menyebabkan banyak warga Tionghoa menjadi stateless. Luka menganga yang ditimbulkan peristiwa 1998 kepada warga Tionghoa-Indonesia juga jadi sorotan dalam buku ini. This book is such an emotional rollercoaster, yang juga membuatku makin mengenal dan berempati pada rekan-rekan etnis Tionghoa/Chindo. Bagaimanapun kita sama-sama orang Indonesia.

Banyak teman buku yang menobatkan buku ini sebagai buku terbaik yang mereka baca di tahun 2023, dan rating di Goodreads pun sangat tinggi: 4.75. Setelah membacanya aku pun setuju, IT WAS WORTH EVERY STAR. Sejujurnya aku punya pet peeve buku yang ditulis dengan bahasa campur-campur kayak begini, tapi untuk fiksi aku masih bisa toleransi, juga sejak jadi bagian dari multinational working environment aku jadi makin melunak soal ini. Selain penulis halus banget memasukkan unsur sejarah dalam plot, buku ini fast-paced alias nggak ada momen boring. Character arc tiap tokohnya pun menurutku digali dengan baik; memberi kesempatan pembaca untuk mengenal dan bersimpati dengan mereka. Ada satu sih yang menurutku kurang; porsi cerita untuk Yuni, sepupu Martha yang juga admin @duolion163. Yuni ini keren banget lho, dari luar tampak kayak ibu-ibu rumah tangga "biasa" yang mengurusi bisnis kecap, tapi kemampuannya setara agen rahasia, hahaha. Kalo ada spinoff yang menceritakan POV Yuni, aku mau baca. 🤭
Jika kamu cuma membaca 10 novel Indonesia saja dalam beberapa tahun terakhir, pastikan buku ini ada di dalamnya.
Terima kasih Grace Tioso sudah menulis buku bagus ini!
Profile Image for Sherry Miyano.
4 reviews2 followers
August 8, 2023
Sejak buku ini masih merupakan ide cerita buat ikut kontes menulis, gw langsung tertarik buat ngikutin dan baca 30 bab betanya di Wattpad (yang cuma dua pertiga buku dengan bab terakhir yang cliffhanger). Untunglah seperti yg gw yakini (dan banyak pembaca karena cerita ini salah satu yang dapet likes paling banyak dibanding submission lainnya), cerita ini masuk 10 besar dan beneran diterbitin jadi buku.

Bintang lima buat cerita ini karena buku ini paket komplit dramanya ada, historicalnya ada, thrillernya ada, komedinya ada, romancenya ada. Tema yang dipilih pun jarang ada, mungkin ga banyak karya fiksi populer yang latar belakangnya kehidupan chindo, apalagi soal diskriminasi struktural, dan beragamnya kelompok chindo di Indo. Kalo film mungkin uda ada (Ngenest, Susi Susanti misalnya) tapi apakah ada yang menggali lebih dalam soal SBKRI atau fakta mencengangkan soal status "anak luar nikah" seperti yang tertera di judul, yang dampaknya masih terasa sampai sekarang? Gw bisa bilang mungkin ini novel fiksi populer pertama yang membahas demikian.

Buku ini juga well-researched, ga cuma "mengandalkan" pengalaman pribadi penulis (yang kebetulan Chindo juga) dan observasi. Penulis sampe mempelajari karya akademis dan proses hukum di Singapura (sampe nonton sidang pengadilannya). Detail latar tempat pun on-point banget. Contohnya, deskripsi ruko tempat tinggal Krisna dan pernak-perniknya itu bisa dibilang default ruang keluarga Chindo yang tinggal di ruko.

Buat gw sendiri, sebagai yang kebetulan berlatar belakang serupa dengan penulis dan tokoh utama, banyak adegan, pemikiran, dan obrolan di novel yang relate banget. Selama baca novel ini, gw banyak flashback soal kehidupan gw sendiri dan orang-orang sekitar gw yang Chindo. Tentang macem2 kelompok Chindo yang terlihat sama di mata non-Chindo tapi beda kebiasaan hidup dan pola pikirnya, belum lagi soal kelas ekonomi dan privilege masing-masing. Bahkan ga cuma soal Chindo, tapi soal lika-liku kehidupan keluarga, pernikahan, dan persahabatan juga dibahas disini. Pokoknya, novel ini cukup banyak layernya tapi semua dalam proporsi yang pas dan saling mendukung plot.

Entah kebetulan atau ga, buku ini terbit di tengah salah satu ramainya pemberitaan tentang semakin banyaknya WNI yang pindah kewarganegaraan Singapura. Walau beda zaman, cerita Martha & suaminya adalah salah satu alasan mengapa fenomena ini terjadi. Ketika individu terlalu kecil melawan sistem, salah satu hal yang bisa kita lakukan mungkin emang cabut, apalagi kalo perlawanan kita risikonya terlalu besar buat kita dan orang-orang terdekat kita, seperti quote Martha berikut:

"Ron, secinta-cintanya aku sama Indonesia, aku ga mau ngorbanin anak-anakku demi berjuang buat ngubah negara yang ga pernah mencintaiku."

"Cinta butuh dua arah. Hubungan butuh dua arah. Kalo aku mati-matian nyoba bawa Indonesia ke arah yang lebih baik, tapi orang-orang di sana cuma pengen berkubang di situ-situ aja, mana bisa?"

Semoga buku ini juga dibaca kalangan Gen-Z yang ga punya ingatan soal kelamnya rezim orde baru dan tahun 1998. Yang suka ngepost "tips dapet cewe chindo","kenapa chindo kaya","ngaku2 chindo padahal bukan" di akun base sosmed biar pada tau kalo pada masanya menjadi chindo adalah sebuah momok.
Profile Image for Henzi.
221 reviews26 followers
March 16, 2024
PALN merupakan salah satu buku yang masuk sebagai nominasi best read 2023 di kalangan bookstagrammer yang saya ketahui. Tentu saya tidak ingin ketinggalan, dan patut saya akui bahwa ini tidak overhype, dan malah saya ingin merekomendasikan ini kepada semua orang.

Sebagai generasi millennials, saya banyak terbantu melalui pembahasan pada buku ini. Diskriminasi terhadap keturunan Tionghoa pernah saya dengar, namun tidak pernah saya ketahui dengan jelas karena tidak ada sumber informasi yang bisa didapatkan selama di usia aktif pendidikan.
"Bagi Mama, politik dan Chinese adalah dua kata yang tidak boleh berada dalam kalimat yang sama. Ada garis tegas tak kasatmata yang memisahkan kaum mereka dengan politik."

"'Kita, Chinese, harus hati-hati. Hati-hati bicara, hati-hati bertindak.' Suara mamanya dalam dan serak. 'Jangan bikin rusuk. Bisa gawat! Kamu perempuan ..., jangan sampai kamu di—“


Kerusuhan pada tahun '98 merupakan salah satu momok yang paling menakutkan bagi Indonesia, khususnya keturunan Tionghoa saat itu. Toko dijarah, para wanita dilecehkan, para pria ditangkap, dan tak sedikit anak-anak juga terkena imbasnya. Namun, ini tidak pernah saya baca dalam buku sejarah (pada waktu itu, nggak tahu sekarang), seolah-olah ini bukan merupakan kejadian yang wajib diketahui oleh generasi saat ini. Justru saya mengetahui ini dari penggalan kisah tokoh di sini.

"Engkong Aming (suaminya Yuni, sepupu Martha) dulu tinggal di desa sekitar Klaten. Perjuangan bisnis keluarga mereka naik turun. Ketika presiden mengeluarkan keppres bahwa WNA tidak boleh memiliki toko, toko mereka dirampas. engkong Aming berjuang kembali dari bawah. mereka pindah ke area kota Klaten setelah mengumpulkan rupiah demi rupiah, berhasil membeli ruko, lalu dengan susah payah dan proses berbelit, engkong Aming menjadi WNI."


Plot twist pertama yang menjadi 'gong' dari PALN adalah anak-anak yang orangtuanya tidak memiliki kewarganegaraan (stateless) akan tercantum sebagai anak luar nikah di akta kelahirannya. Aku shock mengingat betapa ribetnya birokrasi status kewarganegaraan pada saat itu. Padahal, mereka dilahirkan di Indonesia dan tidak pernah pergi ke Tiongkok, tapi diperlakukan sebagai orang luar. Apa rasanya tinggal di tanah kelahiran tapi tak dianggap karena asal usul leluhur?

"Pada 22 April 1955, bertepatan dengan Konferensi Asia-Afrika, Perdana Menteri Zhou Enlai dan Mr. Sunario, menteri luar negeri Indonesia pada saat itu, menandatangani perjanjian Sino-Indonesia Dual Nationality yang menyatakan bahwa setiap warga keturunan Tionghoa di Indonesia yang memiliki dwikenegaraan, harus memilih salah satu. Proses pendaftaran kewarganegaraan yang berbelit, kurangnya sosialisasi, dan banyaknya keturunan Tionghoa yang tinggal di pelosok dan tidak mendapat akses terhadap informasi ini, menyebabkan kekacauan masif."


Isu ini diangkat di PALN melalui pengalaman Martha, sampai-sampai ia harus 'memalsukan' akta kelahirannya karena di-bully oleh teman sekelasnya... dan akhirnya menjadi boomerang buat dia di masa depannya. Suffering? Yes! Hidup bertahun-tahun dipandang sebelah mata oleh orang lain sangat tidak mengenakkan. ‘Kesalahan’ yang ia lakukan sekali pun murni tidak bermaksud jahat, murni ia hanya menginginkan akta dengan bunyi yang sama dengan teman-temannya, tanpa tertulis 'luar nikah' dan nama orangtuanya bisa tertulis di dalamnya. Tak bisa mengharapkan pemerintah, ia mempertahankan hak kewarganegaraannya melalui pemalsuan ini.

"I was born out of wedlock. My father was stateless ... I tried to defend my my birthright, to have my father's name written on my birth certificate."


Untuk mendapatkan status WNI, mereka mesti membuat sebuah dokumen yang lagi-lagi sulit didapatkan. Bayangkan hidup di masa itu begitu sulit sampai memperjuangkan kewarganegaraan di tanah kelahiran sendiri saja sampai berbelit-belit. Lagi-lagi, perlu banyak yang tentunya.

"Setahun kemudian, pada akhir tahun 1996, entah berapa uang yang dihabiskan, akhirnya Papa mendapat SBKRI. Surat Bukti Kewarganegaraaan Republik Indonesia. Papanya berkata itu surat sakti. Papa tidak lagi stateless."


Penamaan juga tidak bisa sembarangan. Saya mengenal beberapa orang yang masih menggunakan nama Chinese sebagai nama di akta kelahiran mereka, karena tidak punya (tidak diberikan) nama non-Chinese. Sekarang malah jadi penasaran perlakuan yang mereka terima pada saat itu.

"Bukan hal yang aneh untuk memiliki dua nama: nama di akta dan nama Chinese. Nama di akta untuk kepentingan surat-menyurat, sedangkan nama Chinese dianggap lebih rendah derajatnya. Bahkan seorang pejabat pemerintah pernah menganjurkan tidak menggunakan nama Chinese. Padahal, bagi keluarga Tionghoa, nama Chinese adalah nama baik pemberian orangtua."


Sebagai keturunan Tionghoa yang lahir di Kalimantan, saya cukup bangga masih bisa menggunakan dialek Khek. Ketika tiba di Jakarta untuk bekerja, saya menemukan banyak orang keturunan Chinese yang lahir & dibesarkan di sini tidak mampu menggunakan dialek tersebut karena tidak pernah diajarkan, karena mereka adalah qiaoshen. Merasa lucu ketika mereka nyengir kedapatan mendengar saya berbicara dengan menggunakan dialek tersebut kepada orang lain melalyi telepon.

"Kalau jij marry that singkek, jij cuma makan mi sama sumpit seumur hidup jij!"
"... singkek atau totok adalah keturunan para pekerja kasar yang dulu datang merantau sebagai buruh di Sumatra dan Kalimantan, menikah di antara sesama totok, dan masih fasih menggunakan dialek mereka."

"Pa manggil Ma noni qiaoshen, Kata Pa, Ma Chinese yang sudah enggak punya akar."


Hal yang tidak kalah menarik lainnya adalah mitos yang nggak tahu darimana usulnya, adalah pemanggilan terhadap orangtua. Terkait dengan ‘cara penyebutan’, saya juga pernah mendengar kisah adiknya teman saya yang perlu 'mengganti nama', karena selama belasan tahun ia sakit-sakitan. Menurut orang pintar yang setelah melihat feng shui, nama (adiknya teman saya) itu membawa penyakit, untuk itu perlu diubah supaya energinya bisa pulih kembali. Dan.. percaya atau tidak, setelah ganti nama, konon ia tidak sakit-sakitan lagi.

"Linda sendiri tidak memanggil orangtuanya dengan sebutan'Papa Mama', tetapi Acek, yang sebenarnya sebutan untuk adik laki-laki papa, dan Aem, sebutan untuk istri adik laki-laki papa. Orangtuanya pernah mendatangi orang pintar, lalu mendapat petunjuk. Jika ingin keluarga mereka sukses dan bisnis mereka lancar, Linda dan kakaknya harus memanggil orangtua mereka dengan sebutan lain."


Terakhir, salah satu quote yang aku suka banget dari Papa Martha, adalah dengan sadar secara utuh bahwa hidup ada pasang surutnya dan tidak melihat dari satu sisi yang tampak saja. Ini sebagai penutup bahwa kita nggak bisa mengontrol semuanya dalam hidup ini; ketika ada kesulitan ya bisa jadi mesti bertahan meskipun lama, namun itu semua akan berlalu. Hal-hal baik juga akan datang, dan mestinya ini dirayakan. Dengan demikian, hidup berasa seimbang dan tidak sedih melulu.

"... hidup memang sering tidak adil. Tapi, bukan berarti semua dalam hidup itu jelek. Ada hal-hal baik yang Papa syukuri. ... Tata jangan jadi manusia yang getir, ya. Hidup, meski berat, tetap punya hal-hal yang bisa dinikmati. Sekecil apa pun. Hidup itu ada masanya. Masa buat lahir; masa buat pergi. Kalau masanya sudah tiba, Tata harus ikhlas, ya."
Profile Image for apollows.
38 reviews2 followers
September 3, 2025
Aku ga nyangka bakal ketemu buku sebagus ini. Waktu baca pun, aku ga berekspektasi banyak karena aku kira buku ini hanya tentang fiksi sejarah seperti buku-buku lain dengan genre yang sama yang pernah aku baca. Namun, ternyata aku disuguhkan dengan sesuatu yang berbeda, bukan hanya tentang sejarah, tetapi juga tentang keluarga, hidup, cinta, pertemanan, manusia, ras & suku, juga tentang penyesalan.

Buku ini bercerita tentang Martha, seorang ibu rumah tangga yang dulunya adalah penerima beasiswa dari UoS, dan juga seorang keturunan Tionghoa-Indonesia, yang kemudian ketahuan telah memalsukan salah satu dokumennya untuk daftar beasiswa. Meskipun konflik utamanya adalah masalah pemalsuan dokumen, tetapi selama cerita berjalan, kamu dibawa berjelajah ke masa lalu. Bukan cuma masa lalu Martha, tapi tiap karakter punya masa lalunya masing-masing yang diceritakan dalam buku ini. Dan dari masa lalu mereka, aku ketemu berbagai alasan dan sudut pandang baru yang buat aku ga bisa benci sama para karakter di sini, it's like every action they took or every decision they made, itu punya alasan di baliknya. yaa gimana manusia pada umumnya aja.

Aku bakal mulai dari keluarga serta suku dan ras. Jujur aku ga menduga bakal terasa sesedih itu ceritanya, aku pribumi, tapi entah bagaimana perasaan Martha, Linda, Ronny, dan para anak luar nikah lainnya, bisa aku rasakan sakit yang mereka rasa, bahkan sedikit merasa bersalah karena negaraku, pemerintahannya bisa sejahat itu kepada kaum Tionghoa-Indonesia. Semua emosi campur aduk, marah, kesal, sedih. semua jadi satu. Bikin aku sadar, bahwa pemerintahan ini udah bobrok dari lama, sistemnya udah rusak dari lama, dan sebagian rakyatnya juga masih sama; egois, ignorant, masih mudah kasihan, dan kurang inisiatif untuk mencari kebenaran dan fakta. Selain itu juga ternyata negara ini punya sejarah kelam yang kadang masih suka disembunyikan dari generasi-generasi muda, di sekolahku mana ada diceritakan tentang sejarah tahun '65 dan '98 tentang penjarahan, pemerkosaan, dan diskrimasi terhadap orang-orang Tionghoa-Indonesia.

Tentang cinta dan penyesalan. Aku ga menyangka di dalam buku ini akan ada kisah cintanya. not so romance seperti pada buku romansa. Martha dan Ronny. Gimana ya, dinamiknya seru, kind of enemies to lovers (my favorite trope) yang mana Martha yang kesel dengan Ronny yang kelihatan ga suka melihat Martha dan harus berbagi kondominium berdua. Kisah mereka lucu, gimana Ronny yang selama ini cuma mengenal caranya belajar dan mengajar, jadi gagap dan gegana karena Martha. Ternyata, gelar ga menjamin kamu paham tentang cinta-cintaan wkwk. Gimana sebelum kasus itu terjadi, pernikahan mereka serasa di ujung tanduk karena tak saling terbuka dan mencoba untuk mengerti. Kasus ini malah membawa mereka mengingat apa-apa yang telah hilang, apa-apa yang sempat terlewat karena terlalu fokus mengejar mimpi, apa-apa yang mulai lupa, terutama penyesalan Ronny. Ronny itu, bisa aku bilan bukan tipe cowok green flag yang digemari banyak wanita, Ronny tuh kaku abiss, EQ nya kurang banget, tapi dia baik, gimana ya... susah deskripsiinnya, mungkin apa yang bisa kubilang adalah dia itu karakter yang manusiawi. Seperti yang Martha bilang, Ronny is a provider, his love language is making sure his family taken care of. Dan Martha, she's such a strong woman, brave and smart. She's a fighter, yet still a good mother.

Dari buku ini, dari kisah Martha, aku belajar kalau politik itu masuk ke dalam berbagai aspek hidup kita, politik bukan hukum, politik itu tentang kebutuhan pelayanan dalam bernegara, and yet our government still can't give the bare minimum of it. That our government still failed many people who loves their country even the country still doesn't give the feedback yet. Tentang hidup yang walau ga adil, tapi bukan berarti tidak bagus untuk dijalankan. Tentang hidup yang selalu punya tiap sesinya untuk berhenti, untuk hidup, untuk mencintai, untuk menerima, untuk memaafkan, and time to let go. Tentang bahwa hidup ga akan berhenti di satu titik, bahwa hidup akan tetap berjalan dan membaik. Tentang cinta yang bukan selamanya harus manis dan menggebu-gebu. Tentang kasih sayang orang tua yang selalu berusaha yang terbaik untuk anaknya. Dan masih banyak lagi.

Sebenarnya, kalau disuruh review buku ini, aku bisa nulis sampai 5 lembar karena sanking bagusnya. I had been saying this dari kemarin, tapi serius i learned a lot of things from this book. You guys must read this book once in your life, not just read, but also belajarlah, menelaahlah, cari tahu lagi sejarah yang ada, yang pernah terjadi karena kalau bukan kita, siapa lagi yang akan mengingat kisah mereka?
Profile Image for Meiliana Kan.
242 reviews52 followers
November 30, 2023
Aku adalah salah satu orang yang tidak pernah membayangkan bahwa Chinese-Indonesia aka chindo bisa bersanding dengan politik tanpa adanya intrik (we've seen a lot of "dark scenario" about that in the past), tapi Martha adalah salah satu orang yang tetap percaya bahwa ia bisa memiliki andil untuk negaranya meski ia keturunan chindo. Walau sudah lama tinggal di Singapura, Martha tetap memendam rasa cinta pada Indonesia dan ingin melihat tanah airnya dipimpin oleh pemimpin-pemimpin yang kredibel yang bisa membuat negaranya bertumbuh menjadi lebih baik. Maka dari itu bersama sepupunya, Yuni, Martha membuat akun @DuoLion163 di twitter yang menyediakan informasi tentang para caleg dengan bahasa yang dapat dicerna oleh masyarakat awam. Akun @DuoLion163 langsung mendapat banyak atensi dari masyarakat yang membuat Martha yakin bahwa zaman sudah berubah, bahwa masyarakat sudah lebih "pintar", bahwa sebagai chindo ia sudah aman. Tapi, kenyataan tidak seindah yang ia kira. Begitu blog lamanya mencuat dan mengungkap rahasianya yang pernah memalsukan dokumen untuk mendaftar beasiswa, bom waktu yang tidak pernah Martha sadari hitungan mundurnya mulai meledak, memporak porandakan hidupnya dan kejadian kelam keturunan chindo di masa lalu kembali menyeruak ke permukaan.

Apa yang selanjutnya terjadi jelas merupakan hantaman telak bagi Martha. Jika di Indonesia, memalsukan dokumen termasuk ke dalam hal yang lumrah dan kalaupun ketahuan, hukuman yang didapat pasti ringan sekali (lah korupsi aja seringkali hukumannya <10 tahun + dapat diskon karena berkelakuan baik, apalagi "cuma" memalsukan dokumen). Lain halnya dengan Singapura. Negara itu bahkan mengenakan sanksi tegas bagi orang yang makan atau minum di dalam kereta. Bayangkan sanksi seperti apa yang Martha hadapi ketika dosa masa lalunya itu terungkap. Belum lagi wajahnya dan juga wajah keluarganya terpampang di kanal berita dan akun-akun media sosial Indonesia yang tanpa babibu menggoreng beritanya menjadi gosip-gosip murahan.

Martha seperti dihujani dengan cobaan bertubi-tubi ditambah lagi suaminya, Ronny, yang sedang menanti tenurenya sebagai Assistant Professor disetujui di kampusnya, bukannya menjadi support system yang baik malah menjadi orang yang menambah-nambah beban hidup Martha dengan omelan-omelannya yang tak berujung. Sungguhlah ku kesal banget sama Ronny di awal cerita 🤬🤬

Dari buku ini, kita bisa melihat bahwa kasus yang dialami Martha itu ibarat gunung es. Kasus utamanya adalah pemalsuan dokumen akta lahir, tapi untuk mengetahui alasan kenapa Martha sampai memalsukan akta lahirnya kita dibawa ke masa Indonesia saat Orde Baru, di mana banyak orang-orang Tionghoa yang dianggap WNA atau lebih tepatnya stateless, sehingga tidak bisa mengurus dokumen-dokumen resmi. Akta kelahiran Martha mencantumkan bahwa dirinya adalah Anak Luar Nikah karena papanya, yang lahir dan besar di Indonesia dan tidak pernah sekalipun pergi ke luar negeri, dianggap sebagai WNA.

Meski aku juga chindo, ada banyak sekali sejarah tentang chindo yang tidak ku ketahui. Aku hanya pernah mendengar dari mamaku bahwa dulu, orang Tionghoa dilarang untuk menggunakan nama Tionghoa dan dilarang merayakan Imlek. Aku tidak tahu bahwa generasi sebelum aku mengalami diskriminasi yang jauh lebih parah dari yang aku bayangkan.

Dulu setelah membaca Laut Bercerita, aku diajak untuk memahami bahwa kebebasan yang ku nikmati selama ini dibayar oleh para aktivis dan pejuang yang melawan pemerintahan Orde Baru. Tapi setelah membaca buku ini, aku kembali diajak untuk mengerti bahwa bukan hanya dari aktivis dan pejuang yang melawan pemerintahan Orde Baru saja maka aku bisa merasakan apa yang dinamakan demokrasi tapi juga dari generasi chindo yang lahir sebelum aku, yang seringkali berjuang dalam diam.

Like Martha said, "Nothing is free in this world. Someone paid the price for me."

Secara keseluruhan, buku ini memuat banyak isu kompleks dan sensitif yang dikemas dengan sangat apik. Bukan hanya menguak sejarah kelam orang-orang chindo tapi juga secara terang-terangan menyindir warga +62 yang masih saja mudah termakan berita-berita murahan. Iya, kita belum "sepintar" yang Martha kira. Dan sepertinya aku bisa merasakan sakit hati yang dirasakan Martha ketika ia berkata, "Enggak ada gunanya kita berusaha menarik orang untuk maju kalau orangnya sendiri enggak ada usaha untuk maju. Masyarakat kita sukanya yang superfisial, yang viral tapi enggak ada substansinya. Maunya disuapin informasi, bukannya mikir sendiri." That's hurt but that's also so damn true..

Menurutku, negara ini tidak kekurangan orang cerdas. Sayangnya, banyak dari mereka yang tidak diberi kesempatan dan support yang layak untuk membangun negeri ini. Beberapa waktu lalu ada berita miring tentang diaspora-diaspora yang tidak mau pulang setelah menuntut ilmu di negeri orang. Mereka dianggap tidak cukup merah putih dan memalingkan wajah dari negeri sendiri. Tapi ketika mereka berusaha melakukan perubahan, tak jarang mereka mengalami kejadian seperti Martha. Huft..

Balik lagi ke bukunya.. Aku suka sekali dengan cara Grace Tioso meracik buku ini. Konflik di buku ini punya banyak cabang tapi tetap ada benang merah satu sama lain; tokoh-tokohnya banyak, tapi tidak ada yang perannya sia-sia; background story dan character developmentnya sangat realistis dan manusiawi sekali; padat informasi tapi dituangkan dengan cara yang mudah dipahami; konfliknya pelik tapi closurenya sangat bisa diterima. This book ticks all the boxes ✅ So, I give this book a solid 5 ⭐ and after this Grace Tioso definitely become my auto buy author.

p.s. Sebelumnya, aku sempat membaca buku ini di aplikasi Rakata sebelum ku lanjut membaca versi buku fisiknya, yang menyediakan informasi tambahan menrik di bagian Author's Note, seperti step-step yang harus dilalui jika ingin berkarir di bidang akademik seperti Ronny atau sejarah singkat tentang koran Sin Po yang didirikan padah tahun 1910 untuk menampung aspirasi kelompok Tionghoa pada masa itu. Menarik deh info-infonya.
2 reviews1 follower
June 26, 2023
Grace Tioso

1. Compact story line but not too much.
Grace is really a superb writer. She penned down mix of parts, including politics, history, family, friendship, culture and the transition is really smooth. She knows how to and when to put it within each chapter so it doesn't make readers distracted.

2. The history background is dished up crystal clear.
I just came to know how miserable the "chindo" was. I once heard from parents but not as detail as described in the book. Reading the book makes me feel how lively the characters are and how surreal the history behind it. I also learn the history of chindo in Indonesia.

3. History and politics are binded into one clear story line and easy to grasp.
I can easily understand the political issue behind, and how it affects the thought and conduct of the characters.

4. A story is not complete without "drama" effect.
There's a lot of drama part within. It's really touching. It makes me crying and laughing at the same time. Mix of feeling definitely can't be separated from reading the book.

5. Brilliant way to get the readers' curiosity.
Grace leaves some hanging parts in the beginning and doesn't leave it too long. It make readers can follow the line and not easily get bored.

Overall it's really a high recommended book to read. I really recommend to read this book, you won't be disappointed. And last but not least, congratulations to Grace, you've nailed it.
Profile Image for michella .
68 reviews3 followers
October 30, 2024
an instant five star!

salut bagaimana buku ini mampu membahas topik yang cukup sensitif dan belum banyak dikupas oleh para penulis Indonesia lainnya. buku ini mengulik lebih dalam, layer demi layer tentang betapa sulitnya menjadi keturunan Chinese-Indonesian yang kerap kali mengalami diskriminasi di negaranya sendiri, seolah-olah suku Chinese ini terdengar sangat “asing” bagi kaum mayoritas di negara ini, khususnya dalam mengurusi dokumen negara. selalu dipersulit dengan birokrasi yang ruwet dan lama pula prosesnya. belum lagi ada kesalahan ejaan di akta lahir, KK, atau dokumen penting lainnya, yang seakan-akan gak bisa kelar dalam satu waktu aja. and worst of all, langkah kita seakan-akan dicegat, dijegal, aksesibilitas juga sangat dibatasi. dan yang tidak kalah penting, walau didiskriminasi oleh kaum mayoritas, kita gak boleh masukin ke hati dan jangan cari perkara sama mereka-mereka. this is the regular warning I always receive from my family 💔

aku paham banget sih rasanya jadi Martha, bagaimana rasanya nama marga kita sendiri gak boleh dicantumkan di akta atau dokumen penting lainnya hanya karena nama itu memuat bahasa yang asing. kadang suka bertanya-tanya, apa bedanya marga orang chindo sama marga-marga lainnya di Indonesia? apalagi marga orang Chinese yang masih ada unsur kata mandarinnya dan harus di-Indonesia-kan… for me, that just doesn’t make any sense to me. itu kan tetap marga keluarga, suku boleh berbeda, tapi kewarganegaraan kita tetap Indonesia. bukan berarti karena suku kita itu minoritas, lalu sekonyong-konyong menganggap bahwa orang Chinese gak punya rasa nasionalisme yang sama tingginya dengan yang lainnya.

it’s giving me a mixed feeling. this book constantly makes me feel a surge of emotions because of how relatable it is as a Chinese-Indonesian.

all i can say is, this book is worth every second and every penny. it deserves more recognition for capturing the complexities of being Chinese-Indonesian, opening the world’s eyes to our struggles, yet also showing how we always cherish our culture and still love Indonesia just the way it is.
Profile Image for Ra..
123 reviews14 followers
August 18, 2024
Sebelumnya aku udah tahu dari beberapa review singkat kalau buku ini menceritakan tentang keturunan Chinese-Indonesia dan juga mengangkat peristiwa Mei 1998. Yang bikin aku bertanya adalah judulnya, kenapa "Anak Luar Nikah"?

Terima kasih Rakata atas kesempatannya bisa baca buku ini gratis selama masa peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia. Rasanya nano-nano sekali baca buku ini saat merayakan kemerdekaan Indonesia, meskipun sudah merdeka tapi tidak semuanya merasakan kemerdekaan.

Baca buku ini bikin aku sadar ternyata memang masih ada sejarah dari negeri ini yang belum aku ketahui, bahkan dari pelajaran sejarah semasa sekolah. Aku dapat jawaban dari pertanyaanku soal judulnya, "Anak Luar Nikah".

Selain mengangkat sejarah, buku ini juga mengangkat dinamika keluarga yang gak bisa kalau gak menitikkan air mata. Tidak hanya keluarga Martha yang menjadi pusat cerita, tapi juga keluarga Fanny, Linda, Yuni, Ronny, dan yang lain.

Well written. Aku suka penulisannya yang sat-set dan lugas. 👍👍

AND EVERYONE MUST READ THIS BOOK‼️
Profile Image for Buaya Dayat.
80 reviews1 follower
June 20, 2023
Saya sebagai 𝑡𝑟𝑖𝑝𝑙𝑒 𝑚𝑎𝑗𝑜𝑟𝑖𝑡𝑦 (Lelaki, Muslim, Pribumi) merasa dihantam lautan fakta membaca novel yg ditulis @gracetioso yg 𝑡𝑟𝑖𝑝𝑙𝑒 𝑚𝑖𝑛𝑜𝑟𝑖𝑡𝑦. Betapa mencintai tanah air bisa menjadi sebuah ketakutan tanpa akhir. Sungguh novel yg kaya: ditulis semengalir "crazy rich asians" dan sepenting "catatan cacat sejarah". Tabik!
Profile Image for Nike Andaru.
1,647 reviews112 followers
March 8, 2024
25 - 2024

Saya menyelesaikan membaca buku ini dalam perjalanan pesawat CGK menuju Lombok. Belum juga take off tapi saya udah menitikkan air mata dan melirik ke sebelah takut heran kenapa saya menangis.

Saya punya banyak teman chinese karena sekolah di sskolah katolik, walo memang tidak ada masalah dengan mereka, mungkin keluarga mereka pernah merasakan hal sama dengan yang dirasakan Martha.

Namun perjuangan perempuan, perjuangan warga tionghoa untuk Indonesia besar banget. Saya rasa juga baik buat saya (yang mayoritas ini tapi udah lelah dengan Indonesia) untuk memahami "akar" yang menjadi penekanan dalam bagian akhir.
Profile Image for h.
375 reviews148 followers
August 27, 2024
WAIT... HOLD ON...... i was crying hard after finished this book😭😭😭
Profile Image for Amaya.
759 reviews58 followers
May 13, 2024
Harus kuakui, tulisannya keren. I mean, walaupun ninggal bentar karena harus melakukan kegiatan lain tetap bikin kepikiran kelanjutan ceritanya gimana.

Aku bingung harus mulai reviu dari sisi mana. Mungkin bakal kubentuk poin aja, siapa tahu pas nulis keingetan catatan yang lain.
- Pertama, karakterisasinya oke. Konsisten dari awal sampai akhir. Pengembangan karakternya ada banget, kentara juga, kok. Dan aku suka karena perubahannya tetap mempertahankan ciri khas dari karakter awal.
- Kedua, seperti yang kusebut di awal, aku suka sama gaya kepenulisannya; luwes dan rapi. Per akhir bab selalu dibikin cliffhanger jadi mau nggak mau harus baca terus biar nggak penasaran.
- Ketiga, beberapa hal yang bikin aku nggak terlalu excited itu kebanyakan flashback dijejalkan di tengah-tengah cerita. Eh, bahkan ada yang di awal juga, sih, sampai aku mikir ini di bab awal serius udah dikasih kilas balik? Ada kesan ketidaksabaran di sini. Idk, mungkin cara menjelaskan konteksnya bisa pakai cara lain, selain harus sedikit-sedikit kilas balik.
- Keempat, karena banyak karakter pembantu di buku ini, banyak juga yang harus dijelaskan mulai dari A sampai Z-nya. Misal, si wartawan harus menemui si ini, mulailah kilas balik kehidupan si ini sebelum masa sekarang. Kayak semua informasi, latar belakang, sampai watak pun dijelaskan dibahas di kilas balik. Bukannya bagus begitu? Hmm, ya, mungkin, sekali lagi mungkin juga bukan seleraku yang harus begini.
- Kelima, kupikir Martha bakal jadi karakter yang paling menonjol di sini, tapi nggak juga setelah beberapa kali harus "mampir" kenalan dengan karakter pembantu yang harus pembaca kenali dulu sebelum lanjut memantau update kasus Martha. Agak capek jujur di bagian kilas balik dan belok-kenalan-ke-karakter-lain-dulu ini.
- Keenam, risetnya oke banget, tapi ada beberapa bagian yang malah terasa lewah karena kebanyakan dosis.

Rating awalnya mau kukasih 3,8, tapi kubulatkan jadi 4 karena risetnya yang superkeren. Enggak nyangka ternyata 98 bisa sekelam itu, walaupun udah sering dengar kejahatan yang terjadi di masa tersebut, tetap aja rasanya sakit banget pas baca. Enggak bisa nahan air mata bagian papa Martha kasih pesan video itu, kek astagaaaa sakit banget :(((

Semangat buat Martha-Martha di luar sana, semoga kalian masih mau memaafkan Indonesia!
1 review1 follower
August 5, 2023
This is the best book of the year!

For the person who not so geek with a book. This book is for you. Karena ceritanya dibawa seringan mungkin dan masuk ke kalangan awam. Elemen2 pendukung dimasukan dengan sangat detail sehingga dapat merasakan dan larut di dalam bukunya.

Issue yg diangkat di buku ini sangat nyata / based on true events yg dihadapi mayoritas chindo yaitu status “anak luar nikah” di akte kelahiran akibat dari sulitnya mendapat SBKRI dan peristiwa 1998.

Selain itu menggambarkan secara detail sehingga pembaca terbawa masuk kedalam kehidupan Martha, Yuni, Linda, Fanny dan Ronny yang tumbuh besar sebagai Chindo dari latar belakang keluarga yang berbeda-beda. Martha dan Yuni dari keluarga Chindo peranakan. Ronny dan Linda dari Chindo totok. Fanny dari Chindo Holland Spreken.

Tidak lupa juga, pesan moral dari cerita yang disampaikan. Mulai dari tentang kehadiran keluarga sampai pesan untuk generasi digital. Sehingga banyak pesan yang dapat kita ambil setelah membacanya.

Dan buat sy sendiri sebagai Chindo gado-gado, buku ini membuat sy ingin semakin mengenal budaya sy itu sendiri.
Profile Image for M. Iqbal.
123 reviews1 follower
July 27, 2023
Sebuah perjalanan membaca yang "menyenangkan". Perkumpulan Anak Luar Nikah benar-benar memberikan paket komplit unsur-unsur penceritaan yang diharapkan.

Isu yang diangkat luar biasa, Grace nampaknya berhasil mewujudkan tujuan dari tokoh utama dalam buku ini. Banyak hal penting yang memang harus diketahui bagi pembaca. Mulai dari hal-hal yang dianggap sepele sampai hal yang bikin capek, kompleks, dan rumit.

Awalnya, saya kira ini mungkin menjadi jalan cerita yang hanya fokus pada pengungkapan kasus "biasa". Ternyata, jauh dari itu, sehingga perlahan-lahan pembaca akan diajak mengupas satu per satu permasalahan inti dan penting.

Memasuki bagian-bagian akhir, ketika Martha harus bernegosiasi bahkan berusaha berdamai dengan banyak situasi dan kondisi, saya ikut lelah.. saya diajak merasakan beratnya beban yang dipikul Martha.

Hebat!! Keren!!
Profile Image for Adara Kirana.
Author 2 books207 followers
March 3, 2024
4.75

Menambah wawasan dan awareness banget terutama tentang diskriminasi terhadap chinese-indonesian dan ketidakadilan yang mereka hadapi di Indonesia. Sukaaa!!
Profile Image for Asmira Fhea.
Author 7 books31 followers
August 2, 2023
Sebagai orang yg gak tinggal di Jakarta pas 98 (ditambah masih balita jg), memori kerusuhan itu terekam jelas di novel ini.

Novel ini bikin merinding, sedih, hangat, dan juga sweet.

Curcol yg agak banyakan di sini;

https://twitter.com/asmirafhea/status...

- AF
Profile Image for Cyn.
292 reviews11 followers
October 9, 2025
"Balik sana ke China!"

terdengar kyk salah satu kutipan dalam buku Perkumpulan Anak Luar Nikah, tapi juga salah satu komentar rasis yg harus kutelan waktu duduk di kelas 2 SD. kata" tadi diucapkan sama temen perempuanku, yang sampai skrg masih jadi misteri, kenapa anak sekecil itu punya kebencian sedemikian kuatnya. kalau mau jujur, di luar sbg perempuan, secara garis besar jadi chindo emg ga gampang. dari kecil banyaaak bgt cerita diskriminasi, dihina, dikomentari bernada rasis, sampe pelecehan verbal. tapi syukurlah di thn 2000an ini, yang kualami cuma cerita keseharian (buset, dihina aja bersyukur loh), bukan permasalahan birokrasi. ibaratnya cuma sebagian kecil dari yg dialami Martha Goenawan, satu generasi di bawah papanya yang terjepit sistem pemerintahan Indonesia thn 1960 an.

PALN bercerita tntg Martha, anak penerima beasiswa University of Singapore, yg di present day udah berkeluarga dan punya keseharian "menguliti" politisi di Indonesia. beralasan ingin membuka mata warga Indo thd calon" pemimpinnya, Martha berkolaborasi sama sepupunya, Yuni, buat bikin threads di Twitter tntg plus minus para politisi. suatu hari, Martha ganti dikuliti.

Martha adalah anak dari Budi dan Lestari, pasangan sah yg menikah scr agama tapi tidak tercatat di capil karena Budi masih dianggap WNA. karena itu pula, Martha hanya punya Akta Kelahiran yg bertuliskan Anak Luar Nikah dari mamanya. di bangku SMA, didorong oleh sahabat"nya dan rasa malu, Martha bikin Akta palsu yg memuat nama papanya yg kemudian ia pakai bertahun" tanpa ada masalah. sialnya, saat Martha uda nerima beasiswa dan merasa hidupnya membaik, kebohongan tntg Akta dibeberkan di blog lamanya, yg di kemudian hari justru jadi boomerang bagi Martha.

buku ini jg bahas tntg kerusuhan Mei 1998 khususnya yg terjadi sama keluarga Martha dan Ronny, suaminya. ada sedikit byk menyinggung tntg 1965 juga, peristiwa yg lebih jauuuh lagi dari masa skrg dan jarang didenger detailnya tapi betul" terjadi. betapa rapi dan rajinnya ya orang chindo nelen sejarah pahit (dapet gak sarkasnya?)

kalau terlahir sbg warga Indonesia adalah anugerah, terjepit sistemnya adalah ironi. di jaman ini hidup sesederhana tanya ke mama, "kok aku gak diajarin bahasa Mandarin? kan pengen bisa!", padahal ada sejarah yg memaksa warga chindo generasi sblm kita untuk ngelupain asalnya. bahkan nama jadi masalah; nama berbau China dilarang!

kalau kita lahir dan tumbuh di Indonesia sama dengan jadi orang Indonesia, kenapa segala tetek-bengek persoalan dokumen dan birokrasi jaman dulu dipersulit?? orang ga pernah ngelangkahin kaki ke luar Indonesia aja diaku WNA 😂 mirisnyaaa. untung itu semua dulu ya, untung skrg keadaan makin membaik. skrg banyak chindo yg udah melek politik dan ga sembunyi lagi. banyak yg makin vokal demi kemajuan Indonesia. telingaku sndr udah lama ga denger hinaan rasis, tapi kalo sekali lagi ada yg suruh aku balik ke China, ku bakal kruwes mulutnya sambil bilang, "matamu!!" 🥰
Profile Image for jolanda.
112 reviews
May 31, 2025
huaaa gila bagus bgt menguras emosi utk hati mungil q 🥺 hisfic that circling in chinese - indonesian family, many throwbacks ke kejadian ‘65 & ‘98 yg bikin 😔

kompleks bgt bikin mikir which i luv gils in grace tioso i trust lah!
Profile Image for Sella   (claudieslibrary).
125 reviews11 followers
December 16, 2023
Membaca buku ini menambah hal sejarah sekaligus menggali ingatanku akan masa-masa tahun 1998. Aku yang waktu itu bersekolah di sekolah swasta dengan 60% murid cina & aku yang pada masa itu, meski masih SD, tapi usiaku sudah cukup bisa mengingat kejadian memilukan di tahun itu. Melihat sendiri bagaimana penjarahan di ibu kota terhadap toko-toko cina, merasakan sendiri bagaimana kalutnya orangtuaku menjemput aku di sekolah saat kerusuhan terjadi & bagaimana kami pun memasang plakat “Pribumi” di depan rumah. Meski bukan etnis tersebut, tetapi kami juga ketakutan hanya karena kami minoritas.. dan buku ini sedikit banyak menceritakannya🥹

Kisah di buku ini mungkin bukan kisahmu, mungkin juga bukan kisah keluargamu. Ini hanya tokoh fiksi yang kisahnya disisipi fakta sejarah.. namun, percayalah.. ini kisah yang jujur & menyentil nurani.

Part-part yang menceritakan Martha sebagai seorang istri & Ibu adalah part yang kalau boleh dibilang sebenarnya suara hati beberapa perempuan. Karakter Martha terasa realistis. Aku suka penulis menyisipkan tentang tidak adanya perbedaan antara ibu rumah tangga & ibu bekerja lewat pola pikir Martha. Memang.. menjadi berdaya bisa dimana saja kok.

Pembahasan mengenai keharmonisan rumah tangga juga kurasa cukup & tidak terkesan menggurui. Kisah Rony dan Martha menjadi pengingat untuk pembaca agar saling setia di pernikahan lewati suka & duka.

Momen saat penulis menghadirkan suasana dlm keluarga dgn pelbagai karakternya. Penulis tidak menghadirkan tipikal keluarga sempurna, ada saja kekurangannya.. namun keintimannya begitu terasa hangat & tahu-tahu membuat air mataku jatuh😭😭😭keluarga & kerasnya sejarah perpaduan yg memilukan.

Buku ini juga menyentilku secara pribadi “apa pernah aku menangis mendengar lagu kebangsaanku sendiri?” Kadang.. hal yang dianggap biasa saja bagi kebanyakan orang, nyatanya nggak sebiasa itu bagi orang lain termasuk urusan lagu kebangsaan.

Penyelesaian masalah dlm buku ini jg cukup masuk akal mengingat karakter Martha yang memang berpegang teguh pada nuraninya. Untuk itu, aku mau apresiasi penulisnya, krn sudah menghadirkan tokoh yg konsisten dr awal hingga akhir👏🏻

Buku ini memang beralur maju mundur, tapi aku tidak dibuat kewalahan dengan kisahnya.. penceritaannya rapi, dgn dialog era modern.. ini menolong sekali utk mendekatkan sejarah kpd generasi muda.

Beberapa hal tambahan terkait buku ini terlampir pd slide ya.

Suka💕
Profile Image for Fikriah Azhari.
367 reviews149 followers
March 3, 2024
❝Saya menyadari tidak ada propaganda pemerintah sekencang apa pun yang bisa menghapus sebuah identitas.❞

❝It's not a sin to be born as a Chinese-Indonesia.❞


𝑳𝒖𝒐 𝒚𝒆 𝒈𝒖𝒊 𝒈𝒆𝒏.
𝐃𝐚𝐮𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐣𝐚𝐭𝐮𝐡 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐦𝐛𝐚𝐥𝐢 𝐤𝐞 𝐚𝐤𝐚𝐫𝐧𝐲𝐚.

Perkumpulan Anak Luar Nikah menghadapkan kita pada kasus dilema moral yang merenggut kebebasan Martha, bahkan membuatnya terancam dipenjara karena pemalsuan dokumen yang dilakukannya di masa lalu saat melakukan pengajuan beasiswa ke University of Singapore. Martha lulus dengan periode 3.5 tahun dengan nilai 4.9 (skala 5.0), ex-Dean's list recepient, TA awardee dan super organized project manager. Pencapaian sempurna yang jelas tidak mungkin didapatkan jika memang dirinya tidak layak berada di sana. Lantas sebenarnya, dokumen apa yang dipalsukan Martha?

Buku ini beneran isinya "daging" semua. Membaca buku ini membuatku tahu bahwa ada sebuah generasi di negeri ini yang menjadi Anak Luar Nikah di selembar kertas karena gagal dilindungi oleh negaranya sendiri. Sebuah pengkhianatan oleh otoritas atas yang mencekik komunitas yang bukan orang lain, tapi masih rakyatnya sendiri. Tidak hanya lewat Martha, tapi juga Yuni, Linda dan Fany, pembaca diajak mengetahui luka yang masih meninggalkan bekas dari tragedi 1965 juga 1998, segala bentuk diskriminasi bagi kelompok minoritas Tionghoa-Indonesia, terlebih perempuan. Rasanya ini adalah sebuah ironi karena sejak awal mereka nggak memilih, tapi menanggung segala akibatnya—terlebih ketika menyadari bahwa dalam kehidupan nyata, hal ini benar-benar terjadi.

Yang kusuka di buku ini adalah bagaimana para tokoh dibuat semanusiawi mungkin, punya naluri yang terlebih dahulu ingin melindungi diri sendiri, membuat mereka tidak sepenuhnya putih terhindar dari dosa dan kesalahan. Emosi tercampur menjadi satu seiring dengan perpindahan adegan yang penuh haru, pilu, hingga lega yang bikin aku meneteskan air mata 🥲. Ada juga romance tipis-tipis Ronny dan Martha; how much they treasure each other yang bikin senyum merekah seakan diajak ikut kasmaran.

Lewat buku ini juga tercermin bagaimana di masa sekarang jejak digital dan peranan media bisa menggerakkan begitu banyak orang. Aku harap, buku ini juga begitu, dapat meningkatkan empati terhadap sisi sejarah yang jarang dibuka dan nyaris terkubur namun jelas pernah nyata terjadi di negara yang kita sebut sebagai tanah air.

This is masterpiece *chef's kiss*
Profile Image for Nabila.
43 reviews6 followers
July 25, 2023
Setelah berusaha bangkit dari reading slump, saya hampir saja merasa salah karena telah memilih novel tebal yang satu ini sebagai bacaan permulaan. Namun di luar dugaan novel ini justru membuat penasaran hingga akhir. Sebuah novel yang menceritakan tokoh bernama Martha yang berputar pada kehidupan pribadinya kemudian berakhir membawa kita pada perjalanan yang lebih jauh lagi, yaitu perjalanan historis bagaimana kaum etnis tionghoa menjalani kehidupan masa kericuhan '98 dan berpengaruh hingga kehidupan yang selanjutnya. Ada banyak sekali warna dalam kisah ini. Dengan alur maju mundur pembaca akan dibawa pada kenyataan bahwa hidup di negeri sendiri ternyata tidaklah mudah. Harus ada perjuangan dan air mata untuk tetap mendapatkan keadilan.
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book272 followers
September 1, 2023
Martha adalah seorang Chinese-Indonesian yang mendapatkan kesempatan untuk kuliah di Singapura lewat beasiswa dari pemerintah Singapura. Di sana dia bertemu dengan seniornya, Ronny. Singkat cerita keduanya menikah, dan Martha menjadi ibu rumah tangga mengasuh kedua anak mereka. Tidak banyak yang tahu, Martha adalah admin dari @DuoLion163, sebuah akun di twitter yang sering membuat utas tentang para politikus. Bersama sepupunya, Yuni, Martha menyajikan fakta dari data-data yang dianalisisnya menjadi sebuah utas yang bisa menjatuhkan atau mendukung politikus. Sampai kemudian, sebuah berita mengejutkan datang kepadanya. Perilakunya memalsukan dokumen saat mendaftar beasiswa di masa lalu terbongkar. Martha harus berhadapan dengan konsekuensinya, yaitu dipenjara.

Pertama kali membaca judulnya, pikiran saya mungkin sama dengan kebanyakan orang (bahkan Martha sendiri punya pikiran seperti itu). Anak Luar Nikah berarti anak yang lahir sebelum kedua orangtuanya menikah. Ternyata bukan itu. Ada suatu periode di Indonesia dimana warga keturunan Tionghoa kesulitan mendapatkan SBKRI (Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia). Contoh paling terkenal itu adalah sang atlit Susi Susanti, yang meski dia sudah membela Indonesia di kancah dunia, ternyata masih dipersulit untuk menjadi WNI. Di dalam novel ini, kasus serupa dialami oleh orang tua Martha. Akibatnya, anak dari WNA ini mendapatkan frasa "Anak Luar Nikah" yang dicantumkan di akta kelahiran mereka. Diperparah dengan peristiwa Mei 1998, membuat Martha muda mengambil jalan pintas memalsukan akta kelahirannya, dengan mencoret frasa tersebut. Namun ketika Martha menelaah lebih jauh, itu adalah bentuk protesnya.

Novel fiksi ini bukan hanya mengangkat permasalahan identitas seperti yang dialami Martha. Berbagai permasalahan menjadi warga Chinese-Indonesian dikupas dalam novel ini. Selain itu, krisis komunikasi yang dialami Martha dan Ronny juga salah satu konflik yang menarik.

Saya senang mendapat kesempatan membaca novel ini, menambah wawasan tentang Anak Luar Nikah. Akhirnya bisa membaca habis satu buku dalam sehari.
Profile Image for Olga Meidelina.
41 reviews
November 24, 2023
idk what to say except: brilliant storytelling.
if schools in indonesia ever decided to make a reading list for students, this should be on it.
PS: bring tissues
Profile Image for myutokki ✶꩜ .ᐟ.
85 reviews12 followers
March 28, 2024
i definitely would recommend this book to all my moots all around the world.

this book was still written in Bahasa Indonesia (in my native language). gooooo slide to her instagram account to check details information about this book. 🩵

this book told me that social media really have a big impact to our life especially our future. i couldn’t write a good review, but through this book, i learnt that there’s tomorrow for your difficult day. life is good. God is good.

be happy mates! God is all around us.
Displaying 1 - 30 of 302 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.