Jump to ratings and reviews
Rate this book

Tuhan Yang Kesepian

Rate this book
Tuhan adalah Sang Pemilik hidup. Tapi, nahasnya Dia kerap dilupakan. Khusunya pada saat manusia dalam keberlimpahan. ‘Kalau Tuhan ada, apa gunanya? Kalau Tuhan tidak ada, apa ruginya?’ Itulah gambaran yang menghinggapi manusia masa kini. Mereka acuh tak acuh dengan Dia yang telah menciptakannya dan memberinya hidup. Manusia modern suka dengan hal-hal praktis, dan easy-going: aku ada dan titik! Siapa atau apa yang membuatku ada tidaklah penting.

Melupakan Tuhan sesungguhnya melupakan karunia-Nya. Meski manusia hanya sewaktu-waktu membutuhkan-Nya dan mungkin sekadar kosmetik penghias hidup, tapi Tuhan tidak meninggalkan mereka, dan tetap menyayanginya. Tuhan rindu disapa makhluk-Nya. Dan, ketika orang menyapa-Nya, maka sesungguhnya Dia sedang menyapanya.

Buku ini mengajak bertafakur atas perilaku keberagamaan kita. Tawaran kontemplatif yang memikat

204 pages, Paperback

First published January 1, 2013

11 people are currently reading
65 people want to read

About the author

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
12 (21%)
4 stars
26 (47%)
3 stars
11 (20%)
2 stars
4 (7%)
1 star
2 (3%)
Displaying 1 - 13 of 13 reviews
February 17, 2023
"Iman is not made by a click and a full stop. Iman needs redemption every single time."

The first time I read the title, I was quickly interested in reading it on IPusnas. After I looked at the comment column, I knew it wasn't just me.
 
The cover, which is minimalist and simple, apparently made fools of us since it's contained by many pairs of toilsome reading the author shown. After three days of struggling with those 204 pages, I found sections of essays that contained the author's thoughts about moslems in this era. Not only mirrors by moslem figures in early's stories, but the author also used modern moslems and non-moslems as his study cases.
 
Parts that tugged at my heart are:
• the story of the suitcase of Alm. Prof. Dr. K.H. Abdul Mukti Ali, former religion minister of Indonesia, explained the "action speaks louder" concept and
• the story of my favorite figure, Buya Hamka, wrote Tafsir Al Azhar as long as he was jailed.
 
This "Book of Wisdom" author successfully opened our eyes to so many things we as fellow Muslims need to understand. Not only looked at one point of view under the cloak of to be "open-minded". But the author invited us to use our literacy and take the wisdom of so many things that even people said it was the worst thing.
Profile Image for Ida Yulia.
Author 16 books58 followers
November 28, 2013
Tertarik karena judulnya menantang. Meski ketika beli rada ga berharap lebih dengan isinya. Membayangkan isinya nanti berupa semacam 'dakwah' tentang keberadaan Tuhan.

"Iman itu tidak sekali jadi dan titik. Iman membutuhkan penyelamatan setiap saatnya." -Mukadimah dari Tuhan yang Kesepian-

Setelah membukanya, kaget. Ini merupakan salah satu bacaan yang aku cari selama ini. Seperti mampu membaca pikiranku yang terkadang out of road ketika merenungi tentang hakekat Tuhan dan beberapa hal lainnya yang ternyata juga dibahas di dalamnya. Seolah aku membaca pikiranku sendiri, pikiran yang tak mampu aku utarakan karena keterbatasan jangkauan kemampuan untuk menyampaikan. Beberapa tulisan di bab tertentu membuatku terketuk, terkadang membuatku ingin berteriak 'Ini dia!', sering sekali manggut-manggut atau mengernyitkan dahi, ngajak berpikir juga.

Bagus, makanya aku beri bintang empat. Semoga ada buku lain yang seperti ini. Rekomendasi untuk siapa saja yang sedang dalam masa pencarian hakekat hidup (bukannya sok deep or gimana, tapi emang bener). Syarat mutlaknya cuma satu, kudu open minded bacanya, agar hati juga ikut terbuka, biar balance.

Profile Image for Nur.
137 reviews
July 20, 2016
Buku bacaan pas bulan Ramadhan :') Seneng banget akhirnya kesampaian juga baca buku ini sampai selesai. Buku ini memberikan banyak sekali wawasan dan cara pandang yang baru tentang Islam buatku (dan ngga pernah kepikiran sebelumnya) Ada 'bau-bau' filsafat juga sih, heheheh, dan aku sama sekali ngga keberatan tentang hal itu.

Cobalah baca buku ini! Dan sepertinya, aku harus baca sekilas lagi tentang buku ini, karena aku hampir-hampir lupa bagian-bagian favoritku dari buku ini :3

(review selengkapnya menyusul!) :)
Profile Image for aulin.
3 reviews
December 30, 2023
Minjam buku ini di iPusnas karena tertarik dengan judul bukunya. Lumayan sepi peminat tapi ternyata bagus banget banget banget isinya. Susunan isinya dikemas dalam format yang pendek, jelas, dan padat. Jadi lebih simpel dibaca walaupun ada beberapa rare word yang digunakan oleh penulis. Dari judul per-bab nya saja sudah menarik banyak pertanyaan dan keingintahuan. Sebagai contoh, tulisan dengan judul "Rumah Antik". Judul tersebut mengajak kita untuk mempertanyakan benarkan Rumah Tuhan adalah kubus itu? Lalu bagaimana dengan yang di Yerusalem? Apakah Tuhan mempunya tiga rumah, yakni untuk kaum Yahudi, Nasrani, dan Islam? Dan kita disadari bahwasanya Yahudi, Nasrani, dan Islam tumbuh dari bibit yang sama, mengapa ada perbedaan bahkan ada perselisihan? yang Mana yang benar? Di dalam buku ini diulas hal-hal demikian yang akan membuat kita berpikir sejenak tentang makna-makna kehidupan yang sebenarnya. Terdapat banyak ungkapan dari orang-orang terdahulu dan sejumlah kisah dari para tokoh yang bisa kita ambil hikmahnya. Overall buku ini sangat cocok untuk dibaca santai ataupun dibaca dengan seksama.
Profile Image for MAILA.
481 reviews120 followers
July 20, 2017
Setelah baca ini, saya tersadar kalau saya sudah lama sekali tidak belajar. Juga membaca suatu bacaan di luar buku cerita.

Dulu pas sekolah masih suka baca koran dan mantengin kolom agama tiap jumat di koran.

Setelah baca ini juga jadi mempertanyakan ke islaman diri sendiri sih hhh.

Bacaan bagus dan menarik. Bikin mikir. Merenung dan belajar.

Ada bebrrapa yg bikin senyum mbatin "ya juga ya" sih.

Sayang saya tidak begitu kenal banget dengan penulisnya. Gaungnya kurang terdengar. Eh apa mungkin kurang aktif di dunia maya juga ya? Padahal tulisannya apik
Profile Image for Taufanharimurti.
23 reviews
August 12, 2020
Meskipun belum pernah berjumpa langsung dengan penulisnya, nama saya dimasukkan ke dalam buku cantik ini. Buku ini berisi kumpulan renungan penulisnya, yang kemudian diolah secara apik oleh M. Iqbal Dawami (ketika itu Editor Bentang) menjadi naskah yang layak diterbitkan.
Profile Image for Ahmad Lukman .
1 review
December 17, 2013
Konon, manusia diciptakan dengan sifat khususnya: pelupa. Sifat yang sering sengaja dihadirkan untuk membela diri ketika terpojok. Celakanya, hal apapun bisa saja mereka lupakan. Termasuk Tuhan. Ia seolah hanya “dihadirkan” dalam saat dan atau kondisi tertentu. Sedangkan dalam banyak kondisi, Tuhan sering “dilupakan” begitu saja. Entah lupa yang disengaja atau karena sifat bawaan tadi. Atau jangan-jangan, karena Tuhan sudah disetarakan dengan hal-hal yang ketinggalan zaman, kadaluarsa, kampungan, kolot, dan dikalahkan dengan barang modern. Sehingga melupakannya adalah perilaku biasa saja.
Melalui bukunya yang berjudul “Tuhan yang Kesepian”, Tasirun Sulaiman mengajak kita untuk kembali mengingat dan mempertanyakan segala sesuatu yang sudah kita anggap final; kita anggap sudah biasa. Sikap kita pada Tuhan, keimanan, agama, hidup, hubungan dengan sesama, dan banyak hal yang sudah kita anggap selesai, kembali diangkat, dipertanyakan, dan dikaji lebih dalam. Lebih dari itu, setelah membaca tulisan-tulisan dalam buku ini, benak kita menghadirkan berbagai pertanyaan baru yang terus menuntut untuk mengkaji dan berpikir.
Dengan bahasa yang sederhana namun padat, kita diajak memikirkan kembali tentang banyak hal dalam hidup kita. Lalu menghubungkannya dengan keimanan. Karena baginya, keimanan bukan sesuatu yang sudah selesai, sehingga tabu untuk dibahas. Melainkan sesuatu yang layak ditanyakan, dikaji, diperdalam dan diberi aneka penguatan.
Berbagai pengalaman dan kejadian dalam hidup yang sudah sering dihadapi, berhasil ditautkan kembali dengan kita, kemudian ditransendensikan. Mudik misalnya. Rutinitas yang sebetulnya banyak memakan korban, tetapi terus dilakukan dan menjelma menjadi kebiasaan yang mengakar. Idul fitri yang identik dengan kegiatan ibadah, akan terasa hambar jika tidak dilengkapi mudik. Sayangnya, sedikit sekali pelaku mudik yang mampu menggali pelajaran. Seperti dilukiskan oleh penulis buku ini pada halaman 127:
Kita kadang lupa memahami mudik sebagai sebuah gerak kembali dari perjalanan hidup kita. Kita berasal dari suatu tempat dan hendak kembali menuju tempat itu. Apakah gerangan tempat itu?
Masih banyak tawaran-tawaran lain untuk memikirkan ulang dan mengambil pelajaran dari berbagai kejadian dan pengalaman hidup, yang seolah sudah biasa kita lakukan, sehingga sudah selesai dan tanpa pelajaran.
Tawaran-tawaran mengenai toleransi, optimisme, persaudaraan, kebijaksanaan, nilai-nilai kemanusiaan universal, bahkan keimanan, bertebaran dibalik lembar-lembar halaman buku ini. Hidangan ini terasa lebih lengkap, karena didukung dengan sudut pandang yang menunjukan kekayaan referensi dan wawasan penulisnya.
Ketika melihat judulnya, seolah kita akan dibawa menyelami persoalan berat dan tabu untuk dibahas, yakni tentang Tuhan. Padahal, di dalamnya kita diajak berkelana melihat kembali dan memahami berbagai rutinitas kehidupan, kemudian dihubungkan dengan jalan ketuhanan. Hal ini tidak terasa berat, karena dibumbui dengan berbagai hikmah yang menarik, termasuk yang terkandung dalam film sekalipun.
Pada akhirnya, kita akan kesulitan untuk tidak setuju, bahwa segala sesuatu itu belum final. Sehingga masih layak untuk dipikirkan dalam sebuah kontemplasi, agar tidak dimakan oleh penyakit bawaan kita: lupa.
Profile Image for K. R..
Author 2 books11 followers
June 18, 2016
secara keseluruhan terkesan melompat-lompat dan kurang detail dalam menjelaskan. seakan pembaca pasti tahu apa yang sedang dibicarakan. tapi yah, pada akhirnya cukup bisa dinikmati. sebagai catatan: harus dibaca dengan pikiran sangat terbuka. beberapa tampak menebarkan cinta dan mencegah benci, tapi dengan cara semacam menekankan kebencian yang lain. entahlah, mungkin karena ilmu saya yang sangat kurang.
Profile Image for Lolli Adriani.
52 reviews5 followers
October 8, 2014
banyak hal-hal yang bertentangan dengan apa yang saya percayai ketika membaca buku ini. penulis sendiri pun menyatakan secara gamblang kalau apa yang ia tulis mungkin membuat orang bingung dan "sesat". terlepas dari semua itu, saya jadi tau pemaparan dari sudut pandang yang berbeda, meski membuat kening sering berkerut.
Profile Image for winarsihanoor.
17 reviews
December 20, 2017
sudah dua kali ngulang baca buku ini tapi sampai sekarang masih belum paham juga maksud dari tulisan yang terkandung di dalamnya #Gagalpaham -,-"
Profile Image for Nurnajmi.
207 reviews17 followers
December 26, 2014
2,5 aja siiiih
quote paling keren dan menghasut saya buat beli bukunya adalah......
"Iman itu tidak sekali jadi dan titik. Iman membutuhkan penyelamatan setiap saatnya."
10 reviews
May 12, 2018
Personally, saya tertarik baca buku ini karena dari judulnya yang membuat saya bertanya-tanya. Sebenernya maksudnya apa sih Tuhan Yang Kesepian itu? Saya berfikir buku ini akan menjadi buku religi yang bisa menambah pengetahuan dan spritualitas saya. Tapi saya merasa, buku ini gagal menyampaikan pesan tersebut kepada saya. Saya sendiri, merasa buku ini ditulis dengan melompat-lompat dari satu hal ke hal lainnya dan tidak tuntas dalam penjabaran isi per bab nya. Sehingga membuat saya bingung, dengan apa yang penulis ingin jelaskan per bab nya. Dan ada beberapa hal yang disampaikan dalam buku ini tidak sesuai dan berbeda dengan pemahaman saya.
Displaying 1 - 13 of 13 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.