Ini dongeng tiga dara. Bukankah selalu saja tentang mereka, sebab siapa yang tak kenal cerita rumah, keluarga, kita. Tapi ini juga dongeng yang tak kau minta, tentang yang tak terlihat, tak terdengar, terlupa.
Di tahun 1991, Hajjah Victoria binti Haji Tjek Sun meramal ketiga cucunya: satu cucu berkelana, satu menjaga, dan satu lagi menjadi pengantin. Ketika salah seorang berkhianat, dara yang tersisa terperangkap dan menoleh ke belakang, menelusuri dapur berisi kuali-kuali raksasa dan sumur terlarang di Rumah Victoria (kata orang jalan menuju rumah Nenek tak berujung), berhadapan dengan rahasia dan mimpi-mimpi yang macet di tengah jalan. Saat perjalanan dan kitab suci tidak lagi memberi perlindungan, dara yang lain hadir. Ia tak diundang dan menuntut penjelasan.
Malam Seribu Jahanam adalah novel kedua dari Intan Paramaditha. Mengolah kisah-kisah Islami dan mitos nusantara, novel ini merupakan dongeng gelap tentang sesal, malu, dan hantu—sebuah renungan tentang praktik beragama, retakan dan reruntuhan kelas menengah, serta rapuhnya persaudaraan.
Intan Paramaditha menulis buku Sihir Perempuan, kumpulan cerita pendek yang masuk lima besar Khatulistiwa Literary Award pada tahun 2005; Kumpulan Budak Setan (2010), sebuah tribut untuk penulis horor Abdullah Harahap yang ditulis bersama Eka Kurniawan dan Ugoran Prasad; naskah drama Goyang Penasaran (Intan Paramaditha & Naomi Srikandi, ed, KPG 2013), diadaptasi dari cerpennya dan dipentaskan oleh Teater Garasi di Yogyakarta dan Teater Salihara, Jakarta. Ia mendapat penghargaan sebagai cerpenis terbaik Kompas 2013 lewat cerpen "Klub Solidaritas Suami Hilang." Pada tahun 2017 ia menerbitkan Gentayangan: Pilih Sendiri Petualangan Sepatu Merahmu, novel dengan alur beragam yang terpilih sebagai karya sastra bidang prosa terbaik pilihan Tempo 2017. Karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan Harvill Secker (Penguin Random House UK) dengan judul Apple and Knife dan The Wandering.
Intan Paramaditha juga seorang akademisi, banyak menulis tentang gender dan seksualitas serta kajian budaya, khususnya film. Ia mendapat gelar doktor dalam bidang Kajian Sinema dari New York University setelah sebelumnya mendalami sastra Inggris di Universitas Indonesia dan University of California San Diego. Saat ini ia tinggal di Sydney dan mengajar Kajian Media dan Film di Macquarie University.
"Revolusi selalu dimulai oleh saudara tiri buruk rupa"
Kalimat itu nyangkut di kepalaku sejak mbak Intan membacakannya pada acara perilisan ulang Sihir Perempuan sampul baru di Gramedia Central Park 6 bulan silam.
Begitu excitednya sampai aku sengaja tidak membaca nawalanya. Agar bisa menikmati novelnya tanpa ekspektasi yang gimana-gimana.
Malam Seribu Jahanam "tampil" dalam balutan kisah religius agama Islam dengan kearifan lokal. Mbak Intan mengatakan sendiri bahwa kali ini ia berkesperimen dengan genre (kalau bisa disebut demikian) Gothic Islami.
Alkisah ada tiga dara. Mutiara, Maya, dan Anisa. Ketiganya diramal oleh Nenek Victoria bakal menjadi Penjaga, Pengelana, Pengantin. Bagi Muti yang paling sulung, ramalan itu aneh. Bagi Maya, bisa saja itu kutukan. Sedangkan bagi Anisa, siapa yang tak ingin menjadi Pengantin?
Namun, manusia berubah. Tiga dara tidak lagi lekat. Punya kehidupan sendiri-sendiri. Hingga suatu saat sebuah kejadiaan naas menyadarkan mereka semua. Muti harus menjadi Penjaga dan Maya masih saja menjadi Pengelana.
Sebagai seorang sulung dari tiga dara, aku punya kemiripan dengan Muti: perfeksionis dan maunya semua beres dalam satu kalimat pendek. Kesal kalau adik-adikku tidak mau nurut. Aku merasa, apa yang Muti tumpahkan dalam bab-bab di novel bisa kupahami. Emosinya bisa kurasakan.
Wajar jika ketika semua berantakan, Muti murka. Menyalahkan sang Pengelana. Tapi bisakah Maya memberikan penjelasan terhadap absennya dia?
Gothic Islami bukanlah sekadar tema. Bagiku, ini adalah napasnya. Mulai dari judul novel, nama kucing, cerita Nabi Yusuf, hingga surat yang ditulis oleh Anisa.
Mbak Intan seakan paham kebingunganku menerjemahkan "Islam" yang muncul pada peristiwa naas itu.
"Kalau betul Islam adalah agama penuh cinta kasih, mengapa mereka tega melakukan hal sekeji itu dan menggaungkan nama Tuhan?"
Secara keseluruhan, aku puas dengan Malam Seribu Jahanam. Isu yang diangkat, konflik yang dimunculkan, serta tokoh-tokoh yang tidak hanya cishet saja. Sebuah paket komplit ❤️
Apakah kamu dan aku, perempuan, saling mengoyak? Dalam novel “Malam Seribu Jahanam”, tiga bersaudari: Mutiara, Maya, dan Annisa, diramalkan akan memiliki peran yang berbeda-beda: Penjaga, Pengelana, dan Pengantin. Namun, tak pernah ada yang menyangka: adik bungsu kesayangan yang cantik akan menjadi pelaku bom bunuh diri. Kedua kakak kebingungan, apa yang sebenarnya mereka lewatkan? Apa yang harus dilakukan Mutiara untuk mengamankan keluarga? Apa yang perlu ditelusuri Maya untuk menemukan teka-teki yang tersembunyi? Apa yang terselubung dari Si Manis Annisa?
Buatku, novel ini padat. Meski alur dibuka dengan kegemparan bom bunuh diri beserta segala situasi yang dapat melingkupinya baik dari segi korban maupun pelaku, tapi pembaca dapat mengutak-atik sudut pandang untuk menemukan isi yang berbeda. Semakin kita mengenal tiga bersaudari, justru tersibak lapis demi lapis isu yang termuat di dalam buku ini. Apa yang paling ingin kita cari? Di sini, kita dapat melihat kebingungan dalam praktek beragama alias bagaimana kita terkesan pilah-pilih dan tak konsisten, pola pengasuhan yang tak sehat, bahkan sejarah dan budaya yang teralami di Indonesia. Mungkin, pembaca berbeda akan menemukan ragam bahasan lainnya. Aku mengagumi bagaimana penulis bisa meleburkan semua itu secara rapi. Dengan pilihan isu yang ingin kita dalami, ada bahan yang tersedia tanpa membingungkan cerita.
Untukku sendiri, aku lebih tertarik dengan hubungan tiga bersaudari. Pada awal buku, meski pada masa kecil mereka memiliki hubungan naik-turun dengan kecemburuan sebagai bumbu, rasanya itu masih bagian yang wajar. Namun, semua berubah ketika mereka mulai memisahkan diri satu sama lain. Hal ini bisa kita menikmatinya sebagai alur apa adanya atau secara simbolis. Anggaplah tiga bersaudari ini adalah perwakilan dari sosok perempuan. Ramalan terhadap mereka menunjukkan bagaimana perempuan disematkan peran. Masalahnya, bagaimana peran tersebut bisa dianggap terpisah? Apakah satu individu hanya berhak memiliki satu?
Perempuan dapat terdiri atas Mutiara, Penjaga yang senantiasa bertanggung jawab, pekerja keras, pelindung, terstruktur, dan serupa lainnya. Ada Maya, Pengelana yang ingin berjiwa bebas tanpa terkekang dan terus berupaya mengaktualisasi diri. Di sisi lain, bisa juga Annisa, Pengantin yang ingin memiliki cinta yang tulus dan hidup dengan baik. Upaya agar ketiganya memiliki peran terpisah menunjukkan sosok perempuan tengah dikotak-kotakan. Buku ini menunjukkan bagaimana pengotak-ngotakan yang tak hanya dilakukan oleh pihak eksternal, tapi justru sesama perempuan (yang sebagiannya bisa jadi merasa berkedudukan lebih tinggi dan berharap dipatuhi).
Kemudian, menarik sekali ketika berhadapan dengan tingkatan hubungan yang mereka miliki: kakak-beradik. Seberapa sering kita menemui stereotip anak pertama harus menjadi pemimpin, pedoman, hingga pengayom. Lalu, anak kedua menjadi yang kreatif dan mandiri. Kemudian, anak bungsu sebagai sosok yang penurut dan manis. Penyederhanaan peran tersebut berkaitan dengan posisi anak. Si Sulung sesuai dengan harapan dianggap cocok sebagai penjaga. Lalu, Si Tengah dianggap sesuai dengan sifatnya pas sebagai pengelana. Terakhir, Si Bungsu harus mengikuti kriteria, yaitu Pengantin.
Di sisi lain, aku juga menemukan bagaimana selain penyederhanaan, kita pun bisa tanpa sadar memberikan permusuhan pada “Si Cantik” karena rasa iri. Entah mewujudkannya sebagai peran antagonis atau menganggapnya bentuk ketiakadilan (di mana “Si Cantik” dianggap selalu termudahkan). Bagaimana rengganggnya hubungan tiga saudari, terutama kedua kakak terhadap Annisa, buatku menunjukkan betapa sebenarnya kita jarang benar-benar memerhatikan “Si Cantik”. Padahal, jangankan perempuan, siapapun orangnya tentu memiliki kerumitan dan gejolaknya masing-masing. “Ledakan” yang diakibatkan Annisa buatku seperti keterkejutan yang bisa dibawa “Si Cantik” yang tak kita sangka-sangka sebelumnya karena kita tak cukup menghargainya sebagai seseorang yang utuh.
Tambahan: jika dilihat lebih saksama dengan mengatur pantulan cahaya, kita akan menemui sebuah mata di ilustrasi cover. Tidak menonjol, tapi terasa ganjil. Pertanyaannya, kemana kepala kita bereaksi? Apa pendapat kita terhadap gambar “tersembunyi” itu? Gemasnya, aku merasakan ini sebagai pancingan. Jika kita penuh kecurigaan, mungkin sudah terpikir kemana-mana~ atau mungkin terlihat seperti horor? misterius? pengawasan? tergantung apa yang kita pikirkan.
Di tahun 1991, Hajjah Victoria binti Haji Tjek Sun meramal ketiga cucunya: satu cucu berkelana, satu menjaga, dan satu lagi menjadi pengantin.
Novel kedua Intan Paramaditha, Malam Seribu Jahanam, sedikit berbeda secara format dari novel pertamanya, Gentayangan: Pilih Sendiri Petualangan Sepatu Merahmu, yang mengangkat konsep “pilih sendiri petualangan sepatu merahmu”. Meskipun demikian, novel ini pun masih kental dengan nuansa gothic.
Dalam Malam Seribu Jahanam, Intan mencoba meramu cerita menggunakan lebih dari satu sudut pandang. Sudut pandang orang kedua, “kau”, tak lagi digunakan, namun digantikan dengan sudut pandang “aku” yang datang dari masing-masing tokoh yang terlibat dalam kisah ini. Setiap kali berganti bagian, cerita akan diawali dengan gelar masing-masing tokoh, Pengelana, Penjaga, dan Pengantin, yang menjadi penanda sudut pandang siapa yang tengah diceritakan.
Malam Seribu Jahanam mengangkat tema yang begitu aktual, yaitu perspektif aksi terorisme dari sisi keluarga pelaku. Tema ini digambarkan melalui tokoh Mutiara (Sang Penjaga) dan Maya (Sang Pengelana), yang merupakan kakak dari pelaku aksi terorisme. Mutiara dan Maya kehilangan kata-kata dan mempertanyakan diri mereka masing-masing saat mendengar kabar Annisa, adik mereka yang juga Sang Pengantin dalam cerita ini, meledakkan diri bersama suami dan anaknya di majelis pengajian transpuan dan gereja di Kotawijaya, sebuah kota fiksi. Aksi tersebut menimbulkan korban jiwa di kedua tempat tersebut.
Mutiara Sang Penjaga yang tinggal di Jakarta, terbang ke Kotawijaya demi mengidentifikasi jenazah adiknya dan mengurus pemakamannya, sambil dibayang-bayangi kerumunan wartawan yang mencari berita sensasional dan kutukan keluarga korban. Maya Sang Pengelana yang tinggal di New York, akhirnya memutuskan pulang ke Indonesia demi mencari tahu pesan yang ditinggalkan Annisa lewat aksinya.
Perspektif ini menarik untuk ditelusuri, karena aksi terorisme tidak hanya berdampak pada keluarga korban, tetapi juga keluarga pelaku. Keluarga pelaku harus menghadapi dampak psikologis dan tuntutan sosial, yang terkadang diperparah oleh pemberitaan media massa yang tidak sensitif, hanya sekadar meliput berita tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi keluarga pelaku.
Intan juga menyoroti keretakan konsep keluarga di era modern, yang digambarkan melalui tokoh Mutiara, Maya, dan Annisa. Ketiga saudari tersebut memiliki hubungan yang kompleks dan tidak selalu harmonis. Keluarga yang jadi topik sentral di cerita ini disatukan oleh seorang matriark, Hajjah Victoria binti Haji Tjek Sun, yang diceritakan memiliki rumah di Tanjung Karang tempatnya biasa menghabiskan kesehariannya melakukan banyak hal. Ia tinggal bersama pembantunya Mak Romlah, dan anak Mak yang namanya Rohadi.
Rohadi kerap dianggap cucu sendiri oleh Victoria, yang sempat berpikir mewariskannya ilmu berubah menjadi harimau jantan. Namun kemudian, Rohadi memiliki caranya sendiri untuk berubah wujud, menjadi Rosalinda yang dengan kepercayaan dirinya menjadi Pendongeng, yang kemudian mengisahkan sisi tersembunyi yang luput dari sudut pandang Tiga Dara – Mutiara, Maya, dan Annisa. Perspektif Rosalinda sebagai seorang transpuan juga menjadi sorotan penting lain dalam kisah ini.
Seperti di novel Intan yang sebelumnya, konsep “rumah” menjadi hal yang sentral dalam cerita ini. Masing-masing tokoh berusaha mencari definisi “rumah” mereka sendiri, baik itu dengan berkelana atau berusaha menjaga apa yang ada di depan mata. Penggusuran rumah Victoria di Tanjung Karang yang terjadi usai wafatnya Victoria menjadi suatu topik tragis yang kian kali diulang oleh para tokoh, suatu kehilangan yang kemudian memotivasi para tokoh dalam menginterpretasikan konsep “rumah” dengan jalan dan jawaban yang berbeda-beda.
ketika pertama kali kenal Mutiara, aku membaca sembari tersenyum miring.
'kamu kan, Mutiara juga?'
begitu mengenal Maya, satu kalimat kembali datang.
'tapi kayaknya, kamu juga Maya, bukan?'
i read this book without knowing anything. sewaktu itu, membeli karena beberapa orang sempat bilang kalau buku ini bagus sekali. tetapi, aku gak pernah mencari tahu juga, bagus kenapa dan bagaimana opini lengkap orang lain terhadap Malam Seribu Jahanam.
membacanya pelan-pelan, tidak ingin cepat selesai. aku suka dengan dinamika keluarga serta tiga dara yang diceritakan di sini. hubungan keluarga yang rumit. terlihat baik-baik saja, terlihat seperti keluarga rukun, tetapi ya... tidak juga. semua menderita dengan versinya masing-masing. aku suka premise ini.
enggak, aku CINTA premise dari cerita ini.
terlebih, yang paling buat aku merasa berkali-kali dihantam palu besar ketika membaca buku ini adalah, gaya penulisan yang sungguh realistis menyayat, such a raw book. tidak mendayu. banyak kalimat yang ditulis dengan menusuk tanpa ampun.
ketika membaca kalau Mutiara menulis, "Mungkin suatu saat nanti aku akan memaafkan diriku sendiri."
air mata ku tumpah. ternyata memang aku adalah Mutiara. mutlak.
Mba Intan, i cannot thank you enough for writing this book. terima kasih karena sudah menulis tentang bagaimana berdamai dengan duka pada situasi yang sulit dan tidak nyaman.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Ini novel Intan pertama yang aku baca, walaupun karya-karyanya sering berkeliaran di sekitarku. Aku sempat juga datang konser Melancholic Bitch sekaligus pembacaan karya Malam Seribu Jahanam. Dan oh Tuhan, aku suka banget buku ini!
Cara Intan membangun ketegangan di buku, pelan-pelan tapi tajam. Rasanya membaca ini seperti ada orang yang mengawasiku, membuatku was-was sekaligus ketagihan tidak bisa berhenti. Menyenangkan sekali membacanya walau aku harus berhenti tiap detak jantungku kelewat kencang. Aku suka cara Intan menuliskan narasi, perasaan, dan keadaan sekitar. Gamblang sampai seolah-olah aku berada di sana, membuat imajinasiku terasa nyata. Aku juga suka bagaimana Intan membiarkan sebagian masih misteri, pesan-pesan yang ditinggalkan oleh Annisa sebagai pelaku bom bunuh diri sangat tersirat serta kejadian-kejadian di masa lalu yang buram tapi ada. Memang hidup kadang demikian, ada banyak yang tidak terlihat jelas meski benar-benar di depan mata.
Tapi catatanku, penulisan dari perspektif Maya dan Mutiara terasa sangat mirip. Karena gaya penulisan yang mirip itu, seolah-olah mereka berpikir dengan cara yang sama meski justru sangat berbeda 180 derajat. Kesamaan ini mungkin karena sulit membedakan gaya tulis dibanding dengan bahasa lisan. Aku sangat membayangkan cara bicara Maya dan Mutiara berbeda, pola pikir berbeda, dan segalanya berbeda.
Perbedaan ini justru terlihat dalam perspektif Rosalinda yang menurutku, gaya tulisannya, merepresentasikan Rosalinda itu sendiri. Tidak hanya penggunaan kata-kata "Cyin, metong semetong-metongnya" dan kata sreupa, tapi vibes yang ditampilkan seolah-olah itu memang dongeng Cek Rosalinda. Mungkin justru terlihat sangat berbeda karena Rosalinda adalah pendongeng ya, entahlah.
Terima kasih, Intan Paramadhita. Menulis buku horor yang sangat bisa dinikmati. Akan kujelajahi karyamu yang lain!
anak terakhir yg jadi kesayangan tetiba jadi pelaku bom bunuh diri?
seorang nenek meramal nasib ketiga cucunya: anak pertama si paling kuat jadi penjaga, anak tengah jadi pengelana ke negeri2 asing dan anak terakhir jadi pengantik yang cantik, lalu ada juga anak pembantu yg jadi transpuan
gak disangka ternyata si anak terakhir— Annisa, membawa bom dan meledakkan dirinya serta membunuh banyak orang
apa ya alasan annisa melakukan aksinya? di masa lalu bagian mana ya ia berkelok dan masih banyak omongan neneknya yg seolah jadi teka teki!! baca novel ini tuh vibes nya kyk film nktchi dgn suasana yg mencekam bgt dgn rumah neneknya yg menyimpan banyak rahasia
masalah keluarganya sih bener bener disoroti👀 sedikit banyak pasti kalian relate dan gmn semua tokoh saling terikat seperti kawat jadi bersiap bakal banyak ledakan lain yg kalian temukan
Setidaknya nyaris di paruh pertama Malam Seribu Jahanam terasa agak melelahkan untuk disimak. Terasa berbelit-belit untuk sesuatu yang sebenarnya bisa saja lugas. Dan mungkin faktor usia, tapi rasanya saya semakin tidak sabar membaca prosa dengan gaya bahasa yang sastrawi lol
Untunglah setelahnya buku mulai jelas mau bercerita tentang apa, sehingga lebih renyah untuk disimak. Atau bisa jadi saya mulai terbiasa saja dengan gaya penulisan Intan.
Apapun itu, Malam Seribu Jahanam tetap buku yang menarik. Ceritanya mungkin tidak luar biasa, tapi memiliki nuansa yang kaya dan penuh tekstur. Bukan melulu tentang plot, tapi tentang perjalanan dan pengalaman para karakternya yang ternyata mampu membetot atensi kita sebagai pembaca.
Karya Intan Paramaditha pertama yang aku baca! Saking bagusnya sampai bingung harus bahas dari bagian mana dulu!!!
Covernya cakep banget, detail ilustrasinya sangat menggambarkan isi ceritanya, termasuk bayangan mata yang ada di bagian kanan. Bookmark-nya pun lucu dan gemass!! Kalau dilihat dari cover, orang-orang mengira bertema horror atau thriller. Pada kenyataannya, tidak ada kisah setan tapi ketika baca berhasil ketakutan dan muncul rasa tidak nyaman, rasa pengap, dan cape karena beragam konflik yang terjadi.
Sudut pandang keluarga pelaku menjadi daya tarik tersendiri karena kebanyakan hanya mengambil dari sudut pandang korban saja. Buku-buku ini juga menggunakan kutipan ayat-ayat Al-Quran dan menafsirkannya, sehingga bisa bantu mengetahui beberapa kisah yang ada di dalamnya.
Buku ini mengangkat kisah tiga dara: Mutiara, Maya, Annisa. Ketika baca buku ini, kita dibawa untuk mengenal semua tokoh dan latar belakang mereka, bagaimana masa lalu mereka hingga mereka bisa menjadi seperti sekarang. Semua tokoh di buku ini memiliki peran penting dan hubungan dengan kehidupan tiga dara. Buku ini didominasi dengan tokoh perempuan, sehingga banyak sekali pengalaman-pengalaman perempuan Indonesia. Misalnya seperti panik dan rasa bersalah yang muncul ketika mengalami haid pertama, serta tuntutan menikah, cap perawan tua dan berbagai stigma buruk lainnya untuk perempuan yang belum atau memilih tidak menikah.
Peristiwa-peristiwa yang terjadi di buku ini sangat dekat dengan kehidupan kita. Misalnya seperti om tante cerewet yang selalu ingin mengatur kehidupan orang lain; dan wartawan-wartawan menyebalkan yang tidak melihat situasi dan kondisi, sampai berani menerobos peraturan rumah sakit.
Buku ini menggunakan empat sudut pandang, Mutiara, Maya, Annisa, dan Rosalinda. Meski sering berubah sudut pandang, tapi pembaca tetap bisa membaca dengan nyaman dan tidak bingung. Bahkan setiap sudut pandang memiliki gaya bercerita atau penulisan yang khas, keren!!!
Setiap dara memiliki tugas yang sudah diramalkan oleh Victoria, nenek mereka, Penjaga (Mutiara), Pengelana (Maya), dan Pengantin (Annisa). Aku salut banget dengan Mutiara, dia berhasil sebagai penjaga dan terbiasa untuk mengatur semuanya. Sebagai anak pertama, tentu aku bisa paham banget capeknya. Tapi karena buku ini sering berubah sudut pandang, aku jadi paham semenyebalkan dan sekeras kepala apa Mutiara, hehehe maaf ya adik-adik.
kau tahu, ia ketakutan bila kurang pekerjaan, sebab ia tak tahu bagaimana berhadapan dengan dirinya sendiri.
Kisah Rosalinda semakin memperkuat pendapat yang mengatakan bahwa fiksi dapat membuat pembacanya lebih berempati. Dari kisahnya, aku baru menyadari kalau kata-kata atau janji yang kita ucapkan saat kecil bisa sangat berarti bagi teman kita. Kita terlalu fokus terhadap hidup kita sendiri sampai lupa dengan nasib orang-orang disekeliling kita. Ketidakadilan yang dialami oleh Rosalinda sering kali dianggap sebagai hal lumrah, padahal mereka juga berhak mendapatkan keadilan.
Beberapa hal di buku ini sepertinya memang sengaja dibuat gantung, sehingga pembaca dipersilakan untuk menebak-nebaknya sendiri. Masih banyak yang ingin aku ketahui ceritanya, tapi sayang sekali tidak dibahas secara detail. Misalnya seperti asal usul kuntilanak berambut merah, penyakit mama, kehidupan Gibran, dan masih banyak lagi. Membaca buku ini rasanya seperti kebingungan, sama seperti angkot yang berputar-putar tidak menemukan Rumah Victoria.
Seru dan menegangkan. Sepertinya buku ini berdasar dari insiden pengeboman tiga gereja di Surabaya pada 2018. Tapi di buku ini Surabaya disebut sebagai Kotawijaya. Astrid Maharani si Walikota Kotawijaya juga sepertinya terinspirasi dari Tri Rismaharini, mantan Walikota Surabaya.
Bab-bab yang dimiliki buku ini singkat, sehingga cerita gampang diikuti. Selain itu, tiap bab biasanya berdasar dari sudut pandang tokoh-tokoh yang berbeda sehingga satu peristiwa yang sama dapat terbagi menjadi beberapa bab. Alur menjadi sangat padat dan bisa mengosongi kekosongan satu sama lain.
Sayang menurut saya banyak hal yang tidak terselesaikan di buku ini, atau mungkin itu memang tujuannya?
vividly captures the experience of being raised in an average indonesian muslim family: the upbringing that give you skewed perception of what it means to be a "moderate muslim" through the normalization of fundamentalist point of views. as you grow up and gain a little bit of vantage point though, you will realize how far off all of the teachings could have been. will have been. if you dont actively fight to unlearn them. everything around you is shrouded in secrecy. hushed answers to your questions, closed doors in front of you, whispers of ghostly stories to invoke fears. nanti kalau udah gede juga ngerti but i am grown now and i still don't understand. just like maya.
i especially love the book portrayal of unhappy mothers trapped under the heavy weight of impossible patriarchal expectations. when they predictably fail to hold it together, they will disappear slowly, get sent to various "teachers" as a way "to get cured". of course the teachers are often men, the very patriarchal figure that impose similar rules to their wives, if not worse. and when they come back, they will lose all lights in their eyes, rightfully so. but you will watch as your mother realize there is little use in fighting against it and just give in. and she will not be the mother you know anymore. can you blame her? the book takes you through these experiences carefully, slowly but very surely.
this is just a small part of the book, it feels unfair to focus solely on this because its so much more than just that. the book weaves together cultural commentary about the default ignorance of the indonesian muslim middle class: of the daily tragedies that they miss easily even as it happens in front of them because their perceived normality allows them to ignore it, which allows the continuation of the violence, which of course at some points makes them implicit on it. the book is littered so eloquently with these points even from the beginning. so when one of the character finally pointed it out and said it out loud, it feels deeply cathartic. there are many twists and turns but even so the narrative remains consistent and the story concluded so nicely that i am just perfectly content with how it all ended.
just love it so much. gonna beg all the religiously traumatized homies turned gay turned atheists to read this now!
Menggabungkan isu radikalisme, keluarga, LGBT, dan klenik dalam satu rangkaian kisah adalah rangkaian yang unik.
Saya selalu suka pilihan kata Mbak Intan, majas-majasnya, rajutan kalimatnya, namun saya merasa rajutan ceritanya dibiarkan belum selesai. Seperti berharap dapat sweater, tapi ternyata ini rajutan selendang. Atau memang dibiarkan tidak selesai? Revolusi saudara tirinya sebelah mana? Kunci tadi buat apa? Kuali raksasa ini, seperti halnya Rohadi, kalau dihapus dari segenap novel, akan berdampak apa?
Yang cukup mengganggu bagi saya adalah beberapa inkonsistensi. Minor, namun karena bolong-bolong inkonsistensi ini sering, jadi bikin lebih hati-hati alih-alih menikmati.
Misal, Annisa disebutkan tinggal di Kotawijaya, tetapi pada bab Guci Penjaga hal. 97.. "Saat terakhir kali ke Surabaya aku tidak sempat bertemu Annisa..." Lho, eh? Hehehehe...
Jadi Annisa meledakkan diri di Gereja Hati Kudus, atau di pengajian waria Mami Cindy? Nggak mungkin meledak dua kali donk?
Meski demikian, saya senang menggarisbawahi banyak narasi kritik nakal nan akurat lagi relevan. Yang paling saya suka: Oom, Tante, dan sepupu-sepupu nyinyir pun tak akan tahu sebab mereka tak baca novel; mereka cuma baca potongan ayat-ayat Al Quran dari ustadz-ustadz yang jualan lewat media sosial, berita kesehatan, ekonomi, dan politik sensasional (konspirasi Yahudi! Tipu daya Cina!), serta hoaks seputar kandidat pemilu maupun kelompok LGBT.
Meski sedikit kecewa, saya justru penasaran dengan karya Mbak Intan lainnya. Jangan-jangan saya saja yang berharap terlalu tinggi.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Malam Seribu Jahanam karya Intan Paramaditha kubaca tanpa ekspektasi apa pun, murni karena rasa penasaran setelah beberapa kali muncul di media sosial. Sebelumnya belum pernah membaca karya-karya Intan Paramaditha, jadi ini semacam 'percobaan'—kalau suka, mungkin akan mengikuti karya beliau yang lain. Kalau tidak, ya sudah, cukup sampai di sini, hahaha.
Ternyata, skenario pertama yang terjadi. Kalimat pertama buku ini langsung mengait perhatiankuuu! Hanya butuh dua hari untuk menyelesaikannya. Gaya penulisan Intan Paramaditha sungguh menawan—perpaduan puitis yang tidak berlebihan, dengan punch line yang terasa pas di setiap porsinya.
Eksplorasi tentang ketakutan, kehilangan, dan memaafkan yang berpusat pada keluarga, membawaku pada perjalanan yang cukup emosional. Meskipun tidak berniat untuk merasa 'relate' sama kisahnya, sebagai sesama keluarga dengan tiga bersaudara, aku jadi ikut sedih (dan sedikit takut). Apakah kami sebenarnya sama seperti Mutiara, Maya, dan Annisa—meskipun sedarah, belum tentu searah? Tapi sejauh mana perbedaan dan persimpangan kami? Bisa jadi banyak rahasia yang kami simpan dari satu sama lain, dan bisa jadi itu meledak kapan saja... Pikiran-pikiran itu bikin semakin larut dalam setiap halaman, bahkan sampai beberapa kali beneran nangis! :')
Abis namatin ini buku prasaan gw lngsng hampa. Ini buku emg udh tamat, tp critanya msh blm selesai. Tp gbisa disebut open ending jg sih. Emg udh beres critanya smpe disitu aja, tp sesuatu dlm diri gw mrasa msh ada yg blm beres (paham gasi😭)
Overall, buku ini sungguh sgt impressive sekalii. Dan somehow yaa pilihan kata, diksi, quotes, dan narasi hasil tulisan kak Intan tuh menggetarkan hati in different way
Tapi kayanya Intan Paramaditha's obsession with red must be studied dehh
menghabiskan waktu kurang lebih 2 mingguan untuk menyelesaikan buku ini. ada kalanya berhenti sebentar karena ada perasaan mual, jijik, dan ngeri. tapi akhirnya ku tuntaskan juga di akhir maret ini. aku suka gaya penceritaannya yang rapi dan mengalir. jujur, aku bingung mau review apalagi krn buku ini benar2 WOW.
(klo niat mungkin aku akan datang lg ke sini dan menulis ulasan dengan lebih niat).
Argh, satu lagi buku bagus yang membuatku tak mampu berkata-kata. Semakin bagus bukunya, semakin sulit menulis ulasannya 🥹🫠
Mei 2018, kota Surabaya (di dalam novel disebut Kotawijaya) dikoyakkan oleh kejadian bom bunuh diri serentak di tiga gedung gereja. Peristiwa biadab inilah yang menjadi sumber cerita Malam Seribu Jahanam.
Kisah tiga dara, yang diramalkan oleh Nenek Victoria. Satu menjadi Penjaga, satu Pengelana, dan satu Pengantin. Namun mereka juga punya saudara tiri buruk rupa, yang memulai revolusi. Cerita disampaikan melalui POV keempat karakter ini, disusun dengan demikian rapi, jalin jemalin antara kompleksitas hubungan keluarga, perempuan dalam patriarki, kisah-kisah Islami, mistisisme nusantara, fanatisme agama dan kesaksian hidup mereka yang liyan & tersingkirkan. Aku sangat menikmati membaca dongeng yang gelap dan liar, tapi juga indah ini selama kira-kira tiga minggu. (Ini buku bagus yang tak ingin cepat-cepat kuselesaikan).
"Aku tak tahu Islam macam apa yang kau anut, Annisa; bagimu agamamu dan bagiku agamaku, lakum diinukum wal liya diin. Namun, sungguh, aku tak tahan untuk bertanya: Kenapa, adikku? Dan ayat mana yang kau baca sebelum kau bunuh orang satu kampung?"
"Kau masih belum bisa lihat hubungan semua ini, Maya?" tanya Rosalinda. "Semua terikat, seperti kawat. Kawat yang memungkinkan semua ini terjadi--beragama dengan begini sesat--adalah kawat yang juga membiarkan orang-orang macam kami ditindas."
"Barangkali kami ingin mencari selesai, menghadapi semua ini dan berharap keluar dari sini tanpa terluka. Kami berjalan ke belakang, menelusuri awal, sebab kami kira mengurai masa lalu akan membuat jalan lebih terang. Tapi malam ini aku menyadari satu hal. Kami tak akan pernah bisa keluar."
Please don’t hate me for this. I would’ve given this 5 stars if the Qur’anic epigraphs were fewer and if it were less “based on a true story” adjacent.
As my first time reading Intan Paramaditha, this book was so-so. The prose is beautiful and the spooky atmosphere really giving, but at times it feels overly descriptive and kind of repetitive.
The early chapters reminded me of The Brothers Karamazov, especially in how the middle child is developed-Maya felt very Ivan coded. Once I noticed the resemblance, I couldn’t put it down (since Karamazov is one of my favorite novels). I even joked to my friends: this is basically Karamazov but make it girls lol.
As I kept reading, I got more impressed with Paramaditha. Even if her style isn’t my taste, her voice feels distinct, not like most Indonesian writers (complimentary) which I kind of expected, given her educational background, since diasporic writers tend to keep coming back to social issues and feminism.
I especially liked the portrayal of middle child syndrome, the supernatural lore, and the pacing was spot-on.
"Ini dongeng tiga dara. Bukankah selalu saja tentang mereka, sebab siapa yang tak kenal cerita rumah, keluarga, kita. Tapi ini juga dongeng yang tak kau minta, tentang yang tak terlihat, tak terdengar, terlupa." (Halaman 4)
Menilik dongeng tiga dara seperti menyingkap ruang-ruang tertutup dan rahasia-rahasia yang tersimpan rapi dalam hati. Bagi saya, kisah Mutiara, Maya, dan Annisa bukan dongeng belaka. Menyimak bagaimana mereka menjalani hidup dan mengubur mimpi-mimpi menyesakkan sekali. Di sisi lain, takjub karena bisa bertahan dan kuat. Suara cucu-cucu Nenek Victoria yang berbeda menggambarkan manusia yang kompleks serta tertindas dan menindas. Selengkapnya: https://bit.ly/dongengtigadara ❤️
Novel dengan premis yang menarik sekali. Belum pernah sebelumnya aku membaca satu kisah yang mengangkat isu-isu sosial yang dituliskan secara gamblang, tabu, dan mengiris hati siapa saja yang baca (termasuk aku).
“Revolusi selalu dimulai oleh saudara tiri buruk rupa.”
Malam Seribu Jahanam karya Mbak Intan Paramaditha, novel bernuansa gothic, gelap, menyeramkan, tetapi sekaligus bisa menjadi sebuah kehangatan di kala malam saat aku membaca halaman demi halamannya. Kisahnya mengandung misteri, menumbuhkan rasa penasaran. Pada tokoh dan jalan cerita serta penyelesaian konflik yang menurutku bukanlah sebuah konflik remeh. Dikisahkan dalam novel ini, hiduplah tiga dara dari sebuah keluarga di Jakarta. Tiga orang cucu Victoria, yang tertua menjaga, yang tengah berkelana, dan si bungsu jadi pengantin.
Tokoh-tokoh dalam novel ini memiliki latar belakang yang cukup kuat, dituliskan begitu jelas, dari Victoria, anak dan menantu Victoria, cucu-cucunya, hingga cucu yang lain. Awal membaca aku masih dibawa kalut dan bingung di atas perahu, menimbang akan dibawa ke mana aku. Adakah aku sebagai pembaca akan dibawa pada tirai yang disibakkan lalu terungkap semua rahasia, jalan keluar, juga penyelesaian? Ternyata tidak. Novel ini tidak sesederhana sebuah cerita pada umumnya; pembukaan, konflik, penyelesaian.
Ketiga dara dalam buku ini menjadi pemberi cerita, dari sudut pandang ketiganya, tentang hidup yang telah diramal untuk mereka oleh Victoria. Mutiara, menjadi sang penjaga, menjaga bagi mereka yang masih hidup dan mengantarkan mereka yang mati. Hidup layaknya seorang penyihir, kata Maya—sang adik. Tinggal sendiri, bersama keempat kucingnya, merawat yang masih hidup, merawat papanya yang sakit. Aku dibawa untuk bercermin tiap kali berhadapan dengan Mutiara, anak pertama perempuan, anak mama, serba bisa, bisa diandalkan.
Lalu beralih pada Maya, yang berkelana. Anak kedua yang selalu dilupakan, putri yang lain. Ia hidup di New York, mengejar mimpinya menjadi penulis. Ingin rasanya dapat hidup di sepatu Maya, tak ada beban, tak ada kewajiban pulang. Namun sampai pada satu kejadian besar. Kejadian yang mengharuskan Maya untuk kembali ke Indonesia, kembali ke rumah. Bertemu dengan mereka yang menetap, menjaga, bersama yang sakit. Konflik Mutiara dan Maya, terasa nyata, perdebatan antara dua bersaudara yang saling menyalahkan. Namun ternyata, mereka tak sendiri, ada cucu lainnya yang datang menuntut sebuah penjelasan, menuntut agar utangnya dibayarkan. Seorang pendongeng, seorang sahabat baik. Hidupnya tak kalah rumit dari kedua cucu Victoria lainnya. Ada misteri yang harus dipecahkan.
Perjalanan mereka terasa begitu nyata dengan tulisan Mbak Intan yang cantik dan menarik perhatianku di tiap selesai membaca satu halaman. Berjalanlah ke halaman-halaman lainnya, hingga akhirnya aku menemu jalan akhir. Tirai yang tadi aku maksudkan, aku sibakkan. Bukan sebuah jalan buntu, ruang gelap, melainkan akhir yang panjang, terang, menenangkan.
Sang penjaga yang mulai menulis untuk meluapkan isi hatinya, menuliskan: “Maka aku menulis. Aku tidak tahu apakah aku menulis untuk bertahan atau menunda mati.”
Tidak akan beri banyak spoiler untuk ulasan Malam Seribu Jahanam karena aku ingin sekali teman-teman yang belum baca agar segera baca buku bagus satu ini! Tentu saja aku memberi bintang lima dari lima, tak ada keraguan untuk itu!
Jalan ceritanya tidak biasa dan menarik. Berasa nuansa ghotic-nya. Aku juga jadi mikir gimana dengan kasus terorisme yang selama ini terjadi. Gimana dengan kondisi keluarga pelaku dan gimana pandangan orang di sekitarnya. Di bagian tengah cerita aku ngerasa agak bosen aja dan terasa berputar-putar.
It was way a lot more complex than I thought it would be.
Ketika baca nukilan bukunya yang membawa-bawa nama kuntilanak, kukira ini bakal jadi semacam kisah horor ala Intan Paramaditha. Mirip-mirip Sihir Perempuan, tapi lebih seram dengan lebih banyak hantu. Tapi rupanya, bukan makhluk halus yang jadi hantu di sini, melainkan jalan hidup serta keputusan yang diambil oleh tiap-tiap anggota dari sebuah keluarga kelas menengah yang mulai tercerai-berai seiring perkembangan zaman. Satu keputusan yang salah dari satu anggota keluarga berdampak pada yang lainnya, juga memunculkan pertanyaan yang mungkin tidak akan pernah terjawab, "Kenapa jadinya seperti ini?"
Melihat penggambaran keluarga tiga dara di sini, aku jadi teringat keluargaku sendiri. Apakah keluarga kelas menengah memang selalu seperti itu jalan hidupnya?
Meski bahasannya agak berat karena unsur kekeluargaan yang rumit ini (bikin emosional, jujur), empat sudut pandang yang berbeda dari empat anggota keluarga membuat cerita mengalir lancar dan terasa enjoyable. Nuansa gothic yang berpadu dengan nuansa islami benar-benar lekat dengan masing-masing tokoh, dan sama sekali tidak lepas dari awal hingga akhir cerita. Kadang aku relate dengan Mutiara, kadang juga Maya, tapi amit-amit, tidak relate dengan Annisa. Ngeri.
Isu yang dibawakan di sini sebetulnya berlawanan: Islam, atheisme (kalau salah satu anak dara bisa dibilang begitu), dan LGBT, tetapi penulis tidak menjadikan tokoh-tokoh dengan paham berbeda ini sebagai musuh. Sebaliknya, mereka justru mentolerir satu sama lain, karena begitulah keluarga. Terima semua anggota yang ada dengan seluruh 'bagasi' mereka. Akan selalu ada perbedaan, tetapi sepertinya hidup enggak cukup kalau harus befokus pada hal-hal yang bikin kita kurang sreg, jadi ya sudahlah.
Another masterpiece from Intan Paramaditha, 5 out of 5 stars! Will be waiting for more from our Gothic Queen.
Malam Seribu Jahanam merupakan novel Intan Paramaditha yang mengangkat tema gothic feminis dengan berpusat pada cerita tentang kehidupan 3 bersaudara perempuan yaitu Mutiara,Maya dan Annisa yang seolah sedang menjalani kutukan sang nenek Victoria. Suatu ketika nenek Victoria meramalkan bahwa Mutiara si cucu pertama akan menjadi penjaga bagi keluarganya (menjaga yang hidup dan mengubur yang mati). Maya si cucu kedua akan menjadi pengelana dan terakhir si bungsu Annisa akan menjadi pengantin.
Penulis menjadikan unsur cerita keluarga sebuah kerangka dasar sekaligus pondasi untuk berkembangnya isu-isu lain dalam novel ini. Beberapa isu yang kemudian berkembang dan saling melengkapi cerita yaitu tentang bagaimana praktik beragama tertentu memberikan imbas yang luar biasa bukan hanya dalam lingkup kecil keluarga, namun untuk cakupan yang lebih luas.Tema-tema yang cukup sensitif juga dibahas seperti tentang gender dan kaitannya terhadap agama. Selain itu, penulis juga mengolah tema penyesalan dan rasa bersalah. Hal menarik lainnya yaitu penulis juga mengolah unsur dongeng yang begitu lekat dengan kehidupan bermasyarakat di Indonesia.
Saya menyelesaikan buku ini pada jam 3 dini hari. Sebelumnya saya berpikir mungkin sebaiknya tidur dulu, menunggu waktu yang lebih tepat untuk menuliskan review, tapi saya ingin menulisnya sekarang.
Setelah mengikuti akun basebuku di Twitter, saya sering mendengar buku ini direkomendasikan. Bagus sekali, banyak orang bilang. Saya penasaran dan segera membelinya. Sehari setelah buku ini tiba, saya langsung membacanya, tidak mendiamkan dulu di rak buku sampai menguning seperti sebelum-sebelumnya.
Saya melahap buku ini seperti orang rakus. Sudah lama sekali rasanya saya tidak merasakan rasa lapar seperti yang demikian terhadap sebuah buku. Terina kasih kepada Intan Paramaditha karena telah menerbitkan kembali rasa itu.
Buku ini menceritakan tentang anak-anak gadis bersaudara yang hidupnya berubah akibat suatu kejadian besar yang dilakukan anak ke tiga. Kita diajak bersama kedua kakaknya mengarungi lautan emosi dan histori, mengumpulkan kepingan masa lalu untuk mengetahui kapan dan di mana semuanya berubah, serta mengapa hal itu sampai terjadi.
Pada awalnya saya mengira akan kesulitan membaca buku ini, karena dari halaman pertama bahasanya tampak lebih 'nyastra' dibanding buku-buku yang biasa saya baca. Kenyataannya tidak seperti itu, buku ini mengalir dengan lancar, mungkin bahkan terlalu deras, dan dengan mudahnya menenggelamkan saya dalam arusnya.
Intan Paramaditha sangat pandai dalam mengolah kata. Seringkali ketika sedang membaca bagian yang tampaknya 'biasa', muncul kalimat yang menbuat saya merasa seperti dihantam di ulu hati. Ada juga bagian yang membuat saya seperti dihantam bertubi-tubi dan ingin bilang "Ampun, Mbak, pelan-pelan."
Saya menemukan kepingan diri saya di buku ini, dan saya pikir banyak perempuan-perempuan yang membacanya akan mengalami hal yang sama. Entah pada Sang Penjaga, Sang Pengelana, Sang Pengantin, maupun Sang Pendongeng. Tak hanya itu, saya pun bisa melihat kepingan-kepingan perempuan-perempuan dalam hidup saya di sini; ibu, nenek, dan keluarga lain saya yang perempuan. Mungkin karena banyak perempuan di dunia ini yang terpaksa hidup seperti ini; dikotak-kotakkan ke dalam peran yang belum tentu ingin atau sanggup ia mainkan.
Disebutkan bahwa buku ini bertema gothic Islami. Pada awalnya saya bingung apa maksudnya tapi mungkin sekarang saya agak paham. Buku ini banyak membicarakan tentang agama Islam, cenderung ke sisi kurang menyenangkannya. Betapa sempitnya terkadang pemikiran manusia-manusia yang percaya kita diciptakan oleh Yang Maha Luas.
Saya ingin mengajak orang-orang yang saya kenal membaca buku ini, tapi di lain pihak saya juga tidak ingin merekomendasikannya ke sembarang orang. Lebih baik memberikannya ketika ditanya saja dan sudah cukup, tidak perlu menanyakan kesan-kesan mereka.
Kalau tiba-tiba salah satu saudaramu meledakkan diri dengan bom dan menghilangkan banyak sekali nyawa, apa yang kamu lakukan? Kisah di novel ini setidaknya dimulai dari situasi semacam itu.
Ini kisah tentang tiga dara; Mutiara, Maya, dan si bungsu Annisa—yang jadi pelaku bom bunuh diri di sebuah gereja. Tiga peran: Penjaga, pengelana, dan pengantin. Empat sebenarnya; ditambah seorang transpuan bernama Rohadi/Rosalinda yang berperan sebagai ketiganya sekaligus; ya penjaga, ya pengelana, ya pengantin.
Novel ini, secara sembunyi-sembunyi menggugat peran serta makna keluarga; apa itu pulang, apa itu pergi, apa yang hilang, apa yang tersembunyi, bagaimana menggenggam, bagaimana melepaskan. Ditulis dengan gaya napas narasi yang pendek-pendek. Masing pemeran punya suaranya sendiri-sendiri.
Keluarga. Itu kata kuncinya. Bukan satu-satunya kata kunci memang. Tapi, bukankah kita tahu apa saja yang bisa dibicarakan dari sebuah “keluarga”? ya, sangat banyak. Mulai yang disembunyikan, tersembunyi, tak diketahui, hingga yang dimunculkan, terpaksa muncul, juga yang muncul di luar kendali.
Kata Intan, novel ini terinspirasi dari kisah nyata. Dia juga bilang untuk novel ini dia lagi bereksperiman menggunakan style gothic-islami (suasana gotik dengan banyak kutipan ayat dan kisah-kisah islam). Judulnya diambil dan diolah dengan cerdas dari Laylatul Qadr. Malam di bulan ramadhan. Malam seribu bulan. Malam seribu jahanam.
OH GOD! I'M INVESTED TO THIS BOOK so much, baru kali ini lama-lamain baca buku, SUPAYA GA CEPET SELESAI... Kayak ini genre buku yang gw idam-idamkan banget! Complicated sih iya, tapi ENTAH kenapa gw bener-bener tergugah sama kedalaman penulis dalam menyajikan dan menarasikan cerita yang begitu kompleks dan sangat sensitif. Bicara soal keluarga, tiga dara: penjaga, pengelana, dan pengantin. Asli, gothic theme cuyyy.
Konfliknya banyak sie, tapi paling disorot adalah bom bunuh diri di gereja kota kotawijaya. DEMN, elaborasi nya kane, emang klo meleng dikit bikin gapaham, jadi harus dibaca dengan jeli. QUEER mentioned, gimana soal gender, yang tabu di masyarakat, diselipkan dalam buku ini. Bicara soal trauma, ah...terlalu banyak yang perlu dibahas. Dan setiap tokohnya, punya POV nya masing-masing.
Welll, ini jadi buku terbaik, yang pernah aku baca di tahun 2025, aku suka semua yang ada di buku ini #alay, dari cover, bookmark, penulisnya, semuanya SEMPURNA!